
Hari sudah menjelang sore Raisa meminta Elena menyudahi bermainnya dan keduanya mendatangi sebuah cafe untuk makan. Di cafe yang berbeda Reza dan Raffi sudah duduk pada meja yang sama.
" Mas.. Mama memecat Raisa..!"
" Aku sudah tau..."
" Apa mas Raffi juga tau dimana keberadaan Raisa dan Elena sekarang..?"
" Memangnya kenapa..?"
" Hampir seharian ini aku mencari Raisa dan Elena, tadi pagi aku mendatangi rumahnya yang dulu. Mertuanya bilang Raisa dan Elena pergi bersama laki-laki yang tidak lain adalah bosnya. Untuk itu Reza berpikir kalau mereka berdua bersama Mas Raffi.."
" Iya Raisa tinggal di rumah ku..."
" Apa.. Jadi mas Raffi dan Raisa tinggal satu rumah.." Reza berbicara dengan nada sedikit tinggi.
" Biasa aja, di rumahku ada banyak kamar dan di sana juga ada bi Tumi dan Pak Hasan.."
" Apa Mas Raffi menyukai Raisa...?"
" Memangnya kenapa kamu percaya seperti itu..."
" Hanya memastikan saja mas, syukurlah kalau Mas Raffi tidak menyukai Raisa. Karena aku menyukainya..."
" Uhukk...uhukk....uhuk...." Raffi yang sedang meminum kopi tersedak mendengar penuturan Reza.
" Mas Raffi kenapa...?"
" Tidak apa-apa...!"
" Reza duluan ya mas, mau nemuin Raisa dirumah mas Raffi boleh kan...?"
" Hemz..." Reza bergegas meninggalkan cafe dan melajukan mobilnya menuju kediaman kakaknya.
Selesai mengajak Elena makan di cafe Raisa menggandeng tangan putri kecilnya keluar, saat melewati parkiran tiba-tiba tangan Raisa ditarik seseorang hingga membuatnya hampir terjatuh.
"Aduh..." Raisa merasakan sakit yang luar biasa pada lengan kanannya.
" Mama..." Gadis kecil yang melihat ibunya kesakitan menangis.
Raisa menoleh menatap dua wanita yang beda usia tersenyum puas padanya, satu lagi mantan mertuanya dan satunya Raisa masih mengingat siapa wanita ini.
" Apa maksud anda menyakiti saya..."
" Wanita sialan, ngapain kamu disini. Memangnya punya uang untuk makan ditempat mewah seperti ini. Upss.... Dia kan punya sugar Daddy.."
" Berhenti memfitnah saya seperti itu, saya tidak sekotor putramu. Atau anda sedang membicarakan diri anda sendiri..."
" Dasar wanita tidak tau diri, beruntung Bram akan segera menikah dengan Selly wanita kaya yang baik hati. Tidak bodoh kayak kamu..." Sontak Raisa langsung mengingat wanita yang ada disebelah mantan mertuanya adalah wanita yang main di ranjang dengan mantan suaminya.
" Bagus lah.. Dari pada terus menerus terjerumus dalam dosa.."
" Kurang ajar..." Ratna mengangkat tanganya akan memukul Raisa, dengan tangan kirinya Raisa mengangkat tangan Ratna dan memelintirnya ke belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Aduhhh tolong...."
" Berhenti jangan bikin rusuh disini..." Datang seorang scurity yang melihat kedua wanita ini bertengkar, dengan Elena yang terus menangis sejak tadi.
" Awas kamu ya..." Ratna berjalan masuk ke cafe bersama Sely sedangkan Raisa masih menenangkan Elena yang menangis.
" Sayang ayo kita pulang..."
" Nenek jahat, nenek nyakitin Mama lagi..."
" Mama tidak apa-apa ayo.." Keduanya berhenti di pinggir jalan sebentar untuk memesan ojek online lewat ponselnya.
Tidak menunggu lama ojek online yang dipesan Raisa pun datang, Elena duduk ditengah di antara raisa dan bapak ojeknya. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit keduanya tiba di depan rumah Raffi, ojek online pun pergi setelah Raisa memberinya uang.
" Assalamualaikum...."
" Wa'alaikumsalam..." Tanpa menoleh ke sofa ruang tamu Raisa berjalan menuju kamarnya dengan masih menggandeng Elena yang terisak.
" Sya...." Mendengar namanya dipanggil Raisa pun menoleh.
" Mas Reza..."
" Elena kenapa sayang, kok nangis...?"
" Nenek jahat Om, nenek nyakitin Mama Elena..."
" Sya ada apa...?"
" Tadi ketemu mantan mertua dijalan mas.."
" Enggak apa-apa mas.."
" Tangan Mama sakit Om..." Elena menangis kenceng, Bik Tumi dan pak Hasan yang mendengar keributan diruang tamu berlari dari dapur.
" Coba saya lihat..." Reza menarik tangan Raisa dan sontak matanya melihat luka lebam disana.
" Sampai kayak gini kamu bilang tidak apa-apa..."
" Ya ampun Non Raisa kenapa..?" Bik Tumi merasa khawatir.
Reza membawa Raisa ke sofa dan memintanya duduk, Reza berjalan ke mobilnya untuk mengambil obat disana. Reza dengan lembut mengoleskan salep pada daerah yang memar, sesekali Raisa meringis kesakitan.
Raffi tiba-tiba muncul diruang tamu, entah kapan masuknya tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Raffi merasa sesak nafas saat melihat Reza memegang tangan Raisa, Reza begitu perhatian sekali pada Raisa.
" Sudah mas, sudah sembuh..." Raisa merasa sungkan saat melihat Raffi juga berada di ruangan itu.
Raffi bergegas naik ke kamarnya, ia tak ingin mengganggu Raisa dan Reza dibawah sana. Berada dikamar pun hatinya tidak tenang, Raffi hanya mondar-mandir saja tanpa melakukan apapun.
" Kenapa hatiku merasa gak suka lihat Raisa dan Reza begitu mesra, ya sudahlah to dia juga bukan siapa-siapa.."
" Bik tolong mandikan Elena ya..."
" Baik Den Reza..." Bik Tumi bergegas menggendong Elena dan membawanya ke kamar untuk dimandikan.
__ADS_1
" Sya kamu ada masalah apa sama keluarga suamimu...?"
" Saya rasa tidak ada masalah mas, mereka menyuruhku pergi aku sudah pergi.."
" Selanjutnya bagaimana...?"
" Aku sudah mengajukan perceraian mas, dibantu temennya mas Raffi.."
" Maaf ya, Mama ku menyulitkan mu. Aku bener-bener gak tau kalau Mama tiba-tiba pecat kamu.."
" Jadi saya dipecat mas.?."
" Memangnya kamu gak tau..?."
" Mas Raffi cuman bilang memintaku cuti sementara dan fokus pada masalah perceraian. Apa salahku ya mas...?"
" Mungkin mas Raffi bener aku aja yang gak tau.." Reza segera mengalihkan tema pembicaraan.
." Sya sebentar lagi Elena sekolah kan...?"
" Iya mas, biarkan Elena bermain bersama anak-anak seusianya. Tapi aku sudah mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan mas, kali aja rejeki aku dan Elena..."
" Kamu udah coba ke perusahaan mas Raffi, kali aja mas Raffi bisa bantu.."
" Saya sungkan mas, mas Raffi sudah banyak bantu saya dan Elena. Bahkan mau menampung kami disini cuma-cuma..."
Raffi mendengarkan obrolan keduanya dari tangga, niatnya yang akan ke dapur membuat kopi harus berhenti saat mendengar namanya disebut. Raffi pura-pura tidak mendengar apapun dan berjalan ke dapur, disana Bik Tumi menyiapkan makan malam.
" Ada yang bisa Bibik bantu Den...?"
" Enggak Bik cuman mau bikin kopi.."
" Bibik bikinkan ya..?"
" Ndak usah Bik, lanjutkan aja pekerjaan Bibik.."
" Oia Sya aku pamit dulu ya, ini salepnya jangan lupa di olesi biar memarnya Cepet memudar.." Reza menyerahkan salep yang tadi ia gunakan untuk mengolesi lengan Raisa.
" Terimakasih mas Reza, udah banyak ngerepotin..."
" Gak perlu sungkan, aku pulang dulu ya.." Reza berjalan ke dapur untuk pamitan pada kakaknya yang sedang membuat kopi.
" Mas Raffi... Reza pulang dulu..?"
" Gak makan malam dulu.."
" Enggak ah masih kenyang, Bik Reza pamit dulu.."
" Hati-hati Den Reza..."
" Iya Bik.." Reza berjalan keluar rumah dan mendapati pak Hasan diteras.
" Mau pulang Den Reza..?"
__ADS_1
" Iya pak Hasan mari..."
" Iya Den mari.." Pak Hasan membukakan pintu gerbang untuk Reza, setelah mobil Reza keluar gerbang pun di tutup kembali.