
'Kakakku. Alfred Arshavin Frederick.'
Pernyataan itu terus terngiang dalam benaknya. Mengganggu otaknya yang ingin mengenyahkan ungkapan itu jauh-jauh. Semua ini benar-benar menyiksa batin Edward acap kali telinganya terus berdengung.
"Aaarrghh!!!!" Teriaknya frustasi.
Dia tumpahkan segala kekesalannya saat ini di atas jurang. Di mana di bawah sana hanya ada sebuah batu karang yang terus saja di hantam oleh ombak yang begitu derasnya berdebur.
Kalau saja ia tidak mengingat keluarganya terutama ibunya Deana yang sangat menyayanginya, mungkin detik ini juga ia sudah bunuh diri. Haㅡah.. Pemikiran gila macam apa ini? Mana mungkin ia berani melakukan perbuatan itu? Senekat-nekatnya dia, Edward paling cuma akan melakukan gantung diri di pohon buah tomat kesayangannya. Tapi sayang, dia tidak akan menodai buah kesayangannya dengan bunuh diri di sana. Haㅡah.. Edward masih memiliki otak untuk tidak melakukan hal gila yang tidak berguna itu.
Ya, dia memang kecewa. Tapi setidaknya dia sudah mengatakan semuanya pada orang yang selama ini di sukai. Setidaknya ia juga sudah tahu bagaimana perasaan dari gadis blonde itu terhadap dirinya selama ini.
'Meskipun Aku ingin dicintai olehmu, tapi kau tak bisa melihat perasaanku yang meluap ini untukmu, Bella. Sebelumnya Aku punya firasat bahwa aku tak akan pernah bisa bersamamu lagi. Dan inilah kenyataannya.' Edward tertawa getir.
'Aku ingin mengatakan padamu sejak dulu, tapi aku tak bisa menemukan kata yang tepat. Mungkin ini baik untukku jika dari awal aku berbohong saja. tapi aku tak bisa bilang padamu untuk 'jangan pergi'. Kembali Edward bermonolog. Menyesali perbuatannya.
Dia masih ingat, percakapannya dengan gadis blonde itu di ruangan guru mereka. Guru yang termasuk kakak dari orang yang dia sukai itu sekaligus saingan terberatnya. Jujur saja ia masih tidak menyangka. Menerima pernyataan yang sungguh cukup mengejutkan dirinya.
Flashback on...
"Tapi dia kakakmu, bukan?" Edward tanpa sadar melontarkan protesannya. Dia masih tidak mau menerima kenyataan bahwa Bella akan benar-benar menyukai kakaknya sendiri.
"Aku tahu. Tapi dia bukan kakak kandungku." Jawaban Bella tentu membuat Edward terkesiap dan menohok hatinya. Edward tidak percaya. Ya, dia akui. Keduanya memiliki berbedaan yang sangat kontras. Meskipun begitu, bisa saja kakaknya mewarisi gen dari salah satu kedua orangtua mereka, kan?
"Marga kami berbeda. Dan dia adalah adik angkat dari ayahku. Orang yang di temukan oleh ayahku ketika tidak sengaja kakakku terlantar di jalan." Jelas Bella, menceritakan kebenarannya. Sejenak ia menghela nafas sebelum melanjutkan. "Edward, aku juga menyukaimu. Tapi hanya–"
"Aku tahu." Potong Edward buru-buru. Pemuda itu tidak ingin tahu kelanjutannya karena dia tahu hal itu justru akan menyakiti perasaannya lebih dalam lagi.
Edward lagi-lagi tersenyum getir. Menertawakan nasib percintaannya sendiri yang begitu tragis. Ternyata, tidak semuanya bisa ia dapatkan layaknya dia yang popular di kalangan gadis-gadis dan wanita.
Flashback off...
Ia ingin pulang, bertanya pada ibunya tentang semua ini. Dan apa yang harus dia lakukan. Meski dia tertutup dan jarang terbuka dengan anggota keluarganya, bukan berarti dia bisa menyelesaikan masalahnya seorang diri, bukan? Dia butuh sandaran ibunya. Bermanja seperti dulu lagi meski usianya sudah terbilang tidak pantas. Bodo amat dengan gengsi. Pikirnya.
.
.
.
Bella hanya bisa merenung di balkon apartment-nya. Memandangi langit gelap yang tidak berbintang malam ini. Seperti hatinya saat ini. Gelap.
Ia masih kepikiran dengan pernyataan Edward. Masih merasa bersalah karena sudah menyakiti perasaan pemuda yang berbeda satu tahun darinya itu.
Alfred sendiri hanya bisa menghela nafas lelah melihat adiknya tiba-tiba menjadi murung. Sebenarnya apa yang terjadi antara adiknya dengan Edward di ruangannya ketika dia tidak ada?
"Bella? Kenapa tidak memakai mantel?" Tanya Alfred mendekati adiknya.
Gadis blonde itu berbalik dan tiba-tiba ia langsung menerjang Alfred. Memeluk kakaknya erat. Alfred hanya bisa mengernyit bingung. Tidak mengerti.
"Ada apa, Bell? Kau tidak seperti biasanya." Tanyanya heran.
"Kakak, Edward..." Sahut Bella lirih menggantungkan ucapannya.
"Ada apa dengannya? Apa masalahnya belum selesai?" Kembali Alfred melontarkan pertanyaan yang di pikirkannya.
"Dia..." Ucapan Bella kembali menggantung. "menyukai Bella." Imbuhnya mendongak menatap bola mata Alfred dengan sorot mata sedih.
Alfred masih terlihat tenang. Tidak terkejut dengan pernyataan Bella. Ia sudah bisa menduga masalah ini sebelumnya. Tidak mungkin tidak akan terjadi masalah kalau salah satu di antara mereka tidak memiliki perasaan semacam itu.
Alfred tersenyum mengusap lembut pipi merah tembem adiknya sayang. "Apa Bella juga menyukainya?"
"Tidak mungkin. Bella sudah punya kakak. Dan selamanya akan seperti itu." Hardik Bella cepat. Tidak suka bila kakaknya mengatakan hal semacam itu. Seolah Alfred ingin melepaskan dirinya untuk orang lain.
Alfred tentu saja terkejut dan terhenyak. Tidak percaya kalau adiknya akan berkata seperti itu padanya. Tentu dia senang. Tidak masalah kalau itu hanya sebuah khayalan baginya.
"Apa kau yakin, Bella?" Tanya Alfred kembali. Ia masih ingin memastikan sendiri bagaimana perasaan Bella terhadapnya juga pada Edward. Kalau seandainya perasaan Bella cenderung lebih pada Edward, maka ia akan merelakannya meski itu berat. Toh, usia mereka benar-benar cocok. Tidak sepertinya yang lebih tua dari Bella.
"Tentu saja. Aku sangat yakin itu. Apalagi, aku sama sekali tidak merasakan apapun pada Edward kalau benar aku menyukainya." Jawabnya tegas.
Jujur saja, Alfred cukup senang mendengarnya. "Lalu yang kau rasakan saat dengan Edward, seperti apa?"
"Tidak ada. Aku tidak merasakan apapun seperti saat di dekat kakak." Bella melirik malu-malu ke arah Alfred dengan semburat merah di pipinya ketika mengatakan hal itu. Alfred menyeringai, membuat Bella bergidik ngeri dan menelan ludahnya susah payah.
"Benarkah?" Tanya Alfred menggoda Bella.
"I-iya kak." Jawab Bella beringsut mundur. Takut melihat seringaian kakaknya yang berubah menakutkan.
"Seperti apa?" Kembali Alfred bertanya. Kali ini ia melangkah maju mendekati Bella seiring langkah mundur gadis itu. Sedangkan Bella terus melangkah mundur.
"Ka-kakak m-mau apa?" Bella bertanya grogi. Alfred semakin memojokkan dirinya sekarang. 'Tuhan. Kenapa aku jadi gugup?' Batin Bella nelangsa.
Alfred memerangkap tubuh Bella yang sudah terpojok pada dinding di antara kedua tangannya. Menguncinya hingga Bella tidak bisa kabur. Ia semakin mempersempit jaraknya hingga wajah mereka hampir menempel. Deru nafas mereka saling bertabrakan, Bella hanya bisa membuka tutup mulutnya tanpa bisa mengeluarkan suara.
Gadis itu menatap iris mata obsidian milik Alfred itu bergantian. Begitu juga Alfred yang menatap intens mata sapphire indah sang adik.
Pandangannya turun ke bibir tipis semerah cherry milik Bella. Gadis itu semakin menelan ludah gugup ketika Alfred semakin mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Membuatnya refleks memejamkan kedua matanya. Alfred semakin menyeringai senang.
Satu kecupan membuat Bella langsung merona. Wajahnya panas seketika membuat nafasnya tersendat. Tanpa sadar, tangannya terulur menyingkap kacamata Alfred. Menampilkan wajah tampan kakaknya yang begitu ia cintai. Pandangannya turun ke bibir milik kakaknya. Seakan ia mengundang bibir itu untuk mengecupnya lagi. Kedua sapphire nya bahkan telah menyayu.
Melihat respon Bella membuat Alfred semakin gencar ingin melumat bibir merah yang sedikit terbuka itu. Menghasilkan pemandangan yang begitu sensual. Hingga membangkitkan hasratnya untuk mencumbui adiknya itu.
Oh, Tuhan.. Betapa indahnya makhluk ciptaanmu di depanku ini. Pekik Alfred dalam hati. Kini ia benar-benar telah di selimuti oleh nafsu. Ia ingin adiknya. Ia ingin memilikinya hanya untuknya. Tapi usianya.. Astaga...
Ketika dirinya tergoda dan hendak mendekatkan bibirnya kembali, tiba-tiba sebuah bunyi bel pintu berbunyi. Menandakan bahwa ada seseorang yang bertamu. Alfred menghela nafas lega karena niat buruknya akhirnya di sadarkan lebih cepat.
Tunggu sampai Bella berusia 17 tahun, dan dia bisa menyatakan perasaannya secara gamblang dan tepat pada waktunya.
"ka-kakak, sepertinya ada tamu?" Ujar Bella terbata-bata. Alfred hanya mengangguk seraya nyelonong berbalik pergi meninggalkan adiknya.
"Aku akan melihatnya dulu." Alfred lantas bergegas masuk ke dalam rumah dan menyeret kakinya menuju lantai bawah dengan malas.
Sementara itu di lantai bawah, tiga orang yang masih terlihat remaja tengah berdiri dengan gusar di depan pintu tempat tinggal milik keduanya.
"Kau yakin, ini tempat tinggal Bella?" Tanya salah satu pemuda dengan rambut di kuncir jabrik.
"Bella sendiri yang memberitahuku, Sam. Bagaimana aku bisa salah?" Pemuda yang tidak lain adalah Ken sahabat Bella itu bersungut sebal.
Ceklek!!
Ken, Sam, dan satu lagi adalah seorang gadis bernama Gwen, kini menatap ke arah orang yang telah membukakan pintu di hadapan mereka dengan senyum ramah, namun mata mereka sontak terbelalak tidak percaya dan senyum yang tersungging dari bibir mereka seketika luntur. Mereka terkejut mendapati tuan rumah yang tidak di duga oleh ketiganya itu. Apa mereka salah rumah? Pikir mereka.
Sementara pemilik rumah di hadapan mereka menatap tajam ke arah mereka dengan tatapan mengintimidasi. Orang itu hanya terdiam, tanpa berniat bertanya ada apa. Dan kedua tangannya di silangkan ke depan dada dengan angkuh sembari bersandar di ambang pintu.
Ken menelan ludah kering dengan susah payah. Ya Tuhan, kenapa di mana-mana selalu ketemu guru killer ini? Apa jangan-jangan salah alamat? Jadi kayak lagu saja. Batin Ken, miris.
"Eeerr.. K-kayaknya.. K-kami salah alamat, Pak Alfred." Ujar Ken takut-takut. Pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"I-iya, Pak Alfred. Kami kira ini rumah di mana Bella tinggal." Timpal Gwen, menambahi. Ia tersenyum kikuk ke arah Alfred, merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu.
Sam hanya memutar kedua bola matanya malas. "Haㅡah.. Merepotkan sekali." Sudah ia duga pasti Ken salah alamat. Tambahnya dalam hati.
Alfred hanya manggut-manggut saja lantas memperlebar pintunya memberikan isyarat mempersilahkan ketiganya untuk masuk tanpa bersuara. Ken, Gwen, Sam saling tatap satu sama lain. Berbicara hanya lewat sorot mata masing-masing. Apa mereka harus masuk atau tidak? Ken menggeleng tanda tidak perlu.
Alfred yang jengah mulai mendengus berat. "Masuklah. Kalian mencari Bella, bukan? Sampai ke ujung duniapun juga tidak akan ketemu kalau kalian tidak masuk." Seloroh Alfred kesal.
Dan sukses membuat ketiganya melongo tidak paham. Tapi akhirnya mereka menurut dan masuk dengan langkah takut-takut.
Mereka saling berbisik kala Alfred kembali menutup pintunya dan seketika tubuh mereka meremang ketakutan.
"Bella, ada yang mencarimu!" Seru Alfred mendongak ke atas. Di mana adiknya itu berada.
Ken mendelik, begitu juga Gwen yang akhirnya hanya saling pandang bersama Ken. Sam hanya diam bergeming di tempatnya dengan pikirannya sendiri. Terlalu lelah untuk ikut terbengong-bengong.
"Apa Bella sedang les matematika?" Bisik Ken pada gadia di sampingnya. Gadis itu hanya menggeleng tidak tahu.
"Entahlah."
"Mau minum apa?" Tanya Alfred datar dan berhasil membuat ketiganya terlonjak kaget.
"A-ah, tidak perlu repot-repot pak Alfred." Gwen menyahut kikuk.
"Tunggu ya. Bella sedang ke bawah, mungkin."
Setelah mengatakan itu, Alfred langsung kembali masuk untuk menemui adiknya.
Ketiganya mulai menghembuskan nafas lega. Yang sedari tadi ternyata tengah menahan nafas mereka ketika Alfred berada di antara mereka. Gwen, Ken, juga Sam mengedarkan pandangan mereka ke seluruh sudut ruangan hingga pandangan mata Gwen jatuh pada beberapa bingkai foto yang berada di antara piala-piala penghargaan. Ia menepuk bahu Ken cukup keras. Membuat sang empunya mendesis dan mengaduh sakit tak suka.
"Coba lihat itu." Gwen menangkup wajah Ken dan memutarnya pada benda yang ia maksud. Begitu juga Sam yang ikut mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang di maksud oleh Gwen. Kembali mata mereka melotot tak percaya. Apa mereka bermimpi?
"Tidak mungkin." Gumam Ken syok.
"Kalian?" Bella terkejut mendapati ketiga temannya tiba-tiba saja berkunjung ke rumahnya.
"Bella? Kau...."
"Ah, tunggu sebentar." Potong Bella kembali masuk ke dalam dapur membuatkan minuman untuk ketiga temannya. Di meja makan, Alfred tengah duduk dengan membaca buku novelnya. Terlihat kalau kakaknya itu tengah menyeringai dan tertawa mesum. Ia berkacak pinggang sebal lantas menghampiri Alfred, menyambar buku laknat dari tangan kakaknya itu.
"Kakak Bodoh!! Dasar mesum!!" Pekik Bella tanpa sadar. Suaranya bahkan menggema sampai ke ruang tamu. Melupakan fakta bahwa teman-temannya tengah berkunjung. Hancur sudah reputasi guru killer di sekolahnya mengajar.
Brakk!!
Buku kesayangan Alfred melayang hingga keluar di ruang tamu. Mengakibatkan ketiga temannya berjengit kaget. Bergidik ngeri mengetahui kemurkaan sang blonde yang terkenal manis dan lemah lembut itu.
Bella mengerucutkan bibirnya kesal seraya melengos meninggalkan Alfred yang masih mematung dengan kedua tangan yang sedang memegang buku, padahal bukunya sudah menghilang entah kemana.
"Bella benci kakak!! Malam ini Kakak tidur di luar!!" Gerutu Bella marah.
"Hey! Mana bisa, Bell? Tega sekali dengan kakak tampanmu ini."
"Bodo amat!!" Timpal Bella mengabaikan pria itu, labtas keluar membawa nampan berisi tiga gelas orange juice yang sudah jadi ke ruang tamu.
Ken mendelik tidak percaya. Bagaimana bisa guru yang terkenal killer itu takhluk pada Bella?
"Ahaha.. Bella.. Apa kami sudah salah waktu bertamu sekarang?" Gwen tertawa kikuk merasa tidak enak hati karena waktu berkunjungnya tidak tepat.
"Tidak apa-apa. Santai saja. Kakakku memang seperti itu." Ujar Bella sedikit ketus akibat efek marah.
"Jadi.. Dia..." Ken menyahut. Bella lantas mengangguk. Ia mendesah sejenak lalu ikut duduk.
"Astaga." Ken menepuk jidatnya shock. Ia tahu apa artinya ini. Jika Alfred guru killer mereka itu adalah kakak Bella, itu berarti juga Alfred adalah..
"Tidak ku sangka Bell." Lirih Gwen berdecak takjub. Bella hanya tersenyum canggung menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Sejujurnya dia belum siap kalau sampai teman-temannya tahu Alfred adalah kakaknya. Tapi mau bagaimana lagi. Sekarang menghindarpun percuma. Semua sudah ketahuan.
"Foto-foto itu, fotomu bersama dengan Pak Alfred?"
"Tentu saja. Siapa lagi." Bella kembali tersenyum menanggapi. Gwen bergumam takjub melihat foto-foto berbeda usia itu. Terlebih foto gurunya yang baginya sangat misterius ternyata memiliki pribadi yang hangat saat bersama dengan Bella.
"Minumlah dulu." Kata Bella mempersilahkan ketiga temannya.
"Aku kira kau sedang melakukan les di rumah Pak Alfred. Tapi ternyata... Haha..." Gwen bersuara melontarkan apa yang sedari di pikirnya. Bella hanya bisa kembali tertawa canggung menanggapi.
"Eerr.. Ada apa, kalian kemari? Apa ada masalah yang penting?" Tanya Bella ingin tahu.
Hening. Ketiganya hanya bisa saling tatap. Membuat Bella yang memperhatikan mereka mengernyit bingung.
"I-ini soal Edward." Ujar Gwen hati-hati.
"Kalau soal Edward, kenapa tidak ke rumahnya saja? Tuh, rumahnya di sebelah rumahku. Kenapa ke rumahku?" Sahut Bella heran.
"Sayangnya tidak ada orang. Kami cemas Bell. Dia belum ada kabar."
Bella membola seketika. Hatinya mencelos ketika mendengar kabar yang secara tiba-tiba itu. Tapi kemana Edward pergi?
"Kalian bisa menghubungi ponselnya?" Sam menggeleng.
"Tidak bisa. Max saat ini sedang mencarinya."
"Bella, kau bisa menemukan dia, kan? Hanya kau yang tahu bagaimana Edward. Kami khawatir." Ken memohon pada Bella. Ia tahu, semua ini terjadi mungkin karena penolakan dari Bella. Ken takut kalau-kalau Edward mungkin akan nekat bunuh diri lantaran di tolak. Haㅡah.. Terlalu cetek pemikiran pemuda itu. (;¬_¬)
"Tapi..."
"Pergi saja, Bell. Edward teman masa kecilmu. Hibur dia. Kau tahu apa yang harus kamu lakukan." Celetuk suara baritone yang tiba-tiba sudah berdiri menjulang bersandar tembok.
Bella menatap Alfred bimbang. Namun pria itu tersenyum lantas mengangguk. Tanda ia mengijinkan Bella untuk pergi.
"Yang terpenting adalah persahabatan kalian. Carilah dia." Alfred menghampiri adiknya. Memberikan jaket hoodie pink soft perpaduan putih. Ia mengacak surai blonde Bella, sayang. Tidak peduli kalau mereka menjadi bahan perhatian murid-muridnya.
"Berhati-hatilah di jalan, okay? Segera hubungi kak Al jika terjadi sesuatu. Jangan pergi sendirian." Peringat Alfred, posesif.
"Um, aku mengerti kak. Terima kasih." Bella mengangguk dengan senyum tipis.
Berat bagi Alfred melepas kepergian Bella di waktu yang sudah menjelang larut malam ini, meski di temani oleh tiga orang temannya, tapi Alfred jelas masih merasa cemas. Mungkin kalau Bella bukan seorang perempuan dia masih bisa lega.
"Sammy, aku percayakan adikku padamu. Jangan biarkan dia sendirian." Pinta Alfred memberi titah Sam.
"Ah, Baik pak. Kalau begitu kami permisi." Alfred mengangguk seraya mengantarkan ketiga siswanya dan Bella keluar dari rumah. Pandangannya menyendu serta cemas pada Bella yang lambat laun menjauh.
Namun sebelum mereka menjauh, Bella berbalik dan berlari menerjang Alfred. Dalam hati gadis itu khawatir bila Alfred akan salah paham pada hubungannya dengan Edward. Karena dia juga saat ini mengkhawatirkan keadaan Edward. Sangat.
"Kakak, Bella tidak mau tidur sendirian. Pulang dari mencari Edward aku ingin kak Al menemaniku seperti biasa."
TES...
__ADS_1
Setetes liquid bening jatuh begitu saja di pelupuk matanya. Membuat Alfred cepat-cepat menjauhkan tubuh Bella dan menyeka airmata dari pipi adiknya perlahan.
"Hei, kenapa menangis, hm?" Alfred mencubit dagu Bella lembut hanya agar Bella menatapnya. Ia lantas mencium kedua pelupuk mata Bella lembut, lalu kedua pipi, hidung, bibir dan terakhir kening Bella cukup lama.
"So sweet..." Ken berbisik lirih memperhatikan gurunya yang selama ini ia sangka berhati dingin akan selembut itu ketika harus berhadapan dengan adiknya. Bahkan ia tidak pernah menyangka kalau mereka memiliki hubungan special selama ini.
"Aaaa... Pasti satu sekolah akan heboh kalau mereka sampai melihat ini." Timpal Gwen ikut terhanyut. Gwen tentu belum tahu kalau keduanya memiliki hubungan lebih dari sebatas kakak adik.
"Sudah cukup, Bella. Jangan menangis lagi. Kalau kau pikir aku akan marah, kau salah." Tukas Alfred menatap wajah Bella. Pria itu tersenyum hangat mengusap ceruk pipi gadis itu.
"Cepatlah pulang. Kakak akan buatkan dessert kesukaanmu, nanti."
"Sungguh?" Sahut Bella berbinar. Alfred mengangguk. Ia lalu memutar tubuh Bella berbalik dan mendorongnya ke arah ketiga temannya.
"Baiklah, Aku tidak akan lama kak. Aku akan segera kembali. Bye bye."
.
.
.
"Edward!!" Seorang pemuda bersurai hitam kecoklatan cepat-cepat bergegas turun dari kursi sepedanya ketika melihat Edward kini tengah berdiri di tepi jurang.
Ia tidak percaya Edward akan sefrustasi ini jadinya. Sampai nekat mau bunuh diri hanya karena di tolak.
Hellow.. Siapa orang yang tidak berpikiran demikian kalau kau tahu orang itu baru putus cinta dan sekarang malah berada di tepi jurang sendirian? Pikiran pertama yang terlintas di benak mereka ya pastilah ingin bunuh diri.
Tapi darimana Max tahu kalau pemuda emo itu baru putus cinta? Jawabannya yaitu ketika dirinya tidak sengaja lewat lapangan basket indoor dan mendengar suara orang berteriak tidak jelas. Max sudah bisa menebak kalau Edward saat itu sedang terkena syndrom patah hati akut.
"Edward, kau sudah gila, apa. Kau mau bunuh diri hanya karena di tolak, HAH?" Edward sweatdrop. "Nyebut Ed, nyebut... Jangan karena patah hati kau nekat bunuh diri." Imbuhnya.
CTAK!!
"Argh, sakit..." Ringis Max, mengelus kepalanya yang terkena jitakan sayang dari Edward tiba-tiba. "Kau kenapa memukulku?! Salahku apa?! Huh?!" Sungutnya kesal.
"Siapa juga yang mau bunuh diri, Max?!"
"Kau!" Timpal Max cepat, "Kalau tidak untuk bunuh diri, lalu kenapa bisa kamu di sini malam-malam?! Sendirian, lagi."
"Haㅡah.. Susah ngomong sama kamu." Gerutu Edward melengos. Ia lantas berbalik. Menghadap lautan luas yang terhampar di depannya. Ia menghempaskan pantatnya menikmati angin malam yang dingin menyapu wajahnya.
Max mengernyit tidak paham. Pemuda itu kemudian secara diam-diam mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu untuk di kirimkan pada seseorang.
"Apa kau bisa jaga rahasia, Max?" Tanya Edward tanpa menoleh menatap temannya. Ia ingin menceritakan pada Max semuanya yang sedang dia rasakan saat ini. Lagipula, teman yang bisa menjaga rahasianya hanya Max juga Sam. Meskipun dia jarang terbuka pada kedua sahabatnya itu, tapi dia tahu bahwa kedua sahabatnya memiliki sifat yang sebelas dua belas dengannya.
"Tentu." Jawab Max singkat. Ia lantas ikut merebahkan pantatnya di samping Edward.
"Setelah mengatakan semuanya, seharusnya aku marah juga kecewa. Tapi.. Kenapa rasanya aku bisa gampang menerima kenyataannya? Aku tidak tahu, apa benar aku menyukainya atau tidak dalam arti yang lebih." Ungkap Edward tiba-tiba dengan kalimat panjang lebar.
Max berani bertaruh kalau Edward baru pertama kali ini bisa bicara sepanjang itu. Namun ia tetap bungkam. Membiarkan Edward menumpahkan semua uneg-unegnya.
"Ku rasa kau hanya sekedar menyukainya sebagai seorang teman. Aku tahu, kau adalah kekasih masa kecilnya."
"Tapi.. Aku cemburu tiap dia dekat dengan siapapun. Terutama kakaknya." Hardik Edward cepat. "Aku terlalu takut kehilangan dia, Max. Setelah apa yang aku lalui dari kecil dengannya, aku takut dia tidak mau bersamaku lagi." Imbuhnya.
Max sedikit bingung. Harus mengartikan ketakutan Edward sebagai apa? Cemburu, cinta, atau obsesi. Dia sendiri tidak pernah mengalami apapun yang bernama cinta. Haㅡah.. Sepertinya Edward kali ini salah memilih teman untuk curhat.
"Jujur saja aku bahagia melihat dia bahagia. Aku marah melihat orang menjahilinya, aku juga tidak suka melihat orang lain yang membuatnya tersenyum. Dan itu bukan aku."
"Eerr... Bagaimana kalau kau coba buka hatimu untuk orang lain? Ku rasa dengan begitu kau akan bisa membedakan perasaan cinta dan sukamu itu." Saran Max, Mentok. Pemuda itu benar-benar tidak ada ide. Dan itu membuatnya tiba-tiba pundung karena depresi.
***********
"Bagaimana?" Tanya Ken ketika Sam baru mendapat pesan dari Max yang mengatakan kalau Edward sudah di temukan.
"Katanya ada di tebing dekat pantai."
Bella tiba-tiba saja langsung berlari meninggalkan Ken juga yang lainnya tanpa kata.
"Bella, tunggu!!" Tidak peduli Sam memanggilnya. Entah kenapa tiba-tiba saja perasaannya mendadak tidak enak. Ia tahu tempat itu. Tempat di mana dulu ia habiskan hanya untuk melihat matahari terbit maupun terbenam bersama Edward di saat mereka sedang sedih.
Tempat di mana mereka bisa meluapkan segala emosi di sana. Bella terus berlari melewati jalan yang mulai sepi menuju ke arah bibir pantai. Sementara Ken, Sam juga Gwen mengikutinya dari belakang.
Bella berhenti hampir sampai tepat di atas tebing. Ia menumpu tangannya pada lutut karena tidak kuat lagi untuk berlari. "Hosh..hosh.." Nafasnyapun mulai tak beraturan karena tersengal.
"Bella?" Lirih Edward ketika sadar ada pergerakan dari arah belakangnya. Bella masih terlihat terengah-engah mengatur nafasnya. Seraya menyeka peluh yang mengucur di pelipisnya cukup deras.
"Bodoh!! Kau membuat kami cemas Edwa–"
"Edward!! Hiks.. Hiks.. Syukurlah, kau baik-baik saja." Gwen langsung menerjang Edward dan memeluk pemuda emo itu erat. Tidak merasa bersalah sudah memotong ucapan Bella, Gwen menangis sesenggukan di dalam pelukan pemuda itu.
Edward cukup terkejut. Namun ada yang aneh. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat Gwen tiba-tiba memeluknya. Apa ini? Batinnya.
"Gwen. Lepas." Dengan tidak rela, Gwen akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Edward sedikit malu dengan masih terisak.
Edward menatap Bella yang masih mematung dengan ekspresi yang sulit di mengerti.
"Bella, kau..."
"Edward, seharusnya kau tidak perlu melakukan hal yang tidak penting di sini. Apalagi kau sendirian. Kau pikir aku tidak cemas?" Desis Bella bersungut sebal. Ia mengecurutkan bibirnya kesal. Membuat Edward menyeringai tipis.
Ia berjalan mendekati Bella yang terlihat marah padanya. Dan..
Greepp!!
Edward lantas mendekap Bella di dalam pelukannya. Tangan kanannya memegang tengkuk Bella, dan yang kiri memeluk pinggang gadis blonde itu lembut. Hal itu membuat tubuh Bella sejenak tiba-tiba membeku, tapi kemudian berubah sedikit santai dan tersenyum maklum.
"Maafkan aku, Bell. Mungkin aku cemburu pada kakakmu yang sekarang selalu ada di sampingmu." bisik Edward lembut. Dan hanya bisa di dengar oleh gadis blonde itu. Seketika saja sapphire Bella membola. Hingga membuatnya berkaca-kaca.
"Mungkin aku hanya takut kau akan pergi jauh tanpa mau melihatku lagi. Karena selama denganmu aku bisa menjadi diriku sendiri. Dan ketika kau menjauh, rasanya semua bahagiaku ikut menghilang. Maaf, karena aku sudah terlalu egois." Bella menggeleng keras. Tidak setuju dengan ungkapan dari Edward. Selama ini ia merasa mereka masih sama saja meski keadaan sudah berbeda.
"Edward, kau adalah sahabatku, teman masa kecilku. Kau juga saudara untukku ketika kakakku tidak ada di sampingku. Kau yang selalu menemaniku. Aku tidak mau semua itu berakhir hanya karena sebuah perasaan. Aku.. A-aku..hiks.. Huuaaaa...." tangis pecah seketika di dalam pelukan Edward. Ia benar-benar tidak mau kehilangan sahabat masa kecilnya begitu saja.
"Sstt... Aku yang salah, Bella. Maafkan aku. Ku mohon, jangan menangis. Wajahmu buruk sekali." ejek Edward sengaja.
"Bodoh! Kau ingin menghiburku atau mengejekku?!" sungut Bella menyeka airmatanya kasar dengan masih sesenggukan. Dan Edward sesekali tertawa kecil. Membuat ketiga orang yang tak jauh dari mereka melongo.
Ketiga temannya hanya bisa menonton drama yang sangat langka. Antara Edward si muka datar, dan Bella si manis. Jarang-jarang melihat Edward yang irit ekspresi jadi banyak ekspresi kalau dekat dengan Bella.
"Kita akan selamanya menjadi sahabat. Itu janji kita." kata Edward.
.
.
.
__ADS_1
.