Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Perjodohan


__ADS_3

Gavyn bergegas keluar dari tempat tinggal Alfred tanpa berniat memberitahu Helena dia akan kemana. Meski begitu, Helena tidak ambil pusing meski sedikit penasaran. Gavyn terus berjalan menuju rumah samping tempat tinggal Alfred. Yang tak lain adalah rumah milik keluarga Bryan. Pria itu mengernyit kala mendengar deru mobil yang keluar dari gerbang itu. Sayang, kaca jendela mobil itu tidak bisa di lihat dari luar siapa yang ada di dalam mobil itu. Membuat Gavyn memicingkan mata ingin tahu. Namun nihil. Ia tak bisa melihat siapa saja di dalam mobil itu. Dan itu membuatnya kembali melangkah menuju kediaman Bryan untuk mencari tahu.


Belum ia mengetuk pintu, seorang penjaga rumah mendekatinya. "Maaf, anda mencari siapa?" Tanya penjaga itu.


'Sepertinya penjaga baru'. Batin Gavyn. "Ah, Brandon apa ada di rumah?"


"Baru saja Tuan Bryan dan keluarganya keluar." Gavyn mengernyit. Lantas mengangguk saja sebelum penjaga itu pamit pergi.


Gavyn menghela nafas berat. Menggigit kuku ibu jarinya berfikir sembari berkacak pinggang. Sepertinya dia harus menghubungi Brandon secepatnya. Dia merasa firasatnya mulai tidak baik yang akan terjadi pada sahabatnya Alfred selanjutnya.


Cepat-cepat Gavyn merogoh ponselnya dari saku celana. Mendial nomor Brandon dan menekan tombol call. Tersambung. Untuk beberapa kali terdengar nada sambung dari seberang, namun belum ada tanda-tanda sang pemilik ponsel mengangkatnya.


Gavyn semakin gelisah. Dia berdecak kala teleponnya terputus. Di cobanya lagi dan lagi. Namun tak ada sahutan. Ah, kemana anak itu? Apa ponsel Brandon sengaja di silent atau bagaimana? Dalam keadaan genting begini pria itu susah sekali di hubungi.


Gemas dengan telepon yang tak juga mendapat sahutan, Gavyn lantas menggeser touchscreen ponselnya, membuka menu pesan dan mengetikkan beberapa kalimat penting untuk di kirimkannya pada pria itu. Dan 'Send'.


Diam sejenak masih dalam posisi berfikir sebelum akhirnya Gavyn memutuskan untuk kembali lagi ke kediaman Alfred hingga membuat Helena sedikit terkejut dengan kedatangan dirinya yang tiba-tiba.


"Kau dari mana saja?" Helena mengintrogasi.


"Brandon." Jawab Gavyn singkat. Alfred menoleh ke arah Gavyn. "Kau sudah baikan, Al?" Tanya Gavyn ganti ketika melirik Alfred yang menatapnya. Ia cukup terkejut melihat keadaan Alfred yang kini sudah lebih baik dari sebelumnya walaupun masih terlihat tak bergairah. Alfred hanya bergumam ala kadarnya. Gavyn mendesah saja namun cukup lega mendengar jawaban dari Alfred. Setidaknya pria itu sudah mau menyahut ucapan orang lain.


"Maafkan aku Helena, Vyn." Helena juga Gavyn menoleh. "Aku sudah merepotkan kalian." Lanjutnya seraya menghela nafas berat. Mungkin karena atmosfer di ruangan itu semakin berat. Membuat pernafasannya sedikit bermasalah dan sulit untuk bernafas lega.


Alfred mendengus, mentertawakan dirinya sendiri. "Bukankah aku seorang laki-laki banci? Bukankah aku pengecut?"


"Sudahlah. Yang terpenting sekarang adalah kita harus berusaha mencari tahu keberadaan Bella dan kau jemput dia." Sahut Gavyn menepuk pelan bahu Alfred. Pria itu hanya bisa diam. "Aku mengerti apa yang kamu fikirkan saat itu ketika wanita itu menghinamu."


"...." hening. Ingatan Alfred kembali ke beberapa tahun silam, saat usianya masih lima tahun.


Setelah kedua orangtuanya meninggal, bibi dan paman jauhnya menjadi walinya. Dia sangat senang kala itu, karena masih ada keluarga yang mau menampung dan merawat dirinya. Namun kebahagiaan yang dia bayangkan selama itu hanyalah khayalan bualan saja. Bibinya begitu keras, dan pamannya hanya bertindak sebagai penonton saja.


Saat anak mereka jatuh sakit, dia menjadi kambing hitam bibinya yang menyalahkan bahwa anak mereka sakit adalah karena keberadaan dirinya. Bibinya marah dan mengumpati dirinya, mengatakan pada semua orang bahwa dia hanyalah anak pembawa sial. Anak-anak mereka yang jatuh sakit, di akibatkan kutukan yang ada pada dirinya.


Hal itu menyebabkan semua orang menjauhinya. Dia tidak menyangka bahwa bibinya akan menyebarkan gosip tentang dirinya yang terlahir dengan penuh kesialan untuk orang-orang di sekitar. Ayah dan ibunya meninggal karenanya. Padahal yang Alfred ketahui, ibunya meninggal karena penyakit kanker. Dan ayahnya yang tidak bisa menerima istrinya meninggalkan dirinya, memilih untuk minum-minuman keras hingga komplikasi pada ginjal. Pada akhirnya, ayahnya juga sakit-sakitan sebelum akhirnya meninggal tanpa memikirkan putranya yang hidup sebatang kara.


Setelah tinggal dengan keluarga bibinya, bahkan mereka memperlakukan dia seperti binatang. Memberikan dirinya makanan sisa yang sudah basi, memukul tubuhnya jika dia berusaha untuk bermalas-malasan bekerja, menyuruh dia untuk menjadi seorang pengemis. Jika pulang tidak membawa hasil, bibinya akan menunggunya di depan pintu rumah dengan membawa sebilah rotan untuk memukulinya.


Tidak sampai di situ saja penderitaan hidupnya, saat berada di panti asuhan, dirinya yang sudah merasa lega justru harus di kecewakan lagi. Ketika ada beberapa anak yang tidak menyukainya, merebut jatah makannya dan membuatnya tidak betah untuk tinggal lebih lama di panti asuhan.


Pada akhirnya, dia hanya bisa berkelana, menggelandang dan meminta-minta di jalanan. Bahkan dia sampai nekat menjadi pencuri kecil hanya demi sepotong roti untuk mengisi perutnya.


Pertemuan dengan Thomas dan Adelina membuat kehidupannya berubah. Tapi ketika keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, beban psikologis yang pernah dia alami muncul kembali. Kutukan tentang dia hidup penuh dengan kesialan untuk orang-orang di sekitarnya kembali terngiang di ingatannya.


Dia takut. Sangat takut hingga dia sempat memutuskan untuk meninggalkan Bella yang masih bayi di panti asuhan pada kala itu. Dia takut jika Bella juga akan mengalami kesialan yang sama yang menimpa ayah dan ibunya. Tetapi mengingat dirinya telah berjanji pada Thomas, dia mulai bimbang. Apa yang harus di perbuatnya.


Beberapa hari itu, dia mencari kabar mengenai keberadaan Anita. Keluarga Adelina yang pernah dia tahu. Tapi keluarga itu seakan hilang di telan alam. Mereka tidak ada kabar sama sekali. Dia hanya ingin kembali ke jalanan dan membiarkan Bella di asuh oleh keluarga orangtuanya. Tapi nasib berkata lain. Tanggung jawab itu tetap jatuh padanya dan mau tidak mau, Alfred harus membuang jauh-jauh masa lalunya. Dan berfikir bahwa dia bukanlah anak pembawa sial.


"Tapi, bibi Anita tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Gavyn. Aku cukup tahu benar tentang kekeras kepalaan keluarganya." Sergah Alfred kemudian. Bukannya dia pengecut. Namun, Bella adalah keluarga mereka. Hak mereka untuk mengambil alih Bella dari tangannya. Proposal pernikahanpun seharusnya mendapatkan restu dari keluarga Bella. Jika hanya darinya saja dan Bella setuju, memang benar apa yang di katakan oleh Anita. Pernikahan itu tidak akan pernah sah meskipun agama mengatakan sah.


Kini giliran Gavyn yang bungkam.  Membenarkan ucapan Alfred. Meskipun hanya sekali saja bertemu, tapi dia cukup sadar akan hal itu. Melihat Anita yang begitu emosional bila sudah menyangkut Bella. Tapi untuk apa mereka baru datang sekarang? Kalau hanya untuk memisahkan Bella dari Alfred saja kenapa tidak dari awal ketika Bella masih balita?


"Kita pasti bisa mengambil kembali Bella dari mereka, Al." Celetuk Helena percaya pada keyakinannya. Wanita itu tersenyum mantap ke arah Alfred saat pria itu menatapnya lekat. "Bella sudah bukan anak kecil lagi. Dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Keluarganya pun tidak berhak ikut campur untuk itu." Lanjut Helena.


"Kau benar Helena. Aku juga yakin, Bella akan mencari cara untuk lepas dari bibinya itu hanya untuk kembali padamu, Al." Timpal Gavyn memberi sedikit harapan.


Alfred merasa lega dan bersyukur memiliki sahabat seperti Gavyn dan Helena. Terutama Helena yang masih mau menjadikannya kawan setelah mendapat penolakan darinya. Wanita yang begitu tangguh juga dewasa. Andai dia tidak menyimpang menyukai adiknya yang memiliki usia terpaut jauh darinya, mungkin dia akan bersaing dengan Gavyn demi untuk mendapatkan hati wanita anggun nan cantik itu. Meski tak bisa di pungkiri dia yang akan menang karena perasaan wanita itu juga memilihnya.


Sayang, dia memiliki hati yang hanya tercipta untuk seorang Bella. Yang selama ini telah menghabiskan waktu bersama seumur hidup di atas atap yang sama.


"Lagipula, Bella sedang mengandung anakmu. Dan... Soal... Pernikahan yang di bilang Bella, apa itu benar?" Helena kembali bersuara.


"Ya. Aku sebenarnya sudah menikahi Bella beberapa bulan yang lalu saat hari ulang tahunnya. Aku memang tidak mengundang banyak orang bahkan hanya ada dua saksi di pernikahan kami." Alfred terdiam. Kembali teringat dengan ucapan Anita yang mengatakan tak akan ada pernikahan yang sah antara dirinya dengan Bella.


Kandas sudah harapannya. Meski ia sangat yakin dengan firasatnya bahwa rencana yang telah ia buat akan berjalan sempurna. Tapi sekarang, nasibnya berubah dengan kedatangan Anita juga Ashley yang melarang keras hubungannya dengan Bella. Ironis memang.


"Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari tahu keberadaan Bella terlebih dahulu." Lanjutnya mantap.


"Kita akan menemukannya. Dan akan membawanya kembali." Tukas Helena memberi semangat. Membuat Alfred tersenyum bersyukur seraya mengucapkan terima kasih pada kedua teman lamanya.


***********


"Bella?" Lirih Aleysia dengan mata hazelnya saat memasuki kamar di mana Bella berada. Wanita itu mendengus seraya geleng-geleng kepala ketika mendapati Bella masih bergeming di tempatnya dengan mengenakan pakaian yang sama.


Sepertinya Bella belum beranjak untuk mandi atau hanya untuk mengecek isi ruangan kamar ini. Terlihat dari cara Bella yang masih setia meringkuk memeluk lutut dengan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut yang di tekuk.


"Kau harus bersiap-siap untuk makan malam, Bell." Bella mendongak sedikit tanpa merubah posisinya. "Aku akan membantumu bersiap. Ayo."


"Keluarlah! Aku tidak akan ikut ataupun makan malam bersama kalian." Hardik Bella ketus. Seraya menepis tangan Aleysia jijik yang menggantung hendak menepuk bahunya.


Aleysia terhenyak namun detik berikutnya wanita itu tersenyum maklum. "Aku tahu."


"Huh?" Bella tersentak melirik Aleysia dari bahunya.


Wanita itu memberanikan diri mendekati Bella. Ikut menghempaskan diri di atas lantai bersebelahan dengan wanita blonde itu. Menghela nafas sejenak hingga membuat Bella mengerutkan keningnya bingung tidak mengerti dengan sikap Aleysia.


"Bertahanlah Bell." Bella menaikkan satu alisnya menatap Aleysia lekat. "Bertahanlah dan berpura-puralah menikmati hidup tinggal di sini."


"Heh!!" Bella tersenyum mencemooh. "Apa yang kau inginkan?!"


Aleysia masih berusaha tenang menghadapi sikap acuh tak acuh Bella. Tersenyum hangat pada wanita blonde itu. "Aku akan membantumu kembali pada Alfred, kalau itu yang kau mau."


Bella terhenyak seketika. Apa dia tidak salah dengar? Ia memicingkan mata tajam pada Aleysia penuh curiga.


"Aku serius, Bell. Asal kau ikuti saja permainanku." Imbuh Aleysia. Seakan mengerti dengan tatapan yang diberikan Bella padanya.


"Untuk apa kau mau membantuku? Kau sama saja dengan mereka!"  Aleysia terkekeh pelan, membuat Bella mengernyit heran. Apa ada yang lucu dari ucapannya?


"Aku hanya mencoba mengerti keadaanmu selama ini. Hanya orang bodoh saja yang beranggapan hidupmu di manfaatkan oleh Alfred."


"Kau mengatakan keluargamu bodoh?! Heh!! Anak kurang ajar kau ini." Seloroh Bella menyeringai kecut.


Aleysia tertawa lirih menanggapi perkataan Bella. Bisa melihat Bella mau merespon dirinya sudah membuatnya bahagia. Meski terlihat masih canggung, namun setidaknya pendekatan dari awal lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Jadi, apa kau mau bersiap untuk makan malam bersama?" Senyum Bella seketika luntur kala terbersit bayangan acara makan malam di bawah nanti jika dia ikut. "Ikutlah. Kau ikuti saja permainan Mommy-ku. Seperti yang aku katakan padamu tadi sebelumnya. Tenang saja. Aku tidak bermaksud berkata seperti ini hanya untuk menghiburmu, Bell. Percayalah." Tukas Aleysia memberi keyakinan pada Bella.


Bella bimbang. Namun pada akhirnya ia mengangguk setuju. Membuat senyum puas tersungging di sudut bibir Aleysia. "Baiklah. Ayo kita bersiap!" Seru wanita itu semangat.

__ADS_1


Hampir satu jam Aleysia membantu Bella untuk bersiap. Dari mulai mandi, hingga berdandan di depan cermin. Merapikan surai blonde Bella sedikit lebih rapi.


"Aku terkejut saat tahu kau hamil, Bell." Celetuk Aleysia merapikan dress jingga pemberian Anita. Bella hanya bisa tersenyum saja. Karena dirinya juga terkejut ketika mengetahui hasil pemeriksaan saat berada di rumah sakit. "Padahal kamu masih muda, kenapa kamu memilih untuk menikah di usiamu yang masih belia ini?" Imbuh Aleysia tidak habis pikir.


"Tapi ku pikir itu bukan hal yang aneh. Meskipun mungkin orang lain menganggapnya aneh." Kata Aleysia kembali. Hingga tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka kasar dan menyembulkan sebuah kepala bersurai merah milik Ashley. Aleysia juga Bella hanya melirik lewat kaca rias yang ada di depannya.


"Kalian cepatlah sedikit!" Seru wanita itu ketus dengan wajah di tekuk malas. Lantas bersandar pada ambang pintu menunggu kedua adiknya. Sembari bersidekap menekuri lantai luar kamar yang di tempati oleh Bella .


"Selesai. Ayo." Ujar Aleysia menggamit lengan Bella lembut. Yang di tarik hanya pasrah saja. Mengikuti Aleysia juga Ashley menuju ke lantai bawah. "Hati-hati. Kau harus menjaga kehamilanmu." Bisik Aleysia dengan suara cemas. Bella mengangguk tidak menyangka. Masih ada yang peduli dengan keadaannya sekarang di rumah ini.


Ashley melirik kedua adiknya lewat bahu. Menyeringai kecut pada Aleysia. "Ha-ah.. Kau terlalu berlebihan Aleysia." Dan seketika itu Aleysia menggembungkan pipinya sebal menatap Ashley geram. Apa-apaan kakaknya itu? Apa salahnya dia mengkhawatirkan kondisi sepupunya ini?


Namun Aleysia memilih diam tidak ingin menanggapi ucapan ketus kakak perempuannya itu. Melengos menatap ke arah Bella yang masih menyendu.


"Pria aneh itu!" Geram Ashley tiba-tiba mengejutkan Aleysia.


Pria aneh? Sebutan itu bukankah untuk pria yang bersama Bella tadi siang? Batin Aleysia. Lantas melempar pandangan ke arah lantai dasar. Di mana di bawah sana sudah ada empat orang tamu dari pihak ayahnya Chal. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok Edward memang ada di sana.


'Apa mereka satu keluarga?' Batinnya lagi. Pandangannya tiba-tiba saja jatuh dan terfokus pada satu sosok pria yang lain. Seolah dia telah tersihir dengan pesona dari pria itu. Bukan hanya Aleysia saja yang tiba-tiba mematung dengan pandangan yang terfokus pada pria itu, namun juga sosok pria yang wanita itu perhatikan sedari tadi pun ikut menatapnya dengan penuh wibawa. Bila di perhatikan dengan seksama, pria itu tengah menarik sudut bibirnya begitu tipis membentuk sebuah senyuman yang di lemparkan untuk dirinya.


'Pangeran..astaga, astaga, astaga!' pekiknya dalam hati.


"... Sa."


"Aleysia...." Panggil Ashley. Namun Aleysia tak juga menyahut. Ashley berdecak kesal mulai tersulut emosi.


"ALEYSIA!!" Seru Ashley berteriak tepat di dekat telinga adiknya, membuat sang empunya telinga berjengit mundur dan mengorek telinganya yang mulai berdenging nyaring secara kasar.


"Apa?!" Pekiknya tak terima.


"Cepat turun!!" Seru Ashley tak kalah ketus. Seraya menunjuk ke arah kedua orangtuanya. "Sudah di tunggu, bocah!! Ckh!"


Aleysia melirik ke bawah. Benar saja. Bahkan kini kedua orangtua juga tamu ayahnya tengah menertawainya. Dan si pangerannya juga tersenyum tertahan menatapnya. Sontak saja sebuah rona merah muncul di kedua pipi Aleysia. Cuping telinganya mulai memanas. Mungkin kini wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus karena malu.


'Sial!! Bodoh!! Kenapa aku bisa bertingkah bodoh begini?' Rutuknya dalam hati pada dirinya sendiri seraya menuruni tangga mengekor Ashley. Diam-diam Bella memperhatikan tingkah laku Aleysia yang tengah curi-curi pandang pada seorang pria yang sudah sangat di kenalnya. Ah,, sepertinya Aleysia tertarik pada salah satu laki-laki keluarga dari tamu yang di undang oleh paman juga bibinya itu.


Bella melengos kala tidak sengaja pandangannya bertemu dengan mata Anita yang tengah tersenyum sumringah tanpa beban. Ia tidak menyangka bibinya akan memiliki sifat munafik seperti ini. Apa dulu ibunya juga memiliki sifat yang sama dengan bibinya itu? Ah, sepertinya tidak. Nyatanya, Alfred selalu menceritakan betapa hebatnya seorang Adelina Lee ibunya yang ketika masih muda sering menyantuni anak-anak yatim piatu juga anak jalanan yang tak memiliki rumah. Tentu ibunya itu lebih baik daripada Anita.


"Ah, ini dia keponakanku Deana, Bryan." Seru Anita saat Bella juga kedua putrinya sudah berada di dekat mereka.


"Aku sudah mengenalnya, Anita. Tidak ku sangka Bella masih berhubungan dekat dengan keluarga Lee. Aku tidak sadar kalau dia juga berasal dari keluarga Lee sama sepertimu." Kata Deana menyahut Anita dengan penuh kejutan.


Jelas saja Anita sendiri juga terkejut. Tapi detik kemudian dia paham ketika matanya tidak sengaja menangkap siluet Edward di dekat Brandon. Ah, iya. Dia ingat sekarang dengan pemuda itu. Pantas saja Deana juga keluarganya paham dengan Bella meski belum tahu tentang hubungannya.


"Ah, sudahlah. Ayo. Kita langsung ke meja makan."


Deana mengangguk tersenyum seraya mengikuti Anita yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke arah ruang makan. Baru selangkah, tiba-tiba Brandon di kejutkan oleh bunyi nada notice pesan dari ponselnya.


Dia terbelalak kala membaca beberapa pemberitahuan. 10 miscalled dari satu nama yang sama. 'Gavyn? Tumben sekali. Sial!' Dia melupakan profil system yang ia atur menjadi getar dengan volume nada hanya di tingkat dua. Padahal tidak biasanya dia menjadi pelupa. Segera dia membuka salah satu pesan yang di kirimkan oleh Gavyn untuknya.


**From : Gavyn


Kalau kau membaca pesanku, segera kabari aku sekarang kau ada di mana. Penting**!


Brandon mengernyit. Dan hal itu tidak luput dari perhatian adiknya juga Aleysia. Brandon tampak seperti orang yang gelisah namun masih terlihat begitu tenang. Brandon lantas secepatnya membalas pesan itu.


Di Villa paman Chal. Ada apa? Apa ada masalah?


Brandon lalu melangkah mengikuti langkah adiknya juga keluarganya. Edward menatapnya lekat. Seolah bertanya 'ada apa?' Dan Brandon hanya tersenyum saja. Mendekati Edward dan merangkulnya. Mengajak adik semata wayangnya kembali berjalan.


"Tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil."


Di ruang makan, Chal duduk di kursi utama meja makan. Samping kanannya, di isi oleh Bryan, dan kanan Bryan ada Deana, lalu Edward, dan selanjutnya Brandon. Sementara sebelah kiri Chal, ada Anita lalu Ashley, dan sebelah kirinya adalah Bella yang terakhir tentu saja Aleysia yang tampak selalu menunduk malu dan duduk dengan gelisah.


Kling!!


Kembali ponsel Brandon berbunyi lirih. Satu pesan masuk. Membuat Edward mengerutkan keningnya penasaran melihat kakaknya yang sibuk sendiri dengan ponselnya.


**From : Gavyn


Apa kau melihat Bella?


Beritahu aku tentang pertemuanmu dengan mereka jika itu menyangkut Bella. Ini penting. Ku harap kamu segera kabari aku**.


Dan Brandon benar-benar gagal paham. Meski otaknya memang terbilang jenius. Hanya saja dia tidak mengerti, apa hubungannya Gavyn dengan Bella hingga sampai menyuruhnya untuk mengabari tentang pertemuan ini? Dan lagi, bagaimana Gavyn bisa tahu di sini ada Bella? Apa sebenarnya Gavyn sudah tahu? Sepertinya dia memang harus mencari tahu nanti.


Ia lantas kembali menarikan jari-jemarinya di atas touchscreen membalas pesan yang di kirim Brandon untuk terakhir kalinya. Sebelum kembali fokus pada penjamuan malam itu.


"Ada masalah, Brandon?" Tanya Deana tiba-tiba. Dan itu menyentak tubuh putra sulungnya meski tak terlihat. Ternyata ibunya sedari tadi telah memperhatikannya.


"Tidak ada. Hanya pesan biasa saja." Deana tersenyum paham.


"Nah, mari kita mulai makan!" Seru Anita.


Aleysia membantu mengambilkan makan untuk Bella dan menahan tubuh Bella untuk tetap diam di tempatnya. Membuat seluruh perhatian keluarga Bryan beralih padanya.


"Makanlah. Kau harus tetap sehat." Bisik Aleysia tersenyum simpul sembari meletakkan piring berisi lauk dan setengah piring nasi kepada sepupunya.


"Hmm." Bella hanya bergumam tanpa mau menyentuhnya, namun Aleysia tetap tersenyum hangat.


"Bibi mau mengambil lauk apa?" Seru Aleysia ketika melihat Deana tampak kesusahan untuk mengambil salah satu menu di dekat Aleysia.


"Huh? Oh, bibi ingin mengambil tempura udang di depanmu, nak." Sahut Deana.


Cepat-cepat Aleysia menyodorkan lauk yang di maksud Deana. "Silahkan bibi. Bibi bisa panggil aku Aleysia." Ujarnya kemudian.


"Terima kasih, Aleysia." Edward melirik Aleysia jengah dan sinis. Begitu juga ketika melihat Ashley. Berbeda dengan Brandon yang diam-diam memperhatikan polah tingkah Aleysia juga Ashley yang berbeda jauh.


Dan makan malam itu hanya di selingi obrolan ringan selama prosesi makan bersama berlangsung. Hingga tiba saatnya mereka selesai dan berganti tempat untuk berkumpul di ruang keluarga. Di temani dengan teh panas juga beberapa desserts untuk hidangan.


"Jadi, sebenarnya kau ingin membicarakan hal penting apa, Chal?" Bryan mulai angkat bicara. Mencoba membahas tujuan awal kenapa dia dan keluarganya di undang untuk makan malam pribadi.


Chal berdehem sejenak. Melirik kedua anaknya juga Bella yang masih tetap saja diam di samping Aleysia. "Bukan aku yang akan bicara. Tapi Anita." Bryan menatap Deana sejenak.


"Benar. Aku ingin kita bisa lebih akrab dari ini, Bryan. Seandainya memungkinkan, kita bisa mempereratnya dengan cara menjodohkan anak kita." Timpal Anita sedikit canggung.


"UHUK!!" Ashley seketika tersedak kala mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir ibunya. Sontak saja atensi seisi ruangan itu beralih padanya. Beberapa kali dia berdehem masih terbatuk-batuk ringan. Mencoba menetralkan tenggorokannya yang terasa panas.

__ADS_1


'Sial!' Rutuknya dalam hati.


"Kau baik-baik saja, nak?" Tanya Deana khawatir. Ashley menggeleng mencoba tersenyum.


"Aku baik-baik saja, bibi." Lirihnya.


Chal menghela nafas tak habis pikir dengan tingkah putri-putrinya yang tidak seperti biasanya.


"Tapi bukankah sebaiknya kita serahkan semua keputusannya pada mereka sendiri, Anita?" Deana menyuarakan suara hatinya. Bukan karena dia tidak setuju. Tidak masalah kalau mereka menjodohkan anak-anak mereka. Tetapi alangkah baiknya kalau keputusan semacam itu di serahkan pada putra putri mereka bukan?


"Aku setuju Deana. Oleh sebab itu, bagaimana kalau kita tanyakan lebih dulu pada mereka." Timpal Anita tidak putus asa.


Brandon mulai paham maksud dari pesan yang di kirim oleh Gavyn. Meski ini tidak menyangkut ke arah Bella, namun lebih kepada dirinya dan adiknya juga putri dari pamannya. Sejenak Deana saling pandang dengan Bryan yang tampak masih datar dengan tampang kaku menenangkan. Sungguh, sebenarnya dia memiliki firasat yang tidak baik.


"Kita tidak akan memaksa mereka Bryan." Celetuk Chal ikut angkat bicara. "Setidaknya dari pertemuan keluarga ini mereka bisa memutuskan apakah mereka tidak keberatan kalau kita menjodohkan mereka?"


Bryan mengangguk paham. Lantas memperhatikan kedua putranya. Yang ternyata membuatnya harus memicingkan mata curiga. Putra bungsunya jangan di tanya lagi, dia sudah paham benar bila Edward memiliki perasaan terhadap wanita yang sejak masih kecil itu selalu menghabiskan waktu bersama. Siapa lagi kalau bukan Bella yang sedari tadi menyita perhatian Edward. Sedangkan Brandon putra bungsunya, hmm.. Dia tidak yakin untuk itu. Tapi sepertinya akan setuju.


"Apa kalian tidak keberatan?" Kata Bryan dengan suara tegas terhadap kedua putranya. Menatap mereka tajam.


"Hm/Hm." Jawab keduanya dengan gumaman.


Anita terkekeh geli juga bahagia mendengar jawaban kedua putra Bryan Lincoln itu. Di mana Anita menganggap gumaman itu sebagai jawaban setuju. Namun Deana mendesah lelah karena tak paham gumaman anaknya. Hanya Bryan yang sudah mengerti dengan jawaban dari Brandon juga Edward.


'Semoga saja aku bisa di setujui dengan Bella.' Harap Edward menatap Bella sendu penuh kerinduan.


"Baiklah. kalau begitu, aku ingin menjodohkan Bella dengan Brandon. Bagaimana dengan itu?"


Deg!!


Seketika Bella juga Brandon membatu. Edward? Tak kalah terkejut. Aleysia menjadi lemas lunglai. Dan bukan hanya mereka saja yang di buat terkejut dengan kalimat dari Anita. Deana juga Bryan sama-sama menoleh anak bungsunya cepat. Ia cukup mengerti bagaimana hati Edward yang sebenarnya.


Brandon tidak bisa hanya diam saja. Ia berdehem sejenak sebelum membuka suara. "Kalau dengan Bella.. Ku rasa Edward yang lebih berhak bibi."


Ashley menoleh Brandon dan menatap tajam. Apa-apaan pria mesum itu?! Seenaknya saja main tolak dan lempar begitu saja. Sedangkan Anita tertegun dengan penolakan dari Brandon. Chal menatap lekat Brandon yang entah kenapa ia merasa bahwa putra sulung dari saudaranya Bryan itu lebih tertarik pada salah satu dari kedua putrinya . Ia menyeringai geli.


"Biarkan saja. Tidak masalah kalau Edward Lincoln yang bersama dengan Bella." Timpal Chal akhirnya. Ia lantas menatap Edward lekat. Firasatnya mengatakan bahwa memang Edward lebih tertarik dengan keponakannya Bella. "Bagaimana, Edward? Apa kau merasa keberatan?"


"Tidak. Aku setuju." Jawab Edward jelas, singkat, tegas dan mantap.


Ashley meradang. Tak tahu kenapa dirinya tidak suka dengan keputusan Edward. Seolah pria itu akan berbuat hal yang tidak di inginkan pada Bella. Apalagi dia tahu Edward adalah sahabat Bella. Tidak menjamin Edward akan menerima perjodohan ini tanpa maksud yang lain.


"TIDAK! Aku tidak setuju!!" Teriak Ashley protes tidak terima. Membuat kedua orangtuanya juga Bryan sekeluarganya menatapnya meminta penjelasan. "Aku lebih setuju kalau Bella dengan si mesum itu!"


Anita cengo. Begitu juga Deana. Sedangkan Brandon justru terkekeh dalam hati. Tidak menyangka akan menemukan orang yang berani memanggilnya dengan sebutan mesum selain sahabat-sahabatnya.


"Kenapa begitu, Ashley? Tidak masalah kalau Edward yang dengan Bella." Ujar Anita kemudian.


"Tidak!!"


"Kalau kamu membantah keputusan mereka karena aku adalah sahabat Bella, maka kamu perlu tahu satu hal!" Sela Edward menaikkan nada bicaranya sedikit lebih keras. Bella di buatnya terkejut seketika. Apa yang tengah di pikirkan Edward kali ini? Apa dia sedang merencanakan sesuatu?


Brandon sekarang mengerti dengan maksud tujuannya datang kemari. Ternyata memang semua ini ada hubungannya dengan Bella. Tapi kenapa mereka malah menjodohkan Bella terlebih dahulu? Kenapa bukan kedua putri-putri mereka? Dia juga cukup tahu, Ashley adalah putri tertua dengan usia yang hampir sama dengannya. Seharusnya Ashley-lah yang pertama kali harus menikah. Bukan Bella. Ada yang tidak beres di sini.


"Meskipun Bella itu memiliki hubungan dengan Alfred Frederick, itu tidak akan pernah membuat perasaanku kepada Bella itu berubah, Ashley Lee." Jelas Edward menekankan setiap ejaan nama wanita bersurai merah yang kini mulai menggeretakkan giginya dengan rahang mengeras. Mengepalkan tangannya seraya menatap nyalang Edward yang tengah menyeringai sinis mencemooh ke arahnya dengan sikap tenang namun berbahaya.


"AkuㅡEdward Lincoln, tetaplah mencintai Bella Aberald. Meskipun dia tidak mencintaiku, bagiku tidak masalah."


Tubuh Bella mendadak membeku seketika. Apa maksud dari ucapan Edward? Kenapa pria itu bicara hal yang baginya begitu menuntut? Dan selama ini, apa hubungan Edward dengan Gwen hanya untuk pantas-pantas saja di depannya? Apa memang benar Edward tidak pernah mencintai Gwen dan hanya mencintainya? Apa Edward selama ini berusaha menyembunyikan perasaannya untuk dirinya? Tidak. Itu tidak boleh terjadi.


"Lagipula, dengan perjodohan ini aku bisa memiliki Bella sepenuhnya hanya untukku, bukan?" Lanjut pria Lincoln bungsu itu dengan smirks andalannya. Semakin menyulut emosi Ashley.


Bella hampir saja akan membuka mulutnya untuk melayangkan protes pada Edward, tapi dengan cepat Aleysia *** tangan Bella. Memberi kode pada wanita blonde itu untuk tetap diam sementara ini. Dan Bella hanya bisa menyerah pada Aleysia dan memilih menelan kembali kalimat yang sudah berada di kerongkongannya. Dan itu tidak luput dari mata tajam bak elang milik Edward yang menyimpan banyak misteri.


"Tapi..." Chal bersuara meminta perhatian. "Kami berencana akan menikahkan Bella dalam waktu dekat nanti."


Bryan sekeluarga terkejut. Kecuali Edward yang tentu sudah mengetahui alasan di balik keputusan mendadak dari Anita yang gegabah.


"Tidak masalah. Aku siap kapan saja." Jawaban mantap Edward seketika membuat keluarganya yang tidak memiliki penyakit jantung langsung mendapat serangan jantung saking shocknya. Namun mereka bisa apa?


"Tapi Edward, kalian kanㅡ"


"Mom, kamu tenang saja. Keputusan yang aku ambil pasti tidak akan salah." Sela Edward memotong ucapan dari Deana. Memberikan satu tatapan penuh arti kepada Deana juga Bryan, berharap keduanya mampu membaca sinyal yang dia berikan. Kemudian beralih pada Bella yang memicingkan mata curiga kepadanya.


"Sudah di putuskan. Dua bulan lagi kita akan melangsungakan pernikahan kalian. Apa kau keberatan, Edward?" Putus Anita.


"Tidak." Jawab Edward singkat. "Aku tidak keberatan."


"Apa tidak terlalu cepat, Anita?" Tanya Deana tidak yakin. Bryan hanya memilih diam, menyerahkan semua keputusan terakhirnya pada putra bungsunya itu. Mungkin Edward memiliki alasan khusus kenapa ia menyela ucapan dari istrinya.


"Tidak Mommy." Kembali Edward bersuara. Membuat Anita tidak jadi menjawab.


Brandon yang cukup mengenal watak dan sifat Edward hanya bisa sweatdrop dengan tampang cengo memperhatikan bagaimana hari ini adiknya itu lebih banyak berbicara. Padahal, sebelumnya Edward tampak begitu emosi saat sepulang dari kuliahnya. Bahkan raut wajahnya tidak enak di pandang karena aura berat menguar dari dalam diri adiknya. Ada apa dengan Edward sebenarnya? Edward selalu mampu berekspresi ketika sudah menyangkut dengan Bella.


"Seminggu lagi kita bisa bertunangan terlebih dulu. Benar kan, Bella?"


"Huh?" Bella tersentak menatap Edward bingung. Lalu mengedarkan matanya ke setiap mata yang tengah memperhatikannya.


'Sial!! Kenapa harus dengan si pria aneh itu?! Ckh!!' Ashley mengumpat dalam hati.


Sedangkan Bella sibuk dengan bermacam-macam pertanyaan yang terlintas di benaknya tentang keanehan sikap Edward malam ini. Ia merasa takut kali ini. Takut jika apa yang di ucapkan oleh Edward akan menjadi kenyataan. Dan lagi, pertunangan? Seminggu lagi? Oh Tuhan.. Apa Edward sudah benar-benar gila? Jari jemari Bella saling bertaut dan ***. Ketika Bella menundukkan pandangannya, seketika itu tubuhnya mematung melihat sebuah cincin tersemat di jari manis tangan kanannya.


Sekelebat ingatan kembali terbersit di matanya tentang cincin itu. Hingga tanpa sadar membuat bibirnya bergerak menyebut satu nama yang sudah terpatri erat di relung hatinya.


"Alfred."


.


.


.


.


.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2