
Pagi ini, Alfred bangun lebih siang dari sebelumnya. Entah kenapa dia merasa tubuhnya begitu berat untuk meninggalkan kasur nyamannya yang empuk.
Sementara Bella, gadis itu sudah berkutat di dapur menyiapkan menu sarapan mereka nantinya. Gadis itu sudah mampu untuk membuat masakan sendiri. Dia belajar secara otodidak setiap kali kakaknya tidak berada di rumah.
Ia juga ingin sekali-sekali memasak untuk kakaknya. Tidak selalu kakaknya saja yang mengurus dirinya. Sudah dari dia masih bayi kakaknya itu mengurus dirinya. Bahkan tanpa mengeluh sedikitpun tentang bagaimana beratnya hidup sebatang kara tanpa orangtua. Bella sendiri bisa membayangkan, bagaimana beratnya hidup tanpa di temani orang dewasa.
Pernah gadis itu mencoba melakukan semuanya seorang diri saat di tinggal kakaknya dinas ke luar kota untuk urusan sekolah. Dan alhasil dirinya bahkan mendesah frustasi tiap kali gagal membuat makanan maupun pekerjaan rumah yang ia kerjakan seorang diri. Bella bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana kakaknya itu bisa melakukan hal-hal berumah tangga seorang diri? Bahkan itupun masih di bebani dengan adanya dirinya yang pada kala itu masih dalam keadaan bayi pasti sangat merepotkan. Masih mending sekarang dia sudah besar. Tapi biaya hidup pun dan keperluan pasti semakin membuncah juga membengkak. Meski begitu, kakaknya tetap tenang tanpa sedikitpun mengeluhkan masalahnya. Seolah kakaknya itu tidak memiliki beban sama sekali.
Dan itu yang membuat Bella sangat menyayangi dan menghormati Alfred. Ia juga tidak sekalipun melanggar aturan yang di berikan oleh Alfred demi kebaikannya. Meskipun dia ingin bebas seperti teman-temannya, tapi ketika dia memikirkan kakaknya yang susah payah membesarkan dirinya sampai dirinya dewasa, membuat hatinya tergerak.
Bella memilih untuk patuh dan membuang egonya jauh-jauh demi sang kakak.
Gadis itu lalu merapikan semua masakannya setelah semua siap ke meja makan. Bella hanya menyiapkan menu berupa omelet yang dibuat dari lapisan tipis telur gulung. Disajikan dengan parutan lobak. Bacon, ikan panggang dari ikan salmon. Dan terakhir adalah smoothie juice. Ia tersenyum sumringah melihat hidangan yang ia buat pagi ini. Tak lupa, gadis itu juga menyiapkan kotak makan untuk makan siangnya nanti.
Cepat-cepat Bella berlari ke dalam kamar Alfred untuk membangunkan pria itu. Jam masih menunjukkan setengah 6. Jadi ia masih punya waktu untuk mandi dan bersiap.
"Kakak." Seru Bella, ketika sampai di depan kamar kakaknya. Tapi ia terkejut ketika tempat tidur kakaknya bersih dengan selimut yang sudah terlipat rapi.
Kemana kakak? Batinnya. Gadis itu menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan mempoutkan bibirnya bingung.
Ceklek!!
"Kakak, sarapannya su–" ucapan Bella menggantung saat gadis itu berbalik dan mendapati kakaknya dalam keadaan shirtless. Bahkan handuk yang melilit di pinggang Alfred hanya menutupi pinggang sampai lututnya saja. Karena handuk yang di pakai hanya memiliki lebar tidak lebih dari setengah meter saja.
Gleg!!
Bella menelan ludah kering ketika ia menyusuri tubuh delapan kotak milik kakaknya itu. Tiba-tiba saja darahnya berdesir. Menyalurkan sebuah gelombang yang menyengat di sekujur tubuhnya saat ia menatap tetesan air yang turun menyusur ke tubuh Alfred. Jantungnya berdegup secara cepat.
Gawat, gawat, gawat, jantungku rasanya mau keluar. Kakak.. Kenapa kau begitu tampan? Batinnya menatap tubuh Alfred tak berkedip.
Alfred yang tak menyadari adanya Bella berada didalam kamarnya, masih mengacak surainya yang masih basah. Menggoyang-goyangkannya beberapa kali hingga membuat tetesan air menetes kemana.
"GYAA!!" Jerit Bella lantas secepat kilat meninggalkan kamar kakaknya itu dengan wajah terbakar.
Sreett!! Braakk!!
Debaman keras pintu yang di tutup paksa mengagetkan Alfred yang langsung terlonjak karena terkejut.
"Huh? Bella!" Panggil Alfred baru sadar. Ia bahkan menghentikan kegiatannya seraya menatap pintu yang tadi di lewati oleh Bella.
"Bella tidak melihatnya! Bella tidak melihat apa-apa!" Sahut Bella yang masih berdiri dan bersandar di depan pintu kamar Alfred dengan tubuh bergetar akibat grogi dan malu. Bahkan kini pipinya memerah hingga cuping telinganya memanas. Jantungnya masih berdetak cepat. Tubuhnya naik turun mencoba menormalkan degub jantung dan nafasnya yang tiba-tiba menjadi sesak.
"Hoo..??" Gumam Alfred dengan smirks misterius. Ah, adiknya sungguh pemalu.
Perlahan, Alfred menyeret kakinya mendekati pintu. Ia masih menyeringai jahil membayangkan bagaimana wajah adiknya yang memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu.
CEKLEK!!
"GYaa..!!"
Brukk!!
Kedip, Kedip, Kedip.
Alfred menatap Bella yang jatuh membentur dadanya seraya menyangga kedua ketiak gadis itu tidak membiarkannya jatuh. Ia masih menyeringai.
'Dingin.' Batin Bella ketika punggungnya bersentuhan langsung dengan dada telanjang Alfred.
Ia mendongak mendapati Alfred yang tersenyum ke arahnya. Seketika tubuhnya mulai kembali memanas. Untuk yang ke sekian kalinya pipinya kembali memerah layaknya tomat matang.
'Wajah kakak dekat sekali. Sial, sial. Matilah aku.' Batin Bella nelangsa.
"Selamat pagi, Bella." Sapa Alfred tersenyum hangat. Ia mencondongkan tubuhnya hingga membuat wajahnya semakin dekat dengan wajah Bella. Jantung gadis itu terus berdegup kencang saat wajah Alfred yang tanpa kacamata itu terus mendekat ke arah wajahnya, hingga...
Sebuah kecupan ringan mendarat di keningnya dan Alfred juga mengecup lembut namun singkat bibir bagian atas gadis itu.
'Rasanya.. Benar-benar..'
"Wajahmu memerah, Bella. Hahaha." Alfred tertawa kecil penuh kemenangan.
"Eh?!! I-itu k-karena kakak yang membuatku seperti ini. Dasar!" Sahut Bella gugup. Dia mulai menghentakkan kakinya hendak berlalu dari hadapan Alfred. Tidak peduli lagi dengan apa yang akan di katakan oleh kakaknya.
"Ahahaha!! Benarkah?" Timpal Alfred meledak. Tidak kuat menahan tawanya karena gemas melihat ekspresi Bella yang sangat-sangat menggemaskan saat ini. Dan Alfred lantas kembali masuk ke dalam kamarnya setelah puas menggoda adiknya, mengingat ia masih belum mengenakan pakaian.
'Ugh!! Aku malu sekali. Tapi..'
Tanpa sadar Bella menyentuh bibir merah cherry miliknya. Di mana tadi Alfred menciumnya sekilas. Seutas senyum tersungging di sudut bibirnya. Untung saja kakaknya sudah berlalu pergi. Jika tidak, dia akan benar-benar menjadi tomat merah matang saat ini.
'Entah kenapa jantungku rasanya mau copot karena detaknya lebih cepat dari biasanya. Apa aku punya kelainan jantung?' Bella terus bermonolog dengan tangan yang meremas dadanya. Sedari tadi jantungnya terus memompa dengan cepat hanya karena melihat wajah kakaknya. Di tambah lagi, muncul sengatan aneh yang membuat wajahnya memanas dan darahnya berdesir.
********
Selama sarapan, tak ada di antara mereka yang saling bicara. Bukan mereka sebenarnya. Tapi salah satu dari mereka, siapa lagi kalau bukan Bella. Dia sedari tadi hanya bisa menunduk dalam tak berani menatap mata kakaknya.
Entah sejak kapan dirinya merasa canggung hanya karena duduk berdua dengan kakaknya saja. Apalagi bila tidak sengaja dirinya menatap mata obsidian tajam milik Alfred. Dadanya langsung berlari maraton. Ada yang aneh dari tatapan mata kakaknya. Tidak seperti ketika dia masih berusia 7 tahun lalu. Kali ini, pandangan kakaknya seakan tajam menusuk namun juga tersirat rasa sayang.
Alfred bukannya tidak menyadari suasana di meja makan yang mulai berubah canggung. Ia sangat tahu bagaimana sikap adiknya kali ini.
"Eerr.. Kakak. Sepertinya aku akan berangkat saja dengan Edward." Kata Bella, hati-hati. Dia takut menyinggung kakaknya kali ini.
Alfred bergeming di tempatnya. Namun sedetik kemudian ia mengangguk setuju. Toh lebih baik begitu. Namun siapa yang tahu bahwa ada hati yang retak karena di abaikan.
"Kalau begitu, Bella berangkat dulu kak. Kakak, hati-hati di jalan!" Tanpa menatap mata Alfred, Bella begitu saja meninggalkan Alfred yang sedang minum melirik kepergian Bella bingung dengan langkah pelan.
TAk!
"Ada apa dengan Bella?" Gumamnya. Pria itu menoleh ke arah pintu di mana sosok adiknya itu menghilang, lalu kembali lagi menatap gelas di meja yang masih di pegangnya.
"Aneh." Memilih acuh, Alfred menggendikkan bahunya sebelum ikut beranjak pergi dari meja makan sembari membereskan tempat bekas makan mereka.
__ADS_1
.
.
.
Edward terus melirik Bella yang berjalan di sampingnya menuju ke kelas mereka. Ia merasa jika sikap Bella hari ini benar-benar aneh dan berbeda tidak seperti biasanya. Ada apa dengannya? Pikirnya.
Sepanjang perjalanan gadis itu hanya melamun. Ia masih memikirkan tentang sikapnya yang mulai aneh yang berbeda pada kakaknya akhir-akhir ini. Bahkan sikap Alfred juga. Meski masih perhatian seperti biasa, kakaknya seperti sedang menyimpan sesuatu dan di sembunyikan darinya. Ritual yang selalu mereka lakukan pun terkesan menuntut. Walau dia sendiri tidak mempermasalahkannya.
"...Lla!"
Bella berdecak lemah tetap melangkah berjalan dengan fokus yang melayang entah kemana. Acap kali ia mendengus frustasi membuat orang di sampingnya gerah karena kelakuannya.
"Bella!" Edward kembali memanggil gadis itu sedikit menaikkan nada suaranya. Namun untuk yang kesekian kali ia di acuhkan lagi.
"BELLA!!"
"AH, Huh?! Ada apa, Edward?" Bella kegalapan salah tingkah.
Edward mengernyit. "Kau melamun?"
"Huh?" Kembali Bella tidak fokus.
"Sebenarnya ada masalah apa?!" Edward mulai menggeram kesal.
"Tidak ada." Jawab gadis itu singkat. Suaranya menyendu semakin membuat Edward penasaran.
Sampai di kelas, Bella mengernyit mendapati Ken sahabatnya tengah merajuk pada sosok pria dengan kuncir jabrik bernama Sam. Edward sudah berjalan menghampiri Max. Meninggalkan Bella yang berjalan menuju ke tempat duduknya.
Bella kembali menyentuh bibirnya. Rasa manis bercampur mint dari bibir milik kakaknya masih terasa dan membekas di otaknya. Hingga acap kali ia merasakan sesuatu membelai hatinya. Dan ia tak tahu apa itu.
Melihat teman sebangku sekaligus sahabatnya melamun, Ken lantas beranjak mendekati Bella. Dan duduk kembali di bangku miliknya. Di tatapnya wajah Bella lamat-lamat. Ia mengernyit ketika Bella bahkan tidak sadar dia kini mendekatinya. Ia menyeringai kala melihat gadis itu mulai menyentuh bibirnya.
"Kau sedang jatuh cinta, Bell?" Celetuk Ken menggoda Bella, namun sebenarnya tepat sasaran meskipun si empunya tidak menyadarinya.
"Huh?!" Bella tersentak karena di senggol oleh Ken. "Kau bilang apa, Ken?" Tanya Bella menautkan alisnya tak paham.
Ken masih senyum-senyum misterius. "Siapa yang kau cium? Atau.. Yang menciummu?"
"KEN??!!" Pekik Bella berteriak karena terkejut. Bagaimana sahabatnya itu tahu? Bella lalu melihat kanan kiri, melihat atensi seluruh kelas langsung menatapnya bingung, Bella hanya bisa nyengir dengan tampang meminta maaf. Gadis itu lantas menepuk bibirnya yang telah lancang berteriak, menatap Ken serius. "Ssstt... Jangan keras-keras." bisiknya.
"Hahaha!!" Gelak tawa Ken pecah.
"Kenapa kau malah tertawa?" Sungut Bella kesal.
Ken menggeleng. "Tidak. Tidak ada.." katanya, sembari mengatur ekspresinya kembali sebelum melanjutkan, "Jadi, siapa yang menciummu?" Kembali Ken melontarkan pertanyaan itu pada Bella.
Sontak saja pertanyaan Ken langsung membuat kedua pipi tembam Bella merona malu. Ken semakin menyeringai melihat ekspresi Bella yang berubah gugup.
"Hanya... Kakakku yang menciumku. Tapi, bukankah itu wajar?" Jujur Bella sembari menyanggah. Ken menaikkan sebelah alisnya terkejut. "Benar Ken. Aku tidak bohong." Aku Bella, lagi menekankan tiap katanya. Bukan masalah bohong atau tidak bagi Ken. Pemuda itu hanya terkejut mendengar pernyataan polos yang terlontar dari bibir merah Bella. Kakak macam apa sampai berani mencium bibir adiknya sendiri? Apa orang itu sudah gila? Itu yang terlintas sebagian dari otak Ken.
Bella menyempitkan matanya menatap Ken bahaya. "Kau gila, ya. Ken." Ken terkesiap. "Mana mungkin aku jatuh cinta pada kakakku sendiri."
"Bisa jadi, kan."
Bella mendesah berat. "Aku bahkan tidak tahu, definisi jatuh cinta itu seperti apa." Bisik Bella menekuri kuku-kuku jarinya. Ken sontak saja mendelik tidak percaya. Cepat-cepat ia menoleh menatap Bella lekat.
"Benarkah kau tidak tahu?" Tanya Ken kembali memastikan pendengarannya. Siapa tahu dia salah dengar. Atau telinganya yang belum sempat ia bersihkan itu tak mendengar. Bella mengangguk malu.
"Ha-ah... BODOH!!" Umpat Ken tepat di wajah Bella. Tidak heran kalau Edward selalu menyebutnya bodoh. Otaknya tidak sejenius kebanyakan orang.
"Sudahlah Ken. Yang jelas aku menyayangi kakakku layaknya kakak adik. Tidak lebih." Desisnya telak.
"Kita lihat saja nanti." Bisik Ken. Setelahnya Ken beranjak berdiri saat ada seseorang yang sedang mencarinya. "Nanti kita bicara lagi." Bella mendengus.
.
.
.
.
Seorang wanita bersurai coklat sepunggung dengan tanda titik di sebelah kanan pipinya berjalan begitu anggun nan lembut di balut dengan kemeja hitam juga under sepan di atas lutut warna putih di sepanjang koridor yang menuju ke arah ruang guru. Ia menebarkan senyumnya tiap kali dari beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapa. Membuat mata pria yang memandang terkesima di buatnya.
"Selamat pagi, Miss." Sapa salah satu murid pada wanita itu. Dan di balas dengan senyuman hangat juga anggukan.
Wanita itu berhenti di sebuah pintu yang bertuliskan ruang kepala sekolah. Ia mengetuk pintu itu.
"Masuk."
Cekleek!!
Seseorang yang tengah berkutat di meja kerjanya mendongak lalu tersenyum ke arah wanita itu.
"Ah, Miss Helena. Bagaimana hasil seminarnya?" Tanya orang di depannya to the point.
"Semua berjalan lancar, Pak." Lapornya.
Pria yang sudah beruban dengan name tag kepala sekolah itu mengangguk senang. Helena menyerahkan berkas hasil seminarnya kepada kepala sekolah tersebut, lalu pria itu memeriksa berkas-berkas itu sejenak.
"Baiklah. Kau bisa kembali bertugas, Miss Helena." Helena membungkuk kepada pria itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan kepala sekolah tersebut.
Wanita itu keluar dari ruang kerja kepala sekolah hendak berjalan ke arah ruang kerjanya ketika tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok seorang pria tinggi dengan kacamata yang bertengger di ceruk hidungnya yang tengah berjalan ke arahnya. Tubuhnya tiba-tiba menegang seperti patung menatap orang itu dengan pandangan yang sulit di percaya. Helena ragu sesaat, tapi dia tidak mungkin salah mengenali orang. Apalagi orang itu adalah orang yang pernah ia sukai.
"Alfred?!" Gumam Helena, namun cukup keras. Pandangannya fokus ke arah objek yang di lihatnya. Ia benar-benar speechless sekarang.
Pria yang tak lain memang Alfred itu sontak berhenti. Ketika mendengar namanya di sebut oleh seseorang. Ia yang sedari tadi menundukkan pandangannya untuk membaca novel kesukaannya langsung mendongak. Ia terkesiap, namun bisa di kondisikan dengan sangat baik oleh sifat tenangnya. Alfred tersenyum hingga membuat matanya menyipit.
__ADS_1
"Yoo!! Long time no see, Helena." Sapa Alfred ramah.
*********
Istirahat kali ini Bella benar-benar sendirian. Ken harus hadir ke klub futsal untuk pembagian tim inti juga cadangan. Dan sekarang, Bella berjalan seorang diri dengan membawa bentonya. Ia bermaksud ingin makan siang bersama kakaknya. Bella mengembangkan senyumannya saat bayangan Alfred terlintas di benaknya. Dengan langkah riang, ia mempercepat langkahnya itu.
Ia melongok untuk mencari sosok kakaknya di ruang guru, namun gadis itu tidak menemukan sosok Alfred. Sejenak ia mendesah sembari berfikir kemana perginya kakaknya itu. Kembali Bella berjalan seraya menoleh ke kanan kiri depan belakang. Di kantin, ia tak melihatnya. Dan di ruang guru juga. Lalu kemana kakaknya pergi?
'Taman!!' Pekik Bella, langsung berlari ke arah taman belakang sekolahnya.
Belum Bella hampir mencampai tempat Alfred berada. Tiba-tiba matanya sudah di kejutkan oleh sosok kakaknya yang sedang duduk berdua di bawah pohon yang biasa ia habiskan untuk bersama kakaknya itu, dengan seorang wanita yang begitu cantik menurutnya.
DEG!!
Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika matanya menangkap ekspresi kakaknya yang sedang tersenyum lebar. Kakaknya tengah bercanda bersama seorang wanita itu membuat dirinya seketika membatu di tempat. Ia meremas kotak bekalnya tanpa melepas tatapannya dari wanita itu juga punggung milik kakaknya. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Seperti ada belati tajam yang menusuk-nusuk hatinya. Bahkan matanya kini mulai memanas. Hingga tanpa sadar sebuah liquid bening jatuh dari pelupuk matanya menyusur turun di pipi halusnya.
"Ka-kakak.." Bisiknya susah payah.
Tiba-tiba saja suaranya tercekat di kerongkongan. Membuat tenggorokannya sakit saat berusaha untuk mengeluarkan suara. Namun yang keluar hanyalah isak tangis yang berhasil lolos.
Ia ingin pergi dari sana, tapi kakinya tidak mampu di ajaknya kompromi. Hingga..
Braakk!!
Suara tempat makan yang jatuh ke tanah menyadarkan dirinya dari mematungnya. Begitu juga kedua insan yang tengah asik mengobrol itu yang langsung memutar kepalanya untuk melihat ke sumber suara.
Mata Alfred membulat sempurna ketika melihat ternyata adiknyalah yang tengah memperhatikannya. 'Shitt!!' Alfred merutuki kebodohannya kali ini. Ia hendak beranjak menyusul Bella ketika tiba-tiba sebuah tangan menahannya.
"Kau mau kemana, Alfred?" Tanya wanita di sebelahnya yang tak lain adalah Helena.
Alfred mendesah melepaskan genggaman tangan wanita itu dari tangannya. "Maafkan aku, Helena. Aku harus pergi sekarang."
Dan Alfred benar-benar pergi meninggalkan Helena tanpa menunggu respon dari wanita itu. Alfred berjalan penuh langkah lebar dengan perasaan was-was juga cemas. Di otaknya sekarang adalah bagaimana perasaan Bella tadi saat melihatnya bersama dengan Helena.
*******
Bella terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh juga bingung. Bahkan ia tidak sadar kalau sekarang dirinya sudah meninggalkan area sekolahnya. Dan tak jauh dari pintu gerbang sekolahnya, Edward yang menyadari kepergian Bella keluar dari gerbang sekolah dengan keadaan berantakan.
Tanpa pikir panjang lagi dia segera berlari untuk menyusul gadis itu dan membuntuti bella di belakang dengan jarak dua meter.
Di sebuah taman tak jauh dari sekolah, Bella menghentikan langkahnya. Dan duduk di bawah pohon bunga persik. Begitu juga Edward. Hanya saja, posisi mereka saling membelakangi. Dan Bella tidak akan menyadari keberadaan Edward di sana.
"Hiks.. Hiks.. Kakak.."
Mata Onyx Edward membulat mendengar suara isak tangis Bella yang bergetar. Ada apa dengannya? Siapa yang sudah membuatnya menangis? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Bella saat dirinya tidak ada? Rahangnya mengeras mulai emosi. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya terlihat. Tatapannya nyalang ke sosok orang yang telah membuat Bellanya menangis meski ia belum tahu siapa orangnya.
"Nii.. Hiiks, kakak jahat.. Hiks.. Hiks." Tangis Bella semakin deras. Tubuhnya bergetar hebat sebab terlalu lama terisak di sela-sela tangisannya.
"Dada Bella... Hiks, sa-– hiks.. –kit." Bella terus meremas dadanya yang terasa sesak dan juga sebuah perasaan yang aneh, seakan dadanya terus di tusuk oleh benda tajam. Hingga membuat dirinya merasakan sakit. Akibatnya air bening yang ada di pelupuk matanya terus membuncah beranak sungai.
.
"Apa ada yang melihat Bella? Saya ada perlu dengannya." Tukas Alfred setelah sampai di kelas Bella setenang mungkin.
"Tidak Pak." Jawab salah satu murid. Mereka terlihat bingung melihat kedatangan Alfred yang tiba-tiba.
Alfred semakin cemas. Ia sudah mencari ke setiap sudut sekolah ini. Namun tidak ada tanda-tanda mengenai keberadaan gadis blonde itu. 'Dimana kamu Bella?' Batinnya.
"Ken?!" Kembali Alfred bertanya.
"Anda mencari saya, Pak?" Celetuk Ken, yang baru saja datang bersama Sam juga Max.
Alfred berbalik. "Ah, ya! Apa kau tahu dimana Bella sekarang?" Ken mengernyit ia membuka mulutnya hendak bicara ketika seseorang memotongnya.
"Aku sempat melihat dia keluar dari gerbang sekolah, pak."
"WHATT!! DOUBLE WHAT!!Apa kau bilang?!! Sam, kau tidak salah bicara, bukan?!" Ken melotot dan berteriak tepat di lubang telinga Sam saking terkejutnya.
"Sshh!! Kau berisik, Ken! Telingaku bisa pecah karena suaramu!" Desis Sam, mengorek kasar lubang telinganya yang berdenging akibat suara toa Ken yang berteriak tepat di dekat telinganya.
"Itu benar. Tadi kami melihatnya keluar dan–"
"Eh?!"
Belum Max menyelesaikan kalimatnya, Alfred sudah nyelonong pergi dengan langkah terburu-buru. Kali ini ia tidak lagi hanya cemas, namun sangat amat merasa cemas. Pikirannya kalut. Melayang entah kemana hanya karena memikirkan keadaan Bella saat ini.
'Bella, kenapa kamu pergi?! Dimana kamu sekarang? Tidakkah kau tahu kakak begitu sangat cemas, sekarang?' Alfred terus berjalan menyusuri jalan dengan mengikuti instingnya. Ia berbelok ke arah kanan. Di mana di sana ada sebuah taman. Mungkin adiknya ada di sana?
Dan benar saja. Ia berhasil menemukan keberadaan Bella yang tengah duduk di bawah pohon persik seorang diri. Ia bisa bernafas lega sekarang. Namun tidak di detik kemudian. Sebab ia terkejut ketika melihat Bella tampak seperti sedang menahan sakit.
"BELLA!!" Teriaknya khawatir dan bergegas berlari menghampiri Bella.
Edward tengah membeli se-cup ice cream rasa jeruk untuk Bella. Ia berinisiatif ingin menghibur gadis itu dengan ice cream rasa jeruk kesukaan gadis blonde itu. Tapi ketika ia berbalik dan berjalan lima langkah, Edward dengan cepat menghentikan langkahnya saat melihat adegan yang tidak di harapkannya muncul di depan mata.
Pluk!!
Cup ice cream di tangannya tiba-tiba merosot ketika ia tanpa sadar merenggangkan pegangan Cup ice itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat sesuatu yang tidak di inginkan olehnya tersaji secara LIVE. Dan dia pun memilih pergi dengan perasaan yang campur aduk.
"Pria laknat!"
.
.
.
.
.
__ADS_1