
Keduanya duduk disofa ruang tamu, Raffi masih terdiam dan berfikir bagaimana harus menanyakan masalah Raisa. Raisa yang diam juga sedang menunggu apa yang bosnya ingin katakan padanya.
" Maaf sebelumnya, dimana suamimu..?"
" Ada dirumah pak.."
" Kenapa kamu harus banting tulang, apa dia tidak mencukupi kamu dan Elena juga rumah tangga kalian..?"
" Suami saya kena PHK sekitar 7 bulan yang lalu Pak, dan hingga saat ini belum mendapatkan pekerjaan..."
" Bagaimana mertuamu memperlakukan kalian, masa sampai gak dibukakan pintu padahal kamu bekerja."
" Mertua saya tidak menyukai Elena pak, sayang tulang punggung dirumah itu mulai dari listrik, air, kebutuhan dapur. Saya yang nanggung.."
Raffi menggeleng kepala, tidak menyangka kehidupan Raisa akan seperti ini. Raisa menceritakan semua bagaimana perlakuan mertua dan suaminya pada Raisa juga Elena.
Raisa tidak menceritakan asal-usul Elena dan bagaimana pernikahannya berjalan, biarlah itu menjadi rahasianya sendiri.
Malam semakin larut Raffi meminta Raisa untuk tidur duluan, sementara Raffi sedang menikmati kopi panasnya bersama pak Hasan dan Bik Tumi. Sudah menjadi kebiasaan pak Hasan dan Bik Tumi ngopi bersama bosnya saat Raffi menginap.
" Pak Hasan nanti aku tidur dikamar bawah.."
" Tapi Den..."
" Tidak apa-apa Bik, paling cuman semalam aja.."
" Nona tadi siapa Den.."
" Dia pengasuh Mama pak, tadi kemalaman mau pulang jadi tak suruh nginep aja.."
" Kirain calon istri Den, cantik sekali parasnya.."
Elena tidur begitu nyenyak mungkin karena tempatnya juga begitu nyaman, Raisa yang memeluk putrinya dari belakang dan menghujani banyak ciuman di kepalanya. Gadis kecil yang mengubah hidupnya lebih berwarna sekaligus menjadi penyemangat untuknya.
" Maaf sayang Mama belum mampu memberikan hidup yang layak untukmu.." Tidak membutuhkan waktu lama Raisa pun tertidur dengan posisi memeluk anaknya.
Raffi pun masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah, sebelum tidur Raffi ke kamar mandi dahulu untuk membersihkan diri. Raffi jarang sekali menginjakkan kakinya di rumah ini, bisa dibilang hampir tidak pernah. Kadang tiga bulan sekali hanya untuk melihat saja, sedangkan untuk gaji bulanan Pak Hasan dan bi Tumi Raffi memberikan via transfer.
Rumah ini menyimpan banyak kenangan pahit rumah tangganya, kenangan yang Raffi coba ingin lupakan sepenuhnya. Rumah tangga yang dirinya jalani tidak dari hatinya, atas paksaan orang tua dan mertuanya Raffi mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Tetapi Raffi sedikit merasa lega karena rumah tangga itu harus kandas, dirinya tidak mampu membayangkan jika sampai saat ini masih harus menjalani rumah tangga itu. Bersama orang yang sama sekali tidak Raffi cintai.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri Raffi merangkak naik ke atas tempat tidur, ia merebahkan tubuhnya setelah lelah seharian beraktivitas.
Satu jam sudah Raffi mencoba memejamkan kedua matanya, bayangan Raisa terus saja muncul di benaknya.
Mendengar cerita pilu Raisa mengapa ada rasa dalam diri Raffi ingin melindungi, seperti tidak rela Raisa mendapatkan perlakuan dari seperti itu dari keluarganya.
Pagi sekali Ratna sudah rapi dan akan keluar rumah bersama ibu-ibu sosialita nya, dandanan yang cukup tebal dengan menenteng tas mahal selalu menjadi ciri khas dirinya. Walaupun gak punya uang penampilan harus terlihat cetar, untuk menutupi kekurangannya.
" Selamat pagi Bik..." Raisa menyapa bik Tumi yang mempersiapkan sayuran untuk di masak pagi ini.
" Pagi Non, kenapa sudah bangun.."
" Bik panggil Raisa.." Bik Tumi hanya nyengir kuda.
" Mau masak apa Bik, biar saya yang masak kalau boleh.."
" Tapi Non, Bibik gak enak sama Den Raffi.."
" Bik saya juga pembantu di rumah beliau,." Dengan negosiasi yang Alot akhirnya bik Tumi mengizinkan Raisa untuk masak sarapan pagi. Bahkan Raisa juga tidak mau dibantuin, Raisa meminta bik Tumi untuk duduk saya melihatnya dan memberi masukan jika dirasa ada yang kurang pas.
Raisa begitu cekatan berada di dapur, tidak hanya sampai satu jam semua masakan sudah tertata rapi diatas meja makan.
" Bik.. Raisa naik dulu ya, kali aja Elena sudah bangun.."
Benar saja begitu Raisa memasuki kamar sudah melihat Elena duduk di atas ranjang.
" Sayang sudah bangun ya..?"
" Mama dari mana, Elena kira mama ninggalin Ena di sini.."
" Mama mungkin, Mama kan sayang banget sama Elena. Ayo anak cantik kita mandi dulu..." Raisa membawa Elena ke dalam kamar mandi, keduanya membersihkan diri dan akan segera pulang ke rumahnya.
" Mama ini rumah siapa..?"
" Rumah Om Rafi sayang..."
" Rumah nya bagus sekali, besar banget. Elena nanti kalau sudah besar pengen punya rumah sama kayak ini..."
" Iya sayang, Mama doakan semoga besar nanti Elena menjadi orang yang sukses dunia akhirat.."
" Amiinn...."
__ADS_1
Setelah rapi Raffi keluar dari kamar, dirinya mendapati Raisa dan Elena sedang berada di dapur. Ada bik Tumi dan Pak Hasan, ketiganya ngobrol disana.
" Elena ayo kita sarapan..."
" Silahkan Non, Den Raffi sudah duduk disana.."
" Sungkan bik, saya pembantu kok duduk bareng majikan.."
" Pak Hasan, Bik Tumi, Raisa..."
Ketiga nama yang dipanggil pun mendekat ke arah meja makan menghampiri bosnya yang sudah duduk di sana.
" Duduklah Ayo kita makan bersama.." Sudah menjadi kebiasaan Raffi selalu makan satu meja dengan Bik Tumi dan Pak Hasan, dulu beliau lah yang ikut andil merawat Raffi kecil.
Suapan pertama Raffi masih mengunyah dengan pelan, lanjut suapan kedua dan ketiga. Raisa dan Bik Tumi saling memandang dalam diam, gemuruh di dada Raisa dirinya ketakutan jika majikanya itu tidak menyukai masakannya.
" Bik Tumi kok masakannya beda.."
" Maafkan saya pak kalau tidak sesuai selera bapak, saya yang memaksa masak.."
" Gak apa-apa lanjutkan..." Raffi begitu menyukai masakan ini, menurutku dari sayur dan lauk begitu pas dilidah. Selain cantik dan cekatan Raisa juga pintar dalam hal mengolah bahan makanan.
Selesai sarapan Raffi duduk disofa dengan membawa cangkir kopi ditangannya.
" Maaf pak saya pamit, terimakasih untuk kebaikan bapak" Raisa dan Elena memberanikan diri berpamitan.
" Sebentar lagi saya antar, sekalian mau pulang kerumah Mama..
" Tapi pak, biar saya naik kendaraan umum.."
" Barang-barang Elena masih didalam mobil.."
Sejenak Raisa berfikir, bagaimana bisa naik kendaraan umum dengan membawa barang yang begitu banyak. Boneka ukuran jumbo dan beberapa mainan, belum lagi kalau Elena minta untuk digendong.
" Tunggu saya minum kopi sebentar.." Raffi sengaja mengulur waktu.
" Baik pak, saya tunggu di depan.."
Mobil Raffi melaju memecah kepadatan jalanan kota, menelusuri gang sempit untuk sampai ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumah yang berada di daerah pemukiman kumuh dan padat tidak jauh dari pusat kota.
Mobil Raffi berhenti didepan rumah yang tadi malam juga dirinya kunjungi.
__ADS_1
" Terimakasih pak, saya masuk dulu.."
Raffi mengangguk, ia sengaja tidak langsung pergi dan melihat sekeliling dari dalam mobil takut ada keributan antara Raisa dan mertuanya.