Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Kau Dan Dirinya


__ADS_3

"Bella Aberald. Aku mencintaimu."


Dheg!!


Jantung gadis blonde itu nyaris berhenti berdetak. Kala dirinya mendapatkan pernyataan yang tak pernah di duganya selama ini. Tubuhnya seketika membatu. Menatap pemuda yang berbeda satu tahun dari usianya yang ada di depannya itu dengan sorot mata yang sulit di artikan.


Hening.


Mereka hanya saling menatap satu sama lain tanpa mampu berkata-kata. Seolah dari mata mereka sudah bisa berbicara. Lidah Bella menjadi kelu, suaranya tercekat di kerongkongannya menyebabkan suaranya tertahan tidak mampu keluar. Gadis itu hanya bisa membuka tutup mulutnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Hingga..


Krriingg!!!


Suara bel masuk kelaspun akhirnya mengintrupsi dirinya dari mematung dan membuatnya kembali tersadar juga bergerak.


"A-a-aku, aku.. A-aku, i-itu.. Edward. Kita harus masuk sekarang. Ayo! Nanti kita telat." Elak Bella hanya bisa terbata-bata.


"Bell–"


"Aku duluan, Edward. Kau juga harus kembali secepatnya!" Potong Bella berbalik pergi dan berlari secepat mungkin meninggalkan pemuda itu tanpa menghiraukan Edward yang mendengus dalam kekecewaan.


Tap  Tap  Tap...


Brakk!!


Hanya tinggal Edward yang masih tertinggal di rooftops. Menatap pintu atap yang kembali tertutup rapat yang membuat sosok Bella menghilang di telan ke dalamnya.


Desauan angin kencang menggoyangkan helai surai emo miliknya. Edward masih tetap mematung dengan sorot mata yang terluka juga kecewa. Setidaknya ia bisa mendengar apa jawaban yang akan di berikan oleh Bella terlebih dahulu. Namun apa? Gadis yang ia cintai justru kini meninggalkan dirinya seorang diri tanpa mengatakan apapun sebagai jawaban atas pernyataannya. Apa salahnya? Dia hanya mengatakan tentang perasaannya. Apa karena dia menyatakan perasaannya secara terburu-buru, hingga membuat Bella jadi bersikap seperti itu? Apa Bella terlalu terkejut, karena dia baru bisa memberitahu gadis itu tentang perasaannya? Atau.. Gadis blonde itu kecewa?


"Apa jawabanmu untukku, gadis bodoh?" Tanyanya pada angin yang bertiup kencang. Seolah ia berharap lewat angin bisa mengirim dan menyampaikan semua isi hatinya pada gadis blonde itu selama ini.


'Bella, kamu selalu saja pergi meninggalkanku, tapi aku merasa seperti orang bodoh yang masih saja terus mencintaimu.' Monolognya dalam hati. Ia tersenyum miring meratapi kebodohannya saat ini.


Alfred sudah memasuki kelasnya tepat saat bel masuk berhenti berbunyi. Dua jam pelajarannya di hari senin di kelasnya sendiri. Di mana di sana adalah kelas Bella berada.


"Yo!! Semua. Selamat pagi!" Sapanya. Sembari mengedarkan pandangannya ke satu siswa ke siswa yang lain. Tapi pandangannya seketika terjatuh pada satu bangku yang sangat di kenalnya.


Merasa bila bangku milik sahabatnya yang kosong di perhatikan oleh guru matematikanya yang menurutnya sadis itu, keringat dingin Ken langsung merembes keluar karena gugup. Ia bergerak gelisah sekarang. Kadang-kadang ia menyempatkan diri untuk mencuri lirik ke arah Alfred guru killer-nya, namun gagal. Alfred tetap memperhatikan bangku Bella juga bangku Edward yang memang tidak jauh.


"Apㅡ"


Tok  Tok  Tok...


**********


Sepeninggal Bella dari atap, gadis blonde itu hanya bisa menunduk lesu di tangga yang sedikit jauh dari posisi rooftops. Gadis blonde itu tidak pernah menyangka bila sahabat semasa kecil yang sudah di anggapnya seperti saudara itu, kini menyatakan perasaannya pada dirinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Di sisi lain, ada Alfred kakaknya yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya seutuhnya. Bukan hanya sebagai kakak saja baginya, namun mungkin...kekasih. Tidak mungkin dia mengecewakan kakaknya itu, kan? Dan lagi, Bella tidak merasakan apapun seperti saat ia merasakan sesuatu yang menyenangkan ketika berdekatan dengan Alfred.


Haㅡah.. Berkali-kali gadis blonde itu hanya bisa mendesah. Cepat-cepat ingin segera sampai di kelas dan pulang. Terlalu rumit baginya untuk bisa mencerna segalanya.


Sesampainya di depan kelasnya, ia langsung mengetuk pintu seraya menunduk dalam.


"Maaf pak. Saya terlambat." Bella membungkuk tanda menyesal. Namun sorot matanya terlihat bahwa ia sedang tidak fokus pada orang di depannya itu.


Alfred menatap lekat pada wajah adiknya. Berharap ia bisa menemukan sesuatu yang salah di sana. Ia mengernyit ketika mata obsidiannya menangkap sorot sapphire Bella yang kosong dan menerawang jauh. Ada apa dengan adiknya? Fisiknya di sini, tapi fokus pikirannya hilang entah kemana.


"Duduklah. Jangan di ulang kembali." Alfred bukanlah orang bodoh yang bisa di bohongi begitu saja. Ia tentu tahu dengan perubahan sikap Bella yang tiba-tiba tampak melamun. Sekarang tinggal Edward yang belum masuk.


Tunggu! Edward? Ah, ya. Apa ada hubungannya dengan pemuda itu, Bella menjadi linglung seperti ini? Alfred jelas tahu, mood gadis itu pagi ini sangat baik. Dia bisa melihat binar bahagia pada sorot iris sapphire milik adiknya.


"Lalu, dimana Edward Lincoln?" tanya Alfred lebih kepada seluruh isi kelas.


Mereka hanya bisa menatap satu sama lain seolah mereka bertanya dan mengatakan tidak tahu.


"Pak Alfred, itu dia datang!" pekik salah satu siswa menunjuk ke arah pintu kelas m. 


Benar saja. Pemuda emo itu masuk dengan raut muka yang tidak beda jauh dengan Bella namun terkesan dingin tak tersentuh. Sebenarnya ada apa, ini? Kenapa mereka berdua terlihat berbeda? Dan.. Alfred terkesiap saat melihat tubuh Bella yang tiba-tiba menegang ketika Edward berjalan melewatinya.


"Bella, kau baik-baik saja? Aku lihat wajahmu sangat pucat. Apa yang Edward bicarakan padamu?" tanya Ken, berbisik tepat di telinga gadis itu sedikit merasa khawatir.


"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja Ken." hanya itu yang bisa di katakan oleh Bella sebagai respon. Ia tidak ingin menceritakan masalahnya di saat pelajaran kakaknya di mulai. Jangankan pelajaran kakaknya, pelajaran guru lain pun Bella tidak akan berani mengobrol di saat jam pelajaran di mulai.


Diam-diam Bella menoleh ke samping. Di mana Edward duduk. Dan itu tidak lepas dari penglihatan mata tajam milik Alfred. Bella tampak takut saat melihat Edward yang kini hanya bisa menunduk tanpa ekspresi. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba hinggap di benaknya. Merasa kasihan juga tidak tega sudah bersikap tidak seharusnya tadi. Tapi ketika Edward mendongak melirik gadis itu, secepat kilat Bella langsung berbalik membuang muka ke depan. Menghindari kontak mata dengan Edward secara langsung. Alfred melihat ada sorot terluka di mata onyx milik Edward ketika menatap Bella. Apa mereka punya masalah?


Dia tidak berani ikut campur.


Menghela nafas sejenak, ia lantas mengalihkan pemikirannya itu untuk kembali fokus pada pelajarannya. Ia tidak mungkin terus menerus memperhatikan keduanya sementara ia memiliki tanggung jawab untuk mengajar.


"Baiklah, kalian buka buku paket halaman 203. Kalian kerjakan yang paket A."


"Baik pak." Jawab semua siswa lalu mengerjakan perintah yang di berikan oleh guru mereka dengan sikap tenang.


Selama pelajaran, Alfred menyempatkan diri untuk berkeliling. Memperhatikan siswa-siswinya mengerjakan tugas yang ia berikan sembari membaca novel favoritnya. Siapa tahu salah satu dari siswanya ada yang kesulitan dalam memahami soal-soal berumus itu.


Kembali matanya menangkap sosok adiknya yang tengah melamun. Apa tugasnya sudah selesai, sampai adiknya itu berani melamun?


"Bella, ajari aku soal yang ini." Ken menyenggol bahu Bella pelan, namun cukup mampu membuat gadis tersebut kembali tersadar dari lamunannya.


"I-iya Ken." Ken mengernyit semakin cemas dengan perubahan suasana hati sahabatnya itu. Tetapi dia tidak berani untuk bertanya lagi.


"Hey, kau benar-benar tidak ada masalah dengan si Lincoln itu, kan?" Ken tidak tahan dan akhirnya kembali bertanya memastikan. Ia takut kalau Bella memiliki masalah dengan orang macam Edward yang menurutnya irit ekspresi itu. Apalagi ia sempat dengar kalau pemuda itu bertempramen buruk. Pastilah ia cemas dan takut sahabatnya itu kenapa-kenapa.


Bella menggeleng sebagai jawaban. Dan Ken mau tidak mau harus menyerah lantas hanya bisa mendengus kasar menatap lekat Bella. "Bell. Jangan pernah menyimpan masalah sendiri. 'Ku harap kamu mau cerita padaku kalau kau masih menganggapku sahabatmu. Itupun kalau menurutmu, apa yang sedang kamu rasakan perlu untuk di ceritakan." Tukasnya mengingatkan Bella. Membuat gadis itu tersenyum hangat padanya.


"Terimakasih Ken. Aku menyayangimu. Kau memang sahabat terbaikku, Ken. Beruntungnya aku." Kata Bella dengan suara bergetar karena merasa terharu.


Dari pojok ruangan, tak jauh dari keduanya Alfred tersenyum tipis dari balik bukunya. Meski jarak mereka lumayan jauh, namun pembicaraan keduanya mampu di dengar oleh Alfred. Ia merasa bersyukur adiknya masih memiliki sahabat yang baik meski memiliki kemampuan di bawah rata-rata untuk pelajarannya.


Diam-diam Edward memperhatikan Bella dengan tatapan sendu. Dia juga bisa mendengar percakapan mereka. Dalam hati dia bertanya, apa pada akhirnya dia memang harus menyerah untuk mencintai gadis itu? Kenapa hanya untuk memiliki gadis blonde itu begitu sulit?

__ADS_1


"Ken, ada yang ingin ku ceritakan padamu nanti. Kau bisa, kan?" Ucapan Bella syarat akan permohonan untuk Ken.


"Tentu saja. Apa sih, yang tidak untuk kamu?" Goda Ken, mengerling seksi. Dan sontak mampu membuat Bella hampir tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sahabatnya yang tampak aneh.


**********


Bel istirahat berbunyi, seperti yang sudah di katakan oleh Bella sebelumnya. Saat ini Ken sedang menemani sahabat blondenya itu memakan kotak makan siangnya di bawah pohon willow tak jauh dari lapangan basket outdoor di sekolah mereka.


"Jadi Bell, apa yang ingin kau ceritakan?" Tanya Ken, setelah menghabiskan kotak makan mereka masing-masing.


Bella yang tadinya sudah bisa bercanda seperti biasanya, kini mulai menyendu. Membuat Ken merasa bersalah. Gadis blonde itu mendesah lelah. Mengalihkan pandangannya lurus ke depan sambil menikmati hembusan angin yang sejuk menerpa wajah juga helai blondenya yang melambai riang.


Ken masih setia memperhatikan Bella sembari menunggu sahabatnya itu mau membuka suaranya.


"Aku tidak tahu Ken, mana yang harus aku ceritakan padamu terlebih dulu." Ken mengerutkan keningnya dalam. "Kabar bahagiaku, atau terburukku." Imbuhnya menyendu.


"Mulai dari kabar bahagiamu dulu, Bell." Saran Ken. Bella tersenyum tipis lalu mengangguk setuju. Sejenak ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar lewat mulutnya.


"Aku.. Memiliki perasaan terhadap kakakku, Ken. Dan dia sepertinya juga sama."


"WHAT!! A-apa, apa Bell?! A-a-apa a-aku tidak salah dengar?!" Pekik Ken, histeris. Dia melotot tidak percaya ke arah Bella tajam. Membuat Bella berjengit mundur karena takut. Lalu mengangguk tanda menjawab 'iya'. "Ya Tuhan... Apa kau sudah gila, Bell?!" Imbuh Ken, berurat. Masih menatap Bella tajam.


"Tidak. Karena dia bukan kakak kandungku." Jawab Bella enteng.


"HAH?!! Serius?! Bagaimana bisa?" Balas Ken kembali terkejut. Ini benar-benar kabar yang membuatnya shock.


Bella kembali mengangguk. Takut kalau Ken malah menerkam dan memakannya.


"Ceritanya panjang, Ken. Tapi intinya, kami itu bukan saudara sekandung. Apalagi nama marga keluarganya. Benar-benar berbeda denganku dan kedua orangtuaku." Bella menjeda sejenak untuk mengambil nafas kembali. "Kemarin, waktu aku kabur dari sekolah dan kakakku menemukanku, dia mengajakku ke Wyoming beberapa hari. Dan disana dia mengajakku untuk mengunjungi makam keluargaku. Di sanalah kakakku memberitahuku semua kebenarannya."


Dan ceritapun mengalir dari bibir mungil Bella. Ken tentu saja tertegun. Tidak percaya kalau kakak Bella akan memiliki perasaan yang sama terhadap adiknya sendiri meskipun hanya adik angkat. Anak dari orang yang telah merawatnya. Meskipun memang bukan saudara sekandung, apa yang terjadi kalau sampai mereka masih tinggal serumah? Apalagi usia Bella saat ini masih terbilang di bawah umur. Tapi mendengar cerita Bella, membuat dirinya percaya, kalau kakak sahabatnya itu berbeda. Bella menceritakan semuanya ketika berada di kampung halaman aslinya. Saat kakaknya menemaninya kemanapun dan tidak ada yang terlewat sedikitpun.


"Haㅡah.. Begitulah Ken. Tidak masalah, bukan. Kalau aku menyukai kakakku. Mungkin kalau dia memang kakak kandungku, aku tidak akan mau mencintai dia sebagai orang yang aku sukai." Jelas Bella, sadar diri. "Apalagi setelah membaca semua pesanmu tentang ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Haㅡah.. Rasanya aku mau mati saja karena sudah berani menyukai kakak kandungku sendiri." Tambahnya mengerang frustasi sambil meremas surai blondenya kasar.


"Wah, aku masih tidak menyangka kalau kau akan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanmu itu pada kakakmu sendiri." Bella hanya mendengus geli, dia bahkan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Aku kira kau akan dengan si Edward itu." Celetuk Ken. Dan sukses membuat Bella terkesiap dan menyendu seketika. "Err.. Apa aku salah bicara?" Ujar Ken, ketika menyadari perubahan raut muka Bella yang menyendu.


"Tidak. Hanya saja... " ucapan Bella menggantung. Lidahnya terasa kelu tiba-tiba.


"Hanya saja apa?" Beo Ken.


.


.


Edward terus saja mendesah tiap kali mendribble bola basketnya berkali-kali dengan gerakan kuat.


TAK!!


Beberapa kali juga bola basket di tangannya masuk ke dalam ring dengan tepat sasaran.


JDAG.. DAG..


Edward melampiaskan kekesalannya dengan melempar bola basket miliknya itu ke sembarang arah. Tidak peduli kalau bola itu sampai mengenai orang lain nantinya. Ia hanya ingin melampiaskan kemarahannya saja seraya meraup wajahnya dengan kasar. Kakinya menendang angin yang tidak bersalah.


Saat ini ia berada si lapangan basket indoor. Lapangan yang biasa di pakai untuk ajang turnamen pertandingan antar sekolah.


"Kenapa?" Tanya Edward pada dirinya sendiri.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?!" Racaunya frustasi.


Untung saja lapangan indoor selalu sepi. Seperti hari ini. Hanya ada dia di ruang lapangan basket tersebut. Membuat dirinya lebih leluasa menumpahkan kekesalan dan emosinya di ruangan itu seorang diri.


"Andai saja. Andai saja kita bisa selalu bersama seperti dulu." Edward benar-benar di luar sifat aslinya yang tanpa ekspresi. Hanya karena gadis blonde yang tak lain adalah Bella, dia menjadi frustasi dengan perasaannya yang di obrak abrik tidak karuan sedemikian rupa.


.


.


"Aku tidak tahu, kalau Edward akan mengatakan tentang perasaannya padamu, Bell. Lalu perasaan kamu sendiri bagaimana?" Tanya Ken setelah mendengar semuanya dari Bella.


Gadis itu kembali mendesah. Ia sendiri juga tidak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas, dia hanya mencintai Edward layaknya saudara sendiri. Tidak lebih.


"Entahlah Ken. Aku juga tidak tahu harus bagaimana."


Sejenak suasana di antara mereka menjadi hening dan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba seorang gadis bersurai merah bermata emerald datang menghampiri mereka. Bella menatapnya seolah bertanya 'ada apa?'.


"Eerr... Bella, boleh aku minta tolong padamu?" Ujar gadis itu grogi. Jarinya saling bertaut gugup.


"Ya?"


"Katakan saja Gwen. Ada apa?" Ken menimpali sebagai ganti Bella merespon.


Gwen terdiam sejenak. Masih tidak berani untuk mengatakan maksud hatinya pada Bella yang selama ini tidak pernah dekat dengannya. "A-Apa k-kau.. bisa membantuku dekat dengan Edward sahabatmu itu, Bell? Aku..." Gwen menelan ludah kering takut.


Bella juga Ken terkesiap. Lalu mereka dengan gerakan pelan saling menatap satu sama lain. Berbicara lewat tatapan mata. Hingga tiba-tiba, sebuah smirks misterius muncul dengan kilatan penuh arti di sudut bibir mereka berdua. Membuat Ken juga Bella sama-sama saling terkekeh. Lalu tertawa bersamaan. Gwen jelas tidak mengerti kenapa kedua teman di depannya itu malah tertawa tidak jelas tanpa menjawab permintaannya itu?


"Kau tahu, Bella. Apa yang ku pikirkan saat ini?"


"Ya, Ken. Kau benar. Hihihi.." Bella nyengir lebar. Membuat Gwen sontak bergidik ngeri melihat kilatan seringaian keduanya.


"Mak Com.. Blang!! Haha!!" Seru keduanya kembali tertawa lepas. Seolah beban yang sempat di pikulnya tadi menghilang begitu saja menguap bersama tawa mereka.


"A-apa maksud kalian?" Tanya Gwen hati-hati.


"Ah, tidak ada, Gwen. Kami akan membantumu. Percayalah dan kau tenang saja." Ujar Ken meyakinkan. Tentu saja itu membuat Gwen tersenyum sumringah. Lega mendengar jawaban Bella juga Ken karena merasa di yakinkan.


"Terimakasih, Bella. Ken. Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa lagi kalua bukan sama kalian." Ucap Gwen, tulus. Ia tersenyum ke arah Bella yang juga tersenyum tak kalah lebarnya.

__ADS_1


"Santai saja." Bella menimpali.


Tak jauh dari mereka, beberapa siswa perempuan saling memekik girang ketika guru idola mereka berjalan di sepanjang koridor sekolah. Melihat hal itu, pandangan Ken, Bella juga Gwen beralih ke keramaian yang menghebohkan itu.


"Aku tidak menyangka wali kelas baru kita bisa setenar ini." Gwen nyeletuk. Masih memperhatikan kerumunan itu.


Bella melirik Gwen dengan tatapan yang sulit di mengerti. Antara cemburu juga kesal.


"Aku jadi penasaran, kenapa wali kelas kita selalu bertampang dingin tak tersentuh." Timpal Ken. Dan Bella lalu beralih melirik Ken yang terlihat penasaran.


"Kau benar Ken. Aku juga penasaran. Kau juga, kan. Bella."


"Huh?! A-a-ah.. Y-ya, kau benar." Jawab Bella gugup. Gwen sontak langsung menatapnya intens. Seakan mengintimidasi dirinya.


"Bella, kau.. Menyukainya ya~ hihi.." Tukas Gwen dengan nada sing song menggoda gadis blonde itu. Baginya yang dia pikirkan ketika melihat Bella bersikap gugup itu di karena ketahuan olehnya sebab memperhatikan guru wali kelasnya dengan sorot mata yang berbeda.


"Apa?! Tidak mungkin." Elak Bella cepat dengan membuang wajahnya menghindar. Ia tidak mau kalau sampai teman-temannya tahu yang sebenarnya siapa guru wali kelas mereka yang sebenarnya. Dia tidak mungkin memberitahu temannya kalau wali kelas mereka adalah kakaknya sendiri, kan?


"Bella tidak mungkin menyukai guru killer itu, Gwen. Karena Bella sudah menyukai orang lain." Ungkap Ken dan mendapat pelototan sayang dari Bella. Hal itu membuat Ken terkekeh kikuk dan menciut di pojokan.


Gwen tentu saja terkejut. "Benarkah? Siapa? Apa dia di sekolah ini juga, Bell?" Tanya Gwen antusias."


Belum Bella menjawab, seseorang dengan suara baritone telah menginstrupsi dirinya untuk menelan kembali kata-katanya. Mereka bertiga terkejut melihat siapa yang datang menghampiri mereka.


"Ah, ya pak Alfred. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Bella canggung. Aneh memang ketika harus memanggil kakak sendiri apalagi orang yang kita suka juga dengan sebutan Pak guru dan berbicara dengan bahasa yang formal. Tapi mau bagaimana lagi.


"Ada yang ingin ku bicarakan padamu. Aku tunggu di ruanganku, Bella." Dan setelah itu, Alfred berbalik pergi. Tanpa menyadari panggilannya pada Bella yang begitu akrab terdengar. Gwen yang memang pandai tentu terkejut mendengar panggilan yang di lontarkan gurunya pada Bella dengan begitu intens. Apa gurunya memiliki perasaan cinta terlarang terhadap muridnya sendiri? Haㅡah.. Mustahil, mustahil. Itu tidak mungkin, kan?


"Hey, kenapa Pak Alfed memanggilmu bukan marga keluargamu, Bell?"


Dheg!!


Mati!! Kenapa kakak bisa kelepasan? "A-ah.. a-aku tidak tahu. Ya sudah. Aku ke ruangannya dulu, Gwen, Ken. Bye bye."


.


.


.


Bella tidak percaya kalau Alfred sudah sampai di ruangannya. Kali ini ia benar-benar terkejut ketika melihat siapa yang ada di ruangan Alfed saat ini selain mereka.


"Edward?" Lirihnya tidak percaya.


"Duduk Bella." Pinta pria itu tegas. Dan Bella menurut meski berjalan tertatih karena takut. Dia masih belum berani untuk menemui pemuda emo itu sekarang. Tapi saat ini kakaknya justru memanggilnya bersama pemuda emo itu saat ini. Apa yang ingin di bicarakan oleh kakaknya itu?


Melihat atmosfer di ruangannya berubah, Alfred melirik keduanya dengan mata tajamnya. Bella maupun Edward hanya bisa terdiam. Gadis itu menunduk dalam, sedangkan Edward sendiri masih tetap berdiri tegak meski pandangannya menunduk ke bawah. Alfred mendesah lirih.


"Aku memanggil kalian secara pribadi di sini untuk menyelesaikan masalah kalian berdua." Jeda sejenak. Bella melirik Edward sekilas. "Jangan kalian kira aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua tadi pagi Bella, Edward."


Dheg..


Untuk kesekian kalinya jantung Bella hampir berhenti karena berkali-kali harus mendengar kata-kata yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Bagaimana kakaknya bisa tahu masalahnya dengan Edward? Apa kakaknya juga tahu kalau Edward menyatakan perasaannya?


"Aku tidak tahu apa masalah kalian. Tapi aku di sini sebagai guru juga kakak kalian di rumah tidak mau kalau sampai kalian mendiamkan teman kalian satu sama lain." Ucap Alfred tegas . Bella semakin bertambah gugup. Membuat keringat dinginnya seketika mengucur deras melalui pelipisnya.


"Selesaikan sekarang. Aku akan keluar kalau itu bisa membuat kalian lebih leluasa bicara untuk menyelesaikannya." Dan Alfred kembali berdiri, memilih beranjak meninggalkan keduanya dan memberikan waktu untuk keduanya berbicara.


Jujur saja, Alfred tidak ingin melihat Edward memiliki masalah dengan adiknya. Mengingat dari balita mereka sudah bermain bersama-sama. Mereka berdua juga tanpa sengaja sudah terikat menjadi saudara sesusuan. Karena dia masih ingat, Deana tanpa sadar mau menyusui Bella bayi ketika dulu ia menitipkannya. Padahal ia sudah meminta Deana untuk memberi Bella susu formula saja. Agar ke depannya tidak terjadi masalah.


Sepeninggalan pria itu, Bella bergerak semakin gelisah karena hanya tinggal dirinya juga Edward di dalam ruangan milik Alfred.


"Jawab Bella."


"Huh?" Bella tersentak ketika Edward tiba-tiba bersuara cukup cepat.


"Jawab aku." Ulang Edward dengan suara cukup dingin.


Hening.


Merasa Bella tidak kunjung bicara, Edward melirik Bella. Ia mendesah lantas memutar tubuhnya menghadap Bella tidak tahan. Dan gadis blonde itu semakin gugup di buatnya.


"Aku mohon Bella, jawab aku. Katakan apapun yang ingin kau sampaikan padaku." Ucapan Edward frustasi dan menyiratkan keputus asaannya. Sontak membuat Bella semakin bingung harus bersikap bagaimana.


"A-aku..." Edward memiringkan kepalanya menatap lekat Bella yang lebih pendek darinya.


"Edward. A-aku, aku.. Eerr... A-aku tidak bisa."


Bagai di cambuk seribu duri hatinya. Tubuh Edward lemas seketika mendengar jawaban yang terlontar dari bibir cherry milik Bella.


"A-aku.. Tidak bisa membalas perasaanmu itu, Edward. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf."


Edward tertawa getir. Ironis sekali kisah cintanya itu? Tapi kenapa? Kenapa gadis di depannya tidak mau menerimanya? Apa kekurangannya?


"A-aku sudah menyukai orang lain, Edward. Tapi aku juga menyukaimu, kok."  Ungkap Bella akhirnya.


Hati Edward kembali seperti di rajam. Meskipun Bella juga mengatakan bahwa gadis itu juga menyukainya, namun dia sangat yakin, rasa suka itu bukanlah rasa suka yang dia inginkan.


"Siapa orang lain itu, Bell?" Sebisa mungkin Edward mencoba menguatkan hatinya, menerimanya dengan lapang dada. Meski jujur saja ia tidak ingin mendengarnya. Tapi rasa penasarannya yang terlalu besar membuatnya tidak mempedulikan rasa sakit yang akan di rasanya nanti.


"Dia.. Kakakku. Alfred Arshavin Frederick."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2