Kakak, Aku Mencintaimu

Kakak, Aku Mencintaimu
Kencan Sehari


__ADS_3

Ken akhir-akhir ini merasa bingung dengan perubahan sikap Bella yang lebih ceria dari biasanya. Tetapi juga lebih banyak melamun meski bukan terlihat sedih. Malah seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Hampir selama sebulan Bella tak pernah mau memberitahu perihal apa yang membuat gadis blonde itu begitu sangat bahagia.


Seperti saat ini, Bella tengah melamun seorang diri di kantin dengan senyum-senyum sendiri. Tangannya sibuk mengaduk juice jeruk dengan sedotan, sedangkan sorot matanya menerawang jauh entah kemana.


"Bell?" Panggilnya. Ken melambaikan tangannya tepat di depan wajah Bella. Namun gadis itu tidak merespon. Ken berdecak.


"Be...lla!!" Kembali Ken memanggil. Kali ini ia menaikkan nada suaranya menjadi dua oktaf lebih tinggi. Menekan setiap katanya. Tetap saja tak ada sahutan.


"BELLA!!" Teriaknya tepat di telinga gadis itu. Dan jelas saja hal itu sontak membuat tubuh Bella terlonja karena kaget.


"Ken!! Bisa tidak sih, kau tidak berteriak di telinga?!" Sungut Bella bersungut kesal sembari mengorek kupingnya yang berdengung hebat. Ia mempoutkan bibirnya kesal.


Ken mendelik tak suka. "Hel to the low. HELLOW!! Berapa kali aku manggil namamu, Bell?! Lima kali. L.I.M.A K.A.L.I.!!!" Tekan Ken pada kata-kata tercetak besarnya dengan ngotot bersungut. "Dan kamu tidak menyahutnya satu kalipun, kau tahu? Ck.. Membosankan.. Kau menyebalkan Bell!" Selorohnya kesal. Ia bahkan memijit pelipisnya lelah.


Bella kemudian yang tersadar dia salah hanya bisa nyengir lebar dengan wajah tanpa dosanya. Ah, dia sadar. Dia terlalu asik dengan dunia berkhayalnya tentang dirinya yang hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama dengan kekasih sekaligus kakaknya itu. Ya, semenjak kejadian di hotel mewah di atas tebing di mana dirinya di lamar di sana.


"Maafkan aku, Ken. Jangan marah. Hehehe." Ucap Bella merasa menyesal. Ken hanya melirik gadis blonde itu lalu memutar kedua bola matanya jengah. Ia mendengus kesal dengan bibir komat-kamit nyerocos tanpa suara.


"Sebenarnya kau itu kenapa? Jatuh cinta? Sama siapa?" Tanya Ken memberondong. Membuat Bella melongo.


"Aa.. K-ken. Kau bertanya terlalu banㅡ"


"Diam!! Jawab saja!! Kenapa kau akhir-akhir ini begitu banyak melamun?!!" Potong Ken mulai murka. Bella bahkan bergidik ngeri sembari meringkuk takut kena sembur sahabatnya itu.


"O-ok, aku akan jawab. Sebenarnyaㅡ"


Belum Bella menyelesaikan kalimatnya, ia sudah di kejutkan oleh sepasang kekasih yang sangat di kenalinya tengah bertengkar hebat tak jauh dari mereka. Membuat Ken juga Bella langsung mengalihkan pandangan mereka ke kedua insan yang bertengkar itu. Meskipun samar-samar, mereka masih bisa mendengar dengan jelas apa yang di ributkan oleh keduanya. Bella mengernyit penasaran.


"Edward ku mohon, percayalah. Aku dan dia hanya berteman."


"Dan berciuman layaknya sepasang kekasih? Huh!!" Edward pemuda itu tersenyum mencemooh merasa dirinya bodoh.


Seketika itu, wanita yang tak lain adalah Gwen tersentak. Tapi detik kemudian kembali mengejar Edward yang kembali menjauh darinya.


"Ku mohon Edward, aku hanya mencintaimu!" Gwen masih tidak putus asa untuk mencoba meyakinkan kekasihnya itu.


"Kita PUTUS!!" Putus Edward sudah final. Ia lalu menghentakkan tangan Gwen yang sedari tadi menggamit tangannya erat.


Sontak, keputusan final Edward langsung membuat bendungan di pelupuk mata Gwen yang sedari tadi ia tahan jebol. Gadis itu menangis tanpa di hiraukan oleh Edward yang benar-benar telah menjauh darinya. Bella yang melihat itu merasa tidak tega dan ia akan bangkit untuk menghampiri gadis itu ketika Ken menahannya. Ken menggeleng memberi peringatan.


"Jangan ikut campur, Bell. Toh, itu memang kesalahan Gwen yang sudah sangat fatal." Ungkap Ken. Bella mengernyit tidak mengerti.


Ah, sepertinya ia terlalu menutup diri dari teman-teman yang lain karena lebih sering menghabiskan waktu berdua dengan Alfred. Salahnya juga tidak mengetahui keadaan semua temannya. Ia merasa bersalah sekarang.


"Kesalahan fatal apa?" Tanya Bella penasaran.


Ken melirik Bella sekilas. Dia baru ingat, kalau sahabatnya itu belum mengetahui perihal konflik hubungan Edward dengan Gwen yang memang sebelumnya sudah hampir hancur.


"Gwen ketahuan berselingkuh dengan dosen pembimbingnya, Bell." gadis blonde itu membola menatap Ken tidak percaya. Bagaimana bisa? Bukankah Gwen sangat mencintai Edward sejak SMA?


"Yang aku dengar, Edward itu ternyata memiliki kepribadian yang acuh tak acuh kepada Gwen. Hmm.. Maksudku, ketika Edward bersama dengan Gwen, kehadiran Gwen itu bagaikan sampah yang perlu di abaikan."


"Lalu?" Bella benar-benar terkejut. Apa Edward separah itu?


"Ya... Pada akhirnya, Edward benar-benar sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Gwen. Ternyata dulu dia hanya simpatik saja." Ken menghela nafas sejenak. "Berkali-kali Edward mencoba membuka diri pada Gwen. Tapi sama sekali ia tidak merasakan nafsu sama sekali hanya untuk menyentuh Gwen sedikitpun." Imbuhnya.


Bella kembali mengalihkan pandangannya pada Gwen yang masih bersimpuh dengan derai airmatanya. Miris. Pikirnya. Namun jika itu kenyataannya, mungkin Gwen memiliki alasan lain kenapa dia berani berbuat seperti itu. Apalagi ketika dia mengetahui bahwa Edward yang ternyata sama sekali tidak memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Hal itu bukanlah kesalahannya. Itu salah Edward.


Tapi Edward pun... Bella mengenal baik pemuda itu. Dia tahu apa yang di alami Edward selama ini tentunya.


"Aku akan bicara pada Edward." Bella bangkit lantas meninggalkan Ken yang terkejut dan memanggilnya namun tidak di gubrisnya.


***********


Edward tengah berjalan menuju ke parkiran ketika tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seseorang.


"Kalau jalan pake mata!" Umpat Edward kesal. Benar-benar bukan sifat Edward sama sekali.

__ADS_1


"Apa kau bilang?! Kamu yang tidak pake mata brengsek!" Balas seorang wanita bersurai merah bermata onyx dan menatap Edward nyalang. Ia tidak terima di katakan seperti itu oleh orang yang jelas-jelas telah menabraknya terlebih dulu.


"Asshhh.. Minggir!!" Edward melambaikan tangannya kasar seraya menyingkirkan tubuh milik wanitu yang hampir setingginya itu ke kanan.


Greep!!


"Oiy!" wanita itu menepuk pundak Edward, meremasnya pelan untuk menahan pemuda emo itu tidak pergi. Kesabarannya mulai habis.


Bella yang berhasil menyusul Edward seketika langsung menengahi.


"Ah, maaf. Maafkan dia. Eemb.. Aku minta maaf untuk sikap temanku yang kurang baik. Sekali lagi tolong maafkan dia." Bella membungkuk sembari meminta maaf pada wanita itu dengan wajah memohon. Melihat Bella yang meminta maaf untuknya, Edward lantas berbalik dan menggamit lengan Bella sedikit keras.


"Hey gadis bodoh, bisa tidak. Kau tidak merendahkan diri seperti itu."


"Bersikaplah yang sopan, Edward!! Kau ini kenapa?!" Balas Bella mulai ikut emosi.


"Kak Ashley, kau tak apa?" Ujar seorang gadis yang berperawakan hampir sama dengan Bella. Ia menggucangkan tubuh wanita yang bersurai merah maroon itu yang masih menatap Bella tidak berkedip.


"Dia..." Lirih wanita itu hanya dapat di dengarnya.


Edward dan Bella menoleh ke arah seorang gadis bersurai dark brown yang baru saja tiba. Gadis itu memiliki warna mata hazel dan wajah yang imut seperti Bella. Namun anehnya, garis wajahnya benar-benar memiliki kemiripan dengan Bella. Hal itu membuat Edward, Bella, juga Ashley wanita yang bertabrakan dengan Edward terkejut.


"M-maaf, kami harus pergi sekarang. Edward, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ujar Bella meminta ijin untuk berlalu dan segera menarik Edward menjauh dari Ashley dan adiknya.


Setelah Bella benar-benar menjauh, Ashley tersadar bahwa dia telah kehilangan jejak kedua orang tersebut.


"Kakak, tadi...."


"Benar. Masih ada waktu untuk kita bertemu dengannya lagi." Ashley menoleh ke arah dalam kampus, lalu kembali beralih ke arah di mana Bella menghilang bersama dengan Edward. 'Aku pasti akan membawamu pulang'.


**********


"Ada apa?" Edward tidak sabar ketika tiba-tiba Bella muncul dan menengahinya untuk berkelahi dengan wanita aneh yang dia tabrak.


Bella tidak lagi mengingat kedua kakak beradik yang baru saja dia temui. Dia menghela nafas berat dan kembali berjalan ke arah sebuah cafe di pinggir jalan seberang kampus. Edward menurut dan mengikuti gadis itu.


Setelah memesan beberapa dessert dan minuman, Bella menatap lekat Edward yang terlihat sangat santai dan entah kenapa pemuda itu benar-benar terlihat baik-baik saja. Apa Edward tidak merasa sakit hati karena Gwen telah mengkhianatinya? Kenapa sikapnya berbeda dengan yang tadi?


"Edward, sebenarnya ada masalah apa kamu dengan Gwen?" sontak Edward melirik tajam Bella seolah ingin menguliti gadis di hadapannya dengan sorot mata dingin. Bella jelas mampu merasakan tekanan intimidasi itu.


"Jangan lagi sebut-sebut nama wanita murahan itu. Haㅡah... Mendengar namanya saja aku rasanya ingin membunuh seseorang." gerutu Edward emosi. Baru kali ini Bella melihat Edward benar-benar marah dengan sesuatu. Seharusnya Edward tulus menyukai Gwen dan tidak mungkin memanfaatkan gadis itu hanya untuk pelampiasan, kan?


"Kau... Benar-benar mencintai dia?" kembali Bella memberanikan diri untuk bertanya.


Edward mendengus geli, "Tadinya iya. Tapi setelah kita semua masuk ke universitas, Gwen berubah drastis. Aku akui... Aku memang bersikap dingin dengannya. Seharusnya kau tahu bagaimana sifatku ini, kan?"


"Tapi kamu kan tidak harus bersikap dingin selama bersamanya, kan?" hardik Bella. Dia masih ingin membantu Edward menyelesaikan masalahnya. Bagaimana kalau dia sebenarnya benar-benar mencintai Gwen? Dia akan menyesal nantinya.


"Sudahlah, Bell. Aku... Juga baru menyadari bahwa aku tidak pantas untuknya." Bella terkesiap, menatap Edward bersalah. "Lagipula, akhir-akhir ini aku memang merasa kami sudah tidak cocok satu sama lain."


"Tapiㅡ"


"Bell, terima kasih. Karena kau selalu peduli denganku. Tapi tidak kali ini. Biarkan aku yang menyelesaikan masalahku sendiri. Okay?"


"Haㅡah... Baiklah." ujar Bella lirih.


"Hey, bagaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan.. Hm.. Kencan sehari?"


"Huh? Kencan sehari? Denganmu?" Beo Bella terkejut. Edward hanya menyeringai dan mengangguk sebagai respon.


Bella ragu sesaat. Bagaimana kalau Alfred sampai tahu hal ini. Apa dia akan marah? Biar bagaimana pun juga, Edward saja laki-laki.


"Ayolah. Aku tahu kamu mengkhawatirkan soal kakakmu itu. Ini hanya kencan sehari. Mana mungkin kakakmu itu akan marah. Toh dia juga tahu, kita sudah seperti kakak adik, kan?" ujar Edward mencoba meyakinkan gadis di hadapannya itu.


Setelah berbagai pertimbangan, Edward berhasil meyakinkan Bella untuk mau menerima ajakannya.


Keduanya berpindah tempat setelah keluar dari cafe. Edward mengambil mobilnya dan mengajak Bella untuk berkeliling kota Washington. Tidak tanggung-tanggung pemuda itu bersikap layaknya seorang kekasih untuk Bella.

__ADS_1


Di sebuah mall, Edward tidak segan-segan menggamit tangan Bella dan menggandengnya setiap saat. Mereka mampir ke sebuah stand permainan dan bermain sepuasnya di sana. Bahkan Edward berusaha keras untuk mendapatkan hadiah yang bagus untuk di tukarnya nanti.


Tidak jauh dari mereka, seorang pria dengan tinggi hanya 169cm, memiliki wajah baby-faced tidak sengaja menemukan mereka yang tengah mempermainkan sebuah permainan emulator. Pria itu memperhatikan keduanya dengan seksama sebelum yakin bahwa apa yang dia lihat itu benar-benar orang yang dia kenal. Sebuah seringai misterius tersungging di sudut bibirnya. Dia dengan diam-diam mengambil potret keduanya yang memiliki posisi yang dapat membuat seseorang melihat menjadi salah paham.


"Kena kau." desisnya berbahaya. Pria itu lantas mengirim potret itu kepada seseorang dan tersenyum dengan puas.


Di suatu tempat yang lain, seorang wanita yang tak lain adalah Gwen membelalakkan matanya ketika melihat pesan yang di terimanya baru saja.


"Kenapa? Hiks... Kenapa kalian tega padaku. Bella!" Gwen membanting ponselnya dengan kesal ke sembarang tempat.


Lagi dan lagi, gadis itu terisak sejadi-jadinya dengan penuh kekecewaan ketika melihat potret yang tidak lain adalah Edward dan juga Bella yang sedang berkencan.


Bagaimana pria itu dengan mudahnya melupakan dirinya begitu saja dalam waktu yang singkat? Belum ada sehari pria itu memutuskan hubungan mereka tadi pagi. Dan sekarang, pria itu tengah tertawa dan tersenyum bersama dengan wanita lain di sebuah stand permainan dengan begitu mesra.


Apa memang benar bahwa Edward sama sekali tidak pernah mencintainya? Selama dia menjalani hubungan dengan pria itu, Edward sama sekali tidak pernah memasang ekspresi sebahagia itu di depannya. Apa benar pria itu masih memiliki perasaan untuk Bella? Bagaimana bisa Bella mengkhianatinya?


"Hiks..." Gwen terisak semakin keras. Semakin meringkuk penuh penyesalan. Dia merasa dirinya begitu sangat bodoh ketika berhadapan dengan kedua orang itu.


Apa mereka hanya berpura-pura saja bersikap seolah mereka hanya sepasang sahabat? Dia bahkan tidak tahu siapa orang yang di cintai dan kekasih Bella saat ini. Bella benar-benar menutupi kekasihnya itu rapat-rapat. Apakah rumor itu benar, bahwa Bella sebenarnya adalah kekasih Edward selama ini?


Tapi sejak kapan? Gwen tidak tahu. Mendadak kepalanya pusing.


Gwen bermaksud ingin membuat Edward cemburu. Mungkin pria itu benar-benar cemburu ketika dia tidak sengaja kepergok sedang berduaan dengan dosen pembimbingnya.


Dia akui dosennya masih muda. Dosen itu memiliki wajah yang seumuran dengannya meskipun usianya sudah dua puluh delapan tahun. Hanya terpaut sepuluh tahun dengannya. Dosen itu juga pernah menyatakan perasaan tertarik terhadap dirinya. Hanya saja, dia terlalu mencintai Edward.


"Gwen, jika kau mau melepas kekasihmu itu, aku bahkan akan memberikan semuanya yang kau inginkan. Di mana hal itu tidak akan kamu dapatkan darinya." kata pria itu. Gwen masih menolak dengan keras. Namun ketika godaan itu benar-benar datang, Gwen terjerumus oleh permainannya sendiri.


Terlalu nyaman berada di samping pria itu, membuat Gwen lambat laun melupakan keberadaan Edward. Dan terlalu lama terabaikan, membuat dirinya haus akan perhatian seorang kekasih.


Pria itu mampu membuatnya bahagia. Mampu membiatnya nyaman dan merasa di lindungi. Apapun yang dia inginkan, pria itu dengan cepat memberikannya.


Hingga saatnya tiba, pria itu dengan sangat berani menciumnya ketika ruang laboratorium benar-benar kosong dan hanya menyisakan mereka berdua. Siapa yang tahu bahwa Edward akan hadir di antara mereka. Menyaksikan pria yang cukup Edward tahu siapa itu sedang memaksa Gwen mau membuka mulutnya.


Di mata Edward, tentu saja Gwen menerima dan membalas perlakuan pria tersebut. Edward bahkan tidak menyadari pria itu meliriknya dengan seringai misterius saat tengah mencium mesra bibir Gwen.


Siapa yang akan mau bertahan melihat kekasihmu sendiri berciuman dengan pria lain tepat di hadapanmu sendiri. Dan, apakah dia tidak salah dengar, bahkan kekasihmu mendesah di bawah kungkungan pria yang bukan kekasihnya sendiri. Bukankah dia terlalu murahan?


Gwen tahu, itu seperti senjata makan tuan baginya. Hatinya masih terasa sakit ketika Edward memutuskan hubungan mereka. Seperti ada sesuatu yang hilang di hatinya dan hal itu tidak akan pernah kembali lagi.


"Haha... Gwen, Gwen, Gwen.. Aku tidak akan melepaskanmu untuk orang lain lagi. Kau... Hanya milikku seorang." desis seorang pria.


Pria itu menatap foto Gwen yang tersenyum begitu manis. Lantas pria tersebut mencium foto itu dengan penuh kehati-hatian.


**********


"Eh, jadi... Kau benar-benar tidak mempermainkan perasaan Gwen?" Bella terkejut ketika mendengar Edward pernah memiliki perasaan yang tulus terhadap mantan kekasihnya itu.


"Hm... Sejak kau menolakku dulu, Gwen selalu datang dan memberiku semangat. Aku sebenarnya tidak butuh itu. Tapi lambat laun aku berfikir, kenapa tidak menerima kebaikannya." jeda sejenak. Edward menyeruput minumannya lantas melanjutkan, "Aku sadar, bahwa aku memiliki ketertarikan terhadapnya yaitu ketika lulus dari SMA. Karena aku tidak mau kejadian dulu terulang, aku menyatakan perasaanku. Dan kami berpacaran hampir empat tahun ini. Tapi siapa yang tahu."


"Dia tidak tahan dengan sifat dingin dan tak acuhmu itu." timpal Bella dan Edward bergumam mengangguk mengiyakan. Bella menghela nafas berat.


"Mungkin benar tentang fase bosan dalam suatu hubungan."


"Kalau tahu itu mungkin fase bosan, kenapa kau dengan mudahnya memutuskan hubunganmu dengannya?!" seloroh Bella naik pitam. Namun Edward lagi-lagi hanya terkekeh mendengus masam.


"Bella, jika dia bosan dan ingin sendiri, kenapa harus menjalin hubungan dengan orang lain? Kenapa dia harus mengkhianatiku di belakangku? Kau tahu...?"


"......." Bella bergeming di tempatnya.


"Aku tidak suka wanita yang dengan mudahnya beralih ke pria lain hanya karena fase bosan."


Okay Bella setuju untuk yang satu ini. Terlebih, dia saja dulu juga tidak suka bila kakaknya menjalin hubungan dengan wanita lain. Oh... Jangan lupakan, meskipun mereka hanya sekedar teman, dia pasti akan sangat cemburu.


"Baik, baik. Aku mengerti. Aku mendukung apa yang menjadi keputusanmu." Edward menatap Bella sendu, tersenyum tipis.


"Terimakasih Bell." andai kamu adalah orang yang di takdirkan untukku, sudah pasti aku tidak akan melepaskanmu, Bella. Meskipun laki-laki lain berusaha mendapatkanmu, aku tidak akan membiarkan kamu di rebut oleh mereka.

__ADS_1


Bisakah waktu di putar kembali?


__ADS_2