Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Setelah seminggu meninggalnya Adelina juga Thomas, Alfred bermaksud untuk pindah ke kota seberangㅡkota Washington DC. Mungkin di sana ia bisa menjalani hidup yang cukup mendukung untuk melanjutkan hidupnya bersama dengan adiknya Bella.


Dengan sangat hati-hati, Alfred merebahkan tubuh Bella di ranjang miliknya. Tepat di tengah-tengah, dengan dua bantal kecil sebagai pembatas gerak bayi itu. Takut-takut jika nantinya Bella terjatuh. Meski masih berusia 5 bulan, tapi Bella sudah mampu bergerak dengan sangat aktif.


Alfred membuka koper lalu memasukkan baju-baju miliknya juga milik Bella. Tidak begitu banyak pakaian yang Alfred masukkan ke dalam koper karena dia merasa bahwa nantinya tidak begitu penting ketika mereka mulai tumbuh dewasa. Beberapa barang-barang penting yang harus ia bawa juga dia masukkan ke dalam koper. Beruntung Alfred sudah mendapatkan satu rumah untuk tempat tinggal barunya dengan ukuran yang cukup pas untuk ia tempati nantinya di kota Washington DC dengan harga terjangkau untuk dirinya. Meski ia masih berusia 9 tahun, namun Alfred sudah pandai melakukan transaksi jual beli. Apalagi ia juga sudah rajin berlatih bela diri ketika tinggal bersama dengan Thomas sebelumnya. Cukup untuk menjaga dirinya dari beberapa bahaya yang bisa mengancamnya.


Tiin..  Tiin..


Suara klakson mobil mengintrupsi kegiatannya. Sejenak ia menoleh ke arah Bella yang bermain dengan kakinya yang di angkat ke atas dan mencoba menggapai kakinya sendiri.


"Aku akan segera kembali." Setelah mengatakan itu pada Bella, Alfred lantas berlari ke depan dan mendapati sebuah mobil pick up telah terparkir di depan halaman rumahnya.


"Apa benar ini kediaman dari tuan Alfred?" Tanya seorang pria pengangkut barang.


"Ah, benar. Saya sendiri pak. Mohon bantuannya."


Mendengar bahwa pemilik rumah adalah seorang anak kecil membuat mereka sejenak melongo tak percaya. Namun sedetik kemudian mereka langsung mengangkut barang-barang yang hendak Alfred pindahkan. Biar bagaimanapun juga, anak itu telah membayar lunas jasa pengangkutan barang sebelumnya. Setelah memberitahu semuanya, Alfred mengambil koper juga langsung menggendong Bella hati-hati dan lekas berangkat setelah mengunci pintu rumah. Sejenak Alfred berdiri menatap rumah milik Thomas lama dengan tatapan nanar. Ia lalu menghela nafas berat sebelum akhirnya berbalik menuju ke mobil pick up.


Sebenarnya dia merasa berat harus meninggalkan rumah milik Thomas yang selama ini sudah menjadi tempat tinggalnya. Tapi ia harus. Meski seharusnya dia tidak semestinya meninggalkan rumah yang bukan haknya. Namun setidaknya suatu hari nanti dirinya juga Bella masih bisa menempati rumah lama mereka. Sekarang Alfred hanya akan menyewakan rumah milik Thomas untuk beberapa tahun ke depan sampai cita-citanya juga Bella terkabul.


"Maafkan kakak, Bella. Kita harus pindah sekarang. Kakak janji, nanti kita akan kembali kemari lagi suatu hari nanti." Ucapnya bergumam lirih.


Namun ucapan Alfred masih mampu di dengar oleh sopir pick up yang menatap mereka prihatin.


"Kenapa harus pindah? Bukankah di sini sudah hidup enak?" Celetuk sopir itu di sela menyopirnya.


"Tidak paman. Aku harus mencari impianku terlebih dahulu." Jawab Alfred, polos. Membuat sopir pick up itu hanya mampu tersenyum simpul.


Beberapa jam kemudian, perjalanan mereka berlalu dengan cepat. Dan mereka telah sampai di sebuah rumah berukuran minimalis yang bersebelahan langsung dengan rumah mewah yang tak lain adalah rumah pemilik tempat Alfred menyewa. Sebenarnya lebih enak hidup di rumah sendiri. Namun mengingat sepinya jalanan di sekitar rumahnya di kota tempat tinggalnya yang dulu, membuat Alfred merasa harus ke kota yang lebih ramai.


Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik tengah berdiri di depan rumah minimalis miliknya yang akan di sewakan untuk Alfred. Wanita itu tersenyum hangat ke arah anak itu sambil menggendong bayinya yang Alfred yakin bayi itu seumuran dengan Bella.


"Alfred. Kau sudah datang, nak?" Sapa wanita itu menyambut Alfred dengan tangan terbuka.


"Oh ya, tolong masukkan barang-barangnya ke dalam sini, pak." Pinta wanita itu pada pekerja pengangkut barang.


"Brandon!! Kemari sayang." Seru wanita itu ke dalam rumah miliknya. Alfred mengernyit ketika mendengar wanita itu memanggil seseorang dari dalam.


Muncullah seorang anak laki-laki yang masih berusia sekitar delapan tahun itu. Seorang anak laki-laki dengan surai dark brown dengan bola mata yang tajam bak mata gagak. Anak itu tersenyum tipis menghampiri wanita yang juga bersurai sama dengannya. Kedua pipinya memiliki dua buah cekungan ketika dia tersenyum.


"Tolong temani Alfred dulu, ya. Dan tolong jaga adikmu. Mommy akan membuatkan mereka beberapa minuman dulu." Pinta Wanita itu yang tak lain adalah ibu dari Brandon.


"Baik Mom." Brandon menerima adiknya dari tangan ibunya. Lalu menatap lembut mata sayu milik Alfred.


"Aku dengar kau yang akan menempati rumah sebelah. Ku harap kita bisa berteman baik, Alfred." Ujar Brandon, ramah.


"Senang bisa berkenalan denganmu Brandon. Ya, semoga. Mohon bantuannya." Jawab datar Alfred. Ia bahkan melebihi wajah datar milik keluarga Brandon.


Deana, nama wanita paruh baya itu kembali keluar dengan membawa nampan satu teko teh juga beberapa cangkir. Di tambah membawa beberapa potong kue kering sebagai camilan mereka, Alfred juga para pekerja pengangkut barang.


"Silahkan."


"Terima kasih, nyonya." Sahut para pekerja itu lalu mengambil secangkir teh yang sudah terisi teh sebelumnya.


"Alfred. Aku dengar kau ingin bersekolah?" Tukas Deana basa basi mulai membuka percakapan.


"Ah, benar bibi. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Bella sendirian di rumah. Jadi aku rasa, aku tidak perlu terburu-buru untuk sekolah dulu." Deana terkekeh kecil mendengar jawaban dari Alfred.


"Tidak perlu khawatir. Biar aku yang menjaganya selama kau bersekolah."


Mendengar ucapan Deana, sontak saja Alfred merasa senang. Namun ia merasa tidak enak hati kalau harus membebankan tanggung jawabnya pada orang lain, bukan?


"Lagipula Edward jadi ada teman bermain nantinya, Alfred." Lanjut Deana menunjuk bayi laki-laki yang berada di gendongan Brandon.


Sejenak Alfred menatap ketiganya. Memang benar yang di katakan oleh Deana. Lagipula ini adalah alasannya untuk pindah. Agar dia bisa sekolah dan setidaknya ramai dengan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Dan lagi, mendapat rumah kontrakan dengan pemilik yang baik seperti Deana bukanlah hal yang gampang. Seharusnya dia harus bersyukur mendapat tetangga yang ramah.


"Kau akan masuk sekolah tingkat apa, Alfred?" Tanya Brandon. Ia masih setia menimang adik laki-lakinya yang ia gendong.


"Junior High School." Jawab Alfred, singkat.


"Kalau begitu berarti sama dengan Brandon. Lebih baik kalian sekolah di tempat yang sama saja. Biar bibi yang urus semuanya." Sela Deana.


"Ah, terima kasih bibi. Beruntung sekali aku memiliki tetangga seperti kalian." Alfred membungkuk sebagai tanda rasa terima kasihnya di depan Deana.


"Tidak masalah, anggap saja seperti keluarga sendiri, Ok." Timpal Deana tersenyum sumringah. Ia merasa senang jika putra-putranya bisa mendapat teman bermain saat ini. Ia juga beruntung Alfred adalah anak yang baik menurutnya.


"Maaf, Nyonya, Alfred. Kami permisi untuk undur diri. Tugas kami juga sepertinya sudah selesai di sini." Celetuk salah satu pekerja pengangkut barang yang tak jauh dari Deana dan Alfred berbicara. Keduanya menoleh ke arah pekerja itu.


Deana lantas tersenyum seraya mengambil sesuatu dari saku celananya. Beberapa lembar uang dollar dan menyodorkan uang itu pada para pekerja yang kini terlihat bingung.


"I-ini..."


"Ini sebagai ucapan terima kasih. Karena sudah mengantar mereka dengan selamat, pak." Jelas Deana. Dengan itu, salah satu pekerja saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya mau menerima uang yang di sodorkan oleh Deana dengan perasaan tidak enak hati.


"Kalau begitu, kami ucapkan terima kasih banyak Nyonya." Deana mengangguk seraya tersenyum. "Kami pamit permisi." Pekerja itupun pergi dari kediaman milik Deana setelah berpamitan dengan Alfred.


Kembali Deana berbalik badan. Menatap Alfred dengan senyum yang masih bertengger dari bibirnya.


"Seharusnya aku yang memberikan uang tip untuk mereka, bibi. Kenapa justru bibi Deana yang memberikannya?" Ucap Alfred sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


"Tenang saja. Uang yang untuk tip bisa kau pakai untuk kebutuhan lain saja." Alfred diam tak bergeming membenarkan ucapan Deana. Memang benar, dia membutuhkan uang untuk biaya hidupnya bersama Bella ke depannya. Tidak mungkin ia akan menghambur-hamburkan uang dengan seenak hatinya.


"Kalau begitu, bisa aku minta tolong padamu, bibi Deana. Aku ingin membeli kebutuhan sehari-hari ke supermarket sebentar. Bisakah aku titip Bella?"


"Tentu. Biar Brandon yang mengantarkanmu naik sepeda." kata Deana menimpali.


"Sekali lagi terima kasih." Alfred membungkuk sebagai tanda terima kasih. Lantas mengambil sepedanya yang terparkir di depan rumah barunya setelah menyerahkan Bella pada Deana untuk di titipkan. Ia memang sengaja membawa sepeda itu untuk alat transportasi dirinya selama di kota baru ini.


Begitu pula Brandon yang juga mengambil sepeda miliknya di garasi. Sedikit percakapan dengan sang ibu, membuat Brandon manggut-manggut setelah menerima uang dari Deana sebelum akhirnya anak itu lalu menghampiri Alfred.


"Alfred. Aku tidak mengerti, kenapa kau pindah ke mari? Bukankah di kotamu juga nyaman?" Tanya Brandon selama perjalanan.


"Aku sudah tidak memiliki keluarga lagi di sana. Lagipula aku hanya tinggal berdua dengan adikku. Rasanya kurang nyaman saja kalau tinggal di rumah yang jauh dari keramaian apalagi tanpa di temani orang dewasa." Jawab Alfred panjang lebar. Brandon menanggapinya dengan manggut-manggut kepala paham.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan supermarket. Alfred langsung mengambil troly begitu juga di ikuti oleh Brandon di belakangnya, anak itu juga di suruh oleh Deana untuk sekalian membeli keperluan dapur yang habis.


"Memang kau bisa masak?" Kembali Brandon bertanya ketika melihat belanjaan yang dibeli oleh Alfred saat ini. Meski Brandon terlahir dari keluarga yang minim ekspresi, namun sifat simpatik yang ramah dari sang ibu menurun langsung kepadanya. Membuatnya jadi peduli dengan keadaan di sekitar anak itu.


"Begitulah. Tinggal sendiri memang harus bisa memasak, bukan?" Timpal Alfred.


Setelah semua lengkap, Alfred juga Brandon langsung menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka masing-masing. Setelah itu, mereka bergegas untuk pulang. Terlebih Alfred yang tidak mau berlama-lama merepotkan orang lain.


Tidak banyak yang ia beli. Lagipula hanya dirinya yang akan makan. Sementara Bella, bayi itu hanya perlu susu formula saja. Ia menyesal karena memberikan adiknya di usia yang masih balita dengan hanya minum susu formula. Seharusnya Bella meminum susu ASI di usianya itu. Namun apa daya.


Sampai di rumah, Alfred langsung menjemput Bella di rumah sebelah. Berjalan beriringan dengan Brandon, Ia terkejut ketika mendapati putra bungsu Deana tiba-tiba menangis saat ia mengambil Bella dari tangan Deana. Tapi kemudian berhenti menangis saat ia menaruh kembali adiknya di dekat bayi gemuk itu. Dan itu membuat semua orang di rumah itu tertawa termasuk Alfred. Melihat tingkah lucu bayi gemuk yang ia tahu bernama Edward. Bahkan Alfred di buat garuk-garuk kepala saking merasa anehnya sikap bayi Edward yang terbilang tidak mau terpisah dari Bella.


"Kalau begitu aku permisi dulu, bibi." Pamit Alfred, setelah yakin bahwa Edward tidak lagi menangis.


"Oh ya. Alfred, Bella sudah ku susui. Jadi kau tidak perlu lagi membuatkan susu formula untuknya." Mata Alfred melebar tidak percaya.


"Maaf bibi. Kalau Bella sudah merepotkan anda." Alfred membungkuk meminta maaf. Ia merasa tidak enak hati karna baru saja dia tiba di kota ini tapi malah sudah merepotkan orang lain.


"Tidak apa-apa, Alfred. Santai saja. Tidak perlu berterima kasih atau meminta maaf padaku. Lagipula aku ikhlas membantu kalian."


"Baiklah. Sekali kali, aku ucapkan banyak terima kasih. Kalau begitu aku permisi bibi."


.


.


Alfred menatap Bella yang kini tertidur dalam gendongannya. Ia tersenyum tipis melihat Bella yang tidak rewel akhir-akhir ini. Hal itu membuatnya mudah mengurus Bella tanpa merasa kerepotan.


Sejenak Alfred melirik jam di nakas kamar tidurnya. Tempat tidur yang ada di dalam ruang kamar itu memiliki sekat dengan jendela. Namun, juga membuatnya mampu untuk melihat pemandangan dari luar jendela. Tempat tidurnya cukup lebar sehingga dirinya tidak perlu khawatir ketika harus meninggalkan Bella seorang diri. Yang sewaktu-waktu Bella akan terjatuh dari atas tempat tidur ke lantai tanpa pengawasannya.


Alfred beranjak pergi menuju ke dapur. Meletakkan semua belanjaannya ke dalam lemari pendingin. Di ambilnya beberapa bahan sayuran untuk membuat menu makan malamnya. Meskipun rumah yang dia sewa terbilang sederhana, namun Deana yang mengetahui bahwa orang yang akan menyewa rumahnya adalah seorang anak yang belum cukup umur, membuat Deana dengan baik hati melengkapi isi rumah tersebut dengan cukup lengkap.


Dari mulai perabot kamar tidur, perkakas dapur, dan juga perabot ruang tamu. Memang terbilang sederhana, namun cukup untuk membuat rumah yang di tempati oleh Alfred sangat nyaman.


Seusai makan, Alfred mencuci piring dan gelas bekas makannya di wastafel dapur lalu membereskan perlengkapan makannya ke tempat semula. Setelah semua selesai Alfred segera beranjak menuju kamar tidurnya. Dia tidak mungkin menempati kamar yang berbeda dengan Bella. Jadi dia memutuskan untuk tidur satu tempat tidur dengan Bella.


Rumah yang dia sewa memiliki dua kamar tidur. Namun hanya ada satu kamar dengan kamar mandi di dalam. Yaitu kamar yang saat ini mereka tempati. Dan kamar itu berada di lantai dua. Sedangkan kamar tidur yang lain, berada di lantai dasar dengan kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.


Di rebahkannya tubuh lelahnya lalu memiringkan tubuhnya menghadap Bella yang sudah terlelap tidur. Ia tersenyum menatap wajah damai adiknya.


"Setidaknya masih ada kau di sampingku, Bella. Lekaslah tumbuh besar. Aku menyayangimu adikku yang manis." Alfred mengecup sekilas kening adiknya dan terakhir bibir mungil semerah cherry milik Bella di kecupnya singkat.


"selamat malam, Bella. Semoga mimpi indah."


Detik berikutnya, Alfred langsung terlelap tidur dengan memeluk tubuh Bella. Mendekatkan pipinya pada pipi gembil milik Bella sebelum akhirnya menyelami alam mimpinya.


.


.


.


Kriiiiing.......


Bunyi alarm jam kamar Alfred berdering dengan nyaring. Tak lama setelah itu, anak tersebut terbangun dan meraih tombol alarm untuk mematikannya. Sejenak ia menoleh kembali ke arah Bella yang ternyata sudah terbangun. Dan ia bersyukur Bella tidak menangis dan rewel.


Pukul 05.00 Alfred masuk ke kamar mandi hanya untuk membasuh mukanya. Merasa sudah segar, ia menyeret kakinya ke dapur. Membuat susu untuk sarapan Bella kalau-kalau adiknya itu tiba-tiba menangis karena lapar.


"Selamat pagi, Bella. Apa kau lapar?" Sapa Alfred, ia duduk bersila di samping Bella. Mengocok perlahan botol susu yang baru di buatnya.


Kedip, kedip. Berkali-kali Bella mengedipkan matanya yang lucu dan menatap langit-langit kamarnya dan terkadang melirik Alfred nakal. Tersenyum, bergumam tidak jelas hingga menjerit girang dengan cengiran lucu. Hal itu membuat Alfred merasa gemas di buatnya. Namun sedetik kemudian Bella terlihat mewek dan tangisnya pun pecah. Alfred tertawa kecil lantas memberikan botol susu berisi susu formula ke dalam mulut adiknya.


Cukup lama Bella menyerap susunya hingga menghabiskan setengah botol susu. Alfred mencoba untuk mengambilnya dan Bella terdiam. "Sekarang, waktunya Bella untuk mandi."


Dengan sangat hati-hati, Alfred menyingkap semua pakaian Bella dan membawa tubuh balita itu ke dalam kamar mandi untuk mandi air hangat yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Selembut mungkin anak itu memandikan adiknya dengan sangat hati-hati. Hingga saat tubuh mungil itu menyentuh air, kedua iris sapphire milik Bella langsung membulat sempurna. Alfred tertawa melihat wajah lucu Bella yang sepertinya terkejut namun secara bersamaan merasa senang. Terlihat dari wajah Bella yang kadang tersenyum dan tertawa girang.


"Badanmu sudah wangi, Bella. Saatnya memakai baju sekarang." Di lilitkannya handuk lembut ke tubuh bayi Bella yang basah lalu membawanya kembali ke kamar. Ia pakaikan minyak telon ke tubuh dingin Bella dan memupuknya dengan bedak powder beraroma jeruk. Memakaikan popok yang sudah ia beli sebelumnya.


"Giliran kakak yang mandi. Jangan nakal, Ok? Bella anak pintar, kan?"


Setelah Bella, ia kembali lagi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk Alfred mandi. Ia bersiap untuk membawa adiknya berjemur di bawah matahari pagi. Dari buku yang dia baca, baik untuk bayi berjemur di bawah sinar matahari yang masih pagi untuk melancarkan peredaran darah dalam tubuhnya. Ia tentu tak akan menyia-nyiakan hal itu untuk kesehatan adiknya.


Ketika ia keluar dari rumah, Alfred tersentak saat melihat Brandon yang juga berada di luar rumah tengah berjemur dengan menggendong Edward.


Brandon tersenyum kala sadar akan keberadaan Alfred yang tak jauh darinya. "selamat pagi, Alfred." Sapanya.

__ADS_1


"pagi Brandon." Balas Alfred singkat. Ia lalu menghampiri Brandon dan duduk di sampingnya.


"Kau juga sering melakukan ini bersama adikmu?" Tanya Alfred, basa basi. Brandon mengangguk seraya bergumam sebagai respon.


"Oh ya, ibuku berpesan padaku. Nanti kita akan ke sekolah baru untuk ikut test langsung." Ujar Brandon, memecah keheningan di antara mereka.


"Aku kira itu hanya bercanda. Ternyata benar, ya?" Brandon tertawa lirih menanggapi ucapan Alfred.


.


.


Sesuai perkataan Deana, Alfred akhirnya ikut mendaftar ke sekolah yang sama dengan Brandon setelah sebelumnya Deana berusaha untuk membujuk anak itu. Seharusnya Brandon masih berada di bangku sekolah dasar. Namun karena kejeniusannya itu ia langsung bisa mendapatkan bangku sekolah menengah pertama.


Alfred mengedarkan pandangan ke penjuru sekolah. Membuat dirinya merasa minder. Alfred bahkan sama sekali tidak mengenal siapapun di sini. Hanya Brandon saja yang ia kenal. Apalagi di lihat dari manapun sekolah ini sangatlah terbilang mewah dan terfavorit. Mana bisa ia membiayai sekolahnya di sini?.


"Alfred, kau sangat beruntung. Pihak sekolah memberikan kelonggaran biaya sekolah untukmu karena tes masukmu mendapat nilai di atas rata-rata." Celetuk Brandon tiba-tiba. Mengejutkan? Tentu saja.


Alfred baru saja memikirkan bagaimana biaya sekolah di sini nantinya, namun sedetik kemudian mendapat jawaban kalau dia mendapat beasiswa karena kecerdasannya. Bella memekik girang mencoba menggapai-gapai wajah Alfred. Seolah bayi itu juga ikut bahagia mendengar berita dari Brandon.


Alfred tersenyum ke arah Bella hingga membuat matanya menyipit.


"Terima kasih, Bella. Aku senang kau juga ikut bahagia untuk kakak." Tukasnya pada sang bayi yang ia gendong.


Diam-diam, tak jauh darinya ada seorang gadis bersurai coklat dengan tahi lalat tipis di sisi pipi kanannya tengah mencoba untuk curi-curi pandang ke arah Alfred. Bahkan ia sampai mengabaikan temannya yang sedari tadi mengajaknya mengobrol demi memperhatikan wajah misterius milik laki-laki bersurai dark brown yang tengah bercanda bersama seorang bayi di gendongannya. Laki-laki itu tentu tak lain dan tak bukan adalah Alfred.


"Helena? Kau dengar aku?" Seru anak laki-laki bersurai jabrik ketika sadar bila perhatian gadis di depannya tak sedang memperhatikannya.


"HELENA!!"


"Ah, ya, Vyn. Ada apa?" Gadis itu terlonjak kaget dan salah tingkah. Namun lagi-lagi matanya teralihkan pada sosok Alfred yang kian lama kian menghilang dari jarak pandangnya. Gavyn, nama laki-laki yang bersama gadis itu mencoba mengikuti arah pandang Helena. Namun laki-laki tersebut mengernyit tidak mengerti ketika tak menemukan siapapun yang mencuri perhatian Helena darinya.


Helena berdecak kecewa dan itu semakin membuat Gavyn meliriknya curiga. "Apa yang kau lihat sampai kau mengacuhkanku?" cicit Gavyn merajuk, meminta penjelasan.


Helena menggeleng lembut dengan senyuman yang membuat kedua matanya menyipit seketika.


"Tidak ada. Aku kira aku melihat orang yang 'ku kenal tadi."  Elaknya menampik. Gavyn menaikkan sebelah alisnya menatap gadis bernama Helena tak percaya.


"Benarkah?" Helena mengangguk mantap ke arah Gavyn dengan wajah polosnya tanpa dosa. Berharap anak laki-laki di hadapannya itu bisa percaya padanya.


Dalam hati ia berharap. Semoga nanti dirinya bisa satu kelas dengan pemuda yang diam-diam telah memikat hatinya itu. Pemuda yang baginya sangat misterius.


'Ku harap kita bisa kenal lebih dekat lagi.'


.


.


.


"Yoana, apa kau di dalam?" seorang pria yang di perkirakan berusia 60 tahunan berseru memanggil seseorang dari arah ruang tamu rumahnya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara derap langkah dari ketukan sepatu high heels milik seorang wanita dari tangga. Pria itu tersenyum tipis, namun tidak tersenyum ke arah wanita itu. "Ada kabar baik."


Wanita itu tidak menyahut, dan terus berjalan turun menuruni tangga dengan perlahan menghampiri pria tua itu.


Jika di perhatikan, wajah wanita itu dengan pria itu seolah ayah dengan putrinya. Namun sebenarnya, mereka adalah sepasang suami istri. Pria itu terlihat jelas jika usianya telah berumur. Namun wanita itu, meskipun usianya telah menginjak hampir lebih dari 55 tahun, wajahnya terlihat seperti wanita yang baru berusia 35 tahun.


Jelas bahwa perawatan wanita itu tidaklah perawatan skincare yang abal-abal.


Pria itu menarik dasinya untuk di longgarkan. Berjalan ke arah ruang keluarga, dia merebahkan pantatnya di atas single sofa. Pria itu menghela nafas nyaman menghempaskan punggungnya yang lelah ke sandaran sofa.


Melihat wanita yang dia panggil Yoana itu juga telah duduk di dekatnya, dia tersenyum semakin lebar. "Aku mendapatkan kabar bahwa Thomas berada di kota Wyoming."


"Benarkah? Bagaimana bisa kau tahu?" Yoana skeptis saat mendengar berita baik dari mulut suaminya. Karena yang dia tahu, Hansㅡsuaminya, sama sekali tidak pernah peduli dengan apa yang tengah di lakukan putranya selama ini.


Thomas adalah putra satu-satunya di keluarga Hans dan Yoana. Keduanya hanya mampu memiliki satu keturunan. Yoana bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memiliki anak kedua. Hal itu di karenakan Yoana yang sebelumnya sempat mengalami keguguran setelah dua tahun kelahiran Thomas.


Diagnosa yang ia terima yaitu, bahwa rahimnya mengalami benturan yang cukup keras sehingga membuat rahimnya mau tidak mau harus menderita kerusakan permanen. Hal itu membuat dirinya tidak mampu untuk memiliki buah hati kembali.


Namun beruntung. Setidaknya masih ada Thomas yang lahir sebelum peristiwa itu terjadi.


Setelah Thomas beranjak dewasa, Hans hanya ingin putranya mau meneruskan bisnis yang telah ia geluti selama hidupnya. Menggantikan dirinya jika suatu saat nanti dia harus pensiun. Siapa yang tahu bahwa Thomas lebih memilih mengejar impiannya di bandingkan mengurus bisnis perkantoran milik ayahnya.


Tentu saja keputusan Thomas mendapatkan kecaman dari Hans dan juga Yoana. Membuat keduanya murka karena marah. Tapi siapa sangka, bahwa Thomas ternyata merupakan pribadi yang keras kepala dan tidak ingin di bantah termasuk orangtuanya.


Anak itu memilih jalannya sendiri. Meninggalkan semua harta benda yang pernah di berikan oleh Hans dan juga Yoana kepadanya. Dia hanya berbekal dua kain pakaian dan juga uang hasil jerih payahnya sendiri. Pergi dari rumah dan merantau ke luar negeri.


Hans percaya, bahwa Thomas tidak akan bertahan lama di negeri orang selama lebih dari sehari. Dan dia juga meyakini bahwa Thomas pasti akan pulang dan memohon kepadanya. Mengakui segala apa yang telah di perbuat sebelumnya. Namun, apa yang Hans percayai ternyata tidak juga mendapatkan hasil. Justru Thomas semakin menjadi.


Sehari, dua hari, tiga hari, hingga akhirnya hari berganti minggu. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Thomas tidak juga pulang ke rumah dan semakin membuat Hans dan juga Yoana cemas.


Dan sekarang, setelah mengerahkan seluruh detektif handal untuk mencari keberadaannya, Hans mendapatkan hasilnya.


"Apa kau yakin itu benar-benar Thomas kita, Hans?" Yoana kembali bertanya.


"Tentu saja aku yakin, Yoana. Kita akan ke sana lusa. Aku sudah memesan tiket pesawatnya." Yoana diam bergeming, Hans tersenyum maklum. Dia tahu, istrinya masih belum percaya bahwa dirinya telah benar-benar berubah setelah kejadian beberapa tahun silam.


Tapi setidaknya, dia telah berusaha mencari keberadaan putranya. Biar bagaimana pun juga, Thomas tetaplah putra semata wayangnya. Anak satu-satunya dari keluarganya. Pewaris perusahaannya. Bagaimana bisa dia membenci putra yang sangat dia sayangi dulu?

__ADS_1


Yoana mulai percaya. Dan dia ingin mempercayainya.


__ADS_2