
Bram yang bangun di jam 09:00 pagi merasakan perutnya melilit langsung melangkahkan kakinya ke meja makan, tanganya mengangkat tudung saji yang menutupi menu sarapan untuknya.
Masih dengan menu yang sama, matanya mulai malas menatap dan ia menjatuhkan tudung saji yang tadi di angkatnya.
" Huhhh...." Bram menghembuskan nafasnya panjang.
" Ma... Mama...." Ratna mendatangi putranya dengan tergopoh-gopoh.
" Apaan sih Bram, pagi-pagi kok teriak-teriak.."
" Mama gak masak lagi, masa tiap hari makan makanan murah dari warung sebelah terus.."
" Siapa suruh kamu jual tabung gas elpiji kita..."
" Salah Mama lah, udah gak masak gak ngasih uang juga. Bukanya kemaren Mama baru dapat uang banyak dari Sely.."
" Udah habis Mama belanjakan..."
" Sini Bram minta.." Ratna kembali ke dalam kamar dan keluar lagi dengan membawa uang merah satu lembar.
" Eh Bram.. Besok-besok minta uang yang lebih banyak lagi dari Sely..."
" Iya iya..." Bram keluar rumah dengan membawa uang yang baru ia dapat dari Mama nya.
Dert...Dert....
Mendengar ponsel yang ia letakkan di atas nakas bergetar Nyonya Anita segera mengambilnya, saat ia melihat ke layar tertulis nama besannya disana.
" Hallo..."
" Iya mbak Yu, Oia Mbak bagaimana keadaanya.."
" Ya masih sama seperti ini.."
" Paling bentar lagi mati, udah sakit-sakitan ngerepotin aja.."
" Oia Mbak nanti malam saya dan suami mau kerumah Mbk Yu, ada yang ingin kita bicarakan.."
" Ia.. Pintu rumahku selalu terbuka buat kalian.." .
" Mbak Yu saya minta tolong kabari Nak Raffi sekalian, biar enak ngobrolnya.."
" Akan saya usahakan Ya.." Setelah mencapai kesepakatan panggilan telepon pun diakhiri keduanya.
__ADS_1
" Bagaimana Ma..?"
" Iya beres.." Mama mengangkat ibu jarinya pada sang putri.
Huhhh.... Nyonya Anita menghembuskan nafasnya panjang, dirinya bingung apa yang ingin ia sampaikan pada putranya.
Di jam makan siang Reza memutuskan untuk pulang kerumah, rasanya sudah lama sekali dirinya tidak makan siang dirumah padahal baru satu Minggu ini. Beberapa hari ini Reza tidak bertemu Raisa sama sekali, dikarenakan kesibukannya dirumah sakit membuatnya harus berangkat pagi pulang malam.
Reza melangkahkan kakinya dengan gontai menuju parkiran mobil,bsenyuman terus mengembang mulai dari ruanganya sampai ke parkiran. Saat perpapasan dengan pasien atau pegawai rumah sakit mereka saling menyapa, Reza termasuk dokter yang paling ramah dirumah sakit itu. Selain tampan dan pintar Reza juga banyak digandrungi para perawat, bidan bahkan sampai dokter muda sekalipun. Sayang belum ada yang beruntung mendapatkan hati dokter tampan dan baik hati itu.
Reza tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke toko mainan anak, membeli boneka dan beberapa mainan anak perempuan. Rasanya ia ingin setiap hari memberikan seperti ini untuk Elena, gadis kecil yang sudah mengambil hatinya sebelum ibunya.
Tepat pukul 12:00 Reza sudah memasuki pintu rumah dengan menenteng beberapa kantong plastik di tanganya, Mama Anita yang sedang menikmati makan siang di meja sontak langsung menatap ke arah pintu yang terbuka dari luar.
" Selamat siang Ma, Reza pulang.."
" Iya siang, anak mama kok terlihat bahagia sekali.."
" Bukanya setiap hari Reza seperti ini ya Ma.." Reza menarik kursi disamping ibunya dan langsung menduduki nya.
" Bawa apa tu untuk Mama.." Nyonya Anita menunjuk pada barang yang Reza bawa.
" Oh itu, hanya mainan kecil kok Ma untuk Elena.."
" Iya Ma sayang banget, Reza mau jadi ayahnya tapi..." Tanpa sadar Reza mengatakan itu pada Mamanya, saat ingatanya kembali ia pun mengantungkan kata-katanya.
" Tapi apa...."
" Enggak Ma, salah bicara aja. Ayo Ma lanjutin makanya, Reza udah lapar sekali.."
" Nanti malam jangan pulang terlalu malam Mama mau ada tamu, kabarin juga kakak mu untuk ada dirumah sebelum Maghrib.."
Reza mengalihkan pembicaraannya dan mengambil piring untuk diisi dengan menu makan siang nya. Nyonya Anita hanya melihat bagaimana putranya salah tingkah dihadapannya, ia pun melanjutkan makan siangnya yang hanya tinggal beberapa suap saja.
Nyonya Anita berada di ruang tamu sedang membaca buku, Raisa disampingnya menata buku dirak dan membantu Bik Surti membereskan dapur. Reza yang sudah menyelesaikan makannya membawa piring kotor ke dapur.
" Mas Reza, gak usah repot-repot mas mas saya yang membereskan.." Ucap Raisa sungkan.
" Gak apa-apa lagian juga tidak setiap hari.." jawab Reza sambil nyengir.
Nyonya Anita hanya melihat tingkah putranya yang semakin aneh, padahal tidak pernah Reza membawa piring kotor ke dapur sebelumnya. Kenapa putranya jadi berubah begitu, pakai acara sok-sokan mau jadi ayahnya Elena segala.
" Oia Sya, itu di atas meja ada kresek mainan buat Elena. Saya titip ya nanti kasihkan Elena.."
__ADS_1
" Mas Reza kok manjain Elena gitu, jangan sering-sering mas. Saya jadi gak enak.."
" Gak apa-apa, Sya bisa ngobrol sebentar..?"
" Bisa mas tapi..." Pandangan Raisa mengarah pada Nyonya Anita yang membaca buku diruang tamu.
" Aku izinin ke Mama, lagian bukanya ini waktu istirahat kamu ya.."
" Ma pinjam Raisa nya sebentar ya.." Reza berbicara sambil berlalu.
Raisa membuntuti dibelakang Reza dan keduanya sudah berada di taman belakang rumah, Reza mengambil posisi duduk di kursi yang ada dibawah pohon Raisa pun mengambil duduk diseberang.
" Kamu mengenal Dirga..?"
" Dirga siapa mas, saya rasa tidak mengenalnya.."
" Kemaren Dirga menghubungi aku dan menceritakan mas Raffi memintanya untuk membantumu mengurus perceraian. Apa itu benar...?"
" Pak Raffi menawarkan bantuan pada saya mas, tetapi aku belum menyetujuinya. Aku gak punya uang untuk bayar pengacara.."
" Jadi benar kalau kamu mau berpisah sama suamimu..?"
" Biarkan itu menjadi urusanku mas, aku belum siap untuk bercerita pada siapapun.."
" Kenapa mas Raffi bisa tahu masalah ini..?"
" Pak Raffi nganterin saya dan Elena pulang pagi itu, terus melihat sendiri pertengkaran saya dan suami.."
" Pagi... Kamu nginep dimana Sya..?"
" Maaf mas dirumah mas Raffi..."
Reza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak, ternyata Raisa dan kakaknya sudah sejauh itu. Ada perasaan cemburu di hati Reza, ia sadar bukan siapa-siapa nya Raisa.
" Sya aku menyukai kamu, aku ingin menjadi ayah pengganti buat Elena.."
" Sadar mas, saya pembantu dirumah ini mas Reza majikan saya. Jangan bilang seperti itu mas, perasaan itu salah.."
" Tapi memang itu kenyataanya, tidak harus sekarang kamu pikirkan aku siap menunggu.."
" Permisi mas saya mau melanjutkan pekerjaan.." Raisa pergi meninggalkan Reza begitu saja, dirinya sangat kesal mendengar apa yang barusan Reza ucapkan.
Raisa segera membawa nyonya Anita untuk naik ke kamarnya, waktunya majikanya itu untuk istirahat setelah minum obat. Karena sudah menjadi rutinitas Nyonya Anita hanya diam Raisa membawanya naik, dan membantunya pindah ke atas tempat tidur.
__ADS_1