Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
You're My Little Angel


__ADS_3

10 years later..


*Lily was a little girl


Afraid of the big, wide world


She grew up within her castle walls


Now and then she tried to run


And then on the night with the setting sun


She went in the woods away


So afraid, all alone


They warned her, don’t go there


There’s creatures who are hiding in the dark


Then something came creeping


It told her, don’t you worry just*


Terdengar suara alunan lagu yang tengah di nyanyikan oleh suara khas anak kecil dari luar sebuah kamar, di mana di sana terdapat seorang pria berusia kisaran 20 tahun. Pria itu masih melingkar dan meringkuk di balik selimut tidurnya.


Dalam tidurnya, kening pria itu mengernyit merasa jika tidur nyenyaknya tengah terusik oleh suara yang terdengar samar-samar di telinganya. Matanya mengerjap perlahan mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Ia mengusap wajahnya kasar lantas bangkit dari tidurnya.


Duduk sebentar, surai dark brown-nya yang berantakan akibat baru bangun tidur tidak mengurangi kadar ketampanannya.


Hal luar biasa darinya saat baru bangun tidur adalah, kau bisa melihat wajah tampannya yang masih terlihat alami khas bangun tidur. Karena wajah yang biasanya terpancar darinya lebih terkesan menunjukkan pribadi yang dingin dan misterius dari pemiliknya karena tertutupi oleh sebuah kacamata.


Pria itu bangun dengan linglung. Dia kembali mengernyit mencoba mempertajam pendengarannya.


Follow everywhere I go


Top over the mountains or valley low


Give you everything you’ve been dreaming of


Just let me in, ooh


Everything you wanting gonna be the magic story you’ve been told


And you’ll be safe under my control


Just let me in, ooh


Just let me in, ooh


'Lagu ini..' Batinnya. Pria tersebut kemudian menoleh kanan dan kiri. Lalu dengan malas, dia beranjak dari tempat tidurnya. Langkahnya terhuyung dengan mata masih tertutup.


*She knew she was hypnotized


And walking on cold thin ice


Then it broke, and she awoke again


Then she ran faster than


Start screaming, is there someone out there?


Please help me


Come get me


Behind her, she can hear it say


Follow everywhere I go


Top over the mountains or valley low


Give you everything you’ve been dreaming of


Just let me in, ooh*


Lagi. Ah, sepertinya dia tahu suara siapa itu. Pria itu lantas masuk ke dalam kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya untuk mencuci mukanya sejenak, sebelum keluar dari rumah.


Sreekk!!


Drap   Drap   Drap..


Derap langkahnya menggema di lantai yang terbuat dari kayu super pilihan. Dia terus berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya. Mengikuti arah dimana suara itu berasal.


*Everything you wanting gonna be the magic story you’ve been told


And you’ll be safe under my control


Just let me in, ooh


Just let me in, ooh


Everything you wanting gonna be the magic story you’ve been told


And you’ll be safe under my control


Just let me in, ooh*


Semakin pria itu berjalan, semakin dirinya mendengar suara yang tadinya samar-samar kini terdengar sangat jelas di gendang telinganya. Pria tersebut semakin menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Saat sampai di ambang pintu belakang rumahnya, terlihatlah sosok gadis kecil yang memiliki postur tubuh mungil sedikit gemuk dengan tinggi badan yang hanya sekitar 100 centimeter. Dia memiliki dua pipi yang bulat seperti bakpao, dengan surai blonde keemasaan sepanjang punggung. Anak perempuan itu memakai dress pink soft dengan hiasan bunga peony di ujung dressnya.


Pria itu secara diam-diam mengamati kegiatan gadis kecil yang tengah menyiram tanaman hasil berkebun mereka selama beberapa tahun belakangan ini. Itu juga di karenakan sang gadis cilik itu ngotot ingin memiliki sebuah taman bunga di pekarangan rumah belakang. Pria itu bersandar pada tembok di samping pintu dengan tangan terlipat di depan dada dan kaki menyilang.


Anak perempuan itu melompat-lompat kecil seakan kedua kaki kecilnya sedang menari-nari, dengan selang mengucurkan air yang ia goyang-goyangkan, melambai lembut untuk meresapi tiap lirik lagu yang ia nyanyikan. Bahkan anak itu sama sekali tidak menyadari kedatangan seseorang yang kini tengah asik memperhatikannya.


Follow everywhere I go


Top over the mountains or valley low

__ADS_1


Give you everything you’ve been dreaming of


Just let me in, ooh


Then she ran faster than


Start screaming, is there someone out there?


Please help me


Just let me in, ooh


Anak perempuan kecil itu lalu menutup sesi menyanyinya dengan kedua tangan yang merapat memeluk selang yang masih mengucurkan air dan di letakkan di sisi pipi kirinya. Tidak peduli jika sekarang tubuhnya sudah basah kuyub, dia bahkan memiringkan kepala dan menutup kedua matanya seakan menghayati kata-kata terakhir lagu itu, layaknya seorang penyanyi seraya berputar menghadap ke arah pria yang sedang mengamatinya.


Sejenak pria itu menatap lekat anak perempuan bersurai blonde tersebut. Yang tak lain adalah adiknya sendiri. Tatapannya menyiratkan bahwa pria itu benar-benar sangat menyayangi adiknya. Adik sekaligus malaikatnya. Pelita hidupnya.


Prok  Prok  Prok


"Ah?!" Pekik anak perempuan itu, membuat dirinya sontak melepaskan selang air di tangannya secara spontan.


Anak perempuan itu sontak tersentak karena terkejut, lantas membuka matanya. Ia terbelalak ketika melihat sang kakak berada di depannya tengah tersenyum sembari bertepuk tangan. Meski pria itu tampak tidak sedang tersenyum, namun gadis kecil itu cukup tahu dari garis matanya yang tertarik membentuk keriput.


Tiba-tiba darahnya berdesir naik dan memanas. Membuat cuping telinganya memerah juga kedua pipinya bersemu merah karena malu. Tentu saja pria itu melihatnya dan menyadari adiknya yang terlihat sedang malu-malu. Pria itu semakin mendekat ke arah gadis kecil tersebut. Membuat gadis kecil itu semakin gugup di buatnya. Kedua kelereng sapphire gadis kecil itu bahkan bergerak tak tentu arah asalkan tidak menatap bola obsidian milik pria itu. Mencoba menelan ludah kering untuk menutupi kegugupannya, dia memilin ujung dressnya dan meremasnya keras kuat-kuat hingga lecek.


"Ka, kakak. A-aku.. Ee..?" celetuk suara lembut nan gugup dari gadis kecil berpipi bakpao itu. Bahkan ia masih tetap tidak berani mendongak hanya untuk menatap mata obsidian milik kakaknya itu.


Pria itu berjongkok mengangkat dagu anak itu menggunakan jari telunjuk kanannya. Menuntut pada anak itu untuk menatap matanya. Anak perempuan itu semakin bertambah gelisah. Bahkan ia sampai kesulitan hanya untuk menelan salivanya kembali. Wajahnya semakin memerah karena di tatap begitu intens oleh pria itu. Membuat pria di depannya menyeringai geli.


"Mana kecupan selamat pagi untuk kakak, Bella?"


Gleg!


Sebisa mungkin ia menelan salivanya demi mencari rasa ketenangan. Namun naas, dia justru malah semakin gugup. Iris sapphire-nya bahkan belum juga berhenti bergerak karena gelisah. Kaki kanan milik gadis kecil itu menginjak kaki kirinya, mengusap-usapnya menggunakan jari-jari mungilnya demi mengusir rasa canggung.


"I,itu.. Emmb..." Bella, gadis cilik itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menggigit bibirnya demi mendapatkan suara yang tidak gemetar karena malu. Lalu dia tiba-tiba menggaruk pipinya yang tidak gatal salah tingkah.


"Huh?!" Pria itu menggendikkan dagunya menatap mata Bella dengan tampang polos namun menyiratkan bahaya.


"Be-Bella sudah memberikannya tadi. Waktu Bella bangun lebih dulu dari kakak, Bella masuk ke dalam kamar kakak untuk membangunkanmu tidur." Jawab Bella lancar dan apa adanya. Namun ia belum berani untuk menatap mata tajam perpaduan hangat milik Alfred.


Memang benar, setelah Bella bangun terlebih dulu dari Alfred, dia akan selalu menyempatkan diri untuk mengecup kening kakaknya dan terakhir mengecup bibir kakaknya baik itu ketika Alfred tidak dalam keadaan terbangun, atau hanya sekedar setengah tersadar. Sebuah kebiasaan laknat yang selalu di ajarkan oleh Alfred dari ia masih balita hingga sampai sekarang.


"Kakak tidak sadar Bella. Coba ulangi lagi." Titah Alfred, dengan ekspresi wajahnya yang tanpa dosa. Ia memajukan keningnya ke hadapan gadis cilik itu. Sejenak Bella ragu dan hanya bergerak gelisah dengan bola mata sapphire yang masih bergerak tidak tentu arah.


Dengan malu-malu, pada akhirnya mau tidak mau Bella kembali mengecup kening pria itu cukup lama, lalu kedua pipi Alfred untuk menyalurkan kasih sayangnya terhadap kakaknya. Diam-diam Alfred menyeringai jahil sebelum ia mendongak. Hal itu sontak membuat Bella terkejut, kejadian berikutnya..


Chuup!


Alfred mengambil kesempatan untuk mengecup bibir merah cherry adiknya cepat. Hal itu membuat gadis kecil itu semakin merona karena malu. Yang bisa ia lakukan hanya mematung menatap sang kakak yang tersenyum lembut kepada dirinya tanpa merasa bersalah.


"Selamat pagi, Bella." Sapa Alfred seraya tersenyum sumringah hingga membuat matanya menyipit. Dan lagi, Alfred tampak lebih tampan hari ini meskipun dia belum mandi. Bella bahkan hanya mendapat kesempatan untuk bisa melihat Alfred yang tersenyum hangat kepadanya hanya di saat berada di rumah, menghabiskan waktu luang berdua bersamanya. Karena pada saat itulah Alfred bertingkah alami di depan sang adik. Sama halnya seperti saat ini. Alfred penuh kasih sayang selalu memberikan senyuman indah yang jarang terlihat dari wajahnya di depan Bella. Hal yang membuat mood-nya kembali hidup dan semakin bersemangat untuk menjalani kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari.


Bukan hanya itu saja. Kebiasaan yang selalu dirinya lakukan di waktu Bella masih balita masih menjadi rutinitasnya. Entah pria itu ataupun Bella, mereka akan selalu melakukan kebiasaan dengan kecupan sayang tiap kali mereka akan melakukan suatu aktivitas.


Meskipun Alfred ingin merubah kebiasaan tersebut karena usia Bella yang sudah tidak bayi lagi, namun dia tetap kesulitan untuk menghentikannya. Karena semua yang ada pada Bella bagaikan Narkotika yang merusak otaknya. Di mana mengecup Bella sudah menjadi candu untuknya.


Tapi suatu saat, dia harus menghentikan kebiasaan itu secepatnya. Suatu hari nanti, Bella tidak akan berada di sampingnya lagi karena akan ada banyak laki-laki bodoh yang tentu saja ingin berebutan mendapatkan hati adiknya, sebelum akhirnya dia harus melepaskan adiknya untuk menikah. Haㅡah... Memikirkannya saja masih membuatnya kesal.


"Selamat pagi, kak Alfred." Balas Bella yang sudah kembali sadar seperti semula lagi.


"Apa kau sudah sarapan, Bella?"


Bella mengangguk lucu dengan bulu mata lentik yang kadang berkedip imut. "Tentu saja. Tadi Bella membuat roti dengan selai jeruk buatan kakak kemarin." Jari telunjuknya bermain ke dagu sebelah kanannya dengan kepala miring.


"Kalau begitu kita sarapan lagi sekarang. Kakak yang akan memasak untuk kamu."


"Tapi kak, tunggu. Baju Bella basah. Apa kakak tidak lihat?" Bella menunjuk dress pink soft miliknya yang basah kuyup karena bermain air ketika dirinya tengah bernyanyi seraya menyiram tanaman tadi.


"Apa mau mandi bersama?" Goda Alfred berkedip ke arah Bella. Dan kedua pipi bakpao gadis cilik itu langsung memerah karena malu.


"Bella sudah besar, kakak. Bella bisa mandi sendiri, kok." Bella mempoutkan bibirnya seraya menggembungkan pipinya kesal, namun secara bersamaan merasa malu. Ia berusaha untuk mengelak dan mengalihkan wajahnya yang masih merona selayaknya kepiting rebus.


Alfred hanya bisa geleng-geleng kepala di buat gemas dan mengacak surai basah Bella. Meski begitu, pria itu tampak senang. Penantiannya selama ini membuahkan hasil. Bella merupakan sosok anak yang tergolong dalam otak yang cukup cerdas, tapi sifat cerianya membuat Alfred betah di rumah. Padahal kebanyakan orang berotak pintar cenderung bersifat introvert seperti dirinya. Namun untuk kasus Bella sungguh berbeda. Bella lebih banyak bicara ketimbang dirinya. Menjadikan rumah yang dulu sepi kini berubah lebih berwarna dengan bertumbuhnya usia gadis kecil itu yang sudah menginjak 10 tahun.


Mungkin, sifat dewasa yang kadang muncul pada Bella menurun dari sifat ayahnya. Yang dia ketahui memiliki pribadi yang tenang. Dan sifat ceria juga ceroboh yang terkadang muncul, gadis itu dapatkan dari sifat ibunya.


Benar-benar perpaduan yang unik.


"Bella mau mandi dulu." Celetuk gadis itu. Ia hampir saja melangkah pergi untuk masuk ke dalam rumah, tetapi Alfred telah menepuk pundak gadis itu dan..


Grep!!


"Ah!" Alfred mengangkat tubuh mungil Bella di depan tubuhnya. Sehingga membuat Bella lebih tinggi darinya.


Bella berkedip-kedip lucu menatap Alfred yang tersenyum ke arahnya tidak mengerti. "Kakak yang akan siapkan air hangat untuk mandi."


Paham, gadis itu tersenyum lima jari lantas mentahut, "Ok kakak."


Alfred membawa tubuh basah gadis itu ke dalam rumah, sebelum kemudian menyiapkan air untuk mandi.


Tanpa di sadari oleh keduanya, dari balik jendela lantai dua di rumah tetangga mereka, berdiri seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan Bella tengah menatap mereka tidak suka. Bukan pada gadis kecil itu. Tetapi lebih kepada orang yang menggendong tubuh Bella masuk ke dalam rumah tersebut. Ia berbalik menghentakkan kakinya dan keluar dari kamarnya untuk pergi ke lantai dasar dengan wajah tertekuk masam.


Dari lantai dasar, Deana sang ibu juga Brandon sang kakak melihat anak yang tak lain adalah Edward itu dengan sorot mata bingung. Karena wajah anak bungsunya tampak kesal.


"Kau kenapa Edward?" Tanya Deana ingin tahu.


"Tidak ada" Jawab singkat anak laki-laki itu.


Brandon mengernyit heran. Ada apa dengan adik bodohnya itu? Adiknya seperti sedang kesal dengan seseorang. Tapi kesal pada siapa? Tidak mungkin dengan dirinya bukan? Ia bahkan tidak merasa membuat masalah dengan adiknya itu hari ini.


"Kapan aku mulai sekolah, Mom?" Tanya Edward akhirnya. Ia mencoba untuk sebisa mungkin tidak terlihat kesal lagi di depan keluarganya dengan cara mengalihkan pertanyaan sang ibu terhadap pertanyaannya sendiri.


"Besok bukan? Kau sudah tidak sabar ya?" Ujar Deana tersenyum menggoda.


"Bella, bagaimana?" mendengar putranya menyebut nama gadis itu, Deana tersenyum sejenak.


"Dia juga akan mendaftar di sekolah yang sama denganmu. Kau tahu sendiri bukan, Bella hanya dekat dengan kamu?"

__ADS_1


"Ya." Edward menyeringai tipis penuh arti.


Brandon melirik Edward sambil menaikkan sebelah alisnya heran, tapi detik berikutnya dia sedikit mengerti. Ah, sepertinya karena Bella-lah adiknya tiba-tiba menjadi kesal. Apa adiknya memiliki perasaan pada anak perempuan manis itu? Jika iya apa yang akan terjadi nantinya? Brandon terkekeh singkat sebelum memilih untuk menyudahi sarapan paginya.


"Aku pergi dulu Mom. Ada yang harus aku urus dengan teman-temanku di kampus." Pamit Brandon, lantas berlalu pergi setelah mencium pipi Deana sayang.


Ada yang tanya kenapa ayah Edward juga Brandon tidak ada? Jawabannya karena sudah lebih dulu pergi ke kantor untuk bekerja. Sehingga waktu mereka untuk menghabiskan waktu keluarga hampir jarang tidak ada.


**********


Sementara Bella sedang mandi, Alfred menyiapkan sarapan untuk mereka di dapur. Ia kini sudah mahir menggunakan alat-alat memasak juga saat mencincang bumbu ataupun bahan-bahan yang akan di masak karena seringnya ia melakukan itu hampir 12 tahun lamanya.


Semenjak Bella beranjak usia, Alfred lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama adiknya itu. Hidupnya semakin berwarna tiap kali ia selalu teringat Bella di manapun dan kapanpun dirinya berada. Alfred bahkan telah menjadi seorang mahasiswa sementer 5. Dan satu semester lagi dirinya akan di wisuda. Alfred tidak mengambil jurusan management bisnis perkantoran dan lebih memilih mengambil jurusan pendidikan di bidang matematika. Dirinya ingin menjadi seorang guru sama seperti kakak angkatnyaㅡThomas.


Ceklek!!


"Kak Alfred, cepat mandi. Bukankah kakak harus kuliah pagi ini?" Kata gadis kecil itu, yang baru saja keluar dari kamarnya. Surai blondenya masih basah dan belum ia keringkan. Membuat tetesan air dari surai blondenya mengalir melewati leher jenjangnya.


Alfred terkesiap melihat penampilan adiknya yang menurutnya sungguh–ehem–sensual. Shit! Godaannya terlalu indah. Haㅡah... Dasar kakak berotak busuk. (눈_눈)


Meski di usianya yang masih terbilang belum masuk dewasa, namun adiknya itu sudah bisa dikatakan bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang telah memasuki siklus puberty.


Alfred menggeleng keras mengenyahkan pikiran kotornya. Tidak, tidak, tidak. Walaupun dia tidak akan berdosa bila memiliki perasaan terhadap adiknya itu, namun melihat Bella tumbuh dan menganggapnya sebagai seorang kakak kandungnya tidak bisa merubah apapun. Bella akan tetap menganggapnya kakak dan juga walinya. Dan dia harus bisa merelakan hal itu. Dan kau benar-benar harus menyingkirkan otak kotormu itu, Alfred.


Toh dia sendiri juga tidak tahu, apakah adiknya itu juga akan memiliki perasaan yang sama sepertinya atau tidak. Dia tentu tahu sangat jelas bahwa perasaan semacam itu sangatlah mustahil ada pada Bella.


Ya, seorang pria dewasa seperti Alfred Arshavin Frederick, memiliki kelainan menyukai seorang bocah di bawah umur. Terbukti ketika saat teman-teman kampusnya mencoba untuk mengajak dirinya ke sebuah party gadis-gadis sexy nan erotis di sebuah bar, dia sama sekali tidak tergoda sedikitpun.


Tapi ketika matanya melihat adiknya maupun tubuh milik Bella yang hanya memakai busana lengan pendek ataupun pants, hal itu justru membuat libidonya menjadi naik seketika. Dan dia bisa simpulkan bahwa dirinya adalah seorang pedophile. (¯―¯٥)


Baiklah, otak pria ini benar-benar salah.


(ノ`□´)ノ⌒┻━┻


Dia tidak tahu sejak kapan dirinya memiliki perasaan untuk adiknya. Tapi yang jelas, dia hanya tertarik dengan hanya melihat Bella saja dan bukan orang lain.


"Ah, ya Bella." Cepat-cepat Alfred menghampiri gadis manis itu dan mengambil alih handuk dari tangan Bella. Ia menarik tangan adiknya tersebut dan membimbing Bella untuk duduk di sofa.


Lebih tepatnya gadis itu duduk di antara kedua pahanya dan pria itu mengapit kedua kaki Bella. Ketika hendak mengusap surai basah Bella, anak itu menggesek pantatnya untuk mundur agar bisa menyandarkan punggungnya pada dada Alfred, namun tanpa gadis itu sadari, dia tidak sengaja menekan sesuatu yang pribadi milik pria itu.


"Aaahh!! Shitt!" pekikan tertahan Alfred berhasil lolos akibat sesuatu di bawah sana mulai bereaksi, karena tidak sengaja di tekan oleh pantat sang adik.


"Huh?!" Gesek lagi, Alfred menggigit bibirnya tersentak. Ia mencoba menahan desahannya sembari menutup matanya tak tahan. Gadis itu menelengkan kepalanya ke belakang seraya berkedip polos, ketika mendengar suara kakaknya yang tiba-tiba mengerang.


"Ada apa kak?" Tanya gadis itu, berkedip polos.


"Ah, tidak ada. Bella, diamlah sebentar. Biar kakak keringkan dulu rambutmu yang basah itu." Tukas Alfred dengan suara serak susah payah. Pria itu bahkan tersenyum kaku seolah terpaksa.


"Ok. Oh ya kak. Besok kau libur untukku, kan?"


"Tentu saja. Kakak sudah janji, kan?" Alfred mengusap lembut surai blonde milik Bella yang basah hingga kering menggunakan handuk di tangannya.


Sampai tiba-tiba Bella kembali bergerak dan membuat Alfred semakin mengerang frustasi. 'Tenanglah sedikit Bella, kau mau kakakmu yang kau anggap malaikat ini memakanmu hidup-hidup sekarang?!' Batinnya ironis.


"Terima kasih, kak. Aku menyayangimu."


Gyuutt!!


Tekan.


'Shit!!' Bella kembali berulah dan kini tubuhnya berputar ke kiri menghadap pria itu. Membuat kedua pantat gemuk gadis kecil itu naik ke paha kanan Alfred dan menyebabkan sesuatu miliknya semakin bereaksi juga terasa sesak akibat terlalu banyak di gesek oleh sang pelaku yang terlihat masih polos-polos saja.


Ia butuh pelepasan Tuhan. Harapnya.


Chuup!


"Hehehe.." Cengiran Bella membuat mata Alfred kini menggelap di penuhi oleh kabut nafsu ketika gadis itu berhasil mengecup pipi kanan milik pria tersebut.


"KYAA!! Kakak!!" Jerit Bella saat tiba-tiba tubuh mungilnya di angkat oleh Alfred dan di tindih di bawah tubuh kungkungan pria tersebut.


"Ah! Haha.. Kakak, geli. Hentikan, haha!!" pekikan lolos dari bibir merah tipis milik Bella di sertai tawa saat Alfred secara jahil menggelitiki tubuh bagian Bella yang sensitif.


"Nakal kau ya? Huh? Rasakan ini. Rasakan." ujar Alfred, terus menggelitiki perut dan ketiak Bella.


"Haha.. Bella salah kak, hahaha, Aww! Geli. Kakak, hentikan. Hentikan! Haha..." Kini tak ada lagi kakak yang bak malaikat. Tetapi kini iblis yang menyerupai seorang kakak.


"Haㅡah... Kak Al." Panggil Bella dengan suara lelah.


"Ya, Bellaku yang cantik." Jawab Alfred menatap mata gadis itu yang menyayu karena kelelahan. Sejenak ia berhenti dari kegiatannya untuk membalas tatapan adiknya.


Sungguh. Dia benar-benar menginginkan Bella. Tapi dia harus sadar akan posisinya saat ini. Apa yang ia lakukan kini salah. Perlahan di kecupnya seluruh bagian wajah Bella penuh sayang. Di mulai dari kedua pipinya, hidung, dagu, lalu kedua kelopak mata gadis itu hingga membuat Bella menggelinjang geli. Alfred kembali menatap iris sapphire Bella intens, dan gadis itu tersenyum sangat polos ke arahnya. Pria itu menghela nafas berat, lantas mengecup kening adiknya lama. Setelahnya mengecup sekilas bibir manis Bella.


"Kakak? Ada apa?" tanya gadis itu dengan sorot mata polos. Alfred hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada." dengan lembut, pria itu menarik tubuh Bella ke dalam dekapannya. Memeluknya sangat erat. "Kakak hanya merindukan orangtuamu, Bella."


Mendengar tentang orangtuanya, mimik wajah Bella berubah menyendu. Menundukkan pandangannya dalam dan berusaha untuk membayangkan sosok kedua orangtuanya.


Dirinya tidak tahu bagaimana sosok ayah dan ibunya. Meskipun dia telah melihat bagaimana wajah ayahnya, wajah ibunya, tapi dia jelas tidak tahu bagaimana pribadi mereka. Hanya tahu dari bibir kakaknya saja ketika sedang menceritakan keduanya.


Alfred tersadar sangat cepat, menyadari bahwa dirinya telah salah karena lagi-lagi dia membahas tentang Thomas dan Adelina di depan Bella. Tidak seharusnya dia kembali membicarakan mereka.


Alfred cepat-cepat menghentikan pelukannya, tersenyum menatap wajah adiknya yang masih tampak bersedih. Iris sapphire milik gadis itu bertemu dengan iris obsidian milik Alfred. Pria itu tersenyum simpul, namun gadis itu masih bergeming.


"Kita lupakan saja. Ayah dan juga ibumu pasti akan bersedih bila melihat wajah putrinya seperti ini. Tersenyumlah." kata pria itu mencoba menghibur. Alfred mencubit sekilas ujung hidung Bella dengan mata menyipit lucu.


"Hehe... Kakak benar. Aku tidak boleh membuat Mommy dan ayah bersedih di atas sana." melihat mood gadis itu kembali ceria, Alfred semakin tersenyum lega. Seperti ini saja sudah membuatnya bahagia.


"Kakak menyayangimu, Bella. You're my little angel. and it was for forever."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2