Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 30


__ADS_3

Ratna memasuki halaman rumah dan ia melihat seorang laki-laki sedang mengetuk pintu rumahnya, Ratna melangkahkan kakinya dengan cepat.


" Mau cari siapa ya...?"


" Maaf apa benar ini rumahnya bapak Bramantyo.."


" Ya benar dia anakku..."


" Maaf ada surat dari pengadilan agama untuk bapak Bramantyo..."Ratna segera mengambil surat yang ada di tangan pria tersebut.


" Biar nanti saja sampaikan.."


" Terimakasih saya permisi dulu..."


Setelah kepergian laki-laki itu Ratna segera memasuki rumah, dari ruang tamu terdengar sayup-sayup suara laki-laki dan perempuan mendesah nikmat. Ratna semakin mendekati kamar putranya dan benar saja, Bram dan Sely sedang memadu kasih tanpa menutup pintu kamarnya. Ratna berdiri di depan pintu dan memukul daun pintu cukup keras, kedua manusia yang sedang berada di dalam selimut pun serentak menoleh ke arah pintu.


" Sembrono sudah gak tahan nunggu nutup pintu.."


Brakkk....


Kedua manusia yang sudah kepalang nikmat tidak memperdulikan ucapan Ratna, keduanya melanjutkan hingga ke puncak kenikmatan.


" Terimakasih sayang, kamu selalu luar biasa.."


" Kamu juga, tambah nakal aku kan jadi seneng..."


" Ma... Ada apa...?"


" Tu di meja ada surat dari pengadilan..." Bram mengerutkan dahinya.


" Surat apa Bram..."


" Gugatan perceraian Raisa kayaknya..."


" Bagus donk, bukanya selama ini dia juga hanya sebagai pajangan..."


" Besok kamu temenin aku kan sayang...?"


" Pasti dong...!"


" Muach.... Memang kamu yang terbaik.." Bram mencium kepala Sely dengan sayang.


" Gimana Bram...?"


" Iya Ma surat panggilan untuk mediasi..."


" Udah lepasin aja, ngapain juga dipertahankan gak ada gunanya juga.."


" Bram juga tau Ma..."


" Sely pulang dulu Tante..."

__ADS_1


" Iya hati-hati dijalan Nak, sering-sering main kesini ya biar Bram ada temennya..."


" Iya Tante..."


Bram mengantar Sely hingga halaman depan, kedua sejoli ini terus bergandengan tangan seperti pasangan yang tidak mungkin terpisahkan.


" Rasanya pengen ngurungin kamu disini aja.."


" Aku sih maunya juga sama kamu terus, tapi aku harus pulang.." Keduanya berpelukan singkat dan Bram mencium kening Sely.


Sely memasuki mobil dan melambaikan tangan pada Bram yang berdiri disamping pintu mobil, Bram pun membalas lambaian tangan Sely. Keduanya tidak menyadari diseberang jalan sebuah mobil yang sejak tadi parkir disana mengawasi semua yang kedua pasangan ini lakukan, bahkan kamera untuk mengabadikan sudah terpasang disana.


Mobil Sely sudah menjauh pria didalam mobil ini tersenyum puas, ia mengambil ponsel di jok samping dan menghubungi seseorang.


" Hallo..." Suara seseorang dari seberang sana.


" Hallo bos, semua sudah beres bos. Bukti rekaman sudah saya kirim ke ponsel bos, silahkan dibuka..."


" Kerja yang bagus, sampai ketemu besok di pengadilan.."


" Siap bos..."


Raisa yang melihat Raffi sedang bermain ponsel disofa ruang tamu berlahan mendekatinya, Raisa membawa sesuatu ditangannya.


" Mas ini CV yang mas Raffi minta..." Raisa menyodorkan map ditangannya.


" Oia duduklah sebentar..." Mata Raffi masih fokus menatap layar ponselnya.


Raffi meletakkan ponselnya diatas meja dan mengambil map CV Raisa disana, Raffi membuka map dan mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dari sana. Matanya fokus membaca tulisan tangan yang ada diatas kertas putih itu, tulisan tangan Raisa sangat bagus dan rapi.


Disana tertulis pendidikan terakhir Raisa Sarjana jurusan Akuntansi dengan menyandang gelar cumlaude, Raffi tersenyum dan bola matanya melirik pada Raisa yang duduk dipojok sana.


" Yah kamu diterima, silahkan datang ke kantor Minggu depan untuk mulai bekerja.." Raffi berdiri dan berjalan menaiki tangga ke kamarnya.


Raisa melotot melihat Raffi yang dengan mudahnya menerimanya kerja, harusnya masih ada beberapa test yang harus dirinya lewati untuk benar-benar diterima bekerja.


" Ini beneran ya, kok kayak mimpi terserah lah kan dia bosnya.." Tanpa Raisa sadari ternyata Raffi turun lagi dan mendengar apa yang Raisa katakan pada dirinya sendiri.


" Ya bagus dong kalau kamu tau.." Raffi terkekeh, Raisa begitu terkejut dan langsung berdiri menghadap ke arah Raffi dengan masih menunduk.


" Maaf mas, aku lancang..."


" Gak apa-apa, Oia besok ke pengadilan kan..?"


" Iya mas, tadi pak Dirga sudah mengabari lewat telepon.."


" Bersiaplah kita keluar sebentar, ajak Elena juga.."


" Kita mau kemana mas..?"


" Nanti juga kamu akan tau..."

__ADS_1


Raisa kembali ke kamar untuk memberitahu Elena ternyata Elena berada diteras belakang dengan pak Hasan, Raisa bersiap-siap tidak sampai 10 menit Raffi sudah menunggunya dihalaman.


" Ayo naik Sya..."


" Baik mas..."


Seperti biasa Elena duduk di kursi penumpang belakang dan Raisa didepan disamping Raffi yang sedang menyetir, keadaan begitu canggung masih melekat pada keduanya. Mobil Raffi berhenti di parkiran sebuah mall yang cukup besar di kota itu.


" Ayo Elena kita turun.."


" Iya Om..."


Keduanya berjalan dengan Raffi yang menggendong Elena, Raffi membawa keduanya di food court yang bersebelahan dengan area Playground. Jadi para orang tua bisa makan sambil mengawasi putra putrinya yang sedang bermain.


" Elena mau main dulu atau mau makan dulu...?"


" Main Om Elena masih kenyang..."


" Om ambil tiketnya dulu ya.."


" Sya kamu duduk dulu aja.."


" baik mas.."


Raffi berjalan membeli tiket untuk Elena masuk, wajah sumringah terlihat jelas pada gadis kecil itu. Setelah pegawai memasangkan gelang pada tangan Elena, Elena langsung bermain dan berbaur bersama anak-anak lainya Raffi kembali ke meja dimana Raisa sudah duduk disana.


" Sya pesan makanan yang kamu dan Elena suka..." Raisa pun memilih beberapa menu untuk Elena dan satu untuknya.


" Mas Raffi apa...?"


" Pilihkan saja pasti aku akan memakannya..." Raisa pun memilihkan menu untuk Raffi, untuk urusan makanan Raffi tidak pernah susah. Apa yang disediakan pasti selalu di makan, gak pernah protes apapun juga.


Raffi dan Raisa makan sambil melihat ke arah Elena yang sibuk mencoba banyak permainan, mulai dari prosotan, mandi bola, mobil-mobil an, dan masih banyak lagi. Bibirnya terus mengulas senyum, sesekali Elena berinteraksi dengan teman bermainnya.


" Sya sebentar lagi Elena masuk TK kan...?"


" Iya mas, usia Elena sudah 4,5 tahun.."


Keduanya menghabiskan makanan dengan mengobrol santai, tidak kaku seperti biasa. Raffi juga lebih banyak berbicara daripada diem, jadi Raisa tidak lagi merasa canggung.


Setelah 3 jam bermain Elena merasa lapar dan menghampiri Mama nya, Raisa pun menyuapi Elena dengan menu yang tadi sudah dipesannya. Selesai makan Raffi mengajak Elena dan Raisa ke toko pakaian membelikan beberapa stel untuk Elena, beberapa mainan dan ke toko pakaian kerja dewasa membelikan banyak untuk Raisa.


" Mas Raffi terimakasih banyak..."


" Jangan terlalu sering berterima kasih Sya, anggap aja ini hadiah untuk mu dan Elena.."


" Tapi mas..."


" Tidak usah tapi tapi, besok persiapkan dirimu untuk bertemu mantan suami dan mulai hari Senin kamu sudah mulai bekerja kan.." Raisa mengangguk.


Hingga sore menjelang Maghrib keduanya sudah tiba dikediaman Raffi, Raisa membawa banyak paper bag dengan dibantu Raffi membawa beberapa mainan Elena.

__ADS_1


__ADS_2