Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 07


__ADS_3

Sudah 3 hari aku keliling untuk mencari pekerjaan, tetapi melihatku membawa Elena mereka urung memberiku pekerjaan.


" Mama cali kelja cucah..?"


" Enggak susah sayang, mungkin belum rejeki kita aja. Ayo kita pulang.."


" Ayo Ma, Ena au jayan cendili gak mau gendong ."


" Anak Mama yang pintar.."


Raisa menggandeng tangan putrinya, dan berjalan mengikuti langkah kecil Elena. Hari sudah menjelang malam, Raisa dan Elena baru tiba dirumah.


Raisa segera memandikan Elena dan menyuapinya setelah mandi, pukul 18:30 Elena sudah tertidur karena lelah mengikuti ibunya berkeliling mencari pekerjaan.


Tak lama setelahnya Raisa pun ikut tertidur disamping anaknya.


Pukul 07:00 Elena terbangun dan tidak mendapati ibunya disampingnya, Elena segera turun dari ranjang dan mengintip ke ruang tamu dari lubang kunci.


Karena biasanya neneknya selalu ada disana, setelah memastikan tidak ada siapa-siapa Elena segera membuka pintu dan pergi ke dapur mencari ibunya


" Anak Mama sudah bangun..?" Elena hanya tersenyum.


" Sini cium dulu.." Raisa mendekati Elena.


" Mmuachh... Bau acemm, mandi dulu terus sarapan ya sayang.."


"Iya mama.."


Raisa menggendong Elena ke kamar mandi dan memandikannya, kini keduanya sudah bersih dan wangi.


Keduanya duduk dimeja makan, Elena yang gak mau disuapin dia selalu ingin mengerjakan apa-apa sendiri. Raisa ikut sarapan bersama Elena..


" Mama... Kita au kemana..?"


" Em.. Hari ini kita dirumah aja sayang, mama capek. Nanti mama cari kerjanya lewat handphone aja."


Selesai sarapan Elena masuk ke dalam kamarnya, bermain bersama boneka kesayangannya.


Aku melihat suamiku yang baru pulang, berjalan sempoyongan dan menjatuhkan tubuhnya disofa ruang tamu.


Aku berjalan dan menghampirinya.


" Dari mana kamu mas, semalaman gak pulang..?"


" Nyari kerja lah, emangnya kemana.."


" Nyari kerja dimana malam sampai pagi begini, Hehh... Bau alkohol, kamu minum mas..?"


" Bukan urusan kamu ."


Bram berjalan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Raisa yang duduk disofa, aku merasa suamiku ini tidak benar-benar mencari pekerjaan. Jika busuk pasti lama-lama akan tercium juga, cuma nunggu waktu.


Hehhhh... Raisa menghembuskan nafasnya panjang.


" Ya Allah pernikahan seperti apa yang aku jalani ini.."


Derrrtt...Derrrtt...


Handphone ku berbunyi, aku segera mengambilnya dari atas meja. Kulihat nomor yang tidak dikenal.


" Hallo.. "


" Hallo.. Sya nie aku Raffi.."


" Maaf Raffi siapa ya..?"


" Bos pabrik.."


Raisa sedikit terkejut ada apa gerangan hingga bosnya menghubungi sepagi ini, sejenak Raisa hanya terdiam.


" Maaf pak uang pinjaman saya tempo hari belum bisa saya cicil. Kalau saya sudah punya kerjaan pasti saya lunasi.."


Terdengar gelak tawa dari seberang sana, Raisa bingung kenapa bosnya malah tertawa.


" Saya tidak tanya masalah uang, kamu mau gak ikut saya kerja..?"


" Di pabrik lagi pak..?" Raisa mulai bahagia, bayanganya bisa kembali sama Amel.

__ADS_1


" Enggak pokoknya ikut aja."


Pikirannya mulai terbang ke mana-mana, apa maksud orang ini dan kerjaan apa yang ditawarkan padanya.


" Halal kan pak.." Tanyaku ragu, takut jika bosnya merasa tersinggung.


" 100%.."


" Alhamdulillah.. Boleh bawa anak saya pak..?"


" Boleh, besok pagi kamu datang ke alamat. Nanti ku kirimkan alamatnya.."


" Baik pak terimakasih.."


Ku lihat mertuaku sudah sangat rapi dengan menggunakan banyak perhiasan, perhiasan sebesar ibu jari menggantung di lehernya. Gelang dengan ukuran yang cukup besar dan beberapa perhiasan mahal lainnya.


" Ca bagi uang mama mau arisan.."


" Mana ada uang Ma, kan Ica gak kerja.."


" 200 ribu aja buat naik taksi.."


" Memang arisanya dimana..?"


" Di cafe x.."


" Naik ojek cuman 20 ribu Ma, itu kan Deket banget dari rumah kita."


" Tinggal ngasih aja pelit banget, Bram lihat nie istrimu udah mulai pelit sekarang sama mama.."


Raisa masuk ke kamar mengambil uang 2 lembar berwarna merah dari dalam tas nya, dan menyerahkannya pada mertuanya.


Setelah menerima uang itu ibu mertuanya langsung pergi begitu aja.


" Enak aja suruh naik ojek, gak level kali. Emangnya situ kelasnya angkot.."


Raisa tak mau ambil pusing sama ocehan mertuanya, ia segera masuk ke kamar dan bermain bersama Elena.


" Sayang besok kayaknya Mama dapet kerjaan deh.."


" Ena boyeh ikut Ma.."


" Mama gak boyeh sedihh.."


" Mama gak sedih, kan ada Elena sumber kebahagiaan mama.."


Kedua wanita beda usia ini tertidur dengan saling berpelukan, bagi Elena Raisa adalah dunianya.


Memang ayah dan neneknya tidak pernah menyukai Elena, Elena pun selalu menghindar bila bertemu keduanya.


Pukul 06:00 pagi Raisa dan Elena sudah berada didepan sebuah rumah yang sangat besar.


" Ma lumrahnya besalll..."


" Iya sayang besar banget.."


Raisa memencet bell dan tak lama keluarlah seorang wanita muda berseragam suster membukaan pintu.


." Ada yang bisa saya bantu.." Ucapnya ramah.


" Maaf saya diminta pak Raffi untuk datang kesini.."


" Mari silahkan masukk.."


.Raisa menggendong Elena mengikuti suster dari belakang, Raisa dan Elena tak hentinya mengagumi bangunan ini.


" Tunggu sebentar ya buk, saya panggilkan Den Raffi.."


" Iya mbak.."


Tak berani duduk disofa kini Raisa hanya berdiri disampingnya, sementara Elena sudah duduk lebih dulu.


tok..tok..tok...


" Den Raffi, ada tamu dibawah.."


" Iya mbak, bentar lagi saya turun."

__ADS_1


Tak lama Raffi menuruni anak tangga menuju ruang tamu, Elena yang melihat Raffi menghampirinya segera bangkit dari duduknya dan bersembunyi dibalik tubuh ibunya.


" Silahkan duduk..".


" Terimakasih pak.."


Raisa segera duduk dengan memangku Elena yang menghadap ke arahnya.


" Elena kamu kenapa gak Salim sama Om."


" Gak mau Om jahattt..."


" Sayang gak boleh ngomong gitu Salim dulu yaa.."


" Gak mau mammaaa..."


" Maafkan Elena pak, mungkin moodnya lagi kurang bagus."


" Gak apa-apa, perasaan kemaren gak kayak gini.."


" Elena ketakutan kalau dibentak, orang berbicara dengan nada tinggi aja dia takut pak.."


Raffi mengangguk-angguk tanda mengerti, kasihan sekali Batinya. Karena kemaren Raffi membentak ibunya sekarang Elena jadi takut padanya.


" Begini ibu saya kan sedang sakit, dan sebentar lagi susternya mau pindah ikut suaminya. Bagaimana kalau kamu gantikan suster merawat mama, kamu boleh bawa Elena setiap hari."


" Tapi saya belum punya pengalaman menjadi suster pak.."


" Nanti sementara biar diajari, suster yang lama Minggu depan baru pindah."


" Iya pak akan saya coba.."


" Sus kamu antar ibu Raisa ke kamar mama, terus ajari apa yang harus dikerjakan setiap harinya."


" Baik Den.."


" Maaf pak untuk jam kerja saya bagaimana..?"


" Kamu akan kerja jam 6 pagi sampai jam 5 sore.."


" Terus malamnya..?"


" Malam ada suster dari rumah sakit, dan adik saya dirumah.."


" Mari Bu Raisa ikut saya.."


" Iya sus.."


Keduanya naik ke lantai 3 dimana kamar mama Raffi berada.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita duduk dikursi roda dengan pandanganya menatap jauh dari balkon.


" Nyonya ada suster baru yang nanti akan menggantikan saya.."


Nyonya Anita masih vokus dengan menatap keluar balkon. Suster memberi Raisa aba-aba untuk memperkenalkan diri, Raisa segera mengerti maksudnya.


" Selamat pagi nyonya Anita, nama saya Raisa dan ini putri saya Elena."


Mendengar Raisa membawa putrinya Bu Anita segera membalikkan kursi rodanya dan menatap ke arah Raisa.


" Hallo nenek.." Elena menyapa majikan ibunya dengan sedikit takut, dan masih berada di gendongan ibunya.


Nyonya Anita tersenyum melihat wajah cantik Elena dengan tubuh kecil yang berisi membuatnya semakin menggemaskan.


" Sini sayang sama nenek.."


Elena memeluk erat ibunya dan menatap kedua bola matanya, Raisa yang mengerti tatapan anaknya pun menjawab dengan anggukan.


" Apa nenek Olang jahat..?"


" Tidak nak nenek baik, kaya neneknya Elena."


" Tapi nenek Elena jahat, suka mukulin elena.."


Seketika nyonya Anita merasa iba pada gadis kecil itu, bagaimana seorang nenek tega memukul cucunya sendiri.


" Sayang sini nenek mau peluk Elena.."

__ADS_1


Elena turun dari gendongan ibunya dan menghampiri nyonya Anita, nyonya Anita mengangkat tubuh elena dan mendudukkan dipangkuanya.


__ADS_2