Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 13


__ADS_3

Hari menjelang gelap Raisa dan Elena sudah tiba di rumah, keduanya lantas bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat.


Tok...tokkkk...tokkk...


Suara ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Raisa, dengan malas Raisa bangkit dari tidur dan berjalan mendekati pintu. Saat pintu terbuka sosok Bram sudah berdiri di depan.


" Ada apa mas...?"


" Ca bagi uang donk..."


" Gak ada uang..."


" Pelit amat sih lo, buruan gih aku butuh rokok.."


" Ya ampun mas, bisa gk sih kerja. Masa mau minta terus..."


" Kamu sendiri kan tau lagi susah cari kerja, ntar kalau aku udah kerja tak gantiin.."


" Kalau gak ada uang ya rokoknya berhenti mas, emang beli rokok pakek daun.."


Mendengar keributan didepan Ratna keluar kamar dan mendapati anak dan menantunya sedang terlibat keributan, ia pun bergegas menghampiri keduanya dengan maksud menengahi.


" Ada apa sih kalian malam-malam ribut terus.."


" Ini Ma, minta uang aja gak dikasih.."


" Kasih kenapa Ca, kan posisinya suamimu belum dapat pekerjaan.."


Raisa sudah menduga pasti akan seperti ini respon mertuanya, biarpun anaknya salah selalu dibelain ini yang membuatnya muak.


Dengan kesal Raisa masuk ke dalam dan keluar lagi membawa uang 30 ribuan. Menyodorkan lembaran uang itu pada Bram, Bram segera mengambil uang di tangan istrinya.


" Ini masih kurang, ini baru rokoknya kopinya masih belum..."


Raisa menutup pintu dengan membantingnya cukup keras, Ratna berdecak kesal.


" Andai bukan sumber uangku, sudah ku usir dari sini.."


Bram melenggang keluar dari rumah dengan perasaan bahagia, dirinya terus mengembangkan senyuman sepanjang jalan. Ratna pun kembali masuk ke dalam kamarnya.


" Selamat pagi pak Raffi, mas Reza..." Raisa menyapa keduanya yang sedang menyantap sarapan paginya.


" Pagi Sya, pagi Elena.. Tos dulu donk sama Om dokter.."


Plakkk...


" Pinter banget sih.." Reza mencubit gemas pipi Elena.


" Permisi saya dan Elena naik dulu.." Raisa membawa Elena berlalu pergi dari hadapan majikanya.


" Sok akrab banget sih kamu Za.."


" Gak apa-apa mas, kali aja jadi kandidat calon bapaknya Elena.."

__ADS_1


" Uhukk...Uhukkk...." Raffi terbatuk-batuk mendengar ucapan adiknya.


" Makan tuh fokus mas.."


" Kamu ngomong apa barusan...?"


" Calon bapaknya Elena.."


" Emang Raisa itu janda apa, dia punya suami tau.." Raffi mencoba menjelaskan.


" Waktu Elena sakit aku gak pernah lihat batang hidungnya bapaknya Elena, mungkin Raisa itu janda kalau tidak janda ya punya suami yang tidak bertanggung jawab sama sekali.."


" Sok tau banget kamu, kesulitan orang kan kita gak tau.."


" Kalau bertanggung jawab ya mas suami kok tega biarin istrinya kerja dari pagi sampai sore, bawa anak lagi.."


Dalam hati Raffi juga membenarkan kata-kata adiknya, bagaimana bisa Raisa kerja banting tulang kaya gitu. Bahkan setiap hari Minggu lebih sering masuk kerja daripada harus libur.


" Aku berangkat duluan mas.."


" Hmmm..."


Reza berangkat dengan membawa tas kerjanya dan jas putih kebesarannya yang dirinya lipat dilenganya. Reza selalu membawa mobil sendiri setiap hari.


Raffi tiba dikantor saat jam menunjukkan pukul 09:00, para karyawati yang masih jomblo selalu salah tingkah saat berhadapan sama bosnya. Ada yang pura-pura menjatuhkan bolpoin, buku dan sebagainya.


" Selamat pagi boss..." Sapa Joshua ramah.


" Apa agenda hari ini..?"


" Oia boss pak Andik meminta waktu sebentar.."


" Dimana sekarang..?"


" Tadi pas ngabari sudah akan berangkat boss.."


" Suruh langsung menghadap ku saat dia tiba.."


Tok..tok...tok...


" Masuk..."


" Maaf Den bapak langsung kesini.."


" Duduk dulu pak, ada apa..?"


" Mau menyerahkan laporan bulanan pabrik Den, Den Raffi bulan ini tidak berkunjung..."


" Bulan ini saya benar-benar sibuk pak Andik, sampai lupa mau ke pabrik. Apa ada masalah disana?.."


" Sampai sekarang masih baik Den, Oia waktu Raisa keluar dari pabrik kan masih ada tanggungan biaya pengobatan anaknya waktu itu. Bagaimana Den..?"


" Itu sudah jadi urusan saya pak, sekarang dia masih kerja sama saya.."

__ADS_1


Pak Andik hanya mengangguk-angguk, merasa laporanya sudah selesai pak Andik segera pamit undur diri untuk kembali lagi ke pabrik.


Menjelang Maghrib Raffi baru tiba dirumah, dari halaman dirinya melihat Raisa sendirian duduk diteras. Raffi pun berjalan mendekatinya.


" Kok belum pulang Sya..?"


" Lagi nunggu Elena pak, diajak jalan-jalan mas Reza tadi.."


" Oohh.. Reza pulang awal.."


" Tadi pak sekitar jam 15:00.."


" Oke saya masuk dulu, mau ku antar pulang..?"


" Enggak perlu pak, saya nunggu Elena.."


" Masa bener apa yang dibilang Reza kalau Raisa itu janda, Reza lebih banyak tau. Bahkan Raisa memanggil Reza dengan sebutan mas, sedang aku dipanggil bapak.."


Tak lama mobil Reza memasuki halaman rumah, Reza memaksa akan mengantarkan Raisa pulang. Awalnya Raisa menolak tetapi Reza memaksa dan menurutnya sudah menjelang malam nyari angkot juga susah.


Raisa duduk didepan disebelah Reza, Elena dikursi belakang dengan membawa banyak mainan. Raffi terus menatap mereka dari balik jendela rumah, mereka terlihat begitu akrab.


" Terimakasih mas Reza, maaf gak ngajakin mampir. Sayang bilang terimakasih dulu sama Om dokter.."


" Gak apa-apa Sya, lagian juga udah malam.."


" Cantik.. Om pulang dulu ya..."


" Terimakasi Om... Dada..." Elena melambaikan tangan pada Reza.


Setelah membalas lambaian tangan Elena Reza langsung tancap gas kembali ke rumah.


" Keluyuran terus jam segini baru pulang.."


" Enggak kok Ma, tadi Elena yang diajak jalan bos Ica..."


Ratna melirik sinis pada Elena yang membawa banyak mainan ditangannya, sadar tatapan tidak suka dari neneknya Elena hanya menunduk. Raisa segera membawa putrinya masuk ke dalam kamar.


" Mama... Nenek malah ya..."


" Udah gak apa-apa, Elena gak perlu takut..." Raisa membelai sayang kepala Elena dan meninggalkan ciuman sayang disana.


keduanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Elena membongkar mainan yang baru didapatnya bersama ibunya.


" Mama.. Om Doktel baik, Elena sayang banget. Elena pengen punya Papa kayak Om dokter.." ucapnya polos pada ibunya.


" Eh sayang gak boleh ngomong gitu, kita sama Om dokter itu beda. Om dokter kan orang kaya gak boleh hidup sama kita.."


Raisa menemani Elena yang memainkan mainan-mainan barunya, hingga waktu menunjukkan pukul 21:00.


" sayang bobok yuk, Mama udah ngantuk. Besok kan kita harus berangkat pagi..!"


" Mama bobok dulu ya Elena masih belum ngantuk, gak usah ditunggu Mama.."

__ADS_1


Raisa pun merangkak naik ke atas tempat tidur, tak lama dirinya sudah berlabuh di alam mimpi. Aktivitas nya seharian membuatnya tidak pernah tidur terlalu malam agar pagi bangun sudah hilang semua lelah yang melanda.


__ADS_2