Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 25


__ADS_3

Pak Hasan membaringkan tubuhnya tepat disebelah sang istri, Bik Tumi memejamkan matanya tapi pak Hasan yakin kalau istrinya itu belum tidur.


" Buk sudah tidur...?"


" Sudah..."


" Sudah tidur kok bisa ngomong.."


" Tidur sana sudah malam, jangan banyak bicara nanti gak tidur-tidur.."


" Buk... Bapak kok ngerasa den Raffi lebih cocok sama Non Raisa ya dibanding sama Non Sofi.." Bik Tumi langsung membuka kelopak matanya lebar-lebar.


" Ibuk juga ngerasa gitu pak, Den Raffi yang tidak pernah sama sekali menginjakkan kakinya disini semenjak bercerai tiba-tiba jadi nyaman ada disini.."


" Itu dia buk, bapak juga mikirnya gitu.."


" Ayo tidur, ibuk sudah ngantuk. Lanjutkan besok lagi ngobrolnya.."


Tidak menunggu lama kedua pasangan ini sudah mengarungi mimpinya masing-masing, begitu juga Raisa yang tidur dengan posisi memeluk putrinya. Elena merasa sangat nyaman tidur berada dalam pelukan sang Mama, damai sekali tidur gadis kecil ini.


Raffi yang masih belum bisa memejamkan matanya saat jarum jam menunjuk di angka 11, ia memainkan ponselnya sambil tiduran di atas kasur. Hingga pukul 03:00 Raffi baru memejamkan matanya, rasanya ia baru tidur 2 jam alarm di ponselnya sudah berbunyi dengan nyaring.


Raffi bergegas bangun dengan mata yang belum terbuka sempurna ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, guyuran air membuatnya lebih segar. Tepat pukul 06:00 Raffi sudah rapi dan berjalan ke meja makan, Mama Anita sudah lebih dulu berada disana.


" Pagi Ma..."


" Pagi.. Mau kemana pagi sekali sudah rapi.."


" Mau kerja dong Ma.."


" Mama menghargai keputusanmu untuk tidak balikan sama Sofi bukan berarti Mama merestui kamu sama Raisa.." Mama Anita berbicara dengan lantang, Raffi yang sedang mengoleskan selai strawberry diatas roti tawar pun menghentikan aktifitas nya. Ia menoleh dan menatap Mama nya.


" Ma.. Jodoh Allah yang ngatur.."


" Iya tapi ridho Allah apa pada ridho orang tua, kamu lupa.."


" Ma.. Nanti Raffi ingin membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah hingga maut memisahkan, tolong Mama jangan seperti ini. Apa yang salah sama Raisa.."


" Gak ada yang salah tapi Mama tidak setuju.."


" Terserah Mama.." Raffi bangkit dari duduknya.


" Satu lagi, kamu yang bawa dia kesini sekarang kamu bawa dia pergi. Mama sudah tidak membutuhkannya lagi.."


" Kalau itu yang Mama inginkan baik akan Raffi penuhi..." Raffi segera melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, ia segera memasuki mobilnya yang terparkir di garasi.


Kring...Kring....


" Hallo.. Dengan Bik Tumi ada yang bisa saya bantu..?"


" Hallo bik, Raisa sudah berangkat..?"

__ADS_1


" Belum Den, masih sarapan.."


" Bilang sama Raisa tunggu saya, jangan berangkat dulu.."


" Baik Den, akan Bibik sampaikan.." Setelah panggilan telepon terputus bik Tumi segera menghampiri Raisa dan Elena di meja makan.


" Non Raisa.. Den Raffi bilang jangan berangkat dulu, tunggu Den Raffi sedang diperjalanan menuju kesini.."


" Ada apa ya Bik.."


" Kurang tau juga Non, bibik tidak sempet nanya tadi.."


" Iya Bik, terimakasih.."


" Mama... Om Raffi ternyata baik banget ya Ma.."


" Iya sayang, kan Om Raffi sudah kasih tempat tinggal untuk kita.."


" Om Reza juga baik, pengen punya ayah yang baik kaya Om Reza.."


" Sayang gak boleh ngomong gitu ya, Om Reza itu seorang dokter. Pasti juga sudah punya calon istri.."


" Iya Mama..." Elena melanjutkan sarapannya.


" Mas Raffi sudah berangkat Ma..."


" Sudah dari tadi..." Reza melihat aura yang tidak biasanya pada Mamanya.


" Ada apa lagi sih Ma, biarkan mas Raffi menentukan jalanya sendiri kita cukup kasih support aja.."


" Iya Ma Reza paham, selagi positif kan gak apa-apa Ma..." Mama Anita tidak menjawab lagi, ia hanya diam melanjutkan membaca buku novelnya.


" Ma Reza pamit dulu Ma.." Reza meraih tangan Mamanya dan mencium punggung tangannya dengan khidmat.


Dert...Dert....


Ponsel miliknya bergetar diatas meja, Joshua segera mengambilnya. Tertulis nama bosnya disana, Joshua segera menggeser gambar telepon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.


" Hallo bos..."


" Jo.. Apa ada meeting penting hari ini..?"


" Ada meeting pembahasan pembangunan pabrik diluar pulau bos, lanjutan yang waktu itu belum selesai.."


" Kamu handle dulu Jo, hari ini aku tidak ke kantor ada urusan mendadak.."


" Oke siap boss..."


Raffi segera mematikan sambungan teleponnya, kini mobil sudah memasuki pekarangan rumahnya. Raffi memarkirkan kendaraanya di garasi dan segera berjalan cepat memasuki rumah, disana Raisa sudah menunggunya di sofa ruang tamu bersama Elena.


" Pagi..." Kedatangan Raffi disambut senyuman manis Elena.

__ADS_1


" Om Raffi..." Elena segera menghampiri Raffi tangan mungilnya meraih tangan Raffi untuk dicium.


Raffi berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh Elena, Raffi membawa Elena dalam pelukanya dan menggendong tubuh mungil itu.


" Aduh manjanya... Elena jangan ngerepotin Om Raffi ya.."


" enggak kok Mama, iya kan Om..?"


" Iya Om Raffi gak repot kok, justru bahagia sekali.." Raffi menempelkan hidungnya di pipi Elena dengan gemas.


" Uluh.. Elena dapet ayah baru nie.." Ledek pak Hasan pada Elena.


" Om Raffi mau jadi ayah Elena gak..?" Tanyanya polos pada Raffi.


" Mau dong, siapa yang nolak punya anak sepintar ini.." Raffi menoel hidung Elena dengan jari telunjuknya.


Elena memeluk leher Raffi dengan sangat erat, Raffi pun membalas pelukan Elena dengan tak kalah eratnya keduanya tampak bener-bener seperti ayah dan anak.


" Kakek Elena bahagia deh, punya Mama, ayah, kakek dan nenek.." Elena mengadu pada pak Hasan.


" Kakek juga bahagia sekali..."


" Elena turun ih, kasihan Om nya.." Elena pun merosot turun dari gendongan Raffi.


" Mas kita berangkat sekarang..?" Raffi menatap Raisa dalam-dalam, dirinya mencoba mencerna kata-kata Raisa.


" Iya udah siap kan...?"


" Sudah..."


" Da da Elena..."


" Ayah nanti kesini lagi ya..?"


" Oke..." Raisa yang mendengar putrinya memanggil Raffi dengan panggilan ayah mengerutkan keningnya.


Raffi juga tidak merasa risih dengan panggilan itu, justru Raffi menyambut baik panggilan Elena padanya. Raisa bersikap biasa saja tidak menunjukkan keterkejutannya, ia pura-pura tidak mendengar itu.


Keduanya sudah berada didalam mobil dan mobil sudah melaju dijalanan dari 5 menit yang lalu.


" Mas kita mau kemana..? Ini bukan jalan menuju rumah Nyonya Anita.."


" Iya kamu libur kerja hari ini, aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan seseorang.."


" Tapi mas aku belum izin pada Nyonya Anita.."


" Sudah ku izinkan kamu tenang aja.."


" Terimakasih mas,, Maaf kita mau bertemu siapa Mas..?"


" Kita akan ketemu sahabat lamaku, dia yang akan membantumu nanti mengurus masalah perceraian. Kamu sudah yakin kan..?"

__ADS_1


" Iya mas sudah sangat yakin.."


Mobil Raffi memasuki area parkiran gedung 6 lantai, setelah mobil berhenti keduanya turun dan berjalan memasuki gedung itu. Raisa dan Raffi memasuki lift, Raffi memencet angka 6 di lantai itu tujuan keduanya berada.


__ADS_2