Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 17


__ADS_3

Tumben pintu dan jendela masih tertutup bahkan gorden jendela belum dibuka sama sekali, pintu ternyata tidak dikunci Raisa pun mengantarkan Elena masuk ke dalam kamar.


Saat akan melangkahkan kakinya ke belakang untuk memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang telingaku mendengar suara wanita, sontak langkah kakiku perlahan mengikuti arah sumber suara. Ternyata suara berasal dari dalam kamar suamiku, aku menempelkan telinga pada pintu untuk mendengar lebih jelas suara yang ada di dalam.


" Sepertinya bukan suara mama mertuaku.."


Suara wanita di dalam sangat mengganggu telinga, terdengar ******* nikmat dari dalam sana. Dengan sangat pelan aku memutar handle pintu, dan betapa terkejutnya aku melihat dua orang sedang berada di dalam selimut.


Dan posisi suamiku sedang berada di atas wanita yang tidak terlihat wajahnya, jelas karena kepala suamiku berada di luar selimut.


******* semakin dalam bersamaan dengan suamiku yang memacu gerakan lebih cepat, hatiku sakit sekali seperti teriris pedang. Tanpa terasa air mataku sudah mengalir deras membasahi pipi hingga menetes pada lantai kamar.


Keduanya yang sedang asyik tidak menyadari kedatanganku sama sekali, bahkan aku yang sudah berdiri disana sama sekali tidak terlihat oleh mata keduanya. Dadaku sesak, tidak cukupkah kalian menyakiti aku selama ini. Aku yang bekerja banting tulang untuk mencukupi keluarga ini kalian anggap apa, segera ku keringkan air mata di sudut mataku.


" Astaghfirullah..."


Mendengar ada suara sontak keduanya menghentikan aktifitas nya di dalam selimut dan menoleh ke arah pintu.


" Aku kira aku menikah dengan suami impoten, jadi seperti ini kelakuanmu dibelakang ku. Dan kamu Pela**r.."


" Ca bisa aku jelaskan..." Segera aku memutar balik tubuhku keluar dari kamar dengan membanting pintu sekuat tenaga.


Aku segera masuk ke kamar Elena dengan membuka koper besar di atas ranjang, ku ambil bajuku dan Elena di dalam lemari dan aku letakkan ke dalam koper hingga penuh.


" Mama kita mau kemana...?"


" Pergi sayang, ayo ikut Mama.."


Gak lupa Raisa membawa surat-surat penting seperti surat nikah dan surat adopsi Elena juga dirinya masukkan ke dalam koper.


" Ca buka..." Bram menggedor-gedor pintu kamar Elena yang terkunci dari dalam, aku tidak menghiraukan panggilan si bejat itu.


Ratna yang akan memasuki rumah melirik ke arah mobil mewah yang terparkir didepan rumahnya, dirinya mengira bahwa itu mobil milik Selly.


" Ica yang keluar dari kamar dengan membawa koper besar dan menggandeng tangan Elena berpapasan dengan Bram dan Ratna.."


" Eh.. Ini ada apa...?" Ratna memasang wajah paniknya.


" Mama tanya sendiri sama dia, pagi-pagi sudah berbuat dosa dirumah ini.." Raisa menunjuk-nunjuk Bram dengan kesalnya.


" Bram..." Bram pun hanya menundukkan kepalanya.


Selly keluar dari kamar Bram sudah dengan pakaian lengkapnya, dan ikut bergabung dalam keramaian di depan kamar.


" Jadi kalian berdua berbuat apa di rumah ini.."

__ADS_1


Plak... Plakkk...


Ratna menampar pipi putranya dan wanita itu, aku tidak sebodoh itu yang melihat lelucon secara live di depan kedua mataku sendiri.


" Ca kamu lah istri sah Bram, jangan pergi dari sini mama mohon.."


" Enggak Ma, sejak dia mengkhianati pernikahan kami sejak saat itu aku bukan lagi istrinya.."


" Biar nanti mereka berdua Mama yang urus, kamu pikirkan lagi.."


Wanita ini sedang bersandiwara di hadapanku, dan aku muak melihatnya.


" Minggir..." Raisa menerobos berjalan keluar.


" Sekali kamu keluar dari rumah ini, jangan sesekali menginjakkan kakimu disini lagi.."


" Bagus Ma, aku juga capek jadi sapi perah kalian orang-orang yang tidak tahu diri.." Ratna menatap sini pada Raisa.


" Oke.. Kamu bawa anak haram ini jauh-jauh dari sini, bwa sial buat keluargaku.."


" Cukup Ma, berhenti mengatakan putriku seperti itu. Anak Mama lebih haram dari pada Elena.."


" Kamu..." Ratna melayangkan tanganya ke udara dan akan menampar Raisa, tapi ia hentikan..


" Ayo tampar..."


" Ca.. Aku janji akan nafkahi kamu lahir batin.." Wanita yang ada disebelah Bram masih menjadi penonton.


" Tidak perlu mas, aku sudah jijik dengan tubuh kotor mu. Benar kamu tidak impoten, tapi sudah dipuaskan di luaran sana.."


Raisa berlalu pergi, lebih sakit lagi Elena harus melihat kejadian yang pasti akan membuatnya takut. Raisa menarik koper dengan tangan satunya lagi menggandeng putrinya, dirinya keluar rumah dengan berlinang air mata.


Tanpa Raisa sadari sedari tadi sudah berdiri seorang pria disamping pintu dan melihat semua yang terjadi, pria itu hanya diam karena merasa dirinya bukan siapa-siapa.


" Sya...." Raisa menatap pada sosok yang memanggilnya diteras rumah.


" Eh bapak..." Raisa langsung menyeka air mata pada kedua matanya dengan punggung telapak tangan.


" Kenapa bapak masih disini..?, apa ada yang ketinggalan.." Bibirnya membentuk lengkungan.


" Aku hanya ingin memastikan kamu dan Elena baik-baik saja.."


" Saya baik pak, bapak tidak perlu khawatir.."


" Bagaimana kamu bilang baik, saya melihat semuanya.."

__ADS_1


" Ca tunggu..." Bram berlari menyusul Raisa diteras rumah.


" Kamu siapa..?" Tunjuk Bram pada Raffi, Ratna juga ikut menyusul hingga ke teras rumah.


" Saya... Anda tidak perlu tahu.."


" Oh jadi selama ini Raisa ada main dibelakang ku.."


" Mas tutup mulutmu, dia pak Raffi majikanku.."


" Kamu kerja jadi pembantu atau jadi pemuas...?"


Plakkkkk....


Raisa menampar pipi Bram dengan begitu keras, hingga terasa ngilu bagi yang mendengar.


" Jangan samakan aku kayak kamu mas, menjijikkan.."


" Sudah kalian pergi dari sini, aku muak melihat kalian.."


" Tanpa anda suruh kami juga akan pergi.." Ucap Raisa sinis pada mertuanya.


" Dan untuk kamu Bramantyo, akan segera ku urus surat perceraian kita. Silahkan lanjutkan kebejatan mu..."


Raisa berlalu pergi dan Raffi segera mengambil alih barang yang Raisa bawa, dirinya juga membawa Elena dalam gendongannya.


Raffi segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu, tangisan Raisa pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, Raffi hanya diam membiarkan Raisa menumpahkan segala kesakitan nya.


Raffi menghentikan mobilnya tidak di taman yang tidak jauh dari rumah mertua Raisa.


" Sayang sini sama Om.." Raffi membawa Elena dalam pelukanya, Elena juga ikut menangis melihat Mama nya menangis.


" Sudah Elena gak usah takut, ada Om Raffi disini.."


Puas menangis Raisa menatap putrinya yang juga menatapnya, Elena masih terisak begitu sesak dada Raisa melihat putrinya.


" Sayang... Maafkan Mama.."


" Pak Raffi maafkan saya..."


" Apa rencanamu selanjutnya...?"


" Saya akan mencari kontrakan atau kamar kos yang Deket dengan rumah Nyonya Anita, agar gak jauh-jauh kalau kerja.."


" Bagaimana kalau kamu dan Elena tinggal di rumahku aja, gak perlu bayar bulanan.."

__ADS_1


" Saya gak mau merepotkan bapak, bapak sudah banyak membantu saya dan Elena.."


Raffi diam sejenak membiarkan Raisa memikirkan kembali tawarannya, gaji bulanannya bisa habis untuk membayar uang bulanan belum lagi pengeluaran yang lainnya.


__ADS_2