Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 31


__ADS_3

Raisa dan Raffi sudah rapi keduanya akan berangkat ke pengadilan agama, Raisa terlihat cantik di mata Raffi dengan stelan baju kantor berwarna abu-abu size-nya sangat pas di badan Raisa.


Pukul 09:30 keduanya sudah tiba di gedung pengadilan agama, disana Dirga sudah menunggunya ada Reza juga yang akan memberikan dukungan pada Raisa.


" Raisa kamu sudah siap...?"


" Sudah pak..."


" Semangat ya Sya..."


" Terimakasih mas Reza..."


" Ga kamu dampingi, biarkan semua berjalan apa adanya..."


" Tenang aja, Lo tau lah siapa gue..." Dirga memukul pelan lengan sahabatnya itu.


" Bos kita perlu bertindak sekarang...?"


" Tidak usah terburu-buru Jo, cukup jadi penonton.." Joshua mengerti apa yang dimaksud bosnya.


Semua orang sudah memasuki ruang siang, Raffi dan Joshua duduk di kursi paling belakang jauh dari Raisa. Karena di dekat Raisa sudah ada Dirga dan Reza yang begitu bersemangat memberi dukungan.


Rombongan Bram memasuki ruang siang, disana ada Bram, Ratna dan Sely. Raisa hanya menatapnya sebentar kemudian fokus ke arah depan, berbeda dengan Bram dan Ratna yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


Sidang berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan, semua prosesi tanpa sanggahan dan bantahan. Pembacaan gugatan bahkan tawaran mediasi ditolak mentah-mentah oleh Bram.


" Maaf pak hakim saya ingin persidangan ini selesai saat ini juga, tanpa gugatan dari istri saya sebenarnya sudah lama saya ingin menceraikannya. Saya dan dia sudah tidak ada kecocokan, dari pada setiap hari kita hanya berdebat yang tidak pernah ada akhirnya. Tolong bapak kabulkan gugatan istri saja, saya mohon sekali bapak Hakim..." Bram menyampaikan permohonannya.


Darah Raisa mendidih mendengar kata-kata penghinaan dari Bram, tetapi Dirga memberi isyarat pada Raisa untuk tetap tenang menghadapi situasi seperti ini Raisa pun mengikuti isyarat Dirga dengan menahan emosinya sekuat mungkin.


Dirga membacakan tuntutan-tuntutan Raisa serta memberikan bukti-bukti perselingkuhan Bram, diharapkan semua bukti yang Raisa berikan memberatkan drum di kemudian hari.


Bram tidak menolak dengan angkuh dia tetap memohon pada hakim untuk memutuskan hari itu juga, sebagai ancamannya pada Raisa.


Hakim menutup sidang dan akan melanjutkan hingga minggu depan, supaya kedua pihak menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk mediasi agar kelak tidak menimbulkan penyesalan.


Bram dengan angkuhnya melirik pada Raisa, Bram yakin wanita cantik yang ada disebelahnya pasti membuat hati Raisa dibakar api cemburu. Apalagi Bram tidak melihat Raffi disana, pasti pria kaya itu sudah mencampakkan Raisa.


Puluhan tahun sudah perusahaan Raffi dan Danu bekerja sama, bahkan hasil pembagian penghasilan dibagi hanya berdasarkan kesepakatan bersama. Perusahaan Danu cukup takut jika bisnisnya dihancurkan perusahaan Raffi, karena cukup mudah bagi Raffi untuk melakukannya.


Strategi bisnis dipegang penuh perusahaan Raffi, perusahaan Danu hanya harus mematuhi peraturan yang perusahaan Raffi buat tanpa ada kecurangan.


Sepanjang sidang Raffi berfikir bagaimana Bram bisa datang bersama Sely, Bram di PHK karena pengurangan jumlah karyawan meskipun anak buah Raffi menemukan fakta lain bahwa Bram menggelapkan cukup banyak uang perusahaan yang membuatnya harus membayar dan menjual rumah orang tua Raisa di desa. Itupun hanya sebagian, masih banyak lagi kerugian yang disebabkan oleh Bram.

__ADS_1


Ternyata lebih dari itu, Bram mempunyai affair dengan istri bosnya ini sungguh benar-benar di luar dugaan.


Raffi memegang ponsel miliknya dan mencari kontak Danu disana, ia pun memencet logo bergambar telepon panggilan pun terhubung. Tidak menunggu lama suara ngebas seorang pria menjawab panggilannya.


" Hallo pak Raffi..? Apa anak buah saya melakukan kesalahan dilapangn, saya akan langsung menindaknya..."


" Saya cuma mau tanya, dimana istri anda sekarang...?"


" Dirumah orang tuanya pak Raffi, tapi pagi-pagi sekali berangkatnya. Apa ada yang salah pak..?"


" Jemput istri anda diruang sidang pengadilan agama sekarang..?"


" Istri saya disana pak..? Ngapain istri saya disana. Apa ayah mertua saya ingin menceraikan istrinya karena sakit-sakitan.."


" Gak perlu banyak tanya jemput sekarang. Paham...!"


" Saya akan menghubungi istri saya untuk memastikan pak.."


" Tidak perlu, jemput sekarang...!"


" Baik pak Raffi, anak buah saya akan segera meluncur kesana.."


" Saya mau kamu sendiri yang jemput kesini..."


" Baik pak, saya akan segera berangkat..."


Bram dengan bangga menggandeng tangan Sely menuju pintu keluar, tanpa keduanya sadari Raffi secara tiba-tiba menghampiri keduanya.


" Maaf Bu Sely bisa kita bicara sebentar...?" Ucap Raffi dingin.


" Pak Raffi anda disini juga...?" Sely tersentak kaget dan buru-buru melepaskan gandengan tanganya pada Bram, Bram juga tidak kalah terkejut dari Sely.


" Bisa telpon suami anda sekarang juga, saya mau bicara..!" Raffi berkata tegas.


" Maaf pak jangan telpon suami saja pak, saya mohon..."


" Telpon sekarang juga atau saya batalkan semua kerja sama dengan perusahaan suami anda..."


" Pak Raffi saya mohon..."


" Heh kamu, apa hak kamu memerintah pacar saya seperti itu. Dia bukan kacungmu..." Bram yang tidak mengerti apa-apa bertindak sebagai pahlawan yang membela kekasihnya, Bram juga mencengkram kerah kemeja Raffi.


" Singkirkan tangan maksiat mu dari leherku.." Raffi balas mencengkram kerah kemeja Bram dengan yang lebih keras tentunya.

__ADS_1


" Cukup... Bram lepaskan pak Raffi...!"


" Sayang ada apa..? Kenapa kamu sepertinya takut dengan pria ini..?"


" Sayang...? Nyonya Danu dipanggil sayang sama laki-laki mes*m ini, ada apa dengan kalian berdua..."


Bram semakin aneh melihat wajah sang kekasih yang pucat, siapa laki-laki yang dihadapinya sekarang ini.


" Sayang aku lupa mau mengenalkan, ini adalah laki-laki selingkuhan mantan istriku.."


" Apa..? Jadi pak Raffi berselingkuh dengan istri orang. Oh berarti kita impas donk.."


" Apa maksudmu bilang impas..."


" Anggap saja kita tidak pernah bertemu disini, kita lupakan ke salah pahaman. Aku bisa tutup mulut kok.."


" Aku tidak Sudi dengan permainan kotor mu...!"


" Oh ya, bagaimana kalau di surat kabar besok dihalaman paling depan seorang pengusaha muda berselingkuh dengan wanita yang bersuami, pasti pemburu berita akan mengejar ku.."


" Wah khayalanmu cukup menarik juga, aku akan sangat mudah menghancurkan perusahaan suamimu.."


" Aku rasa perusahaan kita akan sama-sama hancur, saya kasih penawaran menarik anda menolak. Terima akibatnya Ya..." Sely tersenyum penuh kemenangan.


" Lanjutkan khayalanmu dirumah, itu suami mu sudah datang menjemput."


" Mas Danu kamu disini mas..." Suara Sely tercekat seorang pria paruh bawa datang membawa empat pria berbadan besar.


" Pak Raffi selamat siang, maaf atas ketidaknyamanan ini.." Danu membungkukkan kepalanya dihadapan Raffi.


" Saya mau dibawa kemana, lepaskan..! Lepas...!" Anak buah Danu menggiring Bram keluar ruangan, dua didepan dan dua dibelakang.


" Lepaskan...!"


Dua orang membungkam mulut Bram dengan sangat kasar, tidak ada yang menyadari karena terhalang tubuh pria-pria kekar yang membawanya.


" Mas tolong Bram jangan di apa-apain mas, kita gak melakukan apa-apa kok.."


" Diam sayang nanti kamu bisa jelaskan dirumah.." Danu semakin erat mencengkram lengan istrinya.


" Pak Raffi kamu permisi dulu.."


" Nanti akan saya kirimkan bukti kerja sama kita.."

__ADS_1


" Baik pak..."


Danu membawa Sely pulang, Sely yang merasakan sakit pada lengannya hanya bisa menangis tanpa bersuara. Ia menuruti saja apa yang akan dilakukan suaminya, Danu membuka pintu mobil dan melempar tubuh Sely disana. Raffi yang melihatnya tersenyum kecut, Raffi segera mengirim bukti rekaman Sely dan Bram ke ponsel Danu.


__ADS_2