
"Kau gila, Adik bodoh! Bagaimana bisa kamu begitu saja menerima perjodohan itu?!" Edward hanya diam bergeming mendengarkan ocehan dan omelan Brandon saat mereka sudah sampai di kediaman mereka.
Deana bahkan sudah memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Sepertinya migrannya mulai kumat. Bryan sekarang justru sudah asik dengan remote televisi. Menonton acara berita malam dengan khidmat tanpa merasa terganggu oleh ocehan putra sulungnya. Seolah apa yang tengah terjadi itu hanyalah nyanyian tengah malam.
"Kamu bahkan sudah tahu sendiri, kamu itu sudah terikat hubungan saudara sesusuan dengan Bella, dek. Apa kau lupa itu?!" Ujar Brandon semakin emosi. Edward lantas menggendikkan bahu acuh, memutar bola matanya jengah lantas berjalan menapaki tiap anak tangga menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada. Brandon di buat melongo dengan sikap seenaknya Edward. Bagaimana bisa Edward menjadi tak berperasaan seperti ini pada sahabatnya sendiri?
Brandon jadi teringat pada Alfred. Dan seketika mata Brandon membulat sempurna teringat sesuatu. "Oh, tidak." Gumamnya lantas berbalik menuju ke arah keluar.
"Mommy, aku ke rumah Alfred untuk menemui Gavyn!" Seru Brandon sedikit berteriak.
"Alfred?" Lirih Deana membeku. Ia lalu menoleh ke arah Bryan yang tengah asik dengan acara televisi di depannya tanpa beban sedikitpun. Membuat kening Deana mengerut heran.
"Bryan! Bagaimana bisa sikap kamu setenang ini setelah mendengar kabar mencengangkan dari keluarga Chal, Hah?!" Tanya Deana ingin tahu.
Bryan melirik Deana sejenak sebelum menjawab. "Memang apa yang harus aku bingungkan? Sudahlah, Deana. Percayalah pada keputusan Edward."
"Tapi-"
"Dia pasti sudah memikirkan keputusan itu dengan baik, sayang." Sela Bryan mencoba menenangkan kegundahan hati istrinya. Tersenyum lebar ke arahnya hingga membuat Deana merinding horror sebab dia tidak pernah lagi melihat suaminya dengan senyum lebar seperti itu semenjak mereka sudah memiliki Brandon hingga sampai saat ini.
Tapi, mengingat bahwa Bella hidup selalu bersama dengan Alfred membuatnya bingung. Bagaimana bisa Bella tiba-tiba berada di rumah Chal tanpa di temani oleh Alfred? Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka? Dan apa yang tengah mereka rencanakan sampai membuat Bella bersedih seperti itu?
**********
Brandon melangkah dengan cepat menuju rumah samping sebelah. Mengetuk pintu rumah itu dengan tergesa-gesa.
Gavyn yang memang memutuskan menginap berkali-kali berdecak kesal karena gedoran pintu yang tidak biasa itu. Ia lalu bergegas mendekati pintu dan membukanya.
Matanya membulat kala melihat Brandon tengah berdiri dengan wajah datar yang menatapnya. "Bran...don? Kau sudah pulang?"
"Ya. Boleh aku masuk? Ada yang ingin aku beritahu padamu."
"Tentu." Gavyn membuka pintu lebar-lebar. Memberikan jalan untuk Brandon masuk. Kesan pertama saat Brandon memasuki rumah Alfred adalah, dia mampu merasakan aura keputusasaan menguar dari sosok pria yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memandangi sebuah potret pada figura. Di seberangnya, ada Helena yang sudah tertidur di atas karpet bulu dengan pulasnya. Yang menyita perhatian Brandon adalah sosok pria yang terlihat begitu buruk. Juga... Untuk pertama kalinya, dia melihat wajah asli dari Alfred yang cukup- ah, bukan. Tapi sangat tampan tak kalah tampan darinya. Sial, rutuknya. Dia lebih suka bila Alfred mengenakan kacamata ketimbang tidak memakai kacamata. Jadi dirinya tidak merasa tersaingi. Ah, bahkan rambutnya yang berantakan jatuh ke kiri membuatnya semakin macho dan juga- Hot! Brandon akui itu. Tapi jangan mengira bahwa dirinya menyukai pria itu. Tidak... Dia masih normal, Okay?!
Brandon bahkan baru saja menemukan seseorang yang mampu menggetarkan hati dinginnya. Siapa? Hanya Brandon, Tuhan, dan author yang tahu. Atau mungkin, kalian sudah bisa menebak siapa orang itu? Ok, Skip!!
Brandon mendekati Alfred diikuti oleh Gavyn di belakang pria tinggi itu. Sejenak Brandon memperhatikan Alfred sendu. Ah,dia sangat tahu bahwa Alfred sangat-sangatlah mencintai adik angkatnya Bella. Dia bisa merasakan hal itu meski hanya melihat sekilas saja.
"Jadi, apa yang mereka bicarakan di acara makan malam kalian?" Tanya Gavyn tak sabar.
Brandon beralih menatap Gavyn. Menghela nafas berat sebelum menjawab. "Banyak hal. Dan itu tentang Bella." Ketika dia menyebut nama Bella, ia menoleh pada Alfred yang juga mendongak menatapnya. Hingga membuat iris mata mereka saling bertemu. Seolah mereka sedang bertelepati hanya dengan melalui tatapan mata satu sama lain.
"Tentang perjodohan Bella dengan Edward." Ungkap Brandon masih menatap Alfred lekat tak berkedip.
Gavyn terbelalak, namun respon juga ekspresi yang di tunjukkan oleh Alfred tidak terbaca oleh Brandon ataupun Gavyn. Alfred hanya diam mematung, dan masih menatap Brandon juga tanpa berkedip. Terlihat terkejutpun tidak. Ada apa dengan Alfred?
"Bagaimana bisa?" Lirih Gavyn lebih kepada udara di ruangan itu daripada di tujukan oleh Brandon.
"Awalnya Bella di jodohkan dengan diriku." Gavyn mendongak menatap pria itu dengan mata memicing. "Tapi aku menolak. Aku tak sebodoh itu, Vyn." Imbuh Brandon.
"Kau tahu alamat Villa bibi Anita?" Tanya Alfred mulai bersuara. Membuat Gavyn menatapnya tak percaya.
"Ya. Tapi kalau kamu kesana, aku rasa tidak akan berhasil." Jawab Brandon seraya menjelaskan.
"Tidak masalah. Aku akan mencoba menyamar untuk ke sana menemui Bella." Timpal Alfred. Brandon menatap Alfred lekat-lekat. Ia bisa melihat keseriusan dari sosok seorang Alfred Frederick yang selama di kenalnya. Di balik wajah sayu pria itu tersimpan sesosok pria yang penuh tanggung jawab. Ia lantas mengangguk dan mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
Kling!!
Ponsel Alfred berbunyi. "Bukalah. Aku mengirimi alamat itu ke ponselmu." Kata Brandon menyentak dagu menunjuk ponsel di atas meja milik pria itu.
***********
Alfred berhenti di depan sebuah gedung mewah. Mendongak menatap ke atas dengan mata sayu. Lebih tepatnya pada gedung mewah di depannya. Sebuah villa. Dia mengedarkan pandangannya ke arah balkon villa itu sedang mencari sesuatu. Hingga satu pintu terbuka dari lantai dua villa itu. Cepat-cepat ia bersembunyi di balik pohon untuk mengintai siapa orang yang akan keluar dari pintu lantai dua tersebut.
"Bella." Gumam Alfred menyendu. Betapa bahagianya ia ketika melihat orang yang keluar adalaha Bella. Dan datang Aleysia yang menemani gadis blonde itu di balkon. Tampak mereka sedang bercanda ria tertawa lepas tanpa beban. Ah, apakah Bella-nya telah bahagia di sini? Apa Bella mau menerima perjodohan dengan Edward? Ha-ah.. Ia merasa sanksi untuk datang menemui Bella.
Alfred menundukkan pandangannya. Berfikir sesuatu. Hingga tiba-tiba ia membelalakkan matanya saat melihat ada seorang tukang ledeng melewatinya dan masuk ke area villa milik Anita. Sebuah seringai muncul di sudut bibirnya lantas menghampiri tukang ledeng itu cepat.
"Maaf mengganggu, tuan?"
"Ya?" Sahut tukang ledeng itu mengernyit bingung ketika jalannya tiba-tiba di halangi oleh Alfred.
"Begini, apa anda di tugaskan untuk memperbaiki air ledeng yang rusak di villa itu?" Alfred menunjuk Villa milik Anita. Tukang ledeng itu mengangguk dan menjawab sekadarnya sebagai jawaban iya. "Kalau aku menggantikan tugasmu, bagaimana tuan?" Kembali tukang ledeng itu berjengit sanksi memperhatikan penampilan Alfred sanksi.
"Kau tidak perlu khawatir, tuan. Aku ini juga ahli dalam memperbaiki ledeng rusak. Kalau kau mau, aku akan memberimu bayaran 2x lipat sebagai ganti ruginya." Jelas Alfred.
Tukang itu berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk saja. Tidak masalah. Dia nanti juga akan mendapat gantinya.
Alfred dengan tenang mulai masuk ke dalam Villa ketika seorang pelayan sudah mempersilahkannya masuk. Dengan penampilan baru juga wig coklat curly. Mata abu-abu dengan tanda tompel di bagian pipi kirinya.
"Apa kau tukang ledeng yang di hubungi oleh suamiku?" Tanya Anita tiba-tiba.
"Benar, nyonya. Di mana saya harus memperbaiki ledeng yang rusak itu?" Jawab Alfred dengan suara yang di buat sekecil mungkin namun halus seraya membungkuk sopan.
"Mari ikut saya." Alfred lantas mengikuti wanita itu menuju ke lantai atas. Hingga sampai di sebuah ruangan yang seketika itu menampilkan sosok Bella juga Aleysia yang masih berdiri di balkon.
'Ternyata' batin Alfred tidak menyangka.
"Nah, ledeng di kamar ini rusak. Tolong kau perbaiki." Alfred mengangguk dengan gumaman. Melihat Aleysia juga Bella lantas Anita memanggilnya dan menyuruh untuk tidak mengganggu tukang ledeng bekerja. Dalam hati Alfred bersyukur bahwa Bella tidak di minta untuk keluar.
Setelah Anita keluar, Alfred segera melaksanakan tugasnya. Meski itu seharusnya bukanlah profesinya. Tapi demi cinta, apapun akan dia lakukan hanya untuk menemui seseorang yang sangat di cintainya. Matipun ia rela asal tujuannya tercapai.
Sedang seriusnya mengerjakan tugasnya, Alfred tiba-tiba saja menghentikan pekerjaannya ketika telinganya tidak sengaja menangkap pembicaraan antara kekasihnya bersama Aleysia.
"Alasanmu membuatku tidak mengerti, Aleysia. Kau bilang kau akan membantuku keluar untuk bisa bersama kakakku lagi. Tapi mana?!" Sungut Bella protes.
Aleysia terkekeh geli. Semakin membuat Bella menekuk wajahnya kesal. "Aku serius tentang itu, Bell m. Aku harap si Edward itu tidak serius. Jadi kita bisa bekerja sama dengannya."
"Tapi Le, kau itu belum tahu bagaimana si sialan itu bagaimana orangnya."
"Sialan?" Beo Aleysia menaikkan satu alisnya.
"Maksudku, Edward." Ralat Bella cepat. Aleysia bergumam menggoda. Dengan kedua alis yang dia angkat ke atas seraya mengangguk-angguk. Hal itu membuat Bella memicingkan mata kesal.
"Kau tenang saja. Aku pasti membantumu kembali pada Kak Alfred." Ujar Aleysia yang ke sekian kalinya.
Dheg!!
Alfred membatu seketika. Apa Aleysia baru saja mengatakan ingin membantu Bella kembali padanya? Apa dia hanya salah dengar? Mungkinkan masih ada harapan dia bisa bersama dengan Bella tanpa jalan nekad?
"Tapi-"
"Sudah. Percaya padaku. Aku keluar dulu sebentar." Sela Aleysia. Bella mengangguk saja memperhatikan sepupunya itu yang mulai keluar dari kamarnya.
Ketika Bella hendak menghempaskan pantatnya untuk duduk, tiba-tiba saja ia membeku ketika telinganya menangkap seseorang memanggilnya.
"Bella."
'Suara ini..'
Sreekk!!
Dengan gerakan slow motion, Bella menatap sendu pada pria berpakaian jumpsuit, bersurai coklat curly. Iris mata abu-abu itu menyelami iris sapphire-nya dengan penuh kerinduan. Cukup lama mereka saling bertatapan tanpa bergerak dari tempat mereka berdiri masing-masing. Hingga seketika Bella membekap mulutnya tak percaya.
'Alfred. Apa benar itu kau?' Batinnya menjerit. Saat matanya tidak sengaja berhenti di bawah bibir pria itu. Di mana di sana ada sebuah tahi lalat kecil namun nampak jelas di sebelah kirinya. Tentu Bella tahu benar siapa pria yang kini tengah berdiri di hadapannya dengan pakaian dan penampilan mencolok itu.
"Alfred, ini kamu?!" Serunya girang. Dan pria yang memang Alfred itu lantas tersenyum bahagia seraya mengangguk. Membentangkan kedua tangan mengundang wanita blonde itu untuk menyambut pelukannya.
Dengan senang hati Bella langsung berlari masuk dan menerjang Alfred tanpa peduli ia hampir saja terjatuh.
"Awas!!" Pekik Alfred. Namun Bella tidak menggubris. Ia melompat menubruk tubuh suaminya dengan perasaan campur aduk. Memeluk erat kekasihnya itu. Hingga tanpa ia sadari, tetes demi tetes cairan liquid bening mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Al. Sangat.. Hiks.. Hiks.." Adunya terisak dengan suara bergetar. Alfred tersenyum lega. Membalas pelukan Bella tak kalah erat namun terkesan lembut penuh kerinduan. Menghirup kuat-kuat aroma tubuh Bella melalui ceruk leher istrinya itu. Berharap mampu mengobati rasa rindunya yang menggebu. Rasa rindu yang telah di pendamnya selama dua hari ini.
"Aku juga Bell. Aku juga." Ulang Alfred. Seraya mengusap lembut punggung Bella sayang.
Bella perlahan melepaskan pelukannya dengan tidak rela. Dengan gerakan rakus, Alfred langsung saja mengecupi seluruh bagian wajah Bella kasar namun syarat akan pelepasan kerinduannya. Dari mulai mencium hidung Bella, kedua pipi, kedua kelopak mata, mengecup pada kening lama dan terakhir, Alfred melumat bibir cherry Bella menuntut. Melesakkan lidahnya untuk mengeksplor rongga mulut kekasihnya yang sudah dalam dua hari ini tak di rasanya. Hingga membuat Bella menangis haru dalam ciuman mereka. Dengan berat hati Alfred melepaskan pagutannya untuk sama-sama memasok kembali oksigen ke dalam paru-paru mereka. Bella kembali menatap mata obsidian milik kekasihnya. Ia tersenyum dalam tangis kerinduan. "Aku mohon. Bawa aku pergi, Al. Aku ingin bersamamu lagi. Dan..." Bella menunduk. Mengusap lembut perutnya yang masih rata. Alfred lantas ikut menundukkan pandangannya ke arah di mana tangan kanan Bella tengah berada di perutnya. Ia tersenyum mengerti.
"Aku tahu. Aku akan membawamu pergi. Tapi tidak sekarang." Alfred berjalan menuju ke arah balkon tanpa bermaksud keluar hanya untuk mengecek posisinya sekarang. Bella mengernyit tak mengerti masih menggenggam tangan kanan Alfred. Sebelum pria itu kembali berbalik memegang bahu Bella menatap lekat iris sapphire nya.
"Aku akan datang lagi besㅡ"
Klek!!
Keduanya sontak menoleh ke arah pintu dan..
"Kau?!!" Geram orang yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah mengeras emosi. Bella berjengit mundur ketakutan di belakang Alfred. Menatap orang itu horror.
'Shiitt!!'
Orang itu lantas bergegas masuk dan menatap nyalang Alfred. "Meskipun kau berpenampilan seperti ini, aku tahu kalau kau adalah Alfred Frederick!!" Ungkap orang itu menekankan nama Alfred secara detail dan tajam menusuk. "ternyata ibuku sudah tertipu dengan penampilanmu ini."
Bella tentu saja terkejut. Bagaimana bisa orang di depannya ini tahu kalau Alfred menyamar? Aleysia tiba-tiba muncul dengan tatapan bingung. Tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di susul oleh Edward yang datang di belakangnya.
"Ada apa ini?" Tanya Aleysia ingin tahu.
"Sekarang kau keluar atau aku-"
"Aku apa, Ashley?!!" Potong Bella cepat. Ya, orang itu adalah Ashley yang kini menatap Bella ganti. Tapi dengan berani Bella membalas tatapan Ashley penuh kebencian. "Aku sudah bilang padamu, Ashley. Jangan pernah sekalipun menyentuh kehidupan kami terutama Alfred. Sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Tunjuk Bella tepat di depan wajah Ashley memperingati.
Aleysia mulai mengerti sekarang. Begitu juga Edward yang menatap Alfred lekat-lekat. 'Ha-ah... Masalah lagi.' Batin Edward frustasi.
"KELUAR KU BILANG!!" Teriak Ashley mulai naik pitam emosi dan mengusir Alfred. Bahkan dia tidak mau menggubris ocehan Bella sama sekali.
"Baik, aku keluar, Ashley. Tapi ingat satu hal. Aku akan mengambil Bella dan anak kami secepatnya!!"
"KE.LU.AR!!" kembali Ashley mengusir Alfred. Nafasnya sudah ngos-ngosan karena emosi.
Ketika Alfred hendak melangkah pergi, Bella secepat kilat menahan tangan pria itu kuat-kuat. Membuat Alfred berhenti dan menoleh ke arah Bella yang menatapnya memohon dengan menggeleng lirih. Seolah mengatakan jangan pergi. Alfred tersenyum simpul. Berbalik seraya mengusap pipi Bella sayang.
"Aku akan segera menjemputmu. Bertahanlah sebentar demi cinta kita. Calon anak kita." Sontak tangan Alfred turun ke bawah mengusap perut rata Bella sayang.
"Ada apa, ini?!!" Seru Anita yang tiba-tiba datang membuat atmosfer di ruangan itu seketika berubah mencekam. Tubuh Alfred menegang. Bella sudah shock mematung.
'Ashley saja sudah merepotkan apalagi di tambah Anita.' Batin Alfred nelangsa.
Anita terkejut saat melihat Bella bersama tukang ledeng yang Chal panggil, namun detik kemudian ia menyadari ketidak beresan yang terjadi di dalam kamar Bella saat ini.
"Oh.. Jadi kau biang masalahnya? Alfred Frederick si anak yang di pungut di tempat sampah?!!" Sentak Anita dengan suara meninggi. Dia berdecak beberapa kali, menggelengkan kepala. Menyeringai mencemooh ke arah Alfred seraya menatap nyalang pria itu.
"PENJAGA!!" Derap langkah langsung memenuhi koridor depan kamar Bella. Membuat Bella tersentak tak percaya. Empat orang bertubuh besar berjas hitam berdiri di belakang Edward.
"Bawa orang ini keluar!!" Perintah Anita angkuh menunjuk Alfred.
Penjaga itu segera menyeret Alfred. Hingga membuat Bella kalang kabut saat Alfred di tarik dengan kasar keluar kamarnya. Semua orang ikut mengantar penjaga itu memperhatikan mereka menyeret Alfred.
"Jangan perlakukan dia dengan kasar, ku mohon." Pekik Bella berusaha menghentikan perlakuan sang penjaga yang terus mendorong kekasihnya itu seperti binatang ternak. Namun penjaga itu tak juga menggubris.
Sampai tiba-tiba Alfred di lempar keluar dari pintu hampir terjerembab di atas tanah. "AL!!" Pekik Bella hendak berlari menghampiri Alfred namun Anita dengan cepat menahan tangannya kuat.
"Bibi. Ku mohon jangan sakiti dia." mohon Bella dengan derai air mata yang mengalir deras.
"Aku sudah peringatkan padanya untuk menjauhimu. Tapi dia tetap nekad. Jadi dia harus terima akibat atas perbuatan yang dia buat." Hardik Anita tidak mau tahu. Lantas menyuruh menjaganya untuk menghajar Alfred.
Bella yang tidak tahan lagi mencoba berfikir keras untuk mencari cara untuk menghentikan semua ini. Hingga pandangannya tertumbuk pada satu benda di dalam villa.
Wanita itu berlari mengambil benda itu dan kembali menghampiri semua orang. "Jika ada yang berani menyentuh Alfred, maka aku akan bunuh diri!" Pekik Bella. Dia menggenggam erat-erat sebilah pisau buah dan mengarahkan ujung pisau yang tajam itu pada perutnya
"Bella, Jangan!!" Seru Aleysia menatap horror pisau tajam itu.
"Bella, bibi mohon jangan nekad." Anita menjadi serba salah sekarang.
"Bibi tidak akan mencelakai Alfred, Bella. Tapi tolong. Turunkan pisau itu, okay?" Kemudian Anita menatap para penjaga untuk pergi. Dan Bella lantas membuang pisau di tangannya menghampiri Alfred.
"Kau baik-baik saja, kan?" Alfred mengangguk lalu bangkit.
"Ingat Bella. Kau sudah bibi jodohkan dengan Edward. Berhenti untuk berhubungan dengan Alfred lagi." Peringat Anita.
Bella tetap menatap Alfred sendu. Menunduk dalam tak berdaya. Ia ingin memberontak, tapi Aleysia...
"Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan mencari cara untuk membawamu pulang." Bella terisak, mengangguk kerasa sembari bergumam sebagai respon, "Jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu."
"Jika ada seseorang yang menemukan teman perjalanan sepertimu, siapa lagi yang akan takut menghadapi dunia ini? Aku sama sekali tidak takut Al. Aku percaya padamu." balas Bella.
Ashley mendengus mencemooh melihat adegan mereka yang sungguh sangat menjijikkan, "Alfred..."
Mendengar Ashley menyela, atensi seluruh orang yang melihat adegan kedua pasangan tersebut beralih menatap Ashley yang menyeringai bengis dengan sikap angkuh, "Bagaimana kamu bisa begitu sangat yakin, seseorang yang bukan milikmu akan menjadi milikmu? Bella bukan milikmu, lalu kenapa kamu begitu bersikeras untuk memilikinya, Hah?! Hmph..naif!"
"Semua pantas dalam cinta, Ashley. Tunggu dan lihatlah. Bella adalah milikku, meskipun kalian mencoba memisahkan kami, menikahkannya dengan pria lain, dia tetap akan menjadi milikku. Karena hatinya sudah lama mati dan hidup bersamaku."
Ashley menatap tajam Alfred penuh keinginan untuk membunuh. Dia merasa mual mendengar kata-kata Alfred yang sok puitis itu, "Heh!! Suatu saat kamu akan lihat, bagaimana hati Bella akan hidup kembali setelah menikah dengan Edward."
'Mustahil. Itu sangat mustahil'. Seseorang membatin putus asa.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menang dalam cinta." ujar Alfred, penuh kepercayaan diri.
*********
Tiga hari setelah kejadian itu, Bella benar-benar dalam pengawasan ketat para penjaga suruhan Anita. Hal itu menyebabkan wanita dengan rambut blonde itu tidak bisa bergerak bebas. Begitu juga Aleysia yang sulit untuk membahas masalah bagaimana cara untuk mengembalikan Bella pada Alfred. Semua benar-benar dalam pengawasan Anita dan Ashley.
Pagi ini tampak beberapa pekerja party organizer sudah berbolak balik di dalam Villa Anita. Mendekor sedemikian rupa ruangan di dalam villa itu untuk acara yang akan di adakan nanti malam oleh wanita itu. Dimana acara itu adalah acara pertunangan Bella dengan Edward yang di percepat.
"Aku mau membeli sesuatu dulu, Mom. Mungkin aku akㅡ ouch!!" Aleysia mengaduh ketika tiba-tiba saja dia nyeleweng saat berjalan dan tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
Ketika dia mendongak, raut wajahnya berubah antara terpesona juga terkejut dengan bibir setengah terbuka.
'Ya Tuhan... Pangeran tampan.' Katanya dalam hati.
Dan pria yang bertabrakan dengannyapun tersenyum hangat ke arahnya. Aleysia terbengong menatap penuh terkesima pria tersebut. Hingga satu jentikan jari menyadarkannya membuat ia tersentak.
"Apa aku menyakitimu?" Tanya pria itu menatap cemas.
"Ah, t-tidak. A-aku baik-baik saja. Hehe... Kamu tenang saja." Sahut Aleysia gugup. Bahkan senyumnya tampak garing.
"Kau mau pergi?" Aleysia mengangguk sambil bergumam sebagai respon. "Boleh aku mengantarmu?"
"Huh?" Aleysia terkejut melongo menatap pria di depannya tak percaya. Apa dia salah dengar?
"Bagaimana?" Kembali pria itu meminta persetujuan.
"Tapi.. Kauㅡ"
"Aku tidak keberatan kalau hanya mengantarmu pergi. Ke ujung duniapun akan aku antar asalkan itu denganmu." Sela pria itu memotong.
BLUSH!!!
Semburat merah seketika itu muncul di kedua sisi pipi Aleysia, wanita itu sontak menunduk malu lalu mengangguk saja. Kapan lagi dapat tawaran dari pria yang diam-diam ia sukai.
Pria itu menyeringai penuh arti lalu menoleh ke arah pria yang sebelas dua belas dengan dirinya yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Dek, Aku pergi sebentar. Tak apa, kan?"
"Terserah." jawab pria di sampingnya itu singkat sambil membuang muka.
__ADS_1
Aleysia lantas mengikuti pria itu keluar. Masuk ke dalam mobil Porches milik pria itu bak seorang putri yang di bukakan oleh pangerannya.
Pria yang masih tinggal di kediaman Anita yang tidak lain adalah Edward itu mulai menaiki anak tangga dengan langkah tenang di villa milik Anita menuju ke kamar Bella setelah sebelumnya mendapat izin dari wanita paruh baya itu.
Ceklek!!
Hal yang pertama terlihat adalah Bella yang duduk di lantai dengan memeluk lututnya. Bahkan ketika terdengar pintu terbuka sekalipun, Bella tetap diam bergeming tetap meringkuk dengan pandangan kosong tengah melamun.
Edward berjalan menghampiri Bella. Memilih ikut duduk di sebelah wanita itu. Ia menghela nafas sejenak. Mencoba merilexkan pikirannya agar tak merasa terbebani.
"Apa kau ingat, Bell. Kalau kita pernah saling berjanji untuk selalu saling berbagi?" Kata Edward menerawang ke masa lalu. Bella hanya melirik pria itu melalui ekor matanya sebagai respon. "Dan aku pernah berharap bisa selalu menjadi sandaran untukmu di saat kau sedang sedih. Meskipun bukan sebagai kekasihmu." Imbuhnya.
Hening.
Masih tetap tidak ada respon dari wanita itu membuatnya menertawai dirinya sendiri. Apa yang sedang dirinya harapkan? Bella bahkan tidak mau lagi bicara dengannya. "Apa kau membenciku?" Jeda sejenak. "Hmph! Bodoh!! Sudah pasti kau membenciku. Sahabat macam apa aku ini? samㅡ"
"Edward?" Sela Bella memanggil pria itu.
Sontak saja Edward menoleh menatap Bella yang masih menopang dagunya pada lutut.
"Apa yang kau rencanakan sekarang?!" Seloroh Bella mengintimidasi. Jelas saja Edward cukup terkejut. Tiba-tiba saja Bella mengintrogasinya.
"Aku tidak-"
"BOHONG!! Katakan padaku yang sebenarnya, Edward. Katakan!! Kalau kau memang menganggapku sahabatmu, tolong jelaskan padaku apa yang kau inginkan? Kenapa kamu menerima perjodohan ini?! Jelaskan padaku Edward, ku mohon." Racau Bella kembali meraung meminta penjelasan. Ia bahkan menatap Edward dengan mata merah sembab. Membuat Edward membulatkan matanya terkejut. Sepertinya Bella sudah lama menangis. Sampai kedua matanya membengkak.
Ha-ah.. Sungguh. Ia benar-benar tidak tega melihat Bella seperti ini. Edward menundukkan pandangannya, menatap jari-jari Bella. Ia menemukan sebuah cincin dengan batu permata berwarna sapphire.
'Aku mengerti sekarang.' Batinnya. Ia lalu menggenggam tangan kanan Bella. Membuat wanita blonde itu mengernyit bertanya-tanya. Sejenak Edward tersenyum sangat tipis menatap cincin yang tersemat di jari manis Bella.
"Bila kau ingin aku menjelaskannya, bersabarlah Bell. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang ku anggap benar di sini." Jelas Edward. Bella mengernyit tak paham dengan menelengkan kepala ke samping menatap Edward penuh kecurigaan.
"Bell, aku mohon padamu. Percayalah padaku. Seumur hidup aku tidak pernah meminta ataupun memohon padamu, bukan?" Edward menjeda sejenak untuk menatap Bella menuntut. "Kali ini. Kali ini saja, Bell. Aku memohon padamu. Anggap saja ini adalah sebuah permohonan pertama dan terakhir dariku." Imbuhnya menunduk. Ia menghela nafas sejenak.
Bella masih menatap Edward lekat penuh rasa penasaran. "Permohonan apa yang kau maksud?"
Edward mendongak membuat kedua matanya bertemu dengan iris sapphire Bella yang kini kosong. Ia tersenyum simpul. Dan begitu jelas di mata Bella. "Ku mohon. Kita jalani pertunangan ini. Anggap saja pertunangan ini bukan pertunangan yang sah."
Bella semakin mengerutkan keningnya gagal paham. "Dan untuk sementara waktu, simpanlah cincin pemberian dari Alfred sampai acara pertunangan nanti selesai."
"Maksudmu?
"Maksudku, setelah acara pertunangan kita selesai kau bisa memakai cincin dari Alfred kembali. Dan kau simpanlah cincin pertunangan kita. Anggap saja itu sebagai kenang-kenangan dariku sebagai sahabatmu." Kembali Edward menjelaskan secara panjang lebar. Membuat Bella melongo mendengar kalimat terpanjang dari Edward selama ini.
"Lalu?" Tanya Bella menjeda ucapannya. "Bagaimana dengan rencana pernikahan kita?" Imbuhnya.
"Akan tetap berlanjut Bell."
"Kau-"
"Sudah ku katakan, bukan? Yang harus kau lakukan hanyalah percaya padaku. Maka semuanya akan baik-baik saja."
Setelah mengatakan itu, Edward meninggalkan Bella seorang diri kembali. Memberikan wanita blonde itu waktu untuk mencerna semua yang telah ia katakan.
Bella terdiam mencerna segalanya. Mungkin memang ia harus mempercayai sahabat semasa kecilnya itu. Firasatnya mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
'Semoga kamu tidak mengecewakanku, Edward'.
***********
'Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauanㅡ'
Liliana mendesis sebal saat mencoba menghubungi nomor sahabatnya. Bukankah seharusnya wanita itu sudah kembali beberapa hari yang lalu? Bella sudah berjanji akan bertemu lagi setelah kembali dari masa liburnya. Tapi ini sudah beberapa hari berlalu, dan masih juga tidak ada kabar.
"Kemana Bella?" Liliana kembali menatap layar ponselnya yang menampilkan kontak Bella. Berkali-kali dia mencoba menghubungi, tapi selalu gagal. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya?
Tidak jauh darinya, Max berjalan dengan senyum merekah ke arahnya. "Lili. Kenapa kamu sendirian di sini?"
Mendongak, Liliana menatap Max yang duduk di sebelahnya. Dia bergeming dan memilih untuk menatap layar ponselnya mencoba untuk menghubungi sahabatnya lewat cara lain. Max mengernyit ketika memperhatikan Liliana yang terlihat tidak biasa. Apa ada sesuatu yang tengah terjadi?
"Ada apa?" tanya Max, mulai penasaran.
"Beberapa hari ini Bella susah sekali di hubungi. Padahal sebelumnya, dia tidak pernah seperti ini." katanya menjawab Max tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
Max menyadari memang hal ini sedikit ganjil. Tunggu! Bukankah dia sempat melihat Bella bersama Edward beberapa hari yang lalu?
"Terakhir aku melihat dia pergi ke kampus." Liliana mendadak menatap Max penuh perhatian, hal itu menyebabkan Max sedikit salah tingkah. "Kamu... Tidak bertemu dengannya?"
"Kapan kamu ketemu dia?" tanya Liliana serius.
"Emm... Sekitar... Tiga atau empat hari yang lalu. Eh, tapi aku benar-benar lupa." jawab Max terbata-bata sembari mengingat kembali.
"Max.. Coba ingat-ingat kembali." ujar Liliana, mencoba untuk mengintrogasi Max. Entah mengapa ada sesuatu yang tidak beres dengan Bella. Dia tidak pernah di abaikan oleh wanita blonde itu meskipun sedang bersama Alfred. Bahkan ketika Bella sedang berbulan madu sela satu bulan ini, wanita itu selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan hanya sekedar menanyakan kabar dirinya. Ponsel Bella selalu stand by meskipun wanita itu tidak membalas pesan secara fast respon. Setidaknya, ponselnya tidak pernah mati.
Meskipun Bella dalam keadaan sibuk, wanita itu hanya akan menyetel nada dering ponselnya menjadi silent. Ini tidak benar.
"Tapi sepertinya saat aku melihat dia bersama dengan Edward, ada dua orang perempuan yang tiba-tiba menarik perhatianku. Dia berbicara dengan Bella seolah mereka sudah mengenal Bella cukup baik. Tapi karena aku merasa itu tidak ada yang aneh, aku memilih pergi. Toh di sana ada Edward."
"Dua wanita?" beo Liliana, Max bergumam seraya mengangguk sebagai respon. Liliana mencoba berfikir, apakah mereka adalah keluarga jauh Bella? Tapi jika iya, seharusnya saat Bella menikah, Alfred akan mengundang mereka sebagai wali Bella. Ah, sial!
"Hey!" Ken berlari dengan berteriak memanggil Liliana dan Max. Melihat kedatangan Ken, Liliana mengernyit saat memperhatikan ekspresi pria itu yang seolah melihat hantu di siang bolong. Liliana melirik Max dan begitu pula Max yang meliriknya seolah mereka berbicara melalui sorot mata.
Ken berhenti dengan menopang lutut, nafasnya memburu dan mencoba untuk menetralkan diri. Menarik nafas dalam, dia menghembuskannya perlahan sebelum berdiri tegap menatap Liliana dengan ekspresi khawatir.
"Lili, apa kamu sudah dengar berita?"
"Berita apa?" Max yang bertanya. Ken menatap Max sebagai gantinya.
"Ini mengenai Bella dan Edward. Aku dengarㅡ"
"Dengar apa?" Liliana membeo, hatinya mendadak cemas dan takut. Firasatnya mengatakan bahwa kabar yang akan di sampaikan oleh Ken adalah kabar yang tidak menyenangkan.
"Mereka akan bertunangan."
DEG!!
Liliana dan Max terkesiap. Terlebih Liliana yang tahu tentang kondisi Bella jauh sebelum wanita itu menyelesaikan tugas skripsinya.
Bagaimana dengan Alfred? Apa pria itu tahu? Bukankah Bella sudah menjadi istri pria itu? Bagaimana bisa Bella menerima tawaran pertunangan dari Edward? Ini tidak benar.
"Pertunangan? Kapan? Kenapa aku tidak mendengar kabar ini?" Max bertanya memberondong.
"Aku mendengar ini juga hanya dari berita yang simpang siur saja. Sammy yang mendengarnya langsung. Mungkin Edward belum sempat memberitahukan hal ini padamu. Aku dengar, pertunangan mereka akan berlangsung malam ini."
Liliana menatap tajam Ken dengan ekspresi tidak percaya. Secepat itukah? Ini sebenarnya apa yang sedang terjadi? Tidak mungkin mereka akan mengadakan pertunangan dalam waktu yang begitu cepat tanpa persiapan, kan? Walaupun sudah di persiapkan jauh-jauh hari, tapi jika waktunya terlalu mepet, bukankah persiapan itu tidak akan maksimal?
Alfred. Bagaimana dengan pria itu? Bagaimana bisa dia membiarkan istrinya bertunangan dengan orang lain? Apa yang sedang di pikirkan pria itu? Apakah Alfred sudah idiot?
Tidak! Ini tidak bisa di biarkan. Dia harus menemui pria itu dan menanyakan semua masalah yang sedang terjadi pada Bella kepadanya langsung.
"Eh, Lili!" Ken berseru memanggil Liliana yang mendadak berlari sekuat tenaga ke arah keluar kampus. Wanita itu hanya memikirkan satu hal. Pergi dan menemui pria bernama Alfred untuk meminta penjelasan tentang masalah ini.
"Kita kejar." Max beranjak berlari menyusul wanita itu dengan perasaan campur aduk. Di ikuti Ken yang berlari di belakangnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue...