
Gavyn dan Helena sengaja mengunjungi kediaman Chal hari ini. Tepat di mana beberapa jam lagi, Bella akan menikah. Melihat Gavyn dan Helena datang ke kediamannya, Ashley yang memang berada di lantai bawah hanya bisa melengos dengan sorot mata tidak suka.
Meskipun Gavyn adalah kakak sepupunya, namun melihat bahwa pria itu memiliki hubungan yang cukup baik dengan Alfred membuat hatinya tidak senang.
Dengan malas, dia menghampiri pria itu dengan sikap angkuh. "Mau apa kau datang kemari, huh?!"
Gavyn bukannya tidak tahu bahwa Ashley yang dulu pernah dia anggap gadis kecil yang lucu kini akan bersikap dingin dengannya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Ashley benar-benar banyak berubah dan memiliki sikap yang kasar seperti ibunya. Gavyn pikir, Ashley akan memiliki sikap bijak seperti pamannya, Chal Lincolnshire.
"Memangnya tidak boleh?"
"Hng!" Ashley mendengus, "Tidak apa-apa jika kamu tidak mempunyai hubungan dengan anak pungut itu. Tapi sekarang..."
Helena meradang, dari balik wajahnya yang lembut dan pembawaannya yang hangat, tersimpan kemarahan yang mendalam ketika Ashley terus merendahkan Alfred. Gavyn bukannya tidak mengetahui Helena sedang menahan amarah, dia hanya bisa menggenggam tangan wanita itu tanpa mengatakan apapun, dia lantas melirik Helena dengan sorot mata penuh arti di balik senyumnya yang meneduhkan. Di mana hal itu membuat Helena terhenyak sebelum kembali tenang.
"Bukankah aku sendiri juga anak yatim piatu yang di pungut oleh keluarga Lincolnshire?"
Ashley tertegun menatap Gavyn dengan sorot mata yang sulit untuk di mengerti. Melihat Ashley yang bungkam, Gavyn menyeringai tipis penuh cemoohan.
"Tapi kau memang berasal dari keluarga Lincolnshire. Sedangkan anak pungut itu... Kau sendiri tahu benar, kan. Kalau asal usul anak pungut itu masih belum jelas?" balas Ashley tidak mau kalah dengan dagu terangkat penuh kesombongan.
Hal itu tidak bisa di pungkiri oleh Gavyn dan Helena bahwa apa yang di ucapkan oleh Ashley memang benar adanya. Meskipun dia telah di tinggalkan oleh kedua orangtuanya ketika dirinya masih berumur empat tahun, tapi keluarga Ashley jelas tahu bahwa dia berasal dari keluarga cabang Lincoln, Lincolnshire. Sedangkan Alfred, dia hanya tahu bahwa marga keluarganya adalah Frederick. Namun dia tidak tahu asal usulnya selama ini karena ketika dia mengenal Alfred, pria itu hanya tinggal seorang diri bersama dengan seorang bayi perempuan yang masih balita tanpa di temani oleh orang dewasa di sampingnya.
"Gavyn.." Helena mengeratkan genggaman tangannya pada pria itu. Seolah dia mencoba untuk menyadarkan Gavyn bahwa apa yang di ucapkan oleh Ashley hanyalah untuk memecah belah pertemanannya dengan Alfred.
Gavyn tersadar dan tersenyum ke arah Helena, mengatakan secara tersirat untuk tidak perlu mencemaskan hatinya. Dia memang sempat membenci Alfred, dulu dia bahkan menganggap Alfred sebagai rivalnya secara sepihak karena perasaan Helena yang dia tahu menyukai Alfred dan bukan dirinya. Namun, mengetahui bahwa Alfred mengabaikan perasaan Helena terhadapnya dan tidak menghancurkan persahabatan mereka bertiga, membuat dirinya sadar bahwa Alfred bukanlah orang yang seharusnya dia lawan.
Alfred terlalu sibuk mengurusi kehidupan pribadinya bersama adiknya. Pria itu tidak mau memikirkan hal lain selain kehidupan adik satu-satunya itu. Apapun yang pria itu lakukan, hanyalah semata-mata untuk kehidupan masa depan Bella.
Dalam kamus kehidupan pria itu, tidak ada waktu untuknya membicarakan hal-hal tentang perasaan pribadinya.
Alfred bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Helena untuknya. Dan tanpa dia sadari, Alfred bahkan mengetahui bahwa Gavyn-lah orang yang mencintai Helena secara diam-diam selama ini bahkan sebelum mereka saling mengenal satu sama lain. Ketika Alfred mengatakan hal itu kepadanya, dia benar-benar di buat tertegun untuk beberapa saat.
"Jangan menganggapku rival hanya karena perasaan yang tidak pernah terfikirkan olehku, Vyn."
"A-apa maksudmu?" Gavyn tidak mengerti ketika tiba-tiba Alfred mendekatinya dan melontarkan pernyataan yang dia sendiri tidak mengerti.
Pria itu menghela nafas sesaat sebelum kembali bersuara, "Helena..." katanya singkat. Gavyn mengernyit semakin bingung. Dia menatap Alfred dengan sorot mata penuh tanda tanya, "Dia memiliki perasaan untukku, kan?"
"Omong kosong! Jangan terlalu percaya diri, kau!" seloroh Gavyn meradang.
Namun Alfred masih tetap bersikap tenang, "Gavyn, meskipun kamu berkata demikian, aku tahu bahwa itu adalah benar. Hal itulah yang membuatmu tidak ingin kalah dariku, bukan?"
"A-aku...." Gavyn terbata.
Dalam diam, Alfred tersenyum tipis. "Kau tenang saja."
"Eh?!"
"Aku... Mencintai orang lain dan orang itu bukan Helena." ujar Alfred tegas. Gavyn menatap Alfred tidak percaya. Namun, mimik wajah Alfred sama sekali tidak terlihat sedang bercanda dan tampak penuh percaya diri.
"Al.. Kamuㅡ" Alfred menoleh untuk menatap Gavyn yang menatapnya tidak percaya, pria itu tersenyum tipis dengan mata menyipit penuh keyakinan. Hal itu membuat Gavyn merasa di yakinkan. "Ahaha... Brengsek!" umpatnya.
"Aku akan membantumu mendapatkan hati Helena. Percayalah."
"Thanks, Al. Aku... Juga akan membantumu mendapatkan apa yang kau inginkan juga. Itu janjiku sebagai seorang sahabat. Ahaha.."
"Heh! Sahabat ya?"
Ya, dia telah berjanji untuk membantu pria itu jika suatu saat pria itu membutuhkan bantuannya.
Setelah sekian lama, pria itu tidak pernah mengalami kesulitan apapun. Hal itu membuatnya yang ingin membantu sebagai seorang teman tidak pernah terjadi. Karena pada kenyataannya, Alfred tidak pernah mengalami kesulitan sama sekali selama ini dan selalu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Dan sekaranglah saatnya, dia bisa membalas kebaikan Alfred selama ini dengan cara membuat Bella kembali lagi dengannya.
Menatap Ashley tegas, dia memantapkan hatinya. "Meskipun demikian, nasib kami tetaplah sama. Kami sama-sama di adopsi oleh keluarga yang memiliki martabat yang baik."
"Hng!" Ashley menyeringai penuh cemoohan. Walaupun Gavyn mencoba untuk membela Alfred, namun baginya mereka berdua tidaklah sama. "Terserahlah. Tapi aku peringatkan padamu! Jangan coba-coba melakukan hal yang bisa membuatku marah dan membencimu, Gavyn."
Chal melihat Ashley menatap nyalang Gavyn dan tidak bisa tinggal diam. Dengan perasaan campur aduk, pria itu berjalan mendekati ketiganya.
"Ashley! Hentikan. Gavyn adalah kakak sepupumu." peringat Chal. Ashley berdecih penuh kebencian, dia menatap dengan peringatan keras ke arah Gavyn sebelum memutuskan untuk berlalu dari hadapan pria itu. Menghela nafas putus asa, Chal tersenyum penuh rasa bersalah ke arah Gavyn.
"Gavyn, maafkan Ashley. Dia tidak bermaksud untuk bersikap kurang ajar pada kalian."
"Tidak apa-apa, paman. Aku mengerti." Chal menoleh untuk menatap punggung Ashley penuh kesedihan. Hal itu membuat Gavyn juga menatap punggung wanita itu ikut bersimpati.
"Dulu... Ashley tidak seperti itu. Padahal Ashley adalah gadis yang lucu dan menarik. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu."
Helena tidak bisa menampik hatinya bahwa dia merasa simpatik terhadap Ashley. Dia pikir, mungkin ada sesuatu yang membuat wanita itu memiliki sikap seperti itu. Dingin, angkuh, dan tidak tersentuh. Apakah ada sesuatu yang pernah terjadi di dalam kehidupannya? Tapi apa hubungannya dengan kebenciannya terhadap Alfred?
Gavyn mengalihkan perhatiannya pada Chal. Ini saat yang tepat untuk melakukan sesuatu terhadap pernikahan Bella. "Paman. Mengenai pernikahan Bella dan Edward..."
"Ya. Aku mengerti dengan apa yang ingin kamu sampaikan."
"Paman, kauㅡ" Gavyn tertegun untuk sesaat. Dia mengerti dengan kalimat Chal. Dirinya hanya terkejut ketika Chal bisa mengetahui maksud dari keinginannya.
"Haㅡah... Aku paham, kau ingin membantu Alfred untuk mencegah pernikahan ini. Tapi bibimu Anita.." Chal menatap sekilas Gavyn dengan ekspresi yang suram, "Aku tidak yakin apa yang ingin kamu lakukan itu akan berhasil."
"Tapi paman, bukankah kita perlu mencobanya? Kita tidak akan tahu hasilnya kalau kita tidak mencobanya terlebih dulu, kan?"
"Paman Chal..." Helena memohon.
**************
"Itu tidak mungkin, Tristan." sedemikian rupa seorang pria paruh baya menjelaskan pada Tristan di dalam kantornya, berharap pemuda itu mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Itu masalah keluarga mereka. Seandainya kita bisa membantu, harus ada beberapa bukti yang bisa memberatkan tindakan tidak logis keluarga gadis itu agar kita bisa membebaskannya."
"......" Tristan tidak bisa tidak sepemikiran. Namun kehidupan rumah tangga sahabatnya di pertaruhkan saat ini.
"Apalagi, dari cerita yang kamu jelaskan kepadaku, mereka hidup bersama saja sudah merupakan kesalahan." jeda sesaat, "kenapa mereka tidak tinggal saja di panti asuhan? Hal-hal semacam ini tidak akan mungkin terjadi, kan?"
Tristan menggelengkan kepalanya lirih, menampik apa yang baru saja pria di hadapannya itu ucapkan. "Paman, jika mereka memutuskan untuk tinggal di panti, bukankah mereka harus mengikuti prosedur yang ada? Bukankah jika nantinya salah satu dari mereka mendapatkan sepasang keluarga yang mau mengadopsi, salah satu dari mereka harus mau dipisahkan?"
Untuk sejenak pria di hadapan Tristan terhenyak kehilangan kata-kata, "Paman, Alfred telah berjanji pada ayah kandung adik angkatnya, bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan adiknya itu seorang diri apalagi sampai harus di pisahkan. Meskipun aku tidak mengetahui detailnya karena bisa saja Alfred mengarang semuanya, tapi melihat raut wajahnya saat dia menceritakan semua kisah hidupnya, ayah Bella memohon pada Alfred untuk tidak meninggalkan Bella seorang diri. Bagaimana bisa Alfred akan memilih tinggal di panti asuhan kalau ayah bayi itu tidak menginginkan Alfred jauh-jauh dari Bella, paman?"
Memang ada benarnya. Meskipun ada beberapa panti asuhan yang mau merawat anak yatim piatu hingga dewasa, tetapi itupun ada pula prosedurnya. Terkadang, prosedur itulah yang mengharuskan anak-anak panti asuhan harus mau di adopsi dan menerima nasib mereka di sana. Jika tidak, akan ada lembaga lain yang akan mengambil mereka sesuai usia yang telah di tentukan.
Sedangkan Alfred dan Bella sendiri, keduanya memiliki jarak usia yang sangat jauh. Bella memiliki kesempatan besar untuk di adopsi oleh pasangan yang datang ke panti asuhan dengan harapan ingin memiliki seorang anak yang masih dalam usia balita. Sedangkan Alfred, bisa di bilang dia sudah tidak layak mendapatkan orangtua asuh di usianya yang menginjak remaja pada saat itu.
Jika hal itu terjadi, apa yang akan di lakukan oleh Alfred nantinya? Menolak semua pengadopsi adiknya setiap saat? Itu mustahil. Mereka memiliki kesempatan untuk menolak sebanyak tiga kali jika merasa tidak cocok dengan calon pengadopsi. Setelah kesempatan itu habis, mereka tidak ada pilihan lain selain menerima meskipun mereka tidak menginginkannya.
Dalam kasus Alfred, dia tidak bisa menolak dan tidak bisa memberontak.
Sudah jelas jika pilihan terbaik adalah mengadu nasibnya sendiri dan mengambil tantangan pada nasibnya sendiri. Bertahan, atau dirinya akan berakhir dengan buruk.
"Paman, seorang laki-laki memegang janjinya dalam hidup. Jika dia melanggar janji itu, bukankah dia telah merendahkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki? Dia akan merasa tidak pantas di sebut sebagai seorang laki-laki jika dia melanggar janjinya sendiri. Hal itu juga yang terjadi pada Alfred." Tristan menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan, "Awalnya, Alfred ingin sekali menyerahkan Bella pada keluarganya pada saat Bella masih bayi. Alfred berusaha keras mencari informasi tentang keberadaan keluarga Anita. Yang merupakan keluarga kandung ibu Bella. Namun hasil yang di terima Alfred saat itu nihil. Dan menyebabkan dia mau tidak mau harus menyerah."
Pria di hadapan Tristan hanya bisa diam membisu. Dia ingin membantu, tapi dengan tidak adanya bukti yang bisa membuat Bella tetap tinggal dengan Alfred, dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun keduanya sudah menikah dan di akui oleh hukum negara.
.
Ken merasa bersalah setelah menceritakan segalanya pada teman-temannya. Sammy bahkan tidak habis mengerti.
Seharusnya mereka tahu bahwa Bella selalu bersama dengan mantan guru di SMA mereka sejak dulu. Selama ini, Bella tidak pernah terlihat sedang jalan bersama dengan pria lain selain Edward dan juga kakaknya Alfred. Mereka hanya berfikir bahwa orang yang menjadi kekasih Bella bukan orang yang mereka kenal selama ini dan orang itu tidak berada di kampus yang sama dengan mereka.
Meskipun mereka berfikir bahwa Edward-lah orang yang seharusnya menjadi kekasih Bella, tapi mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu di tebing ketika Edward menyendiri, Bella dengan tegas menolak Edward untuk menjadi kekasihnya. Bahkan mereka juga masih ingat bahwa alasan Bella menolak pria itu lantaran Bella memiliki seseorang yang telah dia sukai.
Jelas laki-laki itu bukanlah Edward. Namun mereka tidak menyangka bahwa ternyata laki-laki yang menjadi kekasih Bella akan menjadi kakaknya sendiri.
Pada awalnya Sammy dan Max berfikir bahwa Alfred adalah kakak kandung Bella. Meskipun mereka sedikit tidak mengerti kenapa marga keluarga keduanya berbeda. Hal itu bahkan mereka lupakan karena keduanya tinggal seatap pada waktu itu.
"Maafkan aku. Aku sendiri tidak bisa menceritakannya karena Bella memintaku untuk bungkam." kata Ken, penuh sesal. Sammy melirik Ken lalu mendesah frustasi.
Itu salahnya juga karena tidak segera menyadari kelainan dari hubungan mereka pada waktu itu.
__ADS_1
"Sudahlah, kalau sudah begini, kita harus bagaimana?" Ken menggeleng tidak tahu. Dirinya sendiri bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Aa~h.. Dia bahkan tidak oantas di sebut-sebut sebagai seorang sahabat.
"Lakukan sesuatu. Kita harus menyadarkan Edward sekarang sebelum terlambat." Max beranjak dari tempatnya dan bergegas pergi.
"Max, tunggu! Cih, menyebalkan." gerutu Sammy. Mau tidak mau, dia juga beranjak dari tempatnya dan menyusul Max.
"Eh, Sammy!" Ken mengekor di belakang Sammy. Dia berlari untuk menyusul pria jangkung itu keluar dari kediamannya.
Ketiganya masuk ke dalam satu mobil milik Max, sebelum Max meninggalkan pelataran rumah Sammy dengan ekspresi tegang. Di dalam mobil, ketiganya hanya bisa bungkam dengan pikiran mereka masing-masing.
.
Keluarga Benzo merupakan salah satu kolega dari keluarga Lincoln. Hal itu membuat dia juga mendapatkan undangan dari keluarga dari Edward. Hanya saja, Benzo bertugas sebagai pengawas jalannya acara pernikahan keluarga Lee dan keluarga Lincoln, Lincolnshire.
Ayah Benzo seorang politisi. Sedangkan dia sendiri adalah seorang perwira. Dengan permintaan keluarga Lincoln, Benzo dan team-nya di tugaskan untuk berjaga. Setengah dari penjaga pernikahan itu merupakan pengawal keluarga Anita Lee.
Anita tidak menyadari bahwa Benzo adalah salah satu teman dekat Alfred. Sehingga saat Anita memberikannya perintah dengan nada angkuhnya, Benzo hanya bisa menyanggupinya dengan ekspresi datar.
"Lakukan sesuai perintahku."
"Siap kapten!"
Edward mendekati Benzo secara tiba-tiba sebelum pria itu membisikkan sesuatu pada Benzo yang entah mengapa tiba-tiba pria itu menyeringai penuh kepuasan.
"Di mengerti." kata Benzo singkat sebelum Edward berlalu dari hadapan Benzo.
Sammy, Max, dan Ken mau tidak mau memakai setelan jas untuk menemui Edward yang saat ini sedang berada di National Cathedral. Ketiganya tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu apa yang sebenarnya sedang di pikirkan oleh Edward saat ini. Kenapa pria itu begitu tega menikam Alfred dan mau menerima perjodohan itu? Bukankah Edward mengaku bahwa dia adalah sahabat terbaik Bella? Kenapa dia malah menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri seperti ini?
"Kau sangat tampan." puji Deana ketika menatap putra bungsunya dengan setelan jas rapinya. Mata wanita itu berkaca-kaca, dia tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih saat ini. Jika saja Bella memiliki perasaan yang sama dengan putranya, pasti pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang paling membahagiakan bagi mereka semua.
"Mom, sebaiknya kau kembali dan temui Daddy. Aku bisa mengurus urusan di sini sendiri."
"Baiklah." setelah Deana benar-benar pergi dari ruangannya, Edward bersikap seolah tidak menyadari kehadiran Sammy dan yang lainnya. Dia hanya berkaca dan menatap bayangannya di kaca.
"Edward!" Max berseru dengan nada kesal.
"Aku sudah tahu apa tujuan kalian menemuiku dengan ekspresi kesal semacam itu." celetuk Edward tepat sasaran. Pria itu hanya melirik sekilas ketiga temannya sebelum dia beralih untuk duduk di kursi dekat jendela.
Ken dan Max sedikit terkejut dengan pernyataan Edward. Namun tidak untuk Sammy yang masih bersikap sangat tenang. Max mendekati Edward dan duduk menghadapnya. Namun, belum dia melontarkan apa yang akan dia katakan, Edward justru kembali mendahului kata-katanya kembali.
"Kalau kalian datang hanya untuk mencegahku untuk membatalkan pernikahan ini, sebaiknya kalian urungkan."
"Edward, apa maksudmu?" kali ini Sammy yang bersuara. Namun tidak seperti Max yang kehilangan kendali emosinya, Sammy justru lebih pandai bersikap. Setidaknya, Edward sadar bahwa masih ada temannya yang mengerti kondisinya.
"Kembali ke tempat kalian seharusnya berada. Hal semacam ini adalah urusanku. Kalian hanya perlu melihatnya dari belakang."
Sammy mengernyit. Sedangkan Ken dan Max sudah hampur meledak karena marah. Namun, tanpa di duga sammy menyeringai tipis. "Aku mengerti."
"Eh, Sammy.... Kau.." Ken menatap teman kecilnya itu bingung.
"Sebaiknya kita tidak perlu ikut campur urusan orang lain, kan? Bella... Sudah berada di tangan orang yang tepat." kata Sammy absurd dengan senyumnya yang misterius. Dia bahkan melirik Edward yang tanpa ekspresi tanpa kata.
"Tapi Samー"
"Ken! Seharusnya kamu mengerti aku jauh lebih baik dari orang lain, kan? Percayalah padaku."
"Sammy. Kenapa kau begitu egois?!"
"Max! Ini bukan urusan kita. Bella... Memang sudah aku anggap sebagai sahabat sejak kita masih di bangku SMA. Dan aku juga tidak ingin apapun yang membuatnya menderita terjadi padanya. Tapi Maxー" Max tersentak, di tatap intens dan penuh ancaman oleh Sammy saat ini. "seharusnya kau juga mengenalku lebih baik dari orang lain, kan? Haーah... Aku benar-benar tidak suka mengulang kembali kata-kata yang sudah pernah aku katakan." ujarnya sembari berbalik dan pergi begitu saja dari ruangan Edward berada.
Max masih diam seribu bahasa menatap bingung punggung Sammy yang semakin menjauh. Ken memutar kepalanya ke arah Edward dengan tatapan mata sengit penuh kebencian.
"Jika terjadi sesuatu pada Bella, aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Edward." ancamnya sebelum dia juga ikut pergi menyusul Sammy.
************
Di dalam sebuah kamar mewah, Alfred hanya bisa menatap bingkisan paket yang sebelumnya dia terima. Paket itu kini berada di atas tempat tidurnya dan di biarkan terbuka begitu saja menampilkan isi paket tersebut.
Sebuah satu set Tuxedo warna putih. Pria itu bertanya pada angin, untuk apa orang misterius itu mengiriminya tuxedo dengan warna putih? Rasa penasaran dan keingintahuannya pada sosok orang misterius itu semakin tinggi.
Pada akhirnya Alfred pun bergegas mengganti pakaiannya dengan Tuxedo putih misterius itu. Tuxedo dengan warna putih gading dan dasi putih, tidak lupa sepasang sepatu pantopel hitam.
Setelah siap, Alfred lantas bergegas keluar untuk menemui kedua orangtua angkatnya.
Para Maid yang berpapasan maupun yang melihatnya saja sampai mematung terkesima dengan penampilan perfect dari pria itu yang sudah seperti artis boyband. Bahkan tak jarang mereka ada yang melakukan kecerobohan dalam bekerja karena saking terkesimanya.
Andai saja Alfred tidak mengenakan kacamata. Pasti ketampanannya akan terlihat berkali-kali lipat. Sayang, itu hanya sebuah pengandaian belaka.
Yoana cukup terkejut ketika menatap putra angkatnya itu yang baru saja datang malah memakai Tuxedo putih layaknya pengantin pria.
"Apa kau yakin dengan yang kau kenakan itu, Al?" Tanya Yoana hati-hati. Tiga orang lainnya termasuk Hans hanya bisa terdiam memperhatikan.
Ya, Roy dan juga temannya memutuskan untuk datang lebih pagi di kediaman Aberald hari ini.
"Hmm.. Ya, aku hanya menuruti ucapan orang yang memberikanku Tuxedo ini." Yoana dan juga Hans mengernyit saling menatap satu sama lain tidak mengerti. "Terlepas dari apa maksudnya, aku hanya bermaksud ingin tahu apa yang di inginkan orang itu nanti." Imbuh Alfred.
Roy melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi sekarang. Membuatnya berdehem sejenak meminta perhatian.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Atau kita akan terlambat." Serunya.
"Ah, kau benar." Lirih Yoana bergumam.
Alfred menaiki mobilnya sendiri, sedangkan Yoana dan suaminya memilih ikut satu mobil bersama dengan pengacara almarhum putranya. Mobil Roy mengikuti mobil milik Alfred dari belakang dengan harap-harap cemas.
**********
Anita, Chal, Deana dan Bryan tampak tengah sibuk menerima tamu mereka masing-masing di halaman gereja. Begitu juga dengan Ashley dan Brandon. Sementara Edward, dia mulai gelisah dan berkali-kali melirik ke arah pintu masuk. Seolah-olah dia sedang menantikan tamu yang sangat agung. Tidak biasanya memang, bagi pria sepertinya yang terkenal tenang dalam menghadapi sesuatu kini segelisah itu dengan sesekali mengecek arloji di tangannya.
'Apa dia bisa datang tepat waktu?' Batin Edward mulai cemas.
Sementara di ruang mempelai wanita, yang tak lain adalah Bella kini telah ramai dengan datangnya sahabat-sahabatnya termasuk juga Helena.
"Nah, semua siap." Seru Aleysia seusai mendandani Bella. Wanita itu tersenyum puas menatap pantulan si blonde sepupunya itu lewat cermin.
"Apa dia akan menyukaiku dengan penampilanku ini, Ale?" Tanya Bella tampak tidak yakin.
Aleysia menepuk singkat kedua bahu Bella seraya tersenyum hangat. "Tentu saja. Dia pasti akan menatapmu bahkan tak berkedip." Goda Aleysia mengerling genit, hal itu membuat Bella merona karena tersipu malu. Dan Aleysia sontak langsung tertawa lirih.
"Baiklah. Aku keluar dulu. Temui teman-temanmu. Dia sudah menunggu ingin bertemu kamu." Bella mengangguk menoleh ke arah sahabatnya Ken yang datang bersama dengan Max. Sementara Aleysia pamit untuk keluar meninggalkan Bella.
Setelah yakin Aleysia telah keluar, Ken lalu mendekati Bella dengan sedikit emosi. "Bella, kenapa kamu setujui pernikahan ini? Bukankah hatimu itu untuk kakakmu, pak Alfred?!" celetuk Ken meledak.
"Bell, kenapa kamu lakukan semua ini? Aku tidak percaya kalau kamu akan terlihat begitu bahagia di pernikahanmu ini. Bagaimana dengan Alfred?" Giliran Helena yang menyuarakan ketidaksukaan atas apa yang di lihatnya itu.
Max hanya terdiam tidak ingin ikut campur meskipun dia juga mulai emosi. Toh ia juga tidak begitu paham dengan pokok permasalahan yang tengah terjadi. Bella tersenyum maklum menatap sahabatnya Ken lalu mantan gurunya Helena secara bergantian.
"Kalian benar. Hatiku milik kakakku, Alfred Frederick. Dan sampai kapanpun hanya untuk dia. Dan, aku bahagia dengan pernikahan ini jika kak Alfred hadir."
"Itu berarti kamu ingin melihat Alfred hancur menyaksikan kamu dan Edward menikah, Bell?" Sela Helena, mulai naik pitam, "bukankah itu terlalu jahat?"
"Kau sudah gila, ya?!" Teriak Ken. Namun hal yang tidak terduga datang dari ekspresi Bella yang masih tetap tersenyum.
"Tidak. Bukan seperti itu. Sudahlah, sebaiknya kalian tunggu dan lihat saja nanti." Jawab Bella tidak jelas.
Namun ketika Ken akan melayangkan kembali protesannya, Chal Lincolnshire telah datang untuk menjemput Bella sebagai walinya. Membuat semuanya hanya bisa menahan emosi berharap-harap cemas dan berdoa semoga pernikahan Bella dengan Edward tidak terjadi.
"Kau sudah siap, sayang?" Seru Chal tersenyum prihatin. Tapi Bella justru terlihat bahagia tanpa beban.
"Ya, paman. Bella sudah siap." jawabnya tegas. Meskipun dalam hatinya dia tidak bisa menampik bahwa sebenarnya dirinya juga tidak tenang.
'Semoga keajaiban itu datang secepat mungkin'. Batin Chal menatap penuh kasihan pada Bella.
Sementara itu suasana di dalam gereja tampak sudah penuh dengan tamu undangan. Di antara banyaknya tamu undangan yang hadir, entah dari siapa yang mengundangnya, di sana sudah banyak tamu yang hadir dari teman-teman lama Alfred dan juga Bella.
__ADS_1
Di antaranya ada Nicky bersama Ramon, Harry bersama dengan Angelica. Di mana dulunya Harry adalah pemuda yang duduk di samping Alfred ketika di bangku sekolah menengah pertama. Pria itu juga adalah pria yang mengejar-ngejar seorang wanita bernama Angelica semasa sekolah. Teman sesama gurunya dengan pakaian nyentrik bernama Frank, lalu Aaron yang datang bersama Benzo yang sesama seorang perwira.
Meskipun Benzo bertugas sebagai penjaga, namun dia adalah kapten. Dia hanya akan mengawasi dan bertindak sebagai seorang tamu bersama dengan Aaron.
Dari banyaknya teman Alfred yang datang, yang membuat mereka semua menjadi bingung adalah bukannya Alfred yang berdiri di depan altar pernikahan, justru malah seorang pria dengan style rambut emo berjas hitamlah yang kini berdiri di sana. Yang bila di perhatikan dengan seksama pria itu kini tengah berdiri dengan gelisah sembari sesekali melirik arlojinya yang hampir menunjukkan pukul 9.
'Cepatlah datang brengsek!' Umpatnya dalam hati mulai emosi.
**********
Wuuuusshhh....!!
Secepat mungkin Alfred terus menambah kecepatan mobilnya. Dan sialnya, dia harus terjebak macet ketika dia mesti terburu-buru dalam keadaan darurat. Suara klakson bersahutan, semua pengendara saling berteriak menyalahkan, tidak terkecuali Alfred sendiri yang juga mengumpat.
Alfred bergerak semakin gelisah tak sabar. Berdecak kesal ketika dirinya mencoba melongok melihat begitu panjangnya kemacetan yang terjadi. Melirik kembali arlojinya. Pukul sembilan kurang sepuluh menit, itu berarti sepuluh menit lagi janji suci akan berlangsung.
"Persetan!!" Umpatnya bergegas keluar dari mobilnya dan berlari secepat mungkin melewati padatnya kendaraan yang berdengung ribut.
"Alfred!!" Teriak Yoana ketika melihat Alfred sudah berlari menjauh dan siluetnya mulai menghilang.
"Bagaimana sekarang, Hans? Kita tidak punya waktu lagi." seru Yoana mulai cemas.
"Tidak ada cara lain. Kita harus memilih berjalan seperti yang di lakukan Alfred. Setidaknya kita ada cara lain untuk sampai ke sana." Saran Roy memberi jalan keluar.
Sejenak hening sampai akhirnya mereka berempat memutuskan untuk meninggalkan mobil dan berjalan untuk sampai ke tujuan dalam waktu hanya sepuluh menit meskipun itu sangatlah mustahil.
.
Bella mulai memasuki pintu gereja dan berjalan di atas red carpet dengan menggamit tangan Chal.
Setiap langkah yang dia pijak, sebuah kenangan manis itu terbayang di benaknya. Di mana ketika dia memasuki pintu Cathedral ini, Tristan menjadi walinya. Sama seperti yang Chal lakukan saat ini. Dia berjalan begitu anggunnya dengan gaun putih terbalut indah di tubuhnya. Di belakangnya, Aleysia, Ken, Max dan Helena berjalan ikut mengiringi. Banyak tamu undangan dari pihak Alfred yang tercengang dan mulai berbisik-bisik bingung tidak mengerti. Menanyakan keberadaan Alfred itu sendiri yang tak juga terlihat.
"Sebenarnya Bella akan menikah dengan siapa?" gumam Nicky yang berada di samping Ramon. Hatinya cemas. Bukankah seharusnya saat Bella masuk, Alfred sudah berada di depan altar? Tapi kenapa pria lain yang berdiri di sana? "Di mana Alfred?" imbuhnya.
"Lho? Kenapa mempelai wanitanya sudah muncul? Lalu bagaimana dengan Alfred?" ujar tamu yang lain dari pihak Alfred.
Dan masih banyak lagi yang menanyakan keberadaan Alfred yang mereka tahu adalah sebagai mempelai prianya.
Langkah demi langkah membuat hati Bella semakin tersiksa. Ingin rasanya dia menangis sekeras mungkin. Seharusnya, ini yang terjadi ketika dia dan Alfred menikah. Seharusnya ini adalah hari yang dia tunggu-tunggu untuk menikah dengan pria itu dengan banyaknya tamu yang hadir.
'Al.. Di mana kamu?' batin Bella mulai menangis pilu. Mengingat setiap langkah yang dia laluidi dalam Cathedral ini memiliki banyak kenangan bersama dengan Alfred.
Anita sendiri tampak tersenyum bahagia di kursi paling depan, menantikan keponakan yang dia sayang dari dekat altar pernikahan. Begitupun juga Deana. Hanya saja, Deana bahagia bukan karena putra bungsunya yang akan menikah. Namun melihat Bella yang terlihat tersenyum bahagia menantikan hari ini akan terjadi.
"Kau sangat manis, Bella." Puji Deana sembari mengelus pipi Bella lembut ketika Bella sampai di altar pernikahan. Hingga tanpa sadar mata Deana telah meneteskan liquid bening dari pelupuk matanya karena terharu.
"Terimakasih bibi."
Chal lantas menyerahkan tangan keponakannya pada Edward untuk di tuntunnya ke dekat altar pengucap janji suci. Tepat di depan seorang pendeta pernikahan atau pastur. Seharusnya pastur itu sama dengan pendeta yang pernah menikahkannya saat itu. Tapi kali ini, pendeta itu berbeda.
"Edward, kak Al. Dia?" Lirih Bella mulai takut.
"Dia pasti datang." Sahut Edward tak kalah lirih.
Keduanya lalu menghadap ke arah seorang pendeta yang tersenyum kepada mereka.
Pendeta itu lalu memberi aba-aba untuk mempersilahkan para tamu undangan berdiri. Dan meminta para saksi mendampingi kedua mempelai.
"Edward Lincoln dan Bella Aberald yang berbahagia, saudara telah datang ke mari untuk merayakan Sakramen pernikahan di hadapan pejabat gereja dan disaksikan oleh umat beriman."
Para teman-teman Alfred sontak saja tertegun. Edward Lincoln? Apa-apaan semua ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi?
.
Liliana dan Tristan mulai mengendarai mobil yang mereka naiki dengan kecepatan penuh, Liliana tidak bisa membiarkan pernikahan mereka terjadi. Meskipun dia harus menjadi penyebab kekacauan nanti di dalam gereja, dia tidak peduli. Bella adalah sahabatnya, sekaligus adiknya. Dia telah berjanji untuk membantu gadis itu apapun yang terjadi. Jika dia tidak bisa menolongnya, lalu apa gunanya dia sebagai seorang sahabat dan seorang kakak?
"Kak Tristan, lebih cepat lagi."
"Okay!" Tristan menggeretakkan giginya semakin menambah kecepatan mobilnya.
Entah kenapa hari ini benar-benar membuatnya kerepotan dan sial. Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai-sampai di beberapa jalur mengalami kemacetan total.
Alfred terus saja berlari tanpa menghiraukan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh. Bahkan sekarang pakaiannya sudah tampak kusut karena terlalu banyak berlari. Nafasnya tersengal-sengal memburu.
"Bella, tunggu Kakak."
Tak jauh dari dirinya berlari, Yoana mulai muak dan bahkan sudah melepas wedges di kakinya untuk mempermudah dirinya berlari dengan tiga pria bersamanya yang tampak berharap-harap semakin panik.
"Semoga Tuhan memberkati dan meneguhkan saudara, agar saudara sanggup saling mencintai dengan setia dan menunaikan tanggung jawab sebagai suami istri."
'Kau di mana, brengsek!' Umpat Edward semakin tidak sabar.
Aleysia sudah panik menggamit lengan tangan Brandon semakin erat. "Kak Brandon, bagaimana ini?! Kenapa kak Alfred tidak muncul-muncul juga."
"Tenanglah Aleysia. Dia pasti datang. Bersabarlah."
"Sampai kapan?!" Brandon bungkam. Ia bahkan juga tidak tahu Alfred akan muncul atau tidak. Dia juga semakin was-was meski ekspresinya masih tampak terlihat begitu tenang.
"Maka sekarang saya minta, supaya saudara menyatakan maksud dan isi hati saudara dengan menjawab pertanyaan saya."
DEGG!!
Seketika semua orang yang tak mengharapkan pernikahan itu terjadi mendadak detak jantung mereka terhenti. Termasuk juga Bella yang mendadak menjadi tuli hingga telinganya berdengung nyaring.
'Kak Alfred!!' Teriak Bella di dalam hati. Bahkan setetes liquid bening kini jatuh dari pelupuk matanya. Rasa-rasanya ia ingin detik ini juga bumi terbelah dan menelannya hidup-hidup.
"Ckh! Kak Alfred, aku sudah memberimu jalan untuk segera masuk ke dalam sini. Aku harap kamu secepatnya datang." Gumam Aaron dari samping Benzo yang masih terlihat tenang menatap Bella prihatin.
'Shitt!! Di mana Alfred brengsek itu?!' Edward sejenak menatap Bella yang mematung dengan derai airmata. Pandangan si blonde kini terlihat begitu kosong.
Ketika mobil yang Tristan kendarai mulai berbelok arah, dari arah lain Alfred juga muncul. Liliana yang tidak sengaja melihat Alfred berlari dengan ekspresi kelelahan mengernyit. Apa dia tidak salah lihat? Saat matanya mengenal bahwa itu benar-benar Alfred, dia menepuk keras lengan Tristan.
"STOP, KAK! Itu kak Alfred!"
Jelas saja, Tristan mendadak menekan rem hingga tubuh mereka terpelanting ke depan. Dia tidak ada waktu untuk berdebat dengan Liliana dan segera mengalihkan pandangannya ke arah di mana Liliana menunjuk.
Benar saja, Alfred sedang berlari ke arah yang sama. Tentu saja, sudah jelas bahwa tujuan mereka juga sama. Tristan segera mendekati Alfred dan memberinya klakson.
"Kak Alfred!" Liliana berseru kencang.
"Lili? Kau.."
"Cepat masuk!" perintah Liliana. Rasa terkejut Alfred tidak begitu lama sebelum dia masuk ke dalam mobil Tristan.
Tidak butuh waktu lama untuk ketiganya sampai di depan gereja tempat pemberkatan pernikahan Bella di langsungkan. Dia kembali berlari untuk masuk ke dalam ruangan Cathedral yang begitu luas. Sejenak dia terhenti menumpu kedua tangannya di atas lutut hanya untuk mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
"Kak Alfred cepat masuk!!" Teriak Liliana tidak sabar dari belakang. Dan tanpa menghiraukan nafasnya yang sudah terputus-putus itu, Alfred langsung kembali berlari memasuki ruang utama gereja. Aneh fikirnya karena tak ada satupun penjaga di luar sana untuk berjaga-jaga. Ah, sudahlah. Bukan itu yang terpenting saat ini.
Ketika mendengar ikrar yang di ucapkan oleh pendeta di dalam sana, Alfred semakin mempercepat larinya dengan mulut komat-kamit berharap semua belum terlambat. Hingga...
"Edward Lincoln, adakah saudara meresmikan pernikahan ini sungguh dengan ikhlas hati?"
TAP TAP TAP..
"TUNGGU!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue...