Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 21


__ADS_3

Pukul 22:00 Raffi sudah tiba di kediaman orang tuanya, mobil adiknya sudah terparkir di garasi rumah.


Saat Raffi membuka pintu rumah Mama Anita sedang diruang tamu bersama susternya, Nyonya Anita menoleh sekilas dan kembali menatap layar televisi yang ada disana.


" Malam Ma, kok belum tidur..?"


" Mama belum ngantuk.." Nyonya Anita merasa gengsi ingin mengatakan sedang menunggu putranya itu.


" Mama perlu Raffi temani..?"


" Memangnya kamu gak capek..?"


" Enggak kok Ma, buat Mama apa sih yang tidak.."


Raffi memeluk ibunya, Mama Anita tersenyum dalam pelukan sang putra ada kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya.


" Sus.. Bisa tinggalkan kami berdua, nanti saya yang akan mengantar Mama ke atas.."


" Baik pak, saya permisi dulu.." Raffi mengangguk dan suster pun berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.


" Ma.. Sepertinya Raffi menyukai seseorang.." Raffi mengatakannya sedikit ragu pada sang Mama.


" Siapa wanita beruntung yang di sukai putraku.."


" Mama sangat mengenalnya.."


" Benarkah siapa itu..?" Wajah Nyonya Anita berbinar.


" Raisa Ma..."


" Apa...?" Nyonya Anita begitu terkejut mendengar penuturan putranya.


Raffi mengangguk yakin pada Mama Anita, dirinya melihat perubahan di wajah Mamanya dari yang begitu gembira menjadi muram. Raffi bisa menebak apa pendapat sang Mama, tetapi dirinya masih berharap banyak Mamanya akan memberi dukungan terhadapnya.


" Dia punya keluarga Fi, punya anak dan suami. Please kamu masih muda, gadis-gadis diluar sana mengantri ingin mendapatkan hatimu.."


" Dia akan bercerai dari suaminya Ma, bukan masalah status siapa dia Ma. Raffi merasa nyaman walaupun hanya memandangnya.."


" Kamu pikiran lagi, Mama gak mau rumah tangga anak Mama gagal untuk yang kedua kalinya. Sofi aja yang nyaris sempurna tanpa kurang masih gagal, apa lagi yang udah jelas banyak kurangnya.."


" Tapi Ma..."


" Sudah sudah antarkan Mama ke kamar, Mama sudah ngantuk.."


Raffi pun berdiri dan mendorong kursi roda Mamanya memasuki lift untuk naik ke atas, Raffi cukup tau alasan Mama nya bersikap seperti itu. Dirinya tidak terlalu ambil pusing, ia hanya ingin Mama nya tau apa yang ia rasakan tidak sama sekali meminta pendapat.


Huhh...


Raffi menghembuskan nafas panjang, ia mengacak-acak rambutnya. Begitu Mama Anita di ambil alih oleh suster Raffi kembali turun dan masuk ke dalam kamarnya.


Pagi sekali Raffi sudah berada di meja makan, dirinya dan Mama Anita sarapan dalam diam tidak ada yang membuka pembicaraan. Reza keluar kamar dan langsung bergabung bersama ibu dan saudaranya disana.


" Pagi Ma..."

__ADS_1


" Iya pagi..."


" Mas pagi..."


" Hem..."


" Lagi banyak kerjaan mas pagi sekali sudah rapi.." Reza yang melihat kakaknya dengan setelan Jas kantornya.


" Iya, aku berangkat dulu.." Raffi yang sudah menyelesaikan sarapannya langsung bergegas meninggalkan meja.


" Iya hati-hati mas.."


" Ma... Raffi berangkat dulu..." Raffi mengulurkan tanganya tetapi tidak mendapat sambutan dari sang Mama, Raffi menarik kembali uluran tangannya dan langsung mencium kepala Mama Anita.


Reza melirik apa yang dilakukan Mama dan saudaranya, Reza mengerti apa yang sedang terjadi di antara keduanya.


" Mama kenapa lagi sih..?"


" Gak apa-apa, sudah habiskan makanannya.."


" Selamat pagi Nyonya Anita mas Reza..?"


" Pagi Sya, kamu gak bawa Elena.?" Reza yang melihat Raisa datang tanpa Elena.


" Enggak mas Elena lagi gak pengen ikut.."


" Ada apa dengan kedua putraku, kenapa Reza juga begitu bahagia saat bertemu Raisa. Aku sangat faham bagaimana Reza dulu dengan perawatnya, tidak seakrab ini.."


" Ayo antarkan saya ke kamar.."


" Apa kamu janda..." Setelah sampai di kamar kata-kata yang keluar dari majikanya cukup membuatnya kaget.


Deg... Jantungnya terpompa lebih cepat dari biasanya, kenapa tiba-tiba pertanyaan itu ada.


" Maksud Nyonya Anita..?"


" Kamu janda.." Tanyanya mempertegas.


" Sedang proses Nyonya.." Raisa meneteskan air mata, tidak menangisi perceraiannya tetapi nasib yang dirinya alami.


Melihat Raisa meneteskan air mata hati Nyonya Anita ikut ngilu ikut merasakan perasaan sesama wanita, tidak ada wanita yang baik-baik saja karena perceraian tetapi jika perceraian adalah keputusan terbaik yang harus diambil kita hanya menerima garis takdir.


" Oh... Maaf jika harus mengingatkanmu lagi.."


" Tidak apa-apa Nyonya tidak perlu merasa sungkan, Nyonya Anita boleh menanyakan apa saja saya akan menjawabnya.."


Nyonya Anita merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melihat layar televisi, Raisa membersihkan kamar seperti biasa.


" Jo kamu punya pacar..?" Tanya Raffi pada asistennya.


" Masih jomblo bos belum ada wanita beruntung yang mendapatkan hati ini.." Tanganya memukul-mukul lembut dadanya.


" Oh ya.., Belum pernah punya pacar sama sekali..?"

__ADS_1


" Bos Raffi seperti nya sedang jatuh cinta..?"


" Kamu tau wanita yang Tempo hari ada di rumahku, dia adalah perawat Mama menurut pandangan batinku dia adalah wanita baik-baik semakin aku memandangnya aku semakin tertarik.."


Joshua hanya terdiam saat Raffi sudah selesai bercerita, dengan posisi tangan memegang kening .


" Jooo...."


" Sudah selesai bos ceritanya..?"


" Sudah dari tadi, kamu ngapain sih.."


" Saya itu sedang meresapi dan membayangkan cerita boss Raffi, karena saya mengingat jelas bagaimana paras wanita itu. Uh... senyumannya sungguh menggetarkan hatiku bos.."


Plakkk... Raffi memukul tumpukan kertas pada kepala Joshua.


" Aduhh... Bos kok saya dipukul..?"


" Berani kamu melihat dia seperti waktu itu, siap-siap biji matamu ku congkel.."


" Boss serem amat sih.."


" Awas kamu ya.."


" Ampun bos, takut saya mah. Tapi beneran bos dia cantik banget, pandanganya teduh seperti di bawah pohon beringin.."


" Aku juga sependapat Jo, gak perduli gadis atau janda yang penting dia bukan milik orang.."


" Eh tapi bos memangnya dia janda..?"


" Iya anak 1, masih akan proses cerai dengan suaminya.."


" Jangan bilang dia cerai karena dia suka sama bos Raffi.."


" Kamu mau mulutmu tak sobek Sampek telinga.."


" Salah lagi bos, aduh kesel deh aku salah lagi salah lagi.." Joshua menutup mulutnya dengan telapak tangan.


" Dia disia-siakan suaminya, juga mendapat penekanan dari mertuanya. Aku juga belum jelas ceritanya, gak enak mau nanya terlalu jauh.."


" Boss Raffi tenang aja, serahkan semua urusan dengan pakar cinta Joshua Fernando. Semua masala percintaan, penolakan, restu orang tua akan teratasi dengan seksama.."


" Kepalamu gak lagi habis kebentur kan Jo.."


" Saya sadar bos, normal ini mah. Masih sama cerdas di atas rata-rata.." Joshua tertawa membanggakan semua kelebihannya.


" Sepertinya Mama tidak menyukai Raisa.."


" Oh namanya Raisa, sangat cocok dengan wajah indahnya. Bos Raffi harus tau kelebihan Raisa nanti baru bisa menceritakan pada Nyonya besar, bos harus mengenalnya lebih jauh.."


" Gengsi Jo kalau harus bilang duluan.."


" Mau Joshua yang bilang sama Raisa.."

__ADS_1


" Enggak-enggak udah keluar sana kamu.."


Joshua yang di usir bosnya berjalan berlahan keluar dari ruangan Raffi, Raffi mulai memikirkan apa yang Joshua katakan benar dirinya harus mengenal Raisa dulu baru meminta restu. Akan ia coba, bos tampang yang terkenal cuek dan galak.


__ADS_2