Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Sebuah Fakta Dan Ikrar Suci


__ADS_3

Before stories...


"Edward Lincoln, adakah saudara meresmikan pernikahan ini sungguh dengan ikhlas hati?"


TAP TAP TAP..


"TUNGGU!!!"


.


Seluruh atensi para tamu undangan yang hadir di gereja itu kini berbalik menatap kehadiran sosok pria berpakaian sudah tak berbentuk di dekat pintu masuk gereja itu bingung. Terutama Anita yang tampak begitu terkejut dengan kehadiran Alfred yang tidak di harapkannya. Dan di tambah dua tamu yang baru saja hadir di belakang Alfred.


"Tersusul juga." gumam Roy yang memiliki tubuh yang gemuk. Dia orang yang paling menderita karena berat tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk berlari cepat.


"Haha... Kau memang harus mulai melakukan program diet, Roy. Celetuk pria lainnya."


"Bagaimana bisa?" Pikir Anita ketika melihat empat tamu yang menyusul di mana dua orang di sana cukup di kenalinya. Anita merasa tidak mengerti dengan apa yang kini sedang terjadi. Sementara yang dia ingat, dia sudah mengerahkan seluruh penjaga untuk menghentikan Alfred dan keluarganya bila sewaktu-waktu pria itu datang untuk merusak pernikahan keponakannya itu. Tapi sekarang... Di mana para penjaga itu? Kenapa tidak ada yang muncul satupun dari mereka untuk menghentikan pria itu?


"Bagaimana kalian bisa masuk dengan mudah sementara aku sudah menyuruh penjaga untuk mengusir kalian?!" Seru Anita berteriak lantang seraya berjalan mendekati Alfred diikuti oleh Chal juga Deana dan Bryan.


"Hmm. Bagaimana... Tapi maaf Bibi. Aku sama sekali tidak melihat satupun penjaga di luar sana." Sontak saja ucapan Alfred membuat Anita terbelalak terkejut.


Bagaimana bisa? Kembali pertanyaan itu di layangkan oleh otaknya.


"Maafkan saya Nyonya. Saya harus meringkus sementara penjaga anda demi teman saya." Seru suara yang datang secara tiba-tiba di antara mereka.


'Benzo?' Batin Alfred tidak menyangka. Anita mendelik tak suka dengan jawaban dari Benzo yang kini telah berdiri di samping Alfred.


"Siapa kamu berani-beraninya meringkus penjaga saya, huh?!" Sungut Anita nyolot. Memandang benci ke arah Benzo.


Tanpa berkata-kata Benzo langsung memperlihatkan sebuah lencana yang menyatakan bahwa dia adalah seorang Mayjend. Dan itu mampu membuat mulut Anita terbuka tidak percaya.


Bagaimana bisa? Bukankah Benzo adalah salah satu orang-orangnya? Kenapa bisa menjadi seorang perwira?


"Aku datang bukan hanya karena sebagai teman baik Alfred Frederick, melainkan juga karena sebuah perintah dari atasan saya yang termasuk salah satu teman baik dari Alfred Frederick sendiri untuk membantunya atas permintaan dari Tuan Roy selaku pengacara yang melindungi Alfred secara hukum, Nyonya." Jelas Benzo pada akhirnya.


"Dan kami kemari ingin menggagalkan pernikahan ini karena pernikahan ini tidak sah, Anita." Yoana mulai angkat bicara. Ikut menyerang Anita.


"Tidak bisa. Pernikahan ini sah karena Edward dan Bella itu saling mencintai." Pekik Anita tidak mau kalah. Namun Yoana justru mendecih lantas menyeringai bengis. Menertawakan keegoisan dan kekeras kepalaan Anita saat ini.


"Maaf bibi Anita, aku menolak pernikahan ini." Edward pada akhirnya mengaku. Dan itu membuat Anita membeku menatap Edward kecewa. "Sejak awal aku tidak pernah mau menerima pernikahan ini." Imbuhnya.


Deana terkejut menatap putranya tidak percaya. Ia kira selama ini putra bungsunya itu benar-benar menerima perjodohan ini. Namun ternyata tidak.


Anita benar-benar terpojok sekarang. Bahkan ketika ia menatap suaminya Chal, ia sadar. Suaminya tidak memihak kepadanya. Wanita itu berputar, menatap satu persatu orang-orang yang ada di dalam ruangan gereja ini. Tidak. Tidak ada satupun pandangan yang memihak kepadanya.


"Dengar! Aku tidak akan menyerahkan Bella kepada Alfred ataupun kepada kalian berdua, Nyonya." Anita menggeram memberi keputusan. Tapi Yoana memandang acuh Anita penuh kebencian.


"Silahkan saja kau membela diri seperti apa, Anita. Tapi kau bisa dengarkan terlebih dahulu surat wasiat yang sudah di buat oleh anakku dan juga Adelina adikmu." Satu lontaran dari Yoana berhasil memukul telak kembali harga diri Anita. Membuat wanita dari keluarga Lee itu kini mulai bungkam.


"Tuan Roy, silahkan kau bacakan surat wasiat putraku tentang Bella dan juga Alfred." Perintah Yoana angkuh.


Roy mengangguk lantas mengambil sesuatu di dalam koper yang sedari tadi di jinjingnya. Untung saja koper itu hampir seperti sebuah brangkas yang memakai sandi pengaman. Kalau tidak, mungkin saat berlari menuju ke gereja tadi semua berkas-berkas penting itu sudah bertebaran kemana-mana. Sebuah amplop coklat di ambil isinya. Ia berdehem sejenak sebelum bersuara.


"Baik. Saya Roy Robertson, selaku pengacara dan notaris dari saudara Thomas Aberald bersama dengan istrinya Adelina Lee. Akan membacakan surat wasiat yang seharusnya saya bacakan ketika Bella Aberald berusia 17 tahun." Sejenak Roy menghela nafas. Menjeda ucapannya. "Berhubung keduanya sudah sama-sama dewasa, sudah sepantasnya mereka tahu isi dari surat wasiat yang sudah di buat dan di tanda tangani oleh saudara Thomas dan juga saudari Adelina."


Bella melirik Alfred seolah ingin tahu. Apakah ini bagian dari rencana kakaknya atau bukan. Namun Alfred yang juga tengah menatapnya menggendikkan bahu tidak tahu.


"Isi surat wasiat tersebut yaitu, Pada hari ini, Selasa tanggal 05 April 1997 bertempat di kota Wyoming. Saya yang bertanda tangan di bawah ini. Nama, Thomas Aberald. Alamat, prefektur A No. 24 desa Gardenia. Dengan sadar dan tanpa ada paksaan membuat Pernyataan Surat Wasiat Harta Saya, kepada anak dan adik angkat saya. Bersama ini menerangkan hal-hal sebagai berikut." Roy menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum kembali melanjutkan.


"Satu. Bahwa, saya adalah pemilik yang sah atas harta kekayaan di bawah ini, Sebuah Tanah Hak Milik dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 234/xxxx atas nama Thomas Aberald yang bertempat di jalan prefektur A No. 24, Gardenia, Wyoming. Dua, bahwa harta kekayaan saya tersebut sebagaimana dimaksud dalam angka 1 di atas, pada saat ini tidak sedang terlibat dalam sengketa hukum apapun. Tidak sedang dijadikan jaminan jenis hutang apapun, dan tidak sedang berada dalam penyitaan pihak Bank dan Instansi manapun. Tiga. Bahwa, saya bermaksud untuk mewasiatkan harta kekayaan saya tersebut sebagaimana dimaksud angka 1 di atas kepada Bella Aberald, anak kandung saya dan Alfred Arshavin Frederick adik angkat saya." Tutup Roy sejenak menatap Anita yang mulai cemas prihatin.


"Empat. Saya bersama istri saya, Adelina Lee. Bermaksud menjodohkan adik angkat saya bernama Alfred Arshavin Frederick dengan anak saya Bella Aberald apabila keduanya memiliki perasaan satu sama lain tanpa paksaan dari kami. Bila mana memang keduanya saling mencintai, kami sebagai kedua orangtua dari Bella Aberald merestui keduanya. Dan tidak bisa di ganggu gugat oleh pihak manapun. Baik itu pihak luar maupun keluarga sendiri."


"Tidak mungkin." Gumam Anita tidak terima. Bahkan ia sudah hampir pingsan mendengar surat wasiat yang baginya mustahil. Namun sebisa mungkin Chal sebagai suaminya menenangkan diri Anita.


"Berdasarkan surat wasiat ini, dan nama-nama serta bagiannya masing-masing, sebagaimana yang akan saya nyatakan di bawah ini. Agar mampu melaksanakan wasiat di atas, maka dengan ini saya mengangkat Bella Aberald anak saya dan Alfred Arshavin Frederick adik angkat saya sebagai pelaksana surat wasiat ini. Kepadanya saya berikan semua hak dan kekuasaan yang menurut undang-undang diberikan kepada pelaksana wasiat, terutama hak untuk memegang dan mengurus serta menguasai semua harta peninggalan saya, sampai kepadanya diberikan pengesahan dan pembebasan sama sekali." Roy menjeda kembali hanya untuk mengambil nafas dalam-dalam.


"Untuk melaksanakan surat ini, saya menitipkan surat wasiat ini kepada notaris Roy Robertson, S.H., Notaris di desa Gardenia yang saya kenal baik. Dan kepadanya saya telah meminta dibuatkan akta penitipan atas surat wasiat ini. Demikianlah surat wasiat ini saya buat, dengan disaksikan oleh saksi-saksi yang saya percaya. Jerry Watson, selaku tetua desa. Dan Louis Zachary, S.H. selaku petugas notaris. Yang berwasiat bertanda tangan di bawah materai, Thomas Aberald." tutup Roy.


"Sudah dengar?" Seru Yoana sinis tepat di depan Anita. "Bella adalah milik Alfred. Dan mereka sama-sama saling mencintai. Kau tidak bisa memisahkan mereka sementara adikmu sendiri telah lama merestui mereka. Jauh sebelum mereka meninggal, Anita." Yoana merasa jauh di atas angin setelah mendengar isi wasiat tersebut. Meski memang tidak di sebutkan hak asuh jatuh ke tangan Alfred, namun sudah jelas baginya bila keduanya saling mencintai itu berarti mereka tidak bisa di pisahkan. Dan itu juga berarti Bella akan tinggal di manapun Alfred nantinya tinggal.


"Bahkan aku sebagai neneknya tidak ada hak untuk ikut campur hubungan mereka." imbuh Yoana tidak bisa menyangkal.


"Chal, katakan padaku kalau semua itu adalah bohong, kan?! Itu semua bohong, kan Chal?! Jawab!!" Anita meraung frustasi di depan suaminya yang hanya bisa bungkam seraya memukul-mukul dada bidang suaminya. Lagipula, Chal tak berniat untuk membela istrinya yang sudah keterlaluan. "Jawab aku Chal... Hiks.. Ku mohon." Anita terus saja memukul dada suaminya hingga tubuh wanita itu merosot tak berdaya. Menangis meraung memohon pada suaminya sebuah pembelaan.


Ashley bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Mau melawan, ini sudah menyangkut hukum. Dan Bella juga Alfred sudah di lindungi oleh hukum itu sendiri.


Aleysia jelas bahagia untuk Bella. Tapi melihat ibunya seperti saat ini membuatnya tidak tega untuk melihat kondisi Anita itu. Anita tidak sepenuhnya bisa di salahkan mengingat begitu sayangnya Anita terhadap Bella. Mungkin karena rasa takut kehilangan itulah yang membuat ibunya nekad melakukan hal semacam ini terhadap Bella.


Menjodohkan Bella dengan pria yang lebih mampu di banding bersama seorang anak yang tidak tahu asal usulnya semacam Alfred meski sudah di angkat sebagai adik maupun anak angkat keluarga mampu.


Mungkin mengingatkan pada adiknya Adelina Lee yang juga mendapatkan seorang laki-laki yang tidak di ketahui asal usulnya. Laki-laki yang hidup dari hasil mengamen menjadi musisi hingga beralih profesi menjadi guru. Meski tiap malamnya menambah uang tabungan kehidupan dengan cara manggung di club malam dan menjadi guru private. Sungguh ironis memang. Membiarkan sang adik tercinta yang biasa hidup mewah harus menikah dengan pria yang tidak jelas seluk beluknya. Bahkan memiliki seorang adik angkat yang di pungut dari jalanan karena mencuri di sebabkan lantaran kelaparan.


"Apa salahku?! Apa salah jika aku ingin keponakanku menikah dengan orang yang jelas asal usulnya, Chal? Aku tidak mau kalau sampai kejadian adikku terulang dan menimpanya." Raung Anita memeluk kaki Chal.


Cukup! Chal tidak tahan melihat istrinya tersiksa seperti ini apalagi di saksikan oleh orang banyak. Ia lantas berjongkok untuk memeluk dan menghibur sang istri.


"Ssstt.. Anita, dengar. Kau tidak salah jika menginginkan yang terbaik untuk Bella. Kamu tidak salah, sayang." Ujar Chal mendekap erat namun penuh kehangatan pada tubuh sang istri yang bergetar.


Bella sendiri tidak tega bila harus melihat bibinya setertekan ini. Ia bahkan tidak bisa membenci bibinya padahal bibinya sudah berlaku kasar kepadanya. Ia lalu ikut berjongkok meskipun sedikit kesusahan karena perutnya yang memang sudah mulai membuncit.

__ADS_1


Bella mengusap lembut surai milik Anita. Hal itu membuat tubuh Anita tersentak menoleh ke arah Bella yang kini melempar senyum kepadanya.


"Bella mengerti ketakutan bibi. Tapi bibi. Kalau bibi bersikap seperti ini kepada Bella, itu justru akan membuat Bella semakin membenci bibi." Anita menundukkan pandangannya dalam. Tidak berani menatap wajah Bella sedikitpun. "Kalau boleh Bella jujur, sebenarnya Bella sangat membencimu, bi."


Anita kembali tersentak hingga tubuhnya membeku. "Tapi, jika Bella membenci bibi, itu berarti Bella sama saja dan tidak ada bedanya denganmu. Sama-sama menjadi orang yang membenci sesuatu yang belum tentu itu buruk." Lanjut Bella.


"Kak Alfred pernah berkata, membenci bukanlah satu-satunya cara kita bisa melepas rasa kecewa pada seseorang yang telah menyakiti hati kita. Justru itu akan membentuk suatu perasaan ingin membalas dendam yang berujung pada penderitaan mental. Dan pada akhirnya, bukan ketenangan batin yang di dapat karena sudah membalas rasa sakit hati kita yang di sebabkan oleh kebencian itu sendiri. Melainkan akan tumbuh kebencian-kebencian lain dan itu tak akan ada ujung penyelesaiannya, bila kita sendiri tidak berusaha melepas rantai kebencian di dalam hati kita."


Semua orang tertegun dengan ungkapan Bella. Mereka tidak menyangka bila Bella yang ter-dzolimi saja mampu memaafkan perbuatan bibinya yang telah berlaku kasar kepadanya. Terbuat dari apa hati wanita itu sesungguhnya? Bagaimana bisa orang yang sudah di perlakukan kasar masih saja bisa memaafkan tanpa meminta imbalan ataupun balasan apapun.


Terutama Alfred yang bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali mengajari Bella tentang pelajaran hidup untuk tidak memiliki perasaan benci pada seseorang. Di manapun, kapanpun, dan pada siapun itu.


"Jujur saja, Bella sangat bahagia ketika kalianㅡ bibi Anita, paman Chal, Aleysia, kak Ashleyㅡ" Bella menatap satu persatu anggota keluarganya dengan cengiran khasnya. "Serta nenek dan kakek datang satu persatu untuk mencari Bella dan juga kak Alfred. Itu berarti kami berdua hidup tak sendirian, bibi. Masih ada kalian untuk kami. Itu juga berarti, rencana resepsi pernikahan Bella bersama dengan kak Alfred akan sangat lengkap dengan adanya kalian di sekeliling kami." Papar Bella ceria. Anita menatap Bella tidak percaya. Bella yang selama ini ia kasari justru berbuat sebaik ini padanya.


"Bella, kau- benarkah?"


"Ya, bibi. Bella sama sekali tidak membencimu." Dengan hati-hati Bella memeluk bibinya lembut. Menyalurkan rasa bahagianya karena telah memiliki bibi yang hebat seperti Anita. "Bella bersyukur masih memilikimu, bibi."


"Maafkan bibi, sayang. Maaf." Anita kembali menangis di dalam pelukan Bella. Membuat si blonde bisa merasakan tetesan airmata bibinya yang jatuh ke punggungnya.


"Jangan menangis bibi." Anita mengangguk mantap seraya mengusap airmatanya di bantu oleh Bella.


"Jadi, apakah mommy sudah mau merestui hubungan kak Alfred dengan Bella?" Pekik Aleysia menyela.


Bella meringis menggigit bibir bawahnya deg-degan. Kala Anita menatapnya begitu intens. Membuat Bella harus menundukkan pandangannya takut untuk tahu jawabannya.


"Dia harus bisa merestui hubungan cucuku dengan Alfred jika tidak mau ku jebloskan ke dalam sel!" Yoana berseru memberi ancaman kepada Anita. Hingga Hans hanya bisa menghela nafas pasrah saja.


"Tentu saja." ujar Anita tanpa beban.


"Huh?!" Bella melongo mendengar dua kata yang tidak jelas keluar dari bibir Anita. Begitu juga yang lainnya. Yang mengernyit tak paham dengan ucapan ambigu Anita.


"Katakan dengan jelas, mommy." Tuntut Aleysia geregetan.


Anita berdecak tak berdaya seraya mendengus putus asa. "Tentu saja aku akan merestui mereka."


"Aaahh.. Syukurlah, akhirnya." Desis seluruh tamu bernafas lega. Dengan begini masalah sudah di selesaikan tanpa adanya percekcokan lagi.


"A-apa ini benar, bi?" Anita mengangguk tersenyum hangat kepada Bella yang masih menatapnya tidak percaya.


"Kakak. Apa kamu dengar?" Bella mendongak menatap Alfred berbinar bahagia. Sontak saja Alfred ikut merasa bahagia dengan apa yang tengah di rasakan oleh Bella. Pria itu mengangguk memberi respon.


"Ya Bella, aku mendengarnya."


Dan detik kemudian Bella bangkit berdiri dan langsung menerjang Alfred. Melingkarkan kedua tangannya pada leher Alfred dan melompat tinggi. Hal itu menyebabkan Alfred harus ekstra kuat menahan tubuh Bella yang mengapung di udara dan pria itu berputar mendongak menatap wajah ceria Bella. Bahkan Bella melupakan fakta kalau ia tengah mengandung dan usia kandungannya masih sangat riskan bisa mengalami keguguran. 


Semua tamu undangan ikut bahagia menyaksikan bersatunya kembali dua sejoli yang di pisahkan secara paksa itu. Terutama teman-teman dari Alfred dan juga Bella. Edward tidak sedikitpun merasa sedih maupun kecewa. Karena memang ini bagian dari rencananya.


"Tunggu, bisakah ada yang menjelaskan padaku siapa yang sudah mengirimiku paket kemarin?" Alfred berseru ketika ingat ia masih penasaran dengan sosok misterius yang selama ini mengirimi pesan ke ponselnya. Dan semuanya mengernyit bingung tak paham dengan maksud Alfred. Hingga membuat seluruh tamu hanya saling pandang mencari pelaku yang di maksud oleh Alfred.


"Edward?" Lirih Brandon. Begitu juga Gavyn dan Helena. Yang terhenyak menatap Edward tidak menyangka.


"Ya, itu aku. Semua itu rencanaku untuk membatalkan pernikahan ini. Dan menyelamatkan Bella dari bibi Anita. Aku hanya tidak mau menikah dengan orang yang tak mencintaiku sama sekali." Ungkap Edward lebih jelasnya.


Diam-diam tanpa sadar Bryan tersenyum sangat tipis. Ia merasa bangga dengan keputusan putra bungsunya yang semakin matang dan dewasa. Begitu juga Deana yang sudah menangis karena terharu juga bangga melihat Edward telah tumbuh menjadi pria yang semakin dewasa.


"Dan, aku juga sengaja memesan undangan dengan cetakan yang sama dengan undangan yang di buat bibi Anita. Hanya saja, nama yang tertera di dalamnya adalah namamu yang kemudian undangan itu aku sebar ke beberapa teman-temanmu dengan bantuan Brandon." Ungkapnya lagi.


"Jadi itu sebabnya aku tidak boleh melihat undangan yang kau sebar secara tiba-tiba itu?" Protes Brandon.


"Hm, begitulah."


"Dasar, adik bodoh." Umpatnya tak habis pikir.


"Edward." Bella menatap Edward terharu. Ia tidak menyangka sahabatnya bisa segila ini hanya untuk membuatnya kembali pada kakaknya. Berapa banyak dan betapa besar pengorbanan dan juga bantuan yang di berikan oleh Edward untuknya selama ini? Bahkan keluarga besar Edward mulai dari ibunya, Deana. Ayahnya Bryan, dan kakaknya, Brandon juga berperan sangat banyak dalam membantu dirinya dan kakaknya Alfred selama mereka masih kecil.


Alfred merasa aneh dan juga masih merasa belum bisa mengenal Edward dengan sangat baik. Mengingat kembali ketika dulu saat Bella dan pemuda itu beranjak menjadi remaja bahkan ia sendiri di jadikan rival bagi Edward secara sepihak untuk mendapatkan hati adiknya. Edward membencinya karena Bella lebih memilih bersama dirinya daripada bersama pemuda itu. Lucu memang, bersaing dengan anak kecil hanya untuk sebuah cinta. Tanpa sadar Alfred terkekeh teringat masa lalunya.


Edward berjalan mendekati Alfred dengan wajah stoic andalannya. Berhenti tepat di depannya, menatap satu sama lain sejenak sebelum Edward bersuara.


"Ku harap kau mampu menjaganya. Kalau tidak, aku akan mengambil Bella dengan atau tanpa cinta darinya untukku." Bella terkekeh haru dengan airmata menetes dari pelupuknya. Benar-benar Edward yang posesif.


**********


Dan pada akhirnya pernikahan itu tetap berlangsung. Tanpa ada yang berubah sama sekali. Eitzz... Bukan itu yang ku maksud.


Setelah sebelumnya Edward menjelaskan segalanya, di mana di buku nikah itu ternyata telah tercatat nama Alfred dan Bella. Dimana sebelumnya Edward itu mencoba meminta pihak pendeta untuk mengganti namanya dengan nama Alfred Arshavin Frederick. Meskipun sulit, namun dengan berbagai macam cara pada akhirnya berhasil. Apalagi ia juga yang telah menyebarkan undangan dengan nama calon pengantin itu sendiri adalah Alfred dan Bella.


Soal kue pernikahan? Setelah Anita sebelumnya memesan dengan menuliskan namanya, Edward lantas bergegas meminta petugas toko roti untuk mengganti nama mempelai pria. Dan mengirimkan kue tar itu tepat sesuai waktu yang sudah di aturnya sedemikian rupa. Bagaimana? Pernikahan tentu saja tetap berjalan, bukan? Meskipun di depan altar mempelai prianya telah berganti orang dengan yang seharusnya.


Dan Edward duduk tepat di samping Ashley. Menantikan prosesi pernikahan yang di ulang kembali dari awal.


"Apa kau tidak patah hati, huh?!" Celetuk Ashley berbisik lirih namun masih bisa di dengar oleh Edward yang melirik Ashley sambil bertopang dagu.


"Tidak." Jawab Edward singkat tanpa ekspresi.


'Itu lebih baik daripada dua huruf absurd nya.' Ashley tersenyum puas. Dan itu tidak luput dari penglihatan Edward.


"Kenapa tersenyum?"


"Huh?! Apa kau bilang?!" Pekik Ashley gugup. Bahkan kedua bola matanya bergerak gelisah karena telah tertangkap basah tengah tersenyum. "S-siapa juga yang tersenyum. Matamu buta, ya?!" Ok, Ashley salah ngomong. Dengan bibir bergetar gugup. Hal itu menyebabkan Edward menaikkan sebelah alisnya menatap Ashley layaknya makhluk aneh.

__ADS_1


"Aaaa.. Sudahlah! Kau membuatku muak!" Seru Ashley memilih melengos. Namun diam-diam masih berusaha mencuri pandang ke arah Edward yang menggendikkan bahunya acuh tanpa menatapnya lagi sama sekali. Sontak Ashley menyesal sudah membentak Edward.


'Apa?! Menyesal? Tidak mungkin. Pada si pria alien ini?! NO WAY!!" jerit batin Ashley tak mau mengakui.


Dan lagi-lagi, sikapnya itu tertangkap lagi oleh mata tajam Edward dengan tatapan bingung dan juga geli. Ashley spontan berteriak nyaring. Sontak saja ia langsung menjadi pusat perhatian para tamu undangan.


"Apa lihat-lihat?!!" Edward berjengit semakin menatap wanita di sampingnya itu heran dengan alis menaut bingung. Sebenarnya ada apa dengan Ashley? Apa dia memiliki kepribadian ganda?


Memilih acuh, Edward menggendikkan bahunya kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


'Ok, Ashley. Kau benar-benar tsundere di depan Edward. Ha-ah...' Batin Ashley nelangsa.


Semua hadirin kemudian berdiri ketika mendapat aba-aba dari pendeta untuk berdiri. Bella dan Alfred, lalu wali mempelai, Hans dan Yoana dari pihak Alfred, Chal dan Anita pihak Bella, lantas ada saksi, dan para pengiringnya menunggu di pintu masuk gereja sementara pendeta dan para pembantunya menyambut mereka. Pendeta itu memberi salam sambil berkata,


"Selamat datang, saudara sekalian. Semoga rahmat, damai sejahtera dan Kasih Tuhan melimpahi kita sekalian."


"Sekarang dan selama-lamanya." Semua hadirin menimpali.


Wakil Orangtua dari Bella yang di serahkan pada Chal itu lalu menyerahkan kedua calon mempelai, Bella dan Alfred kepada Pendeta dan memohon agar pendeta berkenan meresmikan dan meneguhkan mereka berdua dalam sebuah sakramen pernikahan dan di akhiri dengan ucapan terima kasih dari Chal.


"Dengan penuh rasa syukur dan hati gembira, saya menerima kedua calon mempelai serta dengan senang hati memenuhi permintaan Saudara untuk meresmikan pernikahan ini. Semoga kedua mempelai dianugerahi rahmat dan berkat Tuhan. Semoga kalian berdua diberkati dan dilindungi oleh Tuhan yang mahakuasa, diterangi dengan sinar kasih-Nya, dilimpahi dengan rahmat-Nya, agar pantas menghadapi peristiwa yang suci ini."


Pendeta, kedua mempelai, wali pengganti orangtua, Hans dan Yoana dari pihak Alfred, Chal serta Anita dari pihak Bella dan saksi memasuki gereja diiringi lagu ”This Wonderful Day”—Di depan altar kedua mempelai duduk di tempat yang telah disediakan. Bella di sebelah kanan Alfred. Dan Alfred di sebelah kiri Bella.


Pernikahan kedua mereka ini, benar-benar sesuatu yang selama ini mereka harapkan. Liliana dan Tristan duduk di samping Benzo dan Aaron. Di mana Benzo memang sudah menyiapkan dua kursi untuk keduanya. Hati Liliana mulai tenang sekarang. Meskipun Tristan tidak berhasil meyakinkan pengacaranya, namun setidaknya ada keajaiban yang datang untuk Bella dan juga Alfred.


Aleysia menyaksikan prosesi itu terharu. Keinginannya, dan keinginan Bella untuk kembali lagi bersama alfamart akhirnya terwujud juga.


Setelah beberapa prosesi sakral di lakukan, tibalah saatnya pengucapan janji suci. Kedua mempelai dan para hadirin dipersilahkan berdiri. Para saksi mendampingi kedua mempelai.


"Alfred Arshavin Frederick dan Bella Aberald yang berbahagia. Saudara telah datang ke mari untuk melaksanakan sakramen pernikahan di hadapan pejabat gereja dan disaksikan oleh umat beriman. Tuhan memberkati dan meneguhkan saudara, agar saudara sanggup saling mencintai dengan setia dan menunaikan tanggung jawab sebagai suami istri." Jeda sejenak. "Maka sekarang saya minta, supaya saudara menyatakan maksud dan isi hati saudara dengan menjawab pertanyaan saya."


Sang pendeta berdiri menghadap Alfred. "Alfred Arshavin Frederick, adakah saudara meresmikan pernikahan ini sungguh dengan ikhlas hati?"


"Ya, sungguh!" Jawab Alfred mantap.


"Bersediakah saudara mengasihi dan menghormati istri saudara sepanjang hidup?"


"Ya, saya bersedia." Kembali Alfred menjawab mantap. Dan kali ini ia menatap Bella yang juga menatapnya terpesona.


Dan untuk yang terakhir kalinya sang pendeta bertanya pada Alfred. "Bersediakah saudara menjadi Imam yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi orang beragama yang setia?"


"Ya, saya bersedia!"


Kemudian pendeta menghadap ke arah Bella bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Setelah pertanyaan usai terjawab, kini saatnya perjanjian nikah yang akan di ucapkan oleh kedua mempelai.                                                      


"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan pernikahan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing mengucapkan perjanjian nikah di bawah sumpah." Kata sang pendeta menyodorkan sebuah kitab kepada Alfred terlebih dulu. Lantas pria itu meletakkan tangan kanannya di atas Kitab Suci itu sambil mengucapkan rumus sumpah.


"Dihadapan pendeta dan para saksi. Saya, Alfred Arshavin Frederick. Menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Bella Aberald yang hadir di sini. Mulai sekarang ini menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Tuhan dan Kitab Suci ini." Setelah Alfred dengan fasih melafalkan sumpah pernikahan itu, semua orang mulai bernafas lega. Namun belum merasa sangat lega lantaran Bella sendiri belum mengucapkan sumpah pernikahan.


"Dihadapan pendeta dan para saksi. Saya, Bella Aberald. Menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Alfred Arshavin Frederick yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Tuhan dan Kitab Suci ini."


Dengan berakhirnya sumpah pernikahan dari Bella dengan lancar, akhirnya semuanya langsung mengucap syukur ikut merasa bahagia.


"Dengan ini di hadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan yang sah. Yang dipersatukan oleh Tuhan, dan janganlah diceraikan manusia."


Kemudian sang pendeta mengajak para tamu undangan untuk berdoa dan memimpin doa untuk kedua mempelai. Lantas masuk ke acara selanjutnya adalah lambang-lambang pernikahan. Di mana di bagian ini diiringi lagu “She Wears My Ring”. Pendeta lalu memulai pemberkatan cincin.


"Ya Tuhan, berkatilah cincin ini yang merupakan tanda kesetiaan dan cinta kasih hamba-hamba-MU ini. Semoga cincin ini mengingatkan mereka akan cinta kasih dan kesetiaan yang mereka janjikan pada hari bahagia ini." Dan kemudian di Amini oleh semua undangan.


Cincinpun kemudian diberkati dengan air suci. Selanjutnya pendeta berkata, "Kenakanlah satu sama lain cincin pernikahan ini sebagai lambang cinta setia abadi."


Alfred mengambil satu cincin yang pas untuk jari Bella lantas berkata, "Bella Aberald, terimalah cincin ini sebagai tanda cinta dan kesetiaanku terhadapmu." Dan Alfred lalu memasangkan cincin di jari manis Bella. Dan cincin pemberiannya ketika melamar kini terpasang di jari manis Bella.


Kini giliran Bella yang mengambil cincin dari pendeta. Lantas menyematkan cincin itu pada jari Alfred. "Alfred Frederick, terimalah cincin ini sebagai tanda cinta dan kesetiaanku." Dan terdengar riuhnya tepuk tangan dari para tamu undangan ketika penyematan cincin telah di lakukan. Membuat Bella tersenyum bahagia.


Pendeta lalu mempersilahkan Alfred untuk membuka selubung penutup kepala Bella. Menatap penuh terpesona dengan sosok lain dari Bella yang memakai gaun dengan model yang sama yang pernah dia berikan namun kini, terlihat sedikit gemuk karena perubahan tubuh Bella.


"Alfred Arshavin Frederick dan Bella Aberald, semoga kalian senantiasa memandang dengan wajah berseri-seri penuh cinta. Dan semoga ikatan kasih ini menjadi sumber kebahagiaan sejati." Tutup sang pendeta. "Selanjutnya saya persilahkan saudara Alfred untuk mencium pasangan anda."


Sontak Alfred mencium singkat dengan sedikit lumatan di bibir Bella. Hingga di sela riuhnya tepuk tangan menyambut penutupan prosesi pengucapan janji suci itu, banyak di antara mereka para gadis-gadis yang masih lajang berdecak kagum penuh rasa ketertarikan terhadap sosok asli dari seorang pria bernama Alfred yang misterius kini menjelma menjadi pangeran tampan berkuda putih. 


Bahkan ada yang berharap pernikahan mereka di batalkan dan mempelai wanita di gantikan oleh mereka-mereka yang mengharapkan menjadi mempelai wanita untuk Alfred.


Berbeda dengan para gadis dan wanita yang menatap Alfred penuh minat, para pria malah merasa tersaingi. Membuat mereka pundung di pojokan saking depresi. Mereka lebih senang jika Alfred tidak menunjukkan sosoknya yang hangat dan romantis di muka umum seperti dulu daripada sekarang.


"I-i-itu... Itu... Benar-benar Alfred?" Pekik Aleysia terbata-bata karena menatap Alfred masih tidak percaya.


Brandon mendesah pasrah sekarang. Memang Alfred sejak dulu menjadi rivalnya dalam soal tampang. Meski Alfred mengenakan kacamata dan terkesan misterius, namun pesonanya mampu membuat para wanita mengejar si Frederick karena rasa penasaran mereka. Bisa di katakan jika pengagum keduanya itu seimbang.


"Kak Brandon, aku tidak menyangka bahwa kak Alfred memiliki wajah setampan itu kalau tidak memakai kacamata?!"


"Ha-ah.. Tentu saja banyak yang tidak menyangka, Ale. Kalau Alfred saja selalu memakai kacamata."


"Eh?!" Aleysia sontak menatap Brandon bingung. Apa dia tadi hanya salah dengar saja, kalau ia sempat menangkap nada ucapan Brandon yang terdengar ketus?


Dan setelah proses ciuman kedua mempelai, Alfred langsung mengenakan kembali kacamatanya. Membuat seluruh pria di ruangan itu semuanya mulai bisa bernafas lega. Tentu berbeda lagi dengan para wanita yang mendesah kecewa.


Edward sedikit terkejut ketika memperhatikan Ashley yang dulunya membenci dan selalu menghina Alfred kini malah terlihat tengah berusaha mencuri-curi pandang dengan tampang penasaran. Membuat Edward hanya bisa bergumam paham. Kalau ternyata Ashley itu adalah typical orang bersifat Tsundere. Malu tapi mau.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2