
Raisa selalu pulang dengan menaiki angkat langganannya, setiap hari di jam yang sama. Tepat setelah adzan Maghrib Raisa tiba di rumah ia segera membersihkan diri bersama Elena dan segera tidur.
Paling lama keduanya tidur jam 08.00 malam begitu lelah hingga Raisa tidak pernah tahu apa yang terjadi di rumah dan orang yang ada di rumah ini. Pagi hari jam 04.00 Raisa sudah sibuk di dapur dengan Elena menyiapkan sarapan pagi, Raisa juga selalu masak sayur lebih banyak untuk dimakan siang dan malam terkadang juga masih tersisa banyak.
Ratna keluar dari kamar dan menghampiri keduanya di meja makan.
" Ca... Kemarin Mama beli gas dan ada iuran warga. Nanti kamu tambahin ya uang untuk bayar listrik dan airnya.."
" Iya Ma.." tanpa banyak berbicara Raisa hanya menjawab singkat.
" Oh iya uang rokok untuk Bram juga kemarin minta sama mama.."
Raisa hanya diam sampai kapan akan terus seperti ini, meskipun ia rela menjadi tulang punggung keluarga tapi kalau seperti ini terus Ia juga lelah. Apalagi suaminya yang hanya bermain game online setiap hari, tanggung jawabnya terhadap keluarga seperti sudah hilang.
" Ayo sayang kita berangkat ke rumah ibu Anita.." Raisa segera menggandeng tangan Elena.
" Iya Mama..."
" Ma.. Raisa berangkat dulu..?"
" Eh uangnya jangan lupa Mama lagi butuh sekali.."
Raisa mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkan pada ibu mertuanya.
" Ini Ma, air, listrik, iuran warga. Kisah rasa juga masih sisa banyak Mama ambil aja untuk kebutuhan sehari-hari.."
" Terima kasih Ca..."
Wajah Ratna berbinar senyum bahagianya menghiasi wajah tuanya. Raisa segera keluar dari rumah keduanya berjalan sampai ujung gang dan menunggu angkat di sana.
" Selamat pagi Pak.."
" Iya pagi,..."
Raisa berjalan ke tangga untuk segera naik ke lantai 3 di mana kamar majikannya berada.
" Eh Sya tunggu dulu.."
" "Ya iya Pak Raffi ada yang bisa saya bantu..?"
" Enggak cuma mau nanya, apa selama ini Mama menyulitkanmu...?"
" Enggak Pak Nyonya Anita sangat baik.."
" Ohhh... Kalau ada apa-apa segera cari saya ya..?"
" Iya Pak, permisi saya naik dulu.."
Raffi mengangguk dan menatap kepergian Raisa dan Elena selalu menunduk takut saat bertemu Raffi itu sangat berbanding terbalik ketika bersama Reza.
__ADS_1
" Selamat pagi Nyonya Anita..?"
Nyonya Anita hanya tersenyum tipis pada Raisa, dan segera menyapa Elena.
" Selamat pagi nenek..." Elena menghampiri Nyonya Anita dan meraih tangannya. Elena mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, di usianya yang sudah tidak muda Nyonya Anita selalu merasa nyaman saat bersama Elena ada kehangatan yang ia rasakan.
Harusnya Raffi sudah menjadi ayah dan putrinya seusia Elena, Ya sudahlah itu peristiwa lama. Raffi berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri lebih nyaman timbang harus bersama sopir. Sejak kemarin hubungannya dengan sang Mama kembali memburuk sepertinya mamanya sedang marah padanya.
" Selamat pagi pak..." para pegawai di kantor yang berpapasan dengan Raffi menyapa bosnya dengan Ramah. Raffi membalasnya dan tersenyum tipis pada pegawai-pegawainya.
Di depan ruangan Raffi terdapat meja kerja milik Joshua asistennya, Joshua selalu datang lebih pagi dari para karyawan lainnya. Mungkin karena tanggung jawabnya sebagai asisten Raffi sehingga dirinya yang menghandle semua jadwal kantor bosnya.
" Selamat pagi bos.."
" Pagi Jo, ke ruangan saya sebentar.."
Joshua segera berdiri dan mengekor di belakang bosnya dengan membawa notebook di tangannya.
" Apa agenda hari ini..?"
" Ada meeting jam 10:00, dilanjutkan makan siang dengan direktur perusahaan daerah. Sore jadwal anda kosong pak.."
" Bagaimana dengan materi meeting nya,.?"
" Sudah saya siapkan diatas meja bapak, silahkan dipelajari lebih dulu. Kita akan membahas kelanjutan rencana kerja sama yang kemaren sempat tertunda.."
Raffi mengangguk-anggukan kepalanya, pandanganya masih fokus menatap lembaran-lembaran kertas didepanya. Joshua menunggu instruksi dari bosnya dan masih duduk disofa dengan laptop dipangkuanya, dirinya meneliti kembali powerpoint yang akan digunakan untuk presentasi nanti.
" Pak Raffi semakin hari semakin ganteng aja ya, apalagi kalau pagi kegantengannya bekali kali lipat..."
" Tu kerjaan udah selesai apa belum, hati-hati kena omel pak Joshua Lo..."
" Udah donk, setiap pagi kan semangatku 1000%, mau donk ya jadi pendamping pak Raffi..."
Plakkkk
" Aduhhh... Apaan sih Lo..."
" Biar Lo Cepet bangun, masih pagi udah mimpi aja Lo.."
Hiisshhhh....
Kedua karyawati ini melanjutkan kerjaanya, dua jam sudah Raffi berada di ruang meeting. Setelah terjadi kesepakatan kerja sama Raffi dan Joshua keluar dengan perasaan lega.
" Bos mau makan siang apa..? Biar saya pesankan.."
" Gak usah Jo, mau pulang aja makan siang dirumah.."
Raffi mengemasi barangnya dan berjalan cepat keluar kantor, Raffi begitu bersemangat meninggalkan perusahaan jelas ini tidak seperti dirinya yang terkenal gila kerja.
__ADS_1
Perjalanan kurang lebih 20 menit Raffi sudah memasukkan mobilnya ke halaman rumah, setelah memarkirkan kendaraanya ia bergegas turun dengan membawa tas kerjanya.
Raffi melirik sekilas mobil adeknya yang sudah terparkir rapi digarasi rumah, tumben batinya.
Saat memasuki rumah pandanganya langsung tertuju jauh ke depan, diteras belakang Raisa Elena dan Reza sedang bercengkrama disana. Elena terlihat begitu bahagia duduk dipangkuan Reza, senyuman tak henti menghiasi bibir mungilnya dengan berceloteh ria.
Ada perasaan iri dalam diri Raffi, bisa sedekat itu dengan Elena dan berbanding terbalik terhadapnya. Elena bahkan ketakutan saat bertemu Raffi, boro-boro diajakin main. Memang Reza seorang dokter anak, dia punya cara sendiri dalam melakukan pendekatan.
" Mas Raffi sudah pulang.." sapa Reza yang melihat kakaknya berdiri di ambang pintu. Sapaan Reza sekaligus membuyarkan lamunan Raffi.
" Iya nih baru sampai, udah makan siang belum ayok..."
" Sayang sebentar ya Om dokter mau makan siang dulu.."
" Iya Om Doktel..."
" Sebentar ya Sya..."
" Iya mas saya juga permisi mau ke atas.."
Reza berjalan ke arah meja makan dan Raffi sudah duduk di sana. Iya pun segera menarik kursi untuknya duduk..
" Mas tumben pulang cepet.."
" Udah selesai kerjaanya..."
" Wah... Ini kayak bukan mas Raffi, hal kaya gini bisa terjadi sekali dalam setahun.."
" Maksudnya..."
" Biasanya paling Cepet pulang Maghrib.."
" Udah makan jangan banyak ngomong..." Raffi yang sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Raisa ke dapur untuk mencuci piring bekas dirinya makan siang setelah itu berjalan menaiki tangga menuju lantai atas di mana kamar Nyonya Anita berada. Pandangan Reza terus tertuju pada Raisa, tidak sedetik pun iya melewatkan aktivitas Raisa Bibirnya terus mengulas senyum.
" Kamu emang gak kerja..?"
Beberapa detik berlalu tidak ada jawaban dari sang adik yang membuat Raffi menoleh menatapnya dalam-dalam, pandangan Raffi mengikuti pandangan Reza. Raffi baru tersadar jika adiknya sejak tadi memperhatikan aktivitas Raisa.
" Heyy..." Reza sedikit terjingkat kaget.
" Mas Raffi apaan sih, bikin kaget aja.."
" Ngelamun kamu ya...?"
" Enggak kok.."
" Gue tanya gak denger Lo.."
__ADS_1
" Kapan mas Raffi tanya.."
" Bodo amat..." Raffi segera beranjak dan meninggalkan Reza yang masih menghabiskan makan siangnya. Raffi pun segera masuk ke dalam kamarnya