Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
The Real Truth....


__ADS_3

**Aku terlanjur mencintaimu, seperti cintanya bunga pada harum aroma..


Aku dipaksa mencintaimu, Seperti cintanya matahari atas cahaya dan penyempurnaannya..


Aku merindukan hadirmu, sama seperti rindunya burung-burung pada mentari pagi..


Aku mengharapkanmu,


Sama seperti harapan rembulan pada cerahnya malam..


Aku cemburu kepadamu,


Sama seperti cemburunya bulan ketika bintang memalingkan cahayanya..


Aku takut kehilangan, sama seperti ketakutan sang senja pada cahaya siang..


.


.


Twilight mulai menampakkan dirinya ketika pagi mulai menyingsing. Sebuah fenomena yang dimana mulai muncul cahaya alami dari atmosfer atas yang menerima langsung sinar mentari dan menyebarkan sebagian sinarnya ke permukaan Bumi, sebelum warna twilight itu nantinya mulai berganti kulit menjadi rona merah hingga jingga yang berasal dari sinar mentari yang mulai berarak naik dari ufuk timur.


Pagi adalah sebuah rekahan dari sang mentari itu sendiri. Menjadi tempat berkumpulnya embun di pepucuk dedaunan. Lambaian daun ilalang menyambut, tetesan embunpun ikut menyertai. Suara alam terdengar sangat lirih.


Larik puisi mengetuk jendela pagi seorang gadis blonde yang masih terlelap tidur, sesaat setelah embun lesap bersama mentari yang kian meninggi masuk ke celah-celah penjuru rumah. Membuat kelopak mata yang terpejam itu mulai menampakkan sinarnya. Iris sapphire milik gadis blonde itu terbuka perlahan ketika sinar hangat menyilaukan mentari menusuk retinanya. Ia berjengit perih dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Gadis itu bangkit dari tidurnya. Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pants warna biru sepaha. Terlihat begitu sexy meski baru bangun dari tidurnya dalam keadaan berantakan. Ia membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Tersenyum hangat menyambut paginya hari ini. Di tariknya nafas dalam-dalam secara rakus dan menghembuskannya kasar lewat mulut.


"Selamat pagi!!" Pekiknya menyapa dunia.


Dan hal pertama yang menyambutnya adalah pemandangan dimana di hadapannya terhampar indah sebuah taman bunga buatan tangan manusia. Ah, dia baru ingat bahwa dia tidak lagi sedang di Washington. Kota tempat tinggalnya berada.


Hangat cahaya mentari mulai memeluk seluruh alam. Membuat bunga-bunga tak jadi menunduk karena malu. Tersenyum sangat empuk tertarik untuk tebarkan keharuman. Kupu-kupu menyambut langsung aroma semerbak bunga. Dengan keramahan nyanyian


burung camar, mereka berbisik merdu sambil terbang dan mulai bekerja untuk mencari makanan mereka. Gadis itu memandangi keindahan itu dengan ekspresi kagum, hingga sebuah siluet seseorang yang sangat di kenalnya tengah berdiri di depan rumah tempat ia singgahi. Siluet seorang pria bersurai dark brown dengan setelan tracksuits hitam perpaduan putih dan running shoes putih polos di kakinya. Pria itu bergerak-gerak seperti sebuah gaya pemanasaran sebelum berolahraga. Tak lupa, kacamata bening yang selalu melekat pada pangkal hidungnya.


Perlahan tapi pasti, darahnya mulai berdesir membuat wajahnya mulai memanas. Dan lagi-lagi untuk ke sekian kalinya, kedua pipi tembemnya itu merona dengan rasa malu. Dia teringat kembali percakapan semalam sebelum dia menggelengkan kepala cepat. Menepis semua perasaannya kali ini dan memilih pergi berendam dan mandi.


********


"Nicky, Alfred. Sarapan sudah siap." Seru Ramon dari pintu depan.


"Kak Alfred Pergilah dulu saja. Kau perlu bangunkan Bella, bukan.?" Kata Nicky yang mendapat tatapan Alfred dalam. Pria itu mengangguk mengiyakan saja. Lantas berlari kecil menuju ke dalam rumah.


Hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka berada di dalam satu kamar. Karena kamar di rumah milik almarhum Thomas hanya memiliki dua kamar. Di mana hanya tinggal satu saja kamar yang tersisa tak terpakai. Kamar milik Thomas dan istrinyaㅡAdelina. Sementara Ramon juga Nicky sendiri memiliki kamar lain yang dulunya adalah kamar milik Alfred.


Tok Tok Tok..


"Bella, sarapan sudah siap. Cepatlah keluar dan bersiap." Panggil Alfred dengan suara sedikit berseru.


"Ya kak. Bella akan segera datang." Teriak Bella dari dalam kamarnya.


"Kakak tunggu kamu di bawah." Setelah mengatakan itu, Alfred tidak menunggu respon Bella dan berbalik untuk kembali menuju ke arah meja makan.


Untuk kali ini ia tidak melakukan ritual rutinnya. Bahkan Alfred merasa jika Bella-nya sedikit bertingkah aneh tiap kali ia mendekat. Ia berfikir, apakah itu dikarenakan usia Bella yang bertambah, sehingga membuat Bella menjadi canggung tiap kali dia mencoba untuk menyentuhnya?


Padahal sebelumnya, gadis itu selalu bersikap tidak segan-segan mendahuluinya melakukan ritual yang biasa mereka lakukan tanpa rasa canggung sama sekali.


Di ruang makan, Nicky, Ramon, dan Alfred sudah berkumpul di tempat mereka sendiri. Tidak terlalu lama setelah Alfred duduk, Bella muncul dan menarik kursi miliknya. Mereka mulai mengambil sarapan masing-masing dengan tenang. Terlebih Bella yang merasa canggung berada di antara mereka.


Gadis itu bahkan sekarang bergerak gelisah di tempatnya karena sadar bahwa ia sedang di perhatikan diam-diam. Kejadian ceroboh juga bodoh tadi malam memang membuatnya semakin berkeringat dingin. Bella terus saja menundukkan pandangannya tanpa berniat menatap Ramon maupun Nicky yang kini tengah berusaha keras menahan rasa ingin tertawanya akibat sikap malu-malu gadis itu. Seperti anak kucing yang ketahuan maling ikan, pikir mereka.


Alfred sendiri lebih memilih bersikap tidak peduli dan terlihat mengabaikan pada suasana di ruang makan. Meski ia sadar aura sekitar Bella sekarang terlihat tengah depresi berat.


"Nicky, kau sudah merangkainya untukku, kan?" Tanya Alfred, mencoba mencairkan suasana canggung di meja makan.


"Ya. Ada di depan."


"Terimakasih untuk makanannya." Alfred dengan cepat menyelesaikan urusannya, dan beranjak dari meja makan menuju ke luar rumah untuk melihat rangkaian bunga tulip serta lily yang di mintanya pada pemuda itu.


"Eerr.. A-aku juga." Bella menyusul dengan tergesa-gesa.


"Bella , ambil dan bawa ranselmu sekalian. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Seru Alfred menyela Bella sebelum berbalik kembali.


"Ah, y-ya."


**********


Sepanjang perjalanan, Alfred sama sekali tidak mengatakan sesuatu tentang dirinya yang ingin membawa gadis itu ke suatu tempat. Hingga sampailah di sebuah pemakaman, Bella mengerutkan keningnya bingung. Namun paham setelah melihat bucket bunga tulip di tangannya. Pantas saja, pikirnya.


Alfred menolek menatap Bella sekilas, lalu melirik telapak tangan gadis itu dan mulai menggamit pergelangan tangan adiknya untuk di tuntunnya ke sebuah makam yang sudah lama tidak ia kunjungi. Ia berhenti di sebuah batu nisan yang ingin di kunjunginya. Di sana ada dua orang anak kecil yang tengah membersihkan makam tersebut dari rumput liar yang mulai tumbuh lebat.


Alfred tersenyum sejenak ketika kedua anak kecil itu mendongak dengan mata menyipit karena silau matahari mengenai penglihatan mereka. Keduanya tersenyum cerah.


"Kakak datang?" Kata salah satu anak kecil bergender perempuan.


"Ya, aku datang. Terima kasih sudah merawatnya untuk kakak, anak-anak." Alfred tersenyum lembut seraya mengusap surai mereka berdua. Ia lantas mengambil dua amplop putih lalu menyodorkan kedua amplop tersebut pada mereka masing-masing.


Kedua anak itu berbinar senang ketika mendapat amplop yang sudah mereka ketahui apa isinya. Amplop itu berusi upah yang bagi mereka bisa untuk makan sebulan lebih. Mereka tersenyum semakin cerah kepada Alfred juga Bella dengan wajah merona senang. "Terimakasih kak Alfred, dan terimakasih kakak cantik."


Blusshhh!!!


Semburat rona merah muncul di kedua pipi dan kedya cuping telinga Bella, malu. Membuatnya menggembungkan pipinya lucu. Kedua anak itu tertegun melihat Bella tidak merespon, apa mereka salah bicara? Pikir mereka. Alfred hanya bisa tertawa lirih melihat mereka.


Setelah kedua anak itu pergi, Alfred menatap kedua batu nisan di depannya itu sendu. Membuat kenangan di masa lalunya kembali terlintas.


"Kakak, kenapa anak-anak itu yang harus membersihkan makam ini? Apa mereka tidak punya rumah atau keluarga?" Tanya Bella penasaran.


"Hm? Hmm... Kenapa ya?" Gumam Alfred, memasang pose berfikir. "Kenapa... Kenapa.. Hm...?" Ucapnya lagi. Bella di buat geram olehnya, memutar bola matanya jengah.


"Katakan saja kak, AAIISH!! Kenapa berbelit-belit, sih?!" Sungutnya berteriak.


Alfred melirik Bella melalui ekor matanya. Terlihat Bella yang menatapnya menuntut jawaban.


"Hm.. Hal itu! Itu adalah pekerjaan mereka untuk mencari makan, Bella."


"Hee?! Bagaimana bisa? Apa tidak ada yang mau mengurus mereka? Sampai mereka harus bekerja seperti itu demi selembar uang." Kembali Bella bertanya ingin tahu. Dia menggerutu tak jelas. Ia masih penasaran, karena yang dirinya lihat, anak itu masih terlalu kecil untuk bekerja di usia mereka. Apakah tidak ada orang yang lebih dewasa untuk merawat mereka? Pikirnya.


Alfred masih bergeming menatap kedua pusara orang yang telah sudi merawatnya meski hanya dua tahun saja. Dalam waktu hanya dua tahun, mungkin saja dia bisa kembali ke jalanan. Mencuri seperti dulu tanpa mempedulikan Bella yang masih bayi. Tapi hatinya tidak membiarkan hal itu terjadi.


Selama dua tahun itu dia sudah cukup mengerti, bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang kesulitan dengan cara yang sebenarnya. Membuat ia mengerti tentang pelajaran hidup dari orang yang telah sudi merawat dan memberikan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Seharusnya ia bersyukur karena beruntung mendapat orang yang tanpa pandang sebelah mata menerimanya dengan tangan terbuka. Terlebih orang seperti Thomas Abelard yang cukup berada meski hanya berprofesi sebagai seorang guru. Ia tidak perlu lagi hidup terlunta-lunta.


"Bukan tidak ada, Bella ." Jawab Alfred. Bella memiringkan kepalanya ke kanan mengerutkan keningnya tak paham.


"Terlihat kalau mereka tinggal di tempat biarawati." Alfred menunjuk ke sebuah bangunan serba putih tinggi dengan lambang salip. Di sana, banyak anak-anak yang sama yang tadi mereka lihat. Dan kedua anak yang ia temui pun juga ada di antara mereka.


Yang membuat Bella tertegun adalah, uang yang di berikan oleh kakaknya tadi di kupulkan jadi satu dengan yang di dapat oleh anak-anak yang lain dan di masukkan ke dalam sebuah bejana khusus untuk menyimpan uang-uang yang mereka dapat bersama-sama. Ia mengernyit tak mengerti. Namun hatinya berdesir kala melihat air muka anak-anak yang kelelahan itu kini tengah tertawa bahagia juga lega atas apa yang mereka dapat. Naruto meringis merasa tersentuh. Begitukah kehidupan mereka tanpa orang tua? Ironis sekali. Di banding mereka, Bella menyadari bahwa ia masih beruntung. Karena memiliki kakak seperti Alfred yang tidak akan membiarkannya hidup seorang diri.


"Mereka kumpulkan uang mereka jadi satu agar harapan mereka untuk bisa bersekolah terwujud." Celetuk Alfred. Berhasil membuat tubuh Bella membeku tidak percaya.

__ADS_1


Tanpa ragu, Bella maju satu langkah hingga hanya berjarak satu jengkal dirinya dengan posisi Alfred. Alfred menatap bingung Bella yang menunduk dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Greepp!!


Tiba-tiba gadis itu memeluk Alfred penuh rasa syukur. "Terimakasih, kak. Kau sudah mau merawatku sampai saat ini." Ucapnya tulus, ketika dia memeluk tubuh pria yang menegang itu erat.


Alfred yang terkejut lantas tersenyum dan membalas pelukan adiknya tanpa menjawab ungkapan Bella. Di elusnya rambut blonde Bella yang panjang itu sayang. Lalu menjauhkan tubuh Bella kembali, menatap kedua bola mata adiknya intens.


"Cukup Bella... Sekarang ucapkan salam pada kedua orang tuamu, Okay?" Alfred memutar bahu Bella menghadap dua batu nisan di depannya dengan nama berbada.


"Huh? Maksud kakak? Ini..." Bella terkejut ketika Alfred mengatakan 'orangtuamu'. Bukankah orangtuanya juga orangtua kakaknya? Alfred hanya tersenyum hingga matanya menyipit dengan kepala yang miring sedikit.


"Ayo lakukan bersama-sama." Perintah Alfred bernada rendah.


Bella bergeming dan kembali menatap kedua batu nisan di depannya. Tertulis dua nama dan marga berbeda. Tapi ada yang kurang. Pikirnya. Ia meletakkan bucket bunga tulip yang tadi di bawanya di atas pusara kedua orangtuanya bergantian.


"Adelina Lee, dia adalah ibumu, Bella. Aku tidak memiliki foto keduanya saat aku membawamu ke Washington. Kita bisa melihatnya nanti. Dia memiliki surai yang di warnai merah indah yang sangat panjang. Dengan garis wajah dan kulit sepertimu." Jelas Alfred melihat Bella yang mengusap pelan batu nisan dengan nama ibunya. Ia tersenyum hangat. Seolah ibunya tengah berada di depannya.


"Selamat pagi, Mommy. Maafkan Bella karena baru menemui Mommy. Apa di sana Mommy bahagia?" Monolognya sendu. Lalu beralih pada pusara di samping kirinya.


"Beliau Thomas Aberald, ayahmu. Dia memiliki mata sepertimu. Dan surai blonde milikmu berasal darinya. Kau mirip dengannya. Namun memiliki wajah manis seperti ibumu." Bella terkekeh mendengar penjabaran dari Alfred yang terakhir. Pantas saja banyak yang mengatakan dia manis. Ternyata itu menurun dari ibunya. Tapi kekehan Bella meluntur ketika mendengar ucapan Alfred selanjutnya.


"Beliau juga merupakan kakakku, Bella. Lebih tepatnya, kakak angkat."


Dheg!


Tubuh Bella membeku. Jantungnya seolah berhenti seketika. Ada yang salah di sini. Pikirnya.


"Bella, sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu dari dulu tentang hubungan kita." Alfred menjeda sejenak hanya untuk mengambil nafas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang. Meski sebenarnya ia sedikit takut.


Sementara Bella, dia sudah tidak tahu apa yang harus di responnya. "Di sini, di hadapan pusara mereka. Aku ingin kau tahu yang sebenarnya." Lanjutnya.


"Maksud kakak, apa?" Bella merasa adrenalin jantungnya terpacu dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Antara takut, cemas, juga penasaran melingkupi pikirannya saat ini.


Alfred tidak langsung menjawab, ia masih menyelami iris sapphire Bella yang menyiratkan ketakutan juga rasa was-was secara bersamaan. "Kalau aku bilang kita bukanlah saudara kandung, apa kau akan membenciku? Karena aku mungkin sudah membohongi dan mengecewakanmu selama ini." Ungkap Alfred akhirnya. Meski hanya sebuah kata perandaian, namun ia sangat yakin Bella mampu mengerti kalimat itu.


Gadis itu sendiri benar-benar terperangah juga semakin shock. Mendengar kenyataan yang sebenarnya dari mulut Alfred. Ia masih tidak percaya dengan semua itu. Apa, yang di katakan oleh kakaknya itu benar? Jangan bercanda.


"Tapi meskipun kita bukan saudara kandung, aku sebagai kakakmu sangat menyayangimu. Lebih dari apapun di dunia ini. Bukan hanya karena janjiku di hadapan ayahmu saja aku menjagamu. Melainkan karena hatiku sendiri yang menginginkan untuk selalu memberikan kasih sayang seorang keluarga yang tulus dari sosok seorang kakak untukmu yang juga sama denganku, Bella." Imbuhnya.


"Aku.... Akuㅡ" suara Alfred tercekat.


Bella menunduk. Lidahnya tiba-tiba serasa kelu. Kalimat yang hampir keluarpun di telannya kembali karena tertahan di kerongkongannya. Membuat dirinya hanya membuka tutup mulutnya seperti ikan koi kehabisan oksigen.


"Kebiasaan yang kita lakukan setiap hari adalah bentuk rasa sayangku padamu. Bagaimana aku bersyukur memiliki adik seperti dirimu dalam hidupku. Betapa aku ingin selalu menciummu ketika kau berulah menggemaskan saat kau masih balita hingga sekarang." Alfred tersenyum hambar mengingat semua itu.


"Jangan berfikir aku hanya ingin mengambil keuntungan darimu, Bella. Tidak. Sama sekali tidak. Jika saja saat ini kau membencikupun, aku siap bila kau ingin membunuhku. Aku bahkan tidak akan sanggup lagi untuk hidup kalau kau tidak ada di sampingku." Bella tersentak menoleh Alfred cepat dengan tatapan yang sulit di artikan. Hal itu membuat Alfred kembali meringis merasakan rasa sesak di hatinya.


"Dan akuㅡ" ucapan Alfred menggantung. Ia menunduk dalam dan membuang muka ke arah lain. Yang pasti ia tidak sanggup lagi menatap iris sapphire Bella saat ini. Bella mengernyit sekilas.


"Dan kau?" Beo Bella.


Entah dia harus merasa marah atau senang sekarang. Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya dari mulut Alfred secara langsung tentang hubungan mereka itu. Sedih-senang, marah-bahagia, kesal-terharu, semuanya bercampur jadi satu wadah. Membuat perasaan itu seperti rasa permen nano-nano. Berasa manis-asam, juga asin dalam sekali sesap di lidah.


Bahagia, jelas. Gadis itu masih punya kesempatan karena dirinya sudah tahu mereka bukan sekandung. Apapun bisa mereka lakukan sesuka hati keduanya. Marah, tidak. Sebenarnya Bella tidak bisa bilang marah ataupun kecewa.


Karena apa? Sebab Bella menganggap semua itu wajar-wajar saja di lakukan demi menyalurkan perasaan mereka. Toh dia selalu di rawat dengan baik oleh orang yang sudah menjadi kakak sekaligus panutannya sendiri. Melihat kembali kehidupan anak-anak di rumah biarawati menjadikan ia sadar, ia tidak berhak marah pada Alfred yang telah sudi merawatnya seorang diri.


Menilik kembali kehidupan lampau, jika ia masih balita, tentu usia Alfred berkisar masih 10 tahun. Usia yang seharusnya masih bisa menyesap manisnya kebahagiaan masa kanak-kanak. Bahkan ia sangat-sangat sadar betapa kerasnya kehidupan Alfred di masa lampau saat merawatnya dengan sangat sabar. Bahkan Alfred masih sempat bekerja sambilan ketika itu. Tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya kala itu. Alfred selalu berdiri dengan sangat tegar berada di sampingnya, memberinya semangat dan kebahagiaan sepanjang waktu.


Lalu, apalagi yang membuat alasannya harus marah dan kecewa pada Alfred? Tidak. Dia tidak terlalu bodoh untuk berfikir lari dan menjauh dari kakaknya yang setelah tahu kenyataannya. Ini bukan sinetron yang banyak episodenya. Tidak.


Tidak mungkin dia bersikap egois dan bodoh hanya karena kakaknya baru mau memberi tahu semuanya sekarang pada dirinya. Ia harus tetap berfikir positif, bukan? Dan tidak.


"Aku bukanlah anak yang baik." Bella mengernyit ketika Alfred kembali bersuara.


"Sebelum aku di temukan ayahmu dan di adopsi olehnya, aku pernah mencuri makanan hanya untuk mengganjal perutku yang kelaparan. Beruntung ayahmu mau menerimaku karena aku hidup terluntang lantung tanpa keluarga." Kembali Alfred tersenyum kecut kala membuka lagi kisah lamanya yang kelam.


Bella masih tak bereaksi. Namun jelas terlihat bila ia masih setia menjadi pendengar yang baik untuk Alfred.


"Bella?" Lirih pria itu memanggil gadis di hadapannya sendu, dia menatap Bella lekat menyelami mata sebiru laut itu dalam.


"Maafkan aku, aku baru memberitahumu sekarang tentang kita." jeda sejenak, "Alasanku cuma satu. Memberitahumu di saat kau sudah bisa mengerti segalanya. Tapi kau bisa menjauhi dariku jika kalau kaㅡ"


Greepp!!


Untuk kedua kalinya Bella menerjangnya dengan pelukan yang tiba-tiba dan begitu erat. Untung saja tubuhnya lebih tinggi dan lebih berotot dari gadis itu hingga membuatnya masih bisa menjaga keseimbangan.


"Hiks.. Hiks.." Suara isak tangis yang berasal dari Bella langsung menyiksa indra pendengarannya. Tubuh mungil yang lebih pendek darinya pun kini bergetar hebat. Dan kaosnya basah ketika tangis gadis manis itu meledak keluar.


"Ku mo- hiks, -hon kak. A- hiks.. -ku tidak mau kehilangan kakak. Bahkan tidak ingin kehilangan kakak. Hweee.." Ucap Bella menangis. Suaranya bergetar dengan tangisan di sela-sela ucapannya. Membuat Alfred terpaku sejenak sebelum akhirnya ia mau membalas pelukan Bella tidak kalah erat penuh keposesifan.


Alfred tersenyum dan terharu hingga rasanya ia ingin menangis ketika melihat respon Bella yang positif. Dan ia percaya, adiknya telah memaafkan dirinya.


"Sssshh... Cukup sudah. Kau terlihat buruk dengan airmata seperti ini Bella." Alfred menjauhkan bahu Bella untuk melihat wajah gadis itu yang berantakan karena airmata. Ia kemudian menyeka air mata yang mengalir dari pelupuk mata Bella sambil tersenyum teduh.


Slruuupp!!


"Heh?" Alfred speechless melihat Bella menarik ingusnya kembali ke dalam hidung dengan bibir atas yang terangkat menempel pada hidungnya.


"Ahahaha.. Kau ini." Tawa Alfred meledak sambil menoel hidung Bella. Sedangkan Bella hanya nyengir lebar sela acara meweknya dengan wajah memerah malu.


******


Bella tidak menyangka kalau ia akan berada di tempat yang tidak ingin ia kunjungi sekarang. Terlebih dengan orang yang menjadi kakaknya saat ini. Orang yang diam-diam Bella kagumi juga dia sukai.


Suka? Ah, iya. Bicara soal suka, Bella sekarang sudah tidak takut lagi. Meski sebenarnya karena perasaan itu dirinya sedikit menjaga jarak pada kakaknya sekarang. Bukan maksud apa-apa, hanya saja ia sedikit merasa aneh tiap kali bersentuhan dengan pria itu. Walau begitu ia tidak lagi menepis perasaannya untuk sang kakak.


Namun kali ini, dia benar-benar yakin riwayatnya akan tamat sebentar lagi. Dia akan menjadi kepiting rebus sungguhan karena berada di tempat yang ia kunjungi sekarang. Di tambah lagi suhu tubuhnya yang tiba-tiba memanas akibat grogi. Bukan karena suhu air panas yang merendam seluruh tubuhnya yang tengah bertelanjang bulat tanpa sehelai benangpun itu. Yang pasti hatinya waswas hingga bertalu-talu keras karena sebentar lagi dia akan berendam di kolam yang sama dengan orang yang kau suka. Meskipun nantinya tetap akan ada sekat dari kain tipis sebagai pembatas.


Bayangkan saja bila bisa. Dalam hati Bella terus mengumpat kesal merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.


'KAKAK BRENGSEK! DASAR MESUM!! Ugh.. Menyesalpun sudah terlambat.' Racaunya dalam hati.


Sreekk!!


"Huh!!" Tubuh Bella langsung menegang dengan mata terbelalak kaget di tempat. Menengokpun susah. Ha-ah.. Rasanya Bella berharap di kolam itu ada Hiu muncul dan langsung menelan dia hidup-hidup dan.. POOF!! Hilang seperti hewan pemanggil yang ada di anime-anime Jepang.


"Yo! Maaf, kakak lama."


"Labrrmapbublp tplkablp ablppbla. (Lamapun tak apa)" ujarnya di dalam air. Bella lelah bang, senam jantung dari tadi gara-gara bang Alfred muncul tiba-tiba. Haㅡah...


Alfred mulai turun ke dalam kolam dengan hanya melilitkan handuk kecil di pinggangnya di balik tirai tipis di seberang kolam milik Bella. Berjalan perlahan seraya menyingkap handuk di pinggangnya agar tidak basah ke dalam air.


"Ugh! Damn!!" Umpat Bella, nyaris tanpa suara. Ia melengos ke arah lain dengan mulut komat-komat berharap Alfred tidak mendekati pembatas kolam. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya merinding di bagian belakang punggungnya.


'Ya Tuhan, apa ini?!' Batinnya horror.


"Bella."

__ADS_1


GLEGH!


Bella menelan air liurnya susah payah. Ia memutar perlahan kepalanya untuk menengok ke arah samping kirinya dengan patah-patah. Dan..


Plukk!


Hidung mereka saling menempel meskipun sudah di halangi oleh kain penyekat warna putih di antara mereka. Dan Alfred tersenyum lebar karenanya. Ha-ah.. Nasib memilih pemandian untuk VIP. Yang hanya bisa di gunakan sendiri atau dengan keluarga saja yang sudah memesan pemandian itu tanpa harus bercampur dengan pengunjung lain.


Ya, kolam yang mereka gunakan sangat pas untuk 10 orang. Namun cukup kecil. Lebih tepatnya hanya berdiameter dua meter. Sengaja Alfred memilih VIP karena pribadinya yang memang tertutup. Mengingat ia yang selalu ekspresi dingin di balik kacamata beningnya. Jadilah mereka hanya berdua saja di kolam pemandian air hangat yang bernuansa alam terbuka.


"Gyaa!! Kau mengejutkanku, dasar kakak bodoh!" Bella berjengit sedikit menjauh dengan muka tersipu malu. Alfred semakin terkekeh geli.


Pria itu menyandarkan dirinya di pinggir kolam. Ia tumpu kedua siku tangannya pada batu-batu yang ada di pinggir kolam.


"Mengenai hal kemarin, kau salah paham Bella."


"Huh?!" Bella memiringkan kepalanya bingung. Gadis itu masih memunggungi Alfred dri balik sekat.


Alfred menengadah ke langit, melirik Bella sekilas. "Wanita yang kau lihat duduk di samping kakak waktu itu adalah teman lama kakak. Dan kakak baru tahu kemarin kalau dia juga mengajar di sana." Jelas Alfred.


"Dia Miss Helena, kan? Penjaga UKS sekaligus guru pengganti sementara kalau tidak ada guru yang hadir?" Timpal Bella dan Alfred mengangguk.


"Diaㅡ ehem, aku memang pernah dengar dia menyimpan perasaan untukku. Tapi aku menolak."


Bella terperangah terkejut. M-menolak? Jadi wanita itu...


"Bukan karena aku tidak menyukainya. Tapi karena teman baikku sudah menyukai Helena lebih dulu sejak masih di bangku SD."


Hati Bella mencelos seketika. Bukan karena tidak menyukai wanita itu karena teman? Apa mungkin, sebenarnya kakaknya juga memiliki perasaan yang sama? Batin Bella miris.


"Kalau kakak memang menyukainya, kenapa kakak tidak menerimanya?" Sungut Bella ketus. Bibirnya merengut di tekuk dalam melirik tajam Alfred.


"Ahahaha.. Apa kau rela, aku bersamanya?" goda Alfred, tertawa sadis.


Dheg!


'Rela? Mana mungkin. Aku tidak mungkin rela.' Raung gadis itu dalam hati.


"M-mana mungkin Bella rela. A-aku yang lebih berhak menyukai kakak. Bukan orang lain. Dan tidak ada yang boleh dekat dengan kakak siapapun itu, kecuali Bella!!" Hardik Bella ketus dan memberi ultimatum tegas secara telak. Seakan ucapan itu adalah titah untuk Alfred jalankan.


Sontak Alfred membatu seketika.


**10%


40%


70%


100% Loading Process..


Plaakk**!!


Bella menampar bibirnya dan membekap bibirnya. Cupingnya mulai memerah membuat suhu tubuhnya semakin memanas. Ya Tuhan, aku kelepasan!! Raungnya dalam hati. Merutuki kebodohannya.


Alfred menyeringai nakal tapi sedetik kemudian ia tertawa lepas.


"Ahahaha...!!"


"...?!..." Bella memutar kepalanya dan menatap bingung Alfred dengan aneh yang tertawa lepas.


"Akhirnya kau katakan juga, Bella. Aku juga menyukaimu lebih dulu, lho." Serunya masih dengan mata yang menyipit.


"Huh?! Ka-kakak b-bilang a-apa barusan?" Tanya Bella, gugup. Siapa tahu apa yang baru saja ia dengar salah. Gadis itu berjalan mendekat dan memilih berendam di samping Alfred. Hingga mereka hampir bersentuhan.


"Ya.. Bisa di bilang kakak menyukaimu, Bella Aberald. Suka banget malah." Ungkapnya menyentil ujung hidung Bella gemas, yang kebetulan menempel di kain sekat. Membuat hidung Bella bergerak-gerak lucu seperti anak kucing dan segera menjauh dari Alfred.


"Apa kau tahu, Bella. Jantungku selalu berdebar-debar karena dekat denganmu." Imbuhnya.


"Habis Bella cantik sekali, sih." Alfred berbisik merdu tepat di dekat telinga adiknya dengadi sertai kekehan merdu.


"Huh? Ahahaha... Kakak bercanda, ya? Kak Al pasti begitu karena aku adikmu, kan?" Sebisa mungkin bellgadis itu mengenyahkan bayangannya yang di mana Alfred juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang dia rasakan saat ini.


Meski sangat jelas di mata Alfred kalau dia sedang memaksakan tawanya untuk mengusir kecanggungan di antara mereka, Alfred menggeleng sebagai jawaban 'Tidak.'


Alfred semakin menatap adiknya intens dan berdiri di belakangnya menatap punggung gadis yang membelakanginya dengan sorot mata teduh.


Hening menyelimuti suasana mereka. Membuat kecanggungan di antara mereka semakin menjadi.


"Bella, mendekatlah." perintah Alfred lembut.


Bella skeptis, namun gadis itu menurut dengan mundur beberapa langkah tanpa mau berbalik hingga membentur kain sekat.


Alfred berbalik memunggungi Bella, dia juga menempelkan punggungnya ke kain sekat hingga membuat kulit punggungnya bersentuhan dengan kulit punggung Bella.


Tubuh Bella bereaksi dan membeku. Menuebabkan darahnya berdesir dan tubuhnya tiba-tiba merinding. Namun Bella tidak mampu berkata-kata dan memilih untuk diam. Alfred lalu mendongak seraya menghirup rakus aroma citrus milik gadis blonde itu yang tidak sengaja menguar keluar.


"Huh!" Bella terkesiap kala suhu tubuh Alfred mampu di rasakannya.


"Mungkin jika kau masih bersikap seperti adik kecilku yang manis, dan masih bersikap seperti adikku yang polos aku tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanmu untukku selama ini." Tukas Alfred, semakin mengeratkan kepalan tangannya yang berada di bawah air.


"Sikapmu selama ini menunjukkan kalau kau memiliki perasaan untukku lebih dari seorang kakak, Bella."


"B-bagaimana kakak bisa tahu hal itu, aku tidak pernah mengatakannya?" Bella tergagap tidak menyangka perasaannya akan tersampaikan secepat ini tanpa dia mengatakannya.


Alfred menghela nafas berat menghembuskan nafas dengan uap yang mengepul keluar melalui mulutnya. Dia berbalik dan menatap Bella intens. "Dari sorot matamu terlihat sangat jelas, Bella."


Blush!!


"Dan pipimu..." Alfred menggantungkan ucapannya sehingga tanpa di sadari oleh Bella, kedua pipinya merona.


"Apa... Kakak mengatakan yang sebenarnya? Hahaha... Kakak pasti bercanda, kan?" namun pria itu terdiam tak ada respon. Hal itu membuat gadis itu takut dan tanpa sadar dia berbalik, mendongak menatap wajah Alfred yang samar-samar namun terlihat serius itu dengan sorot mata tidak percaya.


Untuk sesaat, dunia terasa terdiam, waktu seolah terhenti ketika keduanya saling menatap satu sama lain.


"Terlepas dari semua ini, andai kau tidak memiliki perasaan yang sama, aku akan tetap menjadi seorang kakak yang selalu bisa kau andalkan. Aku juga siap hidup seorang diri hanya untuk menjagamu, Bella. Itu janjiku padamu untuk seumur hidup."


Bella tertegun. Rasanya dia ingin menangis karena terharu. Tapi siapa sangka, dia benar-benar mengeluarkan airmata bahagia di balik senyum simpul yang tersungging di sudut bibirnya.


"Kakak, aku menyukaimu. Kali ini, bukan untuk mencintai kakak sebagai kakakku. Tapi sebagai orang yang Bella suka."


Alfred tersenyum tipis, tidak ingin mempercayainya, "Apa kau serius?"


"Tentu saja." jawab tegas gadis itu.


'Sampai mati. I will always you in side, Bella.' batin pria itu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2