Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Sebuah Fakta


__ADS_3

**PRAANNGG!!! BRAAKK!!


BUUGH!!


TAP TAP TAP TAP**!!


"WANITA SIALAN!! AKAN KU BUNUH KAU!!" Teriak Yoana sembari membanting segala barang-barang rumah yang berada di dekat dirinya.


Berbondong-bondong seluruh Butler, Maid dan juga para penjaga hanya bisa melihat Nyonya mereka mengamuk kesetanan dengan ekspresi cemas dan khawatir. Mereka sama-sama panik tatkala tak ada yang bisa menghentikan perbuatan gila Nyonya rumah mereka. Meskipun banyaknya penjaga mencoba mencegahpun, tidak ada yang berani menghadapi amukan Yoana yang terkenal menyeramkan. Hingga ketika Hans datangpun, pria yang sudah tua itu tidak mampu lagi menghentikan istrinya yang sedang dalam fase emosional.


"Astaga, Yoana. Apa yang kamu lakukan, Huh?!! Berhenti membanting barang-barang yang tidak berdosa itu, Yoana!!" Hans sebisa mungkin mencoba menenangkan suasana hati Yoana yang tiba-tiba saja marah dan murka dengan wajah hitam hingga menyebabkan barang-barang berharga di rumahnya itu hancur lebur. Untung saja itu hanyalah imitasi, bukan yang aslinya. Haㅡah... Hans hanya bisa mendesah pasrah kalau sudah melihat istrinya bertingkah seenaknya sendiri.


Hans masih ingat benar, ketika istrinya sedang marah, apapun akan menjadi objek untuk melampiaskan diri. Tidak terkecuali dia yang pernah terkena amukannya hingga menyebabkan dia di pukul oleh istrinya sampai terpental jauh ketika masih semasa sekolah dulu. Bahkan dia juga masih ingat dengan jelas di ingatannya, tidak ada satupun orang yang selamat jika sudah mendapatkan pukulan karate Yoana yang terkenal sangat mematikan. Wanita dengan ilmu bela diri tinggi. Hans sendiri pernah hampir kehilangan nyawanya ketika tiba-tiba Yoana masuk ke dalam fase marah.


Beberapa tulang rusuknya patah akibat di tinju dengan sekuat tenaga oleh istrinya, penyebabnya karena Hans yang saat itu di ajak oleh teman-temannya untuk merayu beberapa wanita. Hal itu di karenakan Hans yang memiliki wajah yang cukup tampan, menyebabkan beberapa teman-temannya meminta dia untuk mendekati para wanita incaran mereka. Dan pada akhirnya, Yoana tidak sengaja memergokinya. Wanita itu yang telah terbakar cemburu tidak peduli dengan alasan yang Hans ungkapkan, menyebabkan Yoana tanpa pandang bulu dan tanpa ampun memberinya kepalan tangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup. Karenanya, setelah itu pula Hans langsung di larikan ke rumah sakit. Di rawat beberapa bulan untuk pemulihan. Bahkan sebelumnya Hans sempat sampai mengalami koma beberapa minggu.


"KETERLALUAN!! BRENGSEK!! JALANG!!"


PRAANGG!!


"YOANA, HENTIKAN!!" Hans mencoba berteriak sekeras-kerasnya hingga membuat dia bernafas tersengal-sengal karena kehabisan tenaga. Namun Yoana justru masih terlihat acuh tak acuh saja dan menganggap Hans seperti tidak ada di hadapannya. Ok! Itu sudah keterlaluan.


Pada akhirnya, Yoana menyerah juga. Menghempaskan dirinya di atas single sofa yang tidak jauh darinya. Memijit pelipisnya yang mulai terasa berdenyut nyeri. Nafas wanita itu kini menderu masih penuh dengan emosi meski irama hembusan nafas itu terdengar kelelahan.


Setelah merasa jika sang istri telah benar-benar sedikit tenang, Hans memberi titah pada seluruh pekerja di kediamannya untuk membereskan semua kekacauan yang sudah di sebabkan oleh istrinya. Lalu dia mengikuti Yoana menghempaskan pantatnya dekat dengan sofa milik sang istri. Sejenak Hans menghela nafas lelah, menatap sang istri lama tanpa berkata apapun hanya untuk melihat istrinya yang masih saja medumel tidak jelas.


"Aku tahu kamu kesal juga marah dengan tindakan semena-mena Anita yang tiba-tiba saja membuat pesta perniㅡ"


"Tetapi kenapa harus secepat ini, Hans?!!" Sentak Yoana memotong perkataan suaminya. Membuat pria itu hanya bisa kembali bungkam menatap lurus wajah sang istri yang kembali tersulut emosi. "Baru juga kita datang kesana lima hari yang lalu. Tapi dia begitu cepat bertindak untuk menikahkan Bella dengan orang lain. Wanita macam apa Anita itu?! Apakah seluruh keluarga Lee itu memiliki sifat dan watak yang sama sepertinya?! Ha-ah..!!! Menyebalkan!!" Kembali Yoana bersungut-sungut dan Hans hanya bisa memperhatikan istrinya. Sepertinya dia memilih diam dan menjadi pendengar yang baik kalau dia masih sayang dengan nyawanya.


************


"Cari siapa?"


"Eh?!" Liliana terkejut dan mengedarkan pandangannya ke segala arah ketika suara seorang pria tiba-tiba berseru ke arahnya. Namun tidak ada seseorang pun terlihat.


"Di atas." seru suara seorang pria lagi. Liliana mendongak. Melihat seorang pria menatapnya datar namun terkesan hangat.


"Emm... Aku mencari kak Alfred. Apa dia ada di rumah?"


Brandon, pria itu tersenyum sebelum dia berjalan ke arah tangga balkon yang terhubung dengan lantai bawah. Pria itu membuka gerbang samping rumahnya yang berdempetan dengan kediaman Alfred. Berdiri di depan Liliana, dia tersenyum simpul.


"Alfred sudah beberapa minggu ini tidak terlihat di rumah ini."


"Lho, apa dia sedang dinas?" Brandon menggelengkan kepala. Liliana mengernyit tidak paham.


"Yang kami tahu dia sudah tidak lagi tinggal di rumah ini. Aku sendiri belum memiliki kabar dari dia."


"Teleponnya?" kembali Liliana menimpali. Wanita itu tentu saja terkejut mendengar bahwa Alfred sudah tidak lagi tinggal di kontrakan Brandon. Jadi, di mana pria itu sekarang tinggal?


"Aku juga kurang tahu, beberapa hari ini aku menghubungi teleponnya selalu sedang sibuk." tukas Brandon seadanya.


"Oh, okay. Thanks kak. Kalau begitu...aku permisi." Brandon hanya bergumam sebagai respon, melepaskan Liliana yang mulai pergi.


Dengan langkah gontai, Liliana berbalik dan berjalan ke arah mobilnya. Wanita itu lalu menghela nafas lelah dan mengambil ponselnya di dalam tas. Masuk ke menu kontak, Liliana mencari nama Alfred sebelum dia mendialnya ingin menelepon.


Beberapa kali nada sambung berbunyi, namun tidak ada tanda-tanda seseorang di sana untuk menjawabnya. Dengan berat hati, wanita itu mengurungkan niatnya dan beranjak pergi meninggalkan pelataran rumah Alfred.


Ken menghela nafas berkali-kali hingga membuat Sammy yang berada di sebelahnya mendengus frustasi. Suara helaan nafas Ken benar-benar membuat kepalanya mendadak sakit. Di tambah ekspresi suram yang di perlihatkan oleh pria itu.


"Hey, Ken." mendengar namanya di sebut, Ken menoleh ke sumber suara dengan wajah tertekuk masam, "Berhentilah menghela nafas dan jangan berpikiran macam-macam."


"Tapi Sammy. Bella.. Dia.... Haㅡah..."


"Kamu mau melakukan apa untuknya? Kita hanya orang luar." timpal Sammy.


"Hey! Biar bagaimana pun juga, Bella itu sahabatku. Bagaimana bisa aku besantai-santai sedangkan dia sedang dalam kesusahan?! Dasar wajah tembok itu... Bisa-bisanya menikahi Bella yang sudah bersama dengan pak Alfred." gerutunya nyerocos.


"Apa kamu bilang tadi, Ken?" Sammy mendadak mengernyit ketika tidak sengaja mendengar gerutuan Ken yang meskipun lirih namun masih mampu dia dengar.


Ken mendelik horror, mulai menampar bibirnya yang telah lancang. "Itu..."


"Apa hubungannya dengan pak Alfred? Hey, Ken. Pak Alfred jelas kakaknya Bella. Seharusnya itu tidak jadi masalah kalau Bella akan menikah, kan?" ujar Sammy, lagi menambahkan ucapannya.


'Iya, kalau pria itu sendiri kakak kandung Bella. Tapi kan mereka tidak ada hubungan'. Jawab Ken dalam hati, "Itu.. Bukan apa-apa, Sam. Lupakan saja." elaknya pada akhirnya.


Tidak lama kemudian, Max hadir di antara mereka dengan wajah datar. "Ken, kamu ada lihat Liliana tidak?"


Ken menggelengkan kepalanya, "Tidak. Lagi pula kami beda fakultas, bagaimana bisa kamu menanyakan orang yang jarang aku temui padaku?" sungut Ken ketus.


"Kenapa mencari Lili?" Sammy menyeringai dengan ekspresi menggoda. "Jangan-jangan...targetmu selanjutnya dia, ya?"


"Hey! Jangan asal bicara." seru Max cepat-cepat mengelak sedikit emosi.


"Hati-hati. Kena bogem Bella nanti, kalau sampai dia tahu kamu ada niat buat ngejalin hubungan sama sahabatnya." tambah Sammy, belum puas. Max hanya meliriknya malas dengan mendecakkan lidah putus asa. Sudahlah, memang apa yang di katakan Sammy tidak sepenuhnya salah.


"Ngomong-ngomong, katanya pernikahan Edward di majukan besok. Benar tidak sih? Kalau iya itu benar-benar berita yang mengejutkan sepanjang masa." Max mencoba mengalihkan topik pembicaraan ketika dia ingat dia mendapat berita tentang Edward dan juga Bella.


"Iya. Aku juga dapat kabar dari dia kemarin." timpal Sammy dengan ekspresi yang sulit di tebak.


Dua laki-laki lain yang berada di samping Ken dan Sammy hanya sibuk dengan gadget mereka dan tidak ingin terlalu ikut campur urusan Sammy dengan yang lain. Meskipun mereka berdua mengenal Edward, namun mereka hanya sebatas berteman saja karena fakultas mereka memang sama.


Tiba-tiba Max melirik Ken curiga, ada sesuatu yang sepertinya tidak dia dan Sammy ketahui selama ini namun Ken mengetahui.


"Kenㅡ" pria itu memutar kepalanya untuk menatap Max sebagai respon, "apa ada satu hal yang kamu ketahui tentang Bella tetapi kami tidak tahu?"


"Eh?!" perubahan sikap Ken yang tampak tertegun membuat Max memicingkan matanya curiga. "i-itu... Bagaimana aku tahu? Aku... Ti-tidak tahu apapun." ujar Ken, menggaruk pipinya yang tidak gatal sembari mengalihkan pandangannya ke segala arah mencoba mengenyahkan kegugupan dan menghindari tatapan Max padanya.


Sammy memperhatikan interaksi keduanya. Namun melihat bahwa apa yang di katakan oleh Max mampu membuat Ken berkata dengan terbata-bata, Sammy akhirnya memutuskan untuk ikut masuk ke dalamnya.


"Sebaiknya kamu katakan semua yang kamu ketahui tentang masalah Bella selama ini, atau kamu akan membuat seseorang hidup dalam masalah." ancam Max, akhirnya.


"Aku benar-benar tidak tahu apapun, Max. Kenapa kamu terus mengejarku?!" seru Ken, mengelak. Dia sudah berjanji pada Bella untuk tidak menceritakan hubungannya dengan Alfred pada orang lain. Dia tidak mungkin mengingkarinya. Tapi apa yang di katakan oleh Max memang ada benarnya.

__ADS_1


Jika dia mencoba untuk menceritakan hal itu kepada teman-temannya yang lain, siapa tahu mereka akan membantu Bella. Tapi dia takut jika nantinya setelah dia mengungkapkan kebenaran itu, Bella justru akan di kecam dan di benci oleh semua orang. Dia tidak bisa membuat teman-temannya membenci Bella. Jelas dia tidak mau.


"Ken, Max benar. Jika kamu takut kami akan membenci Bella setelah mendengar ceritamu, kamu boleh melakukan apapun terhadap kami." timpal Sammy pada akhirnya ikut mulai campur.


Mendadak hati Ken menjadi gelisah dan bimbang. Memang bisa di katakan bahwa Sammy benar. Jika dia menceritakan semuanya pada Max maupun Sammy, sudah bisa di pastikan bahwa Bella kemungkinan bisa di selamatkan.


Max mengerti dengan kecemasan Ken. Mungkin, Ken mengenal sosok kekasih Bella selama ini, atau mungkin saja tidak hanya Ken tetapi juga dirinya dan sammy? Atau bahkan Edward juga tidak terkecuali? Dan hal itu membuat Ken tidak bisa menceritakannya sebab dia takut jika nantinya Bella akan merasa malu. Hal itu bisa di mengerti.


Menghela nafas sejenak, Max duduk di samping Ken. Dia menepuk bahu pria itu yang mendadak menegang karena canggung. "Setidaknya, dengan kamu menceritakan apa yang kamu tahu, pernikahan Bella dengan Edward bisa di hentikan."


"Tapi, maaf sebelumnya kawan-kawan. Emm..." Joe yang sedari tadi diam memberanikan diri untuk menyela. Menyebabkan perhatian semua orang beralih padanya. "bukankah saat pesta pertunangan mereka, Edward dan wanita itu tampak bahagia? Aku rasa mereka benar-benar saling mencintai."


"Kamu salah Joe. Sampai kapanpun, Bella itu tidak akan mungkin memiliki perasaan untuk Edward!" hardik Ken, dengan tegas. Sontak saja Joe dan yang lainnya mengernyit tidak paham. "Bella itu cintanya cuma sama satu orang. Dan aku dengar bahkan pria itu sudah melamar Bella." imbuhnya bersungut.


"Nah, kalau kamu tahu mereka sudah hampir mau menikah, kenapa kamu tidak ceritakan saja. Kami pasti akan bantu mereka juga." Sammy menimpali.


"Eh?" Ken menatap Sammy terhenyak.


"Ceritakan saja." Max mengompori.


Ken menunduk dengan pikiran yang berkecamuk. Dia ragu, tapi juga tidak bisa tidak membenarkan ucapan Max juga Sammy. Menarik nafas dalam, pada akhirnya pria itu memutuskan pilihannya.


"Baiklah. Aku akan memberitahu kalian." mendengar keputusan Ken, Max dan Sammy tersenyum tipis penuh arti. Menghela nafas lega sebelum memberikan respon positif pada Ken. "Jadi.. Sebenarnya.. Bella ituㅡ"


.


Gwen sedang melakukan observasi di ruang laboratorium ketika seorang laki-laki datang mendekatinya dengan senyum simpul. Secara tiba-tiba, laki-laki itu memeluk tubuh Gwen dari belakang, membuat Gwen melirik melalui bahunya siapa pelakunya. Dia tersenyum tipis, namun tidak melepaskan pelukan laki-laki itu dari tubuhnya.


"Apa kamu sudah dengar, bahwa mantanmu Edward besok akan menikah?" tukas pria itu santai. Tubuh Gwen terhenyak untuk sesaat, namun dia segera menetralkan kembali suasana hatinya menjadi normal.


"Aku mana tahu. Ketika dia mengadakan pesta pertunangan pun, bukankah aku tahu darimu?" respon wanita itu seadanya namun terkesan tidak mau tahu. Pria itu terkekeh melepaskan pelukan tangannya dan menjauhkan diri dari Gwen.


Pria itu menyandarkan pantatnya pada meja observasi Gwen, menyilangkan kedua tangannya melirik Gwen menatap wanita itu lekat. "Kamu... Tidak merasa sedih?"


Gwen hanya tersenyum, "Tidak. Aku sudah ada kamu." namun tidak bisa di pungkiri, bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, ada luka baru yang terasa sakit dan sangat menyiksanya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu dan kak Brandon adalah teman saat kalian masih kuliah?"


Pria itu menyeringai, "Kenapa? Kalau kamu tahu aku adalah teman Brandon, apa kamu tidak akan mau menerimaku jadi kekasihmu?"


"Kak Pitter..." Gwen berseru dengan nada memperingatkan. Pitter terkekeh, menyadari bahwa dia salah.


Pitter tahu, Gwen benar-benar telah memilihnya saat ini. Dan mengenai perasaan Gwen untuk Edward, dia percaya bahwa wanita di depannya itu telah benar-benar melepaskannya.


"Maafkan aku, jangan marah okay?"


*************


Drrrtt.... Drrrtt...


Sebuah kepala dengan surai berantakan tiba-tiba menyembul keluar dari dalam selimut di ikuti dengan tangannya yang menjulur meraba-raba tampak tengah mencari sesuatu di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Sebuah ponsel yang sedari tadi bergetar tidak jauh dari jangkauannya berhasil di raih.


Dengan enggan, dia lalu merubah posisinya menjadi terduduk untuk membuka pesan yang baru saja di terimanya. Dan sedetik kemudian, mata sayu yang baru saja terbangun itu seketika melotot lebar-lebar saat membaca pesan di ponselnya.


Aku mengirimimu paket pagi ini. Buka dan pakailah apa yang ada di dalamnya. Jam 9 pagi besok di National Cathedral, kamu sudah harus sudah sampai di lokasi pesta pernikahan Bella bila kamu ingin dia kembali padamu.


Yang menjadi pertanyaan Alfred adalah, di mana orang ini akan mengirim paket itu? Sementara dia saja sudah pindah dari tempat tinggalnya dulu yang merupakan milik Deana beberapa hari ini. Dan sekarang, dia bahkan tidak pulang ke kediaman orangtua angkatnya karena memilih tidur di rumah teman lamanya Benzo.


Ya. Pria itu adalah Alfred Arshavin Frederick. Yang memilih menginap di kediaman Benzo, teman sekaligus hacker yang dia minta untuk membantunya melakukan penyusupan.


Tap Tap Tap Tap...


Derap langkah kaki yang tadinya samar terdengar menjadi jelas semakin mendekat. Alfred menoleh ke arah pintu kamar yang dia tempati. Kamar lain dari kediaman milik Benzo.


"Aku masuk Al!" Seru suara berat yang tidak lain adalah suara milik Benzo. Tanpa menunggu jawaban dari Alfred, pria itu membuka pintu kamar tersebut dengan membawa sebuah bingkisan yang terlihat seperti paket di tangannya. Hal itu menyebabkan Alfred yang melihatnya mengernyit bingung.


"Ada paket untukmu."


"Huh? Hmm.. Tapi, bagaimana orang yang mengirim paket itu tahu kalau aku di sini?" Gumam Alfred heran, suaranya cukup mampu di curi dengar oleh Benzo. Pria itu hanya menggendikkan bahu tak paham lalu menghampiri Alfred untuk menyerahkan paket di tangannya.


"Thanks." Desis Alfred. Pria itu lantas cepat-cepat membuka paket yang dia terima dengan perasaan berdebar cemas. Meski memang tidak kentara.


"Apa tidak sebaiknya kamu mengikhlaskan Bella untuk pria itu, Al?" Tiba-tiba saja gesekan kertas dan plastik yang ribut dari akibat ulah Alfred membuka kotak paket itu terhenti. Pria itu mematung tanpa bergerak selama beberapa detik sebelum menghela nafas lelah.


"Itu tidak mungkin, Ben. Bella adalah hidupku. Aku tidak bisa meninggalkannya. Apalagi... Haㅡah... Dia istriku. Bella sedang mengandung anakku. Mana mungkin aku menelantarkan mereka meski besok dia akan menikah dengan orang yang terpandang dari keluarga Lincoln." Protes Alfred. Benzo hanya bisa manggut-manggut mulai paham, dan dia memilih untuk tidak lagi bersuara. Dan Alfred kembali membuka kotak paket itu.


Hal yang mengejutkan menurutnya. Ketika melihat isi paket tersebut, Benzo bahkan tidak mengerti dengan paket yang tidak ada nama pengirimnya itu. Aneh. Pikir Benzo.


"Aku akan pulang Ben."


"Huh? Uh-hum.. Okay." Timpal Benzo bingung. Hanya memperhatikan Alfred yang tampak tergesa-gesa membawa kotak paket itu bergegas keluar dari kamar miliknya menuju ke arah mobil.


Alfred memanasi sejenak mesin mobil BMW putih kesayangannya itu. Sebelum akhirnya tancap gas secepat mungkin menuju kediaman barunya.


.


"Bella, kamu ingin memakai gaun panjang, atau pendek?" Tanya Aleysia yang kebetulan membantu Bella untuk bersiap-siap.


"....."


"Gaun pendek saja."


"Eh?!" Bella tersentak kala tiba-tiba saja Edward hadir di tengah-tengah mereka. Bukankah seharusnya pria itu berada di rumahnya sendiri?


"Aleysia, berikan gaun yang pendek itu untuk Bella." Celetuk Edward tiba-tiba. Pria itu menunjuk gaun pendek tidak jauh dari tubuh Bella.


"Eh, huh? O-okay." Sahut Aleysia gugup. Lalu mengambil gaun yang di tunjuk oleh Edward sebelum mencocokkannya pada tubuh Bella. Dia tertegun tidak percaya saat melihat gaun itu di tubuh Bella. Wanita itu... Benar-benar sangat cantik.


"Ini?"


"Hm." Edward segera memberikan kode pada si blonde untuk memakainya di ruang ganti di temani seorang pekerja designer. Dan dengan sangat terpaksa wanita itupun akhirnya menurutinya juga meski berdecak kesal.


Brandon yang juga baru saja tiba mendekati Aleysia yang semakin gugup karena pandangan Brandon pada wanita itu begitu intens. Membuat Aleysia menjadi salah tingkah *** jemari tangannya mencoba untuk menghilangkan kegugupannya.

__ADS_1


"Kau terlihat manis, Ale." Puji Brandon membual dengan seringaian jahil. Namun siapa yang tahu Aleysia yang sedari tadi bergerak gelisah tiba-tiba saja mematung. Cuping telinganya mulai memerah dan kedua sisi pipinya menjadi merona karena pujian singkat pria itu.


'Ya Tuhan. Jantungku mau copot! Gila.' Aleysia memekik melonjak kegirangan dalam hatinya.


Edward memutar bola matanya jengah mendengus geli memperhatikan roman picisan dua makhluk yang menurutnya cukup menggerahkan untuk pandangannya. Syukurlah tidak ada Ashley di antara mereka. Jadi mereka bebas melakukan apapun sesuka hati.


Ketika Edward melengos ke arah kamar ruang ganti di mana Bella berada, seketika itu, dia tersihir oleh pesona sosok Bella yang kini telah menjelma menjadi terlihat sangat....manis. Di sana, Bella berdiri dengan malu-malu mencoba menunduk dalam menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Astaga. Kau sangat manis, Bella." Pekik Aleysia terpesona. Menatap penampilan Bella penuh kekaguman. Edward hanya bisa bungkam menatap si blonde tanpa berkedip sedikitpun. Sedangkan Brandon, ia tersenyum tipis memperhatikan sosok lain Bella yang terbalut memakai gaun pengantin berwarna putih gading.


Andai saja, Bella dan Edward tidak memiliki ikatan saudara sesusuan. Dan andai saja, adiknya Edward dan Bella memiliki perasaan yang sama. Sama-sama saling mencintai. Pasti saat ini dia akan sangat bersyukur memiliki adik ipar selucu dan semanis Bella.


***********


Alfred baru saja akan melangkah masuk ke kediaman Aberald ketika tiba-tiba datang sebuah mobil berhenti di dekat mobilnya. Dia mengernyit penasaran. Hingga keluarlah dari dalam mobil itu seorang pria tambum yang cukup familiar baginya dan seorang pria lagi dengan postur tubuh proporsional bersurai pirang yang sepertinya masih terlihat asing.


Pria tambum itu tersenyum ke arahnya dan mendekati Alfred. "Kau sudah dewasa ya, Al." Ujar pria tambum itu menepuk punggung Alfred pelan ketika merangkul bahu Alfred penuh keramahan.


"Paman Roy? Kaukah itu?" Lirih Alfred menebak.


"Ya. Kau benar. Haha.." Kekeh Roy. "Apa Nyonya Yoana dan Tuan Hans ada di rumah?"


"Aku tidak tahu. Sebaiknya kita masuk dulu, paman." Ujar Alfred menimpali. Seraya dia mempersilahkan kedua tamunya untuk berjalan lebih dulu.


Ketika Alfred membuka pintu rumahnya, baru saja selangkah masuk dia kembali terhenti. Mematung di tempat kala matanya menangkap pemandangan yang begitu sangat - buruk. Layaknya kapal pecah yang menabrak terumbu karang yang sangat besar hingga sampai membuat kapal itu mengalami kerusakan yang sangat parah. Okay, tapi ini bukan sebuah kapal melainkan sebuah rumah yang berdiri sangat kokoh di atas bumi. Kecuali-


"Apa telah terjadi gempa bumi di rumah?" Celetuk Alfred dengan wajah tanpa dosa.


Dan ucapannya membuat seisi rumah shock kena serangan jantung. Mereka melirik takut pada sosok tuan rumah penyebab bencana itu terjadi. Berharap sang Nyonya besar tidak kembali murka. Melihat para pelayan yang bukannya menjawab malah melirik Yoana, membuat dia menaikkan sebelah alisnya bingung. Tapi Alfred cukup mengerti dengan tampang horror ketakutan para pelayan ketika melirik Nyonya besar mereka.


"Astaga. Aaaaahh... Ternyata." Lirihnya pelan.


"Aaa.. Ma, ayah. Paman Roy datang untuk membicarakan sesuatu." Serunya. Seketika itu, Yoana juga Hans tampak terlihat lebih antusias. Mereka lantas segera bangkit untuk menghampiri dua tamu yang kini berdiri di sebelah Alfred.


Yoana tersenyum ramah menyambut tamu yang sudah di nantinya.


"Syukurlah anda datang tepat waktu, Tuan Roy. Besok-" Yoana menggantungkan ucapannya hanya untuk melirik Alfred. Apa dia harus mengatakan bahwa Bella akan menikah besok di depan anak angkatnya itu?


Alfred mengerti akan lirikan dari Yoana yang menatapnya sendu. "Aku sudah tahu tentang itu, ma. Kamu tidak perlu khawatir."


Yoana tersentak dengan mata membulat sempurna menatap lekat putranya itu tidak percaya. Alfred masih terlihat begitu tenang padahal Bella akan menikah besok. Apa Alfred tidak merasa cemas juga sedih sedikitpun?


"Ma, sebenarnya aku sudah bertemu Bella tadi malam. Berencana untuk membawanya kabur."


"Apa?!" Pekik Yoana terkejut.


"Ya.. Tapi dia memberitahu bahwa kalian tengah berusaha mengambil alih dengan cara sehat. Dan jadi aku menuruti keinginannya." Jelas Alfred memaparkan kebingungan dari Yoana. Membuat wanita itu menghela nafas lega.


"Kalian tenang saja. Aku dan rekanku ini, Mike akan berusaha keras mendapatkan hak asuh Bella kembali." Roy menengani.


"Ah, ya. Kalian silahkan duduk dulu." Hans berseru. Ia baru sadar kalau sudah membiarkan tamunya masih dalam posisi berdiri.


Alfred jelas tidak bisa tidak ikut dalam pembicaraan mereka. Jadi dia memutuskan untuk duduk di samping Hans.


"Mengenai surat wasiat itu, aku sudah berhasil menemukannya, Tuan Hans. Kita bisa meringkus Anita atas pemaksaan terhadap Bella jika kau mau."


"Tidak perlu. Semua itu biarlah menjadi keputusan Bella. Mengingat Anita masih termasuk salah satu sanak keluarganya." Roy tidak mengejar dan hanya mengangguk mengerti. Begitu juga Mike yang datang bersamanya.


"Dan, Tuan Mike ini?"


"Dia dari pihak kepolisian, Tuan. Untuk berjaga-jaga saja bila nanti kehadiran kita di persulit."


.


"Kak Tristan, Lili butuh bantuanmu." Liliana menghampiri seorang pria yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di sebuah ruangan kantor.


Melihat kedatangan Liliana, Tristan tidak bisa tidak terkejut. Apalagi setelah tahu maksud tujuan wanita itu. "Bantuan? Ada apa?"


Liliana menjatuhkan dirinya ke kursi dengan keras, menyentak tubuh Tristan hingga berjengit ke belakang. "Ini soal Bella dan kak Alfred, kak. Apa kamu belum mendengar kabar tentang mereka?"


Dengan ragu, Tristan menggeleng. Dia benar-benar tidak mendengar apapun berita mengenai sahabat lamanya itu. Tapi jika ada sesuatu yang membuat sahabat dan juga Bella susah, dia tidak bisa diam saja.


Liliana memutar bola matanya lelah, mendesah putus asa, "Tak heran kalau kamu belum mendengar berita itu. Kak, Bella akan menikah besok. Bisakah kita membantu kak Alfred untuk mendapatkan kembali Bella?"


Melihat Liliana yang merajuk di hadapannya seolah akan menangis membuat hati Tristan sakit. Terlebih, ketika mengetahui berita yang mengejutkan baginya. "Seharusnya Alfred mengatakan bahwa dia dan Bella sudah menikah, kan?"


"Mereka tidak mau tahu. Keluarga Bella tidak setuju Bella hidup dengan kak Alfred. Mungkin, kalau itu hanya sebatas kakak adik saja, kejadian ini tidak akan terjadi." Liliana menghela nafas berat.


"Sekejam itukah?" Liliana bergumam sembari mengangguk dengan wajah sendu. Tristan mulai berfikir keras, seharusnya ada cara agar Bella yang sudah berubah status menjadi istri Alfred itu kembali pada pria itu.


Melirik ponsel miliknya yang ada di sampingnya, dia mengambil ponsel itu dan mulai mencari kontak seseorang. Nada sambung tersambung beberapa kali.


"....."


"Aku butuh bantuanmu."


.


Bella tidak tahu, bagaimana suasana hatinya saat ini. Terlebih, saat tahu bahwa tempat yang akan digunakan untuk acara pemberkatan pernikahannya dengan Edward adalah National Cathedral yang pernah dia gunakan untuk pernikahannya dengan Alfred. Tidak hanya itu, gaun yang akan dia kenakan bahkan memiliki model yang hampir serupa dengan gaun yang Alfred berikan untuk pernikahannya.


Di dalam kamarnya, dia terduduk sendirian di sudut ruangan. Memeluk lututnya dengan air mata yang mengalir tanpa bisa di bendungnya.


Cincin miliknya yang di berikan oleh Alfred kini telah terpasang kembali pada jari manisnya. Bertanya-tanya, apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia... Benar-benar tidak ingin acara besok terjadi. Tapi mendengar Edward memberikannya harapan, dia merasa bahwa Edward tidak mungkin akan mengecewakannya. Namun begitu, dia tetap saja masih merasa takut.


Pernikahan bukanlah hal yang bisa di permainkan.


Andai saja, seseorang mau memberikannya sebuah ponsel. Tapi dia ingat, meskipun Aleysia sudah berusaha untuk memberinya ponsel, Anita maupun Ashley selalu tahu. Dia tidak mengerti, kenapa mereka bisa mengetahui hal itu.


CCTV kah? Tapi jika ada CCTV di dalam kamarnya, bukankah seharusnya keberadaan Alfred malam itu bisa ketahuan?


Pada akhirnya Bella tahu bahwa itu benar-benar adalah CCTV. Meskipun dia tidak tahu bagaimana cara Alfred masuk ke dalam kamarnya tanpa terdeteksi oleh CCTV di kediaman Pamannya itu. Mungkin... Seseorang membantunya untuk menyelinap malam itu.


"Kak Al, bagaimana kabarmu sekarang?" Bella menghela nafas lelah dengan sorot mata yang kosong. Melirik ke arah gaun yang tergantung di dekat almari, Bella menyendu semakin terpuruk.

__ADS_1


__ADS_2