Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 29


__ADS_3

Setelah kepulangan Reza Raisa menyuapi Elena, sepertinya elena sudah sangat ngantuk dan capek. Apalagi melihat kejadian yang menyakitkan Mama nya di depan matanya sendiri, Elena menangis cukup lama.


Setelah makan malam jam 19:40 Elena sudah tertidur, seperti biasa Raisa menyelimuti tubuh mungil putrinya dan meninggalkan kecupan sayang di kepalanya. Raisa kembali keluar kamar untuk mengambil salep pemberian Reza, Raisa mendapati Raffi disofa ruang tamu.


" Permisi Mas..." Raisa mengambil salep di depan Raffi duduk.


" Tunggu..." Raffi memegang tangan Raisa dan melihat bekas lebam berwarna kehitaman di lengan Raisa.


" Aduh..."


" Duduk lah biar aku oleskan..." Raisa pun menurut saja.


" Terimakasih mas.." Setelah Raffi selesai memberi salep pada lukanya.


" Ayo kita ke dokter..."


" Untuk apa Mas, aku udah tidak apa-apa.."


" Takutnya kenapa-kenapa.."


" Kan udah diperiksa dokter Reza mas.." Raisa terkekeh..


" Perlu aku beri pelajaran pada orang yang menyakiti kamu.."


" Gak usah Mas, biarkan saja aku tidak apa-apa..."


" Ayo kita makan malam, Elena sudah tidur..? Sekarang memang tidak apa-apa, tapi lain kali dia akan lebih berbahaya dari ini.." Tanpa sadar Raffi bangkit dari duduknya menarik tangan Raisa..


" Sudah mas gak perlu aku ingin hidup tenang tanpa memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti ini, Elena kelelahan bermain di taman.." Raisa mengikuti kemana Raffi membawanya.


Sampai dimeja makan Raffi melepaskan pegangan tanganya dan menarik satu kursi untuk Raisa, setelah itu Raffi menarik satu lagi untuk dirinya sendiri.


" Pak Hasan Bik Tumi ayo makan bareng.."


" Bibik masih kenyang Den, barusan beli bakso di depan sama bapak. Bibik nanti aja.."


" Bapak juga nanti aja Den.."


" Kita makan dulu ya pak Hasan Bik Tumi.."


" Iya Non silahkan.." Keduanya kembali kebelakang, Raisa dan Raffi melanjutkan makan malamnya.


Keduanya kini sudah menyelesaikan makan malamnya, Raisa membereskan peralatan makannya dan mengambil piring kotor Raffi.


" Tidak usah kamu kerjakan tanganmu sakit kan..?"

__ADS_1


" Udah mendingan mas, Oia mas boleh aku bertanya sesuatu..?"


" Hem..."


" Apa benar kalau Raisa dipecat sama Nyonya Anita, tadi mas Reza keceplosan..." Raisa berbicara sedikit ragu-ragu.


" Mama tidak ada masalah sama kamu, tapi sama aku.."


" Maksudnya mas..."


" Stop gak usah dibicarakan lagi, mana CV kamu..." Raisa melotot mendengar Raffi meminta CV nya.


" Segera saya kasihkan mas.."


" Gak perlu terburu-buru, tanganmu masih sakit..."


Tepat pukul 20:30 Reza membuka pintu rumah orang tuanya, penampilannya sudah sangat berantakan. Suara sepatunya yang menghentak lantai membuat Mama Anita menoleh menatap putranya, Reza tidak menyadari dari ruang tamu Mama nya terus menatapnya.


" Jam segini baru pulang...?"


" Eh Mama, iya Ma mampir kerumah temen.."


" Temen yang mana, biasanya tidak pernah pulang sampai malam. Kalaupun ada acara malam sore pulang dulu.."


" Iya Ma nanggung kalau pulang dulu, capek juga kan dijalan.."


" Udah Ma..." Untuk memuluskan kebohongannya Reza mengatakan sudah makan malam, andai Mama nya bisa mendengar betapa cacing-cacing diperutnya sudah menjerit sejak tadi.


" Reza masuk kamar dulu Ma..."


" Hmmm...." Reza pun melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.


Reza membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti pakainya dengan pakaian khas rumahan, Reza menjatuhkan bobot tubuhnya diatas tempat tidur. Ia mencoba memejamkan matanya tetapi sulit sekali terpejam karena perutnya lapar, Reza bangkit dan keluar kamar.


" Belum tidur...?" Suara Mama nya membuat tubuhnya terjingkat kaget.


" Belum Ma gak bisa tidur, Mama kok belum tidur...?"


" Belum ngantuk, gimana kabar kakak Mu...?"


" Kak Raffi baik Ma..."


" Kok kamu tau..."


" Tadi Reza pulang dari rumah sakit ketemu mas Raffi di cafe..." Mama Anita tampak mengangguk-angguk.

__ADS_1


" Ayo naik sus, saya ngantuk..."


" Baik Nyonya..." Suster segera mendorong kursi roda majikanya.


Reza membuka tudung saji dimeja makan, kosong tidak ada isinya. Pasti semua makanan sudah disimpan pembantunya, Reza berjalan ke dapur di depan lemari pendingin Reza hanya diam bingung mana yang harus ia makan.


" Den Reza nyari apa..."


Brakk... " Aduhhh...."


Suara Bik Surti membuat kepala Reza terbentur pintu freezer karena tubuhnya terjingkat kaget, Reza reflek memegangi kepalanya.


" Maafin Bibik Den, Bibik gak tau kalau Den Reza bakal sekaget ini.."


" Gak apa-apa, Bik tolong panaskan makanan Reza lapar..."


" Baik Den, Den Reza tunggu aja di meja makan nanti bibi bawakan kesana.." Reza melangkahkan kakinya ke meja makan, setelah 2 menit menunggu makanan pun datang.


" Terimakasih Bik..."


" Sama-sama Den Reza.." Reza makan dengan begitu lahapnya, Bik Surti kembali ke dapur untuk membereskan sisa makanan tadi.


Reza yang sudah menyelesaikan makan malamnya membawa piring kotornya ke dapur, sejak kecil Mama nya tidak membiasakan anak-anak terlalu bergantung pada asisten rumah tangga hal kecil yang bisa dilakukan ya harus dilakukan sendiri.


" Biarkan Den, nanti Bibik yang nyuci..."


" Gak apa-apa Bik, Bik Surti tahu Raisa dipecat Mama...?"


" Sebenarnya kurang tau Den, tapi pagi itu Bibik mendengar Ibuk ribut besar sama Den Raffi masalah Raisa.."


" Menurut Bibik gimana kinerja Raisa selama bekerja disini..?"


." Sangat baik Den, rajin banget. Raisa itu gak melulu tentang tugasnya, tapi dia juga sering bantuin Bibik di dapur kalau pekerjaanya sudah selesai. Bibik rasa dia begitu mencintai pekerjaanya Den, kayak gak ngerasa capek...". Reza mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Satu lagi Den, waktu Raisa pergi ambil barang di laundry Elena dimarahi sama Non Sofi di lantai atas. Bibik Sampek nangis juga kasihan Den..."


" Apa...? Kenapa mbak Sofi marahin Elena..?"


" Kurang tau juga Den.." Setelah mengobrol Reza kembali ke kamarnya, sudah terlalu malam dan dirinya sudah sangat mengantuk, besok Reza akan mencari tahu lebih dalam.


Dirumah Raffi pagi ini semua sudah berkumpul di meja makan, kebetulan hari Minggu Raffi dengan setelan rumahnya menikmati sarapannya dengan santai.


" Sya... Besok atau lusa surat panggilan dari pengadilan untuk mantan suamimu sudah dikirim ke rumahnya.."


" Iya mas terimakasih atas bantuannya.." Raffi mengangguk.

__ADS_1


Keadaan ini sangat berbeda di kediaman Mama Anita, Reza dan Mama nya makan pagi dalam keadaan saling diam tidak ada sepatah katapun yang terucap hingga makan pagi selesai. Reza kembali ke kamarnya untuk memeriksa CCTV dirumahnya melalui laptop kerjanya, dari awal Reza yang begitu mengagumi Raisa kini bertambah kagum pada perempuan itu.


Reza menatap layar laptopnya dengan terus mengembangkan senyum, betapa sabar Raisa merawat Mama nya. Hingga Reza diperlihatkan Sofi yang beberapa kali mendatangi kediaman Mama nya, tatapan Sofi pada Raisa adalah tatapan ketidaksukaan. Dan puncaknya saat Sofi bertabrakan dengan Elena yang sedang membawa gelas susunya dan mengotori pakaian sofi, dengan itu Sofi menjadi murka ia terus memarahi gadis kecil itu hingga Elena sangat ketakutan.


__ADS_2