
Edward tidak pernah mengerti kenapa hatinya selalu sakit melihat Bella yang menderita seperti saat ini. Ketika dia berhasil meminta kunci duplicate rumah tinggal Bella dari Deana ibunya, dia dan Bella mencoba untuk mengecek rumah itu. Dan anehnya, rumah itu kosong.
Bahkan barang-barang milik Alfred dan Bella hilang begitu saja.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Deana hanya bisa cengo melihat keadaan rumah yang di tempati oleh Alfred dan Bella itu.
Tempat ini benar-benar kosong. Foto-foto Bella dan Alfred yang terpajang indah di setiap sudut ruangan dan dinding pun sama sekali tidak ada. Semua hilang. Pakaian Bella, pakaian Alfred, semuanya juga ikut hilang. Apakah pria itu pergi tanpa berpamitan dengan mereka? Deana sedikit kecewa dengan sikap Alfred. Tapi anehnya, dia sendiri tidak tahu kapan ada mobil pengangkut barang yang datang kemari untuk mengangkut semuanya.
"Aku akan coba hubungi Alfred." Helena mengambil ponselnya dan mendial nompr pria itu.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, Cobㅡ"
"Sibuk." ujar Helena singkat kepada semua orang. Bella tidak mengerti dengan keadaan saat ini.
Di saat dia ada kesempatan untuk keluar dan menemui pria itu, justru pria itu tidak dapat di temui. Bahkan menghilang tanpa ada kabar. Apa Alfred meninggalkan dirinya seorang diri? Jangan. Jangan sampai hal itu terjadi. Dia tidak mau kehilangan Alfred. Dia tidak mau di pisahkan dari pria itu.
"Hiks..." Edward menoleh menatap Bella yang duduk di sofa ruang tamu dengan sorot mata kosong. Pria itu lantas berjalan menghampiri Bella, dengan sigap dia memeluk wanita itu erat mencoba memberikan kenyamanan.
Bella menangis sesenggukan, "Edward. Kakakku tidak mungkin meninggalkan aku sendiri, kan?"
"Tidak akan."
"Apa... Hiks, apa ini perbuatan dari bibi Anita? Bagaimana bisa dia begitu tega denganku, keponakannya sendiri?!" selorohnya penuh kekecewaan.
"Ssttt... Jangan berfikir negatif dulu. Kita akan mencari dia okay? Tenangkan dirimu Bella. Ingat, kamu tidak boleh stress, kan? Kasihanilah bayi di dalam perutmu." mendengar ucapan Edward, Bella menunduk menatap perutnya yang masih rata, mengusapnya dengan tangan bergetar masih terisak.
Hati Edward semakin terluka, dia tidak tahu apa lagi yang harus dia perbuat untuk bisa membuat Bella kembali ceria.
**********
Lelah menangis, Bella akhirnya tertidur di dalam pelukan Edward dengan nafas yang masih sesekali sesenggukan. Edward tidak tahan melihat kondisi Bella, terlebih ketika dia melihat kedua mata wanita itu kini membengkak akibat terlalu banyak menangis.
Telah banyak yang dia lakukan segalanya untuk wanita itu. Meskipun dia lelah, namun dia masih ingin bertahan meskipun hal ini akan membuat hatinya semakin dilema. Edward ingin membuat Bella bahagia walaupun dia tahu, bahwa hanya akan ada rasa sakit yang dia terima.
Pergi sulit bertahan sakit, mungkin itu juga yang membuatnya tetap bertahan. Kisah percintaannya memang sungguhlah pahit. Dia harus menerima kenyataan bahwa Bella hanya bisa dia jadikan angan-angan tanpa bisa memilikinya. Sampai kapan dia harus bertahan dengan perasaan yang tidak akan terbalaskan ini? Dia sendiri tidak tahu.
Meski dirinya sendiri tahu hanya akan menjadi dia yang akan selalu terluka. Sungguh, dunia terasa sangat sempit. Hatinya ingin menyerah, tapi dia masih saja mencintainya. Rasanya, Tuhan sungguh tidak adil. Tapi bagaimana bisa dia menyalahkan Tuhan?
Dia hanya ingin bahagia, tapi kenapa justru hanya rasa sakit yang selalu dia terima?
Bella. Bisakah dia memiliki wanita ini walaupun hanya sedetik saja? Bisakah wanita itu juga memiliki sedikit saja perasaan kepadanya seperti dia yang memiliki rasa cinta untuk wanita itu selama ini? Heh! Mustahil.
Tak mengerti apa yang telah terjadi, hari demi hari, semuanya berubah. Dia tak akan lagi sama seperti dulu Edward mengenalnya. Seolah wanita itu bukan Bella yang dia kenal dulu, yang selalu mencari dan meneleponnya di setiap waktu. Dering telepon dari Bella selalu dia nantikan setiap saat. Namun, semuanya berubah. Tak ada lagi semua yang pernah terjadi, Bella yang selalu bergantung padanya telah hilang.
Tapi Edward selalu meyakinkan hatinya, walaupun wanita itu mencoba menghapus bayangannya, menghempaskan dirinya dari hidup wanita itu, menggantikan cintanya dengan cinta orang lain, Semua itu tidak akan pernah mampu menghilangkan cinta yang pernah di berikan oleh Bella meskipun cinta itu tidak lebih dari cinta seorang sahabat.
Walaupun wanita itu akan mulai berubah dengan seiring berjalannya waktu, dia akan tetap bertahan di sepanjang waktunya, mencintai wanita itu dengan caranya sendiri.
Edward menghela nafas berat menyingkap helaian rambut Bella ke belakang telinganya, "Bella. Mengertikah kamu, bahwa aku merindukan kamu yang dulu. Dan tahukah kamu, bahwa aku tidak pernah suka melihatmu selalu dekat dengannya."
Edward melihat keluar jendela menatap langit. "Bolehkah aku egois sedikit saja? Memilikimu seutuhnya seperti dia memilikimu selama ini. Biarkan aku selalu mencintaimu untuk selamanya. Biarlah, aku tidak mengapa bila harus terluka."
Perlahan, Edward mencium lembut kening Bella lama. Mencoba untuk menyalurkan rasa cintanya ke dalam kecupannya.
"Alfred..." tubuh Edward membeku sebelum dia mendengus mentertawakan dirinya sendiri. Selamanya, dia tidak akan pernah menang dari pria itu. Haㅡah... Dia memang tidak bisa terlalu berharap banyak pada nasib dan takdir yang sudah di gariskan.
Siang telah berganti malam. Namun, malam ini tidak secerah seperti biasanya. Malam ini, mendung bergelayut manja di atas langit. Awan hitam menggumpal seolah ingin jatuh ke bumi. Bintang hilang, bulanpun bersembunyi.
Edward menatap sendu langit malam ini. Sepertinya, akan turun hujan. Pria itu kembali menatap tubuh Bella yang sedang tidur tidak sadarkan diri. Tidak begitu lama, Deana muncul membuka kamar Edward dengan ekspresi sendu.
"Bagaimana keadaan Bella?" tanya Deana cemas.
"seperti yang Mommy lihat. Dia masih tidur sesenggukan. Dia bahkan mengigau memanggil nama Alfred." mendengar penjelasan putra bungsunya, hati Deana meringis sakit. "apa masih tidak ada kabar dari pria itu?"
Deana menggelengkan kepalanya sebagai respon dan masih setia menatap wajah Bella yang semakin hari semakin kurus. Edward tidak habis mengerti. Bagaimana bisa pria itu hilang tanpa kabar begitu saja? Apakah pria itu sudah gila? Masalah di sini belum selesai, dan dia tiba-tiba sudah menghilang seolah tidak ingin terlibat lagi dalam permasalahan Bella. Apa Alfred benar-benar ingin Bella menjauh dari kehidupannya? Dia tidak yakin.
"Makan malam dulu. Biar mommy yang menjaga Bella."
"Hm.."
Anita sangat marah saat tahu Bella pergi dari kediamannya. Meskipun keponakannya telah bertunangan dengan Edward, tidak bisa dia pungkiri bahwa dia masih sangat cemas jika sewaktu-waktu Bella menemui pria itu.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan dia pergi, Chal? Bagaimana kalau dia bertemu dengan anak pungut itu?sekarang, telepon Edward dan minta dia bawa pulang Bella sekarang juga." racau Anita bersungut kesal. Ashley duduk memperhatikan kedua orangtuanya berdebat sambil menikmati camilan.
"Anita, dia pergi bersama Edward untuk mengecek jadwal kuliah Bella. Seharusnya keponakanmu itu tidak mungkin bertemu dengan Alfred, kan?"
"Dad! Kau harus tahu, aku juga kuliah di kampus yang sama dengan mereka. Dan aku tidak melihat mereka tadi."
"Lihat?! Apa yang Ashley katakan, hah?!" Ashley menyeringai mencemooh ayahnya yang tiba-tiba berbohong di depan ibunya. Ada apa dengan ayahnya hari ini? Oh ayolah, ayahnya bukanlah orang yang pandai berbohong. "Chal, jangan membohongiku! Aku tidak mau kita bertengkar hanya karena masalah ini, okay?"
"Haㅡah... Baiklah, telepon Edward sendiri. Dan tanyakan apakah dia bertemu dengan Alfred hari ini." Chal memilih menyerah dan angkat tangan sebelum dia berlalu dari hadapan istrinya dan putri sulungnya yang sungguh sama persis dengan watak ibunya.
Pada akhirnya, Anita lebih memilih menelepon Deana dan memastikan melalui mereka. Dia yakin, Deana dan keluarganya tidak mungkin memiliki hubungan dengan Alfred.
"Ini aku, Deana. Apa Bella bersamamu?"
"...."
"Oh... Syukurlah. Terima kasih, Deana. Kalau dia sudah bangun, tolong minta Edward untuk segera membawanya pulang."
"...... " Anita bergumam, tersenyum sebelum akhirnya menutup sambungan teleponnya setelah mengucapkan terima kasih.
**************
Kicau burung di pagi ini saling bersahutan di atas ranting pepohonan pohon oaks tidak jauh dari sebuah rumah mewah bergaya Victoria bak istana. Rumah dengan cat merah bata perpaduan dengan warna putih berarsitektur Eropa. Sinar mentari mencoba melewati celah-celah kosong yang mampu di laluinya. Di rumah mewah tersebut, para Butler, maid dan juga penjaga berseliweran di mana-mana.
Di sebuah kamar dengan nuansa hitam dan putih tampak seorang pria tengah tengkurap di atas kasur berukuran king size, tubuhnya terbalut oleh bedcover hitam perpaduan abu-abu. Hanya menyisakan kedua tangan yang menumpu kepala. Perlahan mata obsidian milik pria itu terbuka. Tampak begitu kosong di dalam kedua mata itu. Pria itu mendesah perlahan sebelum berbalik dengan posisi telentang menghadap langit-langit kamar yang di tempatinya.
Meski kamar itu tampak begitu nyaman, namun rasanya masih ada yang kurang bagi pria itu. Bahkan tidurpun tidak merasa nyenyak. Padahal seharusnya dia bisa tidur dengan nyenyak tadi malam. Mengingat dirinya tidak pernah tidur di kasur empuk seperti saat ini selama hidup. Paling mentok hanya menggunakan kasur tua yang cukup keras.
"Bella. Apa kamu merindukanku? Saat ini aku sangat merindukanmu." Monolognya.
Alfred Arshavin Frederick, nama pria itu kini tinggal di rumah mewah milik sepasang suami istri yang salah satunya bermarga dari Aberald. Setelah sebelumnya wanita bernama Yoana Marquise berusaha keras membujuk pria itu agar mau di ajak tinggal bersama. Mengingat Yoana berniat untuk mengangkat dirinya menjadi putranya dengan suaminya.
Flashback on...
"Tinggallah bersama dengan kami mulai sekarang." Pinta Yoana masih berusaha membujuk.
"Tapi Nyonya–"
"Mama, Al. Aku sekarang ibumu!" Yoana menaikkan nada bicaranya untuk mempertegas bahwa sekarang pria itu merupakan pengganti putranya yang telah tiada. Lagipula, jika Thomas putra kandung mereka mengangkat Alfred sebagai adik, tentu saja dia juga sudah menjadi ibu sekaligus orangtua untuk Alfred.
"Secara tidak langsung kami sudah menjadi orangtua untukmu, kan. Jadi ya... sudah seharusnya kamu memanggil kami Ayah dan Mama kepadaku dan juga istriku." Hans menambahi. Pria tua itu lantas menuangkan wine ke dalam gelasnya, menggoyangkan sejenak lalu menyesapnya sedikit demi sedikit.
"Suatu kehormatan bagiku bisa menjadi bagian dalam keluarga ini. Jujur saja, aku merasa tidak pantas mendapatkan semua ini dari kalian." Tukas Alfred rendah hati. Dia berusaha menundukkan harga dirinya yang memang merasa tidak layak mendapatkan semua perlakuan sebagai seorang putra.
"Kamu tidak perlu merasa tidak pantas seperti itu. Mulai sekarang tinggallah di mansion kami. Itu juga merupakan rumah untukmu." Hans menimpali. Saat Alfred akan membuka bibirnya untuk bersuara, dia lantas lebih dulu mendahului. "Soal Bella, serahkan semuanya pada kami. Semua akan baik-baik saja."
Dan Alfred menelan kembali kata-katanya lantas mengangguk setuju. Yah... Dia bisa apa kalau orang berkuasa sudah mulai bertindak. Dirinya bahkan tidak mampu menentang jika itu sudah menyangkut masalah Bella yang akan di ambil alih. Toh itu juga yang di inginkannya sejak awal. Bella kembali untuknya.
Dengan berat hati dia akhirnya menyetujui permintaan kedua orang di hadapannya yang kini sudah resmi menjadi orangtua angkatnya untuk tinggal di rumah mereka.
Flashback off...
Seorang wanita bersurai honey brown di ikat lemas di kedua sisi dengan mata hazel tampak begitu rapi dengan blazer berwarna putih cream seraya berjalan anggun menghampiri pria tua yang kini tengah asik menopang kaki di atas lutut kaki sebelahnya sembari membaca koran pagi. Di temani secangkir kopi dan beberapa potong muffins coklat.
"Hans."
"Hm?" Gumam pria tua itu sebagai respon untuk istrinya tanpa mengalihkan diri dari koran.
__ADS_1
"Kita harus menemui wanita itu untuk mengambil alih cucu kita sekarang." Tukas sang istri.
"Hmm.. Uh-huh... Kau benar Yoana. Tapi jangan sampai kamu tersulut emosi. Kendalikan amarahmu nanti." Hans memperingatkan seraya melipat kembali korannya. Menurunkan kaki sambil menegakkan tubuhnya hanya untuk menatap sang istri tercintanya. Seorang wanita yang sangat sulit untuk di takhlukkannya dulu hanya karena dirinya berotak mesum dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas untuk menapaki sebuah kehidupan berumah tangga di usia dewasanya.
Dan dengan kerja kerasnya sebagai pengusaha, usaha untuk mempersunting sang istri akhirnya membuahkan hasil. Dan sekaranglah hasilnya. Hidup berdua penuh dengan kebahagiaan meskipun harus mengalami masa-masa sulit dengan harus kehilangan putra semata wayang mereka di usia pernikahan yang ke delapan belas tahun.
Berharap dengan adanya Alfred sekarang dan juga cucunya nanti akan membuat kehidupan mereka kembali berwarna dan penuh keceriaan. Seperti saat mereka masih tinggal bersama Thomas, putra satu-satunya yang mereka miliki.
"Aku mengerti. Kamu tidak perlu mengajari hal semacam itu." Yoana bersungut membuang muka dari sang suami.
Hans menaikkan sebelah alisnya. Terkekeh geli melihat tampang istrinya yang terlihat kesal. "Heh!! Kamu tidak pernah berubah sama sekali, Yoana. Bukan hanya penampilanmu saja yang terlihat sama ketika kamu berusia 30tahun. Tapi pemikiran juga sifatmu masih saja sama."
"Jadi kamu menyesal karena telah menikahiku? Begitu?!" Seloroh Yoana menyindir, dia melirik tajam pada Hans penuh permusuhan.
"Tidak. Sama sekali tidak. Justru itu yang membuatku semakin mencintaimu."
"Cih, pembual!!" Yoana berdecih sinis sebelum berbalik meninggalkan sang suami yang terkekeh geli padanya.
"Apa Alfred sudah bangun?" Tanya Yoana pada seorang Maid yang tampak tengah menyiapkan sarapan.
"Sepertinya sudah Nyonya." Jawab Maid itu. Dan wanita itu hanya bergumam paham. Dia lalu duduk di salah satu bangku meja makan sembari menunggu sang suami juga anggota baru di keluarganya, Alfred Frederick.
*************
Alfred tampak bingung dengan pikirannya sendiri di atas tempat tidur baru. Hari ini dia harus mengajar, atau cukup berada di rumah keluarga barunya. Tapi jika dia memilih mengajar, apa kedua orang yang kini menjadi orangtuanya akan mengijinkan dirinya pergi untuk bekerja? Mengingat cerita masa lalu kakak angkatnya yang di larang untuk menjadi guru.
TOK TOK TOK...
Alfred menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka perlahan. Menyembullah seonggok kepala dengan bandana khas Maid. Seorang wanita maid yang baru masuk itu membungkuk memberi hormat seraya meminta maaf.
"Maaf Tuan muda."
"Haㅡah... Sudah aku bilang pada kalian. Tidak perlu memanggilku dengan embel-embel 'tuan muda' padaku. Cukup Alfred saja." Sela pria itu mendesah lelah. Sejak menginjakkan kaki di rumah mewah milik Yoana juga Hans, dia mulai di perlakukan seperti putra seorang raja. Para Butler dan Maid juga langsung mengbungkuk hormat menundukkan pandangan mereka bila bertemu tatap dengannya. Memanggilnya dengan embel-embel yang baginya sangat memuakkan. Bukan tidak suka, dia hanya belum terbiasa. Bahkan jika dia sudah terbiasapun, pria itu tidak akan merasa nyaman. Mengingat dia hanyalah orang biasa dengan hidup yang serba kecukupan.
"Kamu cukup memanggilku Alfred saja. Dan~ kalau kamu merasa takut jika mereka menegurmu, kamu bisa memanggilku Alfred saja saat Nyonya Yoana-ibuku dan juga Tuan Aberald-ayahku sedang tidak ada di dekatku." Kembali Alfred mencoba menjelaskan.
"Ah, baik Tuan Alfred." Ujar Maid itu kembali membungkuk. Alfred memutar bola matanya mulai jengah dan kembali menghela nafas lelah.
'Setidaknya itu mungkin lebih baik daripada harus di panggil tuan muda.' Batinnya.
"Eerr.. I-itu, Tuan Alfred. Anda sudah di panggil oleh Nyonya Yoana juga Tuan Aberald di meja makan untuk sarapan bersama." Tukas Maid itu memberi tahu maksud kedatangannya.
"Huh? Uh-huh, humm.. Aku akan segera menemui mereka." Sahut Alfred.
Maid itu membungkuk sejenak sebelum mengundurkan diri keluar dari kamar Alfred. Meninggalkan pria itu yang masih terlihat seperti mengantuk dengan mata sayu. Sejenak Alfred terdiam bergeming di tempatnya. Sebelum memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Cukup hanya menghabiskan waktu setengah jam untuk bersiap-siap. Alfred memutuskan untuk berangkat mengajar. Meski hatinya masih belum merasa lebih baik.
Di meja makan, Yoana tengah melayani Hans. Mengambilkan sarapan dan memberikan ke depan sang suami. Wanita itu menoleh ke arah kedatangan Alfred yang baru saja sampai di tengah-tengah mereka.
"Kamu akan mengajar?" Tanya wanita itu.
"Ya Ma. Tidak masalah, kan?" Ujar Alfred sedikit merasa tidak enak hati.
Yoana tersenyum simpul. "Tak masalah. Tapi kamu yakin, hari ini ingin mengajar? Mama rasa sebaiknya kamu mengambil cuti untuk hari ini. Wajahmu pucat tampak tidak sehat." Tandas Yoana.
Haㅡah.. Ternyata memang benar. Wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. Padahal sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan sakitnya.
"Jika itu yang kamu inginkan, aku tidak bisa membantahnya." Yoana menghela nafas lega mendapat respon Alfred yang tidak membantahnya. Hans pun juga ikut merasa lega.
"Baiklah. Kamu bisa pergi kemanapun untuk menghibur diri. Kamu juga bisa memakai salah satu mobil di garasi yang kamu suka. Kami harus pergi." Hans bersuara seraya bangkit dari duduknya.
Alfred mengerutkan kening bingung. "Memang kalian akan pergi kemana?"
"Menjemput Bella, kan? Cucu kami."
Sejenak Hans kembali memutar tubuhnya menatap Alfred lekat. Lalu beralih pada istrinya yang juga menatapnya dan kembali menatap Alfred pula.
"Mungkin sebaiknya kamu tetap di sini saja. Soal Bella, biar kami yang menyelesaikannya." Papar Yoana.
"Ya. Lagipula, jika kamu ikut akan sangat beresiko. Kamu akan di tuduh hal yang mungkin lebih kejam lagi. Biar kami saja yang mengurus masalah ini." Hans menambahkan. Yoana lalu mengangguk setuju sambil menatap lekat Alfred yang mulai menyendu. Dengan berat hati pria itu mengangguk lemah sebagai tanda dia menerima penolakan Hans juga Yoana.
Mungkin ada benarnya juga kalau dia harus tetap stay di rumah itu. Terlebih ketika dia mengingat bagaimana perlakuan Anita kepadanya yang begitu buruk. Kalau boleh pria itu memilih, saat itu dia bisa saja mengembalikan segalanya yang pernah di berikan oleh Thomas dan Adelina selaku kakak angkatnya. Selama dia bekerjapun sudah mampu mengembalikan segalanya. Segala hal yang dulu di titipkan Thomas untuk biaya kehidupannya dan Bella di waktu masih kecil. Dengan begitu Anita tidak akan lagi berani menghinanya. Lagipula, tidak banyak harta peninggalan Thomas yang dia gunakan untuk biaya hidupnya dan Bella. Pria itu bahkan masih bisa menghidupi hidupnya bersama sang adik angkat tanpa sepeserpun uang peninggalan kakak angkatnya itu.
Setelah benar-benar yakin Alfred sedikit tenang, Hans menepuk bahu istrinya Yoana untuk segera berangkat. Wanita itu mengangguk singkat.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, okay? Kami janji, kami akan membawanya pulang secepatnya." Ujar Yoana mantap. Alfred hanya bergumam mengatakan sesuatu yang hanya bisa dia dengar lantas mengangguk kembali.
"Hati-hati di jalan. Ma, ayah."
"Pasti. Jaga diri baik-baik." timpal Yoana tersenyum simpul pada pria itu.
************
Bella semakin murung di dalam kamarnya setelah pulang dari rumah Edward. Bahkan Aleysia sudah tidak tahu lagi harus membujuk Bella bagaimana lagi hanya untuk makan. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Bella saat ini. Bukan hanya Bella, tapi juga calon bayi wanita itu yang masih sangat membutuhkan asupan gizi yang seimbang. Kalau begini terus, yang ada akan membahayakan diri Bella dan janin yang kini sudah memasuki usia kandungan dua bulan itu.
Si blonde hanya meringkuk di pojok tempat tidurnya. Memandang keluar balkon dengan mata merah karena terlalu banyak menangis. Keadaannya benar-benar berantakan sekarang. Aleysia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan sepupunya itu. Sejak kepulangannya dari rumah Edward, Bella semakin menjadi-jadi dalam menutup dirinya.
"Bella, kita sarapan dulu ya. Apa kamu tidak khawatir dengan bayi di perutmu?"
"Kak Alfred, Ale. Dia...." Lirih Bella dengan sorot mata kosong.
Aleysia menunduk dalam. Dia menghela nafas frustasi. Bagaimana sekarang? Dia harus melakukan apa untuk membuat sepupunya ini mau makan?
"Bagaimana Ale?"
"Kak Brandon?" Pekik Aleysia beranjak berdiri untuk menghampiri Brandon yang baru saja tiba bersama dengan Edward.
"Hm." Gumam Brandon memeluk erat Aleysia yang langsung menerjangnya.
"Bella masih tidak mau makan, Kak. Aku bingung." Adu Aleysia. Sejenak Brandon melirik wanita itu yang memang hanya bisa meringkuk memeluk lututnya dengan pandangan kosong.
"Ini salahku." Celetuk Edward. Mengundang kernyitan dalam pada kening Brandon heran. "Kalau saja aku tidak membawanya pulang untuk menemui Alfred–"
"Itu bukan salahmu, adim bodoh!" Potong Brandon cepat sedikit menaikkan nada suaranya satu oktaf. "Kamu melakukan semua ini juga untuk Bella."
"Tapi Kak Brandon–" Aleysia menjeda sejenak hanya untuk meminta perhatian dua pria tersebut. "Sebenarnya di mana kak Alfred? Tidak mungkin kalau ibuku yang melakukan semua ini, kan? Aku sudah mencoba menanyakan masalah ini padanya. Tapi jawaban ibuku tidak tahu."
Brandon memasang posisi berfikir. Membenarkan ucapan Aleysia. Jika Alfred telah di bawa oleh suruhan Anita, seharusnya wanita itu tahu keberadaan Alfred saat ini. Tapi bisa juga, Anita mencoba menyangkal agar supaya tidak ketahuan. Ha-ah... Benar-benar membingungkan.
Dan ketika mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba dari arah bawah terdengar Anita yang berteriak murka menyebut-nyebut nama Bella. Membuat mereka tersentak terkejut dan penasaran. Ketiganya saling menatap mencoba saling bertanya lewat sorot mata mereka, namun mereka hanya memberikan sorot yang sama. Menggendikkan bahu tidak tahu, sama-sama tidak tahu apa yang sedang terjadi di bawah sana.
"Kita ke bawah sekarang!" Pekik Aleysia mendahului kedua saudara kakak adik itu yang masih berdiri tegak dengan tampang datar mereka.
.
Salah satu penjaga villa milik keluarga Lincolnshire yang di tempati oleh Chal Lincolnshire sekeluarga itu mencegat sebuah mobil limousine yang di kendarai oleh Hans. Dengan terpaksa pria tua itu tentu saja mentaati aturan tata krama yang ada. Dia membuka kaca jendela mobilnya, melongokkan kepala berhadapan dengan seorang penjaga berseragam security yang mendekatinya.
"Maaf tuan. Ada keperluan apa anda datang ke villa ini? Dan siapa yang ingin anda temui? Apa sebelumnya sudah membuat janji?" Tanya penjaga itu beruntun. Membuat Yoana mulai hilang kesabaran.
"Eerr... Kami salah satu kerabat jauh mereka. Dan untuk janji– kami memang belum membuat janji pada Anita Lee. Tapi bisakah kalian membiarkan kami masuk? Kami baru datang dari Jerman tadi malam. Berharap bisa menemui cucu kami yang kami dengar tinggal di sini." Hans mencoba memaparkan semua seluk beluk dan tujuannya datang.
"Saya mengerti." Gumam penjaga itu lantas memberi kode pada teman penjaganya untuk membuka gerbang tanpa merasa curiga. "Silahkan tuan."
"Terima kasih." Seru Hans kembali menstarter mobilnya masuk ke pekarangan halaman villa itu.
"Benar-benar penuh kehati-hatian." Gerutu Yoana jengkel. Hans melirik sang istri sembari terkekeh lirih.
"Tentu saja. Mereka pasti sangat menjaga Bella dengan ketat. Mengingat Alfred bisa saja nekad hanya untuk menemui cucu kita itu." Timpal Hans. Dan di balas desahan berat nan kesal dari wanita di sampingnya yang melengos mengalihkan matanya ke luar jendela.
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan cara mereka." Yoana kembali melayangkan protesannya. Tapi Hans hanya bisa tersenyum maklum seraya geleng-geleng kepala.
Hans lalu menepikan mobil limousine miliknya di salah satu dekat mobil-mobil yang terletak rapi di garasi. Keduanya berjalan beriringan mendekati pintu. Memencet bel dan menunggu salah satu penghuni di dalam membukakan pintu untuk mereka.
Ceklek!!
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita dengan seragam Maid. Memandang bingung ke arah dua tamu di depannya.
"Maaf, anda mencari siapa?" Tanya Maid itu.
"Apa Chal Lincolnshire ada di dalam? Kami memiliki urusan penting dengannya." Tanya Hans balik.
"Oh. Ya, silahkan masuk. Akan saya panggilkan terlebih dulu." Maid itu membuka lebar pintu villa. Memberi jalan masuk untuk kedua orang tamu di depannya. Hans sendiri hanya bergumam sebagai respon.
Tidak menunggu waktu lama Anita muncul dengan kening berkerut bingung. Wanita itu tampak penasaran dengan siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke villanya. Apalagi yang tahu lokasi villa tempat tinggalnya hanya di ketahui oleh keluarganya saja dan para anggota keluarga Lincoln.
"Kalian...siapa? Apa saya mengenal anda?" Tanya Anita ketika hampir saja Hans dan Yoana hendak menghempaskan pantat mereka pada sofa ruang tamu.
"Tidak." Jawab Yoana ketus. Hans menangkap nada penuh amarah pada jawaban istrinya. Dalam hati ia berharap semoga saja Yoana kali ini tidak melanggar ucapannya saat di rumah.
"Lalu? Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian mengenal suamiku?" Kembali Anita bertanya sombong. Seolah mengusir secara tidak langsung. Sangat terlihat jika sebenarnya Anita tidak suka dengan kehadiran orang yang tidak dia kenal itu.
"Mungkin memang kalian tidak mengenal kami. Tapi kami cukup tahu tentang kalian." Anita menaikkan sebelah alisnya. Menyilangkan kedua tangan seraya mendongakkan dagunya sombong.
Tak lama kemudian, Chal datang bersama dengan Ashley yang sudah terlihat begitu rapi dengan jas kerja dan Ashley yang akan berangkat kuliah.
"Ada apa, Anita?" Tanya Chal. Pria paruh baya yang masih terlihat begitu tampan itu lalu melirik sejenak dua orang di depan sang istri.
Chal mengerutkan keningnya menatap lekat dua orang yang sudah berusia lanjut itu. Oh, dia rasa yang sudah lanjut usia hanya satu orang. Mungkin pria di depannya itu datang bersama putrinya.
"Maaf sebelumnya. Apa saya mengenal anda? Atau sebaliknya mungkin?" Tanya Chal sopan.
"Tidak. Anda tidak mengenal kami. Tapi kami cukup tahu tentang kalian." Jawab Hans setenang mungkin.
"Lalu, apa maksud kedatangan anda datang ke kediaman kami kalau boleh saya tahu?" Kembali Chal bertanya.
"Ini soal Bella."
"Oh... Sudah ku duga. Apa si anak pungut itu menyewa kalian untuk mengambil alih Bella dari kami?! Huh?!" Sela Anita mencibir sinis.
"DIA PUTRAKU, ANITA! JAGA BICARAMU ITU!!" Anita, Chal dan Ashley jelas tercengang tidak percaya. Melihat penampilan kedua tamu itu jelas mereka berasal dari keluarga terpandang. Pakaian mereka juga tidak main-main, Ashley dan Anita bisa menilai seberapa mahalnya barang-barang yang di kenakan oleh kedua tamunya itu. Lalu, bagaimana mungkin kedua tamunya itu mengaku-ngaku sebagai orangtua dari anak pungut itu? Bukankah itu sangat mustahil?
"Jangan pernah sembarangan kamu hina putraku!! Dan dia bukan anak pungut!!" Tandas Yoana telak menunjuk Anita memperingati. Bahkan matanya sudah melotot berapi-api penuh amarah. Rahangnya mengeras.
"Aku kemari ingin mengambil alih cucu kandungku dari wanita busuk sepertimu!" Yoana mulai menggeram murka. Dia benar-benar tidak terima kalau anak angkatnya di hina sedemikian kejinya oleh orang lain. Apalagi ini adalah keluarga kandung dari istri putra kandungnya. Apa semua orang bermarga Lee itu berkelakuan di bawah rata-rata? Apa semua Lee itu bedebah? Kenapa memandang orang hanya dari sebelah mata? Menghina orang seenaknya hanya karena derajat sosial mereka yang berbeda.
"Tunggu Nyonya. Bagaimana bisa kamu menyebutnya cucu kandung anda sementara anda tadi bilang bahwa anak pungut itu adalah putra anda? Jangan mengaku-ngaku Nyonya." Seloroh Anita tersenyum mencemooh.
"Thomas Aberald adalah putra kandungku, Anita!! Dan itu berarti, adikmu Adelina Lee adalah menantuku. Aku berhak atas Bella. Sekarang, serahkan Bella atau aku tuntut kalian di pengadilan."
Dheg!!!
Dan untuk yang kedua kalinya Anita, Ashley juga Chal tercengang. Anita tersentak sangat-sangat terkejut. Dia lantas mencoba memberanikan diri untuk menatap Yoana yang menatapnya tajam juga nyalang secara bersamaan. Mencoba mencari kebohongan di setiap kata-katanya. Namun yang di perlihatkan oleh Yoana justru sebaliknya. Wanita itu memandang dirinya penuh kebencian dan kemurkaan.
"Tunggu, kita bisa bicarakan ini baik-baik tuan." Chal mencoba menengahi mencari jalan tengah.
"Aku tidak akan menyerahkan Bella begitu saja kepada mereka, suamiku! Tidak.Akan.Pernah!!" Ujar Anita berseru lantang penuh penekanan.
"Heh!!" Yoana menyeringai penuh hina. Membuat Anita mendelik tidak suka.
"Jika itu maumu, maka bersiaplah untuk kami permalukan seluruh keluargamu di depan umum juga di awak media nanti, Anita." Kembali Yoana melancarkan ancamannya. Dia tentu tidak akan begitu saja putus asa untuk bisa membawa kembali cucunya. Demi putranya. Demi menebus semua kesalahannya di masa lalu, dia harus mendapatkan Bella untuk di asuhnya.
Aleysia yang baru saja datang bersama Lincoln bersaudara tersentak kaget. Tiba-tiba saja dia harus mendengar kata-kata tabu bagi keluarganya itu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini?
"Daddy, Mommy, apa yang terjadi di sini?" Ujar Aleysia penasaran. Sontak saja semua atensi seluruh orang di ruang tamu menoleh ke arahnya. "Dan, siapa mereka?" Imbuhnya.
Yoana juga Hans cukup terkejut ketika melihat Aleysia di hadapannya. Mereka mungkin akan beranggapan bahwa Aleysia itu adalah Bella jika saja tidak memperhatikan surai Aleysia yang berwarna gelap dari warna rambut Bella yang blonde.
"Kami kakek dan juga nenek kandung Bella."
JEDAAARR....
Aleysia, Brandon, dan Edward benar-benar tidak percaya. Dan tanpa mereka sadari, Bella yang sudah sadar dari terpuruknya tengah berdiri dan bersembunyi di balik pilar tepat di lantai dua hanya untuk menguping. Setelah sebelumnya dia mendengar kembali bibinya menghina kakaknya itu. Hingga membuat dia tersadar dan berlari mencari tahu apa yang sedang terjadi di bawah.
"Dan kami kemari dengan tujuan untuk membawa dan mengambil alih tanggung jawab Bella dari kalian." Imbuh Yoana berapi-api.
Bella jelas saja terkejut. Kakek neneknya? Apa dari pihak ayahnya? Dia mengintip dari persembunyiannya hanya untuk melihat orang yang mengaku sebagai kakek juga neneknya.
"Lagipula, jika kasus ini aku seret ke meja hijau. Sudah pasti kami yang menang." Anita menganga tidak terima. Rahangnya mulai mengeras dengan tangan mengepal erat mencoba untuk menahan emosinya. Sementara Chal sudah angkat tangan. Dia benar-benar tidak ingin ikut campur lagi.
"Kalian terlalu percaya diri Nyonya." Cibir Anita masih mau melawan. Dan di balas dengan seringaian sinis dari Yoana yang tetap bersikap elegan dan terhormat.
"Tindakanmu akan di kenai hukuman yang berat Anita. Lagipula kamu itu hanya kakak dari Adelina. Jadi yang berhak atas hak asuh Bella jelas adalah kami. Di tambah lagi, Alfred dan Bella sama-sama saling mencintai. Kalian tidak berhak memisahkan mereka demi keegoisanmu itu." Penjelasan Yoana benar-benar memukul telak Anita. Hingga membuat wanita itu tak lagi bisa berkata-kata untuk membalas balik. Yang bisa dia lakukan adalah membuka tutup mulutnya dengan berusaha untuk menahan emosinya yang hampir meledak.
"Kalian berdua. KELUAR dari rumah saya!!" Teriak Anita, pada akhirnya dia mengusir Yoana yang masih tersenyum mencemooh tidak gentar seraya menunjuk pintu keluar. Hans bahkan sudah memijit pelipisnya karena stress menghadapi sang istri.
Melihat orang yang mengaku sebagai keluarganya itu mulai pergi, Bella lantas segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Nenek!! Kakek!! Jangan tinggalkan Bella sendiri di sini!!" Teriak Bella menggema. Hal itu menyebabkan keributan di bawah sana terhenti sejenak hanya untuk mendongak ke atas menatap pelaku peneriakan tadi.
"Bella!! Kamu tenanglah sayang. Kami pasti akan membawamu pulang. Sabar ya nak, ya!" Balas Yoana lembut. Akhirnya bisa juga dia melihat secara langsung wajah asli cucunya itu.
"CEPAT KELUAR!! PENJAGA!! PENJAGA!!" Kembali Anita berteriak kesetanan dengan mata melotot. Setelah beberapa penjaga datang, membungkuk sejenak tiba-tiba saja Yoana berseru.
"Tidak perlu kamu mengusir kamipun kami akan keluar sendiri, Anita. Dan ingat satu hal, secepatnya! Secepatnya kami akan mendapatkan Bella kembali."
"KE.LU.AARR!!!" Tekan Anita benar-benar murka dan Yoana sendiri dia tersenyum semakin puas karena berhasil membuat wanita itu murka. Sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan kediaman Anita setelah sebelumnya melihat Bella untuk beberapa saat.
"NENEK, TUNGGU BELLA!! Jangan pergi, Bella mohon. Bawa Bella bersama kalian. Hiks..." Raung Bella sebisa mungkin mencegah Hans juga Yoana pergi, dia bahkan mulai terisak. Tapi terlambat, mereka sudah pergi di antar oleh penjaga suruhan Anita.
'Bertahanlah, Bella sayang. Kami pasti akan menjemputmu pulang. Berjanjilah untuk betahan demi kami. Selamanya kami akan menyayangimu.' Batin Yoana miris.
Tak lama kemudian, Anita menghampiri Bella setelah sebelumnya memijat pelipisnya yang mulai pening.
"Masuk Bella. Bibi tidak akan membiarkan kamu pergi dari rumah ini." Suara Anita bergetar penuh ketakutan. Jujur saja, dalam batinnya dia sangat takut untuk kehilangan Bella. Apalagi dia sudah kehilangan adiknya Adelina. Bella merupakan peninggalan berharga satu-satunya dari Adelina, tidak mungkin dia membiarkan anak adiknya itu jatuh ke tangan orang lain terutama pria bernama Alfred Frederick itu. Sampai matipun dia benar-benar tidak akan rela.
"Lepaskan Bella, bibi. Kamu bukan bibiku!! Kamu itu IBLIS!!"
PLAAKK!!!
Tamparan telak dan cukup keras berhasil mendarat dengan mulus di pipi putih Bella. Waktu seolah terhenti kala satu tamparan itu di layangkan begitu saja. Aleysia bahkan sudah membekap mulutnya saking terkejutnya. Dia tidak menyangka ibunya akan bersikap sekasar itu kepada sepupunya hanya karena tidak ingin kehilangan keponakan satu-satunya itu. Benar-benar di luar dugaannya. Chal menutup wajahnya tidak habis pikir dengan mata terpejam menghela nafas berat. Dia kecewa karena melihat istrinya tidak bisa mengendalikan emosinya hingga berdampak buruk dengan hubungan antara istrinya juga anak dari sahabatnya. Tidak bisa di biarkan. Ini sudah di luar batas nalar. Anita harus benar-benar di sadarkan.
"B-bella... M-maafkan aku. B-bibi.. Bibi tidak bermaksud–"
"Jangan sentuh aku!! Sampai kapanpun aku membencimu!! Aku.Benci.Kamu.Bibi!! Aku Benci!!" Raung Bella menepis kasar tangan Anita yang berusaha ingin menyentuh pipi Bella dengan tangan bergetar. Namun Bella dengan kasar menolak mentah-mentah. Bahkan memandang wanita itu dengan sorot mata jijik. Andai saja ibunya masih ada di dunia ini, pasti ibunya tidak akan tega melakukan hal sekeji ini kepadanya.
Anita mematung menatap tangannya yang sudah tanpa sengaja berani menampar Bella hanya karena wanita blonde itu mengatai dirinya seorang Iblis. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya hingga membuatnya tega melakukan hal kejam terhadap keponakan kesayangannya itu?
Bella sudah berlari kembali ke kamarnya. Mengunci pintu kamar dengan isakan tangis. Tubuhnya seketika melemah dan merosot jatuh berderai airmata meraung lemah meratapi keadaannya yang semakin memburuk.
"Mommy, Dad. Kenapa kalian harus pergi meninggalkan Bella seorang diri? Hiks.. Hiks.. Ka- hiks.. Kakak saja tidak cukup untuk Bella." Racau Bella semakin terisak. "Bella hanya berharap– hiks.. Se-semoga keajaiban itu masih ada, Mom."
.
.
.
To be continue...
__ADS_1