Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 8


__ADS_3

Satu Minggu sudah Raisa bekerja, dan tidak pernah sekalipun ia meninggalkan Elena dirumah.


Elena selalu bangun sendiri pagi-pagi untuk membantu ibunya bersiap dan berangkat bekerja bersama. Meskipun sedikit kerepotan tetapi gadis kecil itu bahagia bisa bersama ibunya setiap hari.


" Selamat pagi pak Raffi.." Raisa yang melihat Raffi sedang menyantap sarapan paginya berhenti sejenak untuk menyapa.


" Hemmm"


Elena masih merasa takut dengan Raffi dan menggenggam tangan ibunya erat.


Elena selalu menghindar untuk menatap Raffi, Raisa yang mengetahui bagaimana perasaan anaknya segera membawanya naik ke lantai 3.


" Selamat pagi Nyonya Anita.."


" Nenek selamat pagi..." Sapa elena dengan ceria.


" Hei.. sayang selamat pagi. Elena sudah sarapan..?"


" Sudah Nek, Ena masih kenyang..!" jawab gadis kecil itu dengan memegang perut kecilnya.


Nyonya Anita tersenyum dan melanjutkan mengunyah makanan dengan sesekali memandang ke arah Elena yang duduk di karpet dengan bermain boneka kesayangannya.


Raisa segera membereskan tempat tidur Nyonya Anita dengan mengganti sprei dan sarung bantalnya. Setiap dua hari sekali seprai harus diganti dan dicuci, selesai memasang sprei yang baru Raisa segera membawa sprei kotornya ke ruang laundry.


Ia memasukkan ke dalam mesin cuci dan memutarnya, menunggu mesin cuci beroperasi Raisa kembali ke kamar majikannya.


Dari meja makan sepasang mata terus saja menatap semua gerak-gerik Raisa, wajah cantik dan postur tubuh yang indah tidak cocok sebagai pembantu di rumahnya.


Sejak awal Raffi begitu mengagumi sosok Raisa, wanita yang tangguh menjadi tulang punggung keluarga dan masih merawat anak.


Raisa tidak pernah malu bekerja apapun asal mendapat penghasilan, Raisa membersihkan kamar dan mengelap semua meja untuk menghilangkan debu yang menempel.


" Nyonya.. saya antar Nyonya ke balkon dulu agar menghirup udara segar, saya mau menyapu kamar ini..." Nyonya Anita hanya diam.


" Sayang temani nenek di sana ya, Mama mau menyapu sebentar.."


" Iya mama.."


Elena tidak pernah merepotkan mamanya, Raisa menata bunga yang ada di dalam vas, mengambil mawar yang layu dan menggantinya dengan yang baru.


Tak lupa iya mengganti air di dalam Vas bunga, setelah kamarnya bersih Raisa kembali turun dan menjemur sprei yang tadi ia masukkan ke dalam mesin cuci.


Selesai bekerja Raisa hanya beristirahat di jam makan dan waktu shalat saja, selebihnya ia selalu mengerjakan apapun yang ia bisa.


Hari semakin siang Raisa membawa Nyonya Anita masuk ke dalam kamarnya dan memindahkan di atas ranjang. Sedangkan Elena tertidur di kursi panjang yang ada di kamar itu, tadi keduanya melihat acara di TV bersama hingga Elena tertidur.


Raisa mengelap meja ruang tamu atas dan menyapu lantai, menata kembali buku di lemari baca.


Setelah bersih-bersih Raisa ke dapur dan mandi di kamar mandi pembantu yang ada di sebelah dapur, setelah membersihkan diri Raisa salat dzuhur dan menyiapkan makanan untuk nyonya besar.

__ADS_1


Baik Surti orang yang bertugas memasak menyukai sosok Raisa, menurutnya selain cekatan Raisa adalah wanita yang rajin dan bersih.


Raisa kembali ke kamar majikanya dengan membawa nampan berisi makan siang.


" Nyonya makan siang dulu.."


Raisa membantu Nyonya Anita duduk dan meletakkan tumpukan bantal di belakang tubuhnya, dengan telaten Raisa menyuapi majikannya makan siang.


" Elena belum makan...?" ucap Nyonya Anita datar.


" Nunggu bangun aja Nyonya tadi Elena sudah kenyang..."


Nyonya Anita hanya mengangguk, ia iya tak banyak bicara pada Raisa hanya seperlunya saja itu pun kalimat pendek yang keluar dari mulutnya.


Raisa tidak pernah mempermasalahkannya, posisinya hanya bekerja untuk merawat dan melayani apa yang dibutuhkan majikannya.


Satu jam setelah makan siang Raisa membantu majikannya, waktunya sama majikan untuk tidur siang. Ia mematikan televisi dan mengemasi buku serta majalah yang ada di bawah meja.


Tak lama Elena terlihat bangun Raisa segera menggendong dan membawanya ke dapur untuk makan siang.


" Baik Surti mari makan..?"


" Duluan aja, bibi masih nanggung nih.." bik Surti menunjukkan sisa cucian piringnya.


" Makan yang banyak ya Elena..?"


" iya nenek..."


" Mama gak capek.." kata-kata polos itu keluar dari mulut kecilnya. Gadis itu seharian melihat ibunya yang bekerja.


" Enggak sayang, justru mama senang. Elena seneng nggak setiap hari sama mama terus..?"


" Seneng dong mama, Elena gak mau di rumah sama nenek.."


" Iya sayang nanti kalau mama udah punya banyak uang kita ngontrak ya.."


Elena naik ke pangkuan ibunya dan memeluknya,Raisa pun membalas pelukan putrinya.


" Semua Mama lakukan untuk kebahagiaan kamu Nak, jadi anak yang pintar ya..?" Mata Raisa berkaca-kaca.


Selesai makan Raisa mencuci piring kotornya dan Elena walaupun bi Surti selalu melarang Raisa tetap melakukannya.


" Bik.. Raisa naik dulu ya, takut Nyonya sudah bangun.."


" Iya Neng.."


Raisa menaiki anak tangga ke lantai 3, dilihatnya Nyonya Anita masih tertidur. Raisa pun duduk di karpet yang ada di ruang tamu atas tempatnya berseberangan dengan kamar Nyonya Anita.


Di sana Raisa menemani Elena bermain, ibu dan anak ini tidak pernah kehabisan cara untuk bahagia.

__ADS_1


***


" Ma... Raisa nggak ninggalin uang untuk Bram..?"


" Mama mana tahu, jatah belanja aja dia nggak ngasih. Malah nyuruh Mama makan apa yang ada.."


" Minta uang mah, rokokku habis nih.." Bram mengadakan tangannya pada sang ibu.


" Mama nggak punya uang.."


" Kan kemarin mama baru dikasih sama si Selly.."


" Nie.." Ratna menyerahkan uang satu lembar berwarna merah pada anaknya.


drum segera mengambil dan berlalu pergi meninggalkan rumah, ia menuju warung yang ada di ujung gang. Dirinya betah berada di sana Dengan meminum kopi dan menghisap beberapa batang rokok, handphone tak pernah lepas dari tangannya hidup seperti nggak ada beban sama sekali.


Sore hari Raisa memijit kaki Nyonya Anita dan membantunya untuk menggerakkan, walaupun kakinya masih belum ada reaksi setidaknya harus terus dilatih.


Nyonya Anita selalu punya semangat untuk sembuh, bisa dilihat dari semangatnya mengikuti terapi yang Raisa berikan.


Dua jam terapi dilanjutkan Raisa yang membantunya membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian yang bersih.


Sebelum Raisa pulang, Reza harus memastikan majikannya sudah menghabiskan makan malamnya.


" Nenek... Elena pulang dulu..?"


" Iya sayang, hati-hati Ya..."


Elena mencium punggung tangan Nyonya Anita dan nyonya Anita pun mencium kening Elena.


" Nyonya saya pamit dulu..."


Setelah berpamitan keduanya melangkah meninggalkan rumah majikannya. Di ujung jalan Raisa menunggu angkot untuk pulang ke rumahnya.


Aktivis setiap hari yang keduanya lakukan, Raisa memutuskan langsung pulang ke rumahnya.


" Kamu udah pulang...?"


" Udah Ma...!"


" Tadi suamimu minta uang sama mama 100.000, gantiin sekarang ya itu uang buat bayar arisan.."


" Mama minta ganti sama Mas Bram, Icha nggak pakai uangnya kok..."


" Gimana sih kamu ini..."


" Ma... Ica baru kerja satu minggu mana ada uang.."


" Kamu udah nggak ngasih uang belanja sama mama, tadi uang listrik juga Mama yang bayar.."

__ADS_1


" Pagi sebelum berangkat kerja Icha udah masak, siang dan sore Icha dan Elena makan di rumah majikan. Kalau Mama belanja untuk kebutuhan Mama sendiri masa minta ganti Ma Icha."


Raisa berlalu pergi meninggalkan mertuanya yang terus mengomel dan membanting beberapa barang yang tadi dipegangnya.


__ADS_2