
Pria bersurai dark brown bernama Alfred Arsavhin Frederick, atau sering di kenal dengan sebutan singkat Alfred Frederick itu masih memakai kimono mandinya tanpa berniat menggantinya. Ia masih berdiri di balkon hotel berlantai 10 itu sambil menyesap secangkir moccalatte. Memandangi pemandangan kota dari bangunan yang di bangun persis di atas tebing jurang bukit.
Ceklek!!
Seorang gadis blonde berkulit putih bersih baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah. Sama seperti Alfred, ia juga hanya mengenakan kimono mandi yang menampilkan tubuh alami yang masih sedikit basah.
Bella Abelard nama gadis itu berpaling ke wajah tampan kekasihnya yang berdiri di balkon dengan masih memandang ke arah luar sambil bersilang tangan di depan dada. Bella sangat menyadari bahwa ia tengah bernapas dengan berat kala melihat tubuh pria yang ia cintai itu.
Menyadari bahwa dirinya tengah di perhatikan, Alfred berbalik. Mendapati gadis blonde kekasihnya itu kini tengah menatapnya dengan mata penuh kagum. Alfred tersenyum menghampiri Bella. Memeluk gadis yang masih memakai kimono itu ke dalam tubuhnya.
"Kau wangi, Bella." Gumam Alfred namun masih bisa di dengar oleh gadis itu. Alfred menghirup rakus aroma citrus yang menguar dari tubuh Bella yang baru saja selesai mandi itu dan dengan setiap tarikan nafas menarik lebih aroma lezat tubuh gadisnya ke dalam dirinya.
"Eerr... Kau tidak berganti pakaian, Al?" Tukas Bella malu-malu serta takut. Alfred terkekeh kecil.
"Tidak. Aku menginginkanmu." Bisik Alfred sensual dan berbahaya. Tubuh Bella meremang, wajahnya memanas seperti di bakar membuatnya merona. Alfred menyeringai. Bella hanya bisa menggigit bibirnya memaksa untuk menahan rasa canggungnya.
Alfred tiba-tiba mendorong tubuh Bella yang terkejut itu pelan menuju dinding di kamar hotel itu. Tubuhnya yang besar menjulang tinggi itu mencondong ke depan saat ia dengan sengaja menurunkan bibirnya ke bibir Bella.
Bibir gadis itu begitu manis dan lembut. Berbeda dengan janggut, dan lidahnya, seperti beludru, bertemu dengan lidahnya dalam sekejap, membelai dan mengeksplor setiap bagian dari mulut gadis blonde itu, mereka saling bergelut dengan lidah dan menghasilkan bunyi kecipak basah antara kedua benang saliva mereka yang saling bertemu dan menyambung. Menghisap bibir bawah Bella hingga rasa manis itu merasuk dalam tubuh dan otak Alfred seketika seperti narkotika.
Pria itu menyeringai puas. Ah... Jangan salahkan dia. Dia pria dewasa yang sudah berusia 27 tahun, okay? Tentu saja dia memiliki pemikiran yang lebih berbahaya dari Bella yang masih 18 tahun. ( ̄へ ̄)
Tapi tenang saja, dia masih memiliki otak untuk tidak menyerang adiknya sekarang.
"Cepat ganti baju. Dan segera tidur. Besok akan ada kejutan lagi untukmu." Alfred tersenyum tipis dengan jarak yang sangat tipis. Dia mengusap pipi halus Bella dengan ibu jarinya sebelum mendahului Bella masuk ke kamar mandi kembali untuk berganti baju piyama.
Bella masih shock di tempatnya dengan nafas tertahan. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang lebih seperti yang baru saja Alfred lakukan dulu. Dan hari ini...
Gadis itu lantas melirik pintu kamar mandi yang tertutup dengan kernyitan bingung. Kenapa baru sekarang kakaknya melakukan hal demikian? Kenapa tidak dari dulu setelah mereka mengungkapkan perasaan masing-masing. Apakah... Karena dia dulu masih di bawah umur, karena itulah Alfred menahan diri untuk tidak melakukannya? Sepertinya begitu.
Setelah Alfred keluar dari kamar mandi, sekarang gilirannya untuk mengganti kimono mandinya dengan piyama tidur.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika mereka sedang duduk di depan televisi. Keduanya tengah menonton sebuah film action yang menjadi favorit mereka selama ini.
Bella menghela nafas berat menyandarkan kepalanya di bahu Alfred yang meliriknya sekilas sebelum kembali fokus menatap layar yang menampilkan film yang sedang di putar.
Sedikit ragu, akhirnya Bella mencoba menguatkan hatinya dan berkata, "Kenapa kau memilihku Alfred? Maksudku– aku– kau bisa mendapatkan siapapun di luar sana. Dan.. Dan mengabaikan perasaanku, bukan?" Bella ingin tahu, apakah Alfred benar-benar tulus padanya atau karena kasihan saja sebab janjinya pada ayahnya dulu. Meski Alfred memang sudah melamarnya. Tapi rasa takut masih menghampirinya.
Hening menghampiri. Hanya ada suara yang berasal dari percakapan di film yang mereka tonton yang terdengar.
Alfred bergeming di tempatnya. Kenapa? Kenapa harus Bella? Kenapa bukan wanita dengan usia yang sama dengan dirinya? Bella lebih muda darinya, orang-orang bahkan akan mengecamnya sebagai seorang pedophile jika dia meneruskan perasaannya itu terhadap adiknya. Tapi.. Haㅡah... Pria itu menghela nafas putus asa.
"Tidak tahu." jawab Alfred singkat. Hal itu menyebabkan Bella yang serta merta memindahkan kepalanya untuk menatap Alfred tajam.
Alfred kembali terdiam, sebelum dia kembali berkata, "Yang aku tahu, aku benar-benar tidak bisa menjauh darimu dan aku tidak bisa bertingkah berpura-pura tidak peduli. Aku mencoba untuk meninggalkanmu sendirian tapi aku tidak bisa melakukannya. Kau terlalu berharga untukku, Bella."
Sontak Bella bungkam tanpa tahu apa yang harus dia katakan. Alfred mengusap lembut surai blonde Bella lalu turun sampai di sisi lain dari tengkuk leher gadis blonde itu. Dia menatapnya lekat dengan senyum tipis meneduhkan.
"Aku tidak mau jauh darimu, Bella." ujar Alfred finish.
Whoa.. Bernapas, Bella. Ingatlah untuk bernapas. Batinnya tidak tahan. Wajahnya bersemu merah ketika mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, background dari suasana mereka tepat ketika film yang mereka tonton tengah menampilkan adegan romantis antara dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
"Kenapa? Kenapa bisa seperti itu?" Alfred terkekeh riang. Ibu jarinya dijentikkan dan menyikat rahang Bella lembut.
"Mengapa ada orang ingin sesuatu? Ini tentang bagaimana aku yang hanya bereaksi terhadapmu, Bella." gadis itu terkesiap ketika menyaksikan Alfred yang menutup matanya hanya untuk mengerlingkan matanya genit, singkat.
Jantung Bella berdebar begitu keras. Ia yakin kalau kekasihnya itu bisa mendengarnya. Seorang pria yang pendiam dan misterius di depan umum, Alfred juga adalah seorang pria sopan dan mampu mengendalikan diri, tapi di belakang pintu tertutup? Lihatlah. Pria itu begitu terang-terangan dan sangat.... Emm.. Tampan dan seksi.
Bella segera membuang muka dan menunduk malu dengan malu-malu. Pipinya merona hingga memerah seperti kepiting rebus. Wala... Wala... Wala.... Jantungku rasanya mau copot. Astaga... Hatiku meleleh. Tampannya... Aiyoo... (⑅๑꒪﹏꒪๑)
Alfred terkekeh, lalu melengos kembali menatap layar televisi di depannya. Pria itu melirik jam dinding yang sudah mulai menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sudah waktunya untuk tidur.
"Bella, sudah malam. Kau harus tidur, okay? Jangan berdebat lagi!" ujarnya memotong ketika melihat Bella hendak melayangkan protes. Gadis itu menggembungkan pipinya dengan bibir mengerucut sebal.
Alfred tersenyum tipis, "Masih ada waktu banyak besok. Ayo?"
Tiba-tiba Bella mengulurkan kedua tangannya seolah meminta pria itu untuk menggendongnya. Tentu saja Alfred mengerti dan memahami apa yang di inginkan kekasihnya. Dia meraih tubuh gadis itu dan mulai menggendongnya layaknya seorang anak kecil dengan posisi Bella yang melingkar di depan tubuh Alfred bergelayut seperti monyet.
"Haㅡah... Kenapa kau berat sekali, Bella."
Wajah Bella seketika tertekuk masam, "Aku tidak berat! Aku hanya kelebihan lemak."
"Hahaha.. Baik, baik." Alfred merebahkan tubuh adiknya di springbed berukuran king size. Menyelimuti tubuh gadis itu dengan bedcover tebal sebelum dia juga ikut naik ke dalamnya.
Bella lantas mendekat ke arah Alfred dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Alfred. Lengan pria itu terangkat ke atas kepala Bella, membelaikan jari-jarinya ke rambut blonde kekasihnya. Bella benar-benar tidak bisa melawan rasa kantuknya ketika rasa aman yang terasa terlalu indah dari buaian lembut pria itu.
"Tidurlah Bella. Aku akan menjagamu di sini." Bisik Alfred lembut. Setelahnya, ia mengecup pucuk kepala gadis itu dan semakin menarik tubuh Bella lebih dalam berada di dalam rengkuhannya.
"Hmm.. Selamat malam, Alfred. Aku mencintaimu." ujar gadis itu. Bella mulai merasakan matanya yang memberat sebelum akhirnya dia benar-benar terpejam menyelami alam mimpi.
Alfred melirik Bella yang mendengkur halus dalam pelukannya. Tampak begitu damai tanpa dosa. Ia tersenyum lalu membelai pipi gadis di pelukannya itu dengan punggung jarinya.
Setelah yakin Bella telah berada di alam bawah sadarnya, Alfred kembali melirik sekilas jam yang ada pada arloji yang masih melekat di tangan kanannya. Dia memasang pose berfikir sebentar. Lalu bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju balkon yang setia memperlihatkan pemandangan lampu kota yang masih menyala.
Sepertinya memang masih bisa di hubungi. Batin Alfred mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia segera menekan beberapa digit angka pada layar screen-nya. Lalu mendial.
Tuutt Tuutt Tuutt
Tiga nada tersambung terdengar dari seberang. Alfred berbalik sekilas hanya untuk melihat Bella yang masih tertidur lelap sambil bersandar pada pembatas balkon.
KLIK!!
"Ya, Alfred." Sapa suara serak khas bangun tidur di sana.
"Apa aku mengganggu?" Alfred menaikkan sebelah alisnya. Meski orang di seberang sana tidak akan bisa melihatnya.
__ADS_1
"Tidak. Apa kau menelponku untuk mengkonfirmasikan acara besok pagi?"
"Tepat. Bagaimana?"
"Tenang saja. Pekerja di shift malam ini akan mengerjakan dan menyelesaikannya sebelum jam 6." Terdengar suara menarik nafas sebelum orang di seberang kembali bersuara.
"Ku rasa kau juga tidak akan bangun sepagi itu hanya untuk sarapan. Huh?" Cibir orang itu.
"Humph!! Sialan kau. Tapi, terima kasih." Dan setelah mendengar sahutan dari seberang, Alfred lantas mematikan sambungan teleponnya dengan masih menyeringai masam.
Ia menarik nafasnya dalam. Mengedarkan pandangannya lurus ke depan. Sungguh. Ia tidak sabar untuk memberikan kejutan lagi besok. Sebuah kejutan yang sudah di persiapkan secara matang.
"Aku benar-benar merasa gila karena mencintaimu, Bella."
.
.
Pagi mulai menampakkan diri. Fajar menyingsing dari ufuk timur. Cahaya jingga hangatnya menyeruak masuk melalui kaca pintu yang terhubung pada balkon kamar milik seorang gadis blonde yang masih bergumul di dalam selimut hangatnya.
Gadis itu mengernyitkan kening ketika sinar mentari mulai menyambar matanya. Ia membuka perlahan matanya, namun detik kemudian menutup kembali karena sengatan sinar itu begitu menyengat hingga membuat retina sapphire nya perih. Berkali-kali berkedip-kedip mencoba untuk membiasakan diri dengan cahaya yang mulai masuk ke matanya. Di rabanya sebelah tempat tidurnya ketika sapphire gadis itu masih buram. Ia mengerutkan keningnya.
Gadis bernama Bella itu lalu menoleh ke kanan kiri melongokkan kepalanya ke kamar mandi yang terbuka sedikit.
"Kemana Alfred?" Lirihnya bergumam. Apa iya, dia di tinggal sendirian di kamar ini? Batinnya.
Bella menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan segera berlari menuju ke ke kamar mandi tersebut. "Alfred! Kau di dalam?"
Hening. Tidak ada jawaban.
Di bukanya lebar-lebar pintu kamar mandi itu, namun nihil. Dia tidak menemukan sosok pria itu di sana. Toh, tidak mungkin pria itu tidak menguncinya ketika sedang di dalam, kan?
Gadis itu lantas kembali dan duduk di atas springbed, memasang pose berfikir hingga saat matanya melirik ke arah nakas samping tempat tidur, dia tidak sengaja melihat secarik kertas yang di tahan oleh secangkir teh panas yang masih mengepul. Di angkatnya cawan teh itu lalu membuka kertas yang ada di bawahnya.
'**Selamat pagi My Sunshine. Secangkir teh hangat untuk mengawali harimu yang cerah.
Aku mencintaimu – Kachi ❤**'
Bella tersenyum hangat, tersipu malu. Melirik sekilas cangkir teh yang ada di atas nakas sebelum menyambarnya dan menyeruputnya perlahan setelah sebelumnya menghirup aroma wangi teh itu dalam-dalam.
"Hmm... Haㅡah.... Sesuatu yang berasal dari orang yang kita cintai itu benar-benar bernilai tinggi dan tidak bisa di sia-siakan." Racaunya ngelantur pada dirinya.
Segera setelah merasa puas, Bella bergegas ke kamar mandi dengan melompat-lompat ringan. Dia juga tidak segan-segan untuk menyenandungkan lagu ringan mengiringi langkahnya.
Ketika dia masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya, dia berbalik untuk menatap pantulan dirinya di cermin. Namun tiba-tiba matanya melebar. Kaget saat melihat satu note lagi yang tertulis di kaca kamar mandi menggunakan board markers hitam.
'Segeralah mandi dan berdandanlah yang manis untukku.
Ada kejutan yang tengah menantimu di luar. ;-) '
Dia ingat, Alfred memang mengatakan bahwa hari ini masih ada satu kejutan lagi yang di siapkan oleh Alfred untuknya.
Dua puluh menit waktu yang di habiskannya di kamar mandi. Di bukanya lemari pakaian di kamar inapnya itu. Ia akan mengambil bajunya yang kemarin ia pakai saat kembali matanya di kejutkan oleh sepasang pakaian yang terlihat masih baru. Dengan gerakan perlahan, Bella mengambil pakaian itu. Dan lagi-lagi sebuah pesan singkat berada di atas pakaian tersebut. Ia mendengus geli sembari membaca isi pesan itu.
'Ku harap aku tidak salah memberimu ini untuk kau pakai menemuiku.
Hanya membayangkan saja kau tampak begitu manis. :)'
"Kau berlebihan, Alfred."
Bella memperhatikan pakaian di tangannya sekilas, lalu tersenyum haru. Ia hampir saja menangis di buatnya.
Itu adalah sebuah dress dengan warna kesukaannya pink soft dan juga sepatu berwarna senada. Mungkin Alfred meminta Bella untuk berdandan dan memakai pakaian yang sedikit feminim. Bella tidak mempermasalahkan hal itu, sebab selama ini Alfred selalu memilihkan pakaian untuk gadis tomboy di banding pakaian feminim untuknya.
Ketika melihat pantulan dirinya di cermin menggunakan dress pilihan pria itu memang terlihat seperti apa yang di inginkan oleh Alfred. Bahwa dia justru terlihat semakin dewasa dan manis.
Setelah puas dengan hiasan yang di lakukan pada dirinya, ia bergegas keluar dan menutup kamar inapnya. Gadis itu hendak berbalik ketika lagi-lagi ia melihat sebuah tanda petunjuk di depan pintu.
'Pergilah ke area taman.'
Bella tidak terlalu banyak berfikir dan segera mengikuti petunjuk itu pada akhirnya. "Kenapa harus memberikanku tanda petunjuk dan pesan? Bukankah dia bisa meneleponku?" Gumam Bella bertanya-tanya tidak mengerti. Ia mencoba untuk menghubungi ponsel milik Alfred, namun nihil. Ponsel pria itu sama sekali tidak aktif.
Bella menghampiri seorang resepsionis hotel ketika sampai di lantai bawah.
"Bisakah kau memberi tahuku kemana area taman, Nona?"
"Tentu. Kau keluarlah, lalu belok kanan. Dan..." Petugas resepsionis itu tampak tengah mencari sesuatu hingga membuat Bella mengernyit penasaran.
"Ini untuk anda, nona." Seketika sebuah kedutan muncul di pelipis Bella kesal. Lagi-lagi sebuah pesan tidak jelas.
"Terima kasih." ujar Bella sebelum berlalu pergi.
Satu note lagi. Batin gadis itu. Ia mengikuti arah petunjuk yang di berikan oleh resepsionis tadi, dan benar saja. Ada dua petunjuk. Taman dan kolam renang. Bella pun langsung memasuki sebuah taman yang begitu luar biasa indahnya. Bella di buatnya seketika takjub. Tapi ia bingung. Kenapa tidak ada tanda-tanda keberadaan adanya Alfred di sana.
Di bukanya note yang ada di tangannya dan membaca isinya.
'Masuk ke area hutan buatan, Bella. Di dalam sanalah kau akan menemukanku.'
Bella kembali mendesah. Namun kakinya tetap di seretnya untuk memasuki hutan buatan yang sudah di beri jalan setapak seperti sebuah jembatan yang memanjang agar tidak menapaki tanah berlumpur. Mungkin untuk menghindari bila ada binatang berbahaya di dalam tanah. Karena struktur tanah hutan buatan itu seperti rawa.
Bella terus berjalan melewati jalanan yang terbuat dari kayu pilihan berkelok-kelok itu dengan rasa cemas. Ia berdecak kesal.
"Kenapa Alfred ingin membawaku ke tempat ini? Apa aku– jangan-jangan aku tersesat!!" Pekik Bella mulai panik. Ia menoleh kanan kiri, depan belakang.
"Tidak ada orang." Lirihnya semakin cemas.
__ADS_1
Ia hampir saja mengerang frustasi ketika ada satu papan petunjuk untuk lurus. Ada satu note di sana yang terpasang. Bella mendekat hati-hati.
'Sedikit lagi kau akan sampai. :D percayalah.'
Dan Bella memilih kembali berjalan terus mengikuti petunjuk. Ia juga lagi-lagi menemukan petunjuk namun tidak ada note. Dan ketika ia hampir keluar hutan buatan itu, sebuah cahaya menyilaukan menyambut dirinya.
Bella tersenyum. Akhirnya, ia menghela nafas lega. Ia kembali menyeret kakinya yang mulai sedikit lelah. Dan saat gadis itu sudah keluar dari hutan itu, matanya melebar dengan mulut menganga.
"Ini..." Sambutan pertama ketika ia keluar adalah taburan kelopak bunga camelia yang berjatuhan dari atas langit menimpa dirinya. Refleks kedua tangannya terangkat hanya untuk bisa rasakan hujan kelopak bunga menerpa tubuhnya.
Namun tetap saja, masih belum ada tanda-tanda keberadaan Alfred di sana. Bahkan setelah Bella memutar tubuhnya mengecek keadaan sekitar. Di depannya, ia melihat satu gazebo berukuran luas dengan diameter 1,5 meter berkubah putih. Di hiasi dengan tanaman merambat yang terawat seperti sebelumnya yang begitu indah. Di sekelilingnya, ada berbagai macam bunga tulip beraneka warna yang tumbuh subur. Di atas sana, di balik gazebo ada aliran air kecil namun cukup deras. Gazebo itu di kelilingi tebing berlumut namun tetap terjaga keindahannya. Begitu cantik pikirnya.
"Alfred..??" Panggil Bella sedikit berseru.
Bella tersentak saat tiba-tiba satu tangan melingkar di lehernya dan satu tangan lagi melingkar di depan perutnya dari arah belakang. Memeluknya lembut dan hangat syarat akan kasih sayang dan cinta yang mendalam.
"Happy Valentine Day's, Bella-ku." Bisik Alfred mencium kepala Bella mesra. Gadis itu terkesiap sejenak sebelum dia tersenyum dengan binar mata bahagia. Bella lantas membalikkan tubuhnya untuk menghadap Alfred. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang menghanyutkan hingga merasuk ke relung hati mereka masing-masing dalam jarak hanya sejengkal.
"Alfred, kau– ahh. Sungguh. A-aku.. Aku tidak bisa berkata-kata.. Kau membuatku diam seribu bahasa." Ungkap Bella terbata-bata karena terharu.
Bahkan tanpa sadar liquid bening itu kembali terjatuh dari iris sapphire-nya karena terlalu bahagia. .
"Apa kau menyukainya?" Bella mengagguk cepat dan mantap dengan suara bergetar.
"Sangat. Terimakasih, Alfred. Aku menyukainya, sangat. Aku mencintaimu." Balasnya sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Alfred ketika ia memeluk kekasihnya itu.
"Aku juga mencintaimu, Bella. Lebih dari kau yang mencintaiku." Alfred membalas pelukan adik sekaligus kekasihnya itu tak kalah erat. Seakan ia tak ingin melepaskan Bella.
"Ayo kesana." Alfred merangkul gadis itu untuk menuju ke gazebo yang sudah ia siapkan sebelumnya. Meski terlihat kecil, namun semuanya menyatu dengan alam di sekitarnya. Tampak seperti alami.
Bella kembali di buat terkejut ketika ia mendapati di dalam gazebo itu ada satu kue coklat kesukaannya dalam porsi besar.
"Hey! Coklat amaguriama?" Pekik Bella dengan cengiran khasnya. Melihat hal itu membuat Alfred tersenyum begitu amat sukanya Bella dengan manisan coklat yang di lapisi selai kacang langka dengan daun emas dari amaguriama. Di mana coklat itu berasal dari negara Jepang dan impor langsung dari sana. Dan dessert ini adalah salah satu desset limited edition yang sulit untuk di dapat bila tidak pada musimnya.
Beruntung hari ini adalah hari kasih sayang. Hal itu juga lah yang membuat coklat tersebut di produksi cukup banyak namun termasuk coklat yang tersedia dalam jumlah terbatas.
"Untukmu. Aku memesannya dengan susah payah hanya untuk kamu, kau tahu?" Rajuk Alfred mendekati Bella.
Bella nyengir, lantas menerjang kembali ke pelukan Alfred. Mengalungkan tangannya pada leher pria itu dan mendaratkan sebuah ciuman mesra pada pipi Alfred ringan. Tentu saja Alfred langsung membalasnya.
Alfred menarik tengkuk leher Bella tiba-tiba dan mulai memperdalam pagutannya. Dan gadis itu tanpa pikir panjang membalas pagutan Alfred terhadapnya.
Cukup lama mereka saling memagut sebelum tangan Alfred mulai mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Memasangkan benda itu tepat di leher Bella hingga membuat sang empunya kaget dan pagutan mereka akhirnya terlepas.
"Eh?!" Bella memegang sesuatu yang melingkar di lehernya. Sebuah kalung?
Ia menatap bingung Alfred yang hanya membalas tatapannya dengan sebuah senyuman. Pria itu memejamkan matanya untuk beberapa detik lalu kembali terbuka. "Kau sangat cantik, Bella. Sungguh."
"Ini.. " Bella tidak merespon, namun dia terus mengejar tentang kalung yang di pasang oleh Alfred pada lehernya itu. Dia cukup mengenal kalung itu. Kalung yang selalu di pakai oleh Alfred sejak dulu. Bahkan Alfred sempat gila karena frustasi saat kalung itu tiba-tiba menghilang darinya. Hampir seluruh barang-barang hancur karena kemurkaan pria itu hanya untuk mencari sebuah kalung. Dan ketika Bella bertanya kenapa kalung itu begitu berharga, itu karena kalung yang selalu di pakai oleh pria itu sebenarnya adalah pemberian terakhir dari almarhum ibunya.
"Untukmu. Aku percayakan kalung itu padamu, Bella." Ungkap Alfred menjelaskan.
"Tapi Alfred, kalung ini dari ibumu." Protes Bella, masih ragu untuk menerimanya. Jujur saja, dia sebenarnya senang menerimanya. Tapi ia takut jika kalung itu hilang nantinya. Terlebih ia sendiri tahu bagaimana dirinya yang cukup ceroboh. Apalagi kalung berbentuk bulan sabit dengan batu blue sapphire itu adalah peninggalan dari seseorang yang paling berharga di hidup kekasih sekaligus kakak angkatnya itu.
"Kau juga orang yang paling penting bagiku. Dan sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari hidupku lebih dari seorang adik dan kekasih untukku. Jadi, kalung itu lebih cocok untukmu." Jelas Alfred menjabarkan.
Bella hanya bisa membuka-tutup mulutnya tanpa bisa mengatakan satu patah katapun. Ia benar-benar tidak habis mengerti. Kenapa Alfred begitu repot-repotnya menyiapkan segalanya seperti kejutan ini? Padahal, biasanya saja mereka cukup merayakan di rumah. Hanya berdua.
"Kau pantas mendapatkan semua ini, Bella. Sungguh." Imbuh pria itu tulus.
"Alfred... Terima kasih." Kembali Bella menangis di dalam pelukan Alfred. Ia begitu terharu dan sangat bahagia mendapat perlakuan yang begitu special dari pria yang amat sangat di cintainya.
Bella berharap waktu tidak berubah begitu cepat. Ia masih menginginkan berada di tempat indah ini bersama Alfred, belahan jiwanya.
.
.
.
Setelah Hans dan Yoana mengetahui orang yang mereka cari berada di Washington, keduanya segera berangkat menuju kota tersebut.
Beruntung koneksi bisnis Hans meluas hingga ke mancanegara. Dan Yoana yang memang memiliki kemampuan di atas rata-rata akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang rektor di sebuah universitas cukup terkenal di kota Washington setelah mendapatkan persetujuan dari pihak terkait.
Setelah dirinya di nobatkan sebagai seorang rektor, seluruh kampus di buat gempar atas berita itu. Bagaimana tidak, Yoana hanyalah orang luar yang tidak memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan. Tapi siapa yang menyangka bahwa rumor itu di patahkan olehnya oleh beberapa keahliannya di bidang olahraga.
Semenjak saat Yoana telah membuktikan bahwa dirinya pantas, kembali semua seisi kampus di gemparkan dengan usianya yang sebenarnya tidaklah muda lagi semuda penampilannya. Namun demikian, hal itu menjadi daya tarik tersendiri dan menjadikan dirinya idola para mahasiswa dan mahasiswi di kampus tersebut.
Hans sendiri memilih bekerja di bidang politik meskipun dia memiliki bakat pada bisnis. Katakanlah, hartanya yang di miliki mereka saat ini tidaklah akan habis meskipun harus pensiun selama tujuh turunan. Karena mereka sudah tidak memiliki siapapun untuk mewariskan seluruh harta mereka.
Tapi Yoana juga Hans adalah seseorang dengan prinsip bekerja adalah sebagian dari hidup. Tidak heran mereka di sebut-sebut sebagai robot pekerja keras yang rajin meskipun usianya yang sudah tua. Hans dan Yoana adalah orang yang tidak bisa berdiam diri di rumah terlalu lama dan memilih untuk terus bekerja.
Saat mendengar bahwa anak yang di angkat putranya telah menetap begitu lama di kota Washington, Hans segera mencari tahu tentang keberadaan mereka. Memang tidak begitu juga. Tapi pasti mereka akan menemukan sebuah petunjuk secepat mungkin.
Siapa yang akan mengira bahwa ketika Yoana di angkat sebagai seorang rektor, dia akan mendengar bahwa ada seorang mahasiswa di kampus itu yang memiliki marga yang sama dengan milik Hans dan putranya.
Karena banyaknya data mahasiswa yang masuk jumlahnya tidaklah sedikit, hal itu cukup menghambat kerja mereka dalam pencarian.
Yoana sempat merasa frustasi dan putus asa. Tapi mengingat kembali wajah putranya, tekadnya yang padam kembali membara.
"Hanya ini cara kami untuk menebus kesalahan yang telah kami perbuat."
.
.
__ADS_1
.