Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 18


__ADS_3

Dengan rundingan yang alot akhirnya Raffi membawa Raisa dan Elena ke rumahnya.


" Bik Tum mulai hari ini Raisa akan tinggal disini dan siangnya bekerja dirumah Mama.."


" Baik Den Raffi, saya seneng banget ada temen ne.."


" Pak saya di kamar yang lain aja, dibawah juga gak apa-apa.."


" Bik tolong bawakan barangnya ke kamar tamu.." Bik Tumi segera membantu Raisa membawa barangnya ke dalam kamar.


" Ma kita pindah kerumah bagus..."


" Iya sayang, Elena suka...?"


" Suka Mama..."


" Terimakasih sama Om Raffi Ya..."


Dert...Dert....


Ponsel Joshua di atas nakas bergetar, dengan mata yang masih terpejam ia meraba-raba dan mengambil benda pipih itu menggeser gambar telepon berwarna hijau.


" Iya boss...?"


" Dimana kamu...?"


" Dirumah bos, hari Minggu masih tidur.."


" Aku minta ranjang dengan kasur terbaru dan yang baling bagus di toko, kirim ke rumahku.."


" Baik bos akan segera saya laksanakan.."


Dengan malas Joshua beranjak dari kasur nyaman nya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Pukul 12:00 Joshua sudah tiba dikediaman Raffi dengan di ikuti mobil box besar yang berisi ranjang dan kasur yang dipesan bosnya .


" Pak langsung masuk aja.." Ucapnya pada sang supir.


" Baik pak..."


Joshua bergegas masuk ke dalam rumah, dirinya mendapati bosnya sedang rebahan di sofa ruang tamu.


" Bos pesanan anda sudah datang..!"


" Lama sekali Jo.."


" Sudah saya kerjakan sambil berlari Bos.."


" Bagus sekali olahraga, saya lihat perutmu sudah mulai membuncit.."

__ADS_1


" Mana ada bos, sixpack gini juga.."


" Pak langsung bawa masuk aja.."


Pak Hasan dan Joshua juga membantu pegawai toko membawa ranjang untuk naik ke lantai atas, sebelum ranjang itu di pasang ranjang lama dikeluarkan dulu dari kamar Raffi.


" Mau dibawa kemana ranjang yang ini Den.."


" Buang pak.."


" Boleh bapak minta Den, sayang masih bagus sekali seperti baru.."


Raisa yang sejak tadi melihat bersama Bik Tumi bertanya-tanya dalam hati, kenapa ranjangnya langsung di ganti padahal masih bagus sekali.


" Bik kenapa ranjangnya dibuang.."


" Gak tau Non, gak berani nanya juga.."


" Kenapa ya..? Apa mungkin ranjangnya bekas ku dan Elena tadi malam.."


Raisa membantu Bik Tumi menyiapkan makan siang di atas meja makan, keduanya hanya diam larut dalam pikirannya masing-masing.


Acara menata ranjang sudah selesai dan kurir pengantar pun sudah pergi, semua orang menuju makan meja makan untuk makan siang.


Joshua yang melihat seorang wanita berparas cantik duduk diseberang tempat duduknya, hingga ia lupa jika disana banyak orang selain dirinya.


" Siapa wanita ini, apa dia saudaranya bos. Tapi kok gue gak pernah lihat, bos beli ranjang buat siapa dia atau jangan-jangan bis Raffi menikah lagi.."


" Jo... Cepat habiskan makananmu terus pulang.."


" Tapi bos masih ada yang ingin saya bahas.."


" Besok saja ini perintah.."


Joshua menatap aneh pada bosnya, biasanya jika sedang suntuk bosnya itu akan meminta ditemani hingga dirinya harus menginap.


Selesai makan Raffi naik ke kamar atas dan merebahkan tubuhnya di sana, dirinya masih memikirkan kata-kata mertua Raisa yang menyebut bahwa Elena adalah anak haram.


Apa mungkin Raisa hamil sebelum menikah atau bagai mana, Raffi terlalu sungkan untuk ikut campur terlalu jauh dalam urusan rumah tangga orang lain.


Ya mungkin suatu saat akan ia tanyakan jika waktunya tepat.


" Za.. Kakakmu dimana, dari semalam kok gak kelihatan batang hidungnya.."


" Gak tau Ma, mungkin main sama temennya atau bisa juga nginap dikantor. Kak Raffi kan gila kerja.."


" Mama rindu makan bersama anak-anak Mama. Mulai hari ini kita makan dimeja bersama.."


" Ma... Reza mohon sama Mama jangan paksakan lagi kehendak Mama sama mas Raffi. Kasihan mas Raffi, begitu papa meninggal tanggung jawab beralih di bahu mas Raffi. Sampai Reza bisa jadi dokter juga karena mas Raffi.."

__ADS_1


" Kamu tau apa sih..."


" Memang kak Sofi itu cantik, tapi sepertinya bukan tipe mas Raffi. Reza inget pabrik kita hampir bangkrut waktu itu karena tertipu rekan bisnis, mas Raffi yang mengembalikan semua. Saham Papa hanya berapa persen di perusahaan itu, tapi apa kini perusahaan itu menjadi milik mas Raffi. Sampai urusan jodoh aja mas Raffi memilih apa yang Mama pilihkan, tapi apa akhirnya bercerai kan. Bener kata mas Raffi Ma, selama ini mas Raffi hidup untuk orang lain untuk Reza, Mama, kak Sofi dan keluarganya. Sekarang biarkan mas Raffi menentukan jalan nya sendiri, kita support aja.."


Nyonya Anita hanya diam mencerna apa yang putranya katakan, putranya kini sudah dewasa mereka punya pandangan hidupnya masing-masing bahkan pola pikirnya lebih dewasa dibandingkan yang udah tua.


" Coba kamu telepon kakak mu...!"


Reza meraih ponsel di meja sebelah dan mencari kontak kakak nya, setelah menemukan ia mencoba menghubungi nomor yang tertera.


Dert...Dert...


Raffi yang sedang membersihkan diri di kamar mandi tidak mendengar ponselnya berbunyi, seharian beraktivitas membuatnya ingin berlama-lama berendam di bathtub.


Raisa membantu Bik Tumi membereskan sisa makan siang, sedangkan Elena main bersama pak Hasan di depan tv ruang tamu.


" Kakek ini boneka Barbie cantik ya, rambutnya panjang.."


" Elena juga cantik, nanti lama-lama pasti rambut Elena juga tumbuh panjang.."


" Kakek sayang sama Elena.."


" Sayang banget lah, Nenek Tumi juga sayang banget sama Elena.."


" Tapi kek, ayah dan nenek Elena gak sayang sama Elena. Elena juga sering dipukul sampai merah, disini disini..." Elena menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang sering mendapatkan pukulan dari Nenek dan ayahnya.


" Oh ya... Apa mungkin Elena bandel...?"


" Enggak Kek, Elena gak jahat. Mama kerja Elena cuma main boneka di dalam kamar, maem ambil sendiri, mandi sendiri, Elena kasihan Mama capek cari uang buat Elena.."


" Uh... pinter ya cucu kakek.."


Raffi yang berdiri sejak tadi tidak jauh dari keduanya mendengar semua apa yang gadis kecil itu ceritakan, memang Elena masih sangat kecil tapi dia sudah mengerti apa yang terjadi. Raffi semakin dibuat penasaran dengan kehidupan Raisa dan Elena sebelumnya.


Raffi yang akan menghubungi Joshua melihat beberapa kali panggilan dari sang adik, Rafi menghubungi balik adiknya takut terjadi apa-apa dengan sang Mama.


" Hallo mas..." Suara adiknya diseberang sana.


" Kamu tadi telepon mas ada apa..?"


" Mas Raffi itu Lo dari kemaren kok gak pulang kemana, di cariin Mama Tu..."


" Kirain ada apa, Mama baik-baik aja kan.."


" Baik kok mas, mas Raffi kapan pulang..."


" Gak tau, kalau Mama nyariin mas cuman mau bahas pernikahan mas belum siap.."


" Kan belum tentu mas, mas Raffi suudzon gitu sama Mama.."

__ADS_1


" Ya udah besok mas pulang.." Setelah selesai Raffi menutup panggilan telepon nya.


__ADS_2