Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 37


__ADS_3

Dua Minggu sudah Reza tinggal di Australia, Mama Anita dirumah merasa kesepian meskipun banyak orang tetapi tidak bisa menggantikan kehadiran anaknya.


Seperti saat ini dimeja makan hanya seorang diri, ingatan Mama Anita kembali ke masa dimana Raffi dan Reza masih anak-anak dan ayahnya juga masih ada. Di meja ini kedua putranya selalu bercanda dan bercerita saat makan bersama.


Tanpa sadar air mata Mama Anita Luruh, saat itu dirinya merasa menjadi seorang ibu yang sangat beruntung. Kedua putranya sudah dewasa, keduanya sudah memilih hidupnya masing-masing dan karena sikapnya dirinya dan putranya seperti ada jarak yang memisahkan.


" Nyonya tidak apa-apa..?" Tanya suster padanya.


" Gak apa-apa Sus, saya hanya merindukan putraku.."


." Dokter Reza juga sebentar lagi kembali Nyonya, mungkin 2 Minggu lagi.."


" Suster boleh saya bertanya..?"


" Silahkan Nyonya.." Suster itu antusias mendengarkan.


" Menurut suster bagaimana dengan putraku..?"


" Dokter Reza adalah dokter yang sangat baik Nyonya, begitu sepenuh hati dalam bekerja dan sangat menyayangi pasirnya. Dirumah sakit baik pasien, sesama dokter, senior atau junior begitu menyukai dokter Reza.."


" Apa dia sudah memiliki kekasih Sus ditempat kerjanya...?"


" Sepertinya belum Nyonya, saya tidak pernah melihatnya.."


" Ya sudah Terimakasih.." Suster itu kembali meninggalkan majikanya yang melanjutkan makan paginya.


" Sya nanti ikut makan siang bersama tamu dari perusahaan luar pulau ya.."


" Mas untuk acara sepenting itu jangan libatkan aku, takut malu-maluin mas Raffi nanti.."


" Aku baru aja dapat kabar kalau Joshua tidak masuk kantor hari ini, demam katanya.."


" Yang lain aja mas, aku kan pegawai baru.."


" Ya udah besok kalau Joshua masuk kantor langsung aja aku pecat dia, siapa suruh sakit.." Raffi melirik Raisa tanpa menoleh.


" Mas Raffi ni apa-apaan sih, egois sekali mana ada orang yang mau sakit.." Raisa melipat kedua tanganya di dada, ia begitu kesal dengan pemikiran bosnya.


" Kenapa sakitnya gak kemaren pas gak ada tamu, atau besok aja.."


" Ih..." Raisa memukul lengan Raffi yang sedang menyetir dengan kedua tangannya.


" Aduh Sya, sakit tau.."


" Iya iya aku ikut..." Raffi tersenyum penuh kemenangan, Raisa terus memanyunkan bibirnya sampai mobil yang mereka tumpangi masuk ke area gedung kantor.


" Selamat siang Tuan Raffi, senang sekali bisa bertemu dalam keadaan sehat..."


" Selamat siang Tuan Andre, senang juga bisa bertemu dengan anda..." Keduanya saling berjabat tangan.

__ADS_1


" Ini sekretaris saya, Neli namanya..?"


" Hai Neli..." Neli berjabat tangan dengan Raffi dan Raisa.


" Ini staf keuangan di perusahaan saya, Raisa..."


" Raisa..." Setelah saling mengenalkan diri acara siang ini makan bersama berlanjut membahas kerja sama antar perusahaan.


" Anda sungguh pemuda yang sangat berbakat tuan Raffi, tidak salah saya memilih anda menjadi rekan bisnis saya.."


" Saya juga masih banyak belajar Tuan Andre jangan terlalu memuji.."


" Siapkan berkas kontraknya saya akan langsung tanda tangan.."


Raisa menyodorkan berkas kerja sama antar kedua perusahaan cukup ternama ini, pihak pertama dan kedua sudah sama-sama membubuhkan tanda tangan disana. Raisa memegang satu dan satu lagi ia serahkan kepada Neli sekretaris Tuan Andre.


" Mas kita kembali ke kantor atau langsung pulang..?"


" Aku masih mau disini dulu, gimana menyenangkan bukan bertemu dengan rekan bisnis dengan suasana yang menyenangkan seperti ini...?"


" Iya mas tidak seperti yang aku bayangkan, kalau di kantor mas Raffi begitu serius dan menakutkan..."


" Memang kamu takut...?" Raffi menggoda Raisa.


" Sedikit..."


" Serius...! Takut apanya...."


" Sya ayo segera menikah, aku pengen punya keluarga yang bahagia...?"


" Gimana kalau mas Raffi cari wanita lain, aku merasa kurang pantas buat mas Raffi..." Raisa bangkit dan kembali duduk di sebelah Raffi.


" Kamu gak mau menikah denganku Sya...?" Raffi menggenggam tangan Raisa.


" Mas aku punya Elena...!"


" Kenapa dengan Elena, aku bisa menyayanginya...!"


" Aku takut mas, andai aku menikah suamiku hanya mencintaiku tidak dengan Elena lantas bagaimana nasib Elena nanti. Saat ini aku lah dunianya Elena..." Raut muka Raisa berubah sendu.


" Aku menyayangi Elena Sya sungguh, bahkan pertama kali aku mengenalnya waktu di pabrik aku sudah jatuh hati pada gadis kecilmu itu. Andai anakku masih hidup pasti dia seusia Elena.."


" Mas Raffi punya anak...?" Raffi hanya mengangguk.


" Dimana putrimu sekarang mas, kenapa mbak Sofi tidak pernah membawanya kesini.."


" Sofi membawa Ara ke Amerika waktu usianya 6 bulan setelah bertengkar denganku, 3 bulan setelah itu Sofi memberitahuku kalau Ara sakit dan meninggal disana. Aku terpukul hatiku sakit, aku memiliki banyak uang tetapi aku tidak bisa memberikannya pengobatan terbaik..."


" Maaf kan aku mas..." Raisa menepuk-nepuk punggung tangan Raffi, menyalurkan kekuatan lewat sentuhan ya.

__ADS_1


" Maafkan aku jika terlalu memaksa Sya..."


" Kita tunggu sampai Mama Anita memberikan restu mas..."


" Kita sama-sama berusaha ya...?"


Raisa begitu mengagumi sosok Raffi tetapi untuk menikah secepat ini Raisa merasa belum siap, dirinya tidak siap untuk kecewa lagi mengingat statusnya dan Raffi yang sangat berbanding jauh.


Sely keluar dari rumah dengan mengendap-endap begitu mencurigakan, Danu yang melihat dari layar ponselnya tersenyum penuh arti.


" hallo bos..."


" Ikuti kemana dia pergi, segera laporkan padaku...!"


" Baik bos siap laksanakan....!"


Sely menaiki mobilnya dan membawanya keluar gerbang, ia bernafas lega karena berhasil keluar dari kandang harimau itu. Tanpa dirinya sadari sebuah mobil hitam berjalan jauh dibelakang mengikuti kemana perginya mobil istri majikanya.


Suara mesin mobil dihalaman depan Bram segera berjalan keluar rumah, dan benar saja Sely keluar dari pintu depan. Bram segera menghampiri dan keduanya saling berpelukan melepas rindu.


" Bram aku sangat merindukanmu..."


" Aku juga, setiap malam hanya memikirkan mu.."


" Dirumah ada siapa...?"


" Aku aja, mama baru aja pergi..."


Keduanya memasuki rumah dan mengunci pintu dari dalam, sudah bisa dipastikan apa yang akan keduanya lakukan di dalam sana.


" Hallo bos..."


" Kemana perginya wanita itu...?"


" Kerumah Bram bos, pria yang waktu itu kita bikin kapok.."


" Kurang ajar...! Masih belum kapok juga rupanya. Seret keduanya, bawa kerumah..."


" Baik bos..."


" 1...2...3...."


Darrrt....Brakkkk....


Pintu kontrakan Ratna ambruk ditendang kedua bodyguard berbadan tegap, Sely dan Bram terjingkat kaget mendengar pintu di dobrak seseorang.


" Seret keduanya..." perintah salah satu bodyguard pada yang lain.


" Jangan sentuh dia, kalian mau apa di rumahku..."

__ADS_1


Tanpa memperdulikan teriakan Sely dan Bram ketiga bodyguard Danu membawa keduanya pergi, Bram sudah bertelanjang dada sedangkan Sely begitu berantakan. Sely Hany bisa menangis, ia sangat tau siapa orang-orang berbadan tegap yang membawanya


__ADS_2