Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 32


__ADS_3

Danu membawa Sely pulang, Sely yang merasakan sakit pada lengannya hanya bisa menangis tanpa bersuara. Ia menuruti saja apa yang akan dilakukan suaminya, Danu membuka pintu mobil dan melempar tubuh Sely disana. Raffi yang melihatnya tersenyum kecut, Raffi segera mengirim bukti rekaman Sely dan Bram ke ponsel Danu.


Selesai sidang Dirga pamit lebih dulu karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, ia sedikit terburu-buru meninggalkan pengadilan agama.


Raffi menghampiri Raisa yang berdiri bersama Reza dan wanita tua mantan mertuanya.


" Kamu masih ada waktu buatmu untuk meminta maaf dan bersujud di kaki Bram, supaya Bram berubah pikiran dan batal menceraikan mu. Kamu juga harus minta izin sama Sely untuk kembali kerumah dan menerima Sely sebagai madumu, setelah Bram menikah sama Sely kita akan hidup mewah dirumah bagus. Dari pada kamu nanti tidur dikolong jembatan sama anak pungut mu itu..!" Ratna terus mengoceh tanpa henti, Reza yang menggenggam erat tangan Raisa memintanya untuk tetap tenang.


" Sya ayo kita pulang..."


" Ayo mas..."


" Kamu akan menyesal ya setelah keputusan ini.."


" Bukan Raisa yang akan menyesal tapi anda, Bram dan Raisa sudah tidak memiliki hubungan lagi Bram sudah menjatuhkan talak pada Raisa. Walaupun akte cerai belum keluar Raisa sudah resmi menjadi janda, tinggal tunggu putusan Minggu depan..!" Raffi berkata sambil menunjuk Ratna tepat didepan mukanya.


"Awas ya kalian semua..." Ratna terlihat marah, wanita tua itu baru menyadari Sely dan Bram sudah tidak berada disana. Raffi menggandeng tangan Raisa dan membawanya masuk ke dalam mobil.


" Za mau pulang bareng kita..?"


" Enggak mas aku langsung kerumah sakit.."


" Kita duluan ya..!" Reza membalas dengan membentuk huruf O di tanganya.


" Kamu bisa antarkan saya pulang...?" Nada bicara Ratna sedikit melunak saat meminta diantar pulang Reza.


" Saya bukan supir..."


" Saya tau kamu bukan supir, tapi saya meminta tolong.." Reza mengambil ponsel miliknya dan memesan ojek online disana, tak lama ojek yang sedang berada di area gedung itu pun segera tiba.


" Atas nama bapak Reza...?"


" Iya pak tolong antarkan wanita ini.."


" Mari Buk.."


" Saya bukan ibumu..." Ratna kesal dan mengambil helm di tangan pria ojek tersebut. Pria yang bingung hanya membiarkan saja wanita itu terus mengomel.


" Mas kita mau kemana...?"


" Makan..."


" Aku masih kenyang mas, kita pulang aja gimana..?"


" Aku yang lapar bukan kamu.." Raisa tercekat dan memilih diam, Raisa harus bisa baca situasi perasaan Raffi lagi gak baik kayaknya.


Raffi hanya diam hingga mobil yang ia kendarai memasuki lobby sebuah restoran, Raisa membuka pintu dan turun sedangkan Raffi sudah turun terlebih dahulu. Raisa mengekor kemana Raffi pergi, kini keduanya sudah duduk diruang VIP yang ada dilantai atas.


" Mas aku pulang aja ya, gak enak kaya patung.."

__ADS_1


" Maksud kamu...!"


" Mas Raffi dari tadi mendiamkan aku, aku capek mas aku mau pulang aja.." Raisa bangkit dari duduknya dan menyambar tas yang tadi ia letakkan di atas meja.


" Tunggu Sya, aku minta maaf.." tanpa sadar Raffi mengucapkan kalimat yang sangat ia benci yaitu meminta maaf terlebih dahulu.


Dengan kesal Raisa mendudukkan tubuhnya kembali pada kursi, dengan nafas tersengal-sengal Raisa menahan kekesalannya pada bosnya.


" Aku gak suka ya kamu berpegangan tangan seperti tadi sama Reza.."


Raisa yang mendengar pun mengingat-ingat kembali kapan dirinya berpegangan tangan dengan Reza, Raisa pun ingat beberapa jam yang lalu Reza sempat menenangkan Raisa saat diruang sidang. Raisa tersenyum jengah, Raffi masih saja terlihat sangat kesal.


" Terus harusnya aku berpegangan tangan sama siapa dong...?" Tanyanya manja.


" Bram...!" Raffi menjawab spontan.


" Ya sudah aku pergi dulu, ngapain juga sama Bram ada mas Reza yang lebih keren..."


" Raisa....." Raffi berteriak hingga menjadi pusat perhatian para pelayan yang ada disana.


" Maaf.... Maaf... Aku salah..." Raisa mengalah. Mas Raffi cemburu ya...?"


" Iya puas kamu..."


" Ih memang aku siapa, aku hanya perawat Nyonya..."


" Stop Raisa..." Perdebatan keduanya selesai saat pelayan restoran mengantarkan makanan yang barusan Raffi pesan.


" Bram.. Sely belum mentransfer uang ya.."


" Gak tau Ma, Bram udah blokir nomor ponsel Sely.." Bram berbohong pada ibunya, berani mengganggu Sely Bram bahkan hampir kehilangan nyawanya.


" Terus kita bagaimana, uang mama sudah habis. Mana para rentenir itu sudah beberapa kali mama tolak, bisa digorok leher mama kalau sampai mangkir.


" Terserah Mama deh Bram pusing Ma..."


" Kamu ikutan mikir dong, perabotan rumah juga sudah banyak dijual. Sudah gak ada barang berharga lagi dirumah kita..."


"Keluar ma, Bram tambah pusing nie..."


" Mama mau telpon Sely aja, mama mau minta uang sama dia..."


" Jangan Ma..."


" Sudah kamu diem aja, kamu kan yang bilang kalau ada Sely semua masalah teratasi.."


Ratna nekat menghubungi nomor ponsel Sely, karena ia sudah tidak bisa lagi menahan. Hutang di warung tetangga juga sudah numpuk, malu kalau mau ngutang lagi.


" Hallo Tante..."

__ADS_1


" Iya Sely ini Tante, Sely kapan katanya mau transfer uang. Tante sudah gak punya apa-apa nie.."


" Uang yang kemaren aku kasih sudah habis Tan..."


" Ya sudah dong, katanya kamu nyuruh Tante shopping beli baju untuk acara sidang kemaren..."


" Gimana ya Tan, semua ATM Sely dibekukan sama mas Danu. Atau Tante jual aja rumahnya untuk bayar hutang di bank.."


" Terus Tante kamu suruh tinggal di kolong jembatan..."


" Bukan begitu Tan, nanti sisa uangnya buat cari kontrakan hanya sementara kok nanti Sely belikan rumah yang lebih bagus.."


Ratna pun setuju untuk menjual rumahnya dan menutup pinjaman di bank, sisanya keduanya benar-benar tinggal disebuah kontrakan.


Tidak lupa Ratna mengirim lokasi tempat tinggal barunya pada Sely, supaya Sely dengan mudah mencari putranya.


" Sayang Elena sudah mau sekolah kan, Elena suka gak...?"


" Suka Mama, Elena jadi punya banyak teman main..."


" Gimana kalau kita belanja kebutuhan sekolah Elena...!"


" Mas Raffi..."


" Elena mau beli tas buku dan kebutuhan sekolah lainya..."


" Mau Om tapi Mama gak punya uang, kan Mama Elena gak kerja.."


" Siapa bilang, Mama itu uangnya banyak..."


Raffi membawa Raisa dan Elena keluar rumah jalan-jalan sambil membeli kebutuhan, Raffi dan Raisa membawa banyak barang belanjaan.


" Mas Raffi, Raisa..." Suara seseorang yang tidak asing memanggilnya, sontak Raffi dan Raisa pun menoleh. Disana ada Reza yang mendekat ke arahnya dengan mendorong kursi roda Mamanya.


" Ma..." Raffi meraih tangan Mama nya dan mencium punggung tanganya.


" Nyonya..." Saat Raisa yang akan meraih tangan Mama Anita wanita itu segera menarik tanganya sebelum tersentuh Raisa. Raisa pun menarik tanganya kembali.


" Nenek apa kabar...?"


" Baik.." jawab Nyonya Anita kurang ramah.


" Ma jangan seperti itu pada Elena..." Raisa segera memeluk Elena di hadapannya.


" Za bawa Elena menjauh dari sini.."


" Baik mas, titip Mama..."


" Ayo sayang sama Om Reza, orang dewasa mau bicara jadi kita harus pergi.."

__ADS_1


" Iya Om..."


__ADS_2