
Hari ulang tahun Alfred tiba, itu bulan september tepat di tanggal 15.
Bella telah menyiapkan kejutan untuk kakaknya itu. Beruntung pada saat gadis blonde itu menyiapkan kejutan di rumah mereka, Alfred sedang berada di luar kota melakukan perjalanan dinas sekolah.
Namun pria itu akan pulang tepat di malam hari ulang tahunnya. Hal itulah yang membuat Bella bekerja cepat menyiapkan kejutan. Pagi-pagi dia sudah berada di dapur untuk membuat kue.
Bella tidak membuat kue yang terlalu besar karena hanya mereka berdua saja yang akan merayakannya.
Setelah kue jadi, Bella menyimpan kue itu untuk sementara di dalam almari pendingin. Lalu dia menyiapkan kejutan yang lainnya. Mendekor ruang keluarga dengan berbagai hiasan berbagai warna.
"Senang mengenal anda, Pak Frederick. Siapa yang sangka anda masih begitu muda. Haha..."
"Terimakasih, Pak Watson atas pujian anda." kata Alfred ketika masih berada di acara seminar perkumpulan pengajar di New York.
Waktu telah menunjukkan pukul empat sore ketika pria itu melirik arloji di pergelangan tangannya. Semoga masih sempat. Pikirnya. Pikirannya terus melayang pada Bella yang sedang berada di rumah seorang diri. Dia tahu, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sudah pasti gadis itu mungkin telah menyiapkan sesuatu untuknya di rumah. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera pulang.
Tepat pukul lima sore, Alfred bergegas mengambil penerbangan pertama ke kota Washington.
"Dah siap." pekik Bella menghela nafas lega. Wajahnya tampak lelah namun tidak bisa menyembunyikan raut bahagia serta puas di sana.
"Hmm.. Hm hm.. Hm hm.. La.. La la.. La la.." Bella terus bersenandung gembira sembari melompat-lompat ringan menuju ke kamarnya. Sudah pukul lima sore dan dia juga harus bersiap-siap untuk menyambut kakaknya pulang.
Gadis blonde itu masuk ke dalam kamar mandi. Memutar kran shower dan berdiri di bawah guyuran air yang keluar dari shower. "Haㅡah... Segarnya..." desisnya menikmati nikmatnya air yang mengguyur kulit putihnya yang tanpa sehelai benang itu.
Tidak butuh waktu lama untuknya membersihkan diri. Setelah di rasa cukup dan merasa tubuhnya telah segar kembali, dia bergegas keluar dan nengenakan dress yang telah dia siapkan sebelumnya.
Kotak kado yang tergeletak di atas tempat tidur teronggok begitu saja. Namun Bella tersenyum ke arahnya sembari menyamvar kotak tersebut dan mengusapnya senang. Gadis itu membayangkan betapa tampannya nanti bila kakaknya memakai barang yang dia beli sebagai hadiah ulang tahun kakaknya itu.
Bella tidak merias diri terlalu berlebihan. Dia hanya memoles wajahnya dengan make up natural.
Alfred buru-buru memesan taxi setelah sampai di bandara. Mengatakan secara lengkap alamat yang ingin di tujunya pada sang sopir sebelum taxi itu meluncur ke jalanan.
Pria itu sedikit sial hari ini karena tiba-tiba jalanan mendadak macet. Berkali-kali dia melirik arlojinya dengan gelisah. Mengamati mobil-mobil di depan tidak juga jalan-jalan. Ah, sial! Kesabaran pria itu mulai habis, dan dia menendang pintu taxi sebelum berlari secepat mungkin meninggalkan area macet tersebut.
Tidak di pedulikannya penampilan dirinya yang mulai berantakan. Yang jelas, dia harus tiba di rumah sebelum larut malam. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Bella di hari ulang tahunnya. Dia tidak ingin melewatkan sedetikpun waktu untuk bersama adiknya.
Alfred cukup terkejut ketika dia berlari, jalanan yang macet itu tetap tidak bergerak dan masih sangat panjang. Sebenarnya apa yang menyebabkan jalanan itu sampai macet begitu panjang? Apakah ada kecelakaan? Ah... Sudahlah, itu bukanlah urusannya.
Di sebuah tikungan kecil tak jauh darinya, dia memilih untuk memotong jalan. Sial, dia benar-benar sial karena tidak ada taksi yang kosong hari ini. Apakah karena ini akhir pekan?
Tidak ada pilihan lain selain dia terus berlari. Dan hari mulai gelap.
Bella menunggu dengan sabar di ruang keluarga, sembari melirik jam dinding yang tidak jauh darinya. Senyum manisnya terus tersungging indah di sudut bibirnya tidak sabar. Dia memperhatikan kue tart black forest yang di buatnya dengan susah payah. Kotak yang tak begitu kecil dan tak begitu besar dengan hiasan pita ungu terus di genggamnya erat. Seolah barang itu benar-benar sangat berharga.
"Haㅡah... Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya Alfred sudah pulang?" desahnya sedikit cemas.
Dia berusaha menelepon pria itu dan tersambung. Tapi pria itu tidak mengangkatnya karena pada saat itu, Alfred masih saja berlari dengan kencang. Jari tangan Bella terus mengetuk di atas meja, menunggu sambungan teleponnya di angkat. Namun nihil, Alfred tidak mengangkatnya.
Kembali gadis blonde itu menelepon, dan lagi-lagi tidak di angkat oleh pria itu. Alfred berhasil menemukan sebuah penyewaan sepeda dan membayar mahal untuk sepeda itu. Di kayuhnya sepeda itu secepat mungkin meskipun dia sudah ngos-ngosan karena lelah berlari.
'Bella. Aku pasti pulang.'
Hari semakin gelap. Jarak antara dirinya dengan posisi rumahnya masih sangatlah jauh. Butuh waktu satu jam bila mengendarai sebuah mobil. Dan setengah jam dengan motor. Jika sekarang saja dia hanya mengayuh sepeda, dia tidak tahu butuh berapa menit lagi agar dirinya sampai di kediaman.
"Sial amat sih!" gerutunya tidak elit.
Tepat pukul tujuh malam, Alfred sampai di depan halaman rumahnya. Membuang sepedanya begitu saja dan bergegas menuju pintu rumah.
Ketika dia hendak masuk, dia sadar penampilannya sangat berantakan. Dia tidak tahu apa yang akan di pikirkan adiknya bila tahu dia memiliki penampilan yang sangat buruk. Alfred masih berdiri di depan pintu dengan perasaan campur aduk dan gelisah.
Namun dari dalam, Bella yang mendengar ada suara berisik di depan rumahnya tampak sedikit penasaran dan juga bahagia. Dia yakin bahwa itu pasti kakaknya. Dengan mengecek kembali penampilannya, dia berlari menuju ruang tamu dan berdiri di depan pintu. Posisi mereka berhadapan dengan pintu sebagai penghalang mereka. Hingga...
Ceklek!!
"Kakak, akhirnya kamu pulang!" pekik Bella, tidak peduli bagaimana ekspresi Alfred saat ini, gadis blonde itu menerjang kakaknya dan bergelayut manja di leher Alfred.
"Ata... Hati-hati Bella." seru Alfred menangkap dan menahan tubuh Bella seerat mungkin.
"Selamat ulang tahun, kak. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Bella mencintaimu." kata gadis itu masih memeluk Alfred. Pria itu tidak lagi mempermasalahkan lagi dan hanya tersenyum simpul.
"Hm. Terima kasih Bella. Kakak tahu kau memberiku kejutan."
"Jika kak Al sudah tahu, tentu itu bukan lagi kejutan." sungut Bella mulai melepaskan dirinya. Meskipun dia kini mulai sadar bahwa penampilan kakaknya itu berantakan, namun gadis itu tahu bahwa Alfred pasti tengah berusaha untuk tiba di rumah secepat mungkin.
Aroma parfum Alfred adalah yang terbaik. Karena setiap kali pria itu mengeluarkan keringat, bukan bau badan yang tidak sedap yang menguar keluar dari tubuhnya melainkan aroma harum dari parfum yang dia kenakan.
"Cepatlah masuk dan mandi. Kakak bau." Bella menutup hidungnya dengan ekspresi jijik. Alfred menyeringai dan mulai mendekati gadis itu perlahan.
"Oh.... Benarkah~,"
"Kakak! Apa yang mau kau lakukan padaku?! Pergi sana. Mandi dulu, hush..hush..hush.." seloroh Bella melambaikan tangannya untuk mengusir pria itu. Dia bahkan berusaha menghindar dari Alfred.
"Hatiku sakit Bell, kau mengatakan itu. Huhu..." pria itu berpura-pura menyendu dengan ekspresi sedih.
"Hehehe... Sudahlah kak. Cepat mandi dan mari kita rayakan hari ulang tahunmu bersama-sama."
"Baik, baik." Bella tersenyum.
"Aku akan memanaskan kembali makanannya."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku merepotkanmu Bella." ujar pria itu sebelum memasuki kamarnya dan segera mengambil handuk.
Alfred kembali keluar dan masuk ke kamar mandi dekat dapur. Sementara itu, Bella kembali membenahi makanan yang baru saja ia siapkan di meja makan untuk di panaskan kembali sembari menunggu Alfred selesai mandi.
***********
"Tiup lilinnya, kak. Jangan lupa, permohonannya." Bella menyodorkan kue tart di hadapan Alfred setelah dia menyalakan beberapa lilin di sana.
Alfred bergeming dengan senyumnya yang bahagia. Setelah Bella duduk kembali di sampingnya, dia mulai menyatukan telapak tangannya untuk membuat suatu permohonan sambil memejamkan matanya. Bella menunggu cukup lama sebelum pria itu membuka matanya dan mulai meniup lilin.
"Yeee.... Selamat ulang tahun kak." pekiknya lagi. Dia kemudian mengambil piring kecil dan pisau roti untuk Alfred. "Potong kuenya."
Pria itu mengambil alih pisau roti dari tangan Bella dan mulai memotong kue tart-nya. Dia mengambil kue itu langsung sebelum menyodorkannya ke arah mulut Bella.
"Hmm... Hh..." Bella terkekeh ketika memakan potongan kue yang di suapi oleh Alfred.
"Untuk kakak." Bella mengambil kotak kadonya dan menyerahkan kotak kecil berpita ungu itu pada Alfred. "Aku... Tidak tahu apakah ini akan cocok denganmu. Tapi aku berharap kamu menyukainya." imbuhnya ragu dan percaya diri.
Alfred tersenyum karena terharu. Menatap kotak di tangannya sekilas sebelum menatap hangat adiknya. Dia mengusap lembut kepala Bella penuh rasa sayang. "Apapun yang kau berikan untukku, aku menyukainya."
"Kalau begitu bukalah." Alfred bergumam, lantas membuka kotak itu.
Ketika kotak itu telah terbuka, Alfred cukup terkejut karena isi kotak kado yang di berikan oleh Bella berisi sebuah dasi. Dasi itu sederhana. Dengan garis putih di ujungnya. Namun itu sungguh dasi yang baginya sangat indah.
'Aku akan memakainya nanti'. Pria itu tersenyum penuh arti.
Kembali pria itu menatap Bella, "Terimakasih. Kakak menyukainya. Ini sangat bagus."
"Mau aku coba pakaikan?" Bella menawarkan diri. Alfred hanya tersenyum lalu menggeleng. Hal itu membuat Bella tertegun untuk sesaat.
"Aku ingin menyimpannya dulu. Dan akan memakainya bila waktunya tiba."
"Kenapa begitu?!" Bella merajuk ingin tahu. Apa benar kakaknya menyukai kado yang dia berikan? Tapi kenapa kakaknya tidak mau mengenakannya sekarang dan mencobanya?
"Nanti kau akan tahu."
Bella hanya bisa menghela nafas putus asa dan tidak lagi mengejar Alfred. Dia tahu, pasti ada alasan kenapa Alfred berkata demikian.
"Okay. Saatnya makan malam. Apa ini kau yang masak semua? Kelihatannya enak." ujar Alfred memperhatikan masakan Bella yang lain dari biasanya.
"Tentu saja. Ini khusus ku buat untukmu. Nah, cicipi." kata Bella sembari mengambilkan beberapa lauk dan sayuran sebelum menaruh piring itu di depan Alfred.
"Ini enak." kata Alfred di sela-sela makannya. Sungguh, dia jujur mengatakannya. Dan hal itu membuatnya ingin memakannya terus. Melihat kakaknya yang dengan lahapnya menyantap makanan yang dia siapkan membuat hati gadis itu merasa lega dan puas.
Bella akhirnya mengambil bagiannya sendiri dan menyantapnya bersama-sama dengan Alfred.
Untuk sesaat, Bella tertegun dan tidak mampu berkata-kata. Apa kakaknya serius?
"Jika kau merasa itu terlalu terburu-buru, aku masih bisa menunggumu sedikit lebih lama lagi." katanya lagi.
"Eh, tidak. Maksudku... Apa kau serius, kak? Aku tidak berfikir aku belum siap. Hanya saja, aku sedikit terkejut." celetuk Bella menjelaskan.
"Jadi itu artinya apa kau sudah siap?" kembali Alfred bertanya. Dia ingin memastikan, apakah Bella benar-benar telah mantap dengan hatinya memilih dirinya.
"Em.. Lebih cepat lebih baik. Hehe.." Alfred terkekeh merasa lucu.
Sebenarnya, dia berfikir ini terlalu cepat dan terlalu dini bagi Bella. Sifat Bella masih seperti anak-anak. Apakah dia sudah siap untuk berumah tangga? Sudahkah adiknya siap mengemban tanggung jawab jika suatu hari nanti dia akan hamil di usia muda? Dia sedikit merasa sangsi.
*********
"Bella Aberald. Hans, apa Bella adalah cucu kita? Orang yang selama ini kita cari?" Yoana baru saja mendapatkan hasil dari pencariannya selama satu tahun menjabat menjadi seorang rektor.
Dari data-data mahasiswa yang ada di universitas tempatnya bekerja, dia baru mendapatkan hasil ketika seorang dekan juga berusaha membantunya mencari identitas cucunya.
Dia kini hanya tinggal menemukan anak laki-laki yang menjadi adik angkat putranya itu secepatnya.
"Jika memang dia, pastilah dia. Gadis itu memiliki marga yang sama denganku. Bersyukurlah, karena dia tidak menggunakan marga anak laki-laki itu."
Jelas hal itu tidak mungkin terjadi. Adik angkat Thomas tidak akan tega melakukannya. Mengganti marga cucunya dengan marga keluarganya? Tentu saja itu akan mencoreng nama baik orang yang telah sudi merawatnya.
"Apa kita harus menemui mereka sekarang?" kata Yoana, dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah cucunya secara langsung.
"Kita perlu mengeceknya lagi."
"Ini sudah sangat jelas, nama orangtua gadis itu adalah Thomas Aberald putra kita, Hans. Apalagi yang perlu kita cari tahu?"
"Jangan gegabah. Kita perlu menemui anak yang di angkat oleh Thomas terlebih dulu sebelum kita bertemu dengan Bella dan mengaku bahwa kita adalah kakek dan neneknya, Yoana." jelas Hans, dan hal itu membuat Yoana sejenak bungkam. "Dia pasti tidak akan percaya bahwa kita adalah keluarganya begitu mudah, kan?" imbuh pria tua itu.
"Kau benar." kata Yoana, lirih. Hans menghela nafas berat, menepuk bahu istrinya lembut.
"Bersabarlah sedikit lagi. Okay?" Yoana mengangguk dengan gumaman putus asa. Hans hanya tersenyum tipis memaklumi. Dia tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya. Terlebih, dia pun juga merasakan apa yang di rasakan oleh Yoana.
*******
"Kau yakin itu adalah orang yang kita cari?" seorang wanita paruh baya bersurai ombre perpaduan warna brown dan merah di bagian ujung rambutnya. Wanita itu memiliki iris hazel cerah dan garis wajah tegas.
"Ya, aku pikir dia adalah gadis yang kita cari. Dia memiliki wajah yang hampir mirip dengan adikmu, Mom." kata seorang wanita bermata onix.
"Hanya saja, dia memiliki mata biru dengan rambut blonde. Itu seperti laki-laki yang ada di samping bibi." timpal gadis yang lain menambahkan.
__ADS_1
Wanita bersurai ombre itu bergeming dengan pikirannya sendiri. Jika apa yang di katakan oleh putri-putrinya memang benar, ciri-ciri gadis yang putri-putrinya temui adalah putri adiknya Adelina. Dan gadis itu lebih muda tiga tahun dari putri keduanya一Aleysia.
Ya, wanita paruh baya dengan gaya rambut ombre adalah kakak kandung dari Adelina Lee, ibu Bella. Wanita itu memiliki nama Anita Lee.
Beberapa tahun yang lalu, dia mendengar kabar yang tak sedap mengenai adiknya, Adelina. Dan betapa sadisnya berita itu ketika datang baru-baru ini.
Delapan belas tahun mencari keberadaan adiknya yang pergi entah kemana, dan baru sekarang mereka mendengar kabar bahwa adiknya itu telah tiada bersama dengan suaminya dalam insiden kecelakaan.
Saat itu Anita berfikir, mungkin bayi mereka juga ikut serta dalam insiden tersebut. Sehingga satu keluarga lenyap karena kecelakaan itu. Namun, siapa yang tahu bahwa baru-baru ini orang yang pernah dia mintai tolong akan membawa kabar baru yang membuatnya tercengang.
Bayi Adelina dan Thomas masih hidup. Hanya saja, mereka tidak tahu keberadaan bayi itu kini. Dia hanya mendengar kabar dari tetangga lamanya bahwa bayi itu di asuh oleh anak laki-laki yang katanya adalah adik angkat Thomas.
Memang, sebelum kecelakaan itu terjadi, Anita sempat mendengar kabar yang simpang siur mengenai Thomas yang mengadopsi seorang anak laki-laki di jalanan ketika dipria itu akan pulang dari mengajar. Entah berita itu benar atau tidak, anak laki-laki itu adalah bekas seorang pencuri.
Mendengar hal itu, Anita benar-benar membenci sifat welas asih Thomas yang sungguh keterlaluan. Di tambah Adelina yang selalu mendukung keputusan Thomas apapun itu.
Sebelumnya, Anita pernah berkunjung ke rumah Adelina di Wyoming. Tepatnya sangat jauh dari kediaman milik Thomas. Kebetulan sekali pada saat itu Thomas tengah berkunjung ke tempat tinggal Adelina, yang pada saat itu dirinya juga sedang berkunjung.
Anita sempat kagum pada Adelina karena berhasil mendapatkan seorang pria yang tampan, memiliki IQ dan EQ di atas rata-rata dan seorang pengajar. Memang, Anita tidak terlalu menyukai pria dengan profesi sebagai guru. Namun dia mempercayakan adiknya kepada Thomas karena pria itu benar-benar seorang pria yang gentleman.
Hanya saja, Anita sedikit tidak suka dengan sifat Thomas ketika mendengar bahwa dia memiliki seorang adik yang di pungut di jalan. Terlebih, ketika mendengar bahwa anak itu pernah mencuri.
Ketika adiknya menikah dengan Thomas, pada saat itu keluarga besar Adelina menentang habis-habisan hubungan keduanya. Menyebabkan Adelina memilih untuk kabur dan kawin lari. Ketika itu pula, dirinya tengah menjalani pendidikan di London dan sedang melakukan ujian. Hal itu menyebabkan keluarganya tidak ingin memberitahukan perihal Adelina yang membangkang.
Setelah dia pulang ke kampung halamannya, Anita segera bergegas untuk mengunjungi Adelina. Namun siapa yang tahu, bahwa tetangga Adelina memberitahunya bahwa wanita itu telah lama pindah dari kontrakannya. Dan mereka juga tidak tahu kemana Adelina memutuskan untuk pindah karena mereka tidak terlalu dekat mengenai persoalan pribadi.
Anita mencurigai Thomas telah membawa kabur adiknya. Dan timbullah rasa kebencian pada pria itu. Keluarganya bahkan memilih untuk tutup mulut dan tidak ingin tahu tentang keberadaan Adelina semenjak wanita itu memutuskan untuk memberontak.
Sekarang, mengetahui bahwa dia memiliki seorang keponakan dari adiknya, Anita ingin mengambil hak asuh putri adiknya. Dia tidak ingin putri adiknya memiliki nasib yang sama dengan adiknya. Karena dia tahu bahwa anak itu masih dalam masa pertumbuhan, dia yakin bahwa dia mampu mendidik anak itu menjadi gadis yang patuh dan memiliki sifat yang elit.
"Kau ingin mencarinya?" suara baritone milik seorang pria mengintrupsi lamunannya. Membuat Anita mendongak mendapati seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda itu menghampirinya.
Pria itu menunduk, mencium pucuk kepalanya sayang. "Kau sudah pulang?" ujar Anita. Pria itu hanya bergumam sebelum merebahkan dirinya di atas sofa sembari merenggangkan pita dasinya.
"Bagaimana kau tahu aku sudah menemukannya?" Anita bertanya penasaran. Apa pria itu baru saja menguping pembicaraannya dengan kedua putrinya?
"Tidak sengaja aku mendengar percakapan kalian saat aku berjalan ke arah ruang keluarga."
"Dad, biar aku bantu." Ashley mengambil jas ayahnya dan membantu melepaskan simpul pita dasinya.
"Terimakasih sayang." pria itu tersenyum hangat kepada putrinya. Dia lalu menoleh menatap Anita kembali dengan ekspresi serius. "Lebih baik secepatnya kau mengambil alih hak asuhnya. Aku akan membantumu sebisaku."
"Terimakasih Chal. Aku mencintaimu." ucap Anita tulus pada pria yang adalah suaminya sendiri.
**********
Alfred kembali ke butik di mana sebelumnya dia terakhir kali berkunjung. Seorang wanita pramuniaga yang sudah mengenalnya menyambut pria itu ramah. Karena tahu tujuan kunjungan kali ini adalah untuk mengkonfirmasi pesanan sebelumnya, wanita itu membawa Alfred masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Bagaimana dengan jas ini, tuan? Saya rasa ini cocok dengan anda."
Alfred memperhatikan setelan jas hitam yang di bungkus oleh pembungkus pakaian. Dia tersenyum cukup puas ketika melihat hasilnya. Kemudian Alfred menunduk mengambil kotak yang beberapa hari yang lalu dia dapatkan dari kado ulang tahunnya. Dia ingin mencobanya.
"Saya ingin mencobanya."
"Tentu." Wanita itu mengambil setelan itu dan menyerahkannya pada Alfred. "Silahkan ke ruang ganti di sana." ujar wanita tersebut sambil menunjuk sopan ke arah ruangan dengan cat cream di pojok ruangan.
Alfred berjalan ke arah ruangan kecil yang di tutupi oleh sebuah gorden tebal dengan warna senada. Meskipun ruangan itu tertutup oleh gorden, namun ruangan itu tetap memiliki sebuah pintu.
Di dalam ruang ganti, pria itu mencoba setelan jas tersebut dengan di tambah dasi yang dia dapat dari Bella. Itu jelas warna yang netral. Namun entah mengapa mereka benar-benar sangat cocok dan Alfred sangat puas dengan hasilnya.
Pria itu lantas keluar dengan masih mengenakan jas tersebut. Ia lalu menghampiri wanita pramuniaga yang melayaninya itu. "Bisakah kamu membantuku untuk mencocokkannya dengan gaun yang kemarin? Tapi jangan yang aku pesan. Cari satu model yang hampir serupa dan kamu kenakan itu untukku."
"Tentu. Mohon tunggu sebentar." wanita pramuniaga tersebut berbalik dan segera melaksanakan perintah yang Alfred minta. Karena wanita itu sebenarnya memiliki postur tubuh dengan tinggi dan ukuran badan yang kurang lebih sama dengan Bella. Itulah mengapa Alfred meminta wanita tersebut untuk berganti pakaian.
Alfred merupakan salah satu pria tertampan di dunia ini. Bahkan sebenarnya, wanita pramuniaga yang melayaninya memiliki kesan yang baik terhadapnya dan tertarik dengan pria itu karena wajah tampan Alfred. Wajah wanita itu bahkan merona ketika Alfred memintanya untuk memakai gaun pengantin untuk mencocokkannya dengan jas yang di kenakan Alfred.
Jika saja dia tidak memiliki sikap yang profesional, mungkin saat ini sudah berteriak dan melompat kegirangan karena rasa senangnya melayani seorang pria tampan.
Wanita itu benar-benar profesional, dengan kinerjanya yang berganti baju tidak butuh waktu lama. Dia benar-benar menyesuaikan gaun dengan veils model elbow dan juga sepatu high-heels putih agar tampak sangat baik.
Ketika wanita tersebut keluar, Alfred cukup terkesan gaun dengan style knee-length benar-benar cocok dengan wanita itu. Apalagi jika Bella-lah yang memakainya.
Ruangan tersebut berbentuk kubus, dinding pertama, adalah tempat pintu masuk, dinding kedua, merupakan tempat untuk menaruh manekin dan juga gantungan gaun-gaun. Dinding ketiga, ada ruangan yang tidak terlalu besar ataupun kecil sebagai ruang coba. Dan dinding ke empat, itu seperti studio dance yang di mana ada kaca dengan lebar dan tinggi yang sama dengan dindingnya.
Di kaca itulah, Alfred melihat pantulan dirinya berdiri dengan wanita itu. Merasa puas, dia berbalik untuk menghadap wanita itu. "Sudah pas. Bisa kau bungkus gaun itu ke dalam kotak? Aku akan mengambilnya sekalian."
"Baik, akan saya siapkan. Mohon tunggu sebentar." setelah wanita tersebut mohon undur diri, Alfred juga kembali ke dalam ruang ganti untuk melepas jasnya.
"Terimakasih tuan. Semoga calon pengantin anda menyukainya. Dan selamat berbahagia." kata wanita pramuniaga itu ketika menyerahkan dua kotak box hitam dengan pita bunga warna putih kepada Alfred.
Alfred membalas ucapan wanita itu sebelum menuju ke arah mobilnya yang terparkir. Beruntung hari ini dia mengendarai mobil. Jika tidak, dia akan sedikit kerepotan.
Setelah selesai dengan urusan gaun dan juga jas, dia segera mengurus hal-hal lainnya yang di rasa mendesak.
Pria itu segera pergi ke National Cathedral yang tidak jauh dari tempatnya berada. Di sana dia bertemu dengan seorang pastur dan membicarakan sesuatu sebelum pastur itu memberikan beberapa petuah mengenai maksud kedatangannya.
Cukup dengan urusannya, Alfred segera bergegas pulang.
***********
__ADS_1