
3 years later...
"Minggir!!" Teriak seorang gadis ABG dengan surai blonde panjangnya yang kini sedang berlari di sepanjang koridor sekolahnya. Kedua tangannya memasang pose mengusir pada setiap orang yang menghalanginya. Bahkan ia tidak peduli jika sedang menjadi pusat perhatian semua orang di sepanjang koridor.
Braakk!!
Gadis bersurai blonde itu mendobrak pintu kelasnya. Menjadikan seluruh pasang mata teman sekelas gadis itu seketika mengalihkan pandangan mereka ke arahnya. Tak ada yang memasang tampang kesal atau marah ketika melihat siapa pelaku pendobrakkan pintu kelas mereka.
Pelaku itu masih berdiri di ambang pintu dengan nafas yang tersengal kelelahan. Di tambah keringat sebesar sebiji jagung yang merembes keluar di pelipisnya membuat poni blonde yang menjuntai ke depan menutupi pelipisnya itu lepek.
'Sexy..' Batin seluruh pasang mata yang menatap gadis itu penuh minat dengan mata tak berkedip. Bahkan bagi yang straight akan rela menjadi bengkok demi mendapatkan gadis manis nan cantik sekaligus imut di depan mereka itu menjadi pasangan mereka. Ok, lupakan! Itu hanya sebuah kiasan saja.
Gadis itu berjalan menghampiri seorang pemuda yang memiliki warna rambut coklat madu jabrik yang sedang tertidur di bangku mejanya.
"Oey, Ken!" Pekik gadis itu mencoba membangunkan pemuda bernama Ken yang ternyata adalah teman sebangkunya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh temannya itu lembut.
"Engh.." Lenguh Ken, merasa terusik. Perlahan kedua mata pemuda itu mengerjap untuk menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk ke retinanya.
"Eh, Bella. Itu kau? Ada apa?" Tanya Ken, dengan suara serak khas bangun tidur seraya mengucek matanya.
"Kau sudah mengerjakan PR matematika dari pak Freddy, belum huh?" Tanya Bella, gadis itu mengeluarkan buku pekerjaan rumahnya dan menyodorkan buku itu untuk Ken.
"Hooam.. Belum. Tapi tak apalah. Palingan juga bakal jam kosong." Timpal Ken menguap malas. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku dengan kedua tangan yang menyangga kepala belakangnya.
Bella mengernyit menatap Ken tak mengerti. "Huh?!" Ia menelengkan kepalanya ke kanan. Jari telunjuknya menempel pada dagu. Ia bahkan berkedip-kedip lucu. Membuat seisi kelas yang melihatnya mimisan.
'Duh Bella. Bagaimana dia bisa secantik ini, sih? Sayang aku hanyalah sahabatnya. Dan prinsipku... Haㅡah...' Batin Ken menatap Bella nelangsa.
Ken berdehem sejenak menghilangkan kegugupannya. "Kau tidak dengar, kalau pak Freddy akan keluar karena di pindah tugaskan untuk mengajar di luar kota?"
Bella menggeleng kecil masih dengan tampang bodohnya. Ken menghela nafas paham. "Hari ini pak Freddy tidak masuk, Bell." Jelas Ken singkat juga jelas.
"Oh.. Terus apa hubungannya dengan PR yang belum kamu kerjakan? Belum tentu pak Freddy lupa, bukan?" Timpal Bella menyangkal ucapan Ken.
"Kemungkinan besar belum ada penggantinya." Ken berdecak sebal. "Ah, tapi terima kasih Bell. Kau baik deh. Perhatian lagi." Ken mengelus pipi Bella tanda kalau dia sedang mensyukuri hidupnya karena memiliki teman yang perhatian seperti Bella.
"Kerjakan saja. Untuk berjaga-jaga Ken." Seloroh Bella.
"Hmm.. Hmm.." Gumam Ken mengangguk-anggukkan kepalanya pasrah seraya mengerjakan perintah dari sang sahabat.
"Sudah dengar belum, bakal ada guru baru lho."
"Masa?"
"Iya. Iihh.. Ganteng banget deh guru baru itu." Ujar seorang siswi girang.
Bella diam-diam mencuri dengar obrolan dari para siswi yang baru datang di kelasnya. Ia mengernyit dan bertanya-tanya siapa guru baru itu.
"Ha-ah.. Ternyata sudah ada gantinya, ya?" Monolog Ken yang masih berkutat menyalin pekerjaan rumah milik Bella. Ternyata diam-diam dirinya mendengar ucapan mereka juga. Membuatnya berdecak kesal. Untung saja dia mau menuruti ucapan Bella.
Gadis itu hanya melirik Ken sejenak lalu mengalihkan pandangannya, ketika masuklah tiga orang pemuda yang kata siswa-siswi di sini adalah pangeran-pangeran tampan. Karena mereka masih berada di bangku kelas satu Senior High School.
Salah satu dari mereka menatap tajam Bella dan satu di antaranya menatap gadis itu penuh minat. Bahkan orang itu langsung menghampiri Bella dengan penuh semangat. Senyumnya mengembang ketika melihat wajah manis dari gadis itu.
"Selamat pagi, Bella cantik. Makin manis saja." Sapa seorang pemuda bersurai coklat gelap lurus bak rambut iklan shampoo seraya menoel dagu Bella genit. Ia menggendikkan alisnya menggoda gadis itu. Sembari menyandarkan pantatnya di samping meja milik Bella.
Bella mempoutkan bibirnya kesal. Tiap kali pria di depannya ini datang, selalu saja menggodanya dengan rayuan gombal. Dan lagi menyebutnya manis.
"Max, bisakah kau berhenti menggodaku?" Max, nama pria itu menggeleng dengan senyum nakalnya. Hal itu membuat Bella muak, menghela nafas berat sembari memutar bola matanya jengah, "Berhenti bermain-main!" pekik Bella memperingati pemuda itu.
"Ayolah, Bella. Seharusnya kau bersyukur aku menggodamu, kan? Aku tahu kau juga menyukaiku."
"Dalam mimpi! Pergi sana." dengus Bella mulai mengusir pemuda itu untuk menjauh darinya.
Salah satu teman Max dengan model rambut emo tersenyum sinis ke arahnya. "Dasar bodoh!"
Ctak!!
Perempatan imajiner seketika muncul di kening Bella saat mendengar ejekan yang di lontarkan oleh pemuda yang tak lain adalah Edward, teman semasa kecilnya itu dengan sangat jelas.
"Apa kau bilang?!" ujar Bella melirik Edward tajam penuh permusuhan.
"Bo...doh!" Ulang Edward tanpa dosa.
"Kauㅡ" Bella menunjuk wajah Edward geram dengan jari telunjuknya tertahan, nafasnya kembang kempis menahan marah, "Kau keterlaluan, Edward!!" Geram Bella, dia mengambil buku yang sedari tadi di bacanya dan melemparkan bukunya ke arah pemuda itu kesal. Siapa yang akan mengira kalau buku itu berhasil mendarat dengan mulus ke kepala Edward. Membuat sang korban pelemparan mengerang sakit.
"Ouch!! Sakit Bodoh!!" Ringis Edward, mengelus kepalanya yang terkena lemparan buku. Sebenarnya, timpukan dari Bella tidak terasa sakit sama sekali. Karena Bella melemparnya dengan tenaga yang tak begitu kuat. Dan seharusnya ia juga mampu menghindar, tapi Edward memilih untuk menerima timpukan itu. Baginya, menjahili Bella untuk mendapatkan perhatian dari gadis blonde itu adalah wajib.
"Berhenti memanggilku bodoh, Edward!!" Peringat Bella lebih garang lagi. Dia masih saja menunjuk wajah Edward dengan jari telunjuknya semakin kesal. Tapi naas, kegarangan Bella malah terlihat menggemaskan bagi orang-orang yang menyukai Bella.
"Hm."
"Dasar Alien!!" Umpat Bella hilang kesabaran.
"Kucing jelek!" Timpal Edward cepat membuat seluruh penghuni kelas cengo seketika. Karena baru pertama kali ini melihat sifat pemuda itu kini di luar sifat aslinya. Max bahkan di buatnya speechless. Sampai bergantian menatap keduanya yang tiba-tiba bertingkah absurd tiap kali bertemu.
"Kepala babi!!" Balas Bella lagi.
"Rubah buluk!"
"KAㅡ"
"EKHEM!!" Sebuah deheman dari suara baritone berat mengintrupsi kegiatan olok-mengolok mereka. Membuat seluruh siswa berhamburan kalang kabut untuk kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Dari ambang pintu, seorang pria berkemeja rapi menatap seluruh isi kelas dengan tatapan tajam. Setelah di rasa keadaan kelas telah kondusif rapi, pria itu masuk ke kelas tersebut diikuti oleh pria bersurai dark brown berperawakan tinggi tegap dengan garis wajah tegas. Bola mata obsidiannya menambah kesan dingin bagi siapa yang menatapnya. Kacamata yang ia kenakan bahkan terlihat seperti pria yang jenius namun penuh kemisteriusan.
Meski otot-otot tangannya tertutup oleh kemeja lengan panjang, namun para siswi bisa melihat betapa kokohnya bisep tangan pria itu. Tubuhnya tidak terlalu kekar, juga tidak kurus. Tapi pas dan sempurna untuk pria dengan tinggi sekitar 189 centimeter.
Apakah dia adalah guru baru mereka? Haㅡah... Betapa hidup itu indah. Batin seluruh siswi di kelas Bella mulai mengkhayal, ketika menatap penuh pemujaan pada salah satu pria di depan kelas mereka.
Edward berdecak tidak suka seraya memutar mata bosan ketika melihat orang di depan kelasnya itu. Ia juga melirik Bella yang terbengong menatap pria itu tanpa berkedip. 'Penganggu'. Batin Edward geram.
__ADS_1
Bella tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Kakaknya ada di depan mata dengan sikap dingin dan tenang meski mata kakaknya terlihat menyayu seperti orang kurang tidur. Ia baru pertama kali ini merasakan bisa jadi murid kakaknya secara nyata. Meski setiap hari dirinya mendapatkan les pribadi di rumah dari Alfred, namun tentu saja berbeda jika secara langsung di ajar oleh kakaknya di dalam kelas bersama dengan teman-teman sekelasnya.
"Selamat pagi, semuanya." Sapa pria dengan pipi kiri yang tampak menonjol seperti bekas operasi jahitan.
"Selamat pagi pak." Balas seluruh siswa.
Siswa perempuan tentu menjawab sapaan guru mereka dengan penuh semangat. Karena mata mereka yang tadinya sepet kini di suguhi oleh pemandangan yang sungguh indah. Sedangkan untuk siswa laki-laki mendesah kecewa. Sebab dengan adanya guru baru yang tampangnya terbilang cukup tampan itu merupakan bencana tersendiri bagi mereka.
"Saya kemari, hanya untuk membawa dan memperkenalkan kepada kalian, seorang guru baru matematika sekaligus pengganti wali kelas kalian untuk menggantikan saya mengajar hari ini dan seterusnya." pak Freddy melanjutkan maksud kedatangannya. Lalu memberi isyarat kepada pria di sebelahnya untuk memperkenalkan diri di depan murid yang akan di ajarnya.
"Hallo! Nama saya Alfred Arshavin Frederick. Panggil saja saya pak Alfred." Tukas Alfred. Ia sempat melirik ke arah bangku adiknya berada lalu kembali memperhatikan murid-murid lainnya.
"Nah. Kalau begitu, saya akan meninggalkan kalian sekarang. Belajarlah dengan rajin." Setelah Berpamitan pada Alfred, guru bernama Freddy itu memberi sepatah dua patah kata sebelum akhirnya berlalu pergi.
Kini tinggallah Alfred yang sendirian berada di dalam kelas yang merupakan kelas adiknya. Ia bahkan tidak menyangka jika kelas yang akan dia tempati menjadi kelas milik adiknya dan bahkan menjadi wali kelas untuk kelas Bella. Cukup lama Alfred hanya berdiri mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kelas dengan kedua tangannya yang terselip ke kedua sisi saku celananya. Menatap satu persatu siswa siswi barunya.
Alfred tersenyum, namun tidak tersenyum lantas menghela nafas. Dia berbalik mengeluarkan satu tangannya dari saku celana, dan menyambar buku yang tergeletak di atas meja belakangnya.
"Baiklah.. Sebelum saya mengabsen dan memberi pertanyaan untuk kalian, adakah di antara kalian yang ingin bertanya tentang saya?" Tanya Alfred santai, lantas ia mengedarkan pandangannya ke seluruh siswa siswi di kelasnya meminta respon.
Ia menyandarkan pantatnya di depan meja guru sambil melipat tangannya di depan dada. Itu membuatnya semakin menambah kadar ketampanannya. Tanpa di sadari oleh Bella, ia bahkan tersenyum melihat gaya yang jarang di lihatnya dari Alfred yang baginya sangat baru itu.
"Pak Alfred, apakah anda sudah memiliki pacar?" Seorang siswi yang duduk di bangku belakang Bella mengajukan pertanyaan pertamanya pada pria itu. Dan mendapatkan sorakan keras teman-temannya. Tapi siapa yang peduli, toh semua siswi pasti juga ingin tahu, bukan?
Alfred melirik Bella sekilas yang kini tengah cemberut kesal karena pertanyaan yang tidak masuk di akal itu. Entah kenapa tiba-tiba hati gadis blonde itu seketika memanas mendengarnya. Alfred menundukkan wajahnya menahan senyum dengan menutupinya menggunakan kepalan tangannya. Pria itu mendongak untuk memperhatikan murid-muridnya lagi.
Setelah di rasa tenang, Alfred menjawab, "Sudah." secara singkat, padat, dan jelas. Satu kata dengun sejuta arti. (´▽`)ノ♪
Tubuh Bella sontak terkesiap menatap Alfred tanpa kata ketika mendengar jawaban singkat dari kakaknya itu. Dan itu tidak luput dari perhatian Alfred juga Edward yang sudah saling tahu. Benarkah kakaknya sudah punya pacar? Sejak kapan? Tapi kenapa dia tidak tahu? Tiba-tiba Bella merasa di khianati dan merasakan dadanya berdenyut nyeri. Seakan tertusuk pisau belati yang tajam, itu perih. Ia menggelengkan kepalanya lirih mencoba untuk mengenyahkan pikiran negatif pada sang kakak itu untuk sementara waktu.
"Siapa pak?"
"Ah, itu terlalu pribadi untuk di jawab. Baiklah. Sesi pertanyaan untuk saya, saya tutup." Alfred mencoba mengelak dengan mengalihkan pertanyaan itu tanpa mempedulikan protesan murid-muridnya.
"Yaaahhh....." Desah kecewa semua siswi. Namun semua siswa berfikir sebaliknya. Mereka menyeringai dan mendesah lega. Jadi mereka tidak akan memiliki saingan berat lagi. Haha.. (๑•̀ㅂ•́)و✧
Alfred mengalihkan sesi tanya jawabnya dengan mengambil buku absensinya. "Bagi yang saya sebut namanya berdiri."
"Gwen!"
"Hadir." Alfred melirik sekilas siswi dengan surai yang di warnai merah itu, yang juga memiliki mata emerald yang baginya cantik. Namun berbahaya dalam sekali lihat.
"Sebutkan kesukaan dan yang tidak."
"Yang aku suka.. " Gwen melirik Edward penuh arti lantas membuat pipinya merona. "Ee.. Maksudku.." Ralat Gwen menggeleng keras meralat ucapannya. Sontak Alfred paham dengan maksud gadis itu, dia mendengus lelah menunggu maksud pengenalan dari gadis itu.. Hingga...
"Cukup!" Intruksi Alfred memotong tanpa belas kasih. Membuat semua yang mendengarnya mencoba menahan tawa mereka karena intruksi tiba-tiba saat Gwen sedang memperkenalkan diri. Gwen bahkan menghentakkan kakinya kesal dengan wajah tertekuk masam.
"Zoya?" Alfred melanjutkan. Dan itu membuat Gwen semakin merengut sebal. Ia menghempaskan bokongnya keras. Zoya sang gadis bersurai blonde itu memperkenalkan diri sesuai dengan apa yang di tanyakan Alfred lancar tanpa di buat-buat. Setelahnya berlanjut ke siswa berikutnya dan berikutnya lagi. Hingga tiba giliran dari Bella.
"Bella?"
Edward *** jari jemarinya kuat-kuat. Menahan emosinya yang tidak terkendali. Ia bahkan menggeretakkan giginya membuat teman di sampingnya mengernyit seraya meringis ngilu.
"Aku juga menyukai hal yang berhubungan dengan kakakku. Karena aku sangat menyayangi dia. Dan yang tidak aku sukai..." Bella memasang pose berfikir dengan bibir yang mengerucut lucu. Tak jauh dari tempat Bella duduk, seorang siswa diam-diam menatap Bella tertarik. Dan tiba-tiba...
Gubrakk!!
"Eh! Astaga. Ada yang kehabisan darah.!!" Pekik siswa yang teman sebangkunya tiba-tiba tersungkal pingsan akibat terlalu memperhatikan Bella.
"Eh?!" Bella ikut memekik lirih memiringkan kepalanya polos. Semakin menambah korban karena kehabisan darah.
Ken menepuk jidatnya seraya geleng-geleng kepala mendesah lelah. "Bella, hentikan tampang polos imutmu itu!! Kau membuat seluruh teman kita sekarat Bell, SE.KA.RAT!! Dan itu semua karena ulahmu!" Sungut Ken menangkup wajah Bella agar menatap dirinya dan memaksa gadis itu untuk kembali duduk. Ia bahkan menekan kata terakhirnya dengan mata melotot.
"Tapi aku tidak merasa telah melakukan sesuatu yang salah, Ken." Protes Bella tidak peka.
"Diam!!" Gertak Ken akhirnya membungkam bibir Bella dengan telapak tangannya geregetan.
"Hm.. Hm.." Bella mengangguk menurut saja, dan Ken melepas tangannya dari bibir Bella. Sesekali gadis itu melirik ke arah temannya yang tergeletak tidak sadarkan diri.
Alfred tidak menyangka kalau ternyata kepolosan Bella bisa menyebabkan korban mimisan sampai pingsan. Ah, ternyata adiknya menjadi primadona di kelas ini toh? Ia terkekeh.
"Tolong kau bawa temanmu ke UKS. Dan segera kembali." Titah Alfred. Dan siswa yang di maksud langsung keluar kelas dengan memapah teman sebangkunya tadi sambil menggerutu karena keberatan.
"Untuk yang di kelas, kumpulkan PR kalian yang di berikan oleh pak Freddy sebelumnya. Dan saya ingin mengingatkan untuk kalian. Nilai di bawah 80 akan mendapat sesuatu dari saya."
Dan kembali seluruh seisi kelas mendesah ricuh. Tidak menyangka kalau guru matematika sebelumnya memberi tahu soal PR yang ia berikan pada guru baru mereka. Dan.. Apa-apaan nilai di bawah 80?! Bukankah biasanya hanya akan mengatakan nilai di bawah 60? Bukankah minimal memiliki nilai 60? Bagaimana bisa berubah menjadi 80?!
(ノ`□´)ノ⌒┻━┻
Semua siswi wanita yang sempat terpesona oleh guru barunya itu, kini menyesali keputusan mereka. Guru mereka benar-benar berbahaya dan tidak bisa di ajak santai sedikit.
Ken mendelik shock ketika mendengar kalimat keramat yang sering terlontar dari mulut para guru matematika itu. Mendadak perasaannya jadi tidak karuan karenanya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya dan menyebabkan wajahnya mulai berubah pucat pasi.
Bella melirik Ken yang tampak terlihat pucat. Ia langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Ken dengan perasaan khawatir. Ken sontak melirik Bella sebal karena di kira menderita sakit.
"Apa yang kau lakukan Bell?" Selorohnya menatap Bella dengan lirikan mata tajam menyempit.
"Wajahmu pucat Ken. Aku khawatir kau sakit." Tukas Bella cemas. Ken mendengus terkekeh geli mendapat perlakuan tak terduga dari sahabatnya itu. Tapi dia cukup senang di khawatirkan oleh Bella.
"Aku baik-baik saja kok, Bell." Ken tersenyum simpul seakan mengatakan dirinya benar-benar dalam keadaan baik. Padahal mah batinnya menjerit tidak dan sedang menangis keras memprotes. Ia cemas karena guru baru hari ini tampaknya lebih sulit daripada pak Freddy guru lama mereka.
Interaksi keduanya tidak luput dari mata obsidian tajam milik Alfred. Diam-diam pria itu mengawasi keduanya. Mencari tahu apa yang terjadi di antara keduanya. Bukan maksud apa-apa. Hanya saja mengingat pesan kakak angkatnya dulu tentang keadaan Bella, membuatnya harus ekstra ketat mengawasi adiknya. Terlebih, adiknya adalah seorang perempuan.
Dan gadis blonde itu memiliki wajah yang kelewat manis dengan kulit putih bak porselin. Siapapun pria, baik tua maupun yang muda pasti rela mengantri untuk menjadi pasangan adiknya hanya demi mendapatkan adik blondenya itu.
"Kau membuatku takut, Ken." Lirih Bella menghela nafas lega. Ken hanya bisa tersenyum getir menanggapi.
*********
Jam istirahat tiba. Saat ini Alfred masih di sibukkan oleh beberapa tumpukan tugas PR yang di kumpulkan oleh siswa di kelas adiknya itu.
__ADS_1
Buku demi buku ia periksa satu persatu. Memberi nilai yang sesuai dengan hasil tugas yang telah di kerjakan oleh siswa siswinya. Ketika ia membuka hasil pekerjaan rumah yang telah adiknya kerjakan, ia menyunggingkan senyum simpul. Cukup senang dengan hasil yang di dapat oleh adiknya itu. Mengingat sekarang Bella tidak lagi tergantung pada dirinya ketika mengerjakan pekerjaan rumah tanpa meminta bantuan. Tapi saat ia membuka hasil pekerjaan rumah milik salah satu murid barunya yang sama persis dengan pekerjaan rumah Bella, pria itu terkesiap dan berhenti mengecek untuk sesaat. Alfred sangat yakin bagaimana adiknya menyelesaikan tugas berumus itu dengan caranya sendiri, hingga nantinya hasil yang di dapat tetaplah sama. Berbeda dengan pekerjaan milik siswa lainnya yang mengerjakan sesuai rumus yang telah di ajarkan. Bella lebih terlihat tidak ingin mengikuti aturan demi mencapai apa yang harus dia mengerti. Bukan karena dia menyalahi aturan yang diberikan guru dan ingin seenaknya sendiri. Tapi terkadang meskipun dia pintar, Bella tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar secara baik. Bella tidak akan paham dan mengerti pelajaran yang sedang di terangkan oleh gurunya. Oleh sebab itulah, Bella memilih jalannya sendiri dengan cara mempelajari pelajaran itu dengan caranya, dan mengabaikan cara yang di ajarkan orang lain yang tidak akan sampai ke otaknya. Meskipun berbeda, tetapi maksud tujuan mereka selalu sama.
Memilih beristirahat, Alfred beranjak dari kursi kerjanya dan keluar untuk sekedar mencari angin. Ia juga ingin melihat-lihat semua fasilitas yang ada di sekolah barunya mengajar itu.
Tak jauh dari tempatnya, ia bisa melihat Bella sedang bersama dengan teman sebangkunya di kantin sekolah. Mereka terlihat tampak begitu akrab. Hingga tidak sengaja iris mata mereka saling bertemu. Alfred memberi isyarat kepada Bella melalui matanya untuk mengikuti dirinya.
Dan Bella yang mengerti langsung meminta ijin pada Ken untuk pergi lebih dulu. Ia terus berjalan sedikit berlari mengejar Alfred sampai di sebuah halaman belakang sekolah.
Alfred berdiri bersandar di bawah pohon maple seraya membaca novel dengan sampul hijau.
"Kak Alfred?" Lirih Bella. Namun masih bisa di dengar oleh Alfred.
Alfred berbalik menatap adiknya dengan mata sayu. Bella berjalan mendekat. "Kau sudah makan?" Tanya Alfred.
Bella nyengir.
"Sudah. Kakak sendiri bagaimana?" Tanya Bella balik. Alfred hanya mengangguk saja.
Tiba-tiba Bella mempoutkan bibirnya. Membuat Alfred mengerutkan keningnya tak paham. "Kenapa kakak tidak bilang, kalau kakak akan mengajar di sini?" Rengek Bella melayangkan protes.
"Kakak tidak tahu kalau akan di pindah tugaskan di sini." Jawabnya. "Apa kau senang?" Imbuh Alfred.
Tentu saja hal itu membuat Bella langsung berseri. Lantas mengangguk cepat. "Ya, dengan begitu kita bisa berangkat bersama, bukan?" Bella kembali nyengir lebar. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah sedih. "Apa benar, kakak sudah punya pacar?" Tanya Bella tiba-tiba.
Alfred menaikkan sebelah alisnya lalu terkekeh kecil. Bella menatap Kakaknya bingung. "Tidak Bella."
"Tapi tadi-"
"Anggap saja aku berbohong pada mereka supaya mereka tidak mendekati kakak. Kau mengerti?" Alfred memotong ucapan Bella dan langsung menjelaskan maksudnya.
"Kalau kakak ingin punya pacar, tentu kakak pasti akan meminta ijin padamu terlebih dulu, Bella." Imbuhnya.
"Janji?"
"Janji." Dan Alfred mengacak surai blonde adiknya lembut sembari tersenyum hangat.
Dari arah atap, Edward juga kedua temannya sedang menghabiskan waktu istirahat mereka. Dengan Sammy yang tertidur di pojokan dimana ia menemukan tempat yang sejuk, lalu Max yang tengah bermain game dengan ponselnya. Edward sendiri tengah menatap nyalang dengan mengepalkan buku-buku jarinya hingga memutih, ketika matanya tidak sengaja menangkap dua objek manusia yang sudah di kenalnya sedang asik berduaan. Di tambah mereka yang tampak menikmati waktu mereka bercanda bersama. Darahnya mendidih hebat, rahangnya mengeras. Ia menggeretakkan giginya menahan emosinya yang semakin lama tersulut.
"Bella!!" Geram Edward.
.
Alfred menatap lekat wajah Bella yang ternyata sama sekali tidak berubah itu. Ia sedih mengingat Bella begitu baik meminjamkan pekerjaan sekolahnya kepada teman-temannya. Apa sedari dulu adiknya seperti ini?
"Bella." gadis itu mendongak menatap kakaknya masih dengan senyum manisnya. "Kenapa kau memberikan pekerjaan rumahmu pada temanmu untuk di contek?" Bella terkesiap, sekaligus membuat senyumnya perlahan memudar.
Bagaimana kakaknya bisa tahu? Dia tidak menyangka kakaknya akan menyadari hal itu begitu cepat.
"Kau tidak bisa membohongi kakak, Bella. Kakak hafal semua yang kau kerjakan." Kembali Alfred mengintrogasi Bella. Bahkan tatapannya kini seakan tengah sedang menguliti gadis itu.
"I-itu.. Emmb... Be-bella tidak tega pada teman Bella, kak." Bella menelan kering mencoba membela diri, meskipun dia tahu itu tidak akan berhasil. Suaranya bahkan bergetar karena kepergok. Alfred mengangkat alisnya heran.
"Dia tidak pintar dalam ilmu matematika." Imbuhnya.
Alfred menghela nafas keras. Kadang adiknya kalau sedang baik suka berlebihan. Membuat Bella gampang di manfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kalau tidak pintar, Bella bisa mengajarinya, bukan?" Bella akhirnya mengangguk lemah membenarkan. "Jangan di ulangi lagi, Ok?"
"Hm... Okay." sahut Bella, dengan suara lirih.
******
"Kau kenapa, Bell?" Tanya Ken, saat Bella baru datang dengan jalan yang sedikit sempoyongan tak bersemangat.
"Hm.. Tidak kenapa-kenapa Ken." Ken semakin curiga menatap sahabatnya lekat-lekat. Tidak biasanya sahabatnya itu kelihatan lemas seperti itu. Lagipula Bella juga sudah makan bersamanya. Tapi kenapa justru terlihat tak seceria biasanya?
Memilih tak ambil pusing, Ken mengenyahkan pemikirannya itu jauh-jauh. "Oh ya, apa kau mau ikut kami nonton, Bell? Aku di ajak Tea nonton. Katanya sih suruh ajak kamu."
"Tidak Ken. Aku harus pulang. Aku tidak mau kakakku marah padaku." Tolaknya.
Ken terdiam. Tapi sedetik kemudian ia tersentak kala ingat ucapan Bella saat perkenalan dengan guru baru.
"Hey, Bella." gadis itu menoleh Ken. "Kau tidak ingin punya pacar?" Bella menggeleng. Membuat Ken sontak mengernyit.
"Kalau aku punya pacar, bagaimana dengan kakakku nanti?" Mendengar jawaban Bella membuat Ken tergelak.
"Hahaha.. Bella. Kau itu polos atau bodoh?" Bella manyun tidak suka. Kenapa semua orang memanggilnya bodoh?
"Kalau kau punya pacar, kakakmu juga akan punya pacar, Bell." Kata Ken.
Bella semakin cemberut. Ia benar-benar tidak suka dengan ucapan Ken yang mengatakan kakaknya juga akan memiliki kekasih. Bahkan ia belum siap untuk melihat kakaknya bergandengan tangan dengan seorang wanita. Entah kenapa pembicaraannya dengan Ken membuat moodnya memburuk.
Jangankan bergandengan, ia sendiri tidak suka bila kakaknya bicara dengan orang lain selain dirinya. Ia hanya ingin hidup bersama dengan kakaknya tanpa ada pihak ketiga bernama kekasih.
"Kenapa kau tidak coba dekati Edward, Bell?" Saran Ken tiba-tiba.
"Huh?" Bella bingung.
Ken mendecih. "Hey Bella. Kau itu normal, kan? Kau tidak mungkin memiliki perasaan pada kakakmu itu, bukan?" Ungkap Ken akhirnya. Ia menyempitkan matanya menatap tajam Bella.
"Entahlah Ken. Aku tidak tahu."
Sejenak keheningan menghampiri mereka. Kadang Ken merasa suka bingung sendiri tiap kali berhadapan dengan Bella mengenai soal perasaan. Gadis itu cenderung tidak mengerti dan tidak bisa membedakan mana jatuh cinta, dan mana rasa suka. Dan dia sebagai sahabat harus lebih ekstra sabar lagi tiap kali berbicara dengan gadis blonde itu. Terlebih usianya masih 13 tahun. Dan sebentar lagi 14 tahun.
.
.
.
.
__ADS_1