Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Falling in Love?


__ADS_3

Alfred benar-benar terluka melihat betapa rapuhnya hati adik blondenya itu ketika saat menangis. Seumur hidup, ia bahkan tidak pernah ingin sekalipun membuat airmata Bella menetes turun ke pipi tembemnya itu. Meskipun itu hanya setetes saja. Jangankan membuat Bella menangis. Melihat Bella sedang menangis kesakitan seperti saat inipun dia tak sanggup. Mana bisa dia berbuat tega kepada orang yang ia cintai seumur hidupnya?


"Bella." Lirihnya.


Greepp!!


Tanpa pikir panjang lagi, Alfred langsung memutar bahu gadis itu untuk menghadapnya. Di hapusnya jejak airmata yang terus saja mengalirkan liquid bening itu lembut dan memeluk Bella posesif. Sejenak ia memejamkan matanya erat, seraya menghirup kuat-kuat aroma wangi shampoo rambut adiknya yang masih tercium wangi.


"Kakak.. Hiks, hiks, ja- hiks.. Hat!" Bella meraung menumpahkan semua uneg-uneg yang di pendamnya.


"Ssssttt.. Maafkan kakak, Bella. Kakak mohon padamu. Jangan menangis lagi." Alfred mengusap punggung Bella yang masih bergetar hebat dalam pelukannya.


'Ya Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup melihatnya seperti ini.' Batinnya nelangsa. Bahkan batinnya kini benar-benar tersiksa luar dalam. Ia berkali-kali mengecupi ubun-ubun kepala Bella penuh penyesalan. Menyalurkan rasa sayangnya yang begitu besar untuk gadis blonde itu. Berharap dengan perlakuannya itu bisa meredakan raungan tangis Bella yang semakin menjadi.


"Sakiitt kak!!" Suara Bella syarat akan ringikan kesakitan. Ia meremas kembali dadanya.


Alfred gelapan semakin khawatir. Ia menjauhkan tubuh Bella dari pelukannya. "Mana yang sakit Bella. Bilang sama kakak, bagian mana yang terasa sakit?" Alfred meraba-raba tubuh Bella. Mengecek semuanya bilamana ada luka di tubuh adiknya.


"Dada Bella yang sakit." Alfred mengernyit menghentikan aksinya. "Tapi gak berdarah kak. Kenapa ini bisa sakit?" Imbuhnya merajuk. Suaranya serak-serak sengau.


Untuk sesaat, pria itu sweatdrop menatap Bella. Aah.. Nyesek hati, ternyata. Ia terkekeh kecil. Lalu mengusap lembut pucuk kepala Bella. Di rengkuhnya kembali tubuh Bella yang masih setinggi 150 centi dan hanya sampai sedadanya.


"Tapi perih kak. Bella gak kuat." Bella kembali mengerang kesakitan dengan sesekali masih sesenggukan.


"Sekali lagi maafkan kakak ya, Bella. Kalau Kakak sudah menjadi kakak yang jahat buat Bella." Tukas Alfred lembut. Meskipun ia merasa tidak membuat kesalahan, tapi melihat adiknya seperti ini setelah melihat dirinya bersama dengan Helena tetap saja ia merasakan rasa bersalah.


"Kakak bohong!! Katanya kakak tidak punya pacar. Tapi apa? Ternyata kakak justru malah duduk berdua sama dia." Desis Bella meracau menggerutu kesal.


"Heh?!" Alfred tertegun seketika. "Apa yang kau katakan, Bella?" Apa yang barusan adiknya bicarakan? Pacar? Helena? Oh Tuhan!! Adiknya telah salah paham padanya.


"Hahaha.." tawa Alfred seketika meledak. Bella mengernyit tidak mengerti lantas mendongak mendapati kakaknya tengah tertawa lebar. Seketika ia merengut dengan bibir mengerucut. Ia mendengus kesal menjauhkan diri Alfred. Ia sebal karena kakaknya malah menertawakan dirinya.


"Kenapa tertawa?! Apa yang lucu?!" Bella menggembungkan pipinya kesal dengan wajah tertekuk masam. Dan itu semakin membuat Alfred semakin tertawa menjadi-jadi.


Apa adiknya sedang cemburu pada Helena? Bolehkan, dia berharap adiknya cemburu padanya?


"Astaga.." Gumam Alfred ringan. "Tidak Bella., bukan apa-apa. Kenapa kau lucu sekali. Huh?!" Alfred menoel dagu Bella lembut dengan tatapan teduh dari mata sayunya.


"Eh?!" Tiba-tiba pipi Bella memanas dan bersemu mendapati tatapan teduh dan sebuah kalimat yang tak terduga dari kakaknya. 'Aku lucu?' Batinnya. Namun yang ia pikirkan bukan kata-kata itu. Melainkan bagaimana makna dari kata itu yang di ucapkan.


Bagi Bella, mendengar Alfred mengatakan bahwa dia lucu adalah hal yang sudah biasa. Karena dari dirinya waktu masih kecil, Alfred sudah sering mengatakan kata-kata itu berulang kali. Namun kali ini berbeda rasanya ketika ia mendengar kata itu di ucapkan. Yaitu ketika Alfred mengatakan kata itu, tiba-tiba membuat seluruh tubuhnya membeku. Darahnya berdesir, wajahnya memanas hingga membuat pipi dan cuping telinganya memerah. Ada yang berbeda. Tapi apa? Itu yang selalu di pertanyakannya akhir-akhir ini.


"Dengar ya, kak. Bella tidak suka kakak dekat dengan wanita itu. Bukankah kakak sudah janji, tidak akan punya pacar sebelum aku punya pacar?" Celetuk Bella mengomel. Dan itu menohok hati Alfred seketika dalam waktu bersamaan. Bukan karena larangan Bella, namun lebih ke Bella yang berkata sampai adiknya itu mulai memiliki seorang kekasih.


Sebenarnya tak masalah kalau Bella memiliki seorang kekasih. Toh dia tidak berhak memiliki hati dan tubuh Bella. Ia bahkan rela hidup menyendiri seumur hidup asalkan selalu ada untuk Bella. Ia lantas tersenyum mencoba menguatkan hatinya dan mengangguk. Membuat Bella nyengir lebar merasa puas.


Tiba-tiba saja Bella berjinjit dan mencium pipi kakaknya sayang. Melihat memang sepi pengunjung, Bella tanpa ragu-ragu langsung mengecup bibir pria itu singkat. Tentu saja hal itu membuat Alfred seketika tersentak. Namun kali ini dia benar-benar tidak menyangka kalau Bella akan beriniatif memulai lebih dulu seperti yang tiap kali ia lakukan pada gadis blonde itu. Rasa sakitnya menguap dengan sendirinya tergantikan oleh rasa shock.


'Astaga!! Kakak macam apa aku ini Tuhan?! Maafkan aku telah mencemari otak polos adikku ini. Kak Thomas, kak Adelina, tolong maafkan aku.' Batinnya miris.


Bahkan Bella seakan menghayati apa yang baru saja ia lakukan dengan memejamkan matanya. 'Oh, Bella. Maafkan kakakmu ini yang seperti iblis bermuka malaikat.'


Tanpa mereka sadari, ada hati yang sedang remuk karena patah hati tak jauh dari mereka berdiri.


"Eemm.. Kak. Bella ingin kakak selalu di samping Bella selamanya." Kata Bella lembut dengan ekspresi malu setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Alfred dengan mata yang menyayu. Ia tersenyum berbinar. Sedangkan Alfred hanya bisa berkedip dengan tampang bodoh masih terlalu shock dan mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun meski begitu ia masih bisa mendengar adiknya bicara.


Bella mengusap pipi Alfred lembut setelah membenarkan letak kacamata pria itu yang sedikit miring. Dan kata selanjutnya dari Bella membuat otak Alfred tidak mampu bekerja kembali.


"Kakak, aku menyukaimu. Aku juga sayang sama kakak." Alfred dengan cepat langsung memeluk Bella posesif. Hingga membuat gadis itu hampir kehabisan oksigen. Andai saja kata itu bukan sekedar kata yang di ucapkan dari adik untuk kakaknya. Ia pasti sudah sangat bahagia dan beruntung saat ini.


"Kakak juga menyukaimu, Bella. Dan kakak menyayangimu sampai kapanpun." Balas Alfred namun dalam arti yang berbeda. Bella tertawa ringan merasa bahagia.


"Kakak, Bella.. Ti-dak bisa ber..nafas!! Huh!" Tukasnya susah payah. Sontak saja Alfred langsung melonggarkan pelukannya dari tubuh Bella. Pria itu menatap Bella dengan sorot mata lembut.


"Jangan pergi dari sekolah lagi, Bella. Ini sudah termasuk menyalahi aturan." Tegur Alfred setelah melepas pelukannya. Ia menatap bola sapphire adiknya itu lekat. Namun gadis itu tiba-tiba melengos, membuang wajah karena gugup.


"Aku tahu." Sahut Bella tanpa beban. Alfred menaikkan sebelah alisnya menuntut penjelasan. Bella melirik Alfred sekilas lalu mendesah berat. "Bella tahu Bella salah. Tapi bukan sepenuhnya salah Bella." Sungut Bella membela diri dari Alfred dengan ekspresi kesal.


Alfred berjengit bingung. "Bella pergi juga karena kakak." Imbuhnya.


"Huh?" Alfred cengo dengan jawaban yang di berikan gadis itu sebagai alasan yang tidak masuk akal menurutnya.


Alfred hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Lantas melirik sejenak arloji di tangannya. Sudah jam 2 siang. Ia beralih memperhatikan Bella yang tampak berantakan. Tidak mungkin Bella kembali ke sekolah dengan keadaan berantakan seperti sekarang. Mungkin sebaiknya dia ijin pulang untuk menemani adiknya hari ini dulu sampai Bella benar-benar merasa lebih baik.


"Tunggulah di sini dulu. Atau kau bisa ke restaurant itu dulu untuk mengisi perutmu." Bella menunduk menatap perutnya yang memang sedari tadi berisik minta jatah makan. Karena dia belum mengisi perutnya sedikitpun sejak istirahat tadi, dan naasnya kotak bentonya juga terjatuh ketika ia tak sengaja memergoki kakaknya sedang berduaan.


"Hehehe." Bella nyengir lebar memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.


"Kakak akan kembali ke sekolah dulu mengambil tas dan kendaraan kakak. Tidak masalah, kan?" Dan Bella mengangguk menyanggupi sebagai respon.


Alfred mengambil dompet dari saku celananya. Dia memberikan uang 20 dollar sebanyak lima lembar untuk adiknya dan mengusap surai blonde Bella lembut. He ria itu lalu mengantar Bella ke sebuah restaurant yang ia tunjuk tadi sampai gadis itu masuk ke dalam. Setelahnya ia berbalik pergi menuju ke Washington High School untuk mengambil barang-barangnya.


*********


"Lho, pak Alfred. Kenapa masih di sini? Bagaimana dengan adik anda?" Tanya salah satu staff kantor ruang guru yang berpapasan dengannya.


"Aku hanya ingin mengambil tas dan kendaraan yang tertinggal. Karena terburu-buru jadi lupa." Sahut Alfred apa adanya. Dan staff itu manggut-manggut mengerti. Pria itu lalu kembali berjalan menuju meja kerjanya. Membereskan berkas-berkas dan buku mengajarnya ke dalam tas.


Ia hendak beranjak pergi ketika wanita yang bernama Helena masuk dan menatapnya bingung. Bola mata mereka saling bertemu membuat wanita itu sedikit merasa canggung.


Perlahan Helena menghampiri Alfred dengan membawa ransel jingga juga tumpukan buku yang Alfred tebak adalah sebuah tugas siswa. Namun ia sedikit mengerutkan keningnya saat mata obsidiannya yang tajam melihat ransel yang di jinjing oleh wanita tersebut.

__ADS_1


Helena tersenyum tipis, paham. Lalu meletakkan tumpukan buku itu di atas meja kerja Alfred. Helena menyodorkan ransel jingga berbandul itu pada Alfred.


"Milik adikmu, bukan? Aku sedikit terkejut kalau adikmu ternyata bersekolah di sini. Dan lebih parahnya lagi aku tidak tahu." tukas wanita itu dengan suara bak alunan biola. Ia tersenyum hambar mengingat kebodohannya sendiri. Alfred hanya bergeming menerima tas milik adiknya dari tangan Helena.


"Jadi kau yang menggantikan aku mengajar?" Alfred bertanya dengan alis terangkat sebelah. Helena mengangguk masih dengan senyumnya memberi respon.


"Emmb.. Jadi, kau.. Menyukai adikmu sendiri, Alfred?" Tanya Helena hati-hati. Takut menyinggung perasaan pria itu. Karena secara tidak langsung sudah mengatakan kalau pria dingin di depannya adalah seorang ekhem.... Pedophile.


Alfred tidak menyangkalnya dan mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Helena tanpa merasa tersinggung. Sejenak mendesah hilang harapan.


"Oh.. Jadi benar begitu." Gumamnya nyaris tanpa suara.


Detik kemudian Helena menghela nafas lega dan tersenyum menatap Alfred ikut bahagia. Helena menyingkap rambutnya ke belakang telinganya gugup, "Ahaha.. Aku lupa kalau kalian bukan saudara kandung." Kekehnya kikuk.


Alfred hanya bergeming. Membuat suasana semakin canggung di antara mereka. "Sampaikan salam maafku untuknya ya, Alfred. aku tidak ingin dia salah paham padaku dan menganggapku jahat padanya." Tukas Helena tidak enak hati dan merasa bersalah.


Alfred tersenyum tipis tanpa terlihat jika dirinya sedang tersenyum. Benar-benar nyaris tak terlihat. Ia lalu kembali mengangguk. "Akan aku sampaikan."


"Satu lagi. Aku harap dia mau bertemu denganku lagi meski dia mungkin tidak mengenalku."


"Pasti."


Setelah pembicaraan dengan Helena usai, pria itu segera bergegas pergi menuju ke arah parkiran menghampiri motor miliknya. Ia menstarter motornya dan segera keluar dari gerbang sekolah untuk menjemput Bella yang masih berada di restaurant. Syukurlah Bella hari ini tidak membawa Sepedanya dan membonceng Edward ketika berangkat sekolah tadi pagi. Pikirnya.


.


.


.


**From : Ken


Kau dimana, Bella**?! 😬


Satu message singkat masuk ke dalam ponsel Bella. Ia lantas membaca pesan itu yang ternyata dari Ken. Ha-ah.. Ia bahkan melupakan sahabat pecinta anjing itu. Tapi selintas kemudian ia ingat pembicaraan dirinya dengan Ken beberapa jam yang lalu.


Apa benar yang di katakan oleh Ken kalau dia jatuh cinta pada kakaknya sendiri? Tidak, tidak, tidak, ia menggeleng keras membuat atensi pengunjung restaurant mengarah padanya dengan tatapan berbeda-beda. Antara heran, bingung, terpesona, semua jadi satu. Tapi sang empunya yang menjadi pusat perhatian justru cuek bebek tidak mengetahuinya.


Tidak mungkin dia jatuh cinta pada kakaknya sendiri, kan? Dia memang mencintai kakaknya itu. Namun hanya sebatas rasa cinta yang di berikan oleh seorang adik untuk sang kakak sendiri. Cepat-cepat Bella mengetik beberapa kalimat untuk meminta saran juga pendapat mengenai apa yang ia alami saat ini. Apa termasuk bisa di katakan dirinya positif memang memiliki perasaan untuk kakaknya itu.


**To : Ken


Apa kau bisa membantuku, Ken?


Bagaimana orang bisa di katakan sedang jatuh cinta**?


SEND


Tring!!


Buru-buru gadis itu membuka pesan yang baru saja di terimanya. Benar saja, itu dari orang yang di tunggunya. Ia menggeram kesal karena Ken membalas terlalu bertele-tele.


**From : Ken


Kesambet setan apa kau, tiba-tiba tanya itu?


Ah, apa karena kau penasaran dengan perasaanmu pada kakakmu sendiri, ya**? 😁


Kembali Bella mengetik cepat dengan ekspresi kesal membalas pesan Ken penuh penekanan.


**To : Ken


Jawab saja, Ken**!! 😠😬


Lima menit lebih tak ada balasan. Shit!! Apa Ken sedang mempermainkannya?


10 menit.


Dan tak ada tanda-tanda notice message masuk ke ponselnya. Membuat gadis itu semakin geram. Berdecak kesal, ia memilih mengabaikan ponselnya dengan layar yang sudah mati.


Bella kembali meminum jus jeruknya yang masih tersisa setengah. Hingga ponselnya kembali memberinya satu notice lagi. Kali ini mata sapphire Bella membelalak dengan mulut menganga tidak elitnya. Untung saja restaurant di sini terjamin kebersihannya. Jadi tidak mungkin ada lalat yang akan masuk ke guanya.


Bagaimana tidak melotot kalau melihat pesan yang di kirim oleh sahabatnya itu layaknya seperti sebuah artikel. Namun ia tetap membacanya dengan teliti.


Ia hendak membalas pesan Ken ketika Alfred telah tiba untuk menjemputnya. Kini ia benar-benar gugup ketika Alfred tersenyum ke arahnya. Bella menelan ludah kering.


'Kalau dia menatap ke arah kita, jantung kita akan terasa seperti mau copot. Jantung kita juga akan berdegup lebih cepat karena grogi saat berhadapan dengan dirinya'


Dan Bella membenarkan kata Ken di pesan yang ia terima. Ia menyadari satu fakta itu kali ini.


"Maafkan kakak Bella. Apa kau bosan karena menungguku terlalu lama? "


"Ah.. Haa.. Ti-tidak. Tidak apa-apa kak." Sahut Bella nyaris membuat suaranya bergetar saking groginya. Ia benar-benar bingung harus bertingkah seperti apa saat ini, ketika sedari tadi jantungnya tidak henti-hentinya terus berdetak cepat.


Ia mengumpati dirinya sendiri karena sikapnya kali ini. Gara-gara artikel Ken yang membuatnya tidak percaya. Kembali ia teringat pesan dari Ken yang lain.


'Kau akan salah tingkah dan bingung harus bersikap seperti apa di depan dia.'


Sial, kenapa aku jadi kepikiran pesan dari Ken, sih? Rutuknya nelangsa.


Alfred menyadari sesuatu, dia merasa heran karena tiba-tiba sikap adiknya jadi lebih canggung saat ini. Bahkan ia melihat kalau Bella sedang tidak menatap dirinya dan selalu menghindar darinya. Padahal biasanya gadis itu akan bertingkah blak-blakan di depannya. Di tatapnya wajah Bella lekat, mencoba mencari tahu apa yang salah dengan sikap adiknya hari ini.

__ADS_1


"Kau kenapa, Bella?" Tanya Alfred, sedikit khawatir.


Bella hanya menggeleng keras. Alfred semakin tambah bingung. "Kita keluar sekarang kak. Atau kakak mau makan dulu?" Elaknya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dan kali ini ia benar-benar gagal untuk menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Berkali-kali ia bergerak gelisah demi mengusir rasa groginya. Namun justru malah terlihat seperti orang yang sedang menahan buang air kecil. Sial.


"Tidak. Aku tidak lapar. Emb.. Mau pergi ke suatu tempat?" Jawab dan tawar Alfred.


"Kemana kak?"


Alfred menggendikkan bahunya tak tahu. "Terserah kau saja. Kakak akan menemani kamu hari ini."


Bella mencoba berfikir keras. Mencari tempat yang ingin ia kunjungi hari ini bersama kakaknya. Tanpa ia sadari, ia sudah bisa menormalkan kembali suasana canggung di antara mereka.


"Kemana saja Bella suka asal selalu sama kakak." Bella menjawab lantang nan berbinar senang. Alfred tertegun, sebelum dia tersenyum tipis.


"Baiklah. Kita pulang ganti baju lebih dulu."


"U-umb." Bella mengangguk setuju.


*******


Karena hari ini hari jumat, besok hari sabtu dan sekolahnya libur, Alfred berencana ingin membawa Bella kembali ke kota Wyoming. Sudah lama sekali ia tak berkunjung ke sana. Ia juga harus menjenguk makam Thomas juga Adelina. Mengenalkan Bella pada mereka meski dirinya memang sudah pernah bercerita tentang kedua orangtuanya.


"Bella, bawa beberapa baju ganti. Kita akan menginap nanti." Seru Alfred tak jauh dari tempat Bella yang masih menyiapkan ranselnya.


"Apa harus?"


"Tentu saja." "Baiklah." Jawabnya, pasrah.


Bella memakai setelan celana jeans hitam, kaos navy polos dan jacket rompi pink dengan kupluk di bagian belakangnya. Ia memakai wristband hitam di pergelangan tangan kanannya dengan lambang 'Nike' di tengah. Surai blonde panjangnya ia biarkan saja. Menambah kesan dewasa. Meskipun ia terlihat lebih menggoda di mata pria itu.


Diam-diam Bella berusaha mencuri pandang ke arah Alfred yang mengenakan celana jean's hitam juga kaos tanpa lengan yang pas di tubuhnya. Tidak terlalu ketat, juga tidak terlalu longgar. Bella meneguk ludahnya dengan salah tingkah. Hingga tanpa ia sadari, ia menyentuh sebuah jam beaker tak jauh dari tangannya hingga membuat jam itu terjatuh.


Praak!!


DAMN!! Umpat Bella pada dirinya sendiri yang ceroboh. Cepet-cepat Bella mengambil jam itu ketika Alfred menoleh ke arahnya khawatir.


"Ehe.he.. Jamnya jatuh, kak. He.he." kekeh gadis itu kikuk. Bahkan senyumannya terkesan di paksakan.


Alfred terkekeh pelan melihat tingkah adiknya yang akhir-akhir ini berbeda. Lebih ceroboh lebih tepatnya. Setelah Alfred kembali pada kegiatannya, Bella kembali melirik hati-hati pria itu. Ia menghembuskan nafas lega saat di rasa kakaknya itu tidak melihatnya lagi. Ternyata sedari tadi ia menahan nafasnya karena saking gugupnya. Hingga ia lupa pasokan oksigennya mulai menipis.


'Huft..! Aman.' Gumamnya dalam hati. Dan ia lagi-lagi teringat kata-kata Ken yang mengatakan...


'Kita Suka curi-curi pandang ke arah Dia dan ketika ketahuan, kita tidak sadar suka mempermalukan diri sendiri.'


Kembali Bella mendesah frustasi karena di buat kalang kabut oleh pesan Ken yang panjangnya mengalahkan rel kereta api. Dan kalimat itu hampir benar. Jika saja ia tidak ceroboh menjatuhkan jam, mungkin dia bisa menyangkal pesan itu meski dia mengakui dia memang suka curi-curi pandang kakaknya.


Alfred memakai kemeja abu-abu terang yang tidak ia kancingkan. Ia menyisingkan lengannya hingga ke siku.


"Sudah siap, Bella?" Seru Alfred, menjinjing ranselnya yang terlihat tak berisi.


Bella tersentak lalu mendongak menoleh Alfred. Dan tiba-tiba,


BLUSH..!!


Kedua pipi putihnya seketika memblushing sempurna ketika di lihatnya penampilan kakaknya yang macho dan juga berkharisma. Sebenarnya biasa saja, namun entah mengapa Bella menganggap penampilan Alfred kali ini benar-benar membuat wajahnya jadi seperti kepiting rebus.


"I-iya kak. Aku sudah siap." Jawabnya terbata-bata.


"Baiklah! Kita berangkat sekarang."


"Okay." seru Bella tanpa mengalihkan sapphire miliknya dari penampilan kakaknya itu.


Bella merasa kalau dia melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri Alfred yang menarik perhatiannya. Hingga ia tergerak untuk menelusuri sesuatu yang berbeda itu dari diri kakaknya itu.


Alfred memberikan helmet pada Bella dan memakaikannya. Gadis itu bahkan masih menatap Alfred tanpa berkedip. Alfred mengernyit.


"Ada apa, Bella?"


Bella menggeleng sembari tersenyum. "Tidak. Tidak ada. Hanya... Aku merasa beruntung memiliki kakak sepertimu."


Alfred terhenyak. Tidak percaya jika Bella bisa mengatakan hal yang sedewasa ini di usianya yang sebentar lagi beranjak 14 tahun.


Alfred tersenyum tipis, berbalik dan mengendarai sepeda motornya, "Terimakasih, Bella. Kakak juga beruntung memiliki kamu." balas Alfred.


"baiklah. Kita berangkat kak." Seru Bella menyadarkan Alfred. Dan terlihatlah Bella yang sudah nangkring di jok belakang motornya. Alfred tersenyum menanggapi. Dan menstarter motornya.


Bella merasa ada sesuatu yang menggelitik dari dalam dirinya ketika matanya tersaji punggung milik Alfred yang kokoh. Turun ke bawah, dan ke bawah hingga pada pinggang pria itu. Entah sadar atau tidak, kedua tangannya dengan sendirinya mulai melingkar di depan perut Alfred dan mengejutkan pria itu. Namun sedetik kemudian pria itu kembali tersenyum penuh arti.


Bella membenamkan wajahnya pada punggung kakaknya. Di hirupnya dengan rakus aroma woody, spicy, dan earthy yang mengeluarkan nuansa hangat, fresh, dan sensual dari tubuh Alfred. Perpaduan berbagai unsur alam yang menyatu dalam parfum yang di kenakan oleh pria itu sungguh menghasilkan aroma yang luar biasa menenangkan gadis itu. Pantas saja aromanya sungguh menenangkan, orang yang di dekat kakak pasti langsung menyukainya. Pikirnya.


'Mungkin inilah saatnya aku memberitahu Bella yang sebenarnya.'


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2