
Seorang wanita yang di temani oleh pria dengan kisaran usia 50 tahunan berjalan dengan raut wajah bersalah melewati tiap batu nisan di sebuah pemakaman tak jauh dari gereja desa di Wyoming. Wanita bermata hazel itu tampak membawa rangkaian bunga tulip di tangannya. Hingga sampai di salah satu pusara, atau mungkin dua pusara, wanita juga pria tua itu berhenti menatap dua batu nisan di depannya. Hingga tanpa di rasa,wanita itu telah mengucurkan airmatanya penuh penyesalan.
"Maafkan kami, nak." Ujar pria itu. Menjeda sejenak hanya untuk memeluk wanita di sebelahnya yang sudah tidak bisa untuk berkata-kata lagi hanya karena menatap nisan anaknya. "Seharusnya kami selalu berada di sampingmu dulu. Menemani tiap hari, menemani dirimu ketika kamu melangsungkan pernikahanmu."
"Maafkan kami." Ujar wanita itu kemudian. Meski dia harus memaksakan suaranya yang bergetar karena menangis. "Andai dulu kami tidak menuruti ego kami. Mungkin semua ini tidak akan terjadi."
"Seharusnya kamilah yang lebih dulu berada di surga, bukan kamu!" Protes pria itu seolah tengah mengomeli anaknya yang masih hidup di depannya. "Seharusnya kamu tidak marah dan meninggalkan rumah hanya karena ayahmu ini telah lancang mengatakan kalau kamu bukan putraku. Ayah macam apa aku ini?" Imbuhnya meraung frustasi. Rasa bersalah seketika semakin menyeruak dari dalam dirinya membuatnya tanpa sadar meneteskan airmata.
"Sebagai seorang anak, bukankah sudah menjadi tugasmu untuk membimbing ayahmu yang sudah tua renta ini?" Katanya lagi. Sejenak dia menertawai dirinya sendiri. Merutuki betapa bodohnya dirinya.
"Aku sudah tahu tentang kamu yang memiliki satu adik angkat dan satu seorang putri dari hasil pernikahanmu, nak. Apa kamu semarah itu pada ayahmu? Hingga kamu mengisolasi diri dari kami? Kamu tenang saja, mereka akan menjadi tanggung jawab kami selanjutnya." Racau pria itu untuk kesekian kali.
"Kami ingin menebus kesalahan kami padamu dulu Thomas. Kami ingin merawat adik angkatmu itu dan juga putrimu. Lagipula kami sudah mendengar betapa hebatnya anak yang kamu angkat itu. Dia benar-benar menjadi sosok sepertimu." Celoteh wanita itu bergantian. Tersenyum simpul merasakan bebannya telah terangkat.
"Kami akan merawat mereka dengan baik, demi kamu. Kami ingin menebus segalanya. Dan kami janji, kami tidak akan memperlakukan mereka sama sepertimu dulu." Ujar pria itu penuh keyakinan. "Kami harus pergi untuk menjemput mereka sekarang."
Dan setelah itu, wanita itu meletakkan bunga tulip yang di bawanya ke atas batu nisan. Mengusapnya sejenak lantas beranjak pergi.
Baru beberapa langkah, seorang pria berjas hitam membungkuk kepada keduanya. Melaporkan sesuatu hingga membuat rahang wanita yang masih terlihat cantik di usia tuanya itu mengeras. Mengepalkan jari-jemari tangannya hingga berbunyi gemeretak. Pria berjas itu menelan ludah susah payah dengan mata membulat sempurna menatap kepalan tangan wanita itu. Bahkan keringat dingin kini sudah menyusur dari pelipisnya takut kalau-kalau kena bogem wanita itu. Suaminya bahkan juga menatap horror istrinya.
"Akan aku cincang wanita itu!!" Geram wanita itu mulai tersulut emosi.
Yoana dan Hans, mereka segera beranjak dari makam putra dan menantunya dan kembali ke kota Washington. Hans melirik Yoana takut-takut. Sudah lama dia tidak melihat Yoana yang marah seperti saat ini.
Mereka tidak menyangka ketika mereka bermaksud untuk mengunjungi makam putra dan menantunya, sesuatu yang tidak pernah mereka duga akan terjadi pada cucu juga adik angkat putranya, dan masalah mereka berdua menjadi semakin rumit.
Yoana murka ketika mendengar kabar bahwa Bella dengan Alfred di pisahkan secara paksa oleh keluarga Bella dari pihak ibunya. Yoana tidak mengerti, bagaimana bisa keluarga Adelina berbuat seperti itu? Apakah putranya menikahi Adelina dengan cara kawin lari? Itu bisa jadi.
Dari berita yang dia terima, keluarga Bella tidak menyukai asal usul Alfred yang tidak jelas. Bahkan keluarga Adelina dulu sempat tidak menerima pernikahan putrinya dengan Thomas lantaran Thomas berasal dari keluarga yang juga tidak jelas. Saat itu bahkan Thomas tidak menggunakan asal usulnya yang berasal dari keluarga berada dan memilih untuk membawa profilnya yang di kenal oleh Adelina.
Jika di pikir-pikir lagi, Adelina jelas tidak memikirkan tentang asal usul seseorang jika dia mencintai seorang pria. Bahkan dia berani mengambil keputusan untuk menikah dengan putranya tanpa restu keluarganya. Melepaskan gelar bangsawannya dan menjadi orang biasa.
Mungkin, yang bermasalah adalah keluarga Adelina yang terlalu melihat seseorang dari derajatnya.
***********
Alfred hanya menghela nafas beberapa kali di ruang kerjanya. Dia bahkan tak ada semangat sama sekali untuk mengajar. Laura, salah satu guru yang menyukainya pun di acuhkannya tiap kali mencoba untuk menggoda dirinya. Murid-murid yang biasanya menyapa dan mencoba merayunya saja harus menjaga jarak karena takut dengan aura kelam yang setiap saat menguar dari tubuh pria jangkung itu.
"Yoo, Alfred!! Hari ini kamu terlihat lemah sekali." Sapa seorang pria bermata bulat beralis tebal pada Alfred.
"Hah??" Jawab Alfred hanya dengan gumaman seadanya.
"Aku rasa kamu perlu liburan untuk membuat semangat mudamu kembali lagi." Celetuk seorang pria itu lagi. Pakaiannya bahkan sangat eksentrik dari kebanyakan orang-orang normal lainnya.
Alfred hanya bisa menatap guru olahraga yang selalu mengganggunya itu setiap saat hanya karena ingin berduel dengannya itu dengan pandangan sayu. Haㅡah.. Kalau saja moodnya sekarang sedang bagus, pasti dia sudah menghajar guru di depannya itu lama-lama karena bosan.
"Maaf Jack. Kamu bisa mengajakku berduel kapan-kapan saja." Tolaknya.
"Huh?!" Jack menatap Alfred lekat-lekat. "Kamu ada masalah?" Tanyanya kemudian, ketika melihat wajah Alfred yang suram.
Sejenak Alfred mendesah lantas meninggalkan Jack tanpa berniat untuk menjawab. Hal itu membuat Jack tambah bingung di buatnya.
"Maaf, bisa saya mengganggu waktu anda sebentar?" Tanya seorang pria berjas hitam pada Helena.
Helena berbalik mengerutkan keningnya. Berfikir sejenak untuk mengingat pria di depannya yang di rasa tidak pernah dia lihat atau temui sebelumnya.
"Anda tidak mengenal saya, Nona. Tapi, apa boleh saya bicara dengan anda sebentar? Ada hal yang ingin aku tanyakan pada anda." Ujar pria itu mengulang kembali.
Dengan ragu, Helena akhirnya menyetujui permintaan pria di depannya itu. Berjalan ke arah bangku tak jauh dari halaman sekolah tepat di bawah pohon willow.
"Begini, apa kamu tahu soal Alfred Arshavin Frederick, adik dari Thomas Aberald?" Tanya pria itu to the point.
Helena mengernyit sejenak. "Kalau Alfred Arshavin Frederick itu aku mengenalnya. Tapi aku kurang paham untuk keluarganya." Jawab Helena apa adanya. "Memangnya, ada urusan apa anda mencari dia?"
"Urusan penting. Apa bisa anda mempertemukan saya dengan tuan Frederick itu?" Sahut pria itu.
Helena memicingkan mata curiga. Apa dia harus memberitahu Alfred soal ini?
"Saya mengerti jika anda tidak mempercayai saya, Nona. Tapi coba anda tanyakan padanya, apa dia mengenal Thomas Aberald? Jika iya, dialah orang yang saya cari. Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya perihal Thomas Aberald itu." Jelas pria itu kembali. Ketika dia melihat Helena menatapnya curiga.
Sejenak Helena kembali berfikir. Mungkin memang benar ini sangat penting. Hingga tidak jauh dari tempatnya duduk, Alfred keluar dari kantornya dengan wajah tidak bersemangat seperti biasanya.
"Kalau begitu, mohon tunggu sebentar." Pria itu mengangguk. Helena lantas beranjak pergi menghampiri pria itu. Dia memberitahukan semuanya, menjelaskan bahwa ada seseorang yang sedang mencarinya. Pria itu hanya bisa memperhatikan ekspresi dari Alfred yang tampak terkejut dan juga menoleh ke arahnya. Sebelum berfikir sebentar dan memutuskan untuk mendekati pria berjas hitam itu dengan wajah serius.
"Saya Alfred Frederick yang anda cari. Ada perlu apa anda mencari saya?" Kata Alfred tanpa basa basi.
Pria itu tidak menyahut. Hanya tersenyum terlihat puas menatap Alfred. Dan itu membuat Alfred menatapnya sedikit curiga.
"Ah, sebentar." Seru pria itu lantas mengeluarkan ponselnya. Menekan beberapa digit nomor sebelum mendialnya.
"Saya sudah menemukan tuan Frederick yang kita cari, tuan." Alfred mengernyit penasaran dengan siapa yang tengah di hubungi pria di hadapannya. Bahkan Helena sudah berharap-harap cemas. Takut kalau-kalau Alfred terlibat kasus kriminal atau di tuduh semacamnya.
"Ah, baik tuan. Saya akan mencoba membujuknya untuk menemui anda." Dan setelah sambungan terputus, pria itu tersenyum kembali.
"Begini, apa anda bisa ikut dengan saya untuk menemui atasan saya? Beliau ingin menanyakan sesuatu perihal tuan Thomas Aberald yang saya dengar dia adalah kakak angkat anda di Wyoming. Bagaimana?" Kembali pria itu menjelaskan secara detail. Alfred ragu, namun jika ini menyangkut kakak angkatnya, bukankah ini sangat penting?
Pria di hadapan Alfred tersenyum maklum, lantas mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyodorkannya pada Alfred sebelum pria itu menerima kartu nama dengan background hitam emas.
Alfred mengernyit ketika melihat kartu nama itu, "Ini kan..." pria itu samar-samar mengingat kartu nama yang pernah dia terima. Dengan tergesa-gesa Alfred mengambil dompetnya dan mengecek sesuatu di sana.
Menarik beberapa kartu nama yang dia miliki sebelum matanya tertegun. Dia melihat kartu nama yang sama dengan yang di berikan oleh pria itu.
"Anda mungkin sudah bertemu dengan tuan saya sebelumnya. Tuan Hans Aberald, dia ayah dari tuan muda Thomas Aberald, kakak angkat anda." jelas pria berjas hitam itu.
Dan tanpa berfikir panjang lagi, Alfred akhirnya menyetujui maksud pria itu. Toh ini juga menyangkut perihal kakak angkatnya. Siapa tahu ini ada hubungannya dengan Bella. Dan ada mungkin akan ada kesempatan untuk bersama dengan Bella kembali.
"Apa aku boleh ikut, Al?" Tanya Helena dengan suara cemas.
"Kamu tetaplah di sini. Tolong buatkan aku surat ijin untuk hari ini." Jawab Alfred menolak.
Dengan berat hati wanita itu hanya bisa mengangguk setuju. "Aku akan baik-baik saja." Imbuh Alfred mencoba untuk menenangkan.
__ADS_1
***********
Di sinilah Alfred sekarang. Di sebuah cafe dan resto ala Italy. Berhadapan dengan dua orang yang sangat asing untuknya. Mungkin salah satu dari mereka saja. Seorang pria yang sudah mulai beruban yang dia tebak berusia lebih dari 50 tahunan, dan seorang wanita yang masih terlihat muda 30 tahunan hampir sama dengannya.
"Kamu Alfred Frederick?" Tanya wanita itu.
"Benar Nyonya, itu saya." Jawab Alfred singkat. Wanita itu tersenyum simpul juga puas secara bersamaan.
Dan pria yang berada di sampingnya itu hanya menatap Alfred lekat, tersenyum simpul. Wanita itu berdehem sebentar lantas kembali bersuara. "Sebelumnya akan aku perkenalkan kami terlebih dulu. Aku Yoana Marquise. Dan di sebelahku ini Hans Aberald, suamiku. Kami adalah orangtua kandung dari Thomas Aberald."
"Kamu tentu mengingatku, kan? Kita pernah bertemu meskipun hanya sebentar." imbuh Hans menambahi.
Alfred sontak tersentak menatap kedua orang yang ada di hadapannya itu tidak percaya. Terlebih pada wanita yang baru saja memperkenalkan diri sebagai Yoana Marquise itu. Mana mungkin wanita yang masih terlihat muda itu sudah memiliki anak seperti Thomas yang mungkin sekarang usianya sudah 40 tahunan? Impossible sekali menurutnya.
"Jangan berfikir tentang usiaku yang sebenarnya, Alfred. Aku sudah berusia lebih dari 50 tahun. Mungkin bisa di bilang 60 tahun." Wanita itu terkekeh lirih. Lebih kepada dirinya sendiri.
Alfred bahkan hampir tersedak air liurnya sendiri mendengar kenyataannya. Dia sedikit malu karena ketahuan sedang menilai penampilan wanita itu.
"Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa kami baru datang setelah sekian tahun. Ya.. Sejak Thomas anak kami berusia 17 tahun, dia sudah pergi dari hidup kami. Mengubah marganya dan mengisolasi diri hingga kami tidak bisa menemukan keberadaannya." Ujar Yoana memulai kisah masa kelamnya. "Dulu kami berharap banyak padanya untuk bisa meneruskan bisnis keluarga yang sudah turun temurun. Tapi Thomas memilih pergi dari kami dan melanjutkan hidupnya menjadi seorang dalam mimpinya. Seorang musisi. Tapi ternyata Thomas justru pindah ke Wyoming tanpa ada jejak sama sekali dan memilih menjadi seorang guru. Setidaknya itu yang kami tahu sekarang." Imbuhnya.
"Lantas, apa yang membuat anda memintaku untuk bertemu dengan kalian?" Tanya Alfred ingin tahu.
Yoana juga Hans saling berpandangan sebelum memutuskan giliran Hans yang menjelaskan tentang maksud dan tujuan mereka.
"Kami tidak pernah bisa tahu kabar Thomas meskipun jaman sudah canggih. Kami mendengar kalau Thomas telah lama meninggal saat mungkin usia Bella masih tiga belas tahun. Dan aku kembali mencari tahu tentang keberadaan kalian melalui para pesuruhku dan meminta mereka untuk menyelidikinya. Dan dari hasil laporan mereka, kamu adalah adik angkat putra kami. Yang mengurus seluruh pemakaman Thomas beserta istrinya seorang diri ketika mereka meninggal." Jeda sejenak. Hans mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Mendengar hal itu, kami ingin menebus kesalahan kami kepada putra kami dengan cara mengangkatmu sebagai anak. Dan selain itu, kami juga ingin merawat cucu satu-satunya kami. Bagaimana?"
Alfred terhenyak lantas menunduk dalam. Seharusnya dia bahagia. Tapi..
Yoana cukup jeli untuk bisa membaca raut wajah Alfred saat ini yang tiba-tiba saja menjadi tak bergairah. "Aku sudah mendengar semuanya. Bella Aberald, nama putri dari anakku juga istrinya Adelina Lee. Benar, begitu?" Ujar Yoana menatap Alfred lekat.
Pria itu hanya mengangguk saja tanpa bisa bersuara. "Tolong maafkan aku tuan, Nyonya. Sebenarnya.."
"Aku juga sudah tahu mengenai kondisi Bella saat ini, Alfred." Potong Hans akhirnya. Menatap lekat pria itu yang kini mendongak menatap pria tua terkejut.
"Ya, aku dengar kamu mencintai cucuku dan membuatnya hamil, bukan?"
Dheg!!
Pertanyaan Hans lebih ke arah pernyataan daripada di sebut sebagai kalimat tanya. Rasanya ingin sekali detik ini juga bumi membelah dan menelannya hidup-hidup, karena terlalu merasa malu. Tiba-tiba Hans tertawa terbahak-bahak, hal itu menyebabkan Alfred menatap pria tua itu bingung. Sementara Yoana menghela nafas berat merasa malu.
"Tidak perlu cemas, Alfred. Kami merestui hubungan kalian. Dan sebisa mungkin kami akan membantumu mengambil kembali Bella." Kata Yoana akhirnya.
Entah dia harus bersikap bagaimana sekarang. Yang jelas kini doanya telah terkabul. Keajaiban itu benar-benar ada sekarang. Bella akan kembali padanya. Dan lagi, ada seseorang yang merestui hubungannya. Lebih kuat yang bisa melawan keluarga Anita. Bolehkan, dia sedikit egois?
**********
Semenjak pertunangan Bella dengan Edward, kini Aleysia bahkan bisa selalu dekat dengan Brandon. Bahkan tidak segan-segan Brandon mengantarkan wanita itu kemana saja mengingat dia juga tidak bisa mengendarai mobil. Ashley sendiri memilih melanjutkan kuliahnya di kampus university yang sama dengan Edward, mengambil S2-nya.
Dan untuk Edward sekarang lebih leluasa untuk menemui Bella. Seperti saat ini pria itu berada di kamar wanita blonde itu. Menemani Bella duduk di balkon.
"Apa kamu mau keluar?" Tawar Edward tiba-tiba, dia menatap Bella datar. Hampir satu bulan ini Bella tidak pernah di ijinkan keluar. Hanya karena Anita takut kalau Bella akan menemui Alfred lagi.
Bella hanya melirik Edward. Tak ada niatan untuk menjawab pemuda dengan model rambut emo itu. Bahkan setelah beberapa hari pertunangan mereka, Bella langsung melepas cincin pertunangannya dengan Edward dan mengganti dengan cincin pemberian Alfred lagi.
"Apa kamu yakin bisa membujuk bibi Anita? Aku rasa tidak." Ujar Bella dengan nada meremehkan.
Sejenak Edward hanya menatap Bella lekat-lekat. "Akuㅡ"
Tok Tok Tok...
Bella dan Edward melirik seseorang yang masuk ke dalam kamarnya lewat bahunya. Chal menemuinya? Tumben. Batin Bella mendengus.
"Bella, kamu tidak ingin keluar mencari udara segar?" Tanya Chal tiba-tiba.
"Tidak." Jawab Bella singkat namun tegas.
"Cuacanya sangat cerah untuk kandunganmu itu. Aku pikir, tidak baik setiap hari kamu mengurung diri di kamar saja."
"Hmph!" Kekeh Bella semakin mencemooh sinis. "Aku tidak butuh belas kasihmu, paman."
Chal tersentak seketika. Tidak menyangka kalau keponakannya itu akan memberikan pukulan telak kepadanya.
"Selama aku ada di sini, selamanya aku tidak akan merasa lebih baik meskipun beratus-ratus kali menghibur diri di luar penjara ini, paman." Tukas Bella lagi.
"Paman paham. Keluarlah. Temui kekasihmu itu. Apa kamu tidak merindukan ayah dari janin yang kamu kandung itu?" Bella mengernyit sejenak sebelum memutar kepalanya perlahan-lahan untuk menatap Chal meminta penjelasan. Chal tersenyum tipis lantas mengangguk sekali. "Bukankah paman tidak pernah ikut melarangmu untuk bersama Frederick? Paman diam karena paman tidak mau berdebat dengan bibimu yang memang sejak awal sudah tidak menyukai pria itu. Terlebih Ashley." Jelas Chal, mengimbuhi.
"Apa itu artinyaㅡ" ucapan Bella menggantung menatap Chal, juga Edward yang menggendikkan bahu acuh lantas melengos tidak mau tahu.
"Pergilah dengan Edward. Temui dia. Dan... Satu pesan dari paman. Jangan sampai kalian bertemu dengan Ashley."
"Tapi bibiㅡ bagaimana dengan dia?"
"Tenangkan saja pikiranmu. Jangan terlalu banyak berfikir. Soal bibi, biar paman Chal yang menanganinya." Sela Chal lagi. Pria paruh baya itu mendekati Bella seraya mengacak surai blondenya penuh rasa sayang. "Paman sangat yakin, Thomas juga Adelina pasti merestui hubungan kalian."
Bella bahkan tidak tahu lagi harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa membuka tutup mulutnya dengan pelupuk mata yang hampir meneteskan air mata. Bella sangat terkejut dengan pernyataan dari suami bibinya itu yang bahkan tidak pernah di duga sebelumnya akan membelanya.
"Tapi kenapa paman seolah tak merestui hubungan kami sebelumnya?" Tanya Bella lagi, ingin tahu.
Chal hanya tersenyum simpul. Kalau boleh jujur, dia bahkan baru bisa tersenyum seperti ini saat bertemu pertama kali dengan Thomas ayah Bella. Sahabat lamanya. Hingga menjadikan mereka menikahi dua bersaudara Adelina dan Anita dalam waktu yang hampir bersamaan. Kedekatannya dengan Thomas membuatnya mampu keluar dari jalur aturan ketat keluarganya, menjadikan dirinya seorang pria yang penuh keceriaan.
"Tanyakan nanti pada Edward. Sudahlah. Kalian bersenang-senanglah. Dan kamu Edward, aku minta jaga dengan baik Bella dan juga janinnya yang masih muda. Karena akan sangat riskan untuk kehamilannya di usia muda. Dan jangan biarkan dia terlalu kelelahan." Ujar Chal memberi petuah panjang lebar pada keduanya.
"Aku mengerti." Sahut Edward singkat padat dan jelas.
Bella sendiri merasa terkejut ketika Edward juga terlibat dalam hal ini. Dia benar-benar di buat penasaran oleh kedua laki-laki yang memiliki wajah yang sangat mirip itu.
Memang benar Anita tidak sedang berada di Villa saat ini. Hingga membuat Edward dan juga Bella lebih mudah untuk keluar. Bahkan penjaga tidak ada yang berani mencegah ketika Chal sendiri yang mengantar kepergian mobil Lamborghini biru milik Edward.
Bella masih diam saja menatap lurus ke depan sibuk dengan pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Membuat Edward melirik Bella sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" Celetuk Edward mencoba mencairkan suasana yang sedikit sepi di antara mereka.
__ADS_1
"Ya.. Edward. Apa maksud paman Chal aku harus menanyakannya padamu? Apa hubungannya?" Ujar Bella mencebikkan bibirnya berfikir.
"Yang aku tahu, pamanmu itu tidak pernah ada niatan untuk menentang hubunganmu dengan Alfred sejak awal." Bella menelengkan kepalanya lucu menatap Edward dengan pipi menggembung lantas mengerutkan keningnya mencoba berfikir keras. "Karena paman Chal adalah sahabat karib dari ayahmu semasa kuliah mereka dulu." Imbuh Edward akhirnya.
Bella terhenyak menatap Edward lekat. Berharap dia menemukan satu titik kebohongan saja dari wajah tanpa ekspresi milik Edward saat ini. Namun apalah daya, wajah Edward memang sulit untuk di tebak olehnya.
"Darimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu?"
"Chal, bukan? Maksudku pamanmu sendiri." Jawab Edward enteng tanpa beban. Wanita itu memutar bola matanya malas seraya mendengus.
"Ha-ah... Sebenarnya apa yang kamu rencanakan untukku, Edward?! Kenapa aku tidak boleh tahu?" Seru Bella mulai jengah. Namun Edward hanya melirik wanita blonde itu lewat ekor matanya. Menyeringai penuh arti.
"Agar kamu bisa bebas keluar dengan mudah denganku." Sahut Edward apa adanya.
Tak lama setelah berada di perjalanan, Edward memberhentikan mobilnya di dekat taman. Dia turun dari mobil seraya berputar ke arah pintu mobil samping membukakan pintu untuk Bella. Mereka berjalan beriringan menuju ke taman tersebut. Memilih duduk di sebuah bangku yang di sekelilingnya terdapat pohon maple.
Bella menghela nafas panjang seraya menghempaskan bokongnya pada bangku taman. Mengedarkan pandangannya ke hamparan suasana taman di depannya. Diikuti Edward yang terdiam memandang lurus.
"Seandainya waktu bisa di putar kembali, aku ingin kedua orangtuaku masih hidup, Edward." pria itu menoleh menatap Bella intens. Sedangkan Bella kini masih menatap lurus ke depan. Sedikit tersenyum getir kala menyadari kenyataan dirinya hanya hidup berdua dengan kekasih yang selama ini di anggapnya sebagai seorang kakak kandung. "Mungkin jika mereka masih hidupㅡ aku tidak akan merasakan hal seberat ini." Lanjutnya.
Edward masih bergeming. Ketika Bella menoleh untuk menatapnya, dia justru kembali menatap lurus ke depan tanpa membalas tatapan intens Bella. Terlalu menyakitkan menurutnya.
"Edward?!" Seru Bella memanggil pria itu.
Sontak saja Edward memutar kepalanya untuk menatap Bella, membuat kedua mata mereka saling bertemu pandang begitu intens.
"Terimakasih." Edward sontak menaikkan sebelah alisnya merasa bingung.
"Untuk?" Timpal Edward bertanya.
"Semuanya." Bella menjeda kata-katanya hanya untuk menghela nafas. Menundukkan pandangannya sebelum kembali mengalihkan matanya ke depan. "Kamu selalu membantuku di saat aku membutuhkan bantuan. Menggantikan kakakku sebagai seorang kakak saat dia tidak ada di sampingku. Aku senang bisa mengenalmu dan menjadi sahabatmu, Edward. Kalau saja sejak awal aku bisa menㅡ"
"Cukup Bell!! Jangan di teruskan." Potong Edward cepat. Menyebabkan Bella terlonjak menampar wajahnya untuk menatap Edward tanpa nyawa dengan kernyitan di dahinya. "Sudahlah, kamu tidak perlu membahas semua itu." Tambahnya.
Hening.
"Oh..? Emb.. O-ok." Lirih Bella terbata-bata. Seketika pria itu mendesah lelah, mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan mata menyempit.
'Ha-ah.. Dasar gadis bodoh!' Batin Edward miris.
"Kamu mau bertemu dengan kakakmu, kan?" Tawar Edward mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sontak Bella menoleh ke arah Edward cepat. Menatap sahabatnya itu lekat. Edward menghentakkan dagu ke depan meminta jawaban dan Bella hanya membalas dengan beberapa kali mengedipkan mata lucu dan mulut menganga.
"Kita bisa pulang ke rumahku dan kamu bisa menemuinya di tempat tinggal lama kalian." Edward menambahi. Membuat kedua mata Bella berbinar cerah. Bahkan kini telah berkaca-kaca.
"Tentu. Aku mau." Timpal Bella tersenyum penuh semangat. Mengangguk-angguk cepat beberapa kali sebelum dia beranjak dari kursi taman.
Selanjutnya, Edward dan Bella langsung melesat menuju ke prefektur A kota Washington. Di mana rumah Edward dan Bella berada.
Bella berlari keluar dari mobil Edward setelah keduanya sampai. Dengan senyuman bahagia yang tersungging di sudut bibir sang blonde, wanita itu lantas mengetuk pintu tempat tinggalnya dengan Alfred. Berharap kakaknya telah berada di rumah mengingat jam di tangannya telah menunjukkan waktu berakhirnya pekerjaan sang kakak. Sayangnya, kunci duplicate rumah yang dia miliki sebelumnya ikut tersita Anita ketika dia di sekap.
Namun di ketukan yang ke sekian kalinya, senyum yang tersungging manis di bibirnya itu perlahan memudar berganti kecemasan. Sejenak wanita itu menoleh ke arah Edward sendu dan di balas dengan tatapan juga wajah datar milik sahabatnya.
DAG!! DAK!! DAG!!
Kali ini Bella tidak mengetuk pintu tempat tinggalnya secara pelan. Ia sudah mengetuknya kasar dan keras. Namun Alfred tetap tidak kunjung keluar.
"Kakak!!! Ini Bella! Apa kakak di dalam?!" Teriaknya kembali menggedor keras. "Aku mohon buka pintunya, Kak! Jangan buat Bella cemas!"
"Kamu tidak membawa kunci duplikatnya?" Tanya Edward heran. Bella hanya menggeleng tanpa menatap pria itu dengan masih menggedor pintu.
Bahkan kini matanya telah berkaca-kaca. Kenapa kakaknya tidak juga meresponnya? Hingga pertahanan bendungan di pelupuk matanya itu akhirnya jebol dan cairan liquid bening keluar deras.
"Hiks.. Hiks.." Isakan tangis mulai lolos dari bibirnya. Membuat Edward membelalakkan mata cemas.
"Hey, gadis bodoh! Kenapa kamu malah menangis?" Pekik Edward mendekati Bella. Mengecek kondisi wanita itu yang sudah berantakan berurai airmata. Bahkan kini ketukan Bella pada pintu mulai melemah.
"Kakak. Kamu di mana?" Racau sang blonde di sela isakan tangisnya.
Tak jauh dari tempat tinggal milik Alfred, Gavyn yang baru saja pulang bersama Helena tampak terkejut melihat Bella yang meraung dan menangis dengan terisak pilu. Segera keduanya mempercepat langkah mereka untuk menghampiri si blonde yang sudah sesenggukan.
"Bella m?" Secepat kilat Bella menoleh ke sumber suara. Melihat Helena dan Gavyn menghampirinya, dia langsung berjalan cepat mendekati keduanya.
"Miss Helena, apa kamu melihat kakakku Alfred? Aku sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada yang menyahut." Bella menyerocos panjang lebar."Seharusnya dia sudah pulang, kan?"
Helena mengernyit. 'Apa Alfred masih belum juga selesai dengan urusannya? Apa dia baik-baik saja?'
"Katakan padaku kamu mengetahui sesuatu tentang kakakku, Miss Helena." Helena sontak saja tersentak mundur selangkah.
"Yang aku tahu dia pergi dengan seorang pria berjas hitam danㅡ"
"Apa? Pria siapa itu?!" Potong Bella berteriak semakin cemas. Orang itu bukanlah suruhan bibinya, kan?
Bella membekap mulutnya. Apa kakaknya itu di bawa oleh suruhan bibinya? Tapi apa salahnya? Apa salah Alfred sampai bibinya Anita menyuruh orang untuk membawa Kakaknya itu? Perasaannya mulai tidak karuan sekarang. Bahkan ucapan Edward yang menyuruhnya untuk tenangpun tidak terdengar olehnya.
'Ya Tuhan! Aku mohon. Tolong lindungi Alfred. Demi anak kami.'
************
Setelah Yoana dan Hans menjelaskan panjang lebar pada Alfred, pria itu akhirnya menuruti keinginan Yoana yang memintanya untuk tinggal di kediaman kedua orangtua itu.
Ketika dia masuk ke dalam rumah megah bak istana milik Hans, dia hanya bisa bungkam dengan ketidakpercayaan. Dia tidak tahu bahwa kakak angkatnya yang terlihat bersahaja dan sederhana ternyata berasal dari keluarga bangsawan Jerman. Alfred bahkan terkejut ketika mendengar cerita bahwa Thomas menolak untuk menjadi pewaris sah keluarga Aberald hanya karena sebuah mimpi yang belum tentu pasti terwujud.
Meskipun mimpi Thomas untuk menjadi seorang musisi itu kandas, Alfred cukup kagum dengan keputusan Thomas untuk menjadi seorang guru pada masa mereka bertemu. Pria itu tidak pernah terlihat bersedih karena keadaannya yang biasa saja. Padahal, bila melihat bagaimana orangtua Thomas begitu sekaya ini, bukankah seharusnya Thomas bersyukur dan tetap berada di samping keluarganya?
Mungkin, tanggung jawabbya terlalu besar untuk menjadi pewaris sah bisnis keluarga Aberald. Oleh karena itulah Thomas memutuskan untuk kabur hingga menemukan tujuan hidupnya sendiri.
.
.
__ADS_1
.
To be continue...