Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Yes, I Do..!!


__ADS_3

'**Gaun cantik untuk gadis cantik sepertimu. :)


Bella, jika kau menerima pernikahan yang datang hari ini dariku, datanglah ke National Cathedral jam 9 pagi ini.


Sampai kau datang, aku akan menunggumu di sana. Dan kau tenang saja, sudah ada seseorang yang akan menjemputmu di depan rumah


Bella, selamat ulang tahun yang ke sembilan belas tahun**.'


Bella terkejut ketika dia menemukan sebuah kotak box hitam dengan pita bunga putih di penutup box tersebut tepat di meja kamar tidurnya.


Dan saat dia membuka kotak box tersebut, dia tercengang melihat isi di dalamnya. Bella membekap bibirnya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Hanya saja, dia tidak yakin apa yang ada di dalam sana selain sebuah gaun sederhana namun elegan.


Ada sepucuk note di atas gaun putih itu. Dia membukanya perlahan, membacanya pelan-pelan dan semakin di buat terkejut.


Bella mengambil gaun putih di dalam kotak box yang beralaskan kain satin putih. Gaun itu memang benar-benar gaun pengantin. Hanya saja, itu memiliki model knee-length. Itu hanya sepanjang lutut dan lengan tiga perempat. Veils elbow tidak terlalu panjang untuknya. Beberapa perhiasan berwarna senada sebagai accessories pelengkap. Dan tidak lupa sepasang sepatu flatshoes berwarna putih polos dengan hiasan bunga dari kain brokat dan beberapa manik mutiara. Sengaja Alfred memilihkan Bella flatshoes agar tidak terlalu repot.


Meskipun gadis itu mampu mengenakan stiletto, tapi mengingat pria itu tidak berada di samping gadis itu, membuat Alfred mengurungkan niatnya.


Tok Tok Tok...


Suara ketukan pintu di depan rumah membuyarkan lamunan Bella dan sontak menoleh ke arah pintu kamarnya. Gadis itu lantas bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang untuk bertamu di pagi-pagi sekali begini.


"Hay!" Liliana menyapa dengan senyuman hangat. Dia melambaikan tangannya ketika pintu terbuka. Bella terkesiap ketika melihat Liliana berada di depan rumahnya. Dan penampilannya...


"Pagi sekali kau datang. Dan pakaianmu.. Lili, kau mau kemana?"


"Tentu saja aku akan menjadi pendampingmu sebagai teman pengantin wanita, kan? Ayo. Aku akan mendandanimu secantik mungkin." ujar Liliana semakin membuat Bella terkejut.


Bagaimana Liliana tahu bahwa Alfred mengajaknya untuk menikah hari ini?


"Tidak perlu bingung begitu. Alfred meminta tolong padaku untuk mendampingimu dan membantumu untuk bersiap. Kau tidak mungkin menolak proposal ini, kan?" cerocos wanita itu kembali bersuara. Dia lalu menarik Bella kembali ke dalam kamarnya.


"Buju buseett.... Cantik banget deh, ini gaun. Aiiyoo.. Kapan ada laki-laki yang melamarku." seru Liliana histeris. Dia tidak menyangka gaun yang di pilih pria itu benar-benar cocok dengan pribadi Bella yang ceria dan energik.


Bella hanya terkikik lirih melihat tingkah Liliana dan menghampiri wanita itu. "Mohon bantuannya, Lili."


"Tentu saja. Serahkan padaku." dan mulailah Liliana bekerja untuk merias Bella.


Hanya dalam waktu setengah bulan setelah persiapan untuk pernikahan yang akan di lakukan oleh pria itu selesai, tepat pada tanggal 10 October, di mana tanggal itu adalah hari lahir Bella, Alfred segera menjalankan rencananya.


Inilah kado yang ingin dia berikan untuk gadis itu. Dia tidak ingin menunda terlalu lama lagi.


Tidak banyak juga orang yang dia panggil untuk menghadiri pernikahan mereka. Saat ini Alfred yang sudah berada di sebuah Cathedral menunggu gadis itu.


"Tristan. Jam 8 jemputlah dia di rumahku." seru Alfred kepada seorang pria yang hampir memiliki tubuh dan tinggi yang sama dengannya.


"Kalau begitu, biar aku jemput sekarang." pria itu melirik arlojinya yang memang sudah hampir jam delapan lalu berjalan meninggalkan Alfred yang kini hanya seorang diri di dalam Cathedral tersebut.


Ya, Alfred hanya ingin mendatangkan sahabat lamanya Tristan dan juga sahabat Bella Liliana saja di acara pemberkatan mereka nanti. Meskipun seharusnya dia juga mengundang keluarga Lincoln, keluarga Deana yang sudah banyak membantunya dari dirinya masih kecil dulu, Helena dan juga Gavyn, Brandon, sahabat-sahabat lama Bella juga Edward, namun Alfred berpikiran lain.


Ini hanyalah pemberkatan saja. Mengenai resepsi, pria itu berencana akan mengadakannya tepat setelah Bella di wisuda.


Hari ini bukanlah hari ahad atau akhir pekan. Namun hari yang mereka nantikan jatuh pada hari rabu. Tentu saja keluarga Lincoln tidak berada di rumah pada jam sembilan pagi. Sedangkan Deana yang kini telah memiliki kesibukan sendiri sudah jarang berada di rumah setelah pukul 7 pagi tiba.


Jika Alfred mengundang mereka, dia takut hal itu hanya akan mengganggu kesibukan mereka. Terutama Brandon juga tuan Bryan yang setiap hari selalu sibuk di perusahaannya.


Sedangkan dirinya sendiri, memang telah mengajukan permohonan cuti menikah jauh-jauh hari untuk acara hari ini. Beruntung kepala sekolah mau bekerja sama dengannya dan memberikannya ijin sesuai hari yang dia inginkan. Dan lebih penting lagi, kepala sekolah tidak akan mengatakan perihal permohonan cutinya untuk menikah kepada guru-guru lainnya.


Di tengah-tengah Liliana merias Bella, mereka selalu bercanda ria dan berkhayal hingga merasa puas. Tertawa bersama selagi mereka masih memiliki banyak waktu untuk bisa tertawa bersama.


Liliana dan Bella memiliki pemikiran yang sama. Bahwa setelah pemberkatan usai dan pernikahan itu telah di sahkan, mereka pasti akan memiliki peluang waktu yang jarang untuk bertemu karena jalan kehidupan mereka telah berbeda.


Mengetahui hal itu, tentu saja Liliana tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu berharganya yang tersisa bersama dengan sahabatnya.


Klakson mobil berbunyi nyaring ketika Liliana tengah memasangkan veils di kepala Bella. "Sebentar!" serunya. Dia tahu, teriakannya tidak akan di dengar oleh orang itu. "Selesai."


Liliana tersenyum puas ketika melihat karya yang dia aplikasikan pada Bella berhasil, "Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali." Bella hanya bergumam. Melirik kepergian Liliana yang keluar dari kamarnya.


Gadis blonde itu berbalik dan kembali melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Gaun knee-length yang terbuat dari bahan satin, hiasan headbands daun bunga perak putih yang tidak begitu ramai di atas kepalanya, model rambut half up yang di gerai bergelombang sederhana dan tidak tampak terlalu dewasa ataupun kekanakan.


Bouquet bunga yang terdiri dari Tiffany rose, peony, poppy, ranunculus, eucalyptus, dan berbagai bunga berwarna soft lain menambah kesan glamour. Flat shoes yang di pilihkan oleh pria itu benar-benar membuatnya nyaman. Dia tidak mengenakan kalung. Dan hanya memakai studs earrings dengan permata berbentuk daun berjumlah empat butir dan satu manik mutiara.


Make up yang natural dan warna bibir pinkerbell sangat cocok dengan kulit putih dan bentuk wajahnya. Bella berfikir bahwa ini bukan seperti dirinya. Meskipun make up yang di di terapkan oleh Liliana masih terbilang sama seperti gayanya, tetapi make up yang sekarang cenderung sedikit lebih dewasa.


"Ini bukan aku." gumamnya memuji dirinya sendiri masih tidak percaya.


CEKLEK!!


"Oh, kak Tristan. Kau sudah datang?" Liliana menuambut seorang pria suruhan Alfred.


"Bagaimana? Apa dia menerimanya?" tanya Tristan melirik ke lantai atas. Liliana tersenyum.


"Jangan khawatir. Dia sudah siap." wanita itu mengerling singkat dengan decakan manja.


Liliana adalah teman satu kampus Bella dengan fakultas yang sama. Karena hari ini mereka memang memiliki jam kosong, membuat mereka berdua tidak perlu lagi menyerahkan surat izin cuti.


Oleh sebab itulah, Liliana bisa menjadi pendamping mempelai wanita untuk Bella.


"Bella! Kau sudah siap?" seru Liliana. Dia kembali berlari kecil untuk naik ke lantai atas. Tidak begitu lama sebelum langkah Liliana sampai di ujung tangga, sosok Bella sudah keluar dari kamarnya.


Tristan terkesima dengan penampilan Bella yang sungguh luar biasa cantik. Tidak heran pria itu bisa menyukai adiknya sendiri. Gadis itu memiliki mata biru yang jarang di miliki oleh orang-orang dan rambut blonde yang alami tanpa pewarna.


Siapapun pasti akan jatuh cinta pada sosok gadis ini bila melihat sosoknya saat ini.

__ADS_1


Liliana segera membantu Bella yang sedikit kesusahan. Meskipun gaun itu pendek selutut, sepatu flat shoes, tapi dia tidak ingin jika insiden kecil sampai menimpa Bella di hari pentingnya ini. Dia tidak ingin itu terjadi, okay?


Ketika Liliana menampar pandangannya ke arah Tristan, dia tidak bisa tidak menyeringai penuh kepercayaan diri. Dia puas dengan hasil make up-nya untuk Bella. Melihat Tristan yang sampai bengong dengan tampang bodoh menatap Bella seperti itu, sudah pasti pria itu juga akan terkesima. He! He! He! Liliana tertawa iblis. (つ✧ω✧)


"Ekhem... Ekhem...!" Liliana mengintrupsi lamunan Tristan yang sontak tersadar dan mulai salah tingkah. Hal itu membuat Bella dan Liliana menagan tawa geli. "Awas mata. Ini bukan milik kamu."


"Ayo kita berangkat. Alfred sudah menunggu." tanpa banyak bicara, Tristan memilih nyelonong pergi dengan ekspresi bersalah.


"Hahaha... Dasar mata lelaki. Gak bisa lihat jaga mata." cibir Liliana, puas.


"Huuss.. Sudahlah Li, kasihan kan dia." bela gadis blonde itu.


Tristan membantu membukakan pintu masuk belakang untuk Bella, dengan sangat hati-hati Liliana membantunya untuk masuk. Setelah di rasa tidak ada yang kurang dan tidak ada yang ketinggalan, Tristan berputar menuju ke pintu driver. Begitu juga Liliana yang memilih untuk duduk di kursi penumpang samping Tristan. Sementara Bella menjadi ratu dan duduk sendiri di belakang.


Ketika mobil milik Tristan mulai berjalan meninggalkan rumahnya, jantung Bella mendadak bergemuruh dan dia mulai gugup. Hal itu membuat dirinya menjafi berkeringat meskipun AC mobil telah di nyalakan.


Tristan dan Liliana sesekali melirik Bella melalui kaca spion dalam mobil, dan mereka tersenyum maklum melihat gelagat Bella yang tidak bisa tenang.


Maklum, usia Bella baru menginjak sembilan belas tahun. Di negara ini, usia tersebut sudah matang untuk memulai karir pekerjaan.


Bella dan anak-anak yang lain merupakan generasi yang maju. Karena di usianya yang ke 15 tahun, mereka sudah lulus dari sekolah menengah atas. Tidak banyak yang tahu bahwa usia 4 tahun anak sudah bisa bersekolah di kelas satu sekolah dasar. Bila di hitung-hitung, ketika mereka mulai terjun di dunia kerja, itu tepat di usia 19-20 tahun.


Sekarang, Bella bahkan belum lulus dari kuliah dan menginjakkan kakinya di dunia kerja, namun dia sudah harus menjadi seorang istri dari seorang laki-laki. Bila itu terjadi pada wanita yang lain, mungkin mereka akan memberontak bahkan bisa melakukan hal-hal yang tidak di inginkan. Tapi Bella justru sebaliknya. Dia memilih duduk manis di belakang kursi mobil, mengenakan gaun putih indah dengan menggenggam bouquets bunga di tangan. Berdoa dengan penuh harapan dan memasang wajah yang mengatakan bahwa, 'Aku baik-baik saja. Dan aku sangat bahagia'.


Mobil semakin melaju dengan kecepatan rata-rata. Waktu juga hampir menunjukkan pukul sembilan pagi. Dan tepat lima belas menit sebelum waktu yang di tentukan tiba, mobil Tristan telah sampai di National Cathedral. Di mana di sanalah Alfred tengah menunggu.


Liliana keluar dan membantu membukakan pintu belakang untuk Bella. Sementara itu, Tristan merangkap posisi sebagai pengganti ayah Bella di sampingnya.


Di dalam Cathedral, Alfred masih berdiri di depan seorang pastur berpakaian putih dengan corak garis emas yang berada di atas mimbarnya. Mereka juga tengah melakukan prosesi yang seharusnya di lakukan sebelum mempelai wanita datang.


Tepat ketika acara mempelai wanita harus hadir, Tristan menggandeng Bella dan memasuki ruang pemberkatan menuju ke altar pernikahan.


Alfred membalikkan tubuhnya, menatap di belakang sana kehadiran Bella yang tampak begitu sangat cantik bagaikan seorang peri bidadari. Dia tidak bisa menahan senyum bahagia ketika melihat Bella benar-benar datang dengan memakai gaun pengantin yang dia berikan.


Tepat ketika Bella sampai di depan Alfred, pria itu menggamit telapak tangan Bella dengan senyumnya yang tipis dan sorot mata yang memancarkan aura kebahagiaan. Pria itu membimbing Bella untuk berdiri di sampingnya. Untuk sesaat, keduanya tenggelam dalam tatapan mereka. Alfred masih bertahan menatap wajah cantik Bella dan banyak hal yang dia fikirkan saat ini tentang betapa bersyukurnya dia memiliki Bella di sampingnya saat ini. Begitu pula sebaliknya, Bella menatap Alfred dengan senyum yang terpatri indah menampakkan gigi rapi putihnya dengan sejuta pikiran yang serupa dengan Alfred.


"Mari kita mulai acaranya." pastur itu mulai membuka suaranya, membuat atensi keduanya teralihkan dan menatap ke depan.


Dalam upacara peneguhan pernikahan ini, pastur pendeta akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua mempelai. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kesungguhan mereka dalam memasuki bahtera pernikahan. Kedua mempelai kemudian akan menjawab pertanyaan yang diajukan secara simbolis dan bergantian.


"Pada pernikahan suci ini, yaitu pada hari Rabu, tanggal 10 Juni akan dipersatukan, Alfred Arshavin Frederick dengan Bella Aberald. Sekarang sebagai seorang hamba Allah saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria dan mempelai wanita. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kesungguh-sungguhan mereka dalam memasuki pernikahan yang suci ini."


"Alfred Arshavin Frederick. Apakah saudara mengakui dihadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saudara bersedia dan mau menerima Bella Aberald sebagai istri satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup?"


"Ya, saya bersedia." Jawab tegas Alfred tanpa rasa gugup. Hal itu membuat Bella menoleh untuk menatap Alfred dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Apakah saudara mengasihinya sama seperti mengasihi diri sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudara berdua hidup?"


"Ya, saya bersedia." jawab Alfred lagi. Dan Bella masih tetap setia menatap Alfred yang tidak berkedip sama sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


"Ya, saya bersedia." kali ini Alfred menoleh untuk membalas tatapan Bella dengan mata teduhnya. Pria itu tersenyum sangat tampan ke arahnya hingga membuat Bella hampir menangis karena bahagia.


"Bella Aberald. Apakah saudari mengakui di hadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saudari bersedia dan mau menerima Alfred Frederick sebagai suami satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup?"


"....." Bella bergeming di tempatnya. Suaranya mendadak tercekat di kerongkongan ketika dia hendak menjawab. Mendadak Bella takut akan mengecewakan Alfred dan membuat dirinya tiba-tiba terisak.


Keheningan itu membuat pastur pendeta menatap Bella ingin tahu, lalu melirik Alfred. Liliana dan juga Tristan yang duduk sontak cemas dan takut bila tiba-tiba gadis itu merubah pikirannya.


Alfred tetap tenang, dan dia berbalik untuk menghadap Bella tersenyum, "Bella. Apa kau tidak ingin bersamaku? Jika iya..."


Bella tiba-tiba menggeleng lirih. Semua orang tidak tahu, apa arti dari gelengan kepalanya. Apakah itu artinya Bella memang tidak ingin menikah, atau sebaliknya...


"Aku..hiks.." Bella mulai terisak. Alfred tidak marah dan tetap sabar.


"Katakan saja. Aku tidak akan marah padamu."


Bella tidak menjawab, dia hanya menoleh untuk menatap pastur pendeta lagi. Memberi isyarat untuk mengulangi pertanyaan untuknya. Dia datang ke Cathedral bukan untuk mempermalukan Alfred dan bukan untuk meninggalkan pria di sampingnya. Dja datang karena dia ingin selamanya hidup menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan pria di sampingnya hingga ajal menjemput.


"Apa kau yakin, nak?" tanya pastur itu. Dia tidak ingin memaksa gadis itu jika memang tidak ingin.


"Tidak. Mari kita ulangi." kata Bella tegas. Pastur itu bergeming madih menatap Bella. Mencoba mencari keyakinan dari gadis itu. Setelah yakin, pastur itu mengajukan pertanyaan yang sama kembali.


Kali ini, Bella melakukannya dengan menatap bola mata Alfred dengan sorot mata sendu yang sulit untuk di baca.


"Ya, saya bersedia." mendengar jawaban mantap Bella, semua orang merasa lega. Terutama Alfred yang semakin tersenyum ke arahnya.


Pastur pendeta itu merasa lega, dan mulai melanjutkan. "Apakah saudari bersedia tunduk kepada suami, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama saudari berdua hidup?"


"Ya, saya bersedia." Liliana tersenyum haru hingga airmatanya turun.


"Dan terakhir, apakah saudari bersedia menjaga kesucian perkawinan ini sebagai istri yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidupmu?"


"Ya, saya bersedia."


Menutup sesi pertanyaan tersebut, pastur pendeta kepada semua orang yang hadir sebagai saksi pemberkatan mereka berdua.


"Sekarang, saudara Alfred Arshavin Frederick, ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dan juga saudari Bella Aberald setelahnya."


"Saya, Alfred Arshavin Frederick menerimamu, Bella Aberald menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita, kuucapkan janji setiaku kepadamu."


Dan setelah Alfred mengucapkan janji pernikahannya, Bella pun juga mengatakan hal yang sama meskipun sedikit gugup dan terbata-bata.


Acara selanjutnya adalah mengenakan cincin. Pastur pendeta menyerahkan sepasang cincin dengan ukuran berbeda di hadapan keduanya. Cincin ini tentu berbeda dengan cincin yang di berikan Alfred ketika pria itu melamarnya.

__ADS_1


Cincin yang kali ini merupakan simbol yang menggambarkan kasih antara seorang suami dan isteri. Cincin yang melingkar tidak mempunyai ujung dan pangkal, melambangkan kasih yang tidak akan berhenti. Cincin yang terbuat dari emas murni yang tidak akan berkarat, melambangkan kasih yang tidak akan luntur dan rusak.


"Demikian kiranya kasih antara kedua saudara ini, Alfred Arshavin Frederick dan Bella Aberald tidak akan berakhir selama keduanya hidup, bertambah hari bertambah suci, bertambah hari bertambah matang dan bertambah hari bertambah tulus." ujar pastur pendeta itu.


Alfred lalu memasukkan cincin dengan ukuran kecil pada jari manis tangan kanan Bella sebagai tanda kasih kepada gadis itu yang tidak akan berakhir dan tidak akan pernah luntur. Di ikuti oleh Bella yang juga menyematkan cincin yang lain pada jari manis tangan kanan Alfred.


Keduanya lalu berlutut untuk acara peneguhan dan pemberkatan yang akan di lakukan oleh pastur pendeta kepada keduanya. Mendoakan mereka sebelum menyatakan bahwa keduanya benar-benar telah terikat satu sama lain.


Setelah selesai, keduanya lalu berdiri dan saling berhadapan. Alfred berganti posisi di sebelah kanan Bella. Dengan bimbingan pastur pendeta, Alfred mulai membuka veils yang menutupi sebagian wajah Bella, lalu mencium kedua pipi gadis itu. Begitu sebaliknya dengan Bella. Mencium kedua pipi Alfred sesuai dengan perintah yang harus di ikuti.


Dan acara tersebut menutup pemberkatan keduanya.


"Bella. Terima kasih." Alfred berkata dengan tulus. Gadis itu menggeleng lirih.


"Bukankah seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih untukmu?"


***********


Esoknya, Alfred mengantarkan Bella ke kampus dengan tujuan untuk bertemu dengan salah satu dekan adiknya, atau sekarang bisa di sebut sebagai istrinya? Terserah saja. Keduanya sama saja. Haha...


Alfred berencana untuk mempercepat proses pengerjaan skripsi Bella dan tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi. Jadi pria itu membantu istrinya mengurus prosedur pengajuan skripsi.


Alfred membantu Bella dari belakang untuk menentukan beberapa unsur yang harus tercakup dalam proposal pengajuan penelitian nanti. Di mana di dalamnya terdapat judul, konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan, dan manfaat yang di dapat dalam penelitian tersebut. Setelah yakin bahwa unsur tersebut cocok dan baik, Bella harus menemui Kepala Bagian Administrasi kampus. Hal itu bertujuan untuk memastikan bahwa syarat untuk pengajuan skripsi telah lolos.


Beruntung Bella merupakan mahasiswi yang memiliki otak jenius. Dalam waktu tidak lama, Bella berhasil meyakinkan pihak kepala bagian administrasi tersebut secara mudah.


Hari berikutnya, Bella tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada dan segera kembali menemui pihak kepala program studinya. Di mana pihak tersebut akan memeriksa beberapa aspek yang di perlukan.


Setelah usulan penelitian sudah diterima, Bella akhirnya diberikan seorang pembimbing penelitian oleh kepala program studi tadi. Pemilihan Dosen Pembimbing ini berdasarkan fokus dan topik, serta jenis penelitian yang akan di lakukan oleh mahasiswa tersebut. Dalam hal ini, Bella diperkenankan memilih sendiri Dosen Pembimbing yang dianggapnya cocok buat penelitiannya.


Setelah semua ini sudah dilalui, dirinya harus berkomunikasi dengan Dosen Pembimbingnya dan berkonsultasi perihal penelitiannya tersebut. Konsultasi awal ini akan berujung pada pembuatan proposal penelitian yang di buat untuk berikutnya.


Nasib Bella berada di bawah Dosen Pembimbingnya saat ini. Karena segenap urusan birokrasinya berkaitan dengan Dosen Pembimbing semata.


Saat mengerjakan proposal pra seminar, dirinya bahkan perlu berkonsultasi dan menunjukkan kemajuan proposal yang dilakukannya secara berkala. Pada saat inilah semua unsur proposalnya dipertimbangkan. Dari bagaimana kerangka teorinya, metodologinya, keaslian penelitiannya, juga rujukan apa saja yang diperlukan, dan lainnya. Tukar tambah pengetahuan antara dirinya dengan Dosen Pembimbingnya dimaksimalkan di sini.


Apabila proposalnya sudah di putuskan selesai, tinggal prosesi Seminar Proposal. Prosesi ini diharuskan menghadirkan Dosen Pembimbing, Dosen Pembanding, dan para undangan. Para undangan terdiri dari mahasiswa, baik teman maupun adik kelas yang bersangkutan. Semakin banyak jumlah undangan, prosesi Seminar Proposal akan semakin baik, sebab segenap undangan juga akan dimintai masukan terkait perbaikan yang perlu dilakukan dalam proposalnya.


Namun yang lebih penting dari itu, dan yang perlu ditekankan, Bella diharapkan mampu untuk menyaring masukan-masukan yang diterimanya sesuai dengan kebutuhan. Oleh sebab itu, dirinya harus paham betul apa yang dia mau dengan proposalnya. Dan dengan demikian, dia bisa menyaring sendiri mana masukan yang relevan dan mana yang tidak.


Beruntung Alfred selalu membantunya dan memberi masukan bila tata bahasa proposal itu tidak pas dan kurang menarik.


Hari berikutnya setelah Bella melakukan Seminar Proposal, tugas selanjutnya yang dia kerjakan yaitu menggarap Inti skripsinya yang berupa penggalian data dan menganalisisnya sesuai dengan metode yang ditulisnya di dalam proposal. Bagian ini juga di bawah arahan Dosen Pembimbing. Jadi, konsultasi dengannya tetap berlangsung dalam beberapa kali untuk menunjukan kemajuan yang telah dicapainya dan mendapat bimbingan dari sang dosen.


Di tahap ini, urusan birokrasi sama sekali tidak melibatkan kampus, kecuali dalam satu hal一keterangan penelitian dari kampus bagi mahasiswa yang melakukan penelitian lapangan. Surat keterangan ini penting, sebab sebagian instansi meminta surat keterangan dari kampus bersangkutan. Oleh karena itu, bagi peneliti lapangan, sangat direkomendasikan untuk mengurus surat keterangan tersebut ke pihak kampus.


Hal semerepotkan itu membuat Bella tidak memiliki waktu untuk menemui Liliana ataupun teman-temannya yang lain hanya untuk menghabiskan waktu mengobrol dan bersenang-senang.


Ketika proses penelitian yang di lakukan oleh Bella sudah selesai dan laporan penelitiannya sudah ditulis secara lengkap, Bella segera pergi untuk berkonsultasi tahap purna dengan Dosen Pembimbingnya kembali. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa naskah skripsi miliknya sudah lengkap. Dari mulai halaman judul, pernyataan keaslian, halaman persetujuan, halaman pengesahan, pedoman transliterasi, kata pengantar, dan hal-hal yang harus di kaitkan sampai akhir.


Jika semuanya sudah lengkap dan Dosen Pembimbing telah menyatakan ini baik, tinggal melakukan ujian skripsi. Dan keajaibannya yaitu, dia hanya melakukannya dalam sekali percobaan.


Dalam hal berokrasi, ada dua pihak yang harus ditemui olehnya sebelum melakukan Ujian Skripsi. Kedua pihak itu adalah Kabag Administrasi dan TU Prodi. Mereka memastikan beberapa hasil yang di capai oleh gadis itu selama proses perkuliahan dari mulai nilai yang tanpa ada nilai E atau D, statusnya yang selalu aktif dan selalu hadir di setiap pertemuan, administrasi keuangan selesai tanpa tunggakan, dan lain sebagainya.


Adapun TU Prodi akan memastikan bahwa dirinya sudah melengkapi hal-hal seperti pernyataan keaslian yang sudah di tanda tangani dan di bubuhi dengan materai. Halaman persetujuan sudah di tanda tangani, lembar konsultasi sudah diisi lengkap, nilai Kaprodi sudah terisi dengan lengkap.


Apabila semua kelengkapan itu sudah terpenuhi, saatnya gadis itu memasuki tahap Ujian Skripsi.


Ketika hari ujian skripsi itu tiba, Bella mendapatkan tiga orang dosen. Yaitu di antara ketiganya merupakan penguji utama, pemimpin sidang, dan sekretaris sidang dan Bella tahu, dirinya akan dicecar dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tidak akan mampu berkonsentrasi. Setidaknya itu yang di katakan oleh suaminya tentang momok saat melakukan sidang skripsi.


Namun ketika hal itu terjadi, Bella merasa jika apa yang di pertanyakan masih dalam batas yang wajar baginya. Karena pertanyaan itu menguji kemampuannya untuk mempertanggung jawabkan penelitiannya seputar validitas dan kesistematisan penelitian, sejak awal naskah hingga pungkasannya, dari A hingga Z.


Selama proses pengerjaan skripsi ini, Liliana selalu berada di sampingnya dan menyemangati gadis blonde itu dari belakang. Bahkan Ken yang biasanya usil tidak berani untuk mengganggu Bella pada saat gadis itu melakukan sidang.


Alfred juga selalu menyempatkan diri untuk berada di dekat gadis itu saat melakukan sidang. Keberadaannya membuat orang-orang meliriknya penasaran dan ingin tahu apa yang di lakukan oleh pria tampan itu di kampus mereka.


Ketika Bella keluar dari ruang sidang, dia tampak begitu sangat puas dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melompat karena bahagia. Dia bahkan memeluk Alfred tanpa malu-malu di depan semua orang yang berjalan berlalu lalang di sekitar mereka.


Ah.. Apa peduli Bella.


"Masih harus perlu merevisi ulang, kan?" ujar Alfred lebih ke sebuah pernyataan. Hal itu membuat Bella menghela nafas kecewa dan bergumam sembari mengangguk.


Alfred tersenyum dan mengelus surai blonde Bella sayang, sebelum akhirnya tanpa malu-malu mencium kening gadis itu.


Tanpa mereka sadari, Gwen tidak sengaja melihat adegan mesra mereka tidak jauh dari gedung fakultas Bella. Namun dia hanya menatap sekilas sebelum memilih kembali untuk pergi. Wanita itu hanya tahu bahwa Bella dan Alfred memiliki hubungan tidak lebih dari kakak dengan adik. Jelas saja ketika melihat adegan mesra mereka, Gwen tidak berpikiran yang macam-macam.


"Aku akan membantumu kalau hanya merevisi ulang." kata Alfred tulus.


"Haduhh... Enaknya yang sudah punya pasangan. Apa-apa pasti di bantu." seloroh Liliana menyindir. Dan Bella hanya bisa menundukkan kepala sambil tersenyum malu-malu. Alfred tidak banyak bicara dan hanya tersenyum tipis.


Yoana menatap siluet Bella dari gedung seberang dengan sorot mata sendu. Dia rasanya ingin memeluk gadis itu dan mengatakan, 'aku nenekmu, nak. Betapa aku sangat ingin memelukmu'.


Sayangnya, dia merasa waktu ini belum tepat. Yoana lalu mengalihkan matanya pada Alfred. Dia tersenyum tipis memperhatikan pria itu. Betapa pria itu begitu sangat mencintai cucunya. Dia tahu, bahwa cucunya pasti hidup dalam kebahagiaan setiap hari. Melihat keduanya yang saling menyayangi membuatnya sangat yakin akan hal itu. Dan itu membuat hatinya tenang.


*************


Akhirnya, skripsi Bella pun selesai hanya dalam kurun waktu dua bulan. Dan sekarang telah memasuki awal bulan Desember.


Musim dinginpun telah tiba.


Setelah gadis itu menyelesaikan ujian skripsinya dan di nyatakan lulus, Bella akhirnya memiliki libur panjang sembari menunggu harinya untuk di wisuda.


Dan selama libur panjangnya itu, lagi-lagi Alfred meminta cuti kerja selama kurang lebih satu bulan ke pihak sekolah. Maklum, Alfred tidak pernah melakukan cuti selama satu tahun bekerja. Dan dia selalu mengambil cuti hanya di waktu yang baginya penting saja.

__ADS_1


Pria itu berencana ingin mengajak gadis itu menikmati waktu liburan bersama mereka di kota London, Inggris.


Sudah jauh-jauh hari dirinya menyiapkan segalanya. Dan sekaranglah saatnya.


__ADS_2