Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 22


__ADS_3

Raffi meninggalkan kantor lebih awal, dirinya melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya. Tujuannya bukan untuk menemui Mama Anita tetapi untuk menjemput Raisa pulang, Raffi ingin mengajaknya pulang bersama ada banyak hal yang ingin dirinya ketahui tentang wanita itu.


Begitu mobilnya memasuki halaman, bertepatan itu dirinya melihat Raisa yang akan keluar dari rumah. Raffi buru-buru membuka pintu mobil dan berjalan cepat menghampiri Raisa.


" Sya...."


" Pak Raffi, anda sudah pulang.."


" Ayo naik ke mobil, ada yang ingin saya bicarakan.."


" Baik pak.." Raisa mengira bosnya akan membahas masalah pekerjaan dengan ya, ia hanya duduk diam di di tempat pandanganya tertuju jauh ke depan sesekali ia melihat keluar lewat jendela samping.


" Kita bicara di restoran ya, saya belum makan siang.."


" Iya pak, jaga kesehatan pak. Sesibuk apapun harus makan tepat waktu.."


" Gitu ya.. Habisnya tidak ada yang mengingatkan.."


" Bapak tidak punya asisten di kantor..?"


" Punya, tapi saat dia mengingatkan makan nafsu makanku langsung hilang.."


" Bapak ini ada-ada saja, bisa serem gitu ya.." Raffi bahagia melihat Raisa seceria itu.


" Saya sudah terlihat begitu tua ya.."


" Emm... Belum kok pak.."


" Coba lihat sini.." Raffi meminta Raisa menatapnya.


" Maaf pak, saya sungkan menatap bos secara langsung itu gak sopan.."


" Ayo tatap sini, ini perintah..."


Dengan sedikit ragu Raisa pun menatap ke arah bosnya yang sedang mengemudi disampingnya. Raffi pun tersenyum puas penuh kemenangan.


" Belum pak, bapak masih sangat muda tidak ada yang tahu kalau bapak berstatus sudah pernah menikah..."


" Duda maksudnya, saya suka iri sama Reza. Dia kamu panggil mas, saya kamu panggil bapak tiap hari saya suka berdiam lama di depan cermin.."


" Bapak ngapain lama-lama di depan cermin.."


" Ya untuk melihat ketampanan ini lah.." Raffi menatap ke arah kaca dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


" Maksud bapak apa.."


" Apa saya sudah setua itu..?"


" Bukan pak, tapi bapak adalah bos saya majikan saya..."


" Mulai sekarang jangan panggil saya dengan panggilan setua itu.."

__ADS_1


" Saya harus panggil bapak apa..?"


" Terserah bisa sayang, cinta, honey, Papa.."


Raisa segera menghentikan perkataan bosnya yang menurutnya begitu ngawur.


" Pak jangan bikin saya malu.."


Raffi tersenyum, mobilnya sudah memasuki lahan parkir sebuah restoran mewah yang tidak jauh dari rumah orang tuanya.


Keduanya berjalan memasuki sebuah restoran yang cukup penuh dengan orang yang sedang makan atau hanya sekedar nongkrong bersama keluarga atau sahabat.


" Ayo disana.." Raffi menunjuk sebuah meja yang masih kosong.


" Mari pak..."


Tidak lama menunggu makanan sudah terhidang dimeja, keduanya makan dalam diam. Setelah selesai makan Raisa menghabiskan minumanya yang menurutnya terlalu sayang jika ditinggal, jarang sekali dirinya bisa makan ditempat mewah seperti ini.


" Maaf pak tadi katanya ada yang ingin dibicarakan..?"


" Pengacaraku akan membantu kamu mengurus masalah perceraian, besok sore saya ajak kamu bertemu dia.."


" Tapi pak, saya tidak punya banyak uang buat bayar pengacara.."


" Kamu fokus dengan masalahmu agar cepat selesai, jangan pikirkan masalah biaya.."


Keduanya berdiri dan akan beranjak dari restoran itu, seorang wanita datang menghampiri keduanya.


Sontak Raffi dan Raisa segera menoleh ke arah sumber suara, Raisa begitu terkejut melihat siapa yang berdiri disamping bos nya. Tatapan tajamnya terus mengarah padanya, hingga membuat Raisa menunduk malu.


" Jadi karena wanita ini mas Raffi menolak kembali denganku...?"


" Ini gak seperti yang kamu pikirkan, tidak ada hubungannya sama Raisa.."


" Bagus ya, kamu lebih belain wanita ini.."


" Cukup Sofi jangan teriak-teriak di tempat umum, malu dilihatin orang banyak.."


" Kenapa harus malu kamu pelihara bibit pelakor mas.."


" Cukup Sofi.... kita sudah tidak punya hubungan apa-apa.."


Pertengkaran Raffi dan Sofi membuat mata semua pengunjung tertuju pada keduanya, termasuk para pegawai restoran.


" Raisa ayo kita pergi..."


" Baik pak..." Raisa segera mengemasi barang-barang nya dan mengikuti langkah bosnya meninggalkan wanita yang sejak tadi terus mengomel.


" Awas kamu mas, aku pastikan kamu tidak akan pernah bahagia.."


Sofi yang datang ke restoran itu untuk menemui sahabatnya malah melihat hal yang tidak terduga, dirinya terus mengumpat dalam kekesalannya. Ia segera menghubungi sahabatnya untuk membatalkan janji sebelumnya, Sofi segera meninggalkan restoran itu.

__ADS_1


Ia memacu mobilnya dengan sangat kencang dijalanan yang tidak terlalu ramai, Raffi dan Raisa saling diam tidak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, Raffi juga merasa heran bagaimana Sofi bisa seliar itu.


Mobil sudah memasuki halaman rumah Raffi, keduanya masih betah saling diam. Raffi memarkirkan mobilnya di garasi rumah, saat Raisa membuka pintu Raffi sontak menahannya.


" Sya... Maafkan masalah tadi di restoran..?"


" Bapak tidak perlu minta maaf, itu bukan salah bapak tapi salah saya. Apa yang Bu Sofi katakan benar, mana ada majikan dan pembantu sedekat ini bahkan makan satu meja.."


" Kamu marah...?"


" Enggak sama sekali pak, apa hak saya untuk marah.."


" Ya sudah kalau begitu, maafkan saya.." Untuk mengungkapkan perasaanya raffi masih belum mampu.


" Bik Tumi.. Ini dibawakan lauk dari restoran sama bapak, gak usah bikin lauk.."


" Iya Non.." Bik Tumi segera menerima bungkusan yang Raisa serahkan.


" Elena di kamar bik.."


" Iya Non, barusan masuk katanya mau ambil mainan.." Raisa berjalan memasuki kamar dan melihat Elena sedang bermain disana.


" sayang.. Assalamualaikum.."


" Wa'alaikumsalam Mama..., Mama Ena tadi beli mainan sama kakek..."


Elena menunjukkan dua bola kecil yang dihubungkan pada tali di mainkan dengan menggantung, berbunyi tok tok saat saling bertabrakan.


" Ini kan mainan viral itu, udah bilang terima kasih sama kakek.."


" Udah mama.."


Raisa masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Raffi menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur pandanganya menatap pada langit-langit kamar.


Dengan sepatu yang masih lengkap terpasang pada kedua kakinya, ia memejamkan mata dengan tangan yang memijat kening. Masalah hari ini cukup pelik, mantan istri yang membuat moodnya berubah drastis.


" Sayang gak jadi acara sama temennya kok udah pulang.." Mama Sofi melontarkan pertanyaan karena melihat putrinya kembali, padahal baru beberapa jam pamit untuk pulang malam.


Sofi melempar tasnya di sofa yang tidak jauh dari Mama nya duduk, dirinya segera berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin dari sana. Menuangkan ke dalam gelas dan meminumnya hingga tandas sedikit mendinginkan panas di tubuhnya, ia kembali ke sofa dan duduk di samping ibunya.


" Mama..." Sofi memeluk ibunya.


" Kenapa sih kamu, datang-datang di tanya orang tua gak jawab.."


" Mas Raffi Ma, dia jalan sama pembantu itu.."


" Apa...? Kamu gak salah lihat kan.."


" Enggak Ma, hati Sofi sakit Ma..."


" Besok Mama sama Papa mau kerumah Mama Anita, udah kamu tenang aja.."

__ADS_1


Kemarahan Sofi tersalurkan pada Mama nya, bagaimana bisa putri satu-satunya tersakiti dengan seorang pembantu.


__ADS_2