
"Masuk Bella." Perintah Ashley.
"Aku tidak mau!! Harus berapa kali aku bilang. Aku tidak mau ikut dengan kalian!!" Erang Bella masih berusaha untuk memberontak.
Ashley berdecak kesal. Aleysia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya, dia merasa kasihan pada Bella yang harus di pisahkan dengan seseorang yang sudah sejak lahir selalu merawatnya. Dan kini menjadi seseorang yang benar-benar berharga untuknya. Aleysia bahkan membayangkan bagaimana rasanya bila dia di posisi Bella saat itu. Dia harus di pisahkan dari keluarganya. Itu pasti sangat menyakitkan.
"Ashley, Aleysia! Cepat masuk, kita pulang sekarang!" Seru Anita mulai kesal dari dalam mobil.
"Ya, Mom!" Sahut Ashley sedikit berteriak.
"Cepat Bella!!" Dan secara paksa, Ashley mendorong tubuh Bella masuk ke dalam mobil milik Chal. Di susul oleh Aleysia. Tak di pedulikannya pekikan kesakitan Bella akibat dorongannya hingga membentur pintu mobil samping.
"Hati-hati Ashley! Kamu melukai adik sepupumu." ujar Anita memperingati Ashley yang selalu bersikap keras dan kasar.
"Maaf." timpal Ashley enteng.
Setelah Bella benar-benar masuk, Chal segera menghidupkan mesin, lantas meninggalkan pekarangan parkir rumah sakit. Begitu juga Ashley yang langsung bergegas masuk ke dalam mobil miliknya.
Ketika Ashley mulai menjalankan mobil Laferrari Maranello merah miliknya, Alfred yang baru keluar untuk menyusul Bella langsung berlari mendekati mobil Ashley secepat mungkin. Wanita itu yang tak peduli hanya melirik Alfred dan menyeringai bengis lantas melengos menstarter mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"ASHLEY!! KEMBALIKAN BELLA PADAKU!!" Teriak Alfred serak. Ia jatuh terkulai lemas ke aspal dengan masih terus berteriak. "Kembalikan Bella padaku, Ashley!! Tolong kembalikan!!" Raungnya.
Gavyn juga Helena yang ikut berlari keluar tiba-tiba menghentikan kakinya. Menatap Alfred yang duduk di tengah jalan dengan airmata yang mengalir begitu deras. Dan itu benar-benar membuat keduanya terkejut tak menyangka. Seorang Alfred meraung sampai menangis seperti itu. Gavyn jelas sangat tahu bagaimana sifat Alfred yang sebenarnya. Ia tahu, Alfred orang yang memiliki sifat sebelas dua belas dengan keluarganya. Datar dan dingin. Tentu bagi aturan keluarganya, menangis adalah hal yang sangat memalukan. Apalagi bagi seorang laki-laki. Tapi Alfred bukan dari bagian keluarganya. Jelas mereka berbeda.
"Alfred." Lirih Helena di sebelah Gavyn. Membuat pria itu hanya melirik Helena sekilas.
"Kembalikan Bella, Ashley!! Ku mohon!! Bella!!" Alfred terus saja meraung berteriak dengan suara bergetar karena menangis. Tubuhnya bahkan ikut terguncang. Menatap lurus ke arah di mana mobil Ashley menghilang.
Gavyn dan Helena berjalan perlahan menghampiri sahabat mereka. Jujur saja, keduanya ingin memberi kabar bahagia untuk sahabatnya Alfred sebelumnya. Namun kini malah mereka yang mendapat kabar yang tak terduga dari pria berkacamata itu.
"Alfred." Gavyn menepuk bahu sahabatnya pelan. Ia ikut prihatin dengan keadaan pria itu. Sementara Helena ikut berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Alfred.
"Bella, Helena. Istriku!! Mereka– Bella.." Ujar Alfred sesenggukan. Helena bahkan sudah tidak sanggup melihat pria yang pernah ia cintai hatinya hancur hingga seperti yang ia lihat sekarang. Dan tanpa sadar Alfred menjatuhkan kepalanya pada bahu Helena. Menumpahkan segala kesedihannya saat ini.
Gavyn tentu bisa memahami hal itu. Meski sebenarnya tidak rela. Tapi ya sudahlah. Saat ini Alfred lebih butuh sandaran.
***********
Senyum Deana tiba-tiba saja luntur dari bibirnya ketika ia melihat putra bungsunya masuk begitu saja menaiki anak tangga secara terburu-buru tanpa memberi salam pada dirinya maupun pada Bryan di sana.
Bahkan Brandon sang kakak yang mengangkat tangannya ingin menyapa dengan tersenyum harus rela memudar dan mengurungkan niatnya untuk menyapa Edward. Ia menoleh ke arah Deana ibunya juga Bryan. Namun kedua orang tuanya juga menatapnya tak mengerti.
Melihat hal itu, Deana menghela nafas sejenak, lantas menyingkirkan bantal sofa dan menaruhnya ke sofa sebelahnya. "Biar Mommy yang menemuinya."
BAAM!!
Pintu kamar Edward tertutup tanpa berniat untuk menguncinya. Edward lantas merebahkan tubuhnya di atas sofa kamar. Mendesah lelah seraya memijit kepalanya yang mulai berdenyut nyeri. Pandangannya mengedar ke luar jendela dengan sorot mata sendu.
"Ha-ah!!" Desahnya menerawang langit-langit kamarnya.
Hari ini benar-benar hari yang buruk untuk dirinya sepertinya. Dari pertemuan keluarga yang melibatkan dirinya. Meskipun seharusnya dia bisa saja menghindar. Namun apa daya, Bella ada di sana. Membuatnya ingin menemani gadis blonde itu. Takut-takut kalau sampai wanita bernama Ashley itu mencelakai Bella. Yang paling mengejutkan lagi adalah, Bella yang di vonis positif hamil. Ha-ah.. Ini benar-benar gila menurutnya. Dan terakhir, berita yang tetlontar dari bibir gadis itu bahwa Alfred adalah suaminya dan mereka sudah menikah.
"Bella.." Lirihnya memanggil gadis blonde itu.
Tanpa di sadari olehnya, Deana memperhatikan dirinya saat membuka pintu kamarnya pelan.
'Apa dia masih memiliki hati untuk Bella?' Batin Deana merasa miris.
Ia kembali menutup pintu kamar putranya. Mengurungkan niat untuk menemui Edward.
"Bagaimana?" Tanya Bryan ketika Deana kembali lagi menemuinya. Deana hanya menggeleng sembari mendengus.
Ia akan kembali menghempaskan pantatnya untuk duduk ketika tiba-tiba pintu depan rumah di ketuk. Membuat Deana, Bryan dan juga Brandon saling menatap.
"Biar aku saja yang membukanya, Mom." Deana mengangguk saja. Lantas Brandon bangkit menuju ruang tamu untuk membukakan pintu rumah.
Tok Tok Tok
Untuk ke sekian kalinya pintu kembali terketuk. Namun Brandon tak ada niat untuk menyahut si pengetuk pintu rumahnya.
Ceklek!!
Brandon benar-benar terkejut ketika melihat siapa yang bertamu hari ini. Ia bahkan membuka-tutup mulutnya bingung harus berkata apalagi saat tau orang yang tengah berdiri dengan senyuman menyapanya.
***********
"Bella, seharusnya kau mengerti kenapa bibi dan paman memintamu untuk ikut dengan kami." Cerocos Anita untuk yang ke sekian kalinya. Namun respon Bella acuh tak acuh mengabaikan Anita. Dia membuang mukanya ke arah luar jendela. Menatap dengan pandangan kosong. Bahkan ia tidak mendengar apapun yang di bicarakan oleh bibinya. Fokus mata sapphire-nya hanya tertuju pada satu pikiran. Pria bernama Alfred Frederick yang berstatus sebagai suaminya.
Anita mendesah lelah melihat Bella yang hanya melamun. Begitu juga Aleysia yang menatap Bella dengan sorot mata sendu. Sepertinya ia sudah keterlaluan. Tidak seharusnya dia juga ikut-ikutan memisahkan Bella dari orang yang sudah sudi merawat sepupunya itu. Seandainya saja Alfred tidak merawat Bella saat itu dan memilih mengambil keuntungan dengan membawa semua harta benda milik Thomas pamannya, ia tentu akan membenci Alfred. Tetapi kenyataannya berbeda. Alfred bahkan rela merawat Bella yang masih bayi di usianya yang terbilang masih muda. Hidup seorang diri bersama seorang bayi. Aleysia bahkan bisa membayangkan bagaimana sulitnya menjadi Alfred yang harus mengurus Bella sendirian tanpa bantuan dari sanak saudara dan orang dewasa di sekitar mereka. Bahkan ia juga tahu, Alfred tidak mungkin mengandalkan uang dari peninggalan Thomas saja untuk bertahan hidup selama ini. Pasti Alfred mencoba mencari pekerjaan yang cocok di saat usianya yang belum cukup untuk mencari uang.
Tentu saja, Bella sangat paham dan mengenal dengan begitu baik luar dalam bagaimana seorang Alfred Frederick yang sebenarnya. Dan tidak mungkin begitu saja Bella akan terima dengan penghinaan yang di berikan oleh ibu dan juga kakaknya yang terlewat kasar. Bella tentu tidak akan tinggal diam bila pria itu di hina sedemikian rupa. Benar yang gadis blonde itu ucapkan beberapa jam yang lalu. Dia dan keluarganya tidak mengenal dengan baik siapa sebenarnya seorang Alfred Frederick yang sesungguhnya. Bahkan dia sendiri belum pernah melihat sosok Alfred seperti apa sebelum hari ini. Ashley saja hanya bertemu tiga kali ketika masih kecil. Itupun dia tahu saat kakaknya menceritakan hal itu beberapa hari yang lalu. Bila boleh berkomentar, menurutnya Alfred adalah sosok seorang kakak yang begitu baik untuk Bella. Sosok seorang kekasih yang begitu bertanggung jawab. Apalagi ketika dia tidak sengaja melihat cincin yang tersemat di jari manis Bella juga Alfred saat mereka berada di rumah sakit.
Lamunan Aleysia buyar ketika Chal tiba-tiba menepikan mobilnya. Membuat Aleysia bingung. Namun saat melihat mobil Ashley juga ikut menepi dan keluar menghampiri mobil ayahnya, Aleysia baru mengerti.
"Daddy akan ke rumah paman sebentar. Biar Ashley yang akan mengganti menyetir."
"Mommy juga ikut?" Tanya Aleysia.
"Tidak. Hanya Daddy."
Dan setelah menyelesaikan kalimatnya, Chal bertukar posisi dengan putri sulungnya. Ashley melirik sejenak Bella yang hanya terdiam. Namun gadis blonde itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
Bella diam-diam melirik dengan sorot mata jijik pada Ashley juga bibinya yang masih memperhatikannya. Ia ingin memberontakpun percuma. Mungkin lebih baik dia mengikuti permainan mereka sambil memikirkan cara untuk kabur.
'Alfred, bagaimana keadaanmu sekarang?' Batinnya miris. Bahkan tiap ia menyebut nama kekasihnya itu entah kenapa meski hanya dalam hati membuat dadanya berdenyut nyeri dan sesak. Seolah ribuan jarum menusuk-nusuk hatinya.
Sementara Ashley kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju ke tempat tinggal mereka, Chal membawa mobil Laferrari Maranello milik putri sulungnya ke arah yang berlawanan. Butuh waktu satu jam untuk sampai di sebuah rumah mewah namun sederhana bergaya Victoria.
__ADS_1
Di parkirkannya mobil Laferrari merah itu pada halaman khusus mobil. Ia keluar lantas sedikit berlari dan mengetuk pintu rumah itu untuk beberapa kali.
Ceklek!!
Chal tersenyum menyapa seorang pria yang masih berusia lebih dari 27 tahun. Pria dengan garis wajah sama sepertinya.
"Paman Chal?" Seru pria itu. Chal hanya tersenyum menanggapi.
"Bisa paman menemui ayah juga ibumu, Brandon?"
"Tentu." Brandon nama pria itu lantas membuka lebar pintu rumahnya. Memberi jalan untuk tamunya yang tak lain adalah kerabat mereka.
Dari arah dalam rumah, Bryan juga Deana keluar untuk melihat siapa yang bertamu di rumahnya. Hampir saja Chal hendak menghempaskan diri untuk duduk, namun ia urungkan ketika ia melihat Bryan dan Deana keluar menemuinya.
"Oh, kau ternyata. Lama tidak berjumpa, Chal." Sapa Bryan sembari menghempaskan diri di single sofa.
"Hm, begitulah." Jawab Chal singkat.
Dan bagi Deana, Bryan juga Brandon hal itu sudah biasa. Mengingat Chal juga dari keluarga yang sama meski dari keluarga cabang.
"Tumben kamu datang ke sini, Chal. Apa ada masalah?" Tanya Deana gantian menatap Chal penasaran. Pasalnya sudah cukup lama Chal kerabat jauhnya itu tak menampakkan diri lagi setelah menikah dengan Anita dari keluarga Lee dan memutuskan tinggal dan menetap di negara tetangga.
Chal hanya mengangguk sejenak. Mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya kembali. "Ya, apa kalian bisa membantuku?"
Deana tiba-tiba mengernyit. Brandon hanya melirik Chal penasaran. Bryan menatap Chal lekat dengan ekspresi datar dan dingin.
"Kami akan tinggal sementara di Villa wilayah utara kota Washington. Dan aku harap nanti malam kalian datang ke sana. Ada yang ingin aku bicarakan dan ini sangat penting dengan kalian." Tukas Chal panjang lebar.
Bryan melirik Deana sejenak. "Kenapa tidak sekarang saja, Chal? Mumpung kamu di sini."
"Aku tidak bisa mengatakan itu sekarang, Bryan. Mungkin itu saja. Aku harus pulang sekarang." Ujar Chal penuh sesal seraya bangkit berdiri. "aku akan menunggu kedatangan kalian nanti malam. Sudah lama juga, bukan. Kita tidak makan malam bersama?" Chal tersenyum tipis. Dan di tanggapi oleh Deana yang juga ikut tersenyum.
"Baiklah. Kami akan datang." Timpal Deana.
Dan setelah itu, Chal berpamitan untuk pulang. Bryan masih merasa penasaran begitu juga Deana. Kedatangan Chal bagi mereka itu pasti bukan tanpa maksud lain. Sudah pasti ada hal lain yang akan sangat mengejutkan mereka nanti.
"Itu.. Paman Chal, tumben sekali dia kemari." Celetuk Brandon.
Deana tersenyum hangat menanggapi. "Mommy juga tidak tahu. Mungkin lebih baik kita datang saja nanti malam."
Brandon manggut-manggut saja. Menoleh sebentar ke arah luar untuk melihat mobil Chal yang sudah menghilang.
**********
Anita lantas menarik tangan Bella sedikit keras. Memaksa gadis itu untuk mengikuti dirinya ke dalam villa yang masih merupakan milik Chal suaminya. Bella harus bagaimana lagi, tentu saja hanya bisa pasrah. Mau memberontak?? Tidak mungkin. Dia masih waras dan masih ingat benar kalau dia sekarang tengah hamil. Dia juga tidak mau membahayakan diri dan anaknya itu.
"Bibi harap kamu tidak akan memikirkan anak pungut itu lagi, Bella. Atau kau akan tahu akibatnya nanti." Peringat Anita. Terus menarik Bella ke lantai dua. Di ikuti dengan Ashley juga Aleysia yang mengekor di belakang mereka.
Ashley menyeringai puas karena akhirnya bisa memisahkan Alfred dari Bella. Sebenarnya dia tidak pernah membenci Alfred. Hanya saja, ketika dia mendengar bahwa Bella hamil karena pria itu membuat dirinya murka. Dan pada akhirnya membenci pria itu. Dia tidak terima kalau Bella harus hamil karena Alfred, apalagi mereka belum terikat dalam pernikahan yang sah meskipun mereka sudah menikah secara agama. Dan dia tentu saja terkejut mendengar berita mereka telah menikah. Itu benar-benar memalukan. Dan.. Menjijikkan.
Sedangkan Aleysia, entah kenapa dia ingin sekali membantu Bella. Dirinya benar-benar tidak tega melihat perlakuan ibunya itu pada gadis blonde yang bisa di katakan sangat mirip dengannya itu. Aleysia kira sikap mereka akan baik pada Bella juga Alfred. Tapi sekarang, mereka justru membuat dia malu telah memiliki keluarga yang kejam.
"Ini kamarmu untuk sementara, Bella. Jangan pernah berfikir kamu bisa kabur dari Villa ini. Akan ada banyak pengawas yang akan mengawasi gerak gerikmu di sini." Kembali Anita memperingatkan Bella dan hanya di respon bungkam dari gadis blonde itu tanpa memperhatikan Anita bicara. Membuat wanita itu mendesah sembari memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
"Dan kalian jangan ada yang membantunya untuk keluar. Mengerti?!" Anita bergantian menggertak kedua putrinya itu. Membuat Aleysia sedikit terkejut hingga melangkah mundur satu langkah. Namun detik kemudian mengangguk mengiyakan.
Anita melangkah keluar meninggalkan Bella di dalam kamar. Ashley dan Aleysia menghampiri gadis itu dengan tatapan berbeda.
"Bella?" Lirih Ashley. Membuat Bella hanya melirik sinis pada wanita berambut merah dengan wajahnya yang keras itu. Begitu juga Aleysia. "Maafkan kami. Semua yang kami lakukan ini hanya demi kebaikanmu. Kau harus mengerti itu."
"Hmph!! Demi kebaikan kau bilang?!" Seloroh Bella tersenyum miring menghina keduanya. Membuat wajah Ashley seketika mengeras karena tersulut emosi. "Bagiku kalian itu IBLIS!! Kalian tahu iblis, bukan?" Imbuh gadis blonde itu mendesis keras pada kata iblis.
Aleysia merunduk menyesali perbuatannya. Benar, mungkin sebutan itu cocok untuk keluarganya.
"BELLA!! Jaga bicaramu! Kami berbuat seperti ini karena kami sayang padamu."
"Bull–shitt!!" Desis Bella mengundang emosi Ashley yang semakin tersulut.
"Terserah apa katamu, Bell. Aleysia!! Ayo keluar!" Pekik Ashley putus asa dan melenggang pergi.
"Ah, y-ya kak!" Sahut Aleysia mengikuti kakaknya itu pergi. Dia menoleh menatap Bella untuk terakhir kalinya dengan sorot mata sendu penuh penyesalan sebelum benar-benar pergi.
Setelah kepergian Ashley juga Aleysia, Bella langsung menjatuhkan diri di atas ranjang king size di kamar itu. Pandangannya kosong. Pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu di rumah sakit.
"Alfred.. Kenapa kau hanya diam saja?" Lirihnya. Hingga tanpa sadar, sebuah liquid bening menetes dari pelupuk matanya. "Cepatlah jemput aku, Al." Harap Bella. Dia *** sprei itu kuat-kuat. Menyalurkan emosinya yang meluap.
***********
Terpaksa Helena juga Gavyn membantu Alfred untuk kembali ke tempat tinggal pria itu. Bahkan Alfred kini tidak peduli lagi ketika kacamata yang selalu ia kenakan di depan semua orang itu telah tersingkap. Menampilkan ekspresi terluka pada wajah tampannya.
Helena cukup terkejut tatkala untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajah asli orang yang pernah ia cintai itu begitu sangat tampan tanpa kacamata. Hanya saja, sebuah tahi lalat kecil yang terletak di sisi kiri bawah bibir pria itulah yang mungkin membuat pria itu semakin menarik. Sayang, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengagumi sosok pria yang kini berada di sampingnya itu.
"Bella." Lirih Alfred memanggil Bella untuk kesekian kalinya.
"Gavyn. Bagaimana ini? Aku tidak tega melihat Alfred depresi seperti ini." Ujar Helena pada Gavyn yang fokus mengendarai mobil milik Alfred.
Sejenak Gavyn memperhatikan Alfred yang berada di sandaran bahu Helena. Menyedihkan batinnya. Dia bahkan tidak pernah melihat Alfred sefrustasi ini sebelumnya. Apa begini cara Alfred ketika pria itu sudah mencintai seseorang? Beruntung sekali Bella bisa mendapatkan pria seperti Alfred.
"Kembalikan Bella, Ashley. Aku mohon." Kembali Alfred meracau dengan pandangan kosong tanpa ekspresi dan emosi sedikitpun. Hal itu menyebabkan Helena tambah panik dan cemas melihat keadaan mengenaskan Alfred yang tanpa ada gairah hidup itu.
"Alfred, hiks.. Hiks.." Isak tangis kembali lolos dari bibir Helena tidak tahan. Hatinya ikut hancur merasakan bagaimana keadaan Alfred sekarang.
Mengajak bicarapun percuma. Pria itu seperti mayat hidup yang tak bisa merespon orang-orang yang bicara dengannya sedikitpun. Yang bisa di ucapkan pria itu hanya satu nama saja. Bella.
"Gavyn. Kita harus bagaimana?"
Gavyn hanya bisa menggeleng tidak tahu. Ia kini bahkan menggeram marah mengumpat dan mencaci maki orang yang sudah membuat sahabatnya itu hilang kewarasannya.
__ADS_1
Tapi, bukankah orang yang datang adalah pamannya Chal Lincolnshire? Jadi Bella masihlah ada hubungannya dengan keluarga Lincolnshire? Mungkin tidak. Tapi kedua wanita tadi iya.
"Brengsek mereka!! Kau tenang saja Alfred. Kita akan mengambil kembali Bella dari tangan mereka." Ujar Gavyn mencoba menenangkan. Namun syarat akan keseriusan.
Sesampainya di kediaman Alfred, Gavyn juga Helena membantu pria itu turun dari mobil memasuki tempat tinggal milik Alfred. Gavyn mendudukkan Alfred di sofa ruang tamu. Sementara Helena langsung menuju ke dapur. Mengecek lemari pendingin dan membuat minum juga mengambil kudapan ringan.
Gavyn hanya bisa diam memperhatikan wajah kosong Alfred kasihan. Hingga membuat ia *** jari-jarinya dengan rahang yang mengeras menahan emosi.
"Bukankah pria yang bersama wanita itu mirip dengan Edward?" Celetuk Helena keluar dari dalam dan meletakkan nampan berisi tiga juice dan sepiring kue kering. Gavyn tersentak menoleh wanita itu dengan alis menaut.
Sementara Gavyn mencoba mengingat-ingat pria yang di maksud oleh Helena, wanita itu mengambil satu gelas juice itu dan menyodorkannya pada Alfred.
"Minum dulu, Al." Ujarnya sembari membantu Alfred. Namun pria itu tetap tidak mau merespon sama sekali. Pria itu tetap diam dengan bibir yang seringkali menyebut nama Bella.
Helena mendesah lelah. Kenapa hal itu harus terjadi pada Alfred? Meskipun Alfred mencintai Bella, pria itu tidak mungkin memanfaatkan hal itu untuk memperoleh harta dari orangtua Bella yang pernah merawatnya. Jika Alfred bermaksud untuk mengambil alih harta milik keluarga Bella, untuk apa juga Alfred harus susah payah merawat gadis blonde itu dari masih balita? Alfred tinggal menaruh Bella yang masih bayi ke panti asuhan saja dan membawa harta milik Bella pergi jauh. Namun, yang di lakukan Alfred adalah yang sebaliknya. Dengan kasih sayang dan kesabarannya, pria yang dari kecil selalu memakai kacamata itu merawat Bella yang masih bayi. Membawanya kemana saja tiap ia memiliki kepentingan. Sedikitpun Alfred tidak pernah meninggalkan Bella sendirian. Bahkan jika Bella sakit saja Alfred memilih tidak berangkat sekolah hanya untuk merawat gadis blonde itu. Lalu darimana Alfred bisa di sebut hanya memanfaatkan keluarga Bella? Alfred bahkan rela menderita ketika Bella menginginkan hal yang harus di turuti. Ketika mereka tidak bisa makan, Alfred memberikan nasinya untuk Bella dan berbohong bahwa dirinya sudah makan.
"Chal." Lirih Gavyn tiba-tiba.
"Chal? Siapa dia?"
Sejenak Gavyn menghela nafas sebelum kembali bersuara. "Dia adik dari paman Mike. Sama seperti diriku." Jeda sejenak. "Tidak heran kalau wajahnya begitu familiar untukku."
"Tapi kenapa dia hanya diam saja?" Ujar Helena ingin tahu.
"Seorang Lincolnshire bukanlah orang yang banyak bicara, Helena. Aku akan mencoba mencari tahu tentang Chal Lincolnshire dengan keluarga Bella."
Kembali Gavyn memperhatikan Alfred. Begitu juga Helena yang semakin tidak tega.
************
Anita berjalan menjinjing sebuah dress berwarna jingga dengan lengan pendek berwarna tosca. Ia tersenyum begitu bahagianya terus melangkah menuju lantai atas di mana keponakannya berada.
Ceklek!
"Bella! Lihatlah, apa yang bibi Anita bawakan untukmu." Seru Anita riang. Mengangkat tinggi-tinggi dress yang ada di tangan kanannya.
Tapi Bella sama sekali tidak menyahut sambutan kedatangan Anita. Jangankan menyahut, melirik atau menolehpun tidak. Bella masih setia meringkuk memeluk lututnya betopang pada lutut sembari meniti lantai marmer di bawahnya tanpa berniat berbalik menyambut Anita.
"Bella?"
Hening.
Masih tak ada jawaban dari gadis blonde itu. Anita perlahan mendekati keponakannya yang tengah duduk di atas lantai di balik ranjang.
"Maafkan bibi, Bella. Bibi tidak bermaksud untuk menentang kebahagiaanmu. Tapi–" Anita menghela nafas sejenak. Menjilat bibirnya seraya mengusap lembut punggung Bella yang masih betah dengan posisinya. "Kau tau bukan, Bell. Sekali lagi. Aku mohon, maafkan bibimu ini." Imbuhnya.
Hening kembali.
Anita mengangguk-angguk paham. Mungkin keponakannya itu butuh waktu untuk sendiri. Sebaiknya dia keluar.
"Baiklah, bibi hanya ingin mengantarkan dress ini untukmu. Pakailah untuk acara nanti malam. Bibi harap kamu sudah bersiap-siap sebelum jam tujuh malam. Aleysia akan membantumu, nanti." Anita kembali mengusap punggung Bella. Mengacak rambut blonde wanita itu dan mendaratkan satu kecupan sayang di pucuk kepala Bella. Sebelum akhirnya dia bangkit dan berbalik pergi.
Sejenak Anita menoleh ke arah Bella dengan tatapan sendu. Apa dia terlalu keras? Anita mendongakkan bola mata ke atas. Wanita itu berdoa semoga apa yang dirinya lakukan pada Bella tidaklah salah.
'Adel, aku harap kamu setuju dengan keputusanku ini'. Batinnya sebelum Anita berbalik menutup kembali pintu kamar Bella.
Setelah mendengar pintu kembali tertutup, Bella mulai mendongakkan kepalanya pelan-pelan. Menoleh ke belakang mengecek keadaan di kamarnya lantas mendesah lega. Namun dia kemudian mengernyit bingung melihat dress jingga yang di bawa oleh bibinya di atas kasur. Untuk apa bibinya itu menyuruhnya memakai dress sebagus itu? Perasaannya mulai tidak enak.
************
"Memang kita akan kemana, Mom. Sampai aku harus memakai baju serapi serapi ini." Tukas Edward yang cukup terkejut ketika Deana menemuinya dengan satu stel kemeja berwarna Navy.
Deana tersenyum hangat pada putra bungsunya. "Pamanmu Chal mengundang kita untuk makan malam di Villa tempat tinggalnya, sayang."
Jelas saja Edward terkejut kala Deana menyebut satu nama yang tidak asing baginya. Bukan karena dia merasa senang mendapat undangan makan malam di rumah pamannya yang tidak pernah dirinya temui dari dia masih kecil. Namun karena dia terkejut mendapat undangan dari keluarga yang baru beberapa jam lalu membuat kepalanya mau pecah. Ah, apa yang sedang di rencanakan oleh wanita bernama Ashley itu lagi?
"Kebetulan juga kita sudah lama tidak bertemu dengan pamanmu itu dan keluarganya, kan? Sekalian nanti kita berkenalan dengan mereka." Imbuh Deana membuat Edward hanya mengangguk saja.
Memang benar, dia belum paham benar keluarga dari pamannya Chal itu. Yang lebih mengenalnya adalah Brandon. Itupun ketika kakaknya itu masih terbilang balita. Dia tahu tentang Chal hanya sebatas dari cerita juga foto keluarganya. Yang mengatakan bahwa wajahnya begitu sangat mirip dengan pamannya itu.
Hampir setengah jam keluarga Bryan mempersiapkan diri masing-masing sebelum mereka bergegas menaiki satu mobil yang di kendarai oleh Bryan sendiri. Selama perjalanan, tak ada satupun dari mereka yang berbicara.
Hening.
Hanya ada suara deru mobil saja yang terdengar. Bosan? Pasti. Tapi tidak bagi mereka yang merupakan anggota keturunan dari keluarga Lincoln. Ketenangan adalah prioritas utama mereka. Namun bagi mereka saat ini, banyak hal yang tiba-tiba saja mengganggu pikiran mereka. Sehingga mereka lebih memilih berkutat dengan pikiran mereka masing-masing hingga sampai pada tujuan mereka.
Sesampainya di depan sebuah Villa pinggir kota Washington, ke empatnya lantas turun dan di sambut oleh beberapa pria berjas hitam untuk mengantarkan mereka ke dalam.
"Selamat datang semuanya!!" Seru suara lembut milik seorang wanita bersurai ombre bermata hazel. Yang tak lain adalah Anita. Wanita itu tersenyum hangat pada tamu-tamunya di temani oleh suaminya Chal.
Deana membalas senyuman Anita tak kalah hangat. "Lama tidak bertemu, Anita. Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat, Deana. Aku baik. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Seru Anita menggebu-gebu.
"Terima kasih kamu sudah datang, Bryan. Aku senang melihat kehadiran kalian." Bryan hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Ayo kita ke meja makan langsung saja." Ajak Anita membimbing Bryan sekeluarga memasuki ruang makan mereka.
Tetapi baru beberapa langkah, mereka di kejutkan dengan kehadiran tiga wanita yang salah satunya tidak asing bagi mereka berjalan dengan kepala menunduk juga raut wajah yang tampak menyendu. Seolah tak ada cahaya di dalam diri wanita itu seperti yang biasa mereka lihat. Tapi, apa wanita itu benar-benar wanita yang sama dengan wanita yang mereka kenal?
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue...