
"Pagi mas.." Reza menyapa kakanya yang sedang menyantap makan paginya.
" Hemm.. Dari mama kamu sampai malam bawa Elena..!" Raffi pura-pura bertanya, padahal dirinya juga tau jam berapa Reza kembali ke rumah dan berangkat lagi mengantar Raisa pulang.
" Keliling makan, beli mainan udah gitu aja. Habisnya mau ajak pulang gak tega mas, Elena bahagia banget.."
" Selamat pagi pak Raffi mas Reza.." Orang yang keduanya obrolin sudah tiba.
" Pagi Sya.. Elena sakit kok lemes banget.." Reza yang melihat Elena dalam gendongan
Raisa dengan kepala iya sandarkan dipundak.
" Enggak mas, ngantuk mainan sampai malam.."
" Oohh... Tidurkan dikamarku aja Sya.."
" Gak usah mas, saya bawa ke atas aja. Terimakasih saya permisi..."
" Hah... Reza nawarin kamarnya.."
Raisa menidurkan Elena disofa ruang tamu atas yang berada tepat didepan kamarnya Nyonya Anita. Elena yang ngantuk berat tidak terusik sama sekali, dan lebih merasa nyaman disana.
Raisa melakukan pekerjaannya seperti biasa, Nyonya Anita yang melihat Elena tidur hanya diam tidak menanyakan.
" Selamat pagi Mama...?"
" Eh pagi.. Masuklah..." Sofi melangkahkan kakinya masuk kamar dan mendekati ranjang tempat dimana mertuanya berbaring.
" Ma... Bagaimana mas Raffi...?" tanyanya dengan nada manja.
" Gimana ya seperti biasa, kamu kan tau sendiri Raffi itu anaknya keras.."
Obrolan keduanya berhenti ketika Raisa masuk ke dalam kamar dengan membawa vas bunga yang baru digantinya air dan bunga tang masih segar. Mengerti kehadirannya tidak di inginkan Raisa pun segera pamit.
" Maaf Nyonya, saya tinggal ngambil laundry dulu..." Dirinya segera melangkahkan kakinya pergi.
" Baik Surti titip Elena sebentar ya, lagi bobok di atas Ica mau ambil laundry.."
" Iya Ca siap.."
Dengan membawa sepeda motor Raisa pergi mengambil laundry yang tidak jauh dari sana.
Elena mengerjap- ngerjapkan matanya, dilihatnya sekeliling dirinya berada disofa tempat Mama nya bekerja. Elena membuka tas yang ada disebelahnya dan mengambil gelas susu dari sana, ia pun meminumnya setengah dirasa cukup Elena membawa separuh susu masuk ke dalam kamar.
Bersamaan dengan Sofi yang akan keluar dan terjadilah tabrakan yang tidak bisa dihindari.
Prakkkk...
" Bajukuuuu...." Sofi berteriak tetapi masih bisa ia tahan agar mertuanya tidak mendengar.
Sofi segera menutup pintu kamar, sofi mencengkram erat lengan Elena dan menarik kenceng untuk sedikit menjauh dari depan kamar. Sofi menghempaskan kuat tangan Elena hingga membuat Elena hampir tersungkur
__ADS_1
" Eh dasar bocah nakall..."
" Maaf Tante, Elena tidak sengaja.."
" Kalau punya mata tu dipakek, jadi basah kan bajuku. Ini baju mahal, gaji ibumu setahun aja
belum tentu bisa beli baju ini.."
" Urusan kita belum selesai, awas ya kamu.."
Mendengar langkah kaki bik Surti segera berlari menuruni tangga dan bersembunyi di bawahnya, iya yang berencana akan melihat Elena ke atas ternyata malah mendengar kejadian di luar dugaan. Setelah Sofi keluar dari rumah bik Surti bergegas lari menaiki tangga menuju lantai atas, dilihatnya Elena yang menangis di pojokan.
" Elena sayang sini sama nenek, udah ya anak pinter gak boleh nangis.."
" Tante jahat Nek, marahin elena.." elena berbicara dengan terisak.
" Sudah sini sama nenek.." Bik Surti memeluk dan menenangkan gadis kecil itu.
Begitu sedikit tenang bik Surti segera membersihkan bekas tumpahan susu dilantai dan mengganti baju Elena yang basah dengan yang kering. Bik Surti mengajak Elena ke bawah dan menemaninya dihalaman belakang.
" Sayang... Elena sudah bangun..?"
" Mammaaa...." Elena berhambur ke pelukan
ibunya, seolah menumpahkan segala beban yang menghimpit dada gadis itu.
" Sayang ada apa..? Mama pergi sebentar kok.."
" Tadi pas Bibik naik susunya tumpah Ca, terus tak bersihin dan ganti baju. Apa mungkin Elena ketakutan yaa.."
" Ohh Gituu.. Gak apa-apa sayang, nanti mama ganti susunya ya. Jangan cemberut senyum donk.."
Elena memaksakan tersenyum dihadapan ibunya, Raisa membawa Elena naik dan membiarkan Elena bermain diatas. Hingga siang hari waktunya istirahat keduanya turun dan makan siang.
" Elena...." Sapa suara laki-laki tidak jauh dari tempatnya duduk. Sontak yang dipanggil pun segera menoleh ke sumber suara.
" Om dokter..." Elena segera berjalan menghampiri Reza yang berdiri diambang pintu.
" Udah makan nasi...?"
" Nie udah kenyang Om.." Elena menunjukkan
perutnya yang sedikit membuncit pada Reza.
" Om bawa ice cream.. Ayo makan.."
" Horeeee..." Elena berteriak girang.
Reza menggandeng tangan Elena dan berjalan mendekati Raisa yang ada diteras belakang. Ketiganya menikmati ice cream lezat yang dibawa Reza, bersama Bik Surti juga yang mendapat satu memakanya sambil berberes dapur.
" Mas Reza terimakasih.. Tapi maaf jangan terlalu memanjakan Elena.."
__ADS_1
" Sya gak apa-apa, aku suka banget lihat Elena bahagia.."
" Mas Reza terlalu memanjakan Elena, saya jadi sungkan.."
" Gak apa-apa, anggap aja aku ayah keduanya Elena.." Tiba-tiba suara Reza tercekat, perkataan dan pemikirannya yang tidak
sinkron membuatnya salah ucap.
" Maksudku kalau kamu merasa sungkan mulai hari ini aku angkat Elena jadi anakku,
Elena apa kamu mau jadi anak Om Reza.."
" Om Doktel Papa Elena.." Tanyanya polos.
" Iya.. Mau gak punya ayah Om Dokter.."
" Mau donk, Om dokter kan baik.." Ketiganya tertawa mendengar percakapan Reza dan Elena.
Tidak dengan Raffi, di jam istirahat kantor setelah makan siang Raffi melihat tangkapan CCTV dilayar ponsel miliknya. Dirinya mendapati adiknya yang sedang bercengkrama bersama Elena dan Raisa diteras belakang. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah ketiganya.
" Bagaimana bisa Reza dirumah di jam kerja, bukanya tadi kita berangkatnya bareng. Biasanya juga gue yang pulang lebih dulu.."
" Boss.. 30 menit lagi metting akan segera dimulai. Anda pelajari dulu materi yang akan disampaikan.." Joshua berbicara pada
atasanya.
Merasa tidak adanya tanggapan apapun dari bosnya Joshua menatap Raffi, terlihat bosnya sedang melihat ke arah jendela dengan tatapan kosong.
" Apa bos Raffi tidak mendengarku, Apa mungkin bos lagi melamun. Panggil lagi gak ya.." Antara ragu-ragu Joshua memberanikan diri untuk kembali memanggilnya.
" Boss...." Joshua memanggil dengan nada lembutnya, masih belum ada reaksi apapu.
" Boss... Benar lagi melamun nih bos.."
" Bosss Raffi..." Joshua memanggil bosnya dengan nada tinggi seperti menggunakan TOA masjid.
Raffi terjingkat kaget dan menatap asistennya itu dalam-dalam.
" Ini dikantor bukan dihutan.." Ucapnya dengan nada kesal.
" Ini memang di kantor bos, Saya juga gak bilang ini dihutan. Boss Raffi ngapain sih melamun.."
" Siapa yang melamun, kamu tu.."
" Boss saya sudah panggil 3 kali, pasti boss Raffi gak denger.."
" Kamu itu kalau manggil keras tegas, jangan lembek kayak gitu. Kamu itu laki bukan perempuan.." Jawaban Raffi ngasal, ia mengambil berkas di atas meja dan bergegas berjalan keluar ruangan menuju ruang meeting.
" Emang aku lembek, perasaan enggak.
Cuman dikit doang.."
__ADS_1
" Boss tungguin...." Joshua berlari mengejar langkah bosnya.