Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 24


__ADS_3

Raisa pulang ke rumah Raffi lebih awal dari biasanya, dengan menaiki ojek online jarak tempuh dari rumah Nyonya Anita ke rumah Raffi hanya 25 menit saja. Sesampainya dirumah Raisa langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, kemudian berjalan ke dapur membantu Bik Tumi.


" Bik Tumi sudah selesai...?"


" Tinggal sedikit Non, Non Raisa istirahat aja.."


" Bibik selesaikan Raisa yang bersih-bersih rumah ya.."


" Gak usah Non..."


" Gak apa-apa Bik, saya juga kerja dirumah ini.."


Raisa berjalan ke gudang untuk mengambil peralatan membersihkan rumah, mulai dari sapu lantai, kain pel dan vacuum cleaner. Satu jam lebih akhirnya pekerjaan membersihkan rumah pun selesai, Raisa ke taman belakang untuk bermain bersama Elena.


" Pak Hasan terimakasih sudah jagain Elena selama Raisa gak ada.."


" Bapak bahagia Non, Elena sudah seperti cucu sendiri.."


Bik Tumi menyusul ke taman belakang dengan membawa 3 gelas teh hangat dan satu gelas susu coklat untuk Elena, ada juga cemilan kering dalam sebuah toples kaca.


" Biar lebih asik ngobrol ada teh hangat sama camilan nie..."


" Bik Tumi ngrepotin aja, Raisa bisa bikin sendiri.."


" Gak repot Non..."


Ketiganya terlibat dalam sebuah obrolan hingga menjelang Maghrib Raisa dan Elena pamit ke kamar lebih dulu, keduanya akan melakukan sholat magrib berjamaah. Raisa selalu menanamkan sholat berjamaah pada Elena kecil, semoga kebaikan ini akan menjadi kebiasaan hingga Elena dewasa kelak.


" Begini mbak Yu maksud kedatangan kami kesini, ingin melanjutkan pembicaraan masalah putra putri kita..."


" Iya bener mbak, menurut Mbak bagaimana...?"


Hemmmhhhh.... Setelah menghembuskan nafas panjang Nyonya Anita menjawab kedatangan bekas besanya itu.


" Gimana ya, kalau aku sih terserah Raffi nya aja. Kamu gimana Nak..." Mama Anita menoleh pada kedua putranya khususnya pada Raffi.


" Ma Pa... Maaf bukan maksud Raffi tidak patuh kepada orang tua, tapi Rafi dan Sofi sudah tidak sejalan lagi kamu berdua tidak cocok satu sama lain..."


" Apa maksud kamu mas.." Sofi berkata dengan nada tinggi.


" Iya kita berdua sudah berbeda jalan, ibarat rel kereta api memang bisa berjalan berdampingan tapi ujungnya tidak akan pernah ketemu.."


" Kalian kan bisa mulai dari nol lagi..."


" Iya bener itu Fi kata Papa.."


" Pa... Bagaimana mau memulai dari nol jika semua sudah lewat di garis finish.."


" Jangan pikirkan hal macam-macam, anggaplah ini permintaan Papa. Kembalilah dari Sofi..."

__ADS_1


" Maaf Pa, Raffi tidak bisa..."


" Apa ini karena perempuan pembantu itu.."


" Kak Sofi, berhentilah memaksa kak Raffi. Tolong semua hargai pendapatnya.." Reza yang sejak tadi menahan kekesalannya pada keluarga mantan istri kakaknya pun ikut bersuara.


" Mbak Yu tolong jelaskan pada Raffi, Sofi lah wanita yang pantas untuk Raffi. Bukan wanita pembantu atau yang lainya..."


" Kita kan sama-sama tahu kalau mereka sudah pada dewasa, saya rasa mereka tahu mana yang terbaik buat diri mereka sendiri. Kita sebagai orang tua cukup mensupport aja.."


" Jadi mbak yu bilang Sofi tidak pantas lagi untuk Raffi.."


" Bagaimana bisa gue seperfect gini di bandingkan sama pembantu, jauh lah tidak sebanding.."


" Raisa yang tidak sebanding denganmu Sofi..."


" Sudah sudah ayo pulang, kehadiran kita disini tidak di anggap sama sekali..." Papa Sofi berdiri dan berjalan keluar rumah.


" Mas tunggu... Sofi ayo pulang..." Mama Sofi juga bergegas menyusul suaminya.


" Awas ya kamu mas, tidak akan aku biarkan kamu bahagia dengan wanita lain..."


" Mas apa hubungan mas Raffi sama Raisa...?" Reza yang sejak tadi penasaran nama Raisa dibawa-bawa di acara keluarganya.


" Apaan sih kamu Za, kepo aja..."


Raffi berdiri dan berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Mama dan adiknya disana.


" Tanya sendiri sama yang bersangkutan. Sus ayo kita naik ke kamar.."


" Baik Nyonya..." Suster itu mendorong kursi roda majikanya memasuki pintu lift untuk naik ke atas.


Nyonya Anita semakin yakin bahwa kedua putranya menyukai wanita yang sama, bahkan wanita yang jauh dari kata idaman para pria. Memang Raisa memiliki paras yang cukup cantik, tetapi ia berasal dari keluarga menengah ke bawah cara berpakaian juga sangat biasa dan berstatus janda pula.


"Pak Hasan.. Pak Raffi gak pulang kesini kan..?"


" Belum datang Non, mungkin pulang kerumah Nyonya Anita Non..."


" Oh... Kita makan malam dulu pak, Bibik mana..?"


" Ada kok Non, itu dia.." Pak Hasan menunjuk istrinya yang berjalan ke arah keduanya.


" Bibik ayo makan..."


" Iya Non.. Bibik nanti aja..."


" Nenek ayo makan bareng, Elena juga gak makan kalau nenek gak makan..."


" Ya sudah ayo... Elena gak boleh telat makan ya, nanti kalau sakit gimana...?"

__ADS_1


" Nenek juga ya, kalau nenek sakit Elena kan sedih.."


Semua sudah berkumpul di meja makan, mereka makan dalam diam hanya sesekali mengobrol. Selesai makan malam Raisa membantu Bik Tumi membersihkan meja makan dan mencuci peralatan bekas makan. Sedangkan Elena sedang bermain di depan tv ruang tamu bersama pak Hasan.


" Kakek punya Mama gak..?" Elena bertanya dengan polos.


" Punya dong Nak, kalau gak punya Mama kakek lahir dari mana..."


" Sama kayak Mama Elena.."


" Iya sama..." Pak Hasan menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


" Punya ayah juga dong.."


" Ya punya lah, itu sudah pasti..."


" Tapi kek, kok Elena gak punya ayah ya..?. Elena cuman punya Mama aja, Mama Raisa gak punya pasangan kek..."


Pak Hasan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, ia bingung harus menjawab pertanyaan Elena takut salah ngomong. Elena tergolong anak yang cerdas, rasa keingintahuannya begitu besar.


" Belum sayang nanti juga Elena akan punya ayah sabar ya..." Pak Hasan membelai lembut kepala Elena.


Pak Hasan sendiri bertanya-tanya masa lalu Raisa dan Elena, tetapi dirinya tidak berani untuk bertanya itu terlalu lancang. Yang ia tahu bahwa Raisa bekerja dirumah Nyonya Anita, dan Raffi membantunya memberi tempat tinggal.


" Sayang sudah malam ayo kita bobok..."


" Iya Mama.. Kek masalah tadi rahasia kita berdua ya.." Ucap Elena pada pak Hasan.


" Oke..." Pak Hasan mengangkat jempolnya pada Elena.


" Mama gak boleh tahu Nie...?"


" Enggak Mama, ini rahasia Elena sama kakek.."


" Iya deh, ayo gosok gigi dulu.."


" Pak belum ngantuk...?"


" Belum Buk, sebentar lagi. Oia buk semenjak Non Raisa dan Elena tinggal disini Den Raffi jadi sering pulang ya...?"


" Iya pak, aku juga ngerasa gitu. Tapi mereka masih terlihat biasa, seperti tidak ada hubungan spesial.."


" Tapi mereka berdua cocok sekali, satu cantik satu ganteng. Gak pernah bosen ngelihatnya..."


" Kalau lihat aku bosen gak pak..?"


" Ya enggak lah, mana mungkin.."


" Udah ayo masuk kamar, cek dulu semua pintu.."

__ADS_1


" Iya iya..."


Pak Hasan berjalan ke pintu utama untuk memastikan sudah terkunci dengan baik, begitu juga dengan pintu-pintu yang lain. Sementara Bik Tumi masuk ke kamar lebih dulu, hari sudah malam waktunya beristirahat.


__ADS_2