
" Ma bagaimana keadaan mama..."
" Ya masih sama kayak gini, gimana kabar keluargamu..?"
" Mama dan Papa sehat kok Ma, Mereka titip
salam juga buat Mama.."
" Syukurlah kalau sehat.."
" Bagaimana dengan mas Raffi Ma, Papa dan Mama juga nanyain.."
" Mama sudah coba ngomong tapi malah marah-marah sama Mama, anak itu selalu keras kepala..."
" Oia Ma Minggu besok Papa dan Mama Sofi mau kesini, mungkin mau membicarakan masalah ini. Mama bujuk mas Raffi agar tidak pergi ya Ma.."
Selesai mengobrol dengan mertuanya Sofi pamit undur diri, berjalan menuruni anak tangga dan menemukan Raffi yang baru saja pulang dari kantor.
" Mas ada yang mau aku bicarakan..."
Raffi hanya diam dan berlalu meninggalkan wanita yang berdiri didepanya, Sofi yang merasa diacuhkan berjalan cepat mengekor dibelakang mantan suaminya.
" Kamu dilarang masuk kamarku.." ucapnya tegas.
" Apa salahnya mas, bahkan dulu kita juga tinggal sekamar..."
" Sekarang sudah tidak sama.." ucapnya sedikit membentak.
Raffi membuka pintu dan masuk ke kamar, dan akan menutupnya kembali. Dengan sigap Sofi menahan pintu kamar agar tidak tertutup.
" Keluar..."
" Mas aku mau bicara..."
" Keluar atau kamu pulang dengan satu kaki.."
Sofi tercekat dengan ancaman mantan suaminya, nyalinya mendadak ciut. Bagaimana kalau kaki indahnya akan benar-benar terluka.
" Oke-oke, aku tunggu diruang tamu.."
Brakkkk...
Raffi membanting pintu kamarnya membuat Bik Surti dan Sofi terjingkat kaget, bik Surti yang sedang lewat menangkap Aura kemarahan dalam diri majikanya.
Cukup lama Raffi didalam kamar, membersihkan diri hingga beristirahat sebentar. Tetapi saat keluar kamar Raffi menemukan Sofi masih menunggunya diruang tamu, dengan langkah malas Raffi melangkahkan kakinya menghampiri mantan istrinya.
__ADS_1
Ia mendudukkan tubuhnya sedikit menjauh dari wanita itu, rasanya sudah begitu malas harus berhadapan dengannya.
" Mas.. Ayo kita balikan seperti dulu, aku masih sangat mencintaimu.."
" Oh ya..."
" Iya.. sangat-sangat mencintaimu mas.."
" Aku rasa bukan cinta, lebih tepat obsesi atau nafsu.."
" Mas jangan bicara seperti itu, atau kamu sudah menyukai wanita lain mas.."
" Bisa jadi...."
" Jangan bilang kalau wanita itu, pembantu yang merawat mama..."
" Jaga bicaramu Sofi.." Raffi membentak mantan istrinya.
" Oh... Kamu begitu membela dia mas.."
Sofi berdiri dan pergi meninggalkan Raffi, ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai berjalan keluar rumah. Raffi menggelengkan kepalanya, ia selalu dibuat marah sama wanita itu dan pasti juga sudah menghasut Mamanya.
Raffi dan Reza berada di rumah atas permintaan Mamanya yang mengatakan akan ada acara malam ini di rumah, tetapi acara apa keduanya tidak mengetahui.
" Mas acara apa sih.."
Nyonya Anita sudah berada di ruang tamu bawah dengan kedua putranya, diantara ketiganya tidak ada satu orang pun yang memulai obrolan. Kebersamaan mereka dalam diam, Raffi yang terus mengotak-atik ponselnya.
Tidak berapa lama bel berbunyi, bik Surti bergegas menuju pintu utama untuk membukakan pintu untuk tamu majikannya.
" Silahkan masuk, Nyonya Anita sudah menunggu..."
Ketiganya berjalan cepat memasuki rumah dan menuju ruang tamu, ini bukan kali pertama mereka datang. Bahkan rumah ini begitu familiar bagi ketiganya.
" Selamat malam mbak Yu..." Sapa Mama Sofi pada Nyonya Anita.
" Iya silahkan duduk..."
" Jadi mereka ini tamunya, tau gini ku tinggal keluar alasan bisnis udah gak ada yang bisa ganggu. Males banget berurusan sama mereka lagi.."
Raffi menatap nanar kedatangan mantan istri dan mantan mertuanya. Sofi bener-bener membawa kedua orang tuanya datang kerumah ini.
" Mungkin mbak Yu sudah tahu maksud kedatangan kami ke sini, Raffi papa ingin kalian kembali rujuk seperti dulu lagi..."
" Tapi Pa, kita sudah tidak ada kecocokan lagi.."
__ADS_1
" Belajarlah dari kesalahan, semua masih bisa diperbaiki. Sofi masih mencintai kamu, Papa rasa kamu juga sama.."
Raffi tidak tertarik sama sekali dengan tema obrolan malam ini, ia pun memutar bola matanya jengah mulai malas menjadi pendengar disana.
" Iya Fi, Mama juga sangat setuju, kita kan bukan orang lain lagi. Mbak Yu Anita juga sangat setuju, iya kan mbak.."
Nyonya Anita mengangguk, Raffi menatap tajam ke arah Mamanya. Bagaimana bisa mamanya mengambil keputusan sepihak padahal baru kemarin keduanya memperdebatkan masalah ini.
" Maaf semuanya saya sedikit lancang, menurut ku kita juga harus mempertimbangkan pendapat Kak Raffi. Masalah kecocokan itu bukan hanya sekedar mencintai.."
" Kamu belum pernah berumah tangga, jadi kenyataannya tidak seperti yang kita ketahui sebelumnya."
" Tapi Ma... Jangan memaksakan kakak melakukan apa yang tidak dirinya sukai. Kakak sudah cukup dewasa atas hidupnya sendiri."
" Diam kamu Reza.. Kalian memang sudah dewasa, tapi bagi Mama kalian tetaplah seorang anak.."
Reza sangat paham bagaimana ibunya jika sudah punya keinginan pasti enggan untuk dibantah, ujung-ujungnya pasti ada perdebatan terus ngambek selalu mendiamkan.
" Nggak apa-apa mbak yu, biarkan Raffi memikirkan dulu kita juga tidak terburu-buru. Nanti lain waktu kita akan datang lagi untuk mendengarkan jawaban Raffi..."
Hari semakin malam dan tidak terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, orang tua Sofi memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
Sofi tersenyum lega, orang tuanya dan orang tua Raffi mendukung keputusannya. Selanjutnya bagaimana Sofi akan mendapatkan hati Raffi kembali, dirinya tidak akan mau kalah bersaing dengan wanita pembantu itu.
Malam sudah larut jarum jam menunjukkan pukul 12:45, mata Raffi masih enggan terpejam pikirannya menerawang kemana-mana. Bolak-balik ia merubah posisinya tetapi tetep juga susah tidur, pernyataan ibunya masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Bagaimana Mamanya tidak berkaca pada kesalahan atas perceraian dirinya, malah memintanya kembali.
Raffi bangkit dari ranjang berjalan keluar kamar, langkah kakinya menuju dapur dirinya akan membuat secangkir kopi untuk menenangkan pikirannya.
" Mas Raffi belum tidur.." Suara Reza yang tiba-tiba membuat Raffi kaget.
" Gak bisa tidur, pusing.. Kamu dari mana jam segini baru balik.."
" Dari rumah sakit kak, ada panggilan mendesak.."
" Tumben...."
" Anak sahabatku sakit Sampek kejang, tadi nelpon Reza ya panik lah. Biar tenang Reza ke rumah sakit aja lihat kondisinya.."
" Hemmm... Mau kopi..."
" Udah kenyang banget, ngantuk berat mas mau tidur dulu. Reza ke kamar dulu mas." Reza berjalan
Raffi yang sudah selesai menyeduh kopi membawanya ke teras belakang, dirinya menikmati semilir angin malam itu membuatnya lebih tenang. Sekilas bayangan Raisa melintas dalam benaknya, dirinya juga mengingat pertemuannya pertama kali dengan Elena.
Gadis kecil itu cukup periang dan berceloteh ria, emosinya kala itu membuat gadis kecil itu benar-benar ketakutan.
__ADS_1
" Ternyata aku merindukan ocehannya, polos dan begitu menggemaskan.."
" Aku membayangkan Elena bukan istri orang.." Dirinya menepis semua pemikirannya tentang Raisa.