
Aku berpikir bahwa kamu akan selalu ada di sini. Tapi sekarang tidak lagi.
Tidak peduli seberapa banyak waktu yang telah berlalu,
Perasaanku semakin tumbuh setiap hari dan setiap malamnya, Mengapa aku tidak bisa menyampaikan semuanya kepadamu?
Dari hari pertama aku bertemu denganmu, aku merasa seperti aku tahu bahwa kita berdua telah menyatu bersama-sama secara alami.
Kemanapun kita pergi, kita selalu bersama-sama. Dan hal itu begitu alami bagi kamu untuk menjadi denganku.
Kita juga menjadi dewasa bersama-sama. Tapi kau justru memilih jalan yang berbeda.
Kamu berdiri dengan senyum kebahagiaan, dengan orang di sebelah kamu yang ternyata bukan aku.
Bagaimana mungkin aku hanya berdiri di sini dan menonton tanpa bisa berbuat apapun?
Mengapa aku tidak dapat menggapai tanganmu?
Kamu seharusnya selalu ada di sisiku. Tapi sepertinya sekarang tidak akan pernah terwujud.
Tapi, meskipun aku mengatakan bahwa aku ingin kau dekat denganku, aku hanya bisa berdoa agar kamu akan bahagia selamanya.
Tidak peduli seberapa besar yang akan membuatku kesepian nantinya tanpa dirimu.
Edwardㅡ
.
.
.
Bella : 13 tahun
Edward : 14 Th.
Brandon : 21 Tahun
Helena : 21 Tahun
Alfred, Gavyn : 22 Tahun (beda 9 tahun dengan Bella)
.
.
.
Edward berdiri mematung di balkon rumahnya. Dengan pandangan lurus mengarah pada dua sosok manusia yang bergender berbeda di samping rumahnya. Sorot matanya menyiratkan kelukaan yang dalam pada gadis satu-satunya di sana. Gadis dengan surai blonde dan memiliki iris batu sapphire.
Mungkin ia memang terlihat baik-baik saja. Tapi bila di perhatikan dengan seksama, sorot matanya mengatakan bahwa dia tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Seperti hatinya saat ini, matanya memang tidak bisa mengeluarkan setetes liquid bening. Namun batinnya menangis meraung memanggil sosok orang yang telah singgah di hatinya itu. Seolah orang tersebut adalah pemilik singgasana hatinya yang telah kosong bertahun-tahun lamanya.
Edward. Dia benar-benar tidak bisa melihat orang yang ia suka begitu sangat bahagia hanya karena dekat dengan seseorang yang tidak tepatㅡkakaknya sendiri.
Bagaimana bisa orang yang dia suka justru memiliki perasaan cinta terhadap kakak kandungnya sendiri? Sedangkan di sini, ada seseorang yang selalu ada di sisinya bahkan dari sewaktu mereka masih kecil.
Dari arah dalam rumah, seorang pria yang tidak lain adalah Brandon muncul. Pria itu bermaksud ingin bersantai di balkon rumahnya. Tetapi ketika kaki lima ria itu sampai di sana, langkahnya terhenti saat matanya melihat siluet sosok adiknya yang sedang berdiri bergeming di balkon. Di liriknya arloji di pergelangan tangan kanannya.
Masih pukul 03.00 sore. Tapi adiknya sudah ada di rumah. Apa dia tidak sekolah? Ia kembali berjalan ingin mendekati Edward yang tampak menatap sesuatu dengan pandangan terluka. Ya, Brandon menyadari itu. Instingnya tidak mungkin salah.
Diikutinya kemana arah pandangan adiknya itu melihat. Dan ia pun menyeringai tertawa lirih saat tahu objek yang sedang di perhatikan oleh adiknya itu, 'Bella, apa aku menebaknya dengan benar?'
"Ekhem... Edward?" Panggil Brandon pura-pura tidak menyadari apa yang sedang di lakukan adiknya itu. "Kenapa kau di sini? Kau tidak sekolah?"
"Hm." Jawab singkat pemuda itu tak mengindahkan pertanyaan Brandon. Edward buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kalau kau menyukainya kenapa tidak kau ungkapkan perasaanmu itu?" Celetuk Brandon, tiba-tiba menyindir adiknya dan tepat sasaran.
"Bukan urusanmu!!" Ujar Edward, dingin. Pemuda itu lantas berbalik dan berlalu pergi tanpa menatap mata Brandon sedikitpun.
Brandon mengernyit sekilas ketika Edward melewati bahunya. Lalu beralih pada sosok Bella juga Alfred yang sudah pergi meninggalkan halaman rumahnya.
"Andai saja mereka itu sedarah. Aku pasti akan membantumu, adikku yang bodoh. Sayang.. Mereka tidak sedarah. Dan kau harus terima kenyataan pahit itu." Cicitnya sembari duduk di kursi ayunan anyam yang sengaja di taruh pada balkon.
Ia meletakkan sepiring kue apple cinnamon di atas meja pojok ayunan yang dia duduki dengan di temani secangkir mocca latte.
Di sumpelnya salah satu lubang telinganya dengan earphone. Memilih satu lagu dari daftar pemutar musik playlist smartphone-nya. Tanpa sengaja ia menyentuh lagu yang tidak ingin dia pilih. Namun tiba-tiba saja ia menyeringai sembari mendengus geli saat mendengar sebait lirik dari lagu yang ia pilih secara kebetulan. Lagu dengan judul 'Somebody That I Used To Know dari Gotye feat. Kimbra'.
Deana juga suaminyaㅡBrian, yang kebetulan berada di rumah terkesiap ketika melihat putra bungsunya tiba-tiba melewati mereka begitu saja tanpa permisi. Bahkan langkahnyapun seperti orang yang sedang dalam keadaan mood buruk.
"Ada apa dengan anak itu akhir-akhir ini?" Tanya Brian, lebih kepada dirinya sendiri. Deana menggeleng pelan tanda dirinya juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi kepada putranya itu.
"Entahlah. Aku akan coba menemuinya." Deana sendiri merasa cemas. Melihat putra bungsunya yang hampir berbulan-bulan terlihat selalu murung.
Beruntung ketika wanita itu sampai di depan kamar Edward, Deana menyadari dia masih bisa mengintip putranya dari balik pintu kamar pemuda itu yang ternyata tidak di kunci. Ia mengernyit ketika mendapati Edward berdiri di sebelah ranjang menghadap ke sebuah nakas.
Edward memperhatikan semua deretan foto dirinya dengan Bella yang selalu di figura oleh ibunya sejak masih kecil. Ia menyendu pilu membayangkan masa lalunya bersama Bella yang selalu tampak bersama sebelum gadis itu mulai terbiasa tanpa dirinya juga keluarganya.
"Gadis bodoh." Lirihnya pelan, dia tersenyum hambar mengelus kaca figura pada bagian wajah Bella di foto tersebut.
Deana samar-samar bisa melihat apa yang tengah putranya lakukan. Tubuhnya tersentak dengan mata membulat. Dia terhenyak, membungkam bibirnya dengan telapak tangannya. Apa jangan-jangan...
Di cobanya untuk memberanikan diri mengetuk pintu kamar Edward sebelum dirinya masuk.
Edward yang mendengar ketukan pintu itu menoleh seraya mengembalikan figura yang dia pegang ke tempatnya semula.
Deana menyunggingkan senyum hangatnya menatap Edward lembut. Ia menghampiri Edward dan mengelus surai sang putra bungsunya penuh sayang.
"Apa ada masalah dengan Bella? Maaf, mommy tidak sengaja melihatnya menatap foto kalian berdua tadi." ujar wanita paruh baya itu, hati-hati. Dia harus ekstra sabar dan penuh hati-hati bila berhubungan dengan Edward. Karena Edward adalah anak dengan tipikal yang tertutup.
Edward sejenak bungkam, dia hanya menundukkan matanya tidak ingin menjawab. Hal itu membuat Deana tersenyum maklum. "Tidak masalah kalau kau tidak mau bercerita pada mommy. Mommy juga tidak akan memaksamu untuk bicara." Imbuhnya kemudian.
Sejenak Edward menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Pandangannya menerawang ke awang-awang.
"Aku menyukai Bella, Mom." Celetuk Edward, tiba-tiba mengaku. Dan itu menyentak batin Deana. Ia meringis mendengarnya pengakuan dari putra bungsunya. Kenapa harus Bella? Batinnya meraung.
Bukan masalah besar sebenarnya kalau putranya itu memiliki perasaan suka pada gadis bersurai blonde itu. Bahkan dia juga ingin memiliki anak perempuan yang lucu seperti Bella. Tapi sepertinya ini menjadi kesalahan besarnya.
"Entah sejak kapan perasaan ini ada, aku tidak tahu. Yang jelas aku tidak suka saat melihat Bella dekat dengan kakaknya." imbuh Edward mulai merajuk. Deana speechless di buatnya.
__ADS_1
Baru kali ini putra bungsunya bisa mengatakan sesuatu lebih dari satu suku kata. Sungguh, cinta memang sebuah keajaiban. Bisa merubah orang dalam waktu sekejap mata.
"Aku benci melihat interaksi mereka." Kembali pemuda dingin itu meluapkan segala uneg-unegnya selama ini di depan ibunya tanpa rasa malu. Dan akhirnya ia sedikit bisa merasa lega setelah membagi bebannya pada ibunya itu.
"Kenapa kau bisa membencinya? Bukankah sesuatu seperti itu termasuk hal yang wajar bagi kakak adik?" Tanya Deana memancing. Ia ingin tahu bagaimana Edward akan menanggapi pertanyaannya sebelum ia memberitahu sesuatu hal yang tidak pernah ia ungkap pada putra bungsunya itu sebelumnya.
Mengingat Bella adalah seorang gadis yang selama ini dekat dengan putranya Edward, dia merasa tidak akan ada masalah di masa yang akan datang nanti. Namun sekarang, hal itu justru malah menjadi masalah bahkan sangat rumit.
"Coba saja mommy bayangkan. Mana ada seorang adik atau kakak mencium saudaranya sendiri layaknya sepasang kekasih? Apa Bella itu benar-benar bodoh? Apq mereka sudah gila?" Umpatnya meledak-ledak.
Deana terhenyak sejenak. Sorot matanya menyendu. Ah, apa siap dirinya memberitahu yang sebenarnya pada putranya? Andai kau tahu, nak. Mereka bukanlah saudara sedarah seperti yang kau kira. Maafkan ibumu ini yang belum bisa jujur padamu.
Deana tersenyum simpul kembali mengelus surai emo milik Edward, sayang. "Kalau begitu, cobalah kau nyatakan perasaanmu itu pada Bella. Dengan begitu kau akan merasa lega, bukan? Terlepas dari nantinya akan di terima atau tidak, setidaknya kau sudah mengungkapkannya dengan jujur."
Edward bungkam, namun dalam hati ia membenarkan ucapan ibunya. Ia tersenyum tipis pada Deana dengan hati yang sedikit merasa lega dan mengucapkan terima kasih.
Ya, setidaknya dirinya harus berusaha terlebih dulu. Ya, dia akan mengatakannya nanti bila bertemu dengan gadis blonde itu segera. Tekadnya bulat.
Deana kembali tersenyum pahit dan menyendu. Biarlah tak mengapa. Asalkan putranya bahagia, ia yang akan menanggung semua kesalahan ini seorang diri.
'Maafkan Mommy, Edward.'
.
.
.
Satu setengah jam perjalanan yang di tempuh oleh Alfred juga Bella ke Wyoming, di mana Wyoming merupakan daratan iklim subtropis yang meliputi panas dan dingin dikelilingi hutan subtropis dan pegunungan, Wyoming sendiri memiliki taman nasional yang besar seperti Yellowstone National Park. Secara umum Wyoming juga menyambung ekonomi dengan pertambangan dan pertanian dengan hasil yang sangat melimpah.
Sampai di sebuah kawasan yang jarang penduduk, Alfred berhenti di sebuah bangunan yang berdesain setengah melingkar. Di tumbuhi beberapa pohon willow, juga tanaman penuh bunga yang sepertinya selalu di rawat.
Sorot mata Bella membulat dengan binar ceria kala ia memandang halaman rumah di depannya itu tampak begitu indah dengan berbagai macam tanaman bunga. Apa ini adalah rumah penjual bunga? Pikirnya. Tapi untuk apa kakaknya berhenti di rumah ini? Itu yang menjadi pertanyaan. Tapi detik kemudian ia menepis pikirannya dan berlari ke arah halaman rumah itu yang di tumbuhi oleh berbagai macam bunga dan tanaman lainnya. Dan menariknya, bunga-bunga itu adalah bunga kesukaannya.
"Waahh.. Indah sekali." Pekik gadis itu girang. Alfred hanya tersenyum, mengabaikan adiknya yang masih asik dengan bunga-bunga itu.
Pria itu memilih berjalan menghampiri rumah bercat jingga soft dengan warna biru yang sangat kontras baginya. Alfred menekan bell yang terdapat pada dinding di sebelah pintu rumah bercat coklat kemerahan itu beberapa kali.
Ceklek!!
Muncullah seorang pria bertubuh tinggi berbadan tegap dengan kulit gelap. Ia memakai kaos tanpa lengan. Bersurai hitam.
"Ah, kau ternyata sudah kembali tuan Alfred."
"Ya, begitulah. Tapi hanya untuk dua hari. Minggu sore aku akan kembali ke Washington." Sahut Alfred. "Dan lagi, aku tidak suka kau memanggilku tuan tiap kali kita bertemu. Itu sangat menggangguku, kau lebih tua dariku, okay?" Imbuhnya.
Pria itu tersenyum. Lalu pandangannya beralih pada sosok gadis blonde yang sedang menikmati taman bunga buatannya dengan cerianya. Kembali ia tersenyum. Alfred mengikuti arah pandangan pria itu hanya bisa menyunggingkan senyumnya tipis.
"Dia sudah besar ternyata." Monolog pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella. Alfred hanya bergumam sebagai respon setuju.
Bella berlari kecil menghampiri Alfred bersemangat seraya menggamit lengan pria itu dan mengguncangnya pelan.
"Kakak, apa kita bisa memiliki rumah seperti ini? Aku merasa nyaman di sini." Kata gadis itu dengan ekspresi polos. Matanya bahkan seperti anak anjing yang meminta di beri makanan. Berbling-bling bersinar terang.
"Ahaha.. Apa kau senang?" Timpal pria di depan Alfred tertawa renyah.
"Bukan. Bila kau mau, tinggalah di sini. Dan jangan panggil aku paman. Aku masih 27 tahun." Pria itu menyeringai.
"HIIEE??!! Yang benar?" Bella mengamati wajah pria di depannya itu lamat-lamat. Miring kanan, miring kiri, berfikir. Benarkah masih semuda itu? Pikirnya. Membuat pria itu menelan kering risih.
"Benarkah, aku bisa tinggal disini?" mengenyahkan masalah tentang usia pria itu, Bella lantas bertanya dengan mata berbinar bahagia. Melupakan masalah yang baru saja mengejutkan dirinya. Akan lebih bahagia lagi kalau yang di katakan pria di depannya itu benar-benar nyata.
"Tentu saja." Jawab pria itu mantap.
"Sudahlah. Kita bicarakan lagi nanti. Masuklah." Ajak Alfred.
Merekapun masuk dan duduk di ruang tamu. Hanya Bella sebenarnya yang duduk. Karena ia masih merasa kalau ini bukanlah rumahnya. Meski ia merasakan perasaan aneh tentang rumah ini, Bella sedikit terkejut ketika Alfred tanpa permisi nyelonong masuk saja ke dalam ruangan lain.
Di dapur, Alfred menghampiri pria tadi. Membantunya untuk menyiapkan menu makan malam.
"Apa kau tidak bisa tinggal di sini saja, Al?"
"Hm?" Alfred hanya bergumam.
"Ini rumahmu, bukan rumahku. Yah... Meski aku tertolong karenamu, aku bisa berhemat untuk menyewa apartment sendiri nantinya." Jelas pria itu lagi.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu, Mon. Kau tidak perlu menyewa apartment. Kau dan juga Nicky bisa tinggal selama mungkin di sini. Ada atau tidaknya aku di rumah ini." Tegas Alfred telak. Seakan ucapannya merupakan sebuah titah yang tak bisa terbantahkan. Dan setelah itu, Alfred melengos meninggalkan Ramon. Alfred membenci sesuatu yang seharusnya tidak di ulang. Seperti mengulang ucapan yang sama setiap kali membahas masalah rumah mereka.
Ya, rumah itu milik Alfred. Lebih tepatnya adalah rumah milik almarhum kakak angkatnya, yang tak lain ayah Bella. "Satu lagi, tolong minta Nicky memetikkan aku beberapa tangkai bunga tulip. Aku akan ke pemakaman besok."
Ramon hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah saja. Menerima perlakuan teman lamanya yang seenaknya sendiri namun baik secara bersamaan.
"Aku pulang!!" Seru seorang pemuda berperawakan mungil juga cantik secara bersamaan, pemuda itu memiliki surai hitam kecoklatan dan lurus sepinggang. Hingga membuatnya tampak seperti seorang wanita.
"Selamat datang kembali." Timpal Bella tanpa sadar.
"Eh?!" Nicky tersentak juga kaget mendapati suara asing di indra pendengarannya. Ia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang gadis blonde yang tengah sedang tersenyum ke arahnya, gadis itu duduk di sofa ruang tamu. Pemuda itu mengernyit bingung.
"Kau siapa?"
"Akuㅡ"
"Kau sudah pulang, Nick. Dia adikkuㅡBella." Potong Alfred, yang tiba-tiba muncul ketika Bella hendak bicara.
"Oh, Kak Alfred. Suda lama tidak bertemu. Apa kabar?" pemuda itu sontak berhambur ke arah Alfred dan memeluk pria itu akrab. Bella tersentak dengan mata membulat. Nafasnya tertahan di tenggorokan dan shock, tidak mampu berkata-kata.
"Seperti yang kau lihat." ujar pria itu tersenyum ramah. "Oh ya, Kebetulan kau sudah pulang. Tolong petikkan bunga tulip seperti biasa, ya. Nicky."
Melihat interaksi keduanya yang begitu akrab, membuat Bella menggembungkan pipinya sebal. Karena merasa sekarang dirinya sedang di abaikan.
"Cukup, cukup.. Apa aku mengganggu di sini?!" Cibir gadis itu berseru ketus.
"Aa... Bella, kenalkan. Dia kekasih dari Ramon, pria yang tadi kau temui. Namanya Nicky." Tukas Alfred cepat-cepat. Dia takut membuat Bella salah paham dan marah lagi padanya.
Nicky tersenyum ramah pada Bella hingga kedua matanya menyipit. "Senang bertemu denganmu, Bella."
Bella mempoutkan bibirnya sebal. "Ya, kak perempuan. Kau sangat cantik." Puji Bella tulus, belum sadar jika Nicky berjenis berbeda darinya. Ia tersenyum sangat manis ke arah Nicky.
Nicky terhenyak kaget mendengar pujian Bella untuknya.
__ADS_1
"Dia itu laki-laki, bocah." Seloroh Ramon, dari dalam rumah. Pria itu yang baru saja datang ikut berkumpul.
"HIIEEE?!!! APA??!! Tu-tu-tunggu dulu, tunggu dulu. Kak Al, a-apa itu benar?" Tanya Bella berjengit salah tingkah pada Alfred.
"Ah. hahaha..." Alfred hanya tertawa kecil menanggapi Bella.
"Eh?!" Bella terkesiap melihat betapa merdu dan indahnya alunan suara tawa Alfred di telinganya yang jarang dirinya dengar selama ini. Suara tawa milik Alfred seperti lagu lullaby pengantar tidur untuknya.
Untuk beberapa saat dunia Bella berubah menjadi padang bunga. Burung-burung camar yang saling berkicauan, kupu-kupu berbagai rupa warna beterbangan di sekitar Alfred dengan taburan kelopak bunga dandelion yang beterbangan tertiup angin.
"Manisnya.." Lirih gadis itu tanpa sadar melamun. Ia bahkan senyum-senyum sendiri seraya menangkup pipinya. Menghayati ciptaan Tuhan paling tampan juga sexy di depannya. Acap kali sapphire nya berkedip-kedip manja. Membuat orang yang di pandanginya melongo bingung di buatnya.
"Ha?!" Alfred terkejut melihat Bella menatapnya intens. Apalagi sambil senyum-senyum terpesona kepadanya.
"Bella?" Panggil pria itu sedikit khawatir. Namun Bella masih tidak sadar. Ia kemudian melambai-lambai kedua tangannya di depan wajah gadis itu. Tapi Bella masih juga tidak bergerak sedikitpun.
"Huh?"
Kedip, kedip cepat, kedip pelan. Alfred speechless di buatnya. Bellanya kesambet apa sampai jadi seperti ini? Pikirnya mendesah lelah.
"Pfftt!!"
Ramon juga Nicky bahkan menahan tawanya yang hampir meledak melihat kelakuan Bella yang terlalu terkesima oleh pesona kakaknya sendiri. Baru Juga hanya karena Alfred tertawa saja ia sudah seperti ini. Apalagi kalau sampai tahu tingkah absurd Alfred yang tergila-gila dengan novel dewasa comedy yang di terbitkan secara limited edition setiap tahun.
Alfred menyeringai mesum. Membuat Ramon dan Nicky yang menyadari hal itu langsung terbirit masuk ke dalam rumah. Tidak ingin mengganggu keduanya.
Alfred menyingkap kacamatanya hingga terlihatlah sorot mata yang tajam penuh bahaya dengan seringai jahilnya ke arah Bella. Itupun belum bisa menyadarkan diri adiknya. Astaga..! Dan detik kemudian...
Chuupp!
Sebuah kecupan yang cukup lama penuh penghayatan dari Alfred akhirnya berhasil menyadarkan Bella dari khayalan panjangnya. Dan itu membuat pipinya merona layaknya kepiting rebus dengan mata membulat tidak percaya, dirinya mendapat perlakuan secara mendadak dari kakaknya itu.
Alfred menyeringai dan melepaskan bibirnya dari bibir mungil Bella puas. Mendesah lega. "Akhirnya. Jangan melamun Bella, tidak baik." Dan setelah mengatakan itu, Alfred berbalik dan nyelonong pergi dengan senyum kemenangan meninggalkan Bella seorang diri di ruang tamu. Terlihat bahwa ia kini sangat bahagia karena mendapat tatapan yang tidak biasanya dari Bella selama ini.
Sebuah tatapan yang hanya di perlihatkan dan di berikan untuk seseorang yang special di hati kita. Atau untuk seseorang yang diam-diam kita cintai. Dan itu ia dapatkan dari adiknya hari ini.
Sementara itu, Bella masih membatu saking shock-nya. 'Apa yang baru saja terjadi? Kenapa aku tidak sadar?!'
"HUUAA!! Ya Tuhan, aku malu!! Bagaimana ini?!! Gawat, gawat, gawat, aduh... Matilah aku. AAAAA.....!!!" Racaunya meraung frustasi. "Mau di taruh di mana mukaku nanti di depan Kak Alfred?! Astaga!! Aku tidak punya muka lagi, huhuhu..." Bella menjambak surai blondenya dengan mencak-mencak. Ia bahkan masih meraung keras. Tidak perduli kalau sampai Alfred mendengar dan tahu kelakuannya saat ini.
"Tidak mungkin, kan. Aku taruh di pantat!!" Gerutunya mengumpat diri sendiri.
"HUUAA!! BELLA BODOH, BODOH! BODOH!!" Bella semakin menjerit putus asa. Membuat Alfred yang diam-diam memperhatikannya tersenyum lembut karena melihat Bella yang terlihat menggemaskan baginya.
"Sial, sial, sial! Terkutuklah kau Bella. Hiks.. Hiks.." Rutuk Bella.
"Semoga firasatku benar, Tuhan." Gumam Alfred, berharap.
Hatinya menghangat seketika. Dan kali ini ia benar-benar berbalik meninggalkan Bella yang masih mencak-mencak meraung meratapi kebodohannya.
.
Langit mulai gelap. Malampun telah tiba. Bintang-bintang mulai menampakkan diri bersama bulan sabit di atas sana.
Bella duduk seorang diri di lantai teras depan rumah minimanis yang dia tempati saat ini. Beberapa kali ia mendengus karena lelah. Ia masih kepikiran kejadian beberapa menit yang lalu menimpa dirinya.
Pandangannya mengedar ke penjuru taman buatan halaman rumah itu. Ia baru sadar jika bunga-bunga yang di tanam itu di kelompokkan sesuai jenis bunga yang sama.
Dari sebelah kanan yang tak di tumbuhi pohon yang rindang, ia bisa melihat bunga matahari. Bunga yang tumbuh di bawah paparan sinar matahari secara langsung. Bunga yang diartikan dengan kesetiaan dan ketulusan. Simbol dari bunga matahari menandakan adanya hidup yang ceria, penuh kehangatan disertai ketulusan dan kesetiaan. Bunga yang merupakan favorite-nya selama ini.
Ia terkesiap tidak menyangka ketika ia melihat bunga dandelion yang tumbuh di sekitar pagar kayu. Bunga yang ia bahkan jarang melihatnya. Dandelion merupakan bunga yang indah menurutnya, namun rapuh dalam sekali tiupan. Bunga yang mengandung arti bahwa seseorang harus mudah beradaptasi dan jangan takut berkelana kemana saja. Dimanapun berada, seseorang harus tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya seperti bunga dandelion ini. Ia bahkan menyukai makna dari bunga tersebut. Cocok untuk menjadi komitmen dalam menjalani kehidupan.
"Kenapa di luar, Bella?" Tanya Alfred, tiba-tiba mengejutkannya. Hal itu membuat tubuh gadis itu sontak membeku seketika dan tidak berani menoleh ke sumber suara.
"A-a,ah. I-itu, ti-tidak ada, kak. Hanya ingin melihat bunga saja." Sahut Bella dengan suara gemetar gugup. Ia kini bergerak gelisah karena salah tingkah.
Alfred menghempaskan pantatnya di sebelah Bella ikut mengedarkan pandangannya pada salah satu bunga berbagai warna namun sejenis.
"Bunga Tulip." Gumam Alfred cukup keras. Bella diam-diam melirik Alfred lewat ekor matanya. "Apa kau tahu arti dari semua warna bunga tulip itu, Bella?" Tanya Alfred, tiba-tiba.
"Huh? Emb.. Bunga tulip mengandung filosofi tentang keindahan cinta yang tak mampu diucapkan lewat kata-kata." Jawab Bella lancar. Ia menghela nafas sejenak. Dengan pandangan yang ikut mengarah pada serangkaian bunga tulip yang tak jauh dari pohon willow. Rasa canggungnya menguap seketika.
"Bunga itu juga memiliki beberapa makna menurut warnanya, seperti permohonan maaf, pernyataan cinta, persahabatan, semangat tinggi, kepedulian dan kemewahan. Tetapi secara umum, bunga tulip menyimbolkan cinta yang sempurna." Imbuhnya. Membuat Alfred cukup takjub.
"Lalu, warna apa yang menyertai perasaanmu saat ini?"
"Emb.." Bella kembali bergerak gelisah. Bingung harus mengatakan apa. Bola sapphire-nya bergerak-gerak ke kanan kiri.
Alfred menaikkan sebelah alisnya melirik Bella. Rasanya saat ini ia ingin tertawa.
"Bella?" Lirih Alfred memancing gadis itu agar mau menjawab. Ia ingin tahu apa yang tengah di rasakan gadis blonde itu saat ini.
"Semuanya, mungkin." Jawabnya ngasal. Ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang tengah di rasanya. Alfred tersenyum tipis. Sebelum kembali berbicara.
"Bagiku, kau seperti bunga Daisy, Bella." Celetuk Alfred tiba-tiba. Gadis itu tanpa sadar menoleh menatap wajah Alfred yang masih menatap lurus ke depan.
"Yang memiliki makna kepolosan karena sifatmu, kemurnian karena hatimu, kesucian di jiwamu yang masih putih bersih tanpa noda. Kesetiaan pada seseorang. Entah itu untuk temanmu atau kakakmu. kelembutan dari kasih sayangmu, dan terakhir adalah kesederhanaan dirimu yang apa adanya." Ungkap Alfred, tulus. Sontak Bella mulai memberanikan diri untuk menatap Alfred dengan tatapan yang sulit di artikannya. Antara kagum dan juga takjub.
"Kau juga sama seperti bunga Daffodil yang berarti sebuah harapan, kegembiraan dan optimisme. Dan warna kuningnya merupakan ungkapan perasaan, 'bahwa matahari akan selalu bersinar selama aku bersamamu'. Sebuah ungkapan cinta yang tiada bandingnya. Uniknya, hanya karena setangkai bunga ini saja bisa berarti sebuah kemalangan. Dan kakak ada di sini untuk melengkapi setangkai itu. Yaitu Bella." Alfred tersenyum penuh arti mendongak langit bertabur bintang.
Cheeezz!!
Bella benar-benar meleleh sekarang. Hatinya berdesir tak mampu berkata-kata.
"Dan yang terakhir adalah bunga Lily –Lily of the valleyㅡkau telah membuat hidupku sempurna, Bella Abelard."
Degh!!
Iris sapphire bertemu dengan obsidian dingin milik Alfred. Seakan terhipnotis, tubuh Bella tidak bisa lagi ia kendalikan. Senyuman Alfred membuatnya mematung. Ia bahkan tidak bisa mencerna dengan baik kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh pria itu.
'Aku tidak mungkin bisa memiliki perasaan cinta pada kakakku sendiri, kan? Dia kakakku, kakak kandungku. Tidak. Aku harus bisa berfikir rasional. Aku tidak mau kakak membenciku. Aku belum siap.'
.
.
.
.
__ADS_1