
Setiap akan berangkat bekerja merupakan hal yang membahagiakan untuk Raisa, meskipun Ia hanya sebagai suster setidaknya di rumah majikannya lebih tenang daripada di rumah bersama mertuanya.
Satu bulan sudah Raisa bekerja, Hari ini adalah hari dimana Raisa akan menerima uang hasil kerja kerasnya.
Yang terlintas di benaknya uang itu untuk membahagiakan Putri kecilnya.
" Selamat pagi Pak Raffi...?"
" Pagi... Oia Ca, duduklah sebentar.."
Reza pun duduk di sofa menunggu Raffi yang selesai sarapan, Raffi menghampiri Raisa di sofa ruang tamu.
" Ca ini gajimu selama 1 bulan, sudah saya tambahi untuk lembur hari Minggu. Dan sedikit uang jajan untuk Elena..."
" Terimakasih pak Raffi..." Raisa menerima amplop coklat yang diberikan Raffi padanya.
" Apa selama ini Mama menyulitkanmu..?"
" Tidak pak, saya suka dengan Nyonya Anita. Seperti merawat orang tua saya sendiri.
Raisa tidak berani menetap majikannya, iya terus menunduk karena menurutnya menatap majikannya itu tidaklah sopan.
" Maaf pak, saya mau naik ke atas dulu.."
Iya silahkan, Elena Ayo main sama om..?"
Elena hanya menggelengkan kepalanya Raffi pun nggak mau memaksa takut Elina semakin takut padanya.
" Permisi pak..?" Raisa segera bergegas naik ke lantai 3 di manakah mar majikannya berada.
Raffi menatap punggung Raisa yang semakin menjauh.
" Selamat pagi Nyonya Anita..?"
" Selamat pagi nenek...?"
" Selamat pagi Elena, cantik banget sih.."
Elina langsung mengobrol dengan Nyonya Anita, karena menceritakan banyak hal pada ibu Anita. Raisa menyiapkan sarapan majikannya dan mengambil beberapa obat yang harus diminum Nyonya Anita setelah sarapan.
" Mbak Surti habis belanja ya..?" tanya Raisa saat melihat bi Surti memasuki dapur dengan menenteng banyak kantong belanjaan di tangannya.
" Iya ni Ca, biasa belanja mingguan jadi banyak yang harus dibeli.."
" Oia Mbak Icha tadi dan Raffi berpesan Nyonya jam 11.00 ada acara nikahan sepupunya. Jadi nanti bantu Nyonya bersiap ya..?"
" Iya Buk siap, Ica naik dulu Ya..!"
" Nyonya mari sarapan dulu.."
" Biar saya sendiri..."
" Baik Nyonya.. Saya bantu..."
Pelan-pelan Nyonya Anita menyendok makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Dengan telaten Raisa membersihkan sisa makanan yang berlepotan di bibir majikannya.
" Elena ayo makan sama nenek...?"
" Elena sudah makan nenek, tadi dirumah sama mama.."
" Makan apa tadi..?"
" Nasi goleng sama telur mata sapi Nek.. Iya kan mama...?"
" Siapa yang masak nasi gorengnya..?"
" Mama nek.. Mama bangun subuh setiap hali, nasi goleng buatan mama enak banget.."
" Oh ya..."
__ADS_1
Nyonya Anita selalu memancing Elena dengan banyak pertanyaan, mendengar gadis kecil itu bercerita merupakan sebuah hiburan untuknya.
" Minum obat dulu Nyonya.."
Raisa membantu Nyonya Anita minum obatnya, setelah meminum obat seperti biasa Raisa membawa Nyonya Anita ke balkon lantai 3 dan ditemani Elena. Reza membersihkan seluruh bagian kamarnya hingga tidak ada debu di sana.
Selesai menyapu Raisa mengepel seluruh sudut kamar hingga benar-benar bersih.
" Nyonya saya sudah selesai, apa Nyonya ingin turun ke taman belakang..? bunga-bunga sedang bermekaran indah sekali Nyonya..."
Tanpa menjawab Nyonya Anita hanya menggangguk, tetapi Raisa sudah sangat bahagia artinya majikannya merespon ucapannya tidak secuek awal dirinya bekerja.
Raisa mendorong kursi roda dan memasuki lift untuk turun ke lantai bawah, inilah berjalan mengikuti dari belakang dengan membawa boneka kesayangannya.
Benar apa yang Raisa katakan bunga-bunga di taman bermekaran indah sekali, Nyonya Anita tak henti-hentinya mengukir senyum di pipi yang sudah tampak keriputnya.
" Nyonya maaf saya lepas sandalnya ya..?"
Raisa meletakkan kaki majikannya di atas bebatuan yang ada di taman itu, dengan teladan Raisa memijat kaki hingga lutut untuk membuat ototnya agar tidak kaku.
" Apa nenek suka..?"
" Suka sekali sayang, udara di sini segar.."
" Kalau nenek suka nanti tiap hari mama bawa nenek ke sini ya..?"
" Iya sayang terima kasih Elena..."
1 jam berada di taman Reza membawa majikannya kembali ke kamarnya, sebelum ke kamar Raisa membawa nenek Anita ke ruangan pakaiannya. Raisa membuka lemari besar milik Nyonya Anita.
" Nyonya nanti jam 11.00 ada acara kan..? sekarang Nyonya silakan pilih pakaiannya ya Raisa bantu..."
Biasanya Nyonya Anita memakai apa yang dipilihkan asistennya, tetapi kali ini Raisa memintanya memilih sendiri apa yang dirinya suka.
Meskipun hal sepele tetapi begitu memperhatikan sekali, selesai memilih baju Raisa mendorong kursi roda masuk ke kamarnya.
Reza segera mengambil ponsel yang dimaksud Nyonya Anita dan segera memberikannya. Nyonya Anita mencari nomor seseorang dan segera menghubunginya.
Derrt.... Derrt....
" Hallo Ma..." terdengar suara seseorang dari seberang sana.
" Sayang kamu pulang jam berapa Mama sudah bersiap.."
" Ma... Reza langsung ke lokasi ya, mama berangkat duluan bareng Kak Raffi..."
" Kamu itu ya selalu seperti itu..."
" Mama... yang penting kan Reza datang.."
" Ya sudah Ya sudah, jaga kesehatanmu ya.."
" Iya mama, I love you.."
Reza segera mematikan sambungan teleponnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Dokter ada urgent, pasien balita dengan riwayat kejang sekarang panas tinggi 3 hari tidak turun Dok.."
" Oke.. saya segera ke sana.."
Reza segera berlari ke ruang periksa, benar saja sekarang anak yang panas tinggi dan menggigil kedinginan.
Rafi berangkat bersama mamanya, Raisa, dan Elena. Elena menemani Mama duduk di belakang sedang Raisa duduk di depan menemani Raffi yang menyetir.
Pandangan Raisa ke arah depan atau melihat luar lewat jendela samping, sesekali Rafi melirik wanita yang duduk di sampingnya.
Beberapa kali mamanya memakai jasa suster bahkan ada yang umurnya masih begitu muda tetapi Raffi hanya biasa, sekarang dengan Raisa ia merasa ada yang berbeda.
Diam-diam saat di kantornya Raffi selalu melihat CCTV yang ada di rumahnya lewat telepon genggam miliknya, dulu tidak pernah Raffi lakukan hal semacam ini.
__ADS_1
Mobil Rafi memasuki halaman rumah sepupu ibunya, Raisa membantu Nyonya Anita untuk duduk di kursi roda dan mendorong yang masuk ke dalam rumah.
Semua saudara sudah berkumpul di meja yang khusus dipersiapkan untuk para sepupunya, Raffi melihat di ujung meja ada Sofia yang terus menatapnya sejak dirinya masuk ke acara pesta ini.
Pesta bertema outdoor itu diadakan di halaman belakang rumah tante Raffi, Raffi segera berpindah ke meja kosong yang ada di sebelah tempat saudara mamanya berkumpul.
" Elena duduk sini sama Om.."
Elena masih takut, tetapi Raisa memintanya untuk duduk karena semua tamu undangan sudah duduk di tempatnya masing-masing.
" Ca.. kamu juga duduklah di sini.."
" Tidak usah Pak terima kasih.."
" Ayolah... Acaranya masih lama, capek kamu nanti berdiri terus.."
Akhirnya Reza pun duduk, Raisa menarik kursi yang sedikit menjauh dari Raffi.
" Sayang kamu mau makan apa..?"
" Es Clim Om.."
" Ayo kita ambil es krimnya.."
Raffi berdiri menggendong Elena untuk memilih makanan yang ia suka. Semua tingkah Raffi tidak luput dari pandangan Sofia.
" Raisa kamu di sini juga..?"
" Dokter Reza.."
" Kamu sama siapa...?"
" Saya sama majikan saya Dok.."
" Sya... Panggil Reza, bukanya kita seumuran ya..?"
" Tapi saya gak biasa Dokter, saya panggil mas aja gimana..?"
" Itu lebih baik, bentar ya.."
Reza meninggalkan Raisa dan bertemu dengan saudara-saudara sepupu dari mamanya, selesai bersalaman dan menyapa Reza kembali ke meja Raisa.
" Gimana kabar Elena..?"
" Sehat mas, Elena juga ada disini kok. Lagi ambil es krim tadi.."
"
Tak lama datang Raffi bersama Elena dengan membawa 3 es krim yang Elina suka.
" Cari tempat duduk sendiri sana..!"
" Lo kak Raffi datang sama Raisa..?" Reza tampak sedikit terkejut.
" Oh.. Kamu kenal..?"
" Om dokter.."
" Hai sayang gimana kabarnya..?"
" Sehat Om.." elena segera mencium punggung tangan Reza.
" Za cari kursimu sendiri.."
" Tapi Kak, aku mau disini.."
" Pergi atau ku lempar es ini ke mukamu.."
Reza bangkit dan memberikan kursinya pada kakaknya, Raisa dan Elena merasa lucu dengan pertengkaran kedua laki-laki ini. Dan di sinilah Raisa baru tahu kalau dokter Reza yang selama ini dirinya kenal adalah adik dari Pak Rafi yang tidak lain majikannya sendiri.
__ADS_1