
Beberapa bulan setelah Alfred mengungkapkan keinginan hatinya terhadap Bella di hari kasih sayang, pria itu tidak lagi segan untuk selalu memperlihatkan kasih sayangnya terhadap gadis itu melebihi sikapnya yang biasa mereka lakukan setiap hari.
Keduanya benar-benar menjadi sepasang kekasih yang mesra sepanjang waktu. Pagi, siang, malam, tiada habisnya untuk mereka memadu kasih. Dari sekedar menjadi seorang adik kakak, kini berubah status menjadi sepasang kekasih.
Untunglah, sikap dewasa dan pengendalian pria itu sangat kuat. Sehingga dia masih menjaga keinginan hasratnya setiap kali dia tergoda dengan hawa nafsunya yang meningkat acap kali Bella bertingkah menggoda di depannya.
Siapa yang akan menyangka bila gadis yang masih berusia delapan belas tahun itu akan berbuat nakal kepadanya setiap waktu hanya untuk merayunya. Memakai pakaian seksi yang biasa di kenakan oleh wanita dewasa yang entah dari mana gadis itu dapatkan.
Terkadang, pria itu hampir saja tergoda dan menjadi gila tiap melihat penampilan gadis itu melebihi gadis remaja pada umumnya. Padahal, wajah Bella bisa di katakan masih anak-anak lantaran gadis itu hanya memakai dan merias dirinya seadanya dan senormal mungkin sesuai usianya. Hal itu membuat dia lebih terlihat seperti gadis berusia sepuluh tahun di banding seorang remaja yang tumbuh dewasa.
Namun saat gadis itu merubah penampilannya menjadi wanita dewasa, yang akan percaya bahwa usianya itu masih delapan belas tahun, walaupun make up yang di pakai oleh gadis itu masih bisa di katakan natural.
Alfred di buat pusing tujuh keliling menghadapi sikap Bella yang berubah drastis bila malam tiba.
Sedangkan Bella, semenjak gadis itu tidak sengaja menceritakan hal itu pada sahabat wanitanya di kampusnya bahwa dia baru saja di lamar oleh kekasihnya, sahabatnya itu selalu berusaha membuat Bella untuk menjadi pribadi wanita dewasa.
Gadis itu bernama Liliana. Liliana tahu jika Alfred adalah kekasih gadis itu. Dan wanita itu tahu berapa sebenarnya usia pria itu. Jelas saja, Liliana akan berusaha memberikan yang terbaik untuk sahabatnya agar lebih terlihat sepadan setiap kali nantinya berkencan.
Memang terkesan ikit campur, tapi Bella sangat bersyukur. Dia sudah bosan selalu di bilang anak kecil setiap kali mereka berjalan berdua. Oleh karena itulah, saat Alfred melamarnya, Bella yang terlalu bahagia menceritakan hal itu pada Liliana.
Liliana adalah wanita yang sebenarnya memiliki usia dua tahun lebih tua dari Bella. Berpenampilan dewasa, dan pribadi yang dewasa. Jika Bella lebih nyaman memakai pakaian wanita tomboy, Liliana lebih suka pakaian feminim. Sangat kontras, dan bertolak belakang kedua sifat mereka. Namun begitu, tidak menyurutkan keinginan mereka untuk menjalin sebuah persahabatan yang kuat.
"Lili!" pekik Bella berseru kala melihat siluet sahabatnya yang berjalan seorang diri di koridor kampus.
Wanita yang merasa terpanggil namanya berbalik, menatap Bella dengan senyum anggun. Sementara Liliana yang berjalan ke arah Bella dengan santai dan elegan, Bella berlari dengan tidak elit dan cantik. Tapi siapa yang menyangka bahwa mereka akan menjadi idola di kampus mereka sebagai mahasiswi tercantik dan termanis sepanjang tahun.
Sifat mereka yang saling melengkapi, di tambah dengan otak mereka yang kelewat pintar, menjadi nilai plus untuk bisa membuat keduanya terkenal dalam sekali pandang. Di tambah, mereka selalu mengikuti kegiatan olahraga dan organisasi penting di kampus mereka sebagai kegiatan sampingan mereka selama proses belajar mengajar.
Tidak tanggung-tanggung, unit kegiatan mahasiswa yang mereka ikuti bisa di bilang tidak cocok untuk seorang wanita yang terkenal dengan mereka yang takut bahaya dan kotor. Bukan tidak ada wanita yang ikut, hanya wanita tangguh sajalah yang akan berani mengambil resiko tersebut.
Hal itulah yang membuat keduanya terkenal dalam waktu sekejap saat mereka menjalani kegiatan klub seperti pecinta alam, search and rescue, dan kegiatan mahasiswa yang hampir semua berhubungan dengan olahraga.
Memang, setiap mahasiswa pasti tidak akan bisa mengikuti kegiatan dengan jumlah yang banyak. Tapi entah kenapa, Liliana selalu saja mampu mendapatkan segalanya dengan mudah.
"Akhirnya aku menemukanmu." ujar Bella menghela nafas lega.
"Ada apa?" Liliana mengerutkan keningnya ingin tahu. "Ayo, cari tempat untuk bicara."
"Oh, okay." keduanya lantas berjalan beriringan dan menemukan tempat yang cocok untuk menghabiskan waktu mereka berbicara.
"Bicaralah."
"Dua minggu lagi adalah hari perayaan ulang tahun kakakku. Menurutmu, apa yang harus aku berikan untuknya, ya? Lili, kau punya ide?"
"Hmm... Nothing." jawab Liliana singkat. Hal itu membuat Bella sedikit kecewa. Namun Liliana tersenyum penuh arti menatap lekas sahabatnya yang sedang menunduk penuh konflik.
Tangan wanita menepuk bahu Bella ringan dan mengusapnya beberapa kali, "Tidak perlu cemas, aku akan membantumu mencarikan hadiah yang pas untuk kakakmu itu."
Ekspresi Bella tiba-tiba berbinar bahagia dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Dia menatap mata Liliana seolah kucing yang minta di kasihani.
"Ahaha.. Sudahlah, Bell. Jangan pasang wajah seperti itu. Atau aku akan membawa karung untuk menculikmu." Liliana terkekeh tidak tahan.
"Baiklah, baiklah. Terima kasih, Lili. Aku benar-benar bersyukur memiliki sahabat sepertimu."
"Oh ya~" goda Liliana, "Lantas, bagaimana dengan Ken yang selalu ada di sampingmu itu?"
Ekspresi Bella berubah kesal dengan wajah tertekuk masam, "Lupakan saja dia. Aiish.. Bila ingat apa yang dia katakan padaku dulu tentang kakakku, aku menjadi kesal tahu!"
"Hahaha.... Pria itu.. Astaga, haha..." Liliana tertawa terpingkal-pingkal. Dia jelas sangat tahu bagaimana pribadi Ken yang jahil terhadap sahabatnya sendiri dalam memberikan nasihat mengenai hal-hal percintaan. Terlebih, otaknya yang selalu saja kotor, padahal dia sendiri tidak pernah melakukannya.
Meskipun demikian, Ken benar-benar sahabat yang baik dan perhatian ketika Bella mengalami kesulitan.
"Eh, ada pertemuan kan?" tiba-tiba Bella memekik.
"Oh... Kau benar. Sebaiknya kita segera ke sana. Atau Anthony akan murka nanti." Bella terkekeh lirih mendengar Liliana menimpalinya.
Keduanya lantas bangkit dan beranjak pergi meninggalkan tempat mereka bersantai ke arah gedung.
Sampai di sebuah ruangan, Liliana mengetuk beberapa kali sebelum dia masuk tanpa permisi.
"Jadi, itulah visi dan juga misi dari organisasi ini yang kalian pilih sendiri. Ada pertanyaan?" seorang pria cukup tampan dengan perawakan tinggi semampai bak atlet olahraga sedang naik di atas panggung yang memang selalu di sediakan di setiap ruang klub. Dia memberikan petuah dan beberapa penjelasan mengenai beberapa hal yang harus di ikuti oleh setiap anggota organisasi mereka.
"Maaf, kami terlambat."
"Hm. Kalian duduklah." kata pria itu datar. Beberapa pasang mata menatap mereka penasaran, ada juga yang menatap dengan tatapan kesal.
"Okay, kita lanjutkan. Apa tidak ada pertanyaan yang ingin kalian tanyakan?" ulang pria itu bertanya lagi.
"Cukup kak." salah satu audience yang berada paling depan berseru sebagai respon.
"Baiklah kalau memang tidak ada pertanyaan. Aku akan menjelaskan yang selanjutnya." pria itu yang tak lain memiliki nama Anthony berbalik ke belakang di mana layar proyeksi memantulkan sebuah gambar dan beberapa tulisan.
"Tujuan dari berorganisasi di pencinta alam sendiri mencakup tiga hal, yaitu yang pertama adalah memupuk patriotisme yang sehat dikalangan anggotanya. Hal ini dapat dicapai dengan dapat beradaptasi dengan alam masyarakat atau rakyat kebanyakan. Kedua, mendidik para anggotanya baik mental maupun fisik. Ketiga, mencapai semangat gotong-royong dan kesadaran sosial. Di samping itu, ada beberapa prinsip dan kriteria dalam mencintai alam. Apa ada yang tahu, apa saja hal itu?"
"Saya hanya tahu beberapa kak." seseorang nyeletuk menarik perhatian semua orang untuk memperhatikannya. Anthony tersenyum bangga.
"Okay, bisa di sebutkan. Apa saja itu?"
"Hm... Mengagumi, menyayangi, dan menyayangi alam. Menjaga, memelihara, mempertahankan, serta memperbaiki alam. Memanfaatkan, mengambil makanan dan hasil yang dibutuhkan dari alam dengan tidak meninggalkan jejak negatif. Yang lain, saya lupa." ujar mahasiswi tersebut malu-malu.
"Itu juga sudah cukup bagus. Ada yang mau mau menambahkan?" Anthony mengedarkan pandangannya pada semua audience, namun semua tidak ada yang menyahut. "Yang selanjutnya yaitu menyadari, menghayati, dan mengamalkan sepenuhnya kerja antar sesama komponen alam yang saling bergantung."
Dan bla bla bla bla...
Seminar untuk anggota baru selesai satu jam kemudian.
Bella dan Liliana adalah termasuk anggota klub pencinta alam tersebut. Bisa di katakan mereka adalah senior. Namun mereka tidak memiliki kedudukan sebagai seorang pengurus organisasi. Hal itu di karenakan karena kedua wanita itu terlalu aktif di berbagai macam kegiatan kampus.
Dengan mereka menjadi seorang seksi pengurus organisasi klub, tanggung jawab yang mereka emban sangat besar. Meskipun mereka hanya merupakan salah satu anggota klub saja, namun ketua klub sangat bergantung dengan mereka karena otak pintar kedua wanita itu.
Hal yang di sukai oleh Bella adalah mengikuti klub karate dan taekwondo. Sebenarnya tidak di perbolehkan mengikuti dua klub tersebut secara bersamaan. Karena biar bagaimanapun juga, keduanya sebenarnya bersaing. Tapi entah kenapa, Bella mampu mengerjakan keduanya tanpa melewatkan yang lainnya.
Fisik Bella merupakan yang terbaik. Alfred bahkan selalu menyempatkan diri untuk melatih fisik gadis itu setiap pagi dengan berlari ringan mengitari kompleks rumah.
"Aku akan bantu kamu mencari sesuatu untuk hadiah ulang tahun kakakmu setelah kita pulang dari kegiatan klub."
__ADS_1
"Okay!" Liliana tersenyum tipis menatap lekat Bella.
*********
"Pelajaran sampai di sini. Jangan lupa minggu depan kumpulkan tugas tepat waktu. Terima kasih, selamat siang." Alfred berbalik meninggalkan kelas terakhir yang di ajarnya dan kembali ke kantornya.
Helena tersenyum ketika melihat pria itu berjalan tidak jauh darinya. "Alfred, mau makan siang bersama?"
"Tentu." timpal pria itu singkat.
Keduanya lantas kembali bersama ke ruang guru. Helena menuju ke ruangannya sendiri. Di mana UKS berada tepat di sebelah ruang guru, dan Alfred ke ruangannya sendiri. Keduanya mengambil barang mereka masing-masing sebelum keluar dan bertemu di koridor.
Alfred dan Helena memutuskan untuk makan siang di luar sekolah. Mengingat jam piket mengajar mereka yang memang sudah selesai.
Di sebuah restoran sederhana tidak jauh dari sekolah, keduanya memilih restoran China. Itu tidak besar seperti kantin sekolah tempat mereka bekerja, tempatnya juga tidak terlihat higienis seperti restoran pada umumnya namun masih terlihat sangat layak.
Meskipun demikian, restoran mie China tersebut telah di buka bahkan sebelum Alfred menapakkan kakinya di kota Washington. Bahkan saat itu, usia pemilik restoran mie tersebut pada kala itu berusia lima puluh tahun.
"Minta dua mie dan dua botol soju." kata Alfred pada seorang pelayan.
"Kau juga soju, kan?" tanya Alfred, telat. Helena hanya tersenyum lantas mengangguk. Membuat pria itu tersenyum tipis menanggapi.
"Tidak terasa, ya. Kita sudah tua sekarang. Haㅡah..."
"Masih muda. Kau masih dua puluh enam." Helena mendengus mendengar respon Alfred sedikit kesal.
"Hey, itu usia yang cukup untuk seorang wanita menikah, kau tahu?" tiba-tiba Alfred terkekeh lirih membuat wanita itu mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kau ingin aku menikahimu?"
BLUSSHH...!!!
Siapa yang tidak akan tersipu malu ketika tiba-tiba orang yang pernah kau sukai menyatakan sesuatu yang selama ini kau harapkan? Helena tidak terkecuali. Dia sedikit salah tingkah kala Alfred menyatakan sesuatu yang tidak semestinya pria itu ucapkan. Seharusnya pria itu tahu, hal itu tabu untuk di katakan pada setiap wanita.
"Omong kosong! Aku tidak mau menikah di denganmu. Laki-laki pembual."
"Benarkah? Aku serius padahal. Haha..." Alfred masih menggoda. Dan hal itu semakin membuat wanita di hadapannya gugup bergerak gelisah.
"Alfred! Hentikan itu. Atau aku akan..."
"Pesanannya...." potong seorang pelayan yang datang mengantarkan pesanan mereka.
"Oh, terima kasih." Helena mengambil saus dan beberapa sambal untuk di campur ke dalam mie-nya. Mengaduknya dan melupakan apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya.
"Aku akan menikahi Bella bulan depan."
Brruuuuhh...
Tiba-tiba wajah pria itu penuh dengan mie yang melayang. Helena speechless seketika menatap horror wajah Alfred yang berantakan. Matilah aku..
"Haduh.. Alfred. Sorry, sorry, sorry. A-aku, aku tidak sengaja." dengan salah tingkah wanita itu mengambil beberapa lembar tissue dan mulai mendekati Alfred yang masih mematung dengan wajah yang basah.
Itu... Akibat ulah Helena yang tiba-tiba saja menyemburkan mie yang tengah di kunyahnya ke wajah pria tersebut. Wajah Helena memerah saking malunya. Tidak hanya itu, dia bahkan menjadi pusat perhatian semua orang.
"Tidak apa-apa, Helena. Terima kasih." Alfred mengambil alih tissue dari tangan Helena dan mengelap wajahnya sendiri. "sebaiknya aku ke toilet sebentar.
Berita yang terlontar dari bibir pria itu benar-benar sangat mengejutkan dirinya. Apa dia tidak salah dengar? Tapi... Bukankah Bella masih ada satu setengah semester lagi sebelum gadis itu ujian skripsi? Dan Alfred mengatakan akan menikahi adiknya bulan depan? Yang benar saja.
Bella masih di bilang masih terlalu dini untuk menikah. Apa gadia itu sudah tahu akan hal ini? Begitu cepat. Pikirnya.
Tidak lama kemudian, Alfred kembali dan duduk di tempatnya. "Mie-nya... Ganti yang baru saja. Emm.. Permisi. Bisa saya minta yang baru?"
"Tentu."
"....." Helena diam seribu bahasa dengan pikirannya yang berkecamuk campur aduk.
Dia bahkan tidak berani menatap mata sayu Alfred dan memilih menundukkan pandangannya. Pria itu juga bahkan tidak mengatakan apapun lagi setelah kembali dari toilet. Jangan sampai pria itu kembali bersuara ketika mereka sedang menyantap makanan mereka seperti tadi.
Saat pesanan mereka tiba, Alfred tidak lagi membuka suaranya dan memilih fokus untuk makan. Begitu juga Helena yang menyantap mie-nya dengan sangat canggung karena menahan malu.
"Terima kasih kunjungannya. Silahkan kembali lagi."
Keluar dari kedai restoran mie, Helena masih menundukkan kepalanya. Berjalan berdua bersama Alfred seolah mereka tengah berkencan. Itu sangat canggung.
"Alfred. Kau... Benar-benar akan menikahi adikmu?"
Alfred yang telah berjalan cukup jauh darinya berbalik untuk menatap Helena dengan wajah datar. Hening menyelimuti keduanya yang hanya saling terdiam menatap satu sama lain. Sebelum pria itu tiba-tiba tersenyum sangat tipis dan mengangguk.
Helena terkesiap untuk sesaat sebelum akhirnya dia juga tersenyum lebar menanggapi.
***********
Alfred berjalan seorang diri menyusuri jalan menuju ke arah jalan rumahnya. Di sepanjang jalan, dia hanya menatap lurus tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
Hari ini dia sengaja tidak membawa mobilnya dan memilih naik angkutan umum.
Ketika langkahnya terus berjalan, tiba-tiba kakinya terhenti kala dia melewati sebuah butik dengan manekin yang terpasang apik di etalase toko yang di gunakan sebagai media promosi. Langkah kakinya kemudian berjalan mundur beberapa langkah dan dia berdiri di depan toko butik tersebut mengamati sebuah manekin dengan gaun putih bersih terpasang sangat cantik.
Pria itu tersenyum tipis sebelum dia memutuskan untuk masuk ke dalam butik tersebut. Seorang pramuniaga wanita menyambut kehadirannya dengan senyuman ramah.
"Silahkan. Ada yang bisa kami bantu?"
"Hmm... Boleh saya melihat-lihat beberapa gaun itu dulu?"
Pramuniaga wanita tersebut tersenyum semakin lebar dan ramah. "Tentu. Silahkan tuan melihat-lihat."
Alfred berjalan ke arah di mana ada beberapa gaun-gaun yang di sajikan. Ada yang panjang, pendek, sederhana, elegan, glamour, dan masih banyak yang lain.
Fokusnya tersita pada sebuah gaun selutut yang sangat simple. Bahan renda dan satin dari bahu leher-panjang dengan model a-line, gaun itu terdapat ikat pinggang dan kain saku. Rok selutut akan membuat wanita yang mengenakan gaun itu terlihat menarik namun tetap elegan. Korset bahu leher-panjang yang dipasang dan ditutupi dengan seluruh renda layak untuk tampilan yang indah. Ikat pinggang dengan manik-manik di sekitar pinggang menunjukkan kurva. Kantong-kantong pada rok juga menciptakan tampilan mode-maju. Di bagian bawah, seluruhnya terbuat dari kain satin.
Melihat fokus Alfred pada gaun tersebut, wanita pramuniaga yang sempat melayani Alfred maju masih tersenyum ramah.
"Wanita yang akan menikah berusia berapa, kalau boleh saya tahu tuan."
"19 tahun." wanita itu sontak terkesiap. Dia tidak pernah mendengar sebelumnya tentang adanya wanita dengan usia sembilan belas tahun mau menikah dini. Apa dia salah dengar?
__ADS_1
Tapi ekspresi Alfred membuat wanita itu yakin pria itu tidak mungkin berbohong. "Apa anda sudah yakin dengan model ini? Kami masih memiliki beberapa model yang mungkin pas dengan wanita yang anda maksud. Mari saya antar."
Alfred mengikuti wanita tersebut menuju ke ruangan lebih besar lagi. Benar saja, di ruangan tersebut memang lebih banyak model gaun yang terpajang dengan begitu indah.
Beberapa jam berikutnya, Alfred berhasil membuat kesepakatan dengan butik tersebut dan telah memilih model yang pas untuk Bella.
Ya, gaun yang ingin di belinya khusus dia pesan untuk gadis itu. Dia juga mengukur jas yang nantinya dia gunakan pada dirinya sendiri.
Alfred pulang dengan perasaan puas. Meninggalkan butik itu dan melambaikan tangannya memanggil sebuah taxi.
**********
Kegiatan klub pencinta alam tiba. Bella dan Liliana tiba di tempat pertemuan fi mana di sana telah ada satu mobil mini bus yang terparkir.
Jumlah anggota klub tidak begitu banyak yang ikut. Hanya ada dua puluh orang yang akan perjalanan itu termasuk anggota baru yang wajib ikut.
Mereka berniat untuk mengunjungi taman nasional di Seattle dan gunung rainier yang terkenal sebagai latar cakrawala menakjubkan bagi Seattle.
Gunung Rainier menyimpan harta karun di bagian kakinya, yaitu sebuah taman nasional yang indah. Taman nasional yang mengitarinya mencakup area seluas 238 mil persegi atau setara dengan 616 kilometer persegi. Kawasan ini dirancang sebagai alam liar dengan padang rumput Alpen, hutan, sungai, dan air terjun yang menakjubkan.
Gunung berapi yang menjulang hingga mencapai tinggi 14.000 kaki atau sekitar 4.392 meter ini terletak 87 kilometer sebelah tenggara dari Seattle di Negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Tak ada gunung lain yang menyamai tingginya di sekitarnya, sehingga secara topografis gunung ini adalah gunung yang paling menonjol di seluruh Amerika Serikat.
Gunung Rainier adalah sumber mata air utama di wilayah ini dengan 25 gletser besar dan ladang salju luas yang meleleh setiap musim semi.
Pada hari yang cerah, puncaknya yang tertutup salju abadi itu terlihat mendominasi cakrawala tenggara dan dapat dilihat pula dari jarak yang cukup jauh, seperti dari Portland, Oregon, Victoria, dan British Columbia.
Namun pada pagi yang berawan, saat awan memiliki ketinggian yang tepat, sinar matahari yang terbit dari bawah cakrawala tertutupi oleh puncak gunung dan menciptakan bayangan panjang di bawah awan.
Pemandangan di pegunungan ini terlihat seperti lukisan. Bunga dengan berbagai warna di antaranya merah, putih, dan ungu, hingga daunnya yang hijau, kuning, dan kemerah-merahan membuat pemandangan ini terlihat menarik dan memanjakan mata yang memandang.
Kedatangan mereka tidak untuk mendaki Gunung Rainier. Tetapi hanya untuk menikmati keindahan alamnya dengan berkemah di alam bebas di kaki gunung saja.
Hal ini di lakukan sebagai pembelajaran awal dan acara penyambutan bagi anggota baru. Mereka juga berniat memperkenalkan bagaimana organisasi mereka berjalan dan menerapkan ilmu yang mereka dapat langsung ke alam bebas dan lingkungan sekitar.
Seorang pencinta alam, di harapkan mencintai seluruh hal yang ada di alam. Baik itu menyayangi tumbuhan, hewan, dan manusia. Tidak hanya itu, mereka juga berkewajiban untuk terus melindungi lingkungan agar tetap sehat sesuai dengan kesadaran hati mereka masing-masing.
Kemah di lakukan selama tiga hari dua malam. Ini tidak sama dengan pramuka. Mereka hanya melakukan kegiatan ini dengan cara yang santai. Karena tujuan dari adanya klub, tidak harus tentang kompetisi seperti klub olahraga maupun seni, atau klub yang di haruskan untuk berkompetisi.
Karena klub mereka berhubungan dengan alam dan lingkungan, tentunya mereka akan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi alam dan lingkungan sekitar. Mereka hanya perlu mengumpulkan dana dari berbagai macam kreatif.
Bagi Anthony sendiri, menjalankan klub pencinta alam benar-benar membuatnya bangga. Terlebih, rektor juga beberapa dekan mereka yang mendukung klub tersebut dari belakang.
Bella beruntung karena Alfred bukanlah seorang wali yang selalu mengekang apa yang ingin dia lakukan. Karena Alfred akan selalu mendukung apapun yang Bella sukai dan yang ingin di lakukannya selama kegiatan itu masih terbilang positif dan baik.
Toh, Alfred mengenal Liliana dengan sangat baik. Keduanya juga pandai dalam ilmu bela diri. Alfred tidak perlu terlalu khawatir jika gadis itu ingin melakukan hal-hal yang di inginkan. Dia hanya perlu memantau dari belakang dan memperhatikan saja.
Saat ini, semua orang tengah membangun tenda masing-masing. Setiap anggota baru, akan di dampingi oleh senior mereka. Ada sembilan mahasiswa laki-laki yang masuk ke amggota pencinta alam. Sisanya, perempuan. Pengurus senior yang ikut terdiri dari Anthony selaku ketua, Frans wakil, dan yang terakhir Tony. Dari pihak wanita, ada Bella, Liliana, dan juga Clara selaku sekretaris organisasi.
"Tolong di bimbing adik-adik kita ya guys. Mohon kerjasamanya." seru Frans.
"Sebagian pria ikut denganku mencari kayu bakar, sebagian lagi mencari bahan makanan, sebagian lagi mengurus basecamp."
"Apa kami juga boleh ikut?" sekumpulan mahasiswi anggota baru berseru kala Tony selesai berbicara.
"Tentu. Tapi hanya tiga orang saja. Masing-masing menemani kelompok yang telah aku katakan tadi. Satu sisanya bantu di basecamp." ujar Tony, finish. Dengan itu, mereka berangkat ke tujuan masing-masing.
Bella berada di kelompok pencari makanan. Yang artinya ada dua wanita di kelompok tersebut.
"Kak Bella. Kau anggota klub, menjabat sebagai apa? Kami belum tahu apa jabatanmu." tanya seorang wanita satu-satunya di sana selain Bella.
"Hanya anggota saja." jawaban singkat Bella mengejutkan semua orang.
"Kenapa?" Bella tersenyum maklum.
"Tadinya aku di minta untuk menjabat sebagai seksi bendahara. Tapi aku menolak. Banyak klub yang aku ikuti. Jadi aku tidak bisa fokus hanya dengan satu klub saja untuk mengurusnya. Karena itulah aku memilih untuk menjadi anggota saja dan mendukung dari belakang."
"Kau tidak lelah mengikuti banyak kegiatan, kak? Kalau aku sih, pasti lelah. Bahkan mungkin aku akan segera masuk ke rumah sakit." salah satu pria dengan kacamata bergidik.
Bella tertawa lirih dab semua pandangan melirik pria berkacamata dengan sorot mata aneh. "Selama kamu bisa mengatur jadwalmu dengan baik, kenapa tidak?"
Semua orang terkesiap. "Tapi, mungkin ini terakhir kalinya aku mengikuti semua kegiatan. Karena sebentar lagi aku akan lebih fokus ke ujian skripsi."
"Hebat. Aku juga mau menjadi sepertimu, kak." seseorang memekik dengan penuh semangat. Bella tidak bisa menahan senyumnya dan memberikan orang itu semangat.
"kalian pasti bisa."
.
Malam tiba, karena basecamp mereka berada di pinggir danau, mereka bisa mendapatkan pemandangan yang cukup menakjubkan malam ini. Di tambah lagi, beribu-ribu bintang bergelayut manja dengan kerlap kerlipnya di atas saja. Langit yang gelap, tampak terang ketika cahaya bintang menyinarinya. Pantulan cahaya itu menciptakan efek perak yang berkilauan indah. Betapa alam ini sungguh menakjubkan.
Api unggun malam ini menemani dinginnya angin yang menusuk sampai ke tulang. Anthony beserta senior yang lain menyiapkan gitar dan beberapa alat musik lain. Mereka melingkari api unggun dan bersenang-senang. Bernyanyi dan bermain game hingga tertawa bahagia.
"Bella, apa kau kenal Max dari fakultas management?" tiba-tiba Liliana datang menghampiri Bella yang sedang duduk termenung seorang diri di pinggir danau.
"Max? Kau ada urusan apa dengan laki-laki itu?" tanya Bella, penasaran. Tidak biasanya Liliana bertanya tentang seorang laki-laki padanya.
"Tidak... Hanya saja, aku sedikit.. Emm.." wanita itu ragu sesaat. Apa dia harus mengatakan bahwa dia memiliki ketertarikan pada pria itu?
"Kau menyukainya?" tebak Bella, tepat sasaran.
"Haㅡah.... Aku memang tidak bisa menyembunyikan hal semacam itu darimu." Liliana mendesah frustasi. "Eh, tapi kenapa kau tidak peka ketika seseorang menyukaimu, Bella. Hah? Kau benar-benar aneh."
"Mana aku tahu."
"Dasar." Bella hanya nyengir tanpa merasa bersalah. "Tapi, aku tidak tahu, apa laki-laki itu masih sendiri?"
Bella tersenyum penuh arti. "Tenang saja. Dia belum memiliki seseorang yang spesial." tiba-tiba Liliana meliriknya tajam sedikit curiga. Bagaimana Bella tahu kalau pria itu sedang tidak dekat dengan wanita lain?
"Max memang suka menggoda banyak wanita." Liliana shock seketika saat mendengar Bella mengungkapkan kebenaran tentang pria itu, "Tapi... Jika itu menyangkut hatinya dan keseriusan, Max bukanlah orang yang mudah jatuh cinta dan menjalin hubungan begitu saja."
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Liliana sangsi.
"Dulu, ada seorang wanita yang termakan rayuannya. Dan wanita itu mau mau saja di rayu dan bahkan dengan tidak tahu malunya berkata dia mau menjadi kekasih Max. Hanya dalam sekali rayuan, wanita itu menerima Max. Tapi sayangnya, Max bukanlah orang yang gampang menjalin hubungan. Justru dia adalah pribadi pria yang suka tantangan." jelas Bella panjang lebar. Liliana semakin tertarik dan mendengarkan gadis itu dengan fokus.
"Intinya, Max bukanlah pria yang mudah di ajak kencan. Tapi sekali dia menaruh hatinya pada satu orang wanita, dia akan terus berjuang dan berusaha mendapatkan wanita itu bagaimanapun caranya."
__ADS_1
"Walau harus membunuh sekalipun?!" Liliana memekik.
"Jangan konyol. Itu bukan gayanya." respon Bella membuat wanita dibsampingnya menghela nafas lega. Bella tahu jika Liliana menaruh hati pada Max. Terlebih Max sendiri. Gadis itu hanya bisa tersenyum misterius melirik Liliana penuh arti.