
Masih pagi sekali Nyonya Anita meminta suster untuk mengantarnya turun, Bik Surti masih sibuk memasak di dapur begitu juga dengan para pegawai lainya mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang membersihkan halaman, menyapu lantai dan sebagainya.
" Suster tolong buka pintu utama, biar udara pagi masuk.."
" Baik Nyonya.." Suster segera melakukan apa yang majikanya perintahkan.
Nyonya Anita melihat acara televisi diruang tamu, langit masih remang-remang ia sengaja segera turun untuk menunggu putranya.
Satu jam sudah Nyonya Anita berada dibawah Reza belum juga keluar dari kamarnya, oh mungkin sebentar lagi pikirnya.
" Bik...." Dari dapur Bik Surti segera berlari tergopoh-gopoh ke ruang tamu.
" Iya Nyonya..."
" Reza bangunin Bik, mau berangkat jam berapa nanti ketinggalan pesawat..."
" Den Reza sudah berangkat dari jam 03:00 Nyonya..."
" Apa...?"
" Iya Nyonya, Den Reza sudah berangkat membawa koper besar dan tas punggungnya..."
" Siapa yang ngantar ke bandara...?" Nyonya Anita terlihat sedikit gusar.
" Tadi memesan taxi online Nyonya, Den Reza menolak diantar supir..."
Nyonya Anita tampak meneteskan air mata, Bik Surti merasa kasihan melihat majikanya. Apalagi Den Reza pergi keluar negeri setelah beberapa hari bertengkar dengan Mama nya.
Pukul 04:00 Reza sudah sampai di kediaman kakaknya, pak Hasan yang membukakan gerbang dan membantu Reza membawa koper besarnya masuk ke dalam rumah.
" Den Raffi belum turun Den, mau bapak bangunkan..?"
" Gak usah pak masih terlalu pagi, aku mau tiduran disofa dulu ngantuk.."
" Dikamar tamu aja Den nanti bapak siapkan kamarnya.."
" Enggak pak disini aja.." Reza menjatuhkan bobot tubuhnya diatas sofa.
Pak Hasan kembali dengan aktivitas nya, membersihkan halaman menyiram taman dan lain sebagainya. Hingga jam 05:30 Raisa keluar kamar dan melihat Reza diruang tamu, ia bergegas ke dapur seperti biasa.
" Bik mas Reza kok sudah disini...?"
" Iya tadi subuh Non datangnya, Bibik juga kaget kok pagi-pagi sekali.."
" Biarkan dulu Bik.."
Biasanya Raisa menyeduh 1 cangkir kopi, pagi ini 2 karena ada Reza disini. Mencium aroma wangi kopi yang menusuk hidung Reza pun membuka matanya, di meja makan Raisa meletakkan 2 cangkir kopi.
" Sya...."
__ADS_1
" Mas Reza sudah bangun, ngopi dulu mas.." Reza menarik kursi dan duduk disana, Raisa duduk disebelah Reza.
" Kamu kerja dikantor mas Raffi kan Sya..."
" Iya mas, sambil belajar..."
" Sya..." Reza memegang tangan Raisa, Raisa terjingkat karena kaget.
" Iya mas..."
" Menikahlah denganku..." Raisa membulatkan matanya.
" Mas Reza ngomong apa...?"
" Kamu kan sudah resmi menjadi janda, aku siap nikahin kamu Sya. Awal kita bertemu dirumah sakit waktu itu aku sudah tertarik dengan kamu.."
" Saya baru kemaren resmi menjanda mas.."
" Aku pengen menjadi ayah untuk Elena, aku begitu menyayangi gadis kecil itu..." Dari atas Raffi melihat Reza memegang tangan Raisa, ia tak mendengar jelas apa yang Reza katakan dadanya mulai sesak Raffi buru-buru turun.
" Hem..." mendengar deheman dari atas Reza langsung melepaskan pegangan tanganya.
" Kamu pagi-pagi udah disini aja.."
" Iya mas mampir mau pamitan sama mas Raffi, aku mau ke Australia mas.."
" Acara apa..?"
" Kamu debat lagi sama Mama...?"
" Ya pulang dari mall kemaren mas, biasa lah Mama nanti paling diemin aku seminggu. Mending sekalian gak pulang kan..?"
" Kamu juga mau jadi pemberontak kaya aku, penerbangan jam berapa..?.."
" Jam 8 mas..."
" Biar ku antar.."
" Mas Raffi gak ngantor,..?"
" Siang...!" Selesai sarapan Raisa bersiap untuk berangkat ke kantor, dengan Hem berwarna putih jas biru muda dengan tok pendek senada.
Saat Raisa keluar kamar berpapasan dengan Raffi yang baru turun dari tangga, memang pintu kamar Raisa persis disamping tangga naik. Raffi memperhatikan penampilan Raisa dan menggelengkan kepalanya, Raisa bingung.
" Ganti pakaianmu...!"
" Biasanya juga seperti ini kan mas, gak masalah biasanya..."
" Dengan rok sependek itu kamu mau nunjukin paha ke Reza..?"
__ADS_1
" Mas Raffi apa-apaan sih.." Raisa tampak kesal.
" Ganti...!!" Raisa bergegas masuk ke dalam kamar dengan kesal dan mengganti rok pendek dengan celana panjang yang berwarna senada.
" Mas Reza hati-hati dijalan, sampai ketemu lagi. Aku mau berangkat kerja dulu.." Raisa sengaja tidak menyapa Raffi karena masih kesal dengan pria itu.
" Loh kamu gak bareng mas Raffi..?"
" Enggak mas, tu ojek online ku sudah nunggu.." Raisa menunjuk pada seorang yang duduk di atas motor diluar pagar.
" Pak Hasan.."
" Iya Den Raffi..." Raffi merogoh kantongnya dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru.
" Bapak kasihkan uang ini pada orang yang ada diluar pagar dan suruh segera pergi, penumpang tidak jadi naik.."
" Baik Den..." Pak Hasan segera mengambil uang di tangan Raffi dan memberikannya pada pria yang majikanya maksud.
Reza dan Raisa saling menatap mata keduanya bertemu, Raisa paham sekali jika kakaknya dan Raisa sedang tidak baik-baik saja.
" Sya aku boleh dong lihat Elena sebelum berangkat, kangen banget.."
" Boleh mas, ayo saya antarkan ke kamar..."
" Eh stop, ngapain kalian berdua mau ke kamar. Enggak kamu disini aja, biar Reza masuk sendiri lagian dia tau dimana kamar Elena.."
" Aku sendiri aja.." Bisik Reza pada Raisa dijawab dengan anggukan kepala.
Pak Hasan sudah memasukkan barang-barang Reza ke mobil Raffi sesuai dengan perintah, Raffi masuk lebih dulu ke dalam mobil. Raffi menyetir mobilnya sendiri seperti biasa, Reza masuk dan duduk di jok belakang Raisa yang terakhir masuk membuka pintu belakang dan duduk disebelah Reza.
" Pindah ke depan aku bukan supir...!" Ucap Raffi tegas tanpa menoleh.
" Kamu...!" Ucap Raisa pelan pada Reza.
" Kamu aja.." jawab Reza, Reza mengalah dan keluar masuk lagi di depan duduk disebelah Raffi.
" Bukan kamu tapi dia..!" Raisa bergeser dan pindah di jok belakang, setelah menggunakan seat belt mobil berjalan pelan meninggalkan kediaman Raffi.
Pukul 07:00 mobil sudah tiba di bandara, Reza menurunkan barangnya dari bagasi.
" Mas aku masuk sendiri aja, aku berangkat dulu.." Reza berjabat tangan dengan kakaknya dan keduanya saling berpelukan.
" Hati-hati, semua yang kamu lakukan selama itu positif pasti mas dukung.." Raffi menepuk-nepuk punggung adiknya.
" Terimakasih mas, titip Raisa selama aku pergi.." Raffi melepaskan pelukanya dan menonyol kepala Reza, giliran Reza berpamitan sama Raisa.
" Sya aku pamit ya..."
" Hati-hati mas Reza.." Keduanya akan berpelukan, sebelum ini secara bersamaan keduanya menoleh pada Raffi yang memasang muka kesalnya.
__ADS_1
" Ya sudah da da..." Reza melambaikan tangan di balas keduanya.
Raffi dan Raisa masuk ke dalam mobil dan mobil melaju pelan meninggalkan bandara, tidak jauh dari sana seorang wanita paruh baya yang berada di dalam mobil meneteskan air mata melihat kedua putranya tanpa bisa memeluknya. Mama Anita meminta supir untuk diantarkan ke bandara sejak pukul 06:00, kurang lebih satu jam dirinya menunggu Reza dibandara.