Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
FLASHBACK


__ADS_3

Awan hitam tampak bergelayut manja di atas langit. Seolah-olah awan hitam itu akan jatuh ke tanah. Melihatnya saja sudah bisa di pastikan, bahwa sebentar lagi hujan turun. Di sebuah pemakaman umum, beberapa orang-orang terlihat tampak tengah menggali tanah untuk mengubur dua pasang peti mati.


Tak jauh dari para pelayat juga orang-orang pengubur jasad kedua pasangan yang baru meninggal tadi malam itu, berdiri seorang anak berusia 10 tahun dengan menggendong seorang bayi bersurai blonde yang sedang menangis dengan kencang. Meski anak itu tampak menggoyang-goyangkan bayi di gendongannya dan berharap agar bayi itu dapat berhenti menangis, namun fokus matanya tertuju pada dua buah batu nisan yang sudah terpasang dengan apik pada gundukan tanah di depannya. Tak sedikitpun ada airmata yang jatuh dari kelopak matanya. Meski banyak dari para pelayat yang menatapnya prihatin.


Banyak yang berfikir, bagaimana nantinya nasib mereka setelah ini? Anak itu masih berusia 10 tahun dan tidak memiliki sanak saudara di dekatnya yang akan mengurus. Jangankan sanak saudara, orang yang kini mereka layati bahkan bukan keluarga kandung anak tersebut. Sedangkan bayi yang sedari tadi menangis bahkan belum bisa melihat bagaimana wajah kedua orangtuanya, tapi sudah harus menjadi anak yatim piatu. Mau menampung mereka, rasanya mustahil. Pikir mereka.


"Yang sabar ya, nak."


"Kamu harus kuat. Rencana Tuhan pasti indah pada waktunya." Kata para pelayat yang mulai berpamitan untuk pulang.


Ia hanya menanggapi dengan ucapan terima kasih dengan postur tubuh membungkuk sopan. Sebenarnya ia sendiri juga bingung harus bagaimana setelah ini. Dirinya hanya hidup seorang diri sekarang. Seperti sebelum dirinya bertemu dengan kedua orang yang kini telah di panggil oleh sang pencipta. Dan lagi, ia juga memiliki tanggung jawab untuk merawat bayi di gendongannya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Tidak mungkin dia harus menelantarkan bayi dari orang yang sudah sudi merawat dan menganggapnya sebagai keluarga sendiri ke panti asuhan sementara dirinya pergi.


Tidak!! Itu tidak mungkin. Apa yang akan dia katakan nantinya kepada kedua orang tua bayi tersebut ketika saatnya tiba dia juga mati? Akan ada saatnya dimana dirinya nanti akan di mintai pertanggung jawabannya.


Setetes air tiba-tiba jatuh ke ujung hidungnya. Membuat dirinya menatap bayi yang kini sedikit mereda dari tangisnya. Melihat ada tetes air yang jatuh ke kain selimut bayi itu, ia lantas menengadah ke langit dengan mata menyempit.


Benar saja. Hujan mulai turun setitik demi setitik. Yang tadinya hanya sekedar rintik-rintik saja, kini menjadi sangat deras. Andai saja dia tidak membawa bayi, ia tidak akan peduli jika harus basah kuyup di bawah guyuran hujan deras. Ia masih ingin menghabiskan waktunya memandangi batu nisan kedua orang yang telah sudi merawat dirinya.


Anak bersurai dark brown dengan mata sayu itu berlari mencari tempat teduh yang tak jauh dari tempat kedua orang yang merawatnya di makamkan. Setelah anak itu berteduh, ia kembali memeriksa keadaan bayi bersurai blonde berkulit putih namun tidak pucat dalam pelukannya sekilas. Ia tersenyum nanar, mendapati bayi yang sudah di anggapnya adik itu tertidur dengan nafas yang teratur.


Kembali anak itu menatap batu nisan yang baru saja berdiri. Di mana semua para pelayat sudah pergi dan menyisakan dirinya seorang saja. Pikirannya menerawang ke beberapa tahun silam. Ketika dirinya baru di ketemukan oleh seorang pria berperawakan tinggi bersurai blonde.


Flashback...


Tap Tap Tap....


"Jangan lari kau pencuri!!" Teriak beberapa orang yang tengah mengejar seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7 tahun di depannya.


"Hosh,. Hosh.. Hosh.."


Anak itu terus berlari membawa dua potong roti gandum yang di dekapnya erat-erat dengan nafas tersengal-sengal. Tak di hiraukannya peluh yang mengucur semakin deras dari pelipisnya hingga membuat surainya yang menjuntai menutup pelipisnya itu kini menjadi lepek. Tak di pedulikannya telapak kakinya yang tidak beralas mulai memerah bahkan berdarah hingga lecet karna panasnya aspal pada siang hari itu membakar kulit kakinya. Anak itu hampir saja menangis kalau saja saat ini dirinya tidak sedang terdesak. Namun sebisa mungkin, dirinya berusaha untuk menahannya. Begitu juga rasa sakit dan perih yang mendera kulit telapak kakinya yang semakin melepuh. Bahkan anak itu menulikan pendengarannya ketika orang-orang yang mengejarnya terus meneriakinya maling.


'Ya Tuhan, 'ku mohon. Tolonglah aku.' Batin anak itu mengadu.


Wush!!


"Eh?!" Seorang pemuda terkesiap ketika ia hampir saja menabrak seorang anak yang tengah berlari. Pemuda itu kembali menarik langkahnya terkejut, ketika beberapa orang ikut berlarian mengejar anak itu. Sejenak ia terdiam, tapi detik kemudian pemuda tersebut ikut berlari saat telinganya menangkap suara mengenai anak itu yang di tuduh sebagai seorang pencuri.


Anak itu terus berlari dan berlari. Hingga ia menemukan sebuah tikungan dan berbelok ke tikungan tersebut, berharap mampu mengecoh orang-orang yang mengejarnya. Namun naas, siapa yang tahu bahwa ternyata jalan yang dirinya ambil merupakan jalan buntu. Anak itu mundur perlahan dengan nafas memburu, menatap tembok di hadapannya yang setinggi kurang lebih dari 2 meter itu. Tidak mungkin dia memanjat tembok yang tingginya hampir tiga meter. Tapi ketika anak itu berbalik, jantungnya nyaris copot karna orang-orang yang mengejar dirinya sudah berhenti dan memblokir jalan untuknya keluar. Bahkan sedikit celahpun tak ada untuk dia mencoba melarikan diri.


Jantungnya mulai berdetak sangat cepat, nafasnyapun memburu. Rasa perih dari telapak kaki yang lecet dan berdarah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar. Hingga rasanya dia ingin mati. Tubuhnya mulai terhuyung jatuh ke tanah karena tidak mampu menopang tubuhnya dengan kaki terluka. Dalam hati anak itu terus merapalkan do'a dan pengharapan, semoga saja ada seseorang yang mau berbaik hati menolongnya dari amukan masa yang mengejar dirinya.


"Mau kemana lagi kau pencuri." ujar seorang pria gemuk yang merasa barangnya di curi. Ia tersenyum bengis dengan rasa jijik menatap anak itu.


Perlahan demi perlahan orang yang mengejarnya mendekat. Dan ia hanya bisa mundur menyeret pantatnya hingga terpojok. Membuatnya meringkuk takut dengan masih memeluk roti gandum yang ia curi.


"Hajar dia!!" Perintah pria gemuk itu. Namun ketika semua orang berteriak menanggapi dan hampir memberi pelajaran pada anak itu, sebuah suara mengintrupsi langkah mereka.


"Tunggu!!" Seorang pemuda dengan setelan kemeja rapi bersurai blonde dengan iris mata sapphire berhasil menenangkan mereka untuk sejenak, pemuda tersebut berjalan melewati kerumunan meminta untuk memberikan dirinya jalan agar dia mampu untuk mendekati anak itu. Pemuda tersebut sekilas menatap anak itu prihatin. Terlebih pada telapak kaki yang terluka parah dengan darah yang sudah mulai mengering dan tercampur debu. Pemuda itu meringis ngilu. Apa anak itu tidak memiliki alas kaki? Pikirnya. Pemuda itu lantas mengalihkan pandangannya, menatap tajam satu persatu orang yang sudah menghakimi anak kecil yang ia lindungi, namun tatapan orang-orang itu acuh tak acuh terhadapnya.


"Ada apa anak muda?! Apa kau keluarganya?! Kau kakaknya?! Kalau iya, ajari dia supaya tidak mencuri!" Pekik seorang bapak-bapak sengit.


"Iya! Benar itu. Urus dengan benar!" timpal yang lain menyetujui.


"Kecil-kecil sudah jadi pencuri. Apalagi nanti kalau sudah besar. Mau jadi apa, huh?!" mendengar cemoohan orang-orang di sekitarnya, anak itu semakin meringkuk dengan tubuh bergetar, mencoba menahan ketakutan juga rasa sakit yang tiba-tiba menyerang tubuhnya begitu hebat akibat luka pada kakinya yang semakin menjadi.


Pemuda blonde itu mendesah sembari menggeleng tidak habis pikir. "Saya bukan keluarganya. Dan maaf, seharusnya kalian sebagai orang yang lebih dewasa bukannya menghakimi anak kecil seperti ini sebelum tahu pokok permasalahannya, tuan-tuan." Kata pemuda itu. Dan seketika mampu menohok hati bagi siapapun yang mendengarnya. Akan tetapi, beberapa orang hanya mendengus penuh penghinaan dengan mata berputar malas.


Pemuda itu berbalik hanya untuk menatap anak yang meringkuk di belakangnya dan tersenyum. Pemuda itu berjongkok, terdiam sesaat sebelum berkata,"Dan kau, kenapa kau mencuri?" Kata pemuda blonde itu dengan nada lembut.


"La-lapar.. A-aku, aku, aku hanya lapar." Cicit anak itu terbata-bata membuat pemuda blonde tersebut tertegun untuk sesaat.


"Tapi kau tidak perlu mencuri bukan?" Hening. Anak itu tak kembali bersuara. Tapi sedetik kemudian setitik liquid bening menetes dari pelupuk mata sayu anak itu tanpa di sadari, dan seketika pemuda tersebut termangu sedikit mengernyit.


"Dimana rumahmu?" Anak itu ragu sesaat sebelum menggelengkan kepalanya.


Paham dengan jawaban anak itu, pemuda itu lantas melirik ke arah tangan anak kecil itu yang mendekap dua potong roti gandum, lantas berbalik kembali untuk menghadapi orang-orang yang mengejar anak tersebut.


"Berapa harga untuk dua roti gandum ini?" Tanya pemuda blonde itu kepada orang-orang yang masih berdiri di hadapannya.


"1,4 dollar." Pemuda blonde itu mendengus geli. Hanya dua dollar, tapi penjual itu tidak mau mengikhlaskannya? Benar-benar keterlaluan.


Kemudian, pemuda itu langsung mengambil dua lembar uang di dalam dompet, lantas memberikan uang itu pada si penjual tanpa meminta kembaliannya dan langsung membubarkan kerumunan itu untuk pergi meninggalkan mereka.


"Makanlah. Aku sudah membayarnya. Kau tidak perlu khawatir." Pemuda blonde itu tersenyum hangat menghadap anak bersurai dark brown di depannya.


"Te-terima kasih, tuan." ujar anak itu masih tidak berani menatap mata pemuda tersebut.


"Panggil aku Thomas saja. Aku masih berusia 20 tahun."


"Ah, ya kak Thomas." Anak itu lalu memakan roti di tangannya dengan sangat lahap. Dia bahkan tidak peduli kalau dia baru saja tersedak karena butuh air untuk mendorong roti itu ke dalam tenggorokannya.


Thomas tersenyum melihat anak itu makan dengan begitu lahapnya. Di ambilnya botol minum yang sering ia bawa dan menyodorkannya pada anak itu. Dengan cepat anak bersurai dark brown itu menerima botol air milik Thomas dan langsung meminumnya hingga tandas. Hal itu membuat Thomas terkekeh geli.


"Siapa namamu?"


"Alfred. Alfred Arshavin Frederick." Jawab anak bernama Alfred itu.


Kemudian, Thomas memposisikan tubuhnya berjongkok dan membelakangi Alfred, kedua tangannya terulur ke bawah dengan sikap siap menampung. "Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu."


Alfred tertegun untuk sejenak, dia memperhatikan antara punggung tegas milik Thomas dan melirik wajah pemuda itu ragu. Karena merasa dirinya di abaikan, Thomas menoleh untuk menatap Alfred kembali. Dia tersenyum maklum, "Kakimu sakit. Dan aku tahu kau tidak mungkin bisa jalan. Aku hanya ingin menolongmu, apa aku terlalu berlebihan?"


Alfred terkesiap dengan perasaan campur aduk. Buru-buru Alfred menggeleng keras tanda dia merespon, Thomas tersenyum kembali, "Maka naiklah. Aku akan mengantarkanmu pulang." Alfred sedikit terkejut dengan tindakannya. Namun detik berikutnya, dia benar-benar naik ke atas punggung Thomas. Pemuda itu lantas bergegas berdiri dan  keluar meninggalkan gang buntu itu.

__ADS_1


"Orangtuamu bagaimana?" Sontak Alfred menyendu dengan tangan terkepal erat ketika Thomas mempertanyakan kedua orangtuanya.


"...Mereka sudah meninggal." Tubuh Thomas menegang seketika dan menghentikan langkahnya untuk sesaat sebelum kembali berjalan. Dirinya sedikit merasa bersalah ketika menanyakan hal tersebut. Namun jika dia tidak bertanya, bagaimana ia harus memperlakukan anak yang ada di gendongannya saat ini secara benar?


"Tempat tinggal?" kali ini Alfred menggeleng. Dan Thomas cukup paham. Dengan begitu dirinya bisa merawat anak ini tanpa harus memikirkan untuk mengembalikan Alfred ke orangtuanya atau orang yang bertanggung jawab merawatnya.


"Baiklah. Maukah kau ikut denganku? Mulai sekarang aku adalah kakakmu. Kau adalah adikku. Apapun yang kau hadapi, bilang padaku kalau ada apa-apa. Jangan lagi mencuri. Kau minta saja apa yang kau butuhkan dariku. Bagaimana dengan itu?" Tukas Thomas panjang lebar. Alfred terdiam sesaat merasa tidak percaya. Apakah orang ini benar-benar serius?


Alfred skeptis dengan apa yang dia fikirkan. Dan Thomas yang menyadari bahwa Alfred masih terdiam ragu, meliriknya lewat ekor matanya meminta jawaban.


"Apa.. Kak Thomas serius?" Thomas tersenyum simpul padanya memaklumi ketidakpercayaan anak itu.


"Tentu saja! Aku menyukaimu. Karena itulah aku ingin membawamu bersamaku."


Alfred tersenyum tipis, namun dirinya masih belum bisa percaya. Meskipun demikian, akhirnya dia menyetujuinya.


"Terima kasih, Kak Thomas."


Sesampainya di rumah sederhana milik Thomas, dimana di sekeliling halamannya terdapat kebun bunga berbagai macam jenis dan berbagai macam pepohonan, Thomas langsung merebahkan Alfred di sofa tamu. Meninggalkannya sejenak untuk mengambil kotak P3K juga air hangat untuk mengompres dan membersihkan telapak kaki Alfred yang terluka sebelum di obati.


Alfred mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mengamati tiap detail arsitektur dari bangunan itu.


"Kak Thomas, kau tinggal sendiri di rumah ini?" Tanya Alfred, saat Thomas telah kembali dengan peralatan medisnya.


"Ya. Tapi kadang Adelina temanku datang untuk membantuku membersihkan rumah atau sekedar untuk berkunjung." Jawab Thomas, seraya menyiram telapak kaki Alfred yang terluka dengan air hangat. Membuat sang empunya mendesis menahan nyeri juga nyaman secara bersamaan.


Alfred hanya mengangguk saja. Sambil mengamati kakinya yang di perban oleh Thomas. Tatapannya menyendu, melihat Thomas yang begitu peduli pada dirinya padahal ia hanya anak yang sudah tidak di inginkan oleh sanak keluarganya juga tidak memiliki tempat tinggal tetap. Hidupnya hanya terluntang-lantung di jalanan dan mengharap belas kasihan orang yang mau memberinya makan hanya untuk bertahan hidup. Meski kadang, ia juga bisa memancing dan memasak ala kadarnya setelah mencari bahan di hutan dekat tempat tinggalnya dulu. Mau mencari kerjapun, dia masih di bawah umur. Pernah dia masuk ke panti asuhan. Tapi selalu mendapat perlakuan buruk. Alhasil dia mencoba melarikan diri. Tidak berfikir ke depannya akan sangat berat daripada di panti asuhan itu sendiri.


Betapa beruntungnya dia bisa bertemu dengan Thomas sekarang. Meski ia belum tahu bagaimana ke depannya. Tapi melihat perlakuan lembut Thomas membuat dirinya yakin bahwa Thomas adalah orang yang baik.


"Sudah beres. Duduk dan beristirahatlah di sofa dulu. Aku harus menyiapkan makanan untuk kita makan siang." Alfred hanya mengangguk saja tanpa mau membantah.


Toh kalau dia membantu yang ada percuma saja Thomas mengobati lukanya, kalau nanti membuat luka itu terbuka lagi. Dan akhirnya ia memilih merebahkan dirinya hingga tanpa sadar kedua matanya terpejam dan menyelam ke alam mimpi.


*******


6 bulan telah berlalu. Dan selama itu pula Alfred hidup dengan penuh kecukupan. Ia tidak lagi merasa kesepian. Tidak lagi harus mencuri ataupun meminta-minta demi mendapatkan sesuap nasi sekedar untuk makan. Thomas benar-benar sosok kakak dan ayah yang baik baginya. Dan tak lama setelah Thomas menjadi saudaranya, ia juga di perkenalkan oleh Thomas seorang wanita bersurai dark brown bernama Adelina. Alfred cukup tahu, bahwa Adelina bukanlah teman dari kakak angkatnya Thomas.


Meski begitu, ia hanya bisa diam dan memperhatikan mereka. Adelina juga baik padanya. Sama dengan perlakuan yang di berikan oleh Thomas terhadapnya. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga seperti Thomas dan juga Adelina.


Selama enam bulan itu, Alfred mengetahui bahwa hubungan mereka lambat laun menjadi serius. Seperti saat ini.


Hari ini adalah hari pernikahan antara Adelina juga kakaknya Thomas. Alfred ikut bahagia bila melihat keluarga barunya bahagia.


Alfred tidak sekolah. Tetapi dia akan menyempatkan diri untuk belajar dari Thomas yang merupakan seorang guru. Thomas hanya mengatakan bahwa Alfred harus mengejar ketertinggalan terlebih dulu sebelum ia siap masuk sekolah melalui homeschooling. Alfred cukup senang menerima semua itu. Tidak perlu sekolahpun, baginya tak mengapa. Karena dengan keadaannya yang sekarang saja sudah membuat dirinya nyaman.


Setelah Thomas akhirnya menikah, Thomas memutuskan untuk berbulan madu di kota New York. Dan mau tidak mau, dia harus meninggalkan Alfred seorang diri, meskipun dia ingin membawa anak itu pergi. Sebenarnya Thomas tak tega, namun Alfred sendiri mendesak agar mereka harus tetap pergi tanpa membawanya. Tak masalah dia berada di rumah seorang diri. Toh sekarang ia sudah bisa memasak karena Thomas sering mengajari dirinya untuk berjaga-jaga kalau Thomas tidak pulang. Meskipun usianya baru menginjak 7 setengah tahun, namun Alfred ternyata memiliki otak yang terbilang cukup cerdas. Sayang. Ia harus rela hidup tanpa keluarga yang bisa menyekolahkannya.


"Hati-hati di rumah Alfred. Dan, aku juga sudah meninggalkan uang untuk keperluanmu selama satu minggu di laci kamarmu." Tukas Thomas.


"Baik Kak Adel, kak Thomas. Kalian juga hati-hati. Selamat menikmati liburan kalian." Jawab Alfred.


Dan Thomas juga Adelina akhirnya berangkat menuju New York dengan mobil pribadi mereka. Alfred sendiri di sediakan sebuah sepeda untuk keperluannya kalau-kalau ingin keluar membeli sesuatu yang jauh.


Selama 1 minggu itu, Alfred habiskan untuk belajar juga mengurus dirinya sendiri. Dia tidak memiliki teman bermain meski wajahnya tergolong tampan. Anak itu memiliki satu titik hitam di dagu kanannya yang membuatnya semakin mempesona. Siapapun yang melihatnya, sudah di pastikan akan tersihir oleh ketampanannya.


*********


Satu tahun berlalu. Adelina kini tengah mengandung dan genap 3 bulan usia kandungannya. Mendengar kabar baik dari sang istri, tentu saja membuat Thomas bersyukur atas anugrah yang ia dapat. Begitu pula dengan Alfred. Meski ekspresi wajahnya datar, anak itu senang ketika mendengar berita bahwa Adelina akan memiliki seorang anak. Dengan begitu ia akan memiliki teman bermain. Tidak terus bermain atau mengobrol dengan Thomas juga Adelina yang notabene sudah dewasa dan sudah berumah tangga. Bahkan perhatian Thomas tidak akan sama lagi seperti pertama kali mereka bertemu.


Lain halnya jika nanti anak mereka lahir. Ia bisa menghabiskan banyak waktu bersama bayi itu di saat orangtuanya bekerja. Ia bisa menjadi kakak yang baik untuk anak Adelina nantinya. Menjaga layaknya seperti adik kandung sendiri.


Dan hari itu tiba. Memasuki usia kehamilan 9 bulan, Adelina langsung di bawa ke rumah sakit ketika kandungannya mengalami kontraksi. Cepat-cepat Alfred memanggil taxi dan mengantar Adelina ketika Thomas tak bisa mengantar sebab masih berada di jam mengajarnya di sekolah.


"Alfred, sakiit..!!" Pekik Adelina terus meronta kesakitan.


"Iya Kak Adel. Sabar. Tahan dulu. Sebentar lagi kita sampai." Sebisa mungkin Alfred tetap tenang meski pikirannya sebenarnya juga panik dan kalut. Mengingat usianya terbilang masih sangat muda dan belum mengerti soal kehamilan.


"Pak, tolong cepat sedikit. Kakak saya sudah mau melahirkan." Pinta Alfred memohon kepada sopir taxi.


Dan sang sopir akhirnya menambah kecepatannya. Tak lama kemudian mereka sampai. Sopir itu membantu Alfred memapah Adelina. Hingga dua orang satpam penjaga pintu masuk rumah sakit bereaksi mendekati mereka.


"Tolong suster!!" Pekik Satpam yang melihat Adelina berjalan kepayahan.


Beberapa perawat langsung mengambil brankar dan membantu Adelina naik. Cepat-cepat perawat yang lain segera memanggil dokter kandungan. Dan sebagian lagi mendorong brankar Adelina menuju ke ruang UGD. Sementara itu Alfred langsung mengurus administrasi untuk persalinan Adelina.


Jerit serta tangis dari Adelina menggema di setiap lorong rumah sakit memanggil nama sang suami. Alfred menyusul perawat itu menuju ruang UGD dan menunggu di depan ruangan itu. Ia juga sudah menghubungi Thomas yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Tak lama kemudian, Thomas tiba dengan tampang kusut juga pakaian yang sedikit berantakan karna panik.


"Bagaimana keadaannya, Alfred?"


"Masih dalam penanganan dokter, kak. Duduklah dulu." Tanpa menyahut, Thomas lantas duduk bersebelahan dengan Alfred. Matanya berkali-kali melirik arlojinya juga lampu UGD yang masih menyala merah. Membuat jantungnya berdegub tak beraturan.


"OOEEKK... OOEEK..." Suara bayi menangis menggema di dalam ruang UGD satu jam kemudian. Hingga Thomas pun samar-samar mendengar suara tangisan bayi itu.


Sontak Thomas menoleh ke arah lampu UGD yang kini meredup. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya ketika tangisan bayinya terus terngiang di telinganya.


Pintu UGD terbuka. Menampilkan sosok istrinya yang terkapar tidak berdaya juga tak sadarkan diri, kini tengah di dorong keluar menuju kamar perawatan. Thomas lantas menghampiri seorang wanita berjas putih yang mengikuti brangkar Adelina dari belakang.


"Bagaimana keadaan istri saya dan anak saya, dokter?"


Wanita dengan jas putih itu tersenyum simpul. "Mari ikut ke ruangan saya. Kita bicarakan di sana." Thomas tidak menjawab. Namun mengikuti langkah sang dokter menuju ke ruangannya.

__ADS_1


"Alfred. Tolong jaga Adelina sebentar." Alfred mengangguk sebagai jawaban sebelum mereka pergi ke ruang tujuan mereka masing-masing.


"Istri dan juga anak anda sehat. Selamat, anak anda seorang perempuan." Jelas sang dokter tersenyum hangat ketika Thomas berada di hadapannya.


Thomas menghela nafas lega. "Namun putri anda sedikit lemah, tuan. Saya belum memastikannya secara langsung." Jujur saja Thomas sedikit was-was dengan kelanjutan dari penjelasan dari dokter yang menangani persalinan istrinya. Terlebih ketika itu menyangkut anaknya.


"Saya akan terus memantau perkembangan putri tuan selama proses pemeriksaan." Tukas sang dokter. Thomas tidak terkejut juga tidak terlalu shock. Baginya. Selama putrinya sehat itu sudah lebih dari cukup.


"Baik dok. Saya harap dokter bisa melakukan yang terbaik untuk putri dan istri saya."


Sang dokter tersenyum maklum. "Anda tenang saja. Saya pasti akan melakukannya."


Dan dengan itu Thomas bisa bernafas lega. Ia lalu undur diri menemui istri juga adik angkatnya yang ternyata Adelina telah sadar dan sedang menyusui anak mereka. Benar kata dokter itu. Putrinya sangat manis dan menggemaskan karna putrinya memiliki pipi gembil. Fisiknya tidak ada yang menyerupai Adelina. Mata juga rambut putrinya menyerupai dirinya. Namun wajahnya cantik seperti ibunya.


"Thomas. Lihatlah putri kita. Dia mirip sekali denganmu, kan? Haha..."


"Tapi dia memiliki wajah sepertimu." Timpal Thomas. Ia lalu menoleh pada Alfred dan tersenyum.


"Alfred. Maukah kau berjanji untuk menjaga bayi kami?" Pinta Thomas berharap. Alfred tentu tidak akan menolak. Ia mengangguk tegas sebagai jawaban.


"Terimakasih." Adelina mengusap lembut surai dark brown milik Alfred sayang.


"Kau ingin memberi nama siapa?"


Adelina diam, mengamati wajah cantik putrinya yang tertidur lelap sembari tersenyum.


"Bella!!"


.


.


.


Thomas mendapat sebuah undangan dari temannya untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan. Entah sengaja atau tidak, Thomas juga Adelina tidak membawa serta bayinya dan meninggalkan Bella yang berusia 5 bulan itu untuk di asuh oleh Alfred.


Sebelum keduanya pergi, Thomas sempat memindahkan seluruh aset hartanya di laci lemari milik Alfred yang berbentuk brangkas dan hanya Thomas, Adelina juga Alfred yang tahu soal password brangkas itu.


Perjalanan mereka berdua menuju tempat pesta pernikahan tampak seperti biasanya. Di mana mereka saling bersenda gurau ringan. Namun ketika tiba-tiba hujan mulai turun di malam yang hampir memasuki tengah malam dengan lebat, Thomas mencoba untuk mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah dan sangat hati-hati. Karena hujan turun yang di sertai angin, membuat penglihatan Thomas terganggu. Terlebih kaca pada mobilnya mulai mengembun mengaburkan pandangannya.


Dari arah berlawanan, seorang sopir truk kayu justru mengemudi dalam keadaan mengantuk. Sehingga membuat truck yang di tumpangi sopir itu berjalan zig zag tak beraturan. Hingga....


"Thomas AWAS.!!"


"AAARGH!!!"


Adelina berteriak memperingati suaminya. Namun Thomas yang terlambat menyadarinya langsung banting stir ke kiri begitu juga sopir tersebut. Tetapi nasib berkata lain. Truk itu justru oleng hilang keseimbangan, membuat kayu balok yang masih utuh dari mobil truk serta merta menimpa atap mobil bagian belakang milik Thomas hingga penyok.


Beruntung kayu itu tidak menimpa bagian depan. Namun naas, Adelina tidak bisa terselamatkan ketika mobil ambulance telah berhasil membawa mereka ke rumah sakit. Begitu juga sopir truk itu yang meninggal di tempat. Thomas sendiri beruntung masih bisa bertahan walau nafasnya sudah tersengal-sengal karena sekarat.


Alfred sontak shock saat mendapat kabar dari seorang polisi bahwa kedua kakak angkatnya mengalami kecelakaan. Namun sesegera mungkin ia langsung melesat ke rumah sakit. Berharap mereka masih bisa di selamatkan. Ia bahkan terpaksa membawa Bella yang menangis keras saking paniknya.


"Thomas!" Pekik Alfred menghampiri brankar di mana tubuh Thomas berada. Di lihatnya Thomas yang memakai alat bantu pernafasan.


"Al-al, Alfred. Kemarilah. Hah..hah.." Alfred langsung mendekati Thomas. "Tolong, jaga anak kami. Kau sudah tahu bagaimana kondisinya bukan?" Alfred mau tidak mau hanya bisa mengangguk. Bahkan ia kini tak sadar telah menangis.


"Semua kebutuhan kalian sudah 'ku asuransikan. Pergunakanlah semua itu sebaik mungkin. Kami sayang kalian." Dan setelah mengatakan itu semua, Thomas menghembuskan nafas terakhirnya dan benar-benar pergi. Mungkin nyawanya masih di tangguhkan demi untuk memberikan ucapan terakhir pada Alfred.


Alfred diam tak bergeming menatap tubuh Thomas yang kini menjadi mayat dengan sorot mata kosong.


Kini, tak akan ada lagi canda tawa di rumah sederhana milik mereka. Tak ada lagi perdebatan antara keduanya yang mencairkan suasana tegang. Tak ada lagi masakan lezat buatan Adelina dan Thomas, tak ada lagi senyum ceria keduanya, tak ada lagi yang mengajarinya untuk melanjutkan sekolah. Semua terasa hampa. Semua hilang. Untuk apa mereka meninggalkan semua itu jika tak ada lagi kebahagiaan? Dia kini hanya memiliki seorang adik. Adik yang sangat mirip dengan guru-nya sekaligus kakak. Dia berharap, Bella akan menjadi sosok yang ceria melebihi kedua orang tuanya. Agar kelak ia menjadi seorang gadis yang tangguh juga kuat meski cobaan menerpanya. Tak akan ia biarkan siapapun menyakiti adiknya. Sampai kapanpun. Hidupnya akan ia abdikan untuk menjaga adik satu-satunya. Itu janjinya pada Thomas juga pada dirinya sendiri.


Flashback Off..


"Aku berjanji seumur hidupku. Aku berjanji akan menjagamu sampai kapanpun, Bella."


*******


Di sebuah negara tetangga, seorang wanita paruh baya tersentak. Gelas teh yang di genggamnya jatuh dengan suara mencekam. Pelayan-pelayan berhamburan datang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Tuannya tengah melamun, pandangannya kosong menatap gelas teh yang telah hancur di atas lantai. Tidak ada yang berani mendekat. Beberapa pelayan hanya bisa menunduk takut melirik satu sama lain. Seolah mereka berbicara melalui sorot mata mereka.


Hingga salah seorang pelayan wanita dengan busana yang terlihat tampak berwibawa datang. Wanita itu terdiam sejenak melihat pecahan keramik yang pecah, lalu melirik pelayan-pelayan yang hanya terdiam tidak jauh darinya. Menghela nafas berat, wanita itu kembali berjalan mendekati tuannya.


"Ambilkan pembersih untukku." perintahnya. Salah satu seorang pelayan yang sedari tadi berdiri beranjak dari tempatnya, segera melaksanakan tugas yang di berikan.


"Nyonya besar, apa yang terjadi?" tanya wanita itu lembut pada seorang wanita paruh baya yang sudah hampir memiliki usia lima puluh tahun. Tapi tetap terlihat muda.


Nyonya itu tidak menyahut. Dia masih bergeming di tempatnya dengan pandangan kosong menatap lantai marmer di hadapannya.


"Masih memikirkan tuan muda?" mendengar wanita itu bersuara, nyonya pemilik rumah itu bereaksi. Melirik wanita itu tanpa kata. Wanita itu tersenyum maklum, "tuan muda pasti akan baik-baik saja di luar sana nyonya."


"Haㅡah... Bagaimana aku bisa tenang setiap hari? Memikirkannya saja membuat kepalaku rasanya mau pecah."


"Nyonya. Berfikirlah positive. Saya yakin tuan muda pasti baik-baik saja."


Nyonya itu kembali menghela nafas pasrah. Mengangguk-anggukkan kepalanya setuju,"Aku rasa kau benar. Aku hanya harus membiarkannya sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah salah."


Wanita yang menjabat sebagai kepala pelayan itu tersenyum hangat. Setelah dirinya berhasil membersihkan gelas kaca yang hancur berkeping-keping, dia menyerahkannya pada seorang pelayan untuk meneruskannya dan beralih mendekati tuannya.


"Nyonya harus istirahat. Tidak baik jika selalu banyak pikiran, Nyonya. Jika tuan sampai tahu, dia pasti tidak akan bahagia."


Nyonya itu pasrah dan berdiri ketika kepala pelayan itu memapahnya. Membimbingnya berjalan menuju ke ruang tengah.

__ADS_1


"Saya akan segera kembali." Nyonya itu hanya bergumam sebagai respon. Setelah kepala pelayan itu pergi, wajahnya kembali menyendu, pikirannya melayang pada sosok pria muda yang sangat di sayanginya. Di lihatnya potret besar yang terpasang apik di dinding ruangan, di sana terlihat sosok dirinya beserta suaminya. Di sampingnya, seorang pria muda dengan perawakan tinggi dengan surai blonde bermata sapphire tengah tersenyum menawan. Kembali Nyonya itu mendesah.


"Thomas. Where are you now? I miss you."


__ADS_2