Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
First Date


__ADS_3

Lima tahun berlalu begitu cepat. Dan semuanya telah berubah.


Sejak kejadian di atas tebing, Edward menerima kenyataan bahwa sebenarnya dia dan Bella tidak bisa bersama. Kecemburuannya terhadap Bella yang sempat ia rasakan hanya semata karena ketakutannya akan hubungan persaudaraan juga persahabatan mereka akan putus begitu saja. Tetapi sekarang tidak lagi. Edward sudah bisa menerima kehadiran Bella sebagai sahabat saja. Bahkan, karena kejadian di tebing dulu membuatnya bertemu dengan cinta yang sebenarnya.


Gwen Miller. Gadis yang memiliki warna rambut merah itu kini resmi menjadi kekasihnya. Bahkan keduanya kini mengambil tempat kuliah di universitas yang sama. Tidak hanya mereka, Bella-pun juga sama. Ken, Sam, dan juga Max. Mereka juga telah masuk ke semester enam. Yang artinya setahun lagi mereka akan memasuki dua semester lagi sebelum wisuda.


Edward, Max, juga Sam mengambil jurusan bisnis management, Gwen mengambil fakultas di bidang kedokteran. Begitu juga Ken. Bedanya, Ken memilih mengambil jurusan kedokteran hewan. Sedangkan Bella, dia memilih mengambil jurusan Bahasa asing.


Meskipun Ken dan Bella berbeda bidang jurusan, namun karena gedung fakultas mereka yang bersebelahan memudahkan mereka untuk selalu bertemu. Apalagi jam mata kuliah mereka yang hampir setiap harinya sama.


Seperti saat ini, Ken dan juga Bella tengah duduk berdua di bangku kantin.


"Hey, Bell. Bagaimana hubunganmu dengan Pak Alfred? Apa sudah.. Ehem.." Tanya Ken, menggoda dengan seringaian jahilnya. Bella mengernyit tak paham.


"Apa maksudmu, Ken?" Tanya Bella, polos.


Ken berdecak kesal. Seraya mendengus. Apa sahabatnya itu memang polos atau molosi, sih?


"Kau tentu tahu lah, Bell. Apa artinya bila sepasang kekasih berduaan?" Bella mengangguk cukup mengerti. Karena dia hampir setiap hari melakukan itu. "Lalu.. Apa kau pernah seperti ini?" Ken memperagakan jari-jarinya yang saling mematuk berulang kali. Ken menatap Bella dengan seringaian mesumnya.


"Belum. Apa harus?" Jawab Bella polos.


Ken mendelik tak percaya. Apa mantan gurunya itu gak punya hawa nafsu? Bahkan hampir seumur hidupnya tinggal seatap dengan Bella yang notabene saat ini kekasihnya. Wah, wah, wah. Padahal dia sangat tahu, mantan gurunya itu terkenal mesum gara-gara selalu membawa dan membaca buku novel dewasa kemana-mana. Tapi kenapa gurunya sama sekali tidak menyentuh tubuh Bella? Ada apa ini? Apa gurunya itu tidak normal? Pikirnya.


"Bukannya perlu, Bella. Hal semacam itu tentu sudah hal wajar dalam hubungan sepasang kekasih. Kalau tidak ada, berarti patut di pertanyakan keperjakaannya." Tukas Ken ngawur. Dan Bella yang polos, dengan tampang bodohnya hanya manggut-manggut saja.


"Lalu kau? Kau sendiri bagaimana?" Tanya Bella ingin tahu.


"Aku? T-tentu saja sudah pernah." Sahutnya terbata-bata. Ya, Ken semenjak berpacaran dengan gadis idamannya selalu bersama. Hanya saja, sebenarnya mereka hanya melakukan kencan yang normal dan membual tentang pengalamannya di depan Bella.


"Tapi.. Kak Al mengatakan padaku, Ken. Sebelum aku dewasa, dia hanya akan bersikap seperti kami yang dulu." Bella menjelaskan.


Setelah kejadian di Wyoming, saat mereka sama-sama saling terbuka tentang perasaan masing-masing, Alfred memilih untuk tetap menganggap Bella sama seperti sebelum mereka mengungkapkan perasaan mereka. Sebelum adiknya beranjak dewasa dan cukup umur, dia tidak akan melakukan hal-hal yang di lakukan oleh seorang kekasih terhadap kekasihnya.


Alfred hanya melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan dan mengurangi kebiasaan mereka sewaktu masih kecil.


"Keterlaluan." kata Ken, sembari geleng-geleng kepala, "Lagipula, apa kau tidak takut, kalau nanti tiba-tiba pak Alfred pindah haluan menyukai dada besar dari wanita dewasa dengan bokong sintal yang seksi?" Sindir Ken, mencoba menakuti Bella. Dia tahu, kalau Bella hanya memiliki body yang di bawah rata-rata dari seorang wanita dewasa yang seksi bak biola bergitar.


"Tidak mau! Kakakku cuma milikku, Ken! Jangan menakutiku." Pekik Bella tidak terima. Dan itu membuat Ken menyeringai puas. Berhasil membuat sahabat blondenya itu kelabakan. Ha-ah... Mulutmu memang racun, Ken.


"Nah, lho. Coba bayangkan saja, Bell. Kau yang memiliki dada rata, dan wanita yang memiliki dada besar seperti rektor baru kita, Miss Yoana." Ken melirik Bella mencoba melihat bagaimana ekspresi yang di perlihatkan oleh gadis itu. Melihat Bella yang tengah menggigit bibirnya gelisah dengan bola mata yang bergerak-gerak cemas membuat Ken semakin gencar ingin menggoda sahabatnya yang masih polos itu.


"Dan bayangkan saja, bagaimana seksinya tubuh mereka bak biola dengan tubuhmu yang tidak terbentuk indah seperti mereka. Lubang hangat mereka yang aduhai, dan–"


"STOP, Ken!! Kau membuatku mual!" Potong Bella mulai kesal. Ia geleng-geleng kepala tak habis pikir. Kenapa Ken tiba-tiba mengatakan cerita konyol padanya seperti itu akhir-akhir ini.


Ken sontak tertawa terpingkal-pingkal. Tak tahan melihat wajah ketakutan Bella yang terlihat begitu sangat pucat karena khawatir. "Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya, Bell. Lagipula, kau juga."


Bella mengernyit menatap pria di hadapannya itu dengan mata berkilat tajam. "Bagaimana bisa kau berpacaran dengan pak Alfred yang mesum akut itu? Sementara di antara hubungan kalian tidak ada hal-hal yang berbau intim." Cibir Ken lagi-lagi sembari mendengus geli.


"Berisik kau Ken!!" sungut Bella berseru tidak suka memperingati pria itu. Dan Ken seketika bungkam. Tidak berani bersuara lagi.


Dengan bibir mengerucut sebal, Bella menyambar tasnya kasar lalu beranjak pergi meninggalkan Ken seorang diri di kantin. Tidak peduli Ken yang terus berteriak memanggil namanya. Ia kesal pada sahabat pecinta binatang itu sekarang. Di hentakkannya langkah kakinya menjauh dari kantin kampus. Tidak di hiraukannya pandangan semua mahasiswa yang memandangnya penuh minat karena wajah manisnya yang semakin terlihat sangat menarik di pandang saat sedang marah. Meski usianya sudah menginjak 18 tahun, tapi wajahnya masih terlihat seperti usia 10 tahun.


Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika di rasanya bagian saku celana depannya bergetar. Sepertinya ponselnya berdering? Di ambilnya ponsel di saku celananya untuk melihat siapa yang sudah menghubunginya.


Satu notice pesan. Di bukanya pesan itu. Dan wajahnya seketika berbinar sumringah saat membaca nama pengirim pesan itu. Tentu saja, kemarahan yang ia rasakan menguap begitu saja.


From  : Kak Al..


Segera pulang dan bersiaplah. Aku akan menjemputmu untuk makan malam. Aku sudah siapkan sesuatu untukmu di rumah. Pakailah.


Aku mencintaimu..😚


Senyum lima jari Bella mengembang. Rasa kesal dan marahnya semakin menguap entah kemana. Tidak mungkin Alfred akan tergoda dengan tubuh wanita dewasa di luaran sana. Tubuhnya tidak kalah seksi. Meski dirinya juga seorang perempuan. Tidak masalah tidak punya dada besar. Pikirnya. Sebisa mungkin ia mengenyahkan segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi nantinya di benaknya. Ah.. Dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pulang untuk melihat sesuatu yang sudah di siapkan oleh Alfred untuknya di rumah.


**********


Bella memilih pulang naik taxi. Ia ingin cepat sampai di rumah dan cepat bersiap-siap. Agar nanti ketika Alfred menjemputnya, mereka langsung pergi. Setelah mengatakan alamat tujuannya pada sopir taxi, Bella sesekali melihat suasana di luar jalan, menikmati suasana kota. Hingga tiba-tiba senyuman yang sedari tadi menghias di bibirnya memudar saat tidak sengaja matanya menangkap sosok siluet yang begitu familiar untuknya.


Refleks tangan Bella menepuk bahu sopir taxi tanpa mengalihkan pandangannya dari siluet orang itu. "Pak, saya turun di sini saja."


Dan setelah turun, ia memicingkan matanya lekat-lekat untuk memastikan bahwa penglihatannya itu salah. Namun tidak. Iris sapphire-nya tiba-tiba berkaca-kaca. Dadanya seperti di tusuk seribu jarum. Sesak dan berdenyut nyeri.


"Tidak." Lirihnya mengerang. Tiba-tiba saja percakapannya dengan Ken terlintas begitu saja di ingatannya. "Tidak mungkin." Suara gadis itu semakin bergetar. Ia membekap mulutnya ketika isak tangis hampir lolos dari bibirnya. Liquid bening mulai menetes kala di rasanya dadanya terus berdenyut sakit.


Sungguh! Ia benar-benar tidak berharap akan melihat semua ini. Apa yang di ucapkan Ken benar, sungguh itu menjadi kenyataan. Ia benar-benar tidak mengharapkan semua itu terjadi.


Saat ini, detik ini juga, dengan kedua mata kepalanya sendiri. Gadis itu menangkap siluet kakaknya, Alfred Frederick tengah bercanda dengan seorang wanita bersurai pendek gelap. Wanita itu tampak begitu seksi dengan celana jeans pendek sepaha. Hingga menampilkan paha putih mulusnya. Meski wanita itu memakai kemeja, namun kemeja itu tidak di kancingkan. Menyebabkan bagian dadanya yang hanya memakai tank top menampilkan belahan dada besar yang montok. Bahkan wanita itu tanpa malu-malu menggesekkan bagian payudaranya pada lengan bisep pria itu dengan sangat agresif. Dan Alfred hanya bisa diam sambil tersenyum menanggapi wanita itu yang bergelayut manja.


"Tuhan.. Apa ini? Hiks.. Kakak.. Ka– hiks.. kau jahat!" Pekiknya. Ia meremas dadanya yang semakin berdenyut nyeri.


Bella mundur perlahan sebelum dia berlari meninggalkan tempat itu. Sambil terisak, ia terus berlari menjauh sejauh mungkin tak tentu arah. Yang penting menghindar dari orang yang baru saja ia lihat.


Di sisi lain, Alfred mulai sadar ketika tidak sengaja ekor matanya menangkap siluet orang yang tengah berlari. Saat ia mengalihkan pandangannya pada orang yang berlari itu, seketika matanya membola.


"Bella!" Oh shit!! Umpatnya.


"Alfred!!" Panggil wanita itu ketika tiba-tiba saja pria itu pergi begitu saja tanpa memberitahunya lebih dulu. Wanita itu berdecak kesal saat akan menyusul malah terhalang oleh kendaraan yang mulai berjalan dengan kencang.


Sementara Alfred, dia sudah menyeberang untuk menyusul siluet milik adiknya yang semakin menjauh. Ini seperti de-javu baginya. Sebelumnya ini pernah terjadi dan sekarang terjadi lagi. Ya Tuhan!! Kenapa dirinya selalu kepergok sedang berduaan dengan seorang wanita?! Malangnya nasib.

__ADS_1


"Bella!!" Teriak Alfred lagi, saat dirinya berhasil menyusul Bella.


Bella memutar kepalanya untuk melihat jarak kakaknya dengan dirinya. Ah, Sial!! Kenapa kakaknya begitu cepat? Apa karena tubuhnya yang seperti atlet itu? Ah, dia lupa. Alfred bahkan selalu menyempatkan diri untuk berolahraga setiap pagi. Sebisa mungkin ia menambah kecepatan berlarinya menghindar dari kejaran Alfred dengan nafas yang tersengal-sengal. Tidak peduli dadanya mulai sesak akibat berlari juga menangis sesenggukan. Ia terlalu malas untuk berhenti. Dan mulutnya terus komat kamit berharap Alfred tidak berhasil menyusulnya.


"Bella, tunggu!! Kau salah paham!" Kembali Alfred berteriak. Semakin memperlebar  langkah berlarinya agar mampu mengejar Bella. Ia cemas sekarang.


Bella menggeleng keras. "Tidak!! Kak Al... Hah.. Hah.. Kak Al jahat!" Pekiknya ngos-ngosan.


Kalau saja dia tidak menuruti egonya. Pasti saat ini sudah berhenti mengambil oksigen banyak-banyak dan istirahat. Ini semua gara-gara omongan Ken yang ngelantur kemana-mana. Dia harus susah payah lari-lari demi menghindari Alfred karena kecewa.


Greep!!


Secepat kilat Alfred langsung memutar tubuh Bella dan menariknya hingga membentur dada bidangnya. Setelah berhasil menggamit pergelangan tangan gadis blonde itu dan menahannya sekuat mungkin.


"Ugh!!" Erang Bella sedikit merasa nyeri karena terhantam dada bidang Alfred yang cukup keras.


Alfred memeluk erat tubuh Bella dan tidak mau melepaskannya lagi. Ia tidak peduli Bella yang memberontak dalam kungkungannya. Di hirupnya dalam-dalam aroma jeruk yang menguar dari surai blonde milik Bella rakus.


"Lepaskan aku, kak Al.. Aku benci kakak!" berontak gadis itu memukul-mukul dada Alfred keras. Namun bagi Alfred, pukulan gadis itu bagaikan pukulan anak kecil. Tidak terasa sama sekali.


"Lepas..." Isak tangis kembali lolos dari bibir merah cherry Bella. Suaranya bergetar pilu. Begitu juga tubuhnya. Dadanya yang tak lagi berdenyut nyeri kini kembali terasa. Bahkan dua kali lipatnya ia merasakan rasa nyeri.


"Pergi sa– hiks.. ja deng– hiks,, dengan wani– hiks,, hiks,, ta i-itu!!" Cibir Bella di sela-sela isak tangisnya.


"Ssstt.. Tenanglah Bella." Alfred mengelus surai blonde Bella dengan pipinya. Sementara kedua tangannya memeluk Bella posesif.


"Apa?!! Kau me– hiks,, nyuruhku untuk te– hiks,, nang?!!" Bella mendongak menatap nyalang Alfred menantang dengan derai airmata.


Jika saja saat ini mereka hanya bercanda, Alfred sudah tertawa dan mencubit pipi tembam Bella karena gemas dengan cara bicara gadis itu yang sambil terisak.


"Aku.. Aku mencintaimu, kak!! Tapi kamu? Apa kamu lebih suka dada besar, pantat montok dari wanita it– mmph..."


Alfred tidak tahan dan langsung membungkam mulut Bella dengan bibirnya. Ia tidak peduli jika saat ini mereka berada di tempat umum. Bahkan ia tanpa pikir panjang langsung menyerang gadis itu. Ia terus melumat bibir Bella, menarik tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya dengan cukup kasar dan menuntut, ia bahkan mengacuhkan rontaan Bella yang terus memukul dadanya. Tidak! Kali ini ia tidak mau membuat Bella terlalu banyak bicara. Demi Tuhan, dia bahkan sama sekali tidak tertarik dengan semua yang di katakan oleh Bella tadi.


"Mmnmhhpp... Kak– mmph..!" Rengek Bella kehabisan nafas. Airmatanya mengalir bersamaan dengan rengekannya. Pukulannya mulai melemah, membuat Alfred serta merta harus rela melepas pagutannya.


"Hah... Hah..." Bella menunduk dengan mata menyayu. Tidak berani menatap mata obsidian tajam milik Alfred. Ia sudah mulai tenang sekarang. Meski dalam hatinya masih merintih sedih.


Alfred menatap wajah Bella lekat. Sungguh, ia tidak pernah ingin menyakiti adiknya. Tapi lagi-lagi tanpa ia sadari ia sudah berbuat jahat pada adiknya itu. Tapi herannya, kenapa adiknya selalu tahu dan memergokinya sedang duduk berdua dengan seorang wanita? Nasib, ya nasib.


"Bella, dia–"


"Kakak lebih suka wanita dengan tubuh seksi, bukan?" Potong Bella. Dan Alfred seketika terkesiap.


Kakak? Alfred tahu, jika Bella sudah memanggilnya kakak, itu berarti Bella benar-benar marah dan kecewa padanya.


Semenjak Bella menginjakkan kakinya di bangku kuliah, Bella mulai memanggilnya hanya dengan nama dan tanpa embel-embel kakak. Tapi sekarang.... Dia tahu, Bella benar-benar marah padanya.


"Bell–"


"BELLA ABERALD!!" Teriak Alfred dengan suara tinggi, seketika tubuh Bella tersentak takut. Tidak menyangka Alfred akan membentaknya dengan suara tinggi.


Alfred berdesis merasa bersalah karena sudah membentak adiknya. Dia mengerang dan mengusap wajahnya kasar. "Bella, maafkan aku. Kau harus tahu, hatiku cuma ada kamu. Dan wanita seksi? Mereka itu tidak pernah ada di dalam hidupku, Bella. Percayalah."


"Kamu bohong!"


"Tidak. Percayalah padaku. Dia bukan siapa-siapa, Bella." Kata Alfred, menjelaskan dengan suara lembut. Ia kembali merengkuh Bella ke dalam pelukannya. Memberi ketenangan sampai Bella kembali tenang.


"Percayalah, Aku hanya mencintaimu."


**********


Bella cepat-cepat berganti pakaian dengan riangnya setelah Alfred mengantarnya pulang. Seharusnya Alfred masih ada jam mengajar. Tapi karena sudah terlanjur pergi, ia putuskan untuk ijin.


Bella memakai denim straps mini dress warna hitam dengan inner sweater hoodie pink soft pemberian Alfred. Surai blonde yang panjang dia curly bergelombang dan mengepang beberapa di ubun-ubun lantas di ikat beberapa. Membuatnya tampak manis dan sedikit liar. Karena merasa di tunggu oleh Alfred, membuatnya ekstra terburu-buru dalam berdandan. Gadis itu bergegas mengambil sneakers hitam putih dengan sedikit motif kotak-kotak di bagian pergelangan kakinya.


Sedangkan Alfred sendiri, dia masih bersiap di lantai bawah. Di kamar miliknya sendiri.


Sebenarnya Alfred sudah menyiapkan satu kejutan khusus untuk adiknya. Kejutan yang belum pernah di dapatkan oleh gadis blonde itu. Mungkin ini adalah kesempatan yang baik untuknya.


Membayangkan bagaimana ekspresi Bella nanti saja sudah membuatnya senyum-senyum sendiri. Alfred menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai atas di mana kamar Bella berada. Ia ingin memanggil Bella untuk berangkat sekarang juga.


"Bella, kau sudah siap?" Seru Alfred mengetuk pintu kamar gadis itu. Ia menyandarkan punggungnya di tembok sebelah pintu.


Sreekk!!


"Ayo." Sahut Bella tersenyum lima jari. Alfred menoleh ke sumber suara. Sejenak ia terpesona dengan penampilan Bella saat ini. Sweater hoodie pink soft, sneakers high-tops, straps mini dress hitam, dan tidak lupa topi bucket hitam.


Style-nya memang sedikit liar, tapi... Itu benar-benar imut dari cara pandang Alfred. Terlebih, Bella memiliki wajah manis dan cantik dengan kulit putih. Apapun yang dia kenakan pasti akan terlihat cocok.


"Alfred?" Lirih Bella lembut memanggil pria itu.


"Ah, ya. Kau sangat manis, Bella." Puji Alfred jujur, dia tersenyum hangat ke arah Bella. Membuat sang empu yang mendapat pujian tersenyum merona karena tersipu malu. Dan itu membuat Alfred gemas di buatnya.


Di gamitnya lengan Alfred lantas mereka meninggalkan rumah. Kali ini Alfred tidak lagi memakai motor. Melainkan mobil BMW type R. Hasil kerja kerasnya selama ini.


"Kau mau membawaku kemana, Al?" Tanya Bella penasaran. Sebab hampir satu jam perjalanan namun tidak kunjung sampai.


"Hm??" Alfred hanya bergumam menanggapi. Bella sedikit merasa takut juga gelisah ketika mobil yang di kendarai pria itu melewati pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan berliku tanpa penerangan sama sekali.


Tak lama kemudian, mobil Alfred memasuki kawasan perumahan elit yang terletak di puncak bukit tinggi. Hingga ia memberhentikan mobilnya di sebuah restoran mewah di pinggir tebing. Di mana pengunjung di suguhi pemandangan kota Washington yang penuh gemerlap lampu-lampu kota berwarna warni.

__ADS_1


"Waaaahh...." Bella berbinar ceria memandang takjub pemandangan kota di depan matanya. Membuat pria di sampingnya tersenyum simpul.


"Bella, ayo." Alfred mengulurkan tangannya pada Bella dan di sambut hangat oleh gadis blonde itu.


Pria itu mengajak Bella memasuki sebuah gazebo berbentuk segi enam. Di topang enam pilar-pilar berpondasi beton yang kokoh dengan model atap kubah berkaca mozaik warna warni. Perpaduan nuansa modern dan klasik berukir gaya Eropa. Setiap pinggir atapnya menjulur tanaman merambat yang di tata dengan apik melingkar dan menjuntai jatuh. Warna hijaunya sangat kontras dengan cat putih pada gazebo tersebut. Benar-benar gazebo yang terkesan dengan suasana yang sangat romantis. Apalagi mereka bisa dengan leluasa melihat pemandangan kota.


"Ini..." gadis blonde itu tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya satu kata yang terlintas di benaknya. Fantastik. Seperti gazebo di sebuah kerajaan dongeng.


"Kau suka?" Bella sontak mengangguk antusias sebagai respon sembari bergumam ringan. Terlalu susah mengungkapkan kekaguman yang tersaji di depannya ini.


Alfred menarik kursi untuk Bella sebelum pria itu beralih duduk di depannya. Bella benar-benar tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Ia tidak menyangka Alfred akan membawanya ke tempat seindah ini.


Setelah Alfred memesan menu yang sesuai dengan lidahnya juga Bella, ia menatap gadis itu intens. Di raihnya tangan Kanan Bella lalu di genggamnya erat namun tetap lembut. Membuat atensi Bella yang menikmati pemandangan lampu kota itu beralih membalas tatapan hangat Alfred.


"Aku beruntung memilikimu, Bella. Terima kasih. Kau sudah mau memilihku menjadi bagian dari hidupmu." Ungkap Alfred tiba-tiba, dia tersenyum haru. Di ciumnya punggung tangan Bella cukup lama. Gadis itu tersipu malu, tersenyum lembut seraya menggeleng.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Al. Kau yang sudah sudi merawatku dari balita. Mengabdikan hidupmu cuma demi keegoisanku." Bella menghela nafas sejenak. "Kau bahkan dengan sabar menghadapi sifat kekanak-kanakkanku ini. Terima kasih Al."


Tanpa sadar gadis itu mulai berkaca-kaca karena terharu. Sungguh, ia merasa bersalah karena sebelumnya sudah mencurigai Alfred sebelum tahu kebenarannya. Tapi tetap saja dia tidak suka bila ada wanita dengan sengaja menempelkan badannya ke tubuh kekasihnya itu.


Setelah hidangan pesanan mereka tersaji, keduanya mulai menyantap hidangan itu hingga mereka merasa kenyang. Terdengar suara alunan musik yang pas untuk berdansa. Alfred berinisiatif mengajak Bella untuk berdansa. Dia sedikit tertawa lirih. Ah, sepertinya dia memilih pakaian yang salah untuk adiknya ini. Tapi dia tetap suka penampilan adiknya yang seperti ini.


Karena pribadi Bella sedikit tomboy, sedikit feminim.


"Ingin berdansa denganku, Bella?"


Gadis itu melirik pakaiannya dan terkekeh. Namun secepatnya dia tersenyum lebar lalu mengangguk membalas uluran tangan Alfred. "Tentu."


Keduanya berdansa mengikuti alunan lagu 'Flightless Bird'. Menatap satu sama lain dengan senyum yang selalu terpatri di bibir mereka.


"Bayanganku sekarang ada dalam bola matamu, Bella. Dan hanya akan ada aku yang kau temukan di sana." Ujar Alfred menatap lembut iris sapphire Bella yang hanya berjarak lima centi dari wajahnya. Ia bisa melihat pantulan dirinya di kaca berwarna sapphire itu. Sontak Bella tersenyum.


"Aku serahkan seluruh hidupku padamu, karena aku hanya tercipta untukmu, Alfred." Balas Bella tidak mau kalah romantis. Sembari masih mengikuti alunan musik, kedua tangannya yang melingkar di leher Alfred itu juga mengusap lembut surai dark brown Alfred.


"Keinginanku menjadi sempurna bersamamu. Bila kau melangkah pergi, alasan hidupku pun akan ikut pergi bersamamu." Lontaran kata-kata romantis Alfred membuat Bella tertawa kecil bahagia. Alfred tentu senang melihat senyum bahagia dari Bella. Di kecupnya hidung bangir Bella saat keningnya menempel pada kening gadis itu.


"Bella, apa kau bahagia?" gadis itu tersenyum lantas mengangguk.


"Sangat." Setelah mengatakan itu, tiba-tiba...


Syuuuutt....


DAR   DAR   DAR...


Sebuah kembang api meluncur indah membentuk sebuah pernyataan untuk dirinya. Bella tersentak dan refleks melepas tangannya yang melingkar di leher Alfred, dia membekap mulutnya dengan mata menatap kembang api yang masih menyala di langit itu tak percaya.


"Alfred, itu..." Lirih Bella hampir menangis terharu.


"Ya, Bella. Will you marry me?" Ucap Alfred sembari menunjukkan benda kecil di dalam sebuah kotak beludru warna merah. Benda kecil berbentuk cincin permata berbatu sapphire seperti warna bola matanya.


Bella menatap Alfred tidak percaya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Terlalu banyak kejutan hari ini. Dari yang membuatnya kesal, marah, kecewa dan kejutan yang tak pernah ia duga selama ini. Bella dengan mantap mengangguk. Dan dengan itu, Alfred memasang cincin tersebut di jari manis gadis yang dia cintai selama ini. Mengecupnya sekilas lalu mengecup bibir juga kening Bella cukup lama.


"Aku mencintaimu, Bella."


"Aku juga."


*********


Alfred sengaja menyewa losmen di dekat restauran yang ia pesan tadi. Ia juga sengaja hanya memesan satu kamar. Entah kenapa ia ingin sekali menghabiskan malam ini bersama orang yang akan ia nikahi dalam beberapa bulan lagi.


Ya, Alfred ingin memiliki Bella tepat ketika gadis itu juga akan berulang tahun. Itu rencananya.


"Kau ingin mandi, Bella ?" Tawar Alfred membuka almari yang berisi kimono mandi juga handuk.


"Eerr.. Kau duluan saja Al." Alfred hanya mengangguk saja lantas bergegas masuk ke kamar mandi dengan santai.


Sedangkan Bella kini tengah bimbang. Apa yang harus ia lakukan nanti bila berduaan dengan Alfred? Apa dia harus menyerahkan keperawannya? Ugh! Membayangkannya saja sudah membuatnya panas dan merona. Tapi dia tidak mau Alfred sampai tergoda dengan wanita lain yang lebih montok dan seksi dari dirinya. Bella memantapkan hatinya untuk melakukannya. Tarik nafas, buang.. Tarik nafas lagi, buang.. Begitu seterusnya hampir berkali-kali sampai batinnya benar-benar tenang. Ya, dia harus.


Ceklek!!


Bella terlonjak ketika Alfred keluar dari kamar mandi. Gadis itu sontak tersihir saat matanya melihat tubuh atletis berkotak-kotak basah oleh air yang mengalir indah menyusur dari Alfred. Bella meneguk ludahnya susah payah. Menjilat dan menggigit bibirnya semakin gelisah.


Alfred bukannya tidak tahu Bella tengah memperhatikannya, namun ia hanya pura-pura tidak tahu.


"Bella?"


"Ah, ya. A-aku.. Aku.. Mandi sekarang." Celetuk Bella langsung melompat masuk ke kamar mandi.


Ah, bahkan dia lupa membawa handuk. Alfred geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Tiba-tiba saja Bella kembali keluar membuat Alfred sedikit terkejut karena Bella berlari ke arah lemari dengan ceroboh dan tergesa-gesa.


"Handuk, kimono! Aku lupa hehe." Tukasnya menunjuk dua benda di tangannya. Lantas kembali masuk kamar mandi dengan cepat.


Brakk!!


"Hahaha.." Alfred reflek tertawa terbahak-bahak. Bella-nya benar-benar ceroboh.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2