
Alfred dan Helena mulai memasuki cafe di mana mereka telah memiliki janji dengan teman lama mereka. Baru beberapa langkah kaki Alfred masuk, seseorang berteriak memanggil dan menunjuk dirinya begitu kencang tanpa rasa malu. Membuat atensi seluruh pengunjung beralih ke arah si pelaku.
"Hey, Kau!! Mata empat!!"
"Hah?" Lirih Alfred menoleh ke sumber suara. Ah, dia akhirnya sepertinya ingat siapa wanita yang baru saja memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Hanya satu orang yang bisa menyebut dirinya tanpa rasa takut juga malu sedikitpun.
Helena hanya memperhatikan keduanya bingung. Tapi kemudian ia terkejut saat seseorang menepuk pundaknya membuat tubuhnya tersentak.
"Gavyn?" pria itu tak menyahut. Namun dia menggendikkan dagunya ke arah Alfred bermaksud bertanya 'kenapa'.
Namun Helena hanya menggeleng tidak tahu. Mereka kembali memperhatikan Alfred yang tampak tenang dengan mata sayunya menatap wanita bermata onix dengan surai merah maroon yang kini berjalan ke arahnya.
"Haㅡah.. Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bisa kau jelaskan semuanya pada Bella tentang hubungan kita ini?!" Kata wanita itu. Yang tak lain adalah Ashley seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Alfred menaikkan sebelah alisnya heran.
"Kau.... Ashley?" Jeda sejenak. Menatap lekat wanita di depannya. "Ashley Lee? Putri sulung dari bibi Anita??" Imbuhnya komplit.
"Ya. Kalau kau ingat, kenapa kau tidak menjelaskannya pada Bella, Huh?!" Ashley menunjuk Bella sedikit berteriak. Dan pandangan Alfred mengikuti jari telunjuk Ashley kepada wanita blonde di belakangnya. Lalu kembali lagi menatap Ashley tenang.
Ya, dia sedikit merasa bersalah karena melupakan keluarga dari pihak Adelina yang masih ada. Tapi dia juga tidak tahu, dimana keluarga Adelina saat wanita itu juga Thomas meninggal. Bahkan dia juga tidak mengetahui alamat dan nomor telepon mereka hanya untuk mengabari tentang ketiadaan kedua pasangan suami istri itu dulu.
"Syukur kalau kalian akhirnya menemukan kami, Ashley." Ashley menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. "Kita bicarakan saja nanti di rumah."
"Kau mau kemana?" Tanya Ashley.
"Menemui teman di cafe ini."
"Mungkin sebaiknya kita bisa gabung dengan mereka, Al." Seorang pria bersurai hitam jabrik yg berdiri di samping Helena menimpali.
Alfred melihat meja Bella yang memang masih tersisa tempat luang. Ia mengangguk setuju saja. Gavyn dan Helena tersenyum.
"Apa kita-"
"Silahkan saja. Sekalian dia harus menjelaskannya sekarang juga." Ashley memotong ucapan Gavyn dengan nada ketus. Sebelum akhirnya Ashley kembali ke tempat duduknya.
Sejenak Gavyn, Helena dan Alfred saling tatap karena tercengang melihat sikap cuek dan jutek dari Ashley. Alfred hanya menggendikkan bahunya acuh sembari berjalan menuju meja Bella. Ia mengambil tempat di sebelah wanita blonde itu. Sementara Gavyn dan Helena duduk di sebelah Ashley juga Aleysia.
Edward sedikit tak suka ketika melihat Gavyn berada di meja yang sama dengannya meski mereka sepupuan.
"Kau di sini, Edward?"
"Hm." Jawab Edward tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Gavyn.
Tentu pria itu hanya bisa mendesah geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan kelakuan Edward yang memang sedikit kurang bersahabat dengan dirinya. Helena hanya tersenyum saja melihat keduanya.
"Selamat siang Miss Helena, emb.. Lama tidak bertemu." Sapa Bella pada Helena. Sedikit gugup karena belum mengetahui nama Gavyn dan wajah aslinya.
"Gavyn Lincolnshire. Kau bisa memanggilku Kak Gavyn saja." Timpal Gavyn akhirnya.
"Ehehe.. Baik kak Gavyn."
"Lama tidak bertemu juga, Bell. Tambah cantik saja." Sapa Helena tersenyum anggun sembari memuji wanita itu. Membuat Bella malu namun justru tiba-tiba dia menggembungkan kedua pipinya sebal saat mendengar pujian Helena.
"Jangan memujiku seperti itu, Miss Helena. Kamu bahkan lebih cantik daripada aku." Ujarnya protes.
Seketika Helena, Gavyn juga Aleysia tertawa mendengarnya. Edward hanya menggendikkan bahunya cuek, sementara Ashley mendesah akibat keponakannya itu belum sadar juga tentang kadar kemanisan dari wajah si blonde. Alfred sendiri memandang hanya melirik Bella lapar. Andai saja tidak ada banyak orang di tempat ini, dia pasti sudah menerkam istrinya di sampingnya itu.
Bagaimana tidak, melihat kekasih sendiri memasang tampang yang baginya sangat menggemaskan itu.
"Jadi, bisakah kau jelaskan semua pada Bella, sekarang, mata empat!" Sela Ashley kembali bersuara.
"Ashley, bisa tidak. Panggil orang pakai nama yang benar?!!" Sungut Bella marah tak terima. Ia mendengus kesal berkali-kali akibat ulah seenaknya Ashley yang menurutnya sudah keterlaluan.
"Ya,ya,ya. Terserah! Yang penting jelaskan saja." Sahut wanita itu tidak peduli. Memutar bola matanya jengah.
Alfred melirik Gavyn sejenak untuk meminta pendapat. Ia merasa tidak enak hati karena acara reunian mereka harus menjadi batal meski tidak semua batal. Dan di balas anggukan kecil oleh pria itu. Alfred lantas mengambil nafas dalam-dalam. Sebelum akhirnya menatap Bella dan Ashley bergantian.
"Ya, Bella. Ashley adalah saudara kita. Lebih tepatnya sepupumu. Dia anak dari bibi Anita. Yang tak lain adalah kakak kandung ibumu." Jelas Alfred.
Gavyn mengerutkan keningnya dalam diam. 'Ibumu? Apa maksudnya?' Pikirnya.
"Ashley memiliki adik. Hanya saja aku kurang tahu waktu itu. Karena usia mereka yang masih kecil." Imbuhnya. Ia sejenak melihat air muka Bella yang masih tenang. "Aku ingin sekali memberitahumu waktu itu. Tapi aku lupa, Bella. Maafkan aku." Sesal Alfred.
"Tidak kok Al. Bella mengerti. Tenang saja, aku tidak marah." Bella nyengir lima jari andalannya. Sembari mengelus pipi Alfred lembut. Tanpa menyadari raut wajah Gavyn, Ashley serta Aleysia yang tampak bingung.
"Al?? Apa maksudnya ini?" Seloroh Ashley akhirnya. "Jangan bilang kalau kauㅡ" ucapan Ashley menggantung ucapannya menunjuk Alfred. Ia geleng-geleng kepala lemah tidak menyangka. Tatapannya seolah mengintimidasi pria bersurai dark brown berkacamata itu. Kalau benar apa yang di pikirkannya tentang hubungan keduanya, ia tidak akan pernah bisa mengampuni Alfred.
Gavyn sendiri tentu cukup cerdas untuk mencerna apa arti dari panggilan 'Al' tanpa embel-embel 'kak' dari Bella untuk Alfred. Tapi dia memilih diam. Ia belum tahu tentang keduanya yang memiliki hubungan lain selain sebatas adik kakak saja. Dan tidak tahu jika mereka merupakan saudara tak sedarah.
"Bukannya si pria aneh ini pacarmu, Bell?!"
"Dia Edward, Ashley. Aiish...!" Ralat Bella menggeretakkan giginya gemas.
"Terserahlah. Jawab saja." Hardik Ashley, mulai tersulut emosi. Tatapannya nyalang pada Alfred.
"Edward bukan kekasihku. Kami cuma berteman. Dan tidak lebih." Ungkapnya.
Dheg!!
Meski Edward sadar dirinya siapa, tapi entah kenapa saat Bella mengatakan bahwa wanita itu dengan dirinya hanya sebatas teman justru menyakitkan hatinya secara tidak sadar. Edward tidak mengerti kenapa. Padahal dia sangat yakin bahwa perasaan yang sesungguhnya ia rasa hanyalah karena ikatan yang tanpa sengaja telah terjalin sebelumnya. Ada apa dengan hatinya sebenarnya?
"Dan Alfred adalah kekasihku yang sebenarnya." Imbuh Bella menjelaskan.
Ashley membatu di tempat dengan mulut menganga menatap Bella tidak percaya. Bagaimana bisa? Mereka- sejak kapan?- Oh Tuhan.. Apa-apaan semua ini?! Tidak mungkin. Ashley menepuk dahinya seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursinya lemas.
"Astaga Bella. Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" Kata Ashley menatap Bella tajam.
Bahkan Aleysia sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena terlalu shock mendengar jawaban dari Bella yang sungguh di luar dugaannya.
"Apa kau tidak waras, Al?" Gavyn menaikkan sebelah alisnya tajam menatap Alfred tak menyangka. Ikut menghakimi pria itu.
Alfred hanya bisa menggendikkan bahunya. Membuat Gavyn mendesah lelah memutar bola mata jengah. "Dia adikmu sendiri, Al."
"Bukan." Sahut Alfred singkat. Gavyn mengerutkan keningnya semakin bingung. "Kami bukan saudara sekandung ataupun karena orang tua kami menikah. Aku hanya anak yang di rawat oleh orangtua Bella saat aku masih berusia 8 tahun." Jelasnya.
Gavyn tentu saja terkejut. Ya, dia memang bisa melihat kalau keduanya tidaklah memiliki kemiripan sama sekali.
"Ugh!" Bella tiba-tiba melenguh merasakan sesuatu yang tidak enak dalam perutnya. Seperti sesuatu ingin keluar dari mulutnya. Alfred dan yang lain menatap Bella bingung juga panik.
"Uugh!!" Kembali Bella menahan mulutnya yang hampir muntah sembari memegang perutnya yang di rasanya seperti di aduk.
"Kau kenapa Bella?" Alfred merangkul bahu Bella cemas.
"Jauhkan tangan kotormu itu dari Bella, Alfred!!" Hardik Ashley berteriak.
"Aku mau ke toilet!" Pekik Bella bangkit secepat kilat berjalan menuju toilet. Membuat yang lainnya mengernyit tak paham.
Braakk!!
"HOOEEKK!! UHOEEKK!! Ugh! Mual." Rengek Bella mengelus perutnya berkali-kali.
Tapi untuk sedetik kemudian ia kembali merasakan kalau isi perutnya seakan ingin keluar lagi. Dan untuk yang kesekian kalinya dia muntah dan anehnya hanya cairan bening kental yang keluar.
"Aaakh... Kenapa tiba-tiba kepalaku jadi pusing?!" Rengeknya lagi. Ia bahkan hampir saja limbung jika saja tidak berpegangan pada wastafel kuat-kuat.
Alfred masih menatap pintu toilet dimana kekasihnya itu menghilang. Raut wajahnya tampak cemas. Meski ia masih terlihat begitu tenang. Ashley sendiri memperhatikan Alfred lekat penuh curiga.
"Kenapa Bella lama sekali, kak Ashley? Apa dia akan baik-baik saja??" Ujar Aleysia cemas.
__ADS_1
"Oh tidak!" Pekik Alfred ketika mengingat sesuatu. Ia lantas saja bergegas menyusul Bella khawatir. Membuat semua menatapnya bingung.
'Jangan-jangan-' batinnya.
Gavyn mengernyit. Edward sendiri menatap Alfred curiga. Ada yang aneh pikirnya.
Alfred membola saat melihat Bella tampak lemas dengan wajah pucat pasi kini tengah bersandar di tembok toilet tak berdaya. Ia pun secepat kilat langsung menopang tubuh lemah Bella.
"Sayang, kau baik-baik saja??" Tanyanya cemas.
Bella tersenyum dipaksakan sambil mengangguk lemah. Berusaha untuk tersenyum namun gagal. Justru senyumnya membuat Alfred merasakan nyeri di dadanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Tanpa pikir panjang, Alfred segera membopong Bella ala bridal style. Ia tak peduli kalau nantinya akan menjadi pusat perhatian pengunjung cafe. Yang di pikirkan hanya satu hal, segera membawa istrinya ke rumah sakit memeriksakan keadaan Bella yang membuatnya cemas juga khawatir. Tidak mungkin kan? Apa yang di cemaskan olehnya terjadi.
Brakk!!
Pintu kembali tertutup. Keluarnya Alfred yang tidak wajar membuat seluruh atensi para pengunjung memperhatikan dirinya. Tak terkecuali Ashley juga yang lainnya. Terutama Ashley yang melihat wajah Bella yang lemah pucat.
"Astaga, Bella!!" Pekik Ashley, dia segera menghampiri Alfred. Dia bahkan bermaksud ingin mengambil alih tubuh Bella, tapi wanita blonde itu semakin mengeratkan diri pada leher Alfred tidak ingin jauh. Namun ketika Ashley melotot pada Alfred, justru hal itu tidak di gubris oleh Alfred yang terus berjalan keluar.
Helena dan Gavyn juga mendekati sahabatnya itu cemas namun masih terlihat tenang. Di susul oleh Edward dan Aleysia di belakang.
"Sebenarnya ada apa dengan Bella, Alfred?" Tanya Helena mencoba mengecek kondisi Bella yang kini melingkarkan kedua tangannya ke leher Alfred seraya membenamkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya.
"Kau apakan Bella, mata empat?!!" Sungut Ashley emosi.
"Jangan panggil Alfred seperti itu, Ashley." Protes Bella menggeram kesal dengan kekuatan terakhirnya. Ia bahkan enggan menatap Ashley dan memilih membuang mukanya semakin membenamkan diri pada Alfred.
"Dia baik-baik saja, kan?" Edward tiba-tiba bersuara. Meskipun dia masih dengan tampang datarnya, jauh di lubuk hati pria itu sangat mengkhawatirkan keadaan Bella.
"Aku tidak tahu. Karenanya aku harus membawanya ke rumah sakit untuk memastikan." Jawab Alfred.
"Biar aku yang periksa dia." Helena mencoba mengajukan dirinya. Yang memang selain sebagai seorang guru, ia juga seorang perawat yang cukup handal dalam menangani masalah penyakit.
"Ya."
Alfred memasukkan Bella pada backseat dan di temani oleh Helena. di ikuti Gavyn yang memang tidak membawa kendaraan duduk di passenger seats. Ashley hampir ikut naik mobil Alfred jika saja Aleysia, adiknya tidak menarik lengannya.
"Aku tidak bisa naik mobil, kak Ashley." Ashley sontak saja menggeram kesal karena melupakan fakta tentang adiknya yang tidak bisa mengendarai mobil sendiri. Lantas segera memutar tubuhnya ke arah mobil miliknya dengan setengah berlari.
Edward memilih membawa motor sportnya mengikuti mobil Alfred yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat parkir cafe itu dengan tergesa-gesa. Ia bahkan merasa tidak tenang melihat wajah Bella yang sudah pucat pasi.
Helena segera mengecek denyut nadi dan juga suhu tubuh Bella. Ia sedikit tersentak kala merasakan sesuatu yang janggal. Alfred bahkan selalu melirik mereka melalui kaca spion dalam mobil.
"Bagaimana keadaannya, Helena?"
"A-aah.. Ya. Bella sedikit demam." Helena kembali mengecek denyut nadi Bella dengan lebih serius lagi. Ia takut jika nanti analisisnya sampai salah.
Secara kasat mata, ia bisa merasakan bahwa jelas terlihat peningkatan detak dan denyut nadi pada Bella. Terutama di bagian pangkal leher.
'Tidak mungkin.' Batinnya, dia melihat Bella tak percaya.
Merasa di perhatikan, Bella mengernyit heran pada perubahan wajah Helena. Tidak mengerti dengan arti tatapan yang di berikan oleh wanita anggun itu.
"Ada apa, Miss Helena?" Tanya Bella ingin tahu.
Alfred yang mendengar Bella bersuara sontak menoleh ke belakang. Sebelum kembali fokus pada mengemudinya. Gavyn memutar tubuhnya menatap Helena yang tampak seperti shock. Ada apa sebenarnya? Pikirnya.
"Helena?" Panggil Gavyn menepuk bahu Helena pelan. Dan sukses membuyarkan keterkejutan wanita itu.
"Alfred?" Helena melirik Alfred yang juga melirik wanita itu lewat kaca spion. Tanpa menjawab panggilan Gavyn.
Firasatnya buruk. Sepertinya ini akan menjadi hal yang tidak menyenangkan. Ia yakin dan sangat yakin untuk itu. Batin Alfred.
"Bagaimana bisa?" Hanya itu yang keluar dari bibir Helena yang menatap Alfred tidak menyangka. Alfred tentu mengerti maksud perkataan dari Helena. Sangat-sangat mengerti.
"Hmm.. Ternyata benar, ya?" Alfred mendesah. Dalam hati dia merasa bahagia. Tapi entah mengapa hal itu justru membuatnya tiba-tiba takut.
Helena semakin tak paham dengan gumaman Alfred yang tidak menjawab pertanyaannya. Bagaimana bisa Alfred bersikap biasa saja seperti ini? Apa pria itu sudah tahu sebelumnya? Tapi kenapa Alfred harus melakukan hal semacam itu? Apalagi dia adalah seorang guru.
"Sebenarnya ada apa Helena, Al. Kenapa aku tidak mengerti dengan jalan pembicaraan kalian?" Sungut Gavyn akhirnya. Ia sudah jengah sedari tadi hanya bisa memperhatikan interaksi kedua sahabatnya tanpa tahu pokok permasalahannya. Itu sungguh keterlaluan.
Alfred hanya melirik Gavyn tanpa menjawab. Begitu juga Helena yang masih bungkam sembari menggenggam tangan Bella. Hingga mobil miliknya memasuki pekarangan tempat parkir rumah sakit. Di susul oleh motor yang di kendarai Edward juga mobil milik Ashley di belakang.
"Kau bisa tanya pada Helena nanti saja, Vyn." Kata Alfred keluar dari mobil. Berputar untuk membukakan pintu dan membawa tubuh Bella pelan-pelan ke dalam rumah sakit.
Helena masih terlihat begitu shock saat keluar dari mobil, membuat Gavyn menatap wanita itu heran.
"Ada apa sebenarnya, Helena? Bicaralah." Wanita itu menoleh cepat menatap Gavyn. Pria itu memicingkan mata menatap Helena.
"Bella,.. Gavyn." pria itu semakin mengernyit. "Dia... H-hamil."
Sontak saja ucapan Helena membuat Gavyn tercengang. Bagaimana bisa? Dan kalaupun iya. Dia hamil karena siapa? Alfred-kah? Kenapa Alfred bisa berbuat hal gila itu sebelum menikahi gadis blonde itu? Dalam hati ia kecewa pada teman semasa SMP nya itu. Namun mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
Tanpa mereka sadari, Ashley tanpa sengaja mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir Helena. Tentu saja Ashley mulai tersulut emosi. Gigi-giginya bergemeretak dengan rahang mengeras, ia mengepalkan buku-buku jari tangannya kuat. Matanya merah dengan tatapan nyalang penuh kemurkaan.
"Alfred!! Kau benar-benar binatang!" Geramnya.
***********
"kehamilannya sudah menginjak usia satu bulan, Alfred." Ujar seorang wanita dengan rambut hitam sebahu bertubuh semampai setelah memeriksa kondisi Bella dan kembali ke meja kerjanya.
Bella tentu terkejut. "Aku hamil?" Lirih Bella menatap perutnya yang masih rata dengan pandangan tidak percaya.
Wanita itu tersenyum ke arah Bella. "Ya, kau akan menjadi seorang Ibu dalam waktu sembilan bulan."
"..." Bella terhenyak seraya menoleh ke arah Alfred yang menatapnya dengan sorot mata yang sulit di artikan.
"Jadi.. A-aku..." Alfred mengangguk.
"Ya, Bella. Kau hamil. Kau mengandung anakku. Anak kita." Sahut Alfred. Menjelaskan secara rinci.
"Aku beri resep untuk mengurangi rasa mual di perut Bella. Kau harus menjaga pola makannya dengan baik, Al."
"Thanks Rosa." Timpal Alfred menerima kertas resep dari wanita bernama Rosa itu. Membacanya sejenak, lantas menghampiri Bella yang masih berada di atas brankar pasien.
"Kau tidak senang, Bella?" Tanya Alfred cemas.
Bella tersentak menoleh ke arah kekasihnya. "Apa?!" Pekiknya tercengang. Alfred hanya menatap Bella lekat. "Tentu saja aku bahagia." Imbuh wanita blonde itu mantap namun terlihat gugup. Membuat Alfred menyeringai tipis. "Aku hanya sedikit terkejut, Al. Kita baru melakukannya baru-baru ini. Bagaimana bisa kandunganku itu di nyatakan sudah berusia satu bulan?" Katanya.
Benar. Bella pasti terkejut mendengar fakta itu. Rosa terkekeh geli. "Itu wajar Bella. Dalam ilmu medis itu berbeda dengan hanya analisis sementara yang di lakukan oleh orang awam."
"Oh.. Jadi begitu." Alfred membelai surai blonde Bella sayang.
************
"Apa?! Bella hamil?! Jangan bercanda pada Mommy, Ashley." Anita memekik tak percaya ketika mendapat kabar dari putrinya tentang keponakannya itu. Entah lelucon macam apa yang di buat oleh putrinya sampai mengatakan hal mustahil mengenai Bella.
Chal sedikit terkejut saat istrinya memekik. Namun ia masih tetap tenang sembari menajamkan pendengarannya.
"Aku tidak bercanda, Mom. Si mata empat itu telah lancang memacari Bella dan sekarang malah dengan berani menghamili sepupuku!!." Ashley memberi jeda sejenak hanya untuk mengambil nafas.
"Pokoknya kita harus pisahkan si Bella dari si brengsek itu, Mom. Ashley tidak mau tahu!! Mommy dan Dad harus segera ke rumah sakit sekarang juga!!" Ujar Ashley final. Membuat Anita melongo tak percaya.
"Tap-"
"Tidak ada tapi-tapian, Mom. Kami tunggu kalian secepatnya, bye."
__ADS_1
Tuutt.... Tuutt... Tuutt...
Anita sweatdrop di tempatnya seraya menatap layar ponselnya yang menandakan telepon telah terputus. Ia melirik Chal suaminya yang menatap dia bingung.
"Kita harus segera ke rumah sakit, Chal. Aku mendapat kabar kalau keponakanku hamil."
Tanpa berfikir panjang Chal mengangguk setuju saja. Meski dalam benaknya ia tidak menyangka dan tidak mau percaya tentang berita itu.
Mereka hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk perjalanan dari tempat tinggal mereka ke rumah sakit. Tampak raut wajah Anita yang begitu panik.
**********
Ketika Alfred keluar memapah Bella, Ashley dengan lancang lantas saja langsung menghantamkan satu pukulannya pada ulu hati Alfred. Membuat pria itu mengerang.
"KYAA!!" Pekik Bella berjengit kaget.
"Brengsek kau, Alfred. Aku kira kau itu orang yang tidak akan mengharapkan apapun saat kau di pungut dari jalanan." Desis Ashley nyalang.
Dheg!!
Seakan di rajam batinnya. Alfred hanya bisa bungkam menerima hinaan dari Ashley pada dirinya.
"Apa yang kau lakukan pada Alfred, Ashley?!" Seru Bella menopang Alfred yang sedikit limbung. Wanita itu membantunya kembali berdiri tegak.
Sontak saja Ashley langsung menatap Bella tajam. Membuat wanita blonde itu mendadak menciut takut.
"Jangan ikut campur, Bella. Kau juga bodoh!!!" umpatnya pada Bella. Seketika tubuh Bella berjengit kaget. "Kau bodoh karena dengan begitu mudahnya bisa di perdaya hanya karena manusia sampah ini!!" Ashley menunjuk Alfred semakin muak.
"Ashley!! Kau keterlaluan!!" Bella berteriak murka. Ashley hanya menyeringai sinis.
"Heh!! Kau bahkan sudah di butakan olehnya."
PLAAKK!!!
Aleysia, Helena, Gavyn, Edward, dan juga Alfred di buat terperangah saat Bella dengan kerasnya melayangkan satu tamparan di pipi kiri Ashley. Hingga membuat pipinya memerah dengan bekas jejak tangan tamparan Bella. Biar bagaimanapun Bella itu kini menyabet sabuk hitam di bela diri karate dan taekwondo. Menamparpun pasti menggunakan tenaga dalam.
"Aku peringatkan satu hal padamu, Ashley. Jangan pernah sekali-kali kau menghina ataupun menjelek-jelekkan Alfred di depan mataku."
Aleysia tidak pernah membayangkan bila kekeras kepalaan kakaknya itu bisa berdampak buruk seperti yang ia lihat sekarang. Semoga saja ayah juga ibunya segera datang. Harap Aleysia dalam hati.
"Aku masih bisa terima kalau kamu memanggil Alfred seperti mata empat. Tapi aku tidak akan terima kalau kamu menghina dan menuduh Alfred yang hanya ingin memanfaatkanku saja." Jeda sebentar. "Karena kamu tidak pernah hidup bersama dengannya selama ini. Jadi wajar saja kalau kamu bisa bicara seenaknya tentang dia. Jadi jangan pernah menghina seseorang kalau kamu bahkan belum mengenalnya dari luar dan dalamnya seseorang." Imbuh Bella tegas.
Ia menggamit tangan Alfred hendak menyeretnya pergi dari rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika ia di hadang oleh seorang wanita dan seorang pria paruh baya yang menatapnya sendu. Ketika Bella akan kembali melangkah, tiba-tiba wanita itu segera menahannya.
"Bella. Kau mau kemana?" Sejenak Bella menautkan alisnya bingung, namun ia kembali menoleh untuk melihat Ashley juga Aleysia yang mendadak lega dengan seringaian mencemooh.
"Aku mau pulang." Jawabnya.
"Kemana? Kau harus pulang dengan kami, Bella."
Kriiet!!
Bella semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Alfred . Membuat pria itu menatap genggaman tangan mereka.
"Kalian siapa? Keluargaku? Aku hanya punya kak Alfred selama ini. Hidupku hanya untuk dia dan matiku pun hanya untuk dia. Siapapun tidak berhak mengaturku kecuali dia. Permisi." Ujar Bella tegas. Menyentak relung hati wanita di depannya itu tidak percaya.
Apa-apaan ini?! Apa yang sudah di lakukan anak pungut itu?! Geram Wanita itu yang tak lain adalah Anita. Rahangnya mengeras seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Bella!! Aku ini bibimu. Dan kau harus ikut dengan kami!!" Bella lantas menghentikan langkahnya tanpa membalik tubuh. "Alfred hanyalah anak pungut ayahmu. Tidak sepantasnya kamu memiliki hubungan dengannya, Bella." Imbuh Anita mulai tersulut emosi.
Ia bahkan tidak perduli sedang berada di tempat umum sekarang. Bella sendiri tertegun. Tidak menyangka keluarga ibunya akan berbuat keterlaluan hanya karena derajat sosial seseorang.
"Bahkan dia berani menghamilimu sekarang. Lelaki macam apa dia itu?!!"
Dheg!!
Serasa di sambar petir jantung Edward ketika kedua telinganya mendengar pernyataan yang baginya mustahil. Secepat kilat ia menoleh ke arah Bella dan juga Anita. Ah, tolong katakan bahwa semua yang baru saja ia dengar adalah salah.
"Sejak awal kami bahkan tidak suka Thomas memungutnya dari jaㅡ"
"CUKUP, bibi.!!" Teriak Bella akhirnya. Ia bahkan kini sudah menangis.
Alfred hanya bisa menunduk. Ia bisa apa? Memang benar dia hanyalah seorang anak pungut. Sejak awal keluarga Adelina juga tidak pernah menyukainya. Kalau saja Thomas kakak angkatnya tidak mempertahankan dia untuk tinggal, mungkin dia masih menjadi anak gelandangan. Dan Adelina pun sama seperti Thomas. Yang mau membuka lebar tangannya untuk menyambut kehadiran dirinya sebagai adik angkat.
"Bibi Anita tidak akan berhenti sampai kau ikut dengan kami, Bella." Tegas Anita menatap tajam Bella. "Kau akan tinggal dengan kami sampai anak itu lahir. Titik!!."
"Aku tidak mau, bibi!! Kami sudah menikah. Dan kalian tidak bi-"
"Tidak akan ada pernikahan yang sah antara kamu dengan anak pungut itu, Bella! Tidak ada keluarga, dan pernikahan itu tidak akan pernah di anggap ada!" Kembali Anita menegaskan keputusannya itu keras.
Helena membekap mulutnya semakin shock. Ia menatap Alfred kasihan. Bagaimana hidup Alfred nanti bila di pisahkan dari Bella? Selama hidupnya, Alfred hanya ingin Bella selalu berada di sampingnya meski hanya sebatas sebagai seorang kakak. Tapi sekarang?
"Ashley, Aleysia!! Bawa Bella dan paksa dia ke mobil. Kita pulang sekarang!!" Anita melirik sinis Alfred yang masih mematung. Lantas berbalik pergi.
Ashley menyeringai puas karena telah menang dan dirinya juga Aleysia tentu melaksanakan perintah yang di berikan oleh ibunya pada mereka. Mereka lantas mendekati Bella, membuat gadis blonde itu gelagapan mulai panik.
"Al, tolong aku. Aku tidak mau ikut mereka Al. Aku mohon." Rengek Bella mencoba menggenggam tangan Alfred erat. Berharap kekasihnya itu mencegahnya pergi. "Lepaskan aku!" berontak Bella pada kedua wanita bersaudara itu.
Namun Alfred hanya bisa membatu. Telinganya mendadak menuli. Dengan pikiran kosong menerawang jauh ke masa lalu. Helena geleng-geleng kepala tak tahan.
"Alfred." Lirih Helena.
"Ayo Bella, kita harus pulang." Ashley mencoba berusaha melepas genggaman tangan Bella dari Alfred. Meskipun itu harus dengan cara paksaan.
"Lepaskan aku, Ashley! Kamu tidak berhak berbuat seperti ini terhadapku!" Jerit Bella terus meronta-ronta. Ia terus memberontak dari kungkungan Ashley juga Aleysia yang menyeret tubuhnya menjauh dari Alfred. Tangannya mengulur ke depan. Mencoba menggapai Alfred yang hanya mematung. Semakin membuatnya meraung menangis.
"ALFRED, JANGAN DIAM SAJA!!" Jeritnya lagi mengerang frustasi ketika ia telah menghilang.
Gavyn mengepalkan tangannya. Wajahnya mengeras dan dia menghampiri Alfred gemas.
"Kenapa kau diam saja, brengsek??!!" Geram Gavyn mengguncang-guncangkan tubuh Alfred yang masih diam mematung. "Bangun!!! Sadar Alfred, sadar!!"
Bugh!!
"Gavyn!!" Pekik Helena menghampiri keduanya. Ia hendak bermaksud melerai keduanya.
Edward memilih pergi. Untuk apa lagi dia berada di sana? Ia bahkan terlalu kecewa pada Alfred meskipun memang kenyataannya mereka sudah menikah. Tapi kenapa mereka menikah tanpa memberitahu dirinya dan keluarganya?
"Alfred, sadarlah. Apa kau akan diam saja melihat mereka memisahkanmu dari Bella?! Apa kau tidak mencintainya? Atau... Apakah yang mereka katakan itu semua benar?"
Alfred tersentak menatap Helena terluka. Helena mulai bernafas lega melihat Alfred yang mulai sadar. "Kejar Bella dan calon anakmu, Al."
Sejenak Alfred masih menatap Helena, wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Membuat Alfred benar-benar sadar karena kebodohannya yang telah membuat Bella di bawa pergi begitu saja. Bella-nya pasti kecewa kepadanya.
"Bella." Lirih Alfred melepaskan diri dari Helena.
Ia lantas berlari keluar rumah sakit dengan pikiran kalut. Berharap Anita tidak akan membawa Bella pergi jauh dari sana.
"BELLA!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.