
Pagi ini di meja makan yang cukup besar itu ada Nyonya Anita yang sedang mantap sarapannya, di temani suster yang tidak jauh dari meja makan.
" Pagi Ma...?"
" Iya pagi, kok tumben berangkatnya siang.."
" Reza nungguin Raisa Ma, kok jam segini belum datang ya.." Reza melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan kiri nya, jarum jam menunjuk angka 09:05.
" Dia sudah tidak kesini lagi.."
" Maksud Mama...?" Reza kaget mendengar pertanyaan Mamanya.
" Dia sudah tidak akan datang kesini lagi.."
" Mama pecat Raisa...?"
" Hem..."
"Ya ampun Ma, dia butuh banget pekerjaan itu. Raisa itu tulang punggung keluarga, kalau Mama benci Raisa setidaknya lihat Elena. Apa Raisa pernah menyulitkan Mama, memperlakukan Mama dengan tidak baik.." Nyonya Anita hanya diam.
" Ya udah Reza berangkat dulu Ma.." Reza bergegas melangkahkan kakinya keluar rumah.
Diperjalanan ke rumah sakit Reza terus memikirkan nasib Raisa dan Elena, hatinya merasa khawatir dengan gadis kecil yang sudah merebut hatinya. Reza juga tidak menyimpan nomor ponsel Raisa yang bisa dihubungi, ia tidak tahu lagi kemana harus mencari keduanya.
Reza teringat pernah mengantarkan Raisa dan Elena kerumahnya, kebetulan satu arah dengan rumah sakit. Reza pun memutuskan untuk mendatangi rumah itu, barangkali Raisa ada dirumah.
Tok...tok..tok...
Mendengar pintu diketuk dari luar, Ratna yang sedang di depan TV pun bergegas untuk membukakan pintu.
" Siapa ya..?" Tanyanya pada seorang pria tampan yang kini berdiri dihadapannya.
" Saya Reza, maaf Raisa nya ada..?"
" Ada hubungan apa anda dan Raisa..?"
" Saya majikanya sekaligus sahabatnya.."
" Memang majikanya ada berapa, dulu ada yang datang kesini bilangnya juga majikanya.."
" Boleh saya bertemu dengan Raisa sebentar..?"
" Wanita sialan dan anak pungut itu sudah saya usir dari rumah ini.."
" Apa.." Reza terkejut.
__ADS_1
" Kalau boleh tau kemana dia pergi..?"
" Cari aja sendiri, mana saya tau.."
BRAKKKK....
Pintu ditutup Ratna sangat keras, Reza yang tidak disambut baik pun segera meninggalkan rumah itu. Dirinya melajukan mobilnya ke rumah sakit, ia harus fokus bekerja dan akan mencari Raisa dan Elena setelah pulang nanti.
" Ada apa sih Ma pagi-pagi kok ribut.."
" Ada orang nyariin mantan istrimu tu.."
" Siapa...?" Bram mendongakkan kepalanya di jendela.
" Mana Mama tau, udah pergi..."
Ratna kembali melanjutkan menonton televisi dengan bermain ponsel di tanganya, ekonomi keluarganya masih aman karena ada pacar Bram yang lebih kaya. Membuang sampah mendapatkan berlian, itulah istilah untuk mereka saat ini.
Raffi kini tinggal dirumahnya sendiri, kesalah pahaman yang terjadi pada dirinya dan sang Mama membuatnya harus menenangkan diri terlebih dahulu. Pulang pun pasti Mama nya akan mendiamkannya dan menganggap dirinya tidak ada. Dibanding adiknya Raffi adalah sosok yang suka memberontak jika itu tidak sesuai dengan yang ia inginkan, sifat keras kepalanya sudah terlihat sejak ia kecil.
" Selamat pagi bos...?"
" Pagi.. Gimana Jo udah kamu selesaikan...?"
" Ini bos silahkan diperiksa dulu.." Joshua menyerahkan laptop dan berkas pada bosnya.
" Kerja bagus Jo..."
" Bos saya mau jujur, bos jangan marah ya.."
" Kenapa harus marah.."
" Sebenarnya seperti ini bos, dari kemarin setelah kita selesai meeting sampai hari ini saya tidak memegang pekerjaan ini sama sekali. Tetapi anehnya lagi tadi pagi pas mau saya kerjakan kenapa tugas ini sudah selesai, saya juga bingung bos..."
" Maksudmu hantu yang mengerjakan..?"
" Kira-kira seperti itu bos, Oia bos boleh gak saya melihat rekaman CCTV ruangan saya.,."
Raffi yang merasa aneh pun menyetujui saran Joshua untuk melihat rekaman CCTV, ia mulai membuka ponselnya dan mencari rekaman hari kemarin. Tidak ada yang aneh di ruangan itu, bahkan tidak ada yang masuk kecuali OB yang bertugas membersihkan ruanganya waktu itu.
Raffi beralih membuka CCTV ruangannya dimulai saat pagi dirinya dan Raisa memasuki ruangannya, kemudian terlihat Raffi dan Joshua meninggalkan ruangan untuk meeting sebentar. Raisa terlihat mondar-mandir menata berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerja Raffi dan meja sofa, di sana terlihat Raisa mengerjakan pekerjaan Joshua di laptopnya hingga akhirnya Raisa tertidur saat Raffi dan Joshua kembali.
Terjawab sudah rasa penasaran di hati Raffi dan Joshua, Joshua menoleh menatap bosnya sedangkan yang di tatap hanya berdiam diri. Pikiran Raffi melayang ke mana-mana, tidaklah mungkin seseorang bekas karyawan pabrik mampu mengerjakan pekerjaan kantor sekelas sekretaris pribadi nya.
" Bos..."
__ADS_1
" Siapa sebenarnya wanita ini Jo, banyak hal dalam dirinya yang membuatku penasaran. Wanita ini begitu berbeda dari kebanyakan wanita.."
" Saya juga merasa seperti itu bos, awal mula saya melihatnya dirumah bos Raffi saya langsung kagum dengannya. Menatapnya membuat hatiku menghangat.."
" Berani kamu memujinya di hadapanku Jo, kamu sudah bosen bekerja. Besok segera kirimkan surat pengunduran dirimu..."
" Aduh salah lagi, saya kan mengatakan apa adanya bos..."
" Sudah lanjutkan pekerjaan kamu sebelum saya berubah pikiran.."
" Baik bos saya permisi dulu.." Joshua berlari kecil meninggalkan ruangan Raffi, ia gak mau ambil resiko saat bosnya sedang marah.
Dert...Dert...
Ponsel Raffi yang tergeletak diatas meja bergetar, matanya langsung melirik pada layar ponsel yang menyala. Tertera nama Reza disana, Raffi pun segera menjawab panggilan dari adiknya.
" Hallo..." Suara seseorang yang ada di seberang sana.
" Ya ada apa...?"
" Mas ada yang mau Reza bicarakan nanti, Reza samperin mas Raffi di kantor ya atau kita ketemu dimana gitu..?"
" Apa ini tentang Mama..?"
" Bukan mas, masalah lain.."
" Kamu pulang jam berapa..?"
" Jam 3 lepas dinas mas, kalau mas Raffi..?"
" Kita ketemu di cafe biasa jam 16:30.."
" Oke mas..."
Setelah sambungan telepon terputus Raffi kembali melanjutkan pekerjaannya, Raffi dan Reza biasa membicarakan sesuatu diluar rumah karena tidak ingin Mama nya mendengar masalah Antara anak muda.
Seharian dirumah membuat Raisa sedikit bosan, padahal dirinya sudah mencari kesibukan dengan menanam bunga dan membantu semua pekerjaan Bik Tumi. Raisa berfikir akan mencari pekerjaan, ia dan putrinya tidak mungkin menggantungkan nasibnya sama Raffi terus menerus.
Raisa browsing di internet lowongan pekerjaan di kantor-kantor dengan ijazah S1 nya, dirinya membuat beberapa surat lamaran serta daftar riwayat hidup. Masing-masing ia masukkan ke dalam amplop coklat dan menulis pengirim di pojok kanan bawah alamat penerima di pojok kiri atas.
Dirinya bersiap pergi ke kantor pos untuk mengirimkan berkas miliknya, Raisa pergi bersama Elena dengan menaiki ojek online.
" Sayang panas ya...?"
" Enggak kok Mama, Elena bahagia sekali.."
__ADS_1
Setelah dari kantor pos Raisa mengajak Elena untuk mendatangi play ground yang ada disebuah taman bermain. Elena terlihat begitu bahagia bermain bersama anak-anak seusianya, Raisa hanya duduk tidak jauh dari tempat Elena bermain.