Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Penyusup


__ADS_3

Ketakutan akan kehilangan keponakannya berujung pada perencanaan pernikahan yang seharusnya akan di laksanakan bulan depan kini menjadi tiga hari lagi. Setelah sehari sebelumnya Anita mempersiapkan segalanya secara mendadak. Wanita itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Rasa sayangnya terhadap Bella berdampak pada kondisi kejiwaannya. Di mana tiga hari lalu telah terjadi keributan di kediamannya hanya karena memperebutkan hak asuh Bella. Setelah Bella menikah, semuanya akan berbeda.


Deana dan Bryan bahkan terkejut dengan perubahan rencana pernikahan yang di rubah oleh Anita secara mendadak. Mereka hanya bisa menerima tanpa bisa tahu apa penyebab dan alasan Anita merubahnya. Yang mereka tahu bahwa ada dua orang kakek dan nenek dari pihak ayah kandung Bella yang datang untuk mengambil alih Bella dan di asuh oleh mereka. Dan mereka mengetahui fakta itu langsung dari kedua putranya. Terlebih Brandon, putra sulung mereka.


Tidak ada salahnya dengan sikap Anita yang takut kehilangan Bella. Tapi sikap Anita yang sudah keterlaluan bahkan berdampak buruk menjadikan Bella malah membenci wanita itu balik. Andai saja Deana mencoba memberanikan diri untuk melawan. Tapi putra bungsunya justru melarangnya untuk melawan. Ha-ah... Sebenarnya apa yang tengah di rencanakan oleh Edward kali ini?


Seperti hari ini, Anita benar-benar di sibukkan dalam urusan mendekor dan persiapan pernikahan di sebuah gereja tidak jauh dari tengah kota Washington dekat dengan kediaman Bryan. Di gedung gereja tersebut dan di bagian garden telah di sulap sedemikian rupa dengan dekorasi pernikahan outdoor dan juga indoor. Dengan bagian dalam gereja sebagai prosesi sakral pengikat janji suci calon pengantin nanti dan bagian garden untuk proses resepsi.


"Anita, apa kamu tidak sadar, bahwa kamu sudah bertindak berlebihan pada Bella? Apa kamu tidak kasihan padanya?" Chal mulai melayangkan ketidak sukaannya dengan sikap overprotective yang di lakukan oleh Anita selama ini. "Bella punya perasaan, Anita. Dia bukan boneka."


"Ck!! Sebenarnya kamu itu membela siapa, Chal. Aku istrimu atau pada orang yang mengaku-ngaku sebagai orangtua Thomas itu?" Anita menatap intens suaminya. Sementara Chal bungkam tanpa berkedip membalas tatapan istrinya tanpa bisa menjawab. Baginya pertanyaan itu sangatlah sulit meski dia dari keluarga yang terkenal dengan otak jenius mereka. "Aku istrimu, Chal."


"Tapi kamu sudah bertindak keterlaluan, Anita. Ini sudah terlalu jauh. Tidak seharusnya kamu bertindak kasar pada Bella. Ingat Anita, saat ini Bella sedang mengandung. Dia butuh kebahagiaan, bukan tekanan yang bisa membuatnya stress." Kembali Chal melayangkan argumennya yang selama ini di pendamnya.


Anita mendesis mulai kesal. "Berhenti, Chal!! Kamu benar-benar membuatku muak! Keputusanku sudah final, Bella tetap akan menikah dengan Edward lusa!" Setelah mengatakan keputusannya secara tegas, wanita itu akhirnya melenggang pergi meninggalkan Chal yang menatapnya prihatin.


Kenapa semua ini harus terjadi? Andai saja sahabatnya tidak secepat itu meninggalkan keluarganya. Ah, bukan. Putri kandungnya yang masih balita bersama dengan adik angkatnya yang begitu bertanggung jawab mau merawat Bella dengan sangat sabar.


'Thomas, maafkan aku. Adelina, ampuni aku karena aku tidak bisa mencegah kemauan kakakmu Anita yang salah. Semoga saja Tuhan tidak membenciku.' Batin Chal merintih.


************


Alfred semakin terpuruk kala dia mendapat kabar dari Gavyn secara langsung bahwa pernikahan Bella akan di langsungkan lusa pagi. Dia semakin cemas memikirkan nasibnya bersama dengan Bella. Sepertinya hal yang terakhir yang bisa dia fikirkan adalah membawa Bella kabur. Ya, dia harus membawa istrinya kabur sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi.


Pria itu lantas secepat mungkin berlari dari kamarnya. Melewati para maid yang menatapnya bingung. Beruntung Yoana dan juga Hans tengah mengurus hak asuh dan pengambil alihan Bella di pengadilan. Sehingga membuatnya lebih leluasa dan pergi tanpa harus di tanyai maupun di cegah.


Pria itu lantas memilih membawa mobil BMW putih miliknya daripada harus membawa mobil mewah yang berjejer rapi di garasi mobil mansion mewah itu. Memasuki driver's seat, dia memanasi sejenak mesin mpbilnya sebelum dia akhirnya tancap gas dengan kecepatan cukup tinggi. Alfred kemudian mendial sebuah nomor yang sudah di ingatnya di luar kepala. Menunggu seseorang di seberang sana menjawab teleponnya.


"Ya, hallo."


"Aku butuh bantuanmu untuk membawa Bella kabur nanti malam. Tolong kamu siapkan perlengkapannya. Aku tunggu kamu di tempat biasa."


"Tapi Al-"


Tuut... Tuut.. Tuut.. Tuut..


Sambungan telepon begitu saja terputus dari pihak Alfred yang sepertinya tidak mau tahu. Membuat orang di seberang sana berdecak kesal dan mengumpat menatap layar ponselnya sembari geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan kelakuan Alfred yang seenaknya sendiri.


Kembali pada Alfred yang semakin menambah kecepatan mobilnya memasuki prefecture A.


***********


"Jadi seperti itu. Apa kamu bisa membantuku untuk mendapatkan hak asuh cucuku?" Tutup Yoana setelah selesai menceritakan semua masalahnya pada salah satu teman lamanya, meski usia keduanya terpaut jauh berbeda.


"Dalam kasusmu, aku membutuhkan semua data dan aset dari peninggalan mendiang putramu, Yoana." Sontak saja tubuh Yoana melemas. Ha-ah... Apakah semua itu ada? "Kamu bisa menanyakan pada notaris Thomas ketika dia masih hidup. Sepertinya itu mungkin." Imbuh seorang wanita seksi yang tidak kalah cantiknya dengan Yoana dengan surai Amber.


"Ah, kamu benar. Aku akan mencoba menghubunginya."


Dan tanpa di ketahui oleh keduanya, tidak jauh dari mereka tampak seseorang tidak sengaja menguping pembicaraan antara Yoana bersama pengacaranya. Orang itu adalah seorang pria. Dan pria itu memutuskan untuk menghampiri meja rekannya tersebut ingin tahu. Kedatangan pria membuat pengacara Yoana yang menyadarinya melemparkan senyuman hangat untuk menyambut kedatangan salah satu rekannya itu.


"Apa ada masalah?" Tanya wanita itu pada pria yang baru saja tiba. Hans yang berada di samping istrinya menoleh ke arah pria yang di ajak bicara wanita di depannya itu. Dan si pria bertubuh tambun itu tersenyum membungkuk pada Hans sebagai rasa hormatnya sebelum kembali menatap rekannya.


"Tidak. Tapi maaf sebelumnya, aku tidak sengaja mendengar obrolan kalian tadi. Dan yang membuatku tertarik adalah saat klienmu ini menyebut-nyebut nama Thomas Aberald? Apa aku tidak salah bicara?" Sontak saja Yoana menatap lekat pria di sampingnya itu.


"Kamu mengenalnya, Roy?" Tanya wanita itu penasaran.


"Tentu saja. Dia sahabatku dan juga aku adalah pengacara pribadinya."


"Ah, kebetulan. Jika kamu sudah mendengar semuanya, apa kamu bisa membantu mereka?" Sela wanita pengacara Yoana menunjuk Hans dan juga Yoana. Namun pria bernama Roy itu masih gagal paham. "Mereka ini orangtua kandung dari teman anda, Roy."


Roy menatap lekat Yoana juga Hans secara bergantian masih tidak percaya. "Tapi-"


"Aku mohon bantuannya, tuan Roy. Kami bermaksud ingin menebus kesalahan kami pada putra kami dengan mengasuh cucuku Bella dan juga adik angkatnya Alfred Frederick di keluarga Aberald. Bisakah kamu menolongku mengambil alih hak asuh Bella dari bibinya yang sudah dengan lancang memisahkan Bella dari Alfred? Aku berharap padamu." Cerocos Yoana panjang lebar penuh permohonan. Hal itu membuat Roy tidak bisa menolak. Apalagi dia sudah berjanji tidak akan memisahkan Bella dengan Alfred dengan alasan apapun.


Teringat kembali dirinya kala Thomas tiba-tiba saja memintanya untuk membuat surat wasiat. Yang baginya itu sangatlah masih dini mengingat putra pria blonde itu yang baru saja lahir masih merah. Tentu perjalanan hidup Thomas masih sangatlah panjang.


Flashbackㅡ


"Kamu gila, Thom. Putrimu saja masih bayi dan bahkan dia belum juga genap berusia satu tahun. Tapi kenapa kamu sudah berencana membuat surat wasiat? Mau mati, apa. Huh?!" seru Roy meledak marah.


Mendengar gerutuan sang sahabat, Thomas hanya bisa terkekeh dan tersenyum maklum. Tapi entah kenapa juga dia sendiri tidak tahu alasannya dia ingin mengurus surat wasiat untuk putrinya. Bahkan dia dan istrinya Adelina sendiri sudah sepakat untuk membuat surat wasiat itu sejak sekarang.


"Sudahlah Roy. Tolong buatkan saja. Siapa tahu itu akan berguna suatu saat nanti. Apa salahnya sih, mempersiapkan sekarang."


Roy hanya bisa mendesah frustasi. Keputusan Thomas sepertinya memang sudah final. Dengan berat hati dia mengambil selembar kertas untuk mencatat semua ucapan Thomas sebelum nantinya dia ketik ulang pada lembar yang sudah tersedia di dalam file.


"Apa kamu sudah siap, Roy?" pria gemuk itu hanya mengangguk seraya bergumam sebagai jawaban. Dan Thomas berdehem sejenak sebelum akhirnya mengatakan kata-kata wasiatnya yang di tujukan untuk Bella dan juga adik angkatnya yang pernah dia bawa dari jalanan.


Setelah selesai, Roy segera menyalin ulang ke dalam kertas dengan ketikan rapi komputer. Lalu sebelum pria gemuk itu mencetak file tersebut, Roy kembali membacakan isi surat wasiat itu untuk revisi Thomas kalau-kalau ada kekeliruan di dalam ketikannya.


"Kamu sudah yakin dengan isinya, Thom?" Tanya Roy kembali untuk memastikan. Sedikit merinding juga ketika harus membacakan kembali isi wasiat yang di tulis sahabatnya itu untuk putri dan juga adik angkat Thomas. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba saja menghantam dadanya begitu keras hingga membuat dadanya berdenyut sakit.


"Sudah, Roy. Terima kasih banyak. Kamu sudah banyak membantuku selama ini." Ujar Thomas tulus. Hal itu juga menyebabkan Roy berdecak kesal dan dia ingin sekali memukul pria blonde itu. Tidak biasanya Thomas mengatakan banyak terima kasih hari ini. Dia semakin takut menatap Thomas yang tampak berbeda dari biasanya itu.


Dan beberapa bulan setelah Thomas membuat surat wasiat tersebut, ternyata kedua sahabatnya telah di panggil lebih dulu oleh Tuhan. Bahkan beberapa kali dirinya mencoba menghubungi keluarga yang mereka punya, namun nihil tak ada hasil. Roy menatap kasihan dan prihatin pada Alfred yang harus mengurus semua prosesi pemakaman sahabatnya seorang diri tanpa sanak saudara.


Roy sendiri sudah berusaha membujuk Alfred supaya mau tinggal di kediaman Brown. Namun pemuda yang masih berusia 10 tahun pada waktu itu menolak. Tetapi sebagai gantinya, pemuda itu berjanji akan mencoba meminta bantuan jika memang di butuhkan. Tapi nasib berkata lain. Alfred akhirnya berhasil merawat dirinya dan juga adik angkat yang sudah di anggap adik kandung pemuda itu sendiri hingga dewasa. Itu membuktikan bahwa Alfred memang layak atas apa yang sudah di wasiatkan oleh Thomas dulu.


Flashback offㅡ


"Anda tenang saja Nyonya. Aku akan membantu anda juga Alfred untuk mendapatkan hak asuh Bella kembali." Tukas Roy tenang namun meneduhkan hati Yoana dan juga Hans. "Seperti janjiku juga pada Thomas dulu, bahwa hak Bella adalah untuk Alfred jika Bella lebih menginginkan tinggal bersama kakak angkatnya. Terlebih jika keduanya memiliki perasaan saling suka, Thomas juga Istrinya sangat merestui keduanya." Imbuh Roy memaparkan.


"Dulu, aku pernah bertanya pada Thomas. Mengingat Alfred adalah pria yang dia pungut, jika suatu saat nanti dia memiliki perasaan untuk putrinya, apa yang akan dia lakukan. Dan Thomas hanya mengatakan, dia akan merestui mereka. Hal yang paling membuatku terkejut adalah, Adelina yang juga setuju dengan pendapat Thomas. Aku pikir, bukankah Alfred terlalu tua untuk bella?"


Roy menarik nafasnya sejenak dan menghembuskannya perlahan, "Thomas mengatakan, bahwa tidak ada yang tahu bagaimana cinta itu tumbuh. Dan tidak ada batasan umur, waktu, bagi seseorang untuk mencintai. Begitu pula jika nantinya hal itu terjadi pada putrinya dan adik angkatnya. Dia tidak akan mempermasalahkannya."


Mendengar cerita lama dari bibir Roy mengenai keputusan Thomas, Yoana akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia sudah bisa tenang kalau putra dan menantunya bahkan juga merestui hubungan Bella dengan Alfred. Itu berarti, Anita tidak berhak memisahkan cucunya itu.


"Tunggu nenek, Bella." Gumam Yoana tidak bisa menahan airmatanya yang mendadak mengalur, menangis karena terharu.


************


Edward dan Bella hari ini dengan terpaksa harus melakukan fitting baju untuk pernikahan mereka di villa Anita. Wanita blonde itu tidak terlalu peduli dengan semua ini, namun Edward. Pria itu bahkan sudah gerah dengan semua ini. Andai saja Ashley tidak mengawasi keduanya, mungkin Edward sudah menumpahkan segala kekesalannya detik ini juga.


Melihat gelagat Edward yang tampak ricuh sendiri membuat atensi Ashley teralih pada pria berambut emo itu.


"Ada masalah apa, pria aneh?!" Celetuk Ashley seenaknya sendiri.


"Hmm?" Mendengar jawaban absurd dari Edward, Ashley langsung memutar bola mata jengah. Berdecak kesal dan nenggeram menahan emosi.


"Kamu tidak bisa, apa. Tidak menjawab pertanyaan dengan kata-kata absurd kamu itu?!" Selorohnya menyilangkan tangan sembari menyandarkan bahu kirinya pada ambang pintu. Menatap lekat Edward sinis menunggu jawaban dari pria emo tersebut.


"Hmm." Kembali Edward menjawab singkat tidak jelas. Dia malas untuk sekedar merespon ucapan ketus. Ashley yang membuat kepalanya ingin pecah.


"Asli, ya?!! Tidak kamu, tidak si kakak mesummu-" Edward menaikkan sebelah alisnya menatap Ashley aneh. "Bahkan ayahku sendiri juga selalu menjawab dengan kata-kata yang absurd. Ha-ah... Menyebalkan." Gerutu wanita itu bersungut-sungut menumpahkan kekesalannya pada generasi Lincoln dan Lincolnshire selama ini. Bahkan ayahnya juga di bawa-bawa.


Lincoln adalah merupakan keluarga utama, sedangkan Lincolnshire sendiri merupakan keluarga cabang. Meskipun berbeda, namun kedua marga itu masih sama.


Tanpa Edward sadari sendiri, dia bahkan sudah tersenyum cukup lebar melihat Ashley yang tampak kesal layaknya anak kecil. Yaa.. Meskipun kadang mulutnya itu sangat pedas, tapi bila di perhatikan lagi sebenarnya, Ashley adalah orang yang penyayang. Orang yang takut akan kehilangan orang-orang yang sudah di anggapnya begitu berharga.


Ashley mulai menyadari sesuatu. Dia merasa jika dirinya kini tengah di perhatikan. Wanita itu melirik Edward yang masih memperhatikannya. "Oiy, pria aneh!! Kenapa kamu menatapku seperti itu?! Mencurigakan."

__ADS_1


Sontak saja Edward yang terhenyak langsung melengos dari wajah Ashley acuh tak acuh. Berusaha menyembunyikan kegugupannya karena telah tertangkap basah sedang memperhatikan Ashley. Setenang mungkin dia kembali pada wajah stoic andalannya.


"Hmm. Tidak ada apa-apa. Mau tahu saja urusan orang lain." Jawab Edward setenang mungkin.


"Heh! Bilang saja kamu tertarik padaku, kan. Ya kan, ya kan?! Hah, hah, hah?!" Goda Ashley berkacak pinggang sembari tersenyum jahil dan berseru keras ke arah Edward penuh percaya diri. Hingga berhasil membuat Edward diam-diam terkekeh dengan begitu tampannya.


Alhasil, Ashley yang melihat pemandangan langka dari seorang Edward yang selalu berwajah datar kini sedang tersenyum lebar menjadi mematung seketika. Terkesima juga terpesona dalam sekali tatap. Hingga membuat jantungnya tiba-tiba saja bergetar dan berdetak begitu cepat. Ada perasaan hangat kala Ashley menangkap senyuman singkat Edward kala itu. Entah kenapa rasanya dia ingin sekali melihat senyuman itu lagi dan jika boleh berharap, ia ingin senyuman milik pria di depannya itu menjadi miliknya. Ah, tapi usia mereka- persetan!! Usia tidak jadi masalah jika sama-sama saling suka, bukan?


'Tunggu!! Apa yang aku pikirkan?! Aargghh!! Aku sudah gila! Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada si pria aneh itu, kan? Yang benar saja'. Racau Ashley dalam hati. Seolah antara Logika dan perasaannya sedang bertarung.


Sementara Edward, tidak bisa di pungkiri oleh hatinya kalau sebenarnya dia diam-diam mulai tertarik ingin mengetahui kehidupan Ashley dan juga mengenal wanita yang berani memanggilnya seenak udel tanpa merasa ada beban bersalah itu secara lebih dalam lagi. Selain Bella, hanya Ashley yang berani bersikap kurang ajar padanya. Meski Bella terlihat bodoh dan idiot dari otaknya yang jenius. Bahkan Ashley memandangnya sama seperti cara Bella memandangnya. Berbeda dengan wanita di luar sana yang menatapnya penuh memuja. Yang hanya ingin dekat karena ketenaran dan ketampanannya. Untuk cinta sendiri, Edward belum yakin memiliki perasaan yang bernama cinta untuk Ashley atau tidak. Dia hanya ingin menjalani semua apa adanya saat ini. Biarlah waktu yang akan menjawab segalanya suatu saat nanti.


"Bella, kamu ingin memakai gaun yang mana?" Tanya Aleysia yang menemani Bella untuk memilihkan beberapa model gaun pengantin berbagai jenis yang cocok untuknya. Bahkan Anita meminta designer pribadinya untuk menyiapkan gaun yang akan di pakai untuk Bella dengan bahan kain yang paling bagus.


"Hm." Jawab Bella, tertular kata-kata absurd Edward. Ashley menaikkan sebelah alisnya seolah tak suka.


Aleysia menoleh melirik Bella. Menatap wanita blonde itu sejenak sebelum mendesah lelah. Bella sangat cuek hari ini padanya. Lebih cuek dari seorang Lincoln. Dia bisa memaklumi itu. Andai saja Ashley tidak ada di antara mereka. Aleysia sudah menghibur Bella begitu juga Edward.


"Kamu ambil saja gaun model knee-length yang di sebelahmu saja, Ale." Ujar Edward menimpali. Namun Aleysia malah menatap Edward merasa tidak yakin. "Aku yakin, itu cocok untuk di pakai Bella." Imbuhnya.


Aleysia mengangguk-angguk paham saja mencoba mencocokkannya pada tubuh Bella. Lantas mengambil gaun pengantin yang di maksud oleh Edward. Bella hanya bisa melirik sana sini memperhatikan Aleysia dengan yang lainnya yang sedari tadi ribut sendiri di kamarnya. Dia mendesah lelah. Hari ini benar-benar membuatnya pening. Ingin rasanya dia merebahkan diri dan tidur. Sang blonde melirik perutnya yang mulai memasuki usia kehamilan tiga bulan. Di elusnya lembut penuh sayang seraya tersenyum.


'Sehat-sehat ya, nak. Mama akan selalu menjagamu.' Batin Bella berusaha berkomunikasi dengan bayi di dalam perutnya.


"Eerr.. Aku mau bicara sama Bella empat mata. Apa kalian bisa keluar dulu sebentar?" Edward bersuara meminta Ashley juga Aleysia. Dan juga pada orang-orang designer untuk keluar.


"Oh, okay! Kalian bicaralah." Aleysia lantas menggiring orang-orang designer dan juga kakaknya. Meski Ashley merasa berat hati untuk meninggalkan Bella tinggal berdua dengan Edward, dia tidak punya pilihan.


Setelah semua orang benar-benar keluar termasuk dua wanita bersaudara itu keluar dari kamar Bella, Edward lalu menatap Bella yang terlihat menghela nafas lega. Sepertinya sedari tadi Bella menahan emosinya sehingga membuat si blonde menahan nafasnya.


"Kamu.... benar-benar menginginkan pernikahan ini terjadi, Edward?" Celetuk Bella mengeluarkan semua pertanyaan yang sedari tadi dia pendam.


"Hm?"


"Ha-ah... Aku benar-benar tidak ingin pernikahan ini terjadi lusa." Racau Bella mengerang putus asa. Berkali-kali wanita itu bahkan sudah mendesah karena frustasi.


"Kamu tenang saja. Pernikahan lusa tidak akan terjadi kalau kamu menginginkan pernikahan itu tidak terjadi." Bella dengan cepat menoleh ke arah Edward. Memicingkan mata menatap tajam pria emo di sampingnya itu tak yakin. Namun kemudian Edward membalas tatapan Bella setenang mungkin tapi penuh keyakinan.


"Aku tidak mungkin menikahimu sementara hatimu untuk orang lain, Bell." Sang blonde menundukkan pandangannya tidak menampiknya dan membenarkan. "Aku sudah menganggapmu seperti adikku. Mana mungkin aku tega merenggut kebahagiaanmu itu bersama dengan orang yang kamu cinta."


Kembali Bella mendongak menatap Edward terharu. Sementara Edward tersenyum tipis seraya mengacak surai blonde Bella lembut.


"Trust me! Everything will be alright. Semoga."


"Ku harap begitu." Timpal Bella nyengir lebar. Hingga akhirnya keduanya tiba-tiba saja tertawa lepas bersama melepas beban berat yang mereka pikul selama ini.


************


"Haㅡah.. Aku tidak tahu kamu bisa segila ini kalau sudah menyangkut Bella, Al." Cibir seorang pria bersurai coklat dengan mata hitam bulat bak elang. Bahkan pria itu juga memakai kacamata. Pria itu tengah mengambil tali tambang yang berukuran cukup besar dan panjang.


Sementara Alfred sendiri kini tengah mengintai jendela sebuah rumah dari atas pohon menggunakan teropong. Dia juga mengamati situasi keamanan di rumah tersebut. Mengacuhkan pernyataan yang di lontarkan temannya yang berada di bawah sana.


"Satu, dua, tiga~ empat, hmm... Sempurna." desis Alfred menyeringai puas. Menyebabkan pria di bawahnya menggelengkan kepalanya heran tidak habis mengerti.


"Benzo!" Seru Alfred.


"Ck." Pria yang di panggil Benzo itu berdecak kesal menatap Alfred tidak suka. "Sudah aku bilang, jangan panggil aku dengan nama kecilku itu! Dasar!!"


"Hahaha.. Maaf, maaf Ben. Kebiasaanku memanggil nama kecilmu." Kekeh Alfred seraya meminta maaf. Namun pria bernama Ben itu hanya melengos. "Bisa kamu naik kemari?"


Tanpa menjawab Ben lekas melompat memanjat pohon yang di mana di atas pohon sudah ada Alfred.


"Bisa kamu urus CCTV yang ada di beberapa tempat itu? Aku harus lewat ke sana jika ingin sampai di balkon lantai dua sebelah kiri dekat pohon maple itu." Alfred menunjuk beberapa CCTV yang terpasang tepat di sudut rumah atau villa tempat tinggal milik Anita saat ini.


"Serahkan semuanya padaku, Al. Semua pasti beres." Dan Ben kembali turun menuju ke mobilnya. Mengambil laptop dan segera beraksi untuk meretas sistem keamanan kediaman Anita tersebut.


Mungkin ini sudah menyalahi aturan, namun sebagai hackers macam Ben yang juga bekerja sebagai keamanan negara, bagi pria yang berusia hampir sama dengan Alfred itu sah-sah saja. Ibarat iblis bertopeng malaikat, penjahat berpangkat perwira, selama itu masih bisa di katakan tidak merugikan negaranya tidak jadi masalah. Ah, biarlah!! Demi sahabat sekaligus seniornya ketika masih kuliah dulu. Tidak merugikannya juga.


"Beres Al. Tapi waktumu hanya satu jam dari sekarang." Seru Ben lewat earphone wireless yang di pakainya sebagai alat komunikasi.


"Tidak masalah. Itu sudah lebih dari cukup."


Setelah benar-benar siap, Alfred segera beraksi untuk menyusup ke kediaman Anita secara diam-diam bak seorang FBI professional. Bahkan pakaiannya sudah serba hitam dengan rompi anti peluru hasil pinjaman dari Ben yang untung saja tanpa tanda pengenal dan polos. Ha-ah.. Dan parahnya Alfred menyusup dengan gaya keren bak anggota pasukan khusus sedang beroperasi. Mungkin seharusnya kamu menjadi seorang FBI ketimbang jadi seorang guru Alfred. Cocok sekali dengan pribadimu yang misterius itu. Khehehe... (Ok, author mulai ngawur. Abaikan!)


Selama Alfred yang berusaha mengendap-endap seperti maling menyusup ke kediaman Anita melewati sisi kiri yang untungnya tidak berdempetan dengan villa lain, Ben tetap melototi layar laptotnya tanpa berkedip sedikitpun untuk terus memantau keadaan sembari memberi informasi jika sewaktu-waktu ada penjaga yang beroperasi menghambat jalan masuknya.


"Berhenti, Al!!" Seru Ben. Dan Alfred mengikuti aba-aba yang di infokan oleh Ben padanya. "Dua penjaga berada di balik tembok itu. Maju sedikit sekitar 3 meter. Ada pohon maple di sana yang terhubung langsung dengan tembok."


Sesuai intruksi Ben, Alfred lalu melangkah sambil mengukur sampai kurang lebih 3 meter di depan. Setelah yakin langkahnya cukup, pria itu mencoba melompat untuk menaiki tembok dengan tinggi yang kurang lebih 2 meter itu. Melongokan kepalanya sedikit sejenak hanya untuk melihat keadaan di sekitarnya.


"Kasihan sekali Nona Bella itu ya?!"


Greepp!!


Kembali Alfred bersembunyi cepat-cepat saat tiba-tiba dua penjaga tengah mengobrol tidak jauh dari tempatnya berada.


"Kejam juga Nyonya Anita pada keponakannya sendiri."


"Sudahlah, itu urusan mereka. Buat apa kita ikut campur." Seloroh penjaga yang lain.


Suara kedua penjaga itu lambat laun mulai mengecil dan menghilang. Alfred pun kembali mengecek keadaan. Pria itu menoleh ke kanan kiri sebelum memanjat tembok yang menjadi penghalang. Merambat pelan-pelan menyeberangi tembok itu menuju ke balkon lantai dua yang tampak jika lampunya belum padam melewati pohon maple yang cukup kokoh.


Syukurlah Tuhan merestui perbuatannya itu. Sehingga membuat rencana menyusupnya berjalan cukup lancar. Alfred berhasil sampai di lantai balkon kamar yang masih dia yakini milik Bella dengan selamat tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Sejenak Alfred menghela nafas lega. Lalu segera kembali mengecek keadaan di dalam kamar. Memastikan bahwa dia tidak salah lokasi.


"Ya sudah. Kamu tidurlah, Bell. Besok kamu harus bangun dalam keadaan segar. Karena besok adalah hari penentuan kebahagiaanmu."


"Edward?" Lirih Alfred kala tidak sengaja daun telinganya menangkap suara yang begitu familiar.


"Edward.. Thanks ya, buat semuanya." Timpal suara seorang wanita dengan suara lembut. Alfred tidak perlu menerka lagi suara siapa, bukan? Jelas saja ia mengenalnya.


Samar-samar pria itu bisa menangkap objek di dalam kamar itu yang sepertinya hanya tinggal Bella saja. Pria itu lantas mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kaca kamar Bella tinggal.


Dan Hal itu menyebabkan tubuh Bella tersentak mulai merinding karena phobia hantunya tiba-tiba saja kambuh. Mendengar ketukan pintu balkonnya, dia mulai takut untuk melihat siapa yang datang di tengah malam begini.


"S-siapa?!!" Serunya dengan suara bergetar menahan rasa takut. Bella bahkan tidak bisa menelan ludahnya sendiri saking merinding takut.


"Aku, Bella. Alfred!"


"Huh?!! Al!!" Pekik Bella lirih yang segera beranjak mendekati pintu balkon untuk dan memastikan bahwa apa yang dia dengar tidak salah.


Dengan kasar dan tidak sabar, Bella membuka gorden lebar-lebar dan pintu balkonnya. Mendongak tidak percaya kala ketika dia menggeser pintu itu, dia langsung di hadapkan oleh tubuh Alfred yang menjulang tinggi dengan jarak hanya sejengkal dari tubuhnya juga tengah menunduk menatapnya bahagia.


"Kak Al, ini kamu?" Lirih Bella menatap Alfred tidak berkedip karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Alfred tersenyum tipis lantas mengangguk. Pria itu spontan menangkup wajah Bella dan menatap iris sapphire di depannya lekat.


"Ya Bella, ini aku." Dan pecah sudah bendungan airmata yang sedari tadi di tahan oleh Bella yang tidak ingin menangis lagi.


Bella menangis namun juga tertawa lirih karena bahagia. "Syukurlah! Aku kira kamu menghilang karena- hiks.. Kak Al.. A-aku merindukanmu!" Raung Bella benar-benar bahagia dalam tangisannya.


Pria itu tersenyum getir. Dalam hatinya teriris pilu harus melihat istrinya tampak begitu kurus. Apa Bella-nya terawat dengan baik di sini? Jika iya, kenapa Bella justru terlihat sangat kurus?


"Aku sekarang tinggal bersama kakek nenekmu, Bella."

__ADS_1


"Jadi- mereka-"


"Ya, mereka orangtua kandung ayahmu yang juga kakak angkatku." Jelas Alfred memaparkan. Dan sontak saja pria itu langsung memeluk Bella posesif. Menghirup dalam-dalam aroma shampoo dan sabun khas yang di pakai oleh Bella yang masih menguar segar dari tubuh si blonde itu. Tidak jauh berbeda dari Alfred, Bella juga melakukan hal yang sama. Menghirup rakus aroma cendana khas tubuh pria berkacamata itu berlebihan.


"Kami merindukanmu, Al."


"Aku juga. Sangat, sangat merindukan kalian." Timpal Alfred seraya mengecupi pucuk kepala Bella. Menjauhkan Bella dari tubuhnya lalu pria itu berjongkok hanya untuk membelai lembut perut Bella yang memasuki usia kandungan tiga bulan.


"Maafkan ayah ya, ayah tidak pernah ada untukmu. Tapi kamu harus jadi anak yang kuat. Jaga ibumu meskipun masih di dalam sana."


"Aku ingin di panggil Mama." Bella mengembungkan pipinya merajuk kesal.


"Huh? Haha. Bukankah.. Keduanya sama saja, sayang?"


"Alfred?!!" Rengek Bella mulai semakin merajuk layaknya anak kecil.


"Hahaha.. Baiklah. Apapun untukmu." Kata Alfred tertawa lepas tanpa beban. Membuat Bella menatapnya bersyukur. Ternyata kakaknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Baiklah. Bella, aku datang kemari ingin membawamu pergi dari sini. Tapi tidak mungkin aku membawamu dalam keadaan hamil seperti ini melewati balkon." Ungkap Alfred cukup membuat Bella terhenyak.


"Seandainya masih bisa." Bella bergumam lirih dengan wajah menyendu. Pria itu sontak tersentak mendengar gumaman Bella.


"Apa maksudmu, Bell? Apa kamu tidak mau ikut denganku kembali?"


"B-bukan, bukan itu maksud aku, Al. Tapi-" Bella menggantungkan ucapannya tidak yakin.


Alfred hanya diam menunggu kelanjutan yang akan di katakan oleh istrinya.


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu sampai kakek dan nenek membantu kita saja? Lagipula- aku tidak mau kalau sampai kamu di salahkan lagi gara-gara kamu membawaku pergi."


Alfred sejenak menghela nafas mengalihkan pandangannya dari Bella. Tidak bisa di pungkiri bahwa apa yang di katakan oleh Bella ada benarnya juga. Mungkin hal yang dia lakukan ini bisa membahayakan nasibnya sendiri juga bantuan dari kedua orangtua angkatnya nanti.


"Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu dengan Edward, Bella? Aku tidak mau kalau kamu harus bersamanya." Bella tersenyum maklum. Lantas mengusap pipi Bella sayang.


"Kamu percaya keajaiban itu ada, bukan?" Alfred bergeming. Namun detik kemudian mengangguk lemah. "Percayalah, besok lusa. Sebelum janji suci itu terucap, akan terjadi sebuah keajaiban untuk menyelamatkan hubungan kita nanti." Ungkap Bella seraya memeluk kembali Alfred.


Alfred bungkam seketika. Dia tidak percaya bahwa Bella bisa mengatakan hal sedawasa itu untuk menyelesaikan sebuah masalah.


"Baiklah, aku mengerti." ujarnya. Alfred tersenyum sembari membelai lembut rambut Bella sayang. "kamu mulai tumbuh dewasa, sekarang. Maafkan kakak, ya. karena aku sebagai kakak dan juga suamimu belum bisa membahagiakanmu."


"Ada kamu yang selalu di sampingku sudah lebih dari cukup, kak." Timpal Bella menatap Alfred lembut.


Hening.


Keduanya hanya saling menatap penuh kerinduan. Masing-masing mencoba menyalurkan rasa rindu yang sudah lama mereka bendung hampir dua bulan lebih tidak bertemu. Hingga Bella mengulurkan tangannya ke depan wajah Alfred, membelai pipi pria itu dengan tatapan penuh kerinduan.


Dan detik kemudian Bella mendekatkan wajahnya. Memejamkan mata hingga dia berhasil melayangkan satu kecupan di bibir Alfred. Tentu saja pria itu tidak akan menghindar. Selanjutnya, keduanya saling memberikan kecupan dan lumatan lembut penuh sayang. Pelan, pelan dan seirama. Alfred mencium bibir Bella singkat. Hanya ciuman yang lambat dan ringan juga terkesan menuntut, tapi rasanya begitu intim dan terasa spesial. Alfred menarik tengkuk leher Bella untuk bisa memperdalam pagutannya, melesakkan lidahnya masuk ke bibir wanitanya. Dan wanita itu tanpa pikir panjang membalas permainan lidah suaminya. Lidah mereka saling mengait, suara becek saliva merekapun terdengar begitu merdu bagi keduanya.


Hingga hal itu hampir membuat Alfred kehilangan kerasionalannya karena hasrat kerinduannya kini membuncah menjadi kecupan dan lumatan yang agresif. Sampai tiba-tiba...


"Senior!! Maafkan aku mengganggu kalian yang sedang melepaskan kerinduan." Intruksi Ben, mendadak muncul. Hal itu menyebabkan Alfred mau tidak mau harus terpaksa melepaskan pagutannya dari bibir Bella. Bahkan si blonde mengernyit bingung tidak mengerti.


"Hm.." Gumam Alfred sebagai respon.


"Hanya mengingatkan. Waktumu tinggal 10 menit, Al." Alfred lantas melirik arlojinya. Ah.. Benar. Waktunya hampir selesai sebentar lagi. Kurang 10 menit lagi dan CCTV di kediaman ini sudah aktif kembali.


"Bella, aku harus kembali. Berjanjilah kamu akan bertahan demi kita. Demi anak kita. Aku mencintaimu." Alfred mencium bibir Bella melumat sekilas lalu Mencium kening sang blonde lama.


TOK TOK TOK..


"Shit!!" Umpat Alfred menatap horror pintu kamar Bella. Tidak begitu berbeda dengan wajah Bella yang juga melotot horror dan mulai merasa cemas. Siapa yang datang malam-malam ke kamarnya?


"Oh tidak, Alfred. Cepat pergilah." Pekik si blonde mulai panik.


"Baiklah. Jaga dirimu. Aku akan kembali untuk membawamu pulang."


"Bella?!! Apa kau sudah tidur?"


"Bibi Anita. Bagaimana ini?" pekik Bella panik.


"Tenang Bella, aku pergi sekarang."


Ceklek!!


Bella mematung menatap pintu kamarnya yang sudah terbuka. Dan di sana, terlihat Anita yang sudah menatapnya shock seolah kepergok telah melakukan kesalahan fatal.


"Astaga!! Bella, apa yang kamu lakukan?!"


'Gawat! Ketahuan sudah.' batinnya dengan wajah pucat pasi.


"A-aku bisa jelasin semuanya bibi. I-ini. Ini tidak seperti yang bibi kira." Ungkap Bella gugup dan juga takut. Dia tidak ingin kalau sampai Alfred di hukum oleh bibinya karena datang untuk menemuinya.


"Apa maksud kamu?! Astaga!!" Pekik Anita mulai berjalan menghampirinya. Namun kenyataannya salah. Anita justru berjalan menghampiri pintu balkon yang masih terbuka lebar.


"Loh?!" Desis Bella mendelik kaget. 'Dimana dia?' Imbuhnya dalam hati. Matanya celingukan ketika Anita tengah menutup kembali pintu balkon dan juga gordennya. Anita berbalik sembari mendengus tidak habis mengerti sambil berkacak pinggang menatap Bella lembut. Bella langsung kembali bersikap biasa.


"Kamu harus menjaga kesehatan kehamilanmu itu, Bella. Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu. Tidakkah kamu mengerti itu?" Bella mengangguk paham. "Kenapa belum tidur?"


"Apa urusan bibi aku tidur atau tidak?" Kata Bella mulai menggunakan nada ketus kembali.


"Bella, bibi hanya-"


"Keluar bibi. Aku mau istirahat." Sikap Bella mulai kembali dingin dan acuh tak acuh kepada wanita paruh baya itu, hal itu membuat Anita cukup terkejut dengan perubahan sikap keponakannya itu.


"Okay. Maafkan bibi."


Setelah Anita benar-benar keluar dari kamarnya, Bella mulai mampu menghela nafas lega. Dia kira dirinya dan juga Alfred telah kepergok. Tapi nyatanya tidak. Tetapi bagaimana caranya Alfred begitu cepat menghilang? Bella mencoba mencari tahu keberadaan Alfred saat ini. Namun nihil, Bella benar-benar di buat terkejut dengan Alfred yang bisa kabur secepat itu.


"Kok aneh." Gumamnya lantas menggendikkan bahunya cuek.


Sementara itu, Alfred telah berhasil keluar dan sudah bersama dengan Ben yang mendengus sebal.


"Bella tidak jadi kamu bawa kabur, Al?!"


"Hmm.. Yah, aku rasa tidak sekarang."


Ben kembali mendesah frustasi, apa gunanya mereka menyelinap masuk. "Ternyata. Sudah aku duga kamu tidak mungkin bisa membawanya kabur apalagi kalau kondisinya dalam keadaan hamil."


"Kita pergi Benzo." Seru Alfred kembali acuh. Dan Ben hanya bisa mendesah pasrah saja lantas mengikuti perintah Alfred dan pergi dari tempat persembunyian mereka tanpa hasil yang sesuai dengan rencana yang telah di susun sedemikian rupa dari awal.


.


.


.


.


.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2