Kaisar Langit Generasi Ketiga

Kaisar Langit Generasi Ketiga
menata kembali


__ADS_3

"hem, terimakasih nenek"


"Aku akan melakukan nya dengan baik"


"Aku yakin, dewi perang akan senang menerima bunga ini" ucap Hirokisu.


Setelah mendapatkan bunga sesuai keinginan nya, Hirokisu terbang menuju ke tempat dimana dewi perang berada.


Bunga pemberian dewi bunga rupanya berguguran satu persatu tanpa diketahui oleh hirokisu. Dirinya sadar setelah sampai si tempat kediaman dewi perang dan rupanya hanya tersisa satu helai bunga dan hal itu membuat Hirokisu lemas lunglai.


"Hah, mengapa bungaku berjatuhan?"


"Ah, hari ini adalah hari yang sial bagiku" ucap Hirokisu sembari mengusap dahinya


Sikap Hirokisu yang tampak kebingungan rupanya diketahui oleh dewi perang.


"Hirokisu"


"Untuk apa kau datang ke sini?"


"Bukankah kau sudah muak dengan wajahku yang buruk?" ucap dewi perang dengan mata merah penuh kemarahan.


"Hei, berhentilah"


"Janganlah marah padaku" ucap Hirokisu sambil menggenggam satu helai bunga yang telah diberikan dewi bunga untuknya.


Tangan Hirokisu terus saja meremas sisa bunga pemberian neneknya karena merasa jengkel usahanya sia-sia.


Tanpa disadari Hirokisu, dewi perang berkata dengan lantang

__ADS_1


"Hirokisu"


"Benda apa yang kau genggam?"


"Sepertinya, kau telah menyembunyikan sesuatu dariku"


"Cepat"


"Bukalah genggaman tangan mu" ucap Dewi perang dengan nada lantang.


Hirokisu segera membuka tangannya dan satu helai bunga yang digenggam nya terbang tertiup angin dan secara tak sengaja telah menempel di pipi dewi perang.


"Hirokisu, kau membawa satu helai bunga memangnya untuk apa?" ucap dewi perang sambil mengambil satu helai bunga yang saat itu menempel di pipinya.


"Dewi perang, sudahlah"


"Kau tak perlu banyak tanya lagi"


Situasi menjadi hening seketika. Aliran darah seakan terhenti dan keduanya terbawa oleh pesona perasaan masing-masing.


Satu helai bunga yang menempel di pipi dewi perang rupanya membuahkan hasil. dewi perang sedikit luluh dan melihat ke arah Hirokisu dan pandangan dewi perang berubah menjadi lebih lunak dari biasanya.


"Hirokisu" tiba-tiba dewi perang memanggil hirokisu dengan nada sedikit lembut.


"Ya, kau memanggilku lagi?" tanya Hirokisu sambil melirik ke arah dewi perang.


"Masuklah ke istanaku"


"Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu" ujar dewi perang kepada Hirokisu.

__ADS_1


"ada apa gerangan?" gumam Hirokisu dalam hati.


"Tak biasanya dewi perang sedikit lunak dan mengajakku pergi ke istananya"


"Apakah bunga pemberian nenek ku sudah bekerja?" gumam Hirokisu dalam hati


"Ah, sudahlah"


"Kali ini, aku akan menuruti permintaan dewi perang" Hirokisu pun beranjak pergi dari tempat nya dan pergi bersama dewi perang menuju istananya.


Di tempat lain, Sioming yang merupakan penjelmaan dari jin min dan siluman ulat sutra terus berlari menghindari kejaran dari iblis ming.


"Sioming, aku akan panggil namamu dengan Jin min" ucap siluman ulat sutra sambil berlari sekuat tenaga. Tampak keringatnya mulai bercucuran dan wajah lelah terpancar di raut mukanya yang tetap tampan tak lekang oleh waktu.


"Terserah"


"Yang penting, saat ini, kita harus pergi jauh"


"kita harus bisa terbebas dari pengejaran iblis ming" ucap Jin min


Pelarian panjang mereka tampaknya mencapai batas akhir kekuatan mereka. Mereka berdua akhirnya beristirahat di sebuah tempat dimana tempat itu adalah perbatasan antara negeri iblis dan negeri langit.


"Sepertinya, kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu" ucap siluman ulat sutra kepada jin min yang saat itu terlihat sangat lelah.


"Hem, lama sudah kita tak berjumpa"


"Rintangan kita sungguh sangat berat"


"Kali ini, kita tak boleh berpisah dan tak boleh mati sia-sia" ucap Jin min sambil merebahkan tubuhnya di dada siluman ulat sutra.

__ADS_1


Hati mereka berdua sedikit lega karena tak melihat iblis ming mengejar mereka lagi


__ADS_2